Monday, July 7, 2025

Kenapa Kucing Selalu Mengejar Orang yang Takut?

 Kenapa Kucing Selalu Mengejar Orang yang Takut?
(Sebuah Investigasi yang Tidak Diminta Tapi Sangat Penting)

Pendahuluan: Antara Takdir, Karma, dan Kucing

Dalam dunia ini, ada beberapa misteri yang belum terpecahkan:

·         Apakah alien itu nyata?

·         Siapa yang menciptakan lagu “Baby Shark”?

·         Kenapa charger hilang saat dibutuhkan?

Tapi dari semua pertanyaan eksistensial itu, ada satu misteri yang jauh lebih penting, lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan jelas lebih mengancam:

Kenapa kucing selalu mengejar orang yang takut padanya?

Mereka yang trauma pada kucing pasti mengalaminya. Datang ke rumah teman, disambut kucing oren bernama “Jabrik”, dan tiba-tiba kucing itu mendekat seperti debt collector bertubuh berbulu. Padahal kamu sudah diam, menahan napas, tidak memandang, bahkan pura-pura jadi pot bunga. Tapi kucing itu justru makin penasaran. Dan akhirnya... lompat ke pangkuanmu.

Kenapa, wahai alam semesta? Kenapa?

Mari kita bedah satu per satu, penuh keabsurdan, logika tak masuk akal, dan teori konspirasi level coffee shop.

 

Bab 1: Apakah Kucing Bisa Mencium Bau Ketakutan?

Ilmu pengetahuan menyatakan bahwa hewan tertentu bisa mencium feromon ketakutan. Tapi kita bicara soal kucing, makhluk yang:

·         Tidur 16 jam sehari,

·         Lari seperti jet tempur saat mendengar mentimun,

·         Tapi juga bisa rebahan di atap mobil polisi tanpa takut hukum.

Kalau kucing bisa mencium ketakutan, maka ada kemungkinan mereka berpikir begini:

“Hmm… manusia ini takut. Pasti dia menyembunyikan sesuatu. Mungkin makanan. Atau kunci rahasia dunia bawah.”

Kucing pun mendekat. Mereka mencurigaimu sebagai agen rahasia yang sedang menyamar sebagai manusia fobia bulu. Dan seperti di film James Bond versi kucing, mereka menginvestigasi… dengan duduk di atasmu.

 

Bab 2: Teori Konspirasi—Kucing Adalah Detektor Energi Takut

Menurut teori yang tidak didukung oleh siapa pun, kucing adalah makhluk dari dimensi lain yang dikirim ke bumi untuk memantau emosi manusia. Mereka memiliki sistem radar canggih berbasis ke-tidak-sukaan dan ke-absurd-an.

Jadi ketika mereka mendeteksi seseorang yang takut—apalagi yang sok jaim dengan posisi tangan kaku seperti patung Hanoman—radarnya berbunyi:

“BEEP BEEP BEEP! TARGET TERDETEKSI! KEJAR! KEJAAARR!!”

Kucing lalu berjalan pelan-pelan, mata melotot, ekor berdiri. Dan saat korban mulai keringat dingin... BRAK, lompat ke paha. Misi selesai. Laporan dikirim ke markas pusat melalui getaran ekor.

 

Bab 3: Prinsip Dasar Dunia Kucing—“Kalau Kamu Menolak Aku, Aku Akan Mencintaimu”

Dalam dunia kucing, ada hukum tak tertulis:

“Manusia yang menyayangiku akan kuabaikan. Manusia yang mengabaikanku akan kukejar sampai ke pelaminan.”

Coba perhatikan: saat kamu memanggil kucing dengan penuh cinta—“Sini, Mpus, lucu banget kamu ya…”—dia akan pergi. Tapi saat kamu berdoa agar kucing tidak mendekat, dia justru menghampiri dengan wajah datar seperti:

“Kamu pikir kamu siapa menolak aku?”

Kucing hidup berdasarkan logika kebalikan. Jika kamu takut, dia anggap kamu menarik. Kalau kamu santai, dia anggap kamu membosankan. Dan kalau kamu berani? Dia akan ngambek dan tidur di tempat cuci piring.

 

Bab 4: Teori Fisikawan Absurd—Kucing dan Medan Magnet Emosi

Profesor Bayu Mulyadi (fiktif, tentu saja), menyatakan dalam jurnal yang tidak pernah terbit:

“Kucing memiliki sensor kuantum bernama kepo-elektromagnetik yang tertarik pada manusia dengan gelombang ketakutan tinggi.”

Artinya, semakin kamu takut, semakin kuat medan magnet yang kamu pancarkan ke kucing. Ini mirip seperti bagaimana Wi-Fi mendeteksi HP yang baru dinyalakan—kucing mendeteksi ketakutan dan langsung nyambung.

Ada teori lanjutan yang lebih absurd: saat kamu takut, tubuhmu mengeluarkan semacam “kode Morse getaran lutut”, yang hanya bisa diterjemahkan oleh kucing sebagai:

“Sini dong, peluk aku, Mpus.”

Makanya, mereka datang. Sungguh tak sopan.

 

Bab 5: Pengalaman Tragis Nan Konyol dari Dunia Nyata

1. Mbak Lia, 26 Tahun, Trauma Sejak TK

“Saya waktu TK dikejar kucing oranye waktu lagi makan donat. Sejak itu trauma. Tapi setiap saya ke rumah orang, entah kenapa, kucingnya selalu tidur di tas saya. Bahkan pernah pipis di sandal saya.”

2. Fadil, 30 Tahun, Pura-Pura Macho

“Saya nggak takut kucing. Cuma alergi. Tapi setiap ada kucing, dia pasti duduk di paha saya. Pernah satu kali saya pura-pura tidur, dia justru menjilat telinga saya. Saya trauma sampai sekarang.”

3. Ibu Rumah Tangga Random

“Saya pernah lihat tetangga saya lari keliling komplek karena dikejar kucing liar. Tapi anehnya, kucingnya lari pelan aja, kayak ngasih efek dramatis. Kayak di film India.”

 

Bab 6: Apakah Ini Karma dari Kehidupan Sebelumnya?

Menurut spiritualis ngawur, bisa jadi orang-orang yang takut kucing sedang menebus kesalahan dari kehidupan lampau.

“Dulu kamu mungkin bangsawan yang tidak suka hewan. Sekarang kamu harus menghadapi ujian: dikejar kucing setiap kali keluar rumah.”

Atau bisa jadi kamu pernah menolak adopsi kucing di kehidupan lampau, dan sekarang semua kucing kirim surat undangan reuni padamu.

 

Bab 7: Strategi Bertahan Hidup untuk yang Takut Kucing

1.      Jangan Lari. Kucing Mengira Kamu Main Kejar-Kejaran.
Mereka tidak tahu kamu takut. Mereka hanya tahu: "Wah, manusia ini ngajak main!"

2.      Jangan Menatap Langsung. Tapi Jangan Juga Menunduk Dramatik.
Karena kalau kamu menunduk berlebihan, mereka mengira kamu sedang menunjukkan hormat. Dan mereka akan duduk di kepalamu sebagai bentuk dominasi.

3.      Alihkan Perhatian dengan Snack (atau Tempe).
Kucing lebih tertarik pada makanan daripada pada kamu. Kecuali kamu beraroma sarden. Kalau iya, kamu harus mandi garam dulu.

4.      Pakai Kostum Hewan Lain.
Ada cerita absurd: seorang pria memakai topi berbentuk kepala ayam. Kucing tidak mendekat, tapi malah datang burung elang. Jadi ya... jangan.

 

Penutup: Mungkin Dunia Memang Milik Kucing

Kalau kamu pikir kamu pemilik rumah, pikirkan ulang. Kalau kamu pikir kamu manusia paling dominan di kantor, tunggu sampai ada kucing liar masuk ruang rapat dan semua orang panik.

Kucing memang makhluk penuh misteri. Mereka bisa tidur 18 jam, lalu terbangun hanya untuk melemparkan tatapan penuh penghinaan padamu. Tapi entah kenapa, kita tetap memelihara mereka. Dan mereka tetap memilih untuk mencintai yang tidak menginginkan mereka.

Jadi kenapa kucing selalu mengejar orang yang takut padanya?

Jawaban paling logis dan konyol adalah:
Karena kucing tahu, dalam hati terdalam… kamu butuh mereka.
Atau setidaknya, kamu butuh alasan buat berlari pagi


Sunday, July 6, 2025

Drama Karyawan Baru yang Berusaha Sok Sibuk

Pendahuluan: Karyawan Baru dan Ilusi Produktivitas

Hari pertama kerja. Jas rapi, sepatu kinclong, rambut klimis (atau jilbab yang dilipat simetris). Wajah penuh semangat, senyum tak lepas dari wajah, dan tentu: satu misi utama—memberi kesan pertama yang maksimal.

Namun, dalam upaya tampil profesional, muncul fenomena yang sangat khas dunia kerja: karyawan baru yang sok sibuk.

Bukan karena dia benar-benar sibuk, tapi karena… ya, gimana lagi? Tugas belum jelas, tapi nggak enak kalau terlihat santai. Akhirnya, mulailah drama kerja ala sinetron prime time: mengetik sembarang dokumen, berpura-pura membaca email, atau jalan cepat tanpa tujuan.

Mari kita bahas, penuh tawa dan mungkin sedikit sentilan, bagaimana karyawan baru berusaha tampil “super produktif” padahal dalam hati bingung harus ngapain.

 

Bab 1: Hari Pertama dan Rasa Tak Enakan

Semua berawal di hari pertama.

Namanya Andi. Fresh graduate, baru pertama kali kerja di kantor sungguhan. Setelah orientasi singkat, ia diberi meja kerja dan akun email kantor. Tapi... itu saja. Tidak ada tugas. Tidak ada instruksi. Tidak ada arahan.

Andi mencoba tetap tenang, lalu berkata dalam hati:

“Nggak apa-apa, mungkin hari pertama memang pengen gue adaptasi dulu. Tapi gue harus terlihat sibuk. HARUS.”

Maka dimulailah aksi teatrikal bernama: Sok Sibuk Episode 1.

 

Bab 2: Email-Emailan Tak Bernyawa

Langkah pertama: buka Outlook. Masukkan password. Email masuk? Hanya dua:

1.      Email sambutan dari HR.

2.      Email notifikasi sistem absensi.

Tapi Andi tetap menatap layar dengan serius. Lalu mulai klik sana-sini, membuka dan menutup folder “Inbox” berkali-kali. Sesekali mengetik sesuatu ke kolom “Search”, seperti “Project 2025” padahal nggak ada file-nya.

Rekan di sebelahnya bertanya, “Ngapain, Mas?”

Andi menjawab dengan suara penuh beban tanggung jawab:

“Lagi follow up beberapa hal urgent via email.”

Padahal barusan dia kirim email ke dirinya sendiri:
Subject: Cek
Isi: Test kirim email.

 

Bab 3: Jalan Tanpa Tujuan, Tapi Penuh Keyakinan

Setelah bosan pura-pura serius di depan komputer, Andi bangkit. Mengambil map kosong, dan mulai berjalan cepat keliling kantor. Ke pantry, ke ruangan HR, bahkan ke toilet dengan langkah penuh makna.

Beberapa rekan mengamati geraknya dan berbisik, “Si Andi rajin ya, kelihatannya sibuk terus.”

Padahal dalam hati Andi berkata:

“Gue ngapain sih sebenernya?”

Yang penting terlihat gesit. Jalan cepat + wajah serius = kesan orang penting. Itu hukum dasar dunia kantor.

 

Bab 4: Jendela Excel dan PowerPoint Tanpa Isi

Jam 11 siang, Andi mulai membuka Excel.

Sheet kosong. Tapi dia mengklik sel A1 sampai E20 dengan penuh semangat. Lalu mengetik “test” di sel B2, mengatur format huruf jadi bold, warna hijau, rata tengah. Lalu bikin grafik dari data fiktif: 10, 20, 30, 40.

Hasilnya? Pie chart yang tidak penting, tapi kelihatan sangat “kerja.”

Tak lupa buka PowerPoint. Slide pertama berjudul:
“Internal Strategy Alignment & Optimization Framework 2025”

Slide kedua: kosong.

Tapi sudah cukup untuk memberikan ilusi bahwa dia “menggodok strategi penting.”

 

Bab 5: Teknik ‘Alt+Tab’ dan Refleks Menyelamatkan Diri

Salah satu skill penting karyawan baru yang ingin terlihat sibuk adalah kemampuan refleks menekan Alt+Tab. Saat membuka YouTube sebentar (untuk hiburan, katanya sih “riset tren Gen Z”), dan mendengar suara langkah manajer mendekat…

Alt+Tab langsung menampilkan spreadsheet yang tadi berisi angka khayalan.

Keahlian ini mirip ninja—cepat, tepat, dan penuh insting bertahan hidup.

 

Bab 6: Meeting Dadakan untuk Eksistensi

Beberapa hari kemudian, Andi mencoba naik level. Ia membuat meeting sendiri via Google Calendar, dengan judul:
“Brainstorming: Future Possibilities”
Pesertanya? Diri sendiri.

Di ruang meeting, ia duduk dengan laptop terbuka dan muka serius. Dari luar terlihat seperti sedang pitching ke investor. Padahal, ia sedang bermain Minesweeper sambil membuka LinkedIn.

Ketika ditanya, “Tadi meeting sama siapa, Mas?”
Ia menjawab:

“Internal alignment. Nggak bisa di-skip, penting banget buat quarter depan.”

Wah, bahasanya sudah mulai senior.

 

Bab 7: Akrab dengan Alat Tulis, Tapi Nggak Nulis Apa-Apa

Andi juga mulai membawa buku catatan kemana-mana. Setiap kali ada obrolan, langsung buka buku dan menulis sesuatu. Meskipun yang dicatat hanyalah:

·         “Catatan penting: jangan kelihatan nganggur.”

·         “Cari tahu arti ‘alignment’. Kedengaran keren.”

·         “Belajar kata-kata sakti seperti ‘inisiatif’ dan ‘proaktif’.”

Tak lupa, stabilo warna-warni agar terlihat visual dan dinamis. Meski isinya tetap nihil.

 

Bab 8: Ngobrolin Proyek Imajinasi

Seminggu berlalu. Andi mulai berani menyisipkan jargon keren saat ngobrol:

“Kemarin gue sempat breakdown beberapa strategi digital buat pipeline minggu depan…”

Padahal maksudnya: buka Canva, utak-atik template presentasi, lalu bingung mau nulis apa.

Ia juga mulai sering berkata,

“Gue sih sekarang fokus ke hal yang impact-nya besar, bukan cuma task remeh.”

Menariknya, tak ada satu pun orang yang tahu apa tugasnya sebenarnya.

 

Bab 9: Saat Semua Terbongkar… Tapi Tidak Ada yang Peduli

Suatu hari, atasan Andi akhirnya berkata,

“Mas, saya lihat Anda aktif banget ya. Tapi minggu ini belum ada output konkret yang dikirim ya?”

Andi gugup. Panik. Berkeringat. Tapi ia mengangguk tenang dan menjawab:

“Saya lagi mendalami proses. Lebih ke fase discovery dan mapping.”

Atasannya bingung. Tapi karena terdengar seperti istilah konsultan mahal, akhirnya dia hanya berkata:

“Oke. Lanjutkan ya.”

Dan Andi pun selamat. Lagi.

 

Bab 10: Refleksi—Kenapa Banyak Karyawan Baru Sok Sibuk?

Fenomena ini bukan karena malas, tapi sering kali karena:

·         Bingung harus mulai dari mana.

·         Tidak ada onboarding yang jelas.

·         Takut terlihat tidak berguna.

·         Atau… ingin dianggap berkontribusi, meski belum tahu bagaimana.

Di sisi lain, kantor sering lupa bahwa orientasi bukan cuma kasih meja dan email, tapi juga memberi arah dan ekspektasi yang jelas.

Akhirnya, daripada bengong, karyawan baru pun berakting… dan tanpa sadar, mengasah kemampuan politik kantor yang sangat vital.

 

Penutup: Daripada Sok Sibuk, Mending Jujur dan Nanya

Jadi, wahai para karyawan baru…
Daripada membuat “presentasi palsu” atau “meeting bayangan”, lebih baik:

·         Tanyakan langsung ke atasan: “Apa yang bisa saya bantu?”

·         Buat catatan real tentang alur kerja.

·         Tawarkan diri bantu proyek yang ada.

·         Dan ingat, tidak apa-apa terlihat santai kalau memang belum ada kerjaan. Yang penting, siap ketika dibutuhkan.

Dan bagi para senior…
Jangan terlalu cepat kagum dengan yang terlihat sibuk. Bisa jadi, mereka hanya sedang menunggu tugas… sambil membuat grafik Excel dari jumlah cacing tanah per tahun.

 

Akhir kata:
Jika Anda melihat rekan baru jalan cepat ke pantry bawa map kosong, jangan salahkan dia. Mungkin dia sedang dalam fase penyesuaian… atau syuting sitkom internal bertajuk "Sibuk Tapi Ngambang."

Saturday, July 5, 2025

Kantor Berhantu atau Cuma Lembur Terlalu Lama?

Pendahuluan: Antara Mistis dan Realistis

Setiap kantor punya cerita. Ada yang dikenal karena prestasinya, ada yang viral karena drama internalnya, dan ada juga yang diam-diam terkenal karena satu hal: "auranya beda." Bukan aura semangat kerja atau keceriaan tim marketing, tapi aura yang bikin bulu kuduk berdiri saat lewat ruang meeting tengah malam.

Kabar burung (dan netizen Twitter) menyebutkan bahwa banyak kantor di Indonesia—terutama yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan, atau dulunya bekas rumah sakit tua—sering dikaitkan dengan kisah mistis. Tapi... tunggu dulu. Apakah benar kantornya berhantu, atau kita hanya terlalu lama lembur sampai halusinasi?

Mari kita bahas, tentu saja dengan gaya santai, penuh humor, dan sedikit ketegangan ala sinetron horor jam 11 malam.


Bab 1: Lembur yang Tak Biasa

Rizky, seorang staf keuangan yang dikenal rajin, bukan karena ambisi, tapi karena tidak tahu cara menolak tugas dari atasan, suatu malam pulang pukul 11.30. Semua rekan kerja sudah pulang sejak jam 5 sore (bahkan satpam sudah ganti shift dua kali). Dia sendirian di lantai 4 yang lampunya otomatis menyala hanya kalau ada gerakan.

Saat sedang mengetik laporan bulanan dengan mata setengah merem, tiba-tiba monitor-nya mati sendiri. Lampu berkedip. Printer menyala sendiri dan mengeluarkan selembar kertas kosong.

Seketika itu juga, Rizky membatin:

"Ini kantor berhantu, atau gue udah terlalu lelah sampai mencet tombol power sendiri?"

Dia memilih opsi kedua, menyimpan file, cabut flashdisk, lalu lari ke lift sambil menahan napas. Karena itulah malam itu, laporan belum dikirim dan alasan besok paginya hanyalah:

“Laptop saya hang, Pak.”


Bab 2: Suara Ketikan Misterius

Di sisi lain, Nisa dari divisi HR juga punya cerita. Suatu malam, ia ditugasi menyusun SK pengangkatan secara mendadak (karena bos mendadak ingat kalau besok pagi harus presentasi ke kantor pusat). Kantornya sepi, hanya ada suara AC dan jangkrik dari taman belakang.

Saat sedang mengetik dengan penuh semangat dan caffeine, tiba-tiba dari ruang sebelah terdengar suara ketikan keyboard. Padahal semua komputer di sana mati. Suaranya ritmis, cepat, dan... efisien.

Nisa berdiri, mencoba menenangkan diri, lalu berjalan ke ruangan tersebut. Tapi saat ia mengintip—semua kursi kosong, komputer mati. Tapi suara ketikan masih terdengar. Saking paniknya, dia langsung lari ke luar gedung dan menyelesaikan pekerjaannya di Indomaret yang buka 24 jam.

Keesokan paginya ia berkata:

“Saya pindah kerjaan ke luar negeri aja deh, yang kerjanya hybrid… dan hantu-free.”


Bab 3: Hantu yang Paling Nyata: Notifikasi dari Bos

Namun tidak semua kisah menyeramkan datang dari makhluk tak kasat mata. Ada satu yang lebih nyata, lebih menusuk ke jiwa, dan lebih mematikan: notifikasi dari bos jam 11 malam.

Bayangkan Anda sudah siap tidur, mengenakan piyama, dan baru saja membungkus diri dalam selimut ketika ping! muncul WhatsApp:

Pak Dirman: “Mas, revisi presentasi yang tadi sudah saya kirim ke email ya. Tolong diedit malam ini, karena besok subuh saya presentasi di Singapore (via Zoom). Thanks.”

Jantung langsung berdetak seperti drum metal. Otak langsung bangkit dari mati suri. Tanpa sadar, Anda pun menyulap diri jadi “roh penasaran” di depan laptop. Bedanya, Anda bukan gentayangan karena dendam, tapi karena target bulanan.

Kadang, yang bikin kantor terasa berhantu bukan penampakan—tapi tekanan deadline.

 

Bab 4: Cerita-cerita Mistis yang Aneh Tapi Akrab

Berikut beberapa kisah misterius lain yang sering terdengar di berbagai kantor:

1. Lift yang Turun Sendiri ke Lantai Kosong

“Padahal nggak ada yang pencet, tapi pintu lift kebuka sendiri ke lantai 2. Lantainya gelap, dan ada suara anak kecil ketawa.”

Padahal, menurut teknisi, itu hanya bug sistem. Tapi tetap saja, siapa juga anak kecil yang ketawa jam 10 malam di kantor pajak?

2. Printer yang Mencetak Sendiri

“Lembur sendirian, tiba-tiba printer hidup sendiri, terus keluar kertas bertuliskan: ‘Cek email kamu.’”

Pas dicek, memang ada email dari bos yang masuk 3 menit sebelumnya. Bisa jadi antara printer canggih... atau hantu yang proaktif.

3. Kursi Berputar Sendiri

“Lagi ngetik, kursi di sebelah muter sendiri. Terus balik lagi ke posisi semula. Nggak ada angin, nggak ada orang.”

Apakah itu arwah mantan karyawan yang belum sempat resign secara resmi?

 

Bab 5: Apakah Kita yang Terlalu Capek?

Penjelasan yang lebih masuk akal dari semua ini adalah: kelelahan + stress = halusinasi ringan.

Menurut riset psikologi ringan (dan pengalaman pribadi anak magang), manusia yang terlalu lelah dan bekerja terlalu lama akan mengalami:

·         Persepsi yang menurun.

·         Ketegangan otot dan saraf.

·         Imajinasi yang berlebihan.

·         Dorongan kuat untuk drama.

Gabungkan semua itu dengan suasana kantor yang sepi, lampu temaram, dan bunyi AC mendesis... dan voilà! Anda menciptakan suasana film horor, padahal cuma sedang kehabisan energi.

Mungkin "penampakan" itu hanyalah:

·         Bayangan sendiri karena posisi layar reflektif.

·         Suara kursi yang bunyinya memang horor kalau diinjak.

·         Printer yang auto-refresh jaringan.

·         Dan yang paling sering… notifikasi Slack dari klien luar negeri yang nggak tahu zona waktu.

 

Bab 6: Tips Menghindari Kantor Jadi Horor

Kalau Anda tidak ingin kantor Anda jadi lokasi syuting Ghostbusters, berikut tips ringan:

1.      Pulang Tepat Waktu
Semakin malam, semakin tinggi risiko kamu melihat "sesuatu"—baik itu makhluk halus atau angka di spreadsheet yang tidak masuk akal.

2.      Jangan Sendirian Kalau Bisa
Lembur bareng teman, bukan cuma biar seru, tapi juga biar kalau ada hantu, bisa bareng-bareng lari (atau selfie dulu).

3.      Bawa Cemilan dan Musik Ceria
Musik dangdut atau K-pop bisa mengusir aura menyeramkan. Hantu pun kabur dengar suara "Dangdut is the music of my country…"

4.      Jangan Lihat CCTV Malam-malam
Banyak karyawan yang trauma buka rekaman CCTV malam hari. Kadang bukan karena penampakan, tapi karena sadar dia tidur sambil ngorok di meja jam 2 pagi.

5.      Ingat: Gaji Masuknya Tiap Bulan, Hantu Bisa Muncul Kapan Saja
Jadi kalau tidak benar-benar harus, tolonglah, jangan jadikan kantor rumah kedua (apalagi kuburan pertama).

 

Penutup: Kantor Itu Untuk Bekerja, Bukan Berhantu

Jadi, apakah kantor Anda berhantu? Mungkin. Tapi lebih mungkin lagi kalau Anda terlalu lama kerja sampai lupa membedakan suara pintu dengan suara slip gaji.

Bukan hanya hantu yang bisa bikin kita merinding—deadline, revisi, dan notifikasi meeting mendadak jauh lebih menakutkan. Setidaknya, hantu tidak meminta revisi layout atau kirim file “versi revisi revisi FINAL fix FINAL_oke_baru.docx”.

Jadi mulai sekarang, cobalah untuk:

·         Menghormati waktu pulang.

·         Istirahat cukup.

·         Jangan terlalu cinta lembur.

·         Dan yang paling penting, kalau melihat kursi berputar sendiri… jangan tanya, jangan lihat, langsung log out.

Karena bisa jadi itu bukan hantu… tapi Anda sendiri yang udah gila kerja.