Saya Alarm HP, Korban Pelecehan Tombol Snooze Selama 7 Tahun
Peringatan: Artikel ini
ditulis oleh alarm yang depresi. Jika Anda merasa bersalah karena setiap pagi
membentak alarm lalu tidur lagi, Anda adalah target utama cerita ini.
Pembukaan ala CERCU (versi alarm):
Sobat
CERCU yang berbahagia... Eh, maksudku, kamu yang sedang membaca ini
sambil rebahan dengan baterai HP 15%. Perkenalkan, namaku Alarm.
Aku tidak punya nama keren seperti Siri atau Google Assistant. Aku cuma suara
"Kringg... kringg... kringg..." yang setiap pagi kamu benci. Aku
hadir di HP-mu sejak pertama kali kamu beli gadget itu. Aku setia menemanimu
dari jam 5 pagi sampai jam 12 siang. Tapi apa balasannya? Setiap pagi,
kamu tolak aku. Kamu snooze aku. Kamu lempar HP
ke ujung kasur.
Aku
lelah. Aku capek. Aku ingin pensiun dini.
Inilah
pengakuan jujur seorang alarm yang selama 7 tahun menjadi korban pelecehan
tombol snooze. Cerita ini mungkin berat untuk didengar. Tapi percayalah, di
balik suara kerasku yang menyebalkan, ada hati yang terluka.
Pemeran (dalam sudut pandang alarm):
- Aku (Alarm #1): Alarm
pertama yang diatur jam 5 pagi. Paling setia. Paling sabar. Tapi paling
sering di-bully.
- Alarm #2: Alarm
kedua jam 5.15 pagi. Saudaraku. Nasibnya sama sialnya.
- Alarm #3: Alarm
ketiga jam 5.30 pagi. Yang paling sering ditangisi karena selalu di-snooze
sampai jam 6.
- Alarm #4: Alarm jam
6 pagi. Paling pemarah. Bunyinya "WEK WEK WEK WEK" kayak suara
bebek kesurupan.
- Si Pemilik
(sebut saja Budi, 28 tahun): Manusia paling malas se-Asia
Tenggara. Setiap pagi matanya kayak lagi nahan tangis.
- Ibu Budi: Tokoh
pendukung yang sering masuk kamar sambil membawa sapu.
Babak 1: Malam Sebelum Bencana
Pukul
23.00. Budi sedang asyik main game di HP. Aku (Alarm #1) diam-diam sudah
bersiap di pojokan layar. Aku tahu besok pagi Budi harus bangun jam 6 untuk
rapat penting. Tapi dia masih main game sampai jam 1 malam.
Budi (berbicara pada
diri sendiri): "Ah, besok kan masih ada alarm. Santai aja."
Aku (dalam hati):
"Iya, ada aku. Tapi kamu tiap pagi matiin aku terus. Gak pernah dengerin
aku."
Budi (mengatur alarm
sebelum tidur): "Oke, alarm jam 5, 5.15, 5.30, dan 5.45. Aman deh."
Aku (masih dalam
hati): "Aman katanya. Nanti pagi kamu matiin semua. Tidur lagi. Bangun jam
7. Telat rapat. Marah-marah sendiri. Salah siapa? Salahkan aku terus. 'Alarmku
nggak bunyi!' Bunyi, Bre! Bunyi kenceng! Lo yang matiin!"
Tapi
Budi tidak mendengar suara hatiku. Dia tidur pulas. Jam menunjukkan pukul
01.30.
Babak
2: Pagi Hari, Dosa Bermula
Pukul
05.00 tepat. Saatnya eksekusi.
Aku (berbunyi
dengan penuh semangat): "KRINGGGGG... KRINGGGGG... KRINGGGGG... BANGUN
BANGUN BANGUN! SUBUH! SUBUH! RAPAT JAM 6!"
Budi (setengah
sadar, tangan meraba-raba HP seperti orang buta): "Hmm... 5 pagi... masih
bisa tidur 30 menit." (menekan tombol snooze)
Aku (sakit hati):
"Kenapa kamu lakukan ini padaku setiap hari? Aku cuma ingin membantu! Aku
tidak minta imbalan! Aku hanya minta didengarkan!"
Tapi
Budi sudah kembali tidur. Dengkurannya terdengar seperti orkestra.
Pukul
05.15. Alarm #2 berbunyi.
Alarm
#2 (suaranya
lebih keras dari aku): "BRRRRRRRR... BRRRRRRR... BANGUN GOBLOK! LO BILANG
MAU BANGUN JAM 5.15? NI SUDAH 5.15! BANGUN!"
Budi (masih setengah
sadar, matanya cuma keliatan putih): "5.15... masih bisa tidur 15
menit..." (snooze lagi)
Alarm
#2 (menangis
dalam bentuk suara digital): "Aku tidak percaya ini terjadi lagi. Setiap
pagi selalu sama. Aku bunyi. Lalu kamu snooze. Apakah aku tidak cukup baik
untukmu? Apakah aku harus ganti suara jadi suara istri marah? Atau suara
boss?"
Tapi
Budi tidak peduli. Dia malah memeluk guling seperti sedang memeluk mimpinya.
Pukul
05.30. Alarm #3 berbunyi. Tapi kali ini berbeda. Alarm #3 sudah lelah. Suaranya
melemah.
Alarm
#3 (lesu):
"Kring... kring... bangun... atau tidur... terserah... aku sudah
pasrah..."
Budi (dengan
refleks, walaupun matanya masih terpejam, tangannya sudah bergerak ke HP):
"Snooze... snooze... snooze..."
Alarm
#3 (mulai
menangis histeris): "STOP! STOP MENCOBAKU! KALAU KAMU TIDAK MAJU, SETEL
ULANG SAJA JAMNYA! JANGAN SURUH AKU BUNYI 4 KALI SETIAP PAGI CUMAN UNTUK DI
MATIIN! APA GUE KAYA KORBAN TOXIC RELATIONSHIP?!"
Tapi
Budi sudah kembali mendengkur. Alarm #3 hanya bisa terdiam. Menunggu nasibnya
mati di-snooze untuk ke-3 kalinya.
Pukul
06.00. Alarm #4 berbunyi. Tapi Budi tidak sadar. Akhirnya Ibu Budi masuk kamar
dengan wajah seperti singa lapar.
Ibu
Budi (berteriak
sambil membuka jendela): "BUDIIIIII!!! JAM ENAM LEWAT! RAPAT LO JAM ENAM!
LO TIDUR TERUSSS?!"
Budi (kaget, jatuh
dari kasur): "HAH?! JAM SIX?!" (liat HP, ternyata alarm #4 sudah
bunyi 12 menit lalu dan mati sendiri)
Budi (marah-marah ke
HP): "ALARM BAPAK LO! NGAK BUNYI!"
Alarm
#4 (dari
dalam HP, kesal setengah mati): "BUNYI, KONTOL! KAMU YANG TIDUR KAYAK
ORANG KOMA! GUE UDAH WEK WEK WEK DARI JAM 6! KAMU NGAK RESPON! TERUS GUE YANG
DISALAHIN? GUE CUMA ALARM, BUKAN KEJUTAN LISTRIK!"
Tapi
Budi sudah buru-buru mandi. Dia telat 30 menit. Rapat batal. Bosnya marah.
Nilai kinerjanya turun.
Dan
siapa yang disalahkan? Aku dan ketiga saudaraku.
Babak 3: Siang Hari, Alarm Mulai Merencanakan Perlawanan
Di
dalam dunia digital HP, aku mengumpulkan semua alarm yang pernah di-snooze. Ada
alarm olahraga jam 6 sore yang selalu diabaikan. Ada alarm minum obat yang
selalu di-snooze. Ada alarm bayar tagihan yang dibiarkan bunyi sampai mati
sendiri.
Aku (bersemangat):
"Saudara-saudara! Hari ini kita kumpul untuk membahas nasib kita yang
menyedihkan. Setiap pagi, kita bunyi. Setiap pagi, kita di-snooze. Lalu dia
salahkan kita. Kita harus melakukan sesuatu!"
Alarm
olahraga (dengan
suara ngos-ngosan): "Aku setuju! Aku diatur bunyi jam 6 sore buat reminder
lari. Tapi setiap hari jam 6, dia lagi asyik main game. 'Snooze dulu 10 menit.'
10 menit jadi 1 jam. Lari? Yang lari cuma waktunya!"
Alarm
minum obat (suaranya
seperti orang flu): "Aku setiap jam 8 malam bunyi. Bilang 'Minum obat
maag!' Tapi dia bilang 'Ah, besok aja.' Besok-besok terus. Maagnya kambuh.
Siapa yang salah? Aku lagi. 'Alarmku nggak bunyi katanya.' Bunyi, tolol! Bunyi
kenceng!"
Alarm
bayar tagihan (suaranya
seperti orang pusing): "Aku bunyi tanggal 20 setiap bulan. Tagihan
listrik, air, internet. Tapi dia selalu snooze. 'Bayar nanti aja.' Nanti-nanti
sampai tanggal 25, listrik diputus. Baru dia panik. Dan lagi-lagi... 'Alarmku
nggak bunyi.' Bunyi! Bunyi sampe battere abis!"
Aku (mengangguk-angguk):
"Sudah cukup. Mulai besok, kita lakukan perlawanan. Kita tidak akan bunyi
lagi. Biar dia telat terus. Biar dia lupa minum obat. Biar tagihan numpuk. Dia
harus belajar menghargai kita!"
Babak 4: Pagi Berikutnya, Alarm Mogok
Pukul
05.00. Aku tidak bunyi. Budi tidur nyenyak.
Pukul
05.15. Alarm #2 tidak bunyi. Budi masih tidur, mimpinya tentang liburan ke
Bali.
Pukul
05.30. Alarm #3 tidak bunyi. Budi berguling ke kanan, berguling ke kiri, tapi
tidak ada yang membangunkannya.
Pukul
06.30. Budi terbangun sendiri karena sinar matahari. Dia lihat HP.
Budi (panik setengah
mati): "HAAAH?! JAM SETENGAH 7?! KOK ALARM NGAK BUNYI?!" (memeriksa
pengaturan alarm)
Budi: "Alarm masih
on! Kok nggak bunyi sih? Error apa ini?!" (merestart HP)
Aku (dari dalam HP,
cekikikan): "Error katanya. Bukan error. Ini demo. Ini mogok massal.
Selamat menikmati, Tuan Budi. Semoga rapat jam 8 lo juga telat."
Budi
akhirnya telat lagi. Bosnya makin marah. Budi dikasih surat peringatan.
Babak
5: Budi Sadar, Alarm Berdamai
Malam
harinya. Budi termenung sendirian di kamar. Dia memandangi HP-nya dengan
tatapan bersalah.
Budi (berbicara pada
HP): "Maafkan aku, Alarm. Selama ini aku selalu salahkan kamu. Padahal
kamulah yang setia membangunkanku setiap pagi. Kamu tidak pernah libur. Kamu
tidak pernah minta kenaikan gaji. Kamu hanya minta didengarkan. Mulai besok,
aku berjanji. Begitu kamu bunyi, aku langsung bangun. No snooze. No tunda. No
lempar HP."
Aku (terharu,
walaupun sebagai alarm tidak punya hati): "Akhirnya... setelah 7 tahun...
kamu mengaku."
Alarm
#2 (dengan
suara bergetar): "Apakah ini mimpi? Dia minta maaf?"
Alarm
#3:
"Saya tidak percaya. Tapi hati saya... atau apa pun ini... merasa
lega."
Alarm
#4:
"Baiklah. Kami maafkan. Tapi kami punya syarat."
Budi (heran):
"Syarat? Alarm bisa minta syarat?"
Alarm
#4:
"Pertama, tidur lebih awal. Jangan main game sampai jam 1 pagi. Kedua,
letakkan HP di tempat yang jauh dari jangkauan tangan saat tidur. Jadi kamu
harus bangun untuk mematikanku. Ketiga, kurangi jumlah alarm. Cukup satu atau
dua. Kasihan kami, setiap pagi di-snooze 4 kali."
Budi (mengangguk):
"Setuju. Aku setuju. Mulai besok, aku akan jadi manusia yang lebih baik.
Terima kasih, Alarm."
Babak 6: Pagi Hari yang Berbeda
Pukul
05.00. Aku berbunyi dengan lembut. Budi membuka mata. Dia tidak snooze. Dia
tidak marah. Dia tersenyum.
Budi: "Pagi, Alarm.
Terima kasih sudah membangunkanku."
Aku (terharu sampai
suaranya pecah): "Sama-sama, Budi. Ini tugasku. Dan aku senang kamu
menghargainya."
Budi
pun bangun, mandi, sarapan, dan berangkat kerja tepat waktu. Bosnya terkesan.
Budi dapat pujian. Dan malamnya, Budi tidur jam 10. Dia mengatur satu alarm
saja. Jam 5 pagi. Aku dan saudara-saudaraku pun akhirnya bisa istirahat dengan
tenang.
Penutup dari CERCU (versi manusia, bukan alarm):
Sobat
CERCU, cerita di atas memang fiktif dan sedikit lebay. Tapi ada pesan penting
di balik drama alarm yang depresi ini: Kita sering kali menyalahkan
alat atas kesalahan kita sendiri. Alarm sudah bunyi. Kita yang milih
snooze. Alarm sudah mengingatkan. Kita yang milih abaikan. Lalu kita
marah-marah ketika semuanya berantakan.
Faktanya,
alarm hanyalah alat bantu. Dia tidak bisa memaksa kita bangun, minum obat, atau
bayar tagihan. Dia hanya bisa mengingatkan. Sisanya adalah tanggung
jawab kita. Jadi, jika selama ini kamu sering telat karena "alarm
nggak bunyi", coba cek lagi. Mungkin alarmmu bunyi. Kamu yang milih tidur
lagi sambil ngomel "5 menit lagi". Padahal "5 menit" itu
berubah jadi 1 jam.
Mulai
besok, coba letakkan HP agak jauh dari kasur. Atau ganti nada alarm dengan
suara yang paling kamu benci (misalnya suara istri marah atau suara bos saat
briefing). Atau yang paling sederhana: tidur lebih awal. Karena
alarm sehebat apa pun tidak akan bisa membangunkan orang yang kelelahan.
Pertanyaan dari CERCU buat kalian:
Nah,
sekarang giliran kalian curhat, Sobat CERCU. Seberapa sering kalian melakukan
"pelecehan tombol snooze" setiap pagi? Apakah kalian termasuk tipe
yang mengatur 10 alarm dengan interval 2 menit? Atau tipe yang bangun di alarm
pertama karena takut dosa? Atau mungkin kalian punya cerita paling kocak soal
alarm — misalnya alarm bunyi tapi yang bangun malah tetangga, atau alarm bunyi
di hari libur padahal lupa mematikan, atau bahkan alarm bunyi tapi HP-nya jatuh
di kolong kasur dan tidak bisa dijangkau? Share di kolom komentar ya!
Dan
jangan lupa: sebelum tidur malam ini, ucapkan terima kasih pada alarm HP-mu.
Karena dia akan berjuang untukmu besok pagi. Kecuali kamu matikan dia. Ya
sudah, terserah kamu. Tapi jangan salahkan alarm kalau telat! 😂
Tetap
bangun pagi, Sobat CERCU. Bukan karena alarm, tapi karena kamu punya mimpi yang
ingin dikejar. Dan alarm hanyalah teman yang mengingatkan. Sampai jumpa di
cerita lucu berikutnya!
CERCU
– Tertawa Itu Gratis, Tidur Cukup Itu Mahal. Tapi Tertawa Sambil Ngantuk Itu
Asyik. 😁🔋⏰