Sunday, June 21, 2026

“BEL0K KANAN!” … “PUTAR BALIK!” … “LANJUT TERUS!” Ketika GPS dan Pengendara Sama-Sama Tidak Tahu Jalan

 

“BEL0K KANAN!” … “PUTAR BALIK!” … “LANJUT TERUS!” Ketika GPS dan Pengendara Sama-Sama Tidak Tahu Jalan

Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan hidup manusia. Salah satunya GPS. Dengan bantuan GPS, orang bisa menemukan jalan menuju lokasi yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.

Setidaknya, itu teorinya.

Dalam praktiknya, GPS kadang memiliki bakat tersembunyi untuk membuat manusia mempertanyakan arah hidup, tujuan perjalanan, dan sesekali kewarasan mereka sendiri.

Hal itulah yang dialami oleh Ardi, seorang pegawai kantoran yang terkenal percaya penuh pada teknologi.

Kalau GPS menyuruh belok, dia belok.

Kalau GPS menyuruh lurus, dia lurus.

Kalau GPS menyuruh putar balik, dia putar balik.

Pokoknya, GPS bagi Ardi hampir setara dengan penasihat spiritual.

 

Suatu Minggu pagi, Ardi mendapat undangan menghadiri acara pernikahan temannya di sebuah desa yang belum pernah ia kunjungi.

Karena tidak hafal jalan, ia langsung mengandalkan aplikasi navigasi di ponselnya.

Sebelum berangkat, istrinya sempat mengingatkan.

Istri: "Tanya orang kalau ragu."

Ardi: "Tidak perlu."

Istri: "Yakin?"

Ardi: "GPS tidak pernah salah."

Kalimat itu ternyata menjadi kesalahan pertama hari itu.

 

Perjalanan awal berlangsung lancar.

Suara GPS terdengar tenang dan meyakinkan.

GPS: "Dalam 300 meter, belok kiri."

Ardi mengikuti.

GPS: "Lanjut lurus selama dua kilometer."

Ardi mengikuti.

GPS: "Anda berada di jalur tercepat."

Ardi tersenyum bangga.

 

Sekitar tiga puluh menit kemudian, jalan mulai menyempit.

Rumah-rumah semakin jarang.

Aspal berubah menjadi jalan berbatu.

Namun GPS masih terdengar percaya diri.

 

GPS: "Lanjutkan perjalanan."

Ardi: "Baik."

 

Beberapa menit kemudian ia mulai melihat sawah di kanan kiri.

Lalu kebun.

Lalu pepohonan.

Lalu lebih banyak pepohonan.

Kemudian hanya pepohonan.

 

Ardi: "Ini masih benar?"

GPS: "Lanjutkan perjalanan."

 

Akhirnya Ardi bertemu seorang petani di pinggir jalan.

Ia membuka kaca mobil.

 

Ardi: "Pak, kalau ke Desa Suka Maju lewat sini?"

Petani: "Bukan."

Ardi: "Bukan?"

Petani: "Jauh sekali."

 

Ardi langsung menatap ponselnya.

 

Ardi: "GPS, kita perlu bicara."

 

Ia memutar kendaraan dan kembali ke jalan utama.

GPS langsung berbunyi.

 

GPS: "Putar balik jika memungkinkan."

Ardi: "Barusan juga saya putar balik!"

GPS: "Putar balik jika memungkinkan."

 

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardi merasa sedang berdebat dengan sebuah aplikasi.

 

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya GPS menemukan rute baru.

 

GPS: "Belok kanan."

Ardi belok kanan.

GPS: "Belok kiri."

Ardi belok kiri.

GPS: "Putar balik."

Ardi mengerem.

 

Ardi: "Barusan Anda menyuruh saya belok ke sini!"

GPS: "Putar balik."

Ardi: "Kenapa?"

GPS: "Putar balik."

Ardi: "Penjelasanmu sangat membantu."

 

Perjalanan berlanjut.

Namun situasi semakin aneh.

 

Di satu titik GPS menyuruhnya masuk ke sebuah gang yang sangat sempit.

Sempit sekali.

Bahkan Ardi mulai curiga gang itu dibuat khusus untuk ayam, bukan mobil.

 

Ardi: "Serius lewat sini?"

GPS: "Belok kiri."

Ardi: "Mobil saya lebih lebar dari gangnya."

GPS: "Belok kiri."

 

Untung saja seorang warga melambaikan tangan.

 

Warga: "Mau ke mana, Pak?"

Ardi: "Ke Desa Suka Maju."

Warga: "Jangan masuk situ."

Ardi: "Kenapa?"

Warga: "Itu jalan ke kandang kambing."

 

Ardi memandang GPS dengan rasa kecewa yang sulit dijelaskan.

 

Ardi: "Kamu ingin saya menghadiri pernikahan atau beternak kambing?"

 

GPS tidak menjawab.

Mungkin karena merasa tersinggung.

 

Setelah hampir satu jam tersesat, baterai ponselnya mulai menipis.

 

Ponsel: 15%

Ardi: "Jangan sekarang."

 

GPS kembali berbicara.

 

GPS: "Dalam 100 meter, belok kanan."

 

Ardi mengikuti.

Ternyata jalan itu berakhir di depan sungai kecil.

Tidak ada jembatan.

Tidak ada penyeberangan.

Tidak ada jalan.

Hanya air.

 

Ardi menatap layar ponsel.

 

Ardi: "Apa rencananya sekarang?"

GPS: "Anda telah tiba di tujuan."

 

Ardi hampir menjatuhkan ponselnya.

 

Ardi: "Tujuan siapa? Ikan?"

 

Untunglah saat itu ada seorang nelayan yang sedang duduk di tepi sungai.

 

Ardi: "Pak, ini Desa Suka Maju?"

Nelayan: "Bukan."

Ardi: "Lalu ini apa?"

Nelayan: "Sungai."

Ardi: "Terima kasih atas informasi yang sangat akurat."

 

Nelayan tertawa.

 

Akhirnya Ardi memutuskan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sejak awal.

Ia bertanya kepada manusia.

 

Dari satu orang ke orang lain, ia akhirnya mendapatkan arah yang benar.

 

Menariknya, setiap orang yang ia tanya memberikan petunjuk yang lebih masuk akal daripada GPS.

 

Warga: "Lurus sampai masjid."

Warga lain: "Belok kiri di pohon mangga."

Warga berikutnya: "Kalau ketemu warung bakso, berarti sudah dekat."

 

Tidak ada yang menyuruhnya masuk ke kandang kambing.

Tidak ada yang mengarahkannya ke sungai.

 

Satu jam kemudian Ardi akhirnya tiba di lokasi pernikahan.

Dengan pakaian kusut.

Rambut berantakan.

Dan ekspresi seseorang yang baru menyelesaikan ekspedisi lintas benua.

 

Temannya langsung menyambut.

 

Teman: "Lama sekali."

Ardi: "Saya berkeliling mencari makna kehidupan."

Teman: "Maksudnya?"

Ardi: "Saya mengikuti GPS."

 

Semua orang tertawa.

 

Saat makan siang di acara itu, pengalaman tersesat Ardi menjadi bahan hiburan.

Bahkan ada yang bertanya.

 

Teman: "Kalau GPS menyuruh masuk sawah, kamu ikut juga?"

Ardi: "Jangan beri ide baru."

 

Sejak hari itu, Ardi masih menggunakan GPS.

Namun sekarang ia tidak lagi mempercayainya secara membabi buta.

Ia tetap melihat rambu jalan.

Ia tetap bertanya kepada warga.

Dan yang paling penting, ia menyadari bahwa teknologi secanggih apa pun tetap bisa bingung.

Kadang bahkan lebih bingung daripada manusia yang menggunakannya.

 

Kini setiap kali GPS memberikan instruksi yang aneh, Ardi selalu tersenyum dan berkata:

"Tenang saja. Kita sama-sama tidak tahu jalan."

Dan entah kenapa, kalimat itu terasa sangat menenangkan.

 

Nah, bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda mengikuti petunjuk GPS dengan penuh keyakinan, tetapi malah berakhir di tempat yang sama sekali tidak sesuai tujuan?