SATU PASAR IKUT MENCARI! Dompet Hilang Ini Bikin Pemiliknya Panik Setengah
Mati, Padahal Lokasinya Sangat Dekat
Hari Sabtu pagi biasanya menjadi waktu yang santai bagi
banyak orang. Namun tidak bagi Pak Hendra.
Pagi itu ia berangkat ke pasar dengan satu misi mulia:
membeli kebutuhan rumah tangga sebelum istrinya mulai mengingatkan untuk ketiga
kalinya.
Berbekal daftar belanja dan dompet kesayangannya, Pak
Hendra melaju dengan penuh percaya diri.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dalam waktu kurang
dari satu jam, dirinya akan menjadi tokoh utama dalam sebuah drama komedi yang
menghibur satu pasar.
Sesampainya di pasar, Pak Hendra mulai berbelanja.
Cabai? Sudah.
Tomat? Sudah.
Bawang? Sudah.
Ikan? Sudah.
Ia berjalan dari satu lapak ke lapak lain sambil
sesekali mengecek daftar belanja.
Semuanya berjalan lancar.
Sangat lancar.
Terlalu lancar.
Biasanya kalau hidup terlalu lancar, semesta suka
menambahkan sedikit hiburan.
Ketika tiba di lapak sayur terakhir, Pak Hendra
memasukkan tangannya ke saku depan untuk mengambil dompet.
Kosong.
Ia mencoba saku yang lain.
Kosong.
Ia mulai memeriksa tas belanja.
Tidak ada.
Wajahnya perlahan berubah pucat.
Pak Hendra: "Astaga..."
Pedagang sayur menoleh.
Pedagang: "Kenapa, Pak?"
Pak Hendra: "Dompet saya
hilang."
Pedagang ikut terkejut.
Pedagang: "Serius?"
Pak Hendra: "Serius."
Pedagang: "Isinya banyak?"
Pak Hendra: "Lumayan."
Padahal sebenarnya uang di dalamnya tidak terlalu
banyak.
Tetapi kepanikan memiliki kemampuan luar biasa untuk
membuat segala sesuatu terasa jauh lebih besar.
Dalam hitungan menit, berita kehilangan dompet menyebar
lebih cepat daripada diskon minyak goreng.
Beberapa pedagang mulai ikut membantu.
Beberapa pembeli ikut penasaran.
Bahkan ada yang terlihat lebih semangat daripada pemilik
dompetnya sendiri.
Pedagang Buah: "Dompet warna
apa?"
Pak Hendra: "Cokelat."
Pedagang Ikan: "Ukuran besar atau
kecil?"
Pak Hendra: "Sedang."
Pedagang Ayam: "Merek apa?"
Pak Hendra: "Memangnya dompet saya
motor?"
Namun pencarian tetap berlangsung.
Orang-orang mulai melihat ke bawah meja.
Ke sela-sela karung.
Ke sekitar jalan pasar.
Suasana berubah seperti operasi pencarian benda
bersejarah.
Seorang bapak yang kebetulan lewat ikut bertanya.
Bapak: "Dompetnya berisi
apa?"
Pak Hendra: "Uang."
Bapak: "Ya jelas."
Pak Hendra: "KTP, SIM, kartu
ATM."
Bapak: "Wah, repot kalau
hilang."
Kalimat itu membuat Pak Hendra semakin panik.
Ia mulai membayangkan berbagai kemungkinan.
Membuat surat kehilangan.
Mengurus KTP.
Mengurus ATM.
Mengurus SIM.
Semakin dipikirkan, semakin terasa seperti tugas negara.
Keringat mulai bercucuran.
Padahal matahari belum terlalu terik.
Tiba-tiba seorang ibu penjual sayur berkata,
"Coba diingat terakhir dipakai kapan."
Pertanyaan sederhana itu justru membuat Pak Hendra
bingung.
Pak Hendra: "Tadi."
Ibu Penjual: "Tadi kapan?"
Pak Hendra: "Tadi ya tadi."
Ibu Penjual: "Kalau begitu kita
semua pulang saja."
Beberapa orang tertawa kecil.
Namun Pak Hendra tidak sedang dalam kondisi untuk
menikmati humor.
Ia terus mencari.
Semakin panik.
Semakin tergesa-gesa.
Dan seperti biasanya, semakin panik seseorang, semakin
aneh tingkah lakunya.
Pada satu titik, ia bahkan memeriksa kantong plastik
berisi cabai.
Pedagang: "Pak..."
Pak Hendra: "Ya?"
Pedagang: "Kalau dompetnya ada di
dalam cabai, saya juga ingin tahu caranya."
Lima belas menit berlalu.
Belum ada hasil.
Dua puluh menit berlalu.
Masih nihil.
Kini hampir setengah pasar mengetahui bahwa Pak Hendra
kehilangan dompet.
Beberapa orang ikut memberi saran.
Pembeli 1: "Coba telepon nomor
sendiri."
Pak Hendra: "Itu dompet, bukan
ponsel."
Pembeli 2: "Mungkin jatuh di
parkiran."
Pembeli 3: "Mungkin tertinggal di
rumah."
Pembeli 4: "Mungkin dibawa
alien."
Semua mulai kehilangan arah.
Pak Hendra hampir menyerah.
Ia mengusap wajahnya dengan tangan.
Lalu memasukkan kedua tangan ke pinggang sambil
berpikir.
Saat itulah seorang anak kecil yang berdiri di dekat
lapak sayur memperhatikan sesuatu.
Anak itu menatap Pak Hendra.
Lalu menatap bagian belakang celananya.
Lalu menatap lagi.
Anak Kecil: "Om."
Pak Hendra: "Ya?"
Anak Kecil: "Itu apa?"
Pak Hendra: "Apa?"
Anak Kecil: "Yang nongol dari
kantong belakang."
Semua orang spontan menoleh.
Pak Hendra ikut menoleh.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Seolah takut melihat kenyataan.
Tangannya bergerak ke belakang.
Menyentuh sesuatu.
Kulit.
Lipatannya.
Bentuknya.
Sangat familiar.
Ia menarik benda itu keluar.
Dan benar saja.
Itu dompetnya.
Dompet yang sejak tadi dicari ke seluruh pasar.
Dompet yang membuat puluhan orang ikut panik.
Dompet yang ternyata selama ini santai beristirahat di
kantong belakang celananya.
Suasana mendadak hening.
Lalu...
Meledak oleh tawa.
Pedagang Sayur: "Pak
Hendraaaa!"
Pedagang Buah: "Kita cari sampai
ke bawah meja!"
Pedagang Ayam: "Dompetnya malah
ikut mencari kita dari belakang!"
Pak Hendra hanya bisa berdiri mematung.
Wajahnya merah.
Sangat merah.
Mungkin jika ada lomba wajah paling malu sedunia, ia
langsung masuk final.
Anak kecil tadi tersenyum bangga.
Anak Kecil: "Ketemu, Om."
Pak Hendra: "Iya."
Anak Kecil: "Dari tadi ada."
Pak Hendra: "Iya."
Anak Kecil: "Saya lihat sejak
awal."
Pak Hendra: "Kenapa baru bilang
sekarang?"
Anak Kecil: "Saya kira memang
disimpan di situ."
Gelombang tawa kedua kembali mengguncang pasar.
Sejak hari itu, Pak Hendra menjadi legenda kecil di
pasar tersebut.
Setiap kali datang berbelanja, selalu ada yang bertanya.
Pedagang Sayur: "Pak, dompetnya
masih di belakang?"
Pedagang Ikan: "Sudah dicek dulu
sebelum panik?"
Pedagang Ayam: "Hari ini yang
hilang apa lagi?"
Bahkan beberapa bulan kemudian, ketika Pak Hendra
membeli cabai, seorang pedagang bercanda.
"Pak, kalau dompet hilang lagi, cek kantong
belakang dulu sebelum mengumumkan ke seluruh pasar."
Untungnya Pak Hendra termasuk orang yang bisa
menertawakan dirinya sendiri.
Ia akhirnya ikut tertawa setiap kali kisah itu diungkit.
Karena bagaimanapun juga, kejadian tersebut memang
terlalu lucu untuk dilupakan.
Dan sampai sekarang, setiap kali merasa kehilangan
sesuatu, ia selalu melakukan satu hal terlebih dahulu.
Memeriksa kantong belakang.
Dengan sangat teliti.
Karena pengalaman telah mengajarkan bahwa terkadang
barang yang paling sulit ditemukan adalah barang yang sebenarnya paling dekat
dengan kita.
Nah, bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda panik mencari sesuatu ke
mana-mana, lalu akhirnya sadar bahwa benda itu ternyata ada di saku, tas, atau
bahkan sedang Anda pegang sendiri?