
WAJAH PUCAT AYAH DI PAGI HARI: Ternyata Semua Berawal dari Satu Chat yang Salah Kirim!
WAJAH PUCAT AYAH DI PAGI HARI: Ternyata Semua Berawal
dari Satu Chat yang Salah Kirim!

WAJAH PUCAT AYAH DI PAGI HARI: Ternyata Semua Berawal dari Satu Chat yang Salah Kirim!
Pernahkah Anda mengirim pesan
WhatsApp dengan penuh percaya diri, lalu beberapa detik kemudian berharap bumi
membuka diri dan menelan Anda hidup-hidup? Nah, itulah yang dialami oleh Doni,
seorang pegawai kantoran yang terkenal rajin, tetapi memiliki satu kelemahan
besar: terlalu cepat menekan tombol "Kirim".
Hari itu, Doni sedang berada di
kantor. Pekerjaan menumpuk, bos mondar-mandir seperti satpam kehilangan peluit,
dan grup WhatsApp kantor tidak berhenti berbunyi.
Di tengah kesibukan itu, Doni
menerima pesan pribadi dari istrinya.
Istri: "Jangan lupa pulang beli telur ya."
Doni yang sedang kesal karena bos
baru saja mengoreksi laporannya berniat membalas cepat.
Doni: "Iya, Bos juga cerewet sekali hari ini. Rasanya pengen
kutukar sama ayam petelur. Lebih berguna."
Setelah mengetik, Doni langsung
menekan tombol kirim tanpa melihat tujuan pesan.
Lima detik kemudian wajahnya berubah
pucat.
Pesan itu bukan terkirim ke istrinya.
Pesan itu terkirim ke GRUP KELUARGA BESAR.
Dan yang lebih mengerikan...
Nama bosnya adalah Pak Ayam.
Grup keluarga itu beranggotakan 67
orang. Mulai dari kakek, nenek, paman, tante, sepupu, hingga kerabat yang
bahkan Doni sendiri tidak tahu hubungan keluarganya.
Belum sempat Doni menghapus pesan,
notifikasi mulai berdatangan.
Tante Rina: "Ayam petelur siapa maksudnya?"
Sepupu Joni: "Wah, ada konflik kantor nih."
Om Budi: "Kalau ayam petelur memang menghasilkan telur setiap
hari."
Nenek: "Kasihan ayamnya."
Doni mulai berkeringat.
Ia buru-buru menekan fitur
"Hapus untuk semua orang."
Namun jaringan internet kantor saat
itu sedang lambat seperti kura-kura habis makan kenyang.
Pesan gagal dihapus.
Malah muncul centang biru di
mana-mana.
Keadaan semakin kacau ketika ayah
Doni ikut membaca pesan tersebut.
Ayah: "Doni, siapa Pak Ayam?"
Doni: "Bukan siapa-siapa, Yah."
Ayah: "Kalau bukan siapa-siapa kenapa mau ditukar?"
Doni: "Itu cuma bercanda."
Ayah: "Bercanda kok pakai tukar-menukar manusia?"
Grup mulai ramai.
Tante Yuli: "Saya setuju jangan menukar manusia dengan ayam."
Sepupu Fajar: "Tapi kalau ayamnya bisa tanda tangan laporan, mungkin
boleh dipertimbangkan."
Emoji tertawa langsung memenuhi
layar.
Doni makin stres.
Ia mencoba mengalihkan topik.
Doni: "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar semua?"
Tidak berhasil.
Justru paman paling usil dalam
keluarga ikut masuk.
Om Herman: "Saya penasaran. Kalau bos ditukar ayam, gajinya
dibayar pakai jagung?"
Seketika grup meledak.
Puluhan emoji tertawa muncul.
Ada yang mengirim stiker ayam
menari.
Ada yang mengirim GIF ayam memakai
jas.
Bahkan ada sepupu yang mengedit foto
Doni sedang rapat dengan seekor ayam duduk di kursi direktur.
Doni berharap drama berakhir di
situ.
Ternyata belum.
Sore harinya ibunya menelepon.
Ibu: "Nak, ayahmu dari tadi kepikiran."
Doni: "Kenapa lagi, Bu?"
Ibu: "Ayahmu takut nanti kamu benar-benar bekerja dengan
ayam."
Doni: "Bu, itu cuma bercanda."
Ibu: "Ya, sudah. Tapi kalau ayamnya baik, ajak makan ke
rumah."
Doni terdiam.
Kadang-kadang ia merasa keluarganya
memang memiliki bakat alami membuat situasi canggung menjadi lebih canggung
lagi.
Malam harinya Doni pulang ke rumah.
Ia pikir masalah selesai.
Ternyata grup keluarga kembali
aktif.
Kali ini karena sepupunya membuat
polling.
Jika Bos Doni Ditukar Ayam, Pilihannya:
- Ayam kampung
- Ayam petelur
- Ayam jago
- Ayam goreng
Lebih dari 40 anggota keluarga ikut
memilih.
Yang paling banyak dipilih?
Ayam goreng.
Alasannya beragam.
Om Budi: "Sudah jelas manfaatnya."
Tante Rina: "Praktis dan ekonomis."
Sepupu Joni: "Bisa jadi makan malam."
Doni hanya bisa memegang kepala.
Keesokan paginya ia bangun dengan
harapan dunia sudah normal kembali.
Harapan itu langsung hancur.
Foto profil grup keluarga berubah.
Menjadi foto Doni memakai tubuh ayam
hasil editan sepupunya.
Di bawah foto itu tertulis:
"Doni Poultry
Corporation."
Doni hampir menjatuhkan ponselnya.
Saat sedang sarapan, ayahnya
tersenyum.
Ayah: "Kamu sekarang terkenal."
Doni: "Terkenal karena apa?"
Ayah: "Di grup keluarga kamu dijuluki Direktur
Perunggasan."
Doni: "Yah..."
Ayah: "Lumayan. Lebih baik daripada dijuluki tukang pinjam
uang."
Untuk pertama kalinya sejak kejadian
itu, Doni tertawa.
Mungkin benar juga.
Sejak hari itu, setiap ada reuni
keluarga, topik ayam selalu muncul.
Kalau Doni datang terlambat, pasti
ada yang bertanya:
"Macet atau lagi rapat dengan
ayam?"
Kalau Doni membeli telur:
"Hasil kerja sama bisnis
ya?"
Kalau Doni memakai kemeja baru:
"Seragam perusahaan
peternakan?"
Dan yang paling menyakitkan, setiap
ulang tahun Doni selalu mendapat stiker bergambar ayam dari grup keluarga.
Puluhan stiker.
Setiap tahun.
Tanpa pernah absen.
Namun ada satu hikmah yang dipetik
Doni dari kejadian itu.
Sebelum mengirim pesan WhatsApp, ia
sekarang selalu memeriksa tujuan pesan minimal tiga kali.
Karena satu detik salah kirim bisa
menjadi bahan lelucon keluarga selama bertahun-tahun.
Dan percaya atau tidak, hingga hari
ini grup keluarga mereka masih menyimpan screenshot pesan legendaris tersebut.
Sebagai bukti sejarah.
Dan sebagai senjata yang siap
dikeluarkan kapan saja saat suasana mulai sepi.
🐔 Bos = Ayam Petelur?
Doni: "Pesan ini pasti terkirim ke istriku."
WhatsApp: "Apakah kamu yakin?"
Doni: "Yakin."
WhatsApp: mengirim ke Grup Keluarga Besar
67 Anggota Keluarga: "Menarik sekali. Mari kita bahas selama lima tahun ke
depan."
😂😂😂
Nah, sekarang giliran Anda
bercerita. Pernahkah Anda salah kirim chat yang membuat malu, panik, atau
justru jadi bahan tertawaan keluarga dan teman-teman?