Jangan Balas Pake Jempol! Tragedi Pesan Jam 2 Malam yang Mengubah Nasib
Jono
Halo sobat CERCU (Cerita Lucu)!
Mari kita bicara jujur. Suara horor apa yang paling menakutkan di dunia ini?
Suara kuntilanak tertawa? Suara langkah kaki di rumah kosong? Salah besar.
Suara paling horor di abad ini adalah: ting!—bunyi notifikasi WhatsApp
dari Bos besar pada pukul 02.00 dini hari.
Malam itu, Jono sedang bermimpi indah. Dia bermimpi memenangkan lotre dan
sedang bersiap melempar surat rilis kerja ke wajah bosnya, Pak Baron. Pak Baron
adalah tipikal manajer yang memiliki energi setara dengan reaktor nuklir: tidak
pernah tidur, selalu tegang, dan menganggap hari libur adalah konspirasi
kapitalis.
Tepat pukul 02.14 WIB, HP Jono di atas nakas bergetar hebat.
Babak 1: Setengah Sadar, Sepenuhnya Tersesat
Jono terbangun dengan mata yang masih lengket. Dengan nyawa yang baru
terkumpul sekitar 15%, dia meraba-raba ponselnya. Di layar kunci, terpampang
nama yang membuat kantuknya hilang seketika: Pak Baron (Utamakan Balas).
Isi pesannya singkat, padat, dan mengerikan: "Jono, besok pagi jam 7
tajam bawa dokumen yang kemarin ke ruangan saya. Jangan lupa bawa 'anu' yang
warna merah. Penting. Hidup mati perusahaan ada di tangan kamu."
Jono langsung duduk tegak. Otaknya yang masih loading mencoba
mencerna kata 'anu' yang warna merah.
Jono: (Berbicara sendiri dengan mata melotot) "Anu warna merah?
Apaan? Laporan keuangan kan sampulnya biru. Desain brosur warnanya hijau telur
asin. Apa maksud si Bos? Jangan-jangan..."
Dalam kepanikan tingkat tinggi, Jono memutuskan untuk membalas pesan
tersebut. Karena jarinya masih gemetar dan matanya juling karena mengantuk, dia
berniat mengetik: "Siap Pak, segera saya siapkan."
Namun, jempol Jono mendadak mengalami malfungsi. Alih-alih mengetik kalimat
itu, dia malah menekan fitur Autocorrect dan tidak sengaja mengirimkan
stiker WhatsApp berukuran besar yang baru dia unduh kemarin: gambar kucing oren
peliharaan ibunya yang sedang memakai kacamata hitam dengan teks besar
berbunyi: "Santai dulu gak sih, Bos? Tetap menyala abangku! 🔥"
Sent. Centang dua.
Jono membeku. Detak jantungnya berhenti selama tiga detik. Dia mencoba
menekan opsi "Hapus untuk Semua Orang", tetapi karena panik, jarinya
malah menekan "Hapus untuk Saya".
Stiker kucing oren itu sekarang abadi di HP Pak Baron.
Babak 2: Operasi Subuh di Kantor
Jono tidak bisa tidur lagi. Pukul 05.30 WIB, dia sudah sampai di kantor
dengan mata panda yang sangat tebal, mirip cosplayer hewan pameran Ragunan.
Kantor masih sepi, bahkan lampu koridor belum dinyalakan semua.
Jono langsung mengobrak-abrik kubikelnya, mencari segala hal yang berwarna
merah.
Jono: (Membongkar laci) "Kertas merah? Enggak ada. Spidol merah?
Cuma ada yang macet. Apa ya? Masa gue harus bawa tabung pemadam kebakaran ke
ruangannya?!"
Saat itulah Riko, staf administrasi yang rajinnya tidak ketolongan, datang
sambil membawa kopi.
Riko: "Jon? Lo ngapain subuh-subuh udah kayang di bawah meja?
Nyari pesugihan?"
Jono: (Muka frustrasi) "Rik, lo tahu gak 'anu warna merah' yang
dimaksud Pak Baron semalam jam 2 pagi? Dia bilang hidup mati perusahaan ada di
tangan gue!"
Riko: (Berpikir keras) "Anu warna merah? Oh! Jangan-jangan...
proposal proyek 'Red Dragon' yang nilainya 5 miliar itu? Tapi kan itu masih di
laptopnya Bu Sekar."
Jono: "Bukan, Rik! Kalimatnya misterius banget. Dan yang lebih
parah... gue gak sengaja ngirim stiker kucing oren bilang 'Tetap menyala
abangku' ke Pak Baron!"
Riko: (Langsung menepuk pundak Jono dengan khusyuk) "Jon...
kalau nanti siang lo dipotong gaji atau langsung disuruh pulang selamanya,
barang-barang di meja lo boleh buat gue ya? Terutama tanaman kaktus kecil
itu."
Babak 3: Panggilan Sang Penguasa
Pukul 07.00 WIB tepat. Bel di ruangan Pak Baron berbunyi. Jono berjalan menuju
ruangan itu seperti seorang terpidana mati yang menuju tiang gantungan. Di
tangannya, dia membawa map merah kosong, spidol merah, dan satu buah apel merah
(buat jaga-jaga kalau Bosnya cuma lapar).
Jono mengetuk pintu, lalu masuk dengan kepala tertunduk.
Pak Baron: "Masuk, Jono. Duduk."
Pak Baron sedang menatap layar laptopnya. Suasana ruangan terasa sedingin es
di kutub utara. Pak Baron kemudian meletakkan ponselnya di atas meja, layarnya
menghadap ke atas, memperlihatkan gambar kucing oren milik Jono.
Pak Baron: "Jadi, Jono... 'Tetap menyala abangku', ya?"
Jono: (Keringat dingin membasahi baju) "Mohon maaf yang
sebesar-besarnya, Pak! Semalam saya setengah sadar, jempol saya tergelincir,
Pak! Saya siap menerima sanksi surat peringatan!"
Pak Baron: (Tiba-tiba terkekeh) "Hahaha! Kamu ini tegang sekali.
Justru stiker kamu itu bikin saya sadar, saya ini terlalu stres kerja. Semalam
saya sampai gak bisa tidur."
Jono: (Melongo) "Eh? Oh... syukurlah. Lalu, Pak... soal 'anu
warna merah' yang Bapak maksud untuk menyelamatkan perusahaan?"
Pak Baron: "Oh, itu!" (Pak Baron membuka laci mejanya)
"Ini loh, Jono. Flashdisk berbentuk cabai merah ini. Di dalam sini ada
file presentasi untuk investor jam 8 nanti. Saya lupa membawanya pulang
kemarin, dan saya baru ingat jam 2 malam kalau flashdisk ini ketinggalan di
bawah tumpukan berkas di mejamu."
Jono melihat flashdisk kecil berbentuk cabai merah di tangan Pak Baron. Dia
lalu melihat map merah, spidol merah, dan apel merah yang dia bawa dengan susah
payah sejak subuh.
Pak Baron: "Loh, kamu sendiri bawa apa itu banyak banget? Apel
merah buat apa?"
Jono: "Ini... ini jimat biar presentasi kita hari ini makin
'menyala', Pak!"
Pak Baron: "Bagus! Ide yang kreatif. Sekarang, ayo kita ke ruang
rapat!"
Jono keluar ruangan dengan lemas, bersumpah dalam hati akan segera menghapus
semua stiker kucing di WhatsApp-nya dan mengaktifkan mode "Jangan
Ganggu" mulai jam 9 malam.
Bagaimana dengan kalian, para pembaca setia CERCU? Pernahkah kalian
mendapatkan pesan absurd dari atasan atau guru di jam-jam yang tidak manusiawi?
Atau jangan-jangan, kalian pernah salah kirim stiker yang jauh lebih memalukan
daripada kucing oren milik Jono?
Yuk, ceritakan pengalaman horor sekaligus kocak kalian di kolom komentar
di bawah ini! Jangan lupa share artikel ini ke teman kantor kalian yang
suka salah ketik!