Strategi
"Jalur Langit" yang Gagal: Kisah Mamat Menaklukkan HRD
Pakai Mantra Dukun
Halo sahabat CERCU (Cerita Lucu) di mana pun kalian berada!
Mari kita sepakat sejenak: tahap paling mendebarkan dalam mencari pekerjaan
bukanlah saat mengirimkan berkas, melainkan saat duduk berhadapan langsung
dengan HRD di ruang wawancara. Di momen itu, atmosfer ruangan mendadak berubah
seperti ruang sidang skripsi plus ujian masuk agen rahasia.
Kisah kali ini datang dari Mamat, seorang pemuda pengangguran profesional
yang sudah ditolak oleh 23 perusahaan. Karena frustrasi, untuk interview
yang ke-24 ini di PT Sinar Abadi, Mamat memutuskan untuk memakai strategi
alternatif hasil konsultasi dengan pamannya yang suka pergi ke gunung.
Mari kita intip bagaimana interview kerja paling berantakan sekaligus paling
kocak ini berlangsung!
Babak 1: Jimat di Dalam Saku
Pukul 09.00 WIB, Mamat sudah duduk di depan ruang wawancara. Di dalam
hatinya, dia merasa sangat percaya diri. Bukan karena dia menguasai materi,
melainkan karena di kantong celana kanannya terdapat selembar daun sirih yang
sudah dimantrai, dan di kantong kirinya ada sebungkus garam dapur. Kata
pamannya, itu trik agar pewawancara langsung tunduk dan terpesona.
Pintu terbuka, dan sekretaris memanggil namanya.
Sekretaris: "Saudara Mamat, silakan masuk. Ibu Dewi sudah
menunggu."
Mamat: (Berdiri sambil menepuk kantong celananya) "Siap, Mbak.
Doakan saya langsung jadi komisaris ya."
Mamat melangkah masuk ke ruangan ber-AC yang sangat dingin. Di balik meja
besar, duduklah Bu Dewi, Manajer HRD senior yang penampilannya sangat elegan,
tatapannya tajam menembus jiwa, dan kacamata bertengger di ujung hidungnya.
Bu Dewi: "Selamat pagi, Mamat. Silakan duduk."
Mamat: "Selamat pagi, Ibu Dewi yang auranya sangat...
memikat." (Mamat mencoba mempraktikkan ilmu 'tatapan penunduk' dari
pamannya dengan cara melotot tanpa berkedip).
Bu Dewi: (Mengernyitkan dahi) "Mamat? Mata kamu kenapa?
Kelilipan debu AC atau sedang mengalami gangguan saraf ringan?"
Mamat: (Langsung berkedip panik) "Eh, enggak, Bu! Ini... ini
tatapan penuh integritas dan visi masa depan, Bu!"
Babak 2: Kelemahan Terbesar yang Terlalu Jujur
Bu Dewi mulai membuka berkas CV milik Mamat. Beliau membolak-balik kertas
tersebut sambil sesekali mengetuk-ngetukan pulpennya ke meja. Detak jantung
Mamat mulai berirama dangdut koplo.
Bu Dewi: "Baik, Mamat. Di CV kamu tertulis kamu lulusan
Administrasi. Coba ceritakan, apa kelebihan terbesar yang kamu miliki?"
Mamat: "Kelebihan saya adalah saya sangat adaptif, Bu. Saya bisa
tidur di mana saja, dalam kondisi apa saja, bahkan di atas motor yang sedang
berjalan."
Bu Dewi: (Menatap Mamat datar) "Kita mencari staf kantor, Mamat,
bukan pemain sirkus jalanan. Lalu, apa kelemahan terbesar kamu?"
Mamat teringat tips dari artikel internet yang dia baca semalam: "Ubah
kelemahanmu menjadi sesuatu yang terdengar positif."
Mamat: "Kelemahan saya... saya ini orangnya terlalu
perfeksionis, Bu. Kalau melihat pekerjaan yang belum selesai, dada saya sesak.
Dan satu lagi, saya kalau bekerja sering lupa waktu."
Bu Dewi: "Oh ya? Bagus dong."
Mamat: "Iya, Bu. Kemarin waktu magang, saya saking asyiknya main
game di komputer kantor sampai lupa kalau jam kerja sudah selesai tiga
jam yang lalu."
Bu Dewi: (Menarik napas dalam-dalam) "Mamat, itu bukan
perfeksionis. Itu namanya melalaikan tugas sambil menikmati fasilitas Wi-Fi
kantor."
Babak 3: Bencana Daun Sirih dan Garif
Memasuki sesi krusial, Bu Dewi memberikan satu pertanyaan klasik yang biasa
menentukan nasib seorang pelamar.
Bu Dewi: "Pertanyaan terakhir. Kenapa perusahaan kami harus
menerima kamu dibandingkan pelamar lainnya?"
Mamat merasa ini adalah saat yang tepat untuk mengeksekusi "jalur
langit"-nya. Sembari memikirkan jawaban, tangan kanannya masuk ke dalam
saku celana untuk meraba daun sirih pembawa keberuntungan. Namun, karena
tangannya berkeringat deras akibat gugup, bungkusan garam di saku kirinya
robek, dan entah bagaimana, saat dia menarik tangannya dengan tergesa-gesa,
segenggam garam justru ikut keluar dan berhamburan tepat di atas meja kerja Bu
Dewi.
Sreeett... pyarr! Garam dapur itu sukses mendarat di atas tumpukan
dokumen penting Bu Dewi.
Suasana ruangan mendadak hening. Senyap seketika seperti kuburan di tengah
malam.
Bu Dewi: (Menatap butiran garam di mejanya, lalu menatap Mamat)
"Mamat... kamu sedang mencoba mengusir roh halus dari ruangan saya, atau
kamu berniat mengajak saya bikin ikan asin di sini?"
Mamat: (Pucat pasi, refleks mengeluarkan daun sirih dari saku
satunya) "Bukan, Bu! Ini... ini... aduh! Ini sebenarnya media terapi
psikologi, Bu! Garam ini melambangkan asinnya perjuangan hidup, dan daun sirih
ini..." (Mamat nekat mengunyah daun sirih itu di depan Bu Dewi)
"...adalah simbol bahwa saya siap menyerap semua ilmu di perusahaan
ini!"
Bu Dewi: (Terperangah melihat Mamat mengunyah daun dengan panik)
"Mamat, stop! Tolong jangan ditelan! Saya takut perusahaan kita dituntut
karena membiarkan pelamar keracunan di ruang interview."
Bu Dewi langsung menekan tombol interkom di mejanya.
Bu Dewi: "Susi, tolong bawa tisu, sapu kecil, dan... tolong
ambilkan segelas air putih untuk kandidat kita yang baru saja sarapan daun di
dalam ruangan saya."
Mamat akhirnya keluar dari ruang wawancara dengan mulut yang terasa sepat
aroma sirih, saku celana yang asin, dan kepastian 100% bahwa namanya akan masuk
ke dalam daftar hitam permanen perusahaan tersebut.
Aduh, Mamat, Mamat! Makanya kalau mau interview kerja, yang
dipersiapkan itu materi presentasi dan portofolio, bukannya bumbu dapur dan
dedaunan!
Nah, bagaimana dengan para pembaca setia CERCU? Apakah kalian punya
pengalaman yang tidak kalah ajaib dan memalukan saat menghadiri interview
kerja atau ujian lisan? Pernahkah kalian salah menjawab pertanyaan HRD karena
saking gugupnya?
Yuk, tuliskan cerita kocak versi kalian di kolom komentar di bawah ini!
Mari kita saling menghibur dan berbagi tawa di CERCU!