Konspirasi Langit Biru dan Jebakan Kata 'Kenapa' yang Bikin Sang Ayah
Pasrah
Pernahkah Anda terjebak dalam sebuah interogasi tanpa
akhir? Sebuah interogasi yang tidak membutuhkan ruang gelap, lampu sorot yang
menyala di wajah Anda, atau detektif kekar berwajah galak. Interogasi ini jauh
lebih mengerikan karena pelakunya adalah seorang bocah berusia lima tahun yang
membawa senjata paling mematikan di dunia: kata "Kenapa?".
Hari Minggu itu seharusnya menjadi hari yang damai bagi Pak Hendra. Rencananya sangat
sederhana dan mulia: duduk di teras rumah, menyeruput kopi hitam hangat, dan
menikmati semilir angin sore. Namun, kedamaian itu hancur berantakan ketika
anak perempuannya yang bermata bulat, Kiko (5 tahun), datang mendekat sambil membawa
boneka beruangnya.
Kiko duduk di sebelah Pak Hendra, menopang dagunya
dengan kedua tangan mungilnya, lalu menengadah ke langit.
"Ayah... kenapa langit warnanya biru?" tanya
Kiko memulai serangan fajar.
Pak Hendra tersenyum. Sebagai seorang ayah yang
berpendidikan, dia merasa ini adalah momen emas untuk memberikan edukasi sci-fi
yang berbobot.
"Oh, itu karena sinar matahari menabrak atmosfer bumi,
Kiko. Cahaya biru itu punya gelombang yang lebih pendek, jadi dia tersebar ke
segala arah oleh gas-gas di udara. Namanya hamburan Rayleigh," jelas Pak
Hendra dengan bangga, merasa dirinya mirip profesor di film dokumenter.
Kiko berkedip dua kali. "Kenapa?"
Pak Hendra berdeham. "Ya... karena memang begitu
sifat alami cahaya, Sayang."
"Kenapa?"
"Karena Tuhan menciptakan cahayanya begitu supaya
dunia kita kelihatan indah."
"Kenapa?"
Pak Hendra mulai menelan ludah. Kopinya yang tadi
terasa manis mendadak agak hambar. "Ya... kalau warnanya hitam terus,
nanti kita sangka sudah malam terus dong? Kan repot."
"Kenapa?"
Fase Mulai Kehilangan Akal Sehat
Pak Hendra menarik napas dalam-dalam. Dia tahu,
menjawab pertanyaan anak kecil itu seperti masuk ke dalam labirin tanpa jalan
keluar. Sekali Anda menjawab, satu kata "Kenapa" baru sudah siap
meluncur dari bibir mungil yang tak berdosa itu.
Ayah:
"Kiko, kalau malam terus, nanti kita tidak bisa lihat matahari. Matahari
itu penting buat tumbuhan."
Kiko:
"Kenapa tumbuhan butuh matahari, Ayah?"
Ayah:
"Buat masak makanan, namanya fotosintesis. Jadi tumbuhannya bisa tumbuh
besar."
Kiko:
"Kenapa tumbuhannya mau tumbuh besar?"
Ayah:
"Supaya bisa menghasilkan buah dan oksigen buat kita makan dan napas,
Kiko."
Kiko: "Kenapa
kita harus makan dan napas?"
Ayah:
"Ya biar kita hidup, Sayangku... buah hatiku..." (Pak Hendra mulai
memasang senyum dipaksakan, otot pipinya mulai kedutan).
Kiko:
"Kenapa kita harus hidup?"
DEG.
Pak Hendra terdiam. Pertanyaan anak TK ini mendadak
berubah menjadi debat filsafat tingkat tinggi setara pemikiran Aristoteles atau
Nietzsche. Kenapa kita harus hidup? Pak Hendra bahkan belum menemukan jawaban
itu untuk dirinya sendiri di usia tiga puluh lima tahun ini!
Bantuan yang Justru Memperkeruh Suasana
Melihat suaminya mulai mematung dengan tatapan kosong
menatap cangkir kopi, Bu Sarah
(Ibu) keluar dari dalam rumah sambil membawa piring berisi pisang goreng.
Ibu:
"Ada apa sih ini? Ayah kok mukanya kayak orang habis ditagih
paylater?"
Ayah:
"Bun, tolongin Ayah. Anak kamu nih. Dia lagi mode 'Kenapa auto-repeat'.
Ayah sudah sampai di fase mempertanyakan eksistensi kehidupan manusia di
bumi."
Ibu:
(Tertawa) "Halah, tinggal dijawab gitu aja kok repot. Sini, biar Ibu yang
jawab. Kiko, mau nanya apa sama Ibu?"
Kiko menoleh ke arah Ibunya, matanya langsung tertuju
pada piring di tangan Bu Sarah.
Kiko:
"Ibu, kenapa pisang goreng warnanya kuning?"
Ibu:
"Karena digoreng pakai tepung, Kiko. Kalau warnanya ungu, itu namanya ubi
jalar, bukan pisang."
Kiko:
"Kenapa digorengnya pakai tepung?"
Ibu:
"Supaya kriuk-kriuk dan enak pas dimakan."
Kiko:
"Kenapa harus kriuk-kriuk?"
Ibu:
"Ya biar seru pas digigit di mulut."
Kiko:
"Kenapa harus seru?"
Bu Sarah terdiam sejenak. Dia melirik Pak Hendra yang
sekarang sedang tersenyum penuh kemenangan di sudut teras. Rasakan itu, Sarah! batin Pak
Hendra puas.
Ibu:
"Maksud Ibu, biar teksturnya bagus, Kiko."
Kiko:
"Kenapa?"
Ibu:
"Karena kalau lembek nanti kayak bubur bayi!" (Suara Bu Sarah mulai
naik setengah oktav).
Kiko:
"Kenapa bubur bayi lembek?"
Ibu:
"KARENA BAYI BELUM PUNYA GIGI, KIKO!"
Kiko:
"Kenapa bayi belum punya gigi?"
Bu Sarah langsung meletakkan piring pisang goreng
dengan bantingan pelan, lalu berbalik arah. "Ayah, Ibu mau angkat jemuran
dulu. Jemurannya panggil-panggil Ibu," kilap Bu Sarah sambil ngacir masuk
ke dalam rumah dengan kecepatan cahaya.
Senjata Makan Tuan
Kini Pak Hendra kembali sendirian menghadapi sang
interogator cilik. Kiko kembali menatap Ayahnya dengan tatapan murni tanpa
dosa, seolah-olah tidak baru saja membuat Ibunya frustrasi.
Ayah:
"Kiko... kamu tidak capek nanya 'kenapa' terus?"
Kiko:
"Kenapa?"
Pak Hendra memijat pelipisnya yang mulai
berdenyut-denyut. Dia harus memutar otak. Dia harus memotong rantai lingkaran
setan ini dengan taktik psikologi terbalik.
Ayah:
"Kiko, tahu tidak? Setiap kali Kiko bilang kata 'kenapa', di suatu tempat
di dunia ini, ada satu peri kecil yang kehilangan sayapnya." (Pak Hendra
mengarang bebas dengan wajah seserius mungkin).
Kiko tampak terkejut. Dia menutup mulutnya dengan kedua
tangan. "Hah? Benaran, Ayah?"
Ayah:
"Iya, benar. Kasihan kan perinya jadi tidak bisa terbang?"
Pak Hendra tersenyum puas di dalam hati. Yes! Berhasil! Pikirnya.
Keheningan yang damai akhirnya kembali tercipta selama hampir dua menit penuh.
Pak Hendra kembali menyeruput kopinya yang sudah mendingin dengan perasaan
menang.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sementara. Kiko
tampak berpikir keras, dahinya berkerut, sebelum akhirnya dia mendongak lagi
menatap Pak Hendra.
Kiko:
"Ayah..."
Ayah:
"Ya, Sayang?"
Kiko:
"Kenapa perinya bisa kehilangan sayap kalau Kiko nanya 'kenapa'?"
Pruuutt!!
Pak Hendra menyemburkan kopinya ke udara bebas. Sistem
pertahanan mentalnya runtuh total. Tidak ada gunanya melawan logika anak kecil.
Akhirnya, Pak Hendra memilih jalan pintas terbaik yang biasa diambil oleh para
orang tua yang sudah pasrah.
Ayah:
"Kiko... lihat tuh di depan rumah ada tukang es krim lewat! Mau es
krim?"
Kiko:
"MAUUU!"
Kiko langsung melompat gembira dan berlari ke pagar
rumah, melupakan sama sekali tentang peri, gigi bayi, fotosintesis, dan
konspirasi langit biru. Pak Hendra menghela napas lega, meskipun dompetnya
harus berkurang sepuluh ribu rupiah demi membeli kedamaian sementara.
Apakah Anda juga sering menghadapi fase 'interogasi
tiada akhir' seperti yang dialami Pak Hendra dan Bu Sarah? Apa pertanyaan
paling ajaib, paling filosofis, atau paling bikin garuk-garuk kepala yang
pernah dilontarkan oleh anak, keponakan, atau adik kecil Anda?
Yuk,
ceritakan pengalaman kocak Anda di kolom komentar di bawah! Siapa tahu kita
bisa bikin grup konsultasi orang tua korban kata 'Kenapa'!