Friday, July 17, 2026

Nenek Bilang WiFi Itu Harus Disiram! Gara-Gara Teknologi Modern, Satu Rumah Jadi Heboh

 

Nenek Bilang WiFi Itu Harus Disiram! Gara-Gara Teknologi Modern, Satu Rumah Jadi Heboh

Di keluarga kami, ada satu orang yang punya hubungan sangat unik dengan teknologi modern.

Orang itu adalah Nenek.

Bukan karena Nenek tidak pintar.

Justru sebaliknya.

Nenek sangat percaya diri menghadapi teknologi.

Masalahnya, teknologi sering kali tidak siap menghadapi Nenek.

Semuanya bermula ketika Ayah membelikan sebuah ponsel pintar untuk Nenek.

"Nek, ini HP baru."

Nenek menerimanya dengan bangga.

"Wah, bagus."

"Bisa video call."

"Bisa foto."

"Bisa internet."

Nenek mengangguk.

"Lalu, buat nelpon bisa?"

Kami semua diam.

"Iya, Nek. Itu fungsi utamanya."

"Oh, syukurlah."

 

Hari pertama menggunakan ponsel baru, Nenek mulai belajar.

"Nak..."

"Iya, Nek?"

"Kalau mau telepon, orangnya masuk ke mana?"

"Maksudnya?"

"Ini katanya video call."

"Iya."

"Nanti orangnya masuk ke HP?"

Saya hampir tersedak teh.

"Enggak, Nek."

"Oh, bagus."

"Kenapa?"

"Kalau masuk semua, rumah jadi sepi."

 

Masalah berikutnya adalah WhatsApp.

Saya mengajari Nenek.

"Nek, kalau mau kirim pesan, tekan ini."

"Oh."

"Kalau mau kirim foto, tekan ini."

"Oh."

Besok paginya saya membuka ponsel.

Ada empat puluh tiga pesan dari Nenek.

Isinya?

Stiker semua.

Saya menelepon.

"Nek..."

"Iya?"

"Nenek kirim apa?"

"Itu."

"Itu apa?"

"Kata kamu tadi tekan saja."

"Nenek tekan berapa kali?"

"Sampai gambar-gambarnya habis."

Saya tertawa.

Grup keluarga juga ikut heboh.

Paman mendapat tiga puluh stiker ayam.

Bibi mendapat dua puluh gambar bunga.

Ayah mendapat stiker kucing menangis.

Tidak ada yang tahu maksudnya.

Termasuk Nenek.

 

Suatu sore, WiFi di rumah mati.

Nenek bertanya,

"Nak..."

"Iya, Nek?"

"WiFi itu yang mana?"

"Itu, internet."

"Oh."

Lima menit kemudian Nenek datang lagi.

"Kok enggak tumbuh?"

Saya bingung.

"Maksudnya?"

"Katanya ada akar-akarnya."

"Akar apa?"

"Kan WiFi."

"Itu WiFi, Nek."

"Iya."

"Nenek kira tanaman."

Saya hampir jatuh dari kursi.

Lalu Nenek bertanya serius.

"Kalau begitu, enggak usah disiram ya?"

Saya mengangguk.

"Enggak usah."

Untung saya datang tepat waktu.

Kalau terlambat, modem bisa mandi.

 

Nenek juga punya kebiasaan aneh saat menonton video.

Suatu hari saya melihat Nenek berbicara dengan layar ponsel.

"Nek, lagi apa?"

"Ngobrol."

"Sama siapa?"

"Itu."

Saya melihat.

Ternyata video resep masakan.

"Nek, itu rekaman."

"Oh."

"Lalu kenapa ngomong?"

"Biar dia tahu kalau gulanya kurang."

Saya tidak bisa membantah.

Mungkin pembuat videonya juga butuh masukan.

 

Suatu hari Ayah mengajari Nenek menggunakan pencarian suara.

"Nek, tinggal ngomong."

"Oh."

"Coba."

Nenek mendekat ke HP.

"HALO!"

Saya kaget.

"Nek, enggak usah teriak."

"Dia jauh."

"Itu mikrofon."

"Oh."

Nenek mencoba lagi.

"Halo."

HP menjawab dengan suara mesin.

"Saya tidak mengerti."

Nenek tersinggung.

"Tuh kan. Dia enggak sopan."

 

Yang paling lucu adalah saat Nenek belajar belanja online.

"Nak..."

"Iya?"

"Kalau beli di sini, orangnya tahu rumah kita?"

"Tahu."

"Oh."

"Kenapa?"

"Kasihan dia."

"Lho?"

"Jauh-jauh datang antar barang."

Saya tertawa.

"Nanti ada kurir."

"Oh."

Besoknya kurir datang.

"Nenek, paket."

Nenek menerima paket itu.

"Lho, kamu yang jalan jauh?"

"Iya, Nek."

"Nih, makan pisang dulu."

Kurir itu tersenyum.

"Makasih, Nek."

Sejak hari itu, setiap kurir datang, pasti pulang membawa pisang.

 

Suatu malam, listrik mati.

Nenek melihat ponsel saya menyala.

"Kok bisa hidup?"

"Ada baterai."

"Oh."

Nenek berpikir.

"Lalu rumah kita enggak ada baterainya?"

Saya melihat Ayah.

Ayah menjawab santai.

"Ada."

"Di mana?"

"Di dompet."

Kami semua tertawa.

Ibu menambahkan,

"Itu pun tipis."

 

Pernah juga Nenek kehilangan ponsel.

Satu rumah panik.

"Nenek taruh di mana?"

"Lupa."

Kami mencari ke dapur.

Ke kamar.

Ke ruang tamu.

Tidak ada.

Saya bertanya,

"Nek, terakhir dipakai buat apa?"

"Buat telepon."

"Kepada siapa?"

"Kamu."

Saya melihat riwayat panggilan.

Benar.

Saya menelepon nomor Nenek.

Terdengar suara dering.

Kami semua mencari sumber suara.

Ternyata...

HP itu ada di saku baju yang sedang dipakai Nenek.

"Oh."

Kami tertawa.

Nenek ikut tertawa.

"Untung enggak hilang."

 

Suatu hari saya mengajari Nenek mengambil foto selfie.

"Nek, lihat kamera."

"Oh."

"Senyum."

Klik.

Saya menunjukkan hasilnya.

"Wah."

"Nenek suka?"

"Iya."

"Bagus kan?"

"Iya."

"Tapi..."

"Apa?"

"Orangnya siapa?"

"Itu Nenek."

Nenek kaget.

"Masa?"

"Iya."

"Oh... pantes mirip."

 

Puncak kekacauan terjadi minggu lalu.

Nenek melihat saya berbicara dengan asisten virtual di ponsel.

"Nyalakan musik."

Musik langsung menyala.

Nenek kagum.

"Wah."

"Nek mau coba?"

"Mau."

Nenek memegang ponsel.

"Tolong nyalakan lampu."

Ponsel diam.

Nenek mengulang.

"Tolong nyalakan lampu."

Tetap diam.

Nenek menatap saya.

"Kok enggak mau?"

"Itu cuma bisa musik, Nek."

"Oh."

Lalu Nenek berdiri.

Berjalan ke sakelar.

Menyalakan lampu sendiri.

Sambil berkata,

"Lebih cepat Nenek."

Saya tertawa.

Ayah ikut tertawa.

Ibu juga tertawa.

Dan kami semua harus mengakui...

Untuk urusan itu, Nenek memang menang.

 

Malam harinya saya duduk menemani Nenek di teras.

"Nek..."

"Iya?"

"Nenek enggak bingung sama teknologi sekarang?"

Nenek tersenyum.

"Bingung."

"Terus kenapa tetap mau belajar?"

"Karena kalian semua pakai itu."

Saya diam.

Nenek melanjutkan,

"Kalau Nenek enggak belajar, nanti susah ngobrol sama cucu-cucu."

Saya tersenyum.

"Tapi Nenek sering salah."

Nenek tertawa.

"Namanya juga belajar."

Benar juga.

Kadang kami tertawa saat Nenek mengira WiFi harus disiram, mengobrol dengan video resep, atau mengirim puluhan stiker tanpa alasan yang jelas.

Namun di balik semua kekonyolan itu, ada satu hal yang membuat seluruh keluarga bahagia.

Nenek tidak pernah takut mencoba hal baru.

Meskipun salah pencet.

Meskipun salah paham.

Meskipun pernah mencari HP yang ternyata ada di sakunya sendiri.

Karena bagi Nenek, teknologi modern bukan soal menjadi yang paling pintar.

Melainkan soal tetap dekat dengan anak dan cucu di zaman yang terus berubah.

Walaupun sampai hari ini, setiap kali WiFi mati, Nenek masih bertanya dengan wajah serius,

"Nak, yakin ini enggak perlu disiram?"

Kalau di keluarga Anda, apa momen paling lucu ketika kakek atau nenek mencoba menggunakan teknologi modern untuk pertama kalinya?