“BEL0K KANAN!” … “PUTAR BALIK!” … “LANJUT TERUS!” Ketika GPS dan Pengendara
Sama-Sama Tidak Tahu Jalan
Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan hidup
manusia. Salah satunya GPS. Dengan bantuan GPS, orang bisa menemukan jalan
menuju lokasi yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
Setidaknya, itu teorinya.
Dalam praktiknya, GPS kadang memiliki bakat tersembunyi
untuk membuat manusia mempertanyakan arah hidup, tujuan perjalanan, dan
sesekali kewarasan mereka sendiri.
Hal itulah yang dialami oleh Ardi, seorang pegawai
kantoran yang terkenal percaya penuh pada teknologi.
Kalau GPS menyuruh belok, dia belok.
Kalau GPS menyuruh lurus, dia lurus.
Kalau GPS menyuruh putar balik, dia putar balik.
Pokoknya, GPS bagi Ardi hampir setara dengan penasihat
spiritual.
Suatu Minggu pagi, Ardi mendapat undangan menghadiri
acara pernikahan temannya di sebuah desa yang belum pernah ia kunjungi.
Karena tidak hafal jalan, ia langsung mengandalkan
aplikasi navigasi di ponselnya.
Sebelum berangkat, istrinya sempat mengingatkan.
Istri: "Tanya orang kalau
ragu."
Ardi: "Tidak perlu."
Istri: "Yakin?"
Ardi: "GPS tidak pernah
salah."
Kalimat itu ternyata menjadi kesalahan pertama hari itu.
Perjalanan awal berlangsung lancar.
Suara GPS terdengar tenang dan meyakinkan.
GPS: "Dalam 300 meter, belok
kiri."
Ardi mengikuti.
GPS: "Lanjut lurus selama dua
kilometer."
Ardi mengikuti.
GPS: "Anda berada di jalur
tercepat."
Ardi tersenyum bangga.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, jalan mulai
menyempit.
Rumah-rumah semakin jarang.
Aspal berubah menjadi jalan berbatu.
Namun GPS masih terdengar percaya diri.
GPS: "Lanjutkan perjalanan."
Ardi: "Baik."
Beberapa menit kemudian ia mulai melihat sawah di kanan
kiri.
Lalu kebun.
Lalu pepohonan.
Lalu lebih banyak pepohonan.
Kemudian hanya pepohonan.
Ardi: "Ini masih benar?"
GPS: "Lanjutkan perjalanan."
Akhirnya Ardi bertemu seorang petani di pinggir jalan.
Ia membuka kaca mobil.
Ardi: "Pak, kalau ke Desa Suka
Maju lewat sini?"
Petani: "Bukan."
Ardi: "Bukan?"
Petani: "Jauh sekali."
Ardi langsung menatap ponselnya.
Ardi: "GPS, kita perlu
bicara."
Ia memutar kendaraan dan kembali ke jalan utama.
GPS langsung berbunyi.
GPS: "Putar balik jika
memungkinkan."
Ardi: "Barusan juga saya putar
balik!"
GPS: "Putar balik jika
memungkinkan."
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardi merasa sedang
berdebat dengan sebuah aplikasi.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya GPS menemukan
rute baru.
GPS: "Belok kanan."
Ardi belok kanan.
GPS: "Belok kiri."
Ardi belok kiri.
GPS: "Putar balik."
Ardi mengerem.
Ardi: "Barusan Anda menyuruh saya
belok ke sini!"
GPS: "Putar balik."
Ardi: "Kenapa?"
GPS: "Putar balik."
Ardi: "Penjelasanmu sangat
membantu."
Perjalanan berlanjut.
Namun situasi semakin aneh.
Di satu titik GPS menyuruhnya masuk ke sebuah gang yang
sangat sempit.
Sempit sekali.
Bahkan Ardi mulai curiga gang itu dibuat khusus untuk
ayam, bukan mobil.
Ardi: "Serius lewat sini?"
GPS: "Belok kiri."
Ardi: "Mobil saya lebih lebar dari
gangnya."
GPS: "Belok kiri."
Untung saja seorang warga melambaikan tangan.
Warga: "Mau ke mana, Pak?"
Ardi: "Ke Desa Suka Maju."
Warga: "Jangan masuk situ."
Ardi: "Kenapa?"
Warga: "Itu jalan ke kandang
kambing."
Ardi memandang GPS dengan rasa kecewa yang sulit
dijelaskan.
Ardi: "Kamu ingin saya menghadiri
pernikahan atau beternak kambing?"
GPS tidak menjawab.
Mungkin karena merasa tersinggung.
Setelah hampir satu jam tersesat, baterai ponselnya
mulai menipis.
Ponsel: 15%
Ardi: "Jangan sekarang."
GPS kembali berbicara.
GPS: "Dalam 100 meter, belok
kanan."
Ardi mengikuti.
Ternyata jalan itu berakhir di depan sungai kecil.
Tidak ada jembatan.
Tidak ada penyeberangan.
Tidak ada jalan.
Hanya air.
Ardi menatap layar ponsel.
Ardi: "Apa rencananya
sekarang?"
GPS: "Anda telah tiba di
tujuan."
Ardi hampir menjatuhkan ponselnya.
Ardi: "Tujuan siapa? Ikan?"
Untunglah saat itu ada seorang nelayan yang sedang duduk
di tepi sungai.
Ardi: "Pak, ini Desa Suka
Maju?"
Nelayan: "Bukan."
Ardi: "Lalu ini apa?"
Nelayan: "Sungai."
Ardi: "Terima kasih atas informasi
yang sangat akurat."
Nelayan tertawa.
Akhirnya Ardi memutuskan melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan sejak awal.
Ia bertanya kepada manusia.
Dari satu orang ke orang lain, ia akhirnya mendapatkan
arah yang benar.
Menariknya, setiap orang yang ia tanya memberikan
petunjuk yang lebih masuk akal daripada GPS.
Warga: "Lurus sampai masjid."
Warga lain: "Belok kiri di pohon
mangga."
Warga berikutnya: "Kalau ketemu
warung bakso, berarti sudah dekat."
Tidak ada yang menyuruhnya masuk ke kandang kambing.
Tidak ada yang mengarahkannya ke sungai.
Satu jam kemudian Ardi akhirnya tiba di lokasi
pernikahan.
Dengan pakaian kusut.
Rambut berantakan.
Dan ekspresi seseorang yang baru menyelesaikan ekspedisi
lintas benua.
Temannya langsung menyambut.
Teman: "Lama sekali."
Ardi: "Saya berkeliling mencari
makna kehidupan."
Teman: "Maksudnya?"
Ardi: "Saya mengikuti GPS."
Semua orang tertawa.
Saat makan siang di acara itu, pengalaman tersesat Ardi
menjadi bahan hiburan.
Bahkan ada yang bertanya.
Teman: "Kalau GPS menyuruh masuk
sawah, kamu ikut juga?"
Ardi: "Jangan beri ide baru."
Sejak hari itu, Ardi masih menggunakan GPS.
Namun sekarang ia tidak lagi mempercayainya secara
membabi buta.
Ia tetap melihat rambu jalan.
Ia tetap bertanya kepada warga.
Dan yang paling penting, ia menyadari bahwa teknologi
secanggih apa pun tetap bisa bingung.
Kadang bahkan lebih bingung daripada manusia yang
menggunakannya.
Kini setiap kali GPS memberikan instruksi yang aneh,
Ardi selalu tersenyum dan berkata:
"Tenang saja. Kita sama-sama tidak tahu
jalan."
Dan entah kenapa, kalimat itu terasa sangat menenangkan.
Nah, bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda mengikuti petunjuk GPS dengan
penuh keyakinan, tetapi malah berakhir di tempat yang sama sekali tidak sesuai
tujuan?