Konspirasi Jam Weker Berbulu: Ketika Ayam Tetangga Lebih Paham Waktu
ketimbang Bos Kantoran
Tokoh:
·
Roni (27 tahun): Seorang karyawan swasta,
penganut aliran "tidur lagi setelah pencet tombol snooze".
Musuh bebuyutan waktu pagi.
·
Pak RT Tejo (48 tahun): Tetangga sebelah
rumah Roni. Pemilik ayam jago ajaib, tipikal bapak-bapak yang jam 5 subuh sudah
rapi menyiram tanaman sambil mendengarkan radio.
·
Si Jabrik (Ayam Jago): Ayam milik Pak
Tejo yang tidak butuh baterai atau kuota internet untuk tahu kapan waktu subuh
tiba. (Digantikan suaranya dalam narasi dialog).
Bagi Roni, jam 04.30 subuh adalah waktu yang sangat sakral. Sakral karena
pada jam itulah ia biasanya berada di fase tidur paling nyenyak, memimpikan
naik haji bersama keluarga atau memenangkan lotre satu miliar rupiah. Namun,
kedamaian fana itu selalu hancur berantakan oleh satu suara lengkingan yang
meluncur konsisten dari arah halaman sebelah rumahnya.
"KUKKURUUUYUUUKKKKKKK!!!"
Suara itu melengking, bergetar dengan frekuensi tinggi, dan yang paling
menyebalkan: selalu berulang tepat setiap lima menit kalau Roni tidak kunjung
menyalakan lampu kamarnya.
Suatu pagi, dengan mata yang masih lengket seolah dilem menggunakan Aica
Aibon, Roni berjalan gontai keluar rumah. Di teras sebelah, tampak Pak Tejo
sedang santai menyeduh teh hangat, sementara di atas pagar pembatas bertengger
Si Jabrik—ayam jago berbulu merah hitam dengan dada membusung sombong.
"Pagi, Ron! Wah, tumben jam segini sudah segar. Biasanya jam 7 lewat
baru saya lihat kamu lari-lari ngejar angkot sambil kancingin kemeja,"
sapa Pak Tejo dengan senyum tanpa dosa.
Roni bersandar di tiang terasnya, menatap Si Jabrik dengan pandangan penuh
dendam. "Segar dari mana, Pak RT? Ini mata saya melek karena ayam Bapak
ini lho. Dia itu punya dendam kesumat apa ya sama saya? Jam weker di HP saya
saja kalah disiplin. HP saya kalau di-snooze tiga kali langsung
menyerah, lah ayam Bapak ini makin di-snooze pakai lemparan sandal,
suaranya makin pakai nada tinggi!"
Pak Tejo tertawa terbahak-bahak sampai tehnya sedikit tumpah. "Oalah, Ron.
Si Jabrik ini bukan dendam. Dia itu justru sedang menjalankan misi kemanusiaan.
Dia sadar kalau tetangganya ini tipe manusia yang kalau tidur mirip simulasi
orang meninggal."
"Tapi ya tidak jam 04.15 juga dong, Pak! Ini subuh saja belum azan, dia
sudah konser tunggal di atas pagar!" protes Roni sambil menunjuk Si
Jabrik. Ayam itu mendadak menoleh ke arah Roni, lalu mengeluarkan suara "Petook..."
pendek, seolah sedang mengejek kapasitas tidur Roni.
Ketegangan antara Roni dan Si Jabrik mencapai puncaknya pada hari Jumat.
Malam sebelumnya, Roni lembur menyelesaikan laporan keuangan kantor sampai jam
2 malam. Ia sudah memasang strategi: tidur estetik sampai jam 06.30 pagi, lalu
berangkat ke kantor menggunakan ojek online agar tidak telat absen.
Namun, konspirasi alam semesta berkata lain. Jam 04.15 tepat, Si Jabrik
sudah mengambil posisi start di atas pagar.
"KUKKURUUYUUUKKK!!!"
Roni membalikkan badannya, menutup telinga dengan bantal.
Lima menit kemudian: "KUKKURUUYUUUKKKKKK!!!" (Nandanya naik
satu oktav).
Roni mulai kesal. Ia bangkit dari kasur, membuka jendela kamar, dan
berteriak, "Woi Jabrik! Diam kamu! Saya potong jadi ayam geprek tahu rasa
kamu ya!"
Ayam itu sempat diam. Roni tersenyum puas dan kembali merebahkan diri. Tapi
tepat tiga menit kemudian, bukan suara berkokok biasa yang terdengar, melainkan
suara kepakan sayap yang disusul bunyi Breg! keras di atas genteng tepat
di atas kepala Roni. Lalu, Si Jabrik berkokok dengan volume maksimal, langsung
menyasar ke ventilasi kamar Roni.
"KUKKURUUUUYUUUUKKKKKK!!!!"
Roni melompat dari kasur karena terkejut. "Astaga! Ini ayam atau
tentara kopasus?! Paham betul celah taktis rumah saya!"
Karena sudah kepalang tanggung tidak bisa tidur lagi, Roni akhirnya mandi
dan bersiap-siap lebih awal. Jam 05.15 pagi, ia sudah rapi dengan kemeja
kerjanya. Ketika ia keluar rumah dengan wajah cemberut, ia melihat pemandangan
yang aneh di teras rumah Pak Tejo.
Si Jabrik sedang jalan berlenggang di halaman, sementara Pak Tejo... masih
mendengkur pulas di atas kursi malas terasnya dengan sarung menutupi muka dan
sisa kopi semalam yang dikerubuti semut.
Roni berjalan mendekati pagar pembatas, menatap Si Jabrik yang sedang asyik
mematuk-matuk tanah.
"Heh, Jabrik," bisik Roni. "Kamu sadar tidak, sih? Kamu itu
bangunin satu kampung jam 4 subuh, tapi bosmu sendiri jam segini masih pingsan
di kursi? Kamu ini sebenarnya peliharaan yang berbakti atau lagi bikin kudeta
di rumah sendiri?"
Si Jabrik berhenti mematuk. Ia menatap Roni dengan satu matanya yang bulat
kecil, lalu berjalan mendekati kursi malas Pak Tejo. Dengan gerakan yang sangat
presisi, ayam itu melompat ke atas perut Pak Tejo yang buncit, mengambil
ancang-ancang, lalu...
"KUKKURUUYUUUKKKKK!!!" tepat tiga senti di depan hidung Pak
Tejo.
"Copot-copot! Banjir! Kebakaran!" Pak Tejo latah dan langsung
terjungkal dari kursi malasnya, membuat sarungnya tersangkut di kepala.
Roni yang melihat kejadian itu langsung tertawa terpingkal-pingkal di balik
pagar sampai memegangi perutnya. "Hahaha! Rasakan itu, Pak RT! Makanya
punya ayam jangan terlalu diedukasi soal manajemen waktu!"
Pak Tejo membenarkan sarungnya dengan muka merah padam karena malu sekaligus
kaget. "Aduh, Jabrik! Kamu ini ya, bangunin orang tidak lihat-lihat
pangkat! Saya ini yang punya sertifikat kepemilikan kamu, malah diginiin!"
Si Jabrik dengan santainya melompat turun dari perut Pak Tejo, berjalan
pelan menuju tempat pakannya, seolah-olah baru saja menyelesaikan tugas harian
dari negara dengan sukses.
Roni menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memakai helm. "Ya sudah, Pak
RT. Saya berangkat kerja dulu. Terima kasih buat Si Jabrik, berkat dia hari ini
saya jadi karyawan pertama yang sampai di kantor, bahkan gerbang kantornya saja
belum dibuka sama satpam!"
Pertanyaan untuk Pembaca: Nah, bagaimana dengan lingkungan rumah
kalian sendiri? Apakah kalian punya tetangga yang memelihara "jam weker
berbulu" yang disiplinnya mengalahkan jam digital di HP kalian? Atau
jangan-jangan, kalian sendiri yang sering kena zonk dibangunin ayam tapi
pemiliknya masih ngorok sampai siang? Yuk, bagikan cerita subuh kalian yang
paling kocak di kolom komentar di bawah!