Darurat! Semua Orang Tiba-tiba Lulusan Harvard Versi Kolom Komentar
Peringatan: Artikel ini
mengandung kadar sarkasme tinggi. Jika Anda merasa tersindir, selamat — Anda
mungkin salah satu dari mereka. Tenang, ini zona aman untuk tertawa, bukan zona
perang opini.
Pembukaan ala CERCU:
Sobat
CERCU yang berbahagia, pernah nggak sih kalian lihat fenomena aneh di media
sosial? Tiba-tiba, saat ada berita tentang gempa bumi, munculah para pakar
geologi dadakan. Begitu ada isu politik, bermunculan para pakar hukum instan.
Begitu ada kabar artis selingkuh, langsung pada jadi pakar rumah tangga yang
belum pernah menikah.
Fenomena
ini disebut: "Sarjana Dadakan Medsos" — gelar yang
didapat secara cuma-cuma hanya dengan modal koneksi internet dan rasa percaya
diri setinggi langit. Mereka tidak pernah kuliah, tidak pernah pelatihan, tapi
komentarnya lebih panjang dari skripsi. Mereka tidak punya data, tidak punya
riset, tapi argumennya lebih kuat dari kopi tubruk pahit.
Mari
kita saksikan drama komedi tentang para "Pakar Medsos Sejati" ini.
Saksikan sambil pegang remote, jangan sampai kalian ikut-ikut jadi pakar juga.
Pemeran:
- Om Agus (45
tahun): Pakar
politik dadakan. Sumber informasinya cuma meme dan status WA. Paling suka
komen "BANGSA INI BUTUH PEMIMPIN TEGAS!" padahal besoknya lupa
siapa yang dia dukung.
- Tante Riri (42 tahun): Pakar
kesehatan ala-ala. Paling aktif pas ada berita pandemi atau bahaya micin.
Solusinya selalu "minum jahe hangat" untuk segala penyakit, dari
batuk sampai patah hati.
- Mas Joko (30
tahun): Pakar
finansial instagramable. Baru nabung Rp500 ribu sudah bikin konten
"TIPS KAYA DALAM 30 HARI". Padahal rumah masih ngontrak.
- Mbak Dina (26
tahun): Pakar
hubungan percintaan. Belum pernah pacaran lebih dari 3 bulan, tapi berani
kasih sambatan "RED FLAG" untuk setiap perilaku pasangan orang
lain.
- Si Udin (19 tahun): Pakar
teknologi dadakan. Baru bisa install ulang Windows, sudah berani kasih
tutorial "HACKING DENGAN HP" di TikTok.
Babak 1: Pagi Hari di Grup WA "Warga Juga Manusia"
Grup
WA kompleks perumahan. Suasana damai. Tiba-tiba Om Agus mengirimkan sebuah
artikel.
Om
Agus (mengetik
dengan penuh semangat): "WARGA! BACA INI! PEMERINTAH AKAN
MENAIKKAN PAJAK 500% BULAN DEPAN! BANGKIT! LAWAN!"
Tante
Riri (langsung
merespon): "Aduh, Pak Agus, jangan asal share. Baca isinya dulu.
Itu kan cuma wacana buat orang super kaya."
Om
Agus (ngotot): "Wacana
atau bukan, Tante! Kita harus waspada! Saya sudah baca analisis dari sumber
terpercaya!"
Mas
Joko (nyelip): "Sumber
terpercaya versi siapa, Om?"
Om
Agus: "Dari
statusnya Kang Mus, Ketua RT 03. Beliau kan mantan anggota partai."
Mbak
Dina (mulai
panas): "Mantan anggota partai yang nyalon tapi kalah terus itu,
Om?"
Om
Agus: "ITULAH
KORUPSI INFORMASI! JANGAN SERANG SUMBERNYA! SERANG ISINYA!"
Tante
Riri: "Om
Agus, isinya aja belum dibaca. Bapak tahu isinya dari mana?"
Om
Agus (diam
sebentar, lalu mengetik lagi): "DARI JUDULNYA, TANTE! JUDUL SUDAH
MENJELASKAN SEGALANYA!"
Si
Udin (masuk
dari grup sebelah): "Wah, Om Agus sekarang jadi pakar interpretasi
judul ya. Kapan buka les? Saya minat."
Om
Agus: "Kamu
jangan ikut campur, Udin! Kamu masih bocah! Ngurusin game saja!"
Si
Udin: "Saya
sudah 19 tahun, Om. Dan setidaknya saya baca isi berita sebelum
berkomentar."
Om
Agus (meninggalkan
grup sementara karena malu): "Baiklah, saya cabut dulu. Nanti
malam saya kembali dengan data yang lebih valid!"
Mas
Joko (ketawa): "Valid
versi mana lagi ya?"
Babak 2: Siang Hari, Live TikTok Si Udin
Si
Udin sedang live TikTok dengan judul "RAHASIA HACKING YANG TIDAK KAMU
KETAHUI". Penonton 47 orang, kebanyakan bot.
Si
Udin (penuh
percaya diri): "HALO BOSSKU! BALIK LAGI DENGAN UDIN, PAKAR ITU
SENDIRI! HARI INI GUE BAKAL KASIH TAU CARA HACK INSTAGRAM ORANG CUKUP DENGAN
HP!"
Komentar
masuk dari Mas Joko: "Udin,
lo yakin ini legal?"
Si
Udin: "Tenang,
Bang Joko. Yang namanya pakar teknologi, tahu batasan. Ini untuk edukasi! Kami
hanya tunjukkan bahwa keamanan itu penting."
Tante
Riri (nonton
dari HP sambil masak): "Udin, hati-hati. Nanti lo ditangkap."
Si
Udin: "Tante,
saya pakar. Saya tahu cara menghindari penangkapan."
Om
Agus (masuk
ke live): "Udin, ajarin dong cara hack rekening bank. Saya mau
test keamanan rekening saya."
Si
Udin: "Om
Agus, itu ilegal. Saya kan pakar teknologi, bukan pakar kriminal."
Om
Agus: "Ya
pakar kriminal juga butuh teknologi kan?"
Mbak
Dina: "Om
Agus jangan jadi beban, ya. Udin, lanjutkan."
Si
Udin (mulai
tutorial): "Oke, pertama buka aplikasi Phishing.com..."
Tiba-tiba
live-nya dihentikan oleh TikTok karena melanggar pedoman.
Si
Udin (panik): "Lho,
kok dihentikan? Padahal saya pakar!"
Mas
Joko (nge-chat): "Pakar
yang ketahuan melanggar aturan namanya pakar bodoh, Din."
Si
Udin (menutup
HP, malu): "Ya udah, kita bubar. Besok saya bikin konten yang
lebih aman. Cara mencuci tangan yang benar."
Tante
Riri: "Itu
sudah wilayah saya, Udin. Jangan ambil alih."
Babak 3: Sore Hari, Konten Mas Joko yang Gagal
Mas
Joko sedang syuting konten di rumahnya yang sempit. Judul konten: "10
TINDAKAN HEMAT YANG AKAN MEMBUAT ANDA KAYA RAYA".
Mas
Joko (berbicara
ke kamera HP yang disangga pakai tumpukan buku): "Halo, Sobat
Finansial! Hari ini saya akan bagikan tips sederhana: berhenti beli kopi di
kafe. Jika Anda berhenti beli kopi seharga Rp30 ribu sehari, dalam 10 tahun
Anda akan hemat Rp109 juta! LUMAYAN!"
Mbak
Dina (nonton
sambil kirim pesan suara): "Joko, terus kopinya diminum apa?"
Mas
Joko: "Minum
air putih, Dina. Gratis."
Mbak
Dina: "Terus
kafe tempat saya nongkrong sama pacar? Tutup?"
Mas
Joko: "Temani
pacar Anda di rumah. Lebih romantis."
Mbak
Dina: "Mas
Joko, saya tahu Anda belum punya pacar. Tapi jangan asal saran."
Mas
Joko (tersinggung): "Saya
pakar finansial, Dina. Bukan pakar asmara. Saran saya berdasarkan ilmu."
Om
Agus (komentar
di kolom YouTube): "Tips macam apa ini? Udah saya praktikkan 5
tahun, bukannya kaya, malah makin miskin. Padahal saya nggak pernah beli
kopi."
Mas
Joko: "Om
Agus, mungkin ada pengeluaran lain yang lebih besar. Rokok misalnya."
Om
Agus: "Saya
nggak merokok."
Mas
Joko: "Jajan?"
Om
Agus: "Jajan
di warteg abang seberang. Sehari cuma Rp25 ribu."
Mas
Joko: "Nah
itu. Jika Om berhenti jajan di warteg, dalam 10 tahun bisa hemat..."
Om
Agus: "Saya
mati kelaparan, Joko. Terima kasih sarannya."
Babak 4: Malam Hari, Drama Hubungan ala Mbak Dina
Mbak
Dina sedang asyik membuat thread di Twitter/X. Judul thread: "THREAD:
TANDA-TANDA PASANGAN ANDA RED FLAG (WAJIB BACA BUAT YANG MAU NIKAH)".
Mbak
Dina (ngetik
dengan penuh penghayatan): "1. Kalau pasangan Anda nggak pernah
membalas chat dengan cepat, itu RED FLAG! Artinya dia nggak respect dengan
waktu Anda."
Tante
Riri (membaca
sambil geleng-geleng kepala): "Dina, mungkin dia lagi kerja atau
lagi nyetir."
Mbak
Dina: "Tante,
itu alasan klasik. Orang yang benar-benar mencintai akan selalu punya
waktu."
Om
Agus: "Dina,
saya setuju! Istri saya dulu kalau nggak dibales chat, langsung datang ke
kantor. Itu baru namanya cinta."
Tante
Riri: "Om
Agus, itu namanya posesif."
Om
Agus: "Beda
tipis, Tante. Beda tipis."
Mbak
Dina (lanjut
ngetik): *"2. Kalau pasangan Anda nggak suka sama teman-teman Anda,
HATI-HATI! Itu tanda dia ingin mengisolasi Anda dari lingkungan."*
Mas
Joko: "Atau
mungkin teman-teman Anda memang rese?"
Mbak
Dina: "Mas
Joko, tolong jangan membela pihak yang salah."
Mas
Joko: "Saya
tidak membela siapa-siapa. Tapi logikanya, jika semua pasangan dari semua orang
adalah RED FLAG, mungkin masalahnya bukan di pasangan, tapi di standar
Anda."
Mbak
Dina (mulai
kesal): "Mas Joko, ini thread serius. Saya sudah membaca buku 'Why
Men Love Bitches' dan 'The Five Love Languages'. Saya tahu apa yang saya
bicarakan."
Si
Udin (nyelip): "Mbak
Dina, kan Mbak belum pernah punya pacar yang lebih dari 3 bulan?"
Mbak
Dina: "TIDAK
ADA HUBUNGANNYA, UDIN! MENJADI PAKAR ASMARA TIDAK PERLU PUNYA PACAR! SAMA
SEPERTI PAKAR KULINER TIDAK PERLU BISA MASAK!"
Tante
Riri: "Eh,
pakar kuliner pasti bisa masak, Dina."
Mbak
Dina: "TIDAK
SELALU, TANTE!"
Thread
pun menjadi ramai perdebatan. Mbak Dina akhirnya memblokir Mas Joko dan Si Udin
karena dianggap "tidak mendukung kesehatan hubungan".
Mas
Joko (menghela
napas): "Yah, diblokir padahal kita bertetangga."
Si
Udin: "Tenang,
Bang. Besok kita ketemu di warung. Nggak bisa di-block di dunia nyata."
Babak 5: Esok Pagi, Para Pakar Berkumpul di Warung
Warung
kopi "Sumber Gosip". Om Agus, Tante Riri, Mas Joko, Mbak Dina, dan Si
Udin duduk dalam satu meja. Suasana canggung.
Om
Agus (memecah
keheningan): "Jadi... kemarin kita semua pernah jadi pakar dadakan
ya?"
Tante
Riri (tertawa
kecil): "Saya sih dari dulu pakar kesehatan. Tapi jujur, saya
nggak punya latar belakang medis. Saya cuma suka baca artikel dari
Google."
Mas
Joko: "Saya
juga. Konten finansial saya sering dapat kritik. Tapi ya gitu deh, namanya juga
cari cuan."
Mbak
Dina (malu-malu): "Saya...
saya juga sadar. Mungkin standar saya terlalu tinggi. Atau mungkin saya terlalu
banyak baca teori tanpa praktik."
Si
Udin: "Saya
besok mau hapus konten hacking. Ganti ke konten masak. Itu lebih aman."
Tante
Riri: "Wah,
Udin, jangan ambil alih lagi. Nanti kamu jadi pakar dadakan yang kedua
kalinya."
Mereka
semua tertawa. Termasuk Om Agus.
Om
Agus (mengangkat
gelas kopi): "Baiklah, saya berjanji. Mulai hari ini, saya tidak
akan share berita tanpa baca isi. Saya tidak akan jadi pakar politik dadakan.
Saya hanya akan jadi pakar... nongkrong."
Mas
Joko: "Itu
pakar yang paling jujur, Om. Selamat datang di klub."
Penutup dari CERCU:
Sobat
CERCU, fenomena "pakar dadakan medsos" ini sebenarnya cerminan dari
zaman kita yang supercepat. Setiap orang ingin terlihat pintar, ingin terlihat
update, ingin terlihat berwibawa. Tapi sayangnya, menjadi pakar butuh
proses. Butuh belajar, butuh pengalaman, butuh data, butuh kegagalan. Tidak
cukup hanya dengan modal percaya diri dan keyboard.
Media
sosial memang memberi kita panggung. Tapi panggung juga memberi kita tanggung
jawab. Jangan sampai kita menjadi "pakar yang merusak" —
memberi saran yang membahayakan, menyebarkan informasi yang salah, dan
menciptakan kepanikan yang tidak perlu.
Jadilah
pengguna medsos yang cerdas. Boleh beropini, boleh bersuara. Tapi jangan lupa
untuk mengakui bahwa kita tidak selalu benar. Dan yang paling
penting: jangan pernah malu untuk mengatakan "Saya tidak
tahu" — karena itu tanda kebijaksanaan, bukan kebodohan.
Pertanyaan dari CERCU buat kalian:
Nah,
sekarang giliran kalian cerita, Sobat CERCU. Menurut kalian, tipe "pakar
dadakan" mana yang paling sering kalian temui di medsos? Apakah pakar
politik yang sumbernya WA, pakar kesehatan yang solusinya selalu jahe, pakar
finansial yang masih ngontrak, pakar hubungan yang belum pernah pacaran, atau
pakar teknologi yang tutorialnya bikin error? Atau mungkin kalian sendiri
pernah tidak sengaja menjadi salah satu dari mereka? Share pengalaman paling
absurd kalian di kolom komentar ya!
Dan
jangan lupa: sebelum kalian berkomentar di kolom komentar, ingatlah bahwa Anda
sedang membaca artikel tentang orang yang suka berkomentar tanpa ilmu. Jadi,
pastikan komentar Anda... berbasis ilmu. Atau setidaknya berbasis baca artikel
ini sampai selesai. Bukan cuma judulnya aja. 😂
Tetap
rendah hati, Sobat CERCU. Menjadi orang biasa yang jujur itu lebih mulia
daripada menjadi pakar dadakan yang sok tahu. Sampai jumpa di cerita lucu
berikutnya!
CERCU
– Tertawa Itu Gratis, Ilmu Itu Mahal. Tapi Tertawa Sambil Belajar Itu Asyik. 😁