Konspirasi Pedal Gas dan Pohon Pisang: Mengapa Instruktur Setir Mobil Layak
Mendapat Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Ada satu fase dalam hidup orang dewasa yang tingkat
ketegangannya setara dengan maju ke meja sidang skripsi tanpa membawa revisi.
Fase itu bernama: belajar nyetir
mobil manual.
Bagi Dika,
seorang pemuda yang biasanya cuma mahir mengendalikan karakter game balap di
ponsel, memegang setir mobil sungguhan adalah sebuah tanggung jawab moral yang
teramat berat. Apalagi, dunia luar penuh dengan rintangan tak terduga:
emak-emak lampu sen kiri belok kanan, ayam menyeberang sembarangan, dan yang
paling mengerikan... pedal kopling yang sensitifnya melebihi hati perempuan
yang lagi PMS.
Hari itu adalah latihan ketiga Dika. Dia ditemani oleh Pak Bambang, seorang instruktur
setir mobil profesional yang wajahnya sudah keriput, bukan karena usia,
melainkan karena terlalu sering menahan jantungan selama mengajar
murid-muridnya.
Babak 1: Ujian Mental di Tanjakan Maut
Mobil latihan berwarna putih dengan tulisan mencolok "BELAJAR NYETIR" di
kaca belakang itu berhenti tepat di sebuah tanjakan kecil. Di belakang mereka,
sebuah angkot sudah mulai membunyikan klakson dengan tidak sabar.
TIIIT!
TIIIT!
Dika:
(Tangan gemetar, keringat membasahi dahi) “Pak... Pak Bambang, ini angkot di
belakang klaksonnya intimasi banget, Pak. Saya jadi grogi. Gimana ini kalau
mundur?”
Pak
Bambang: (Sambil memegang pegangan di langit-langit mobil dengan erat)
“Tenang, Dika. Tarik napas, buang. Jangan dengerin klakson angkot, anggap aja
itu suara terompet tahun baru. Sekarang, kaki kiri di kopling, kaki kanan
standby di gas. Angkat koplingnya pelan-pelan sampai mobilnya getar.”
Dika:
“Mobilnya udah getar, Pak!”
Pak
Bambang: “Itu bukan mobilnya yang getar, Dika. Itu kaki kamu yang tremor
kayak kena gempa bumi! Ayo, fokus. Angkat dikit lagi... terus lepas rem
tangan!”
Dika panik. Bukannya menginjak gas pelan-pelan, kaki
kanannya justru menghentak pedal gas sedalam-dalamnya karena terkejut mendengar
suara klakson angkot yang makin brutal.
BRRRUMMMM!!!
Mesin mobil meraung keras seperti singa kelaparan, tapi
mobilnya tetap tidak bergerak maju, melainkan malah mati mendadak dengan
guncangan hebat. JEGUG!
Kepala Pak Bambang sukses membentur dasbor.
Pak
Bambang: (Sambil mengelus jidat) “Aduh... Dika, kamu mau belajar nyetir
atau mau ngajak saya sowan ke malaikat maut? Koplingnya jangan dilepas
sekaligus, Jaka Sembung!”
Dika:
“Maaf, Pak! Tadi kaki saya mendadak punya pikiran sendiri!”
Babak 2: Tragedi Pohon Pisang dan Insting Bertahan
Hidup
Setelah berhasil melewati drama tanjakan berkat bantuan
kaki sakti Pak Bambang yang menginjak pedal rem darurat di sisi penumpang,
mereka masuk ke area jalan perkampungan yang agak sepi. Dika mulai merasa di
atas angin. Dia menaikkan gigi ke posisi dua.
Dika:
(Sambil senyum-senyum sok keren) “Wah, ternyata gampang ya, Pak, kalau udah
jalan begini. Saya berasa kayak Vin Diesel di film Fast & Furious.”
Pak
Bambang: “Jangan sombong dulu, Vin Diesel dari Depok. Itu di depan ada
tikungan tajam, kurangi kecepatan. Injek kopling, oper ke gigi satu!”
Nahas, di tikungan tersebut, mendadak muncul seekor
kucing hitam yang berjalan dengan santai tanpa beban hidup. Dika yang kaget
langsung kehilangan kendali atas koordinasi otak dan anggotanya badannya.
Dika:
“Aaaaa! Pak, ada kucing, Pak! Remnya yang mana, Pak?! Kiri apa kanan?!”
Pak
Bambang: “KANAN, DIKA! KANAAAAN!”
Karena panik tingkat dewa, Dika malah menginjak pedal
gas dalam-dalam sambil membanting setir ke arah kiri, lurus menuju pekarangan
rumah warga.
SREEEET...
BRAAAK!
Mobil latihan itu sukses menyeruduk sebuah pohon pisang
hingga tumbang dengan estetik di atas kap mesin. Untungnya, kecepatan mobil
tidak terlalu tinggi karena terganjal pembatas jalan kecil. Suasana mendadak
hening. Hanya terdengar suara wiper mobil yang mendadak menyala sendiri,
menyapu daun pisang yang menempel di kaca depan.
Babak 3: Ganti Rugi dan Sertifikat Kelulusan Darurat
Dari dalam rumah, keluarlah Mbah Suro, pemilik pekarangan, sambil membawa sebilah
parang (yang untungnya cuma buat memotong rumput). Dika sudah pasrah, siap
berpura-pura pingsan agar tidak dimarahi.
Mbah Suro:
(Menghampiri mobil) “Heh! Sopo iku sing nabrak pohon gedangku?!”
Pak Bambang dengan sigap turun dari mobil, memasang
wajah paling ramah dan penuh penyesalan sedunia.
Pak
Bambang: “Mbah, maaf sekali, Mbah. Ini murid saya lagi simulasi menghadapi
rintangan alam. Berapa ganti ruginya, Mbah?”
Mbah Suro:
(Melihat kondisi pohon pisangnya yang mengenaskan, lalu melihat ke arah Dika
yang pucat pasi di dalam mobil) “Yowis, selisihnya lima puluh ribu aja buat
beli bibit baru. Tapi tolong ya, Mas yang nyetir, besok-besok kalau latihan
lagi, rumah saya dipasang benteng beton aja sekalian!”
Setelah urusan ganti rugi selesai dan pohon pisang
dievakuasi dari kap mesin, Pak Bambang kembali masuk ke dalam mobil. Dia
menatap Dika dengan pandangan yang sangat dalam, penuh kelelahan spiritual.
Pak
Bambang: (Mengeluarkan selembar kertas dari tasnya) “Dika, ini sertifikat
kelulusan kamu dari kursus menyetir ini.”
Dika:
(Bengong) “Lho? Padahal saya baru latihan tiga kali, Pak? Dan barusan saya baru
aja numbangin pohon pisang orang?”
Pak
Bambang: “Kondisi jantung saya sudah tidak sanggup menemani kamu sampai
latihan ketujuh, Dika. Saya luluskan kamu sekarang demi keselamatan umat
manusia dan kelestarian flora di kota ini. Saran saya, setelah ini kamu beli
mobil mainan yang pakai aki aja, ya?”
Dika hanya bisa tersenyum kecut sambil memandangi
sertifikatnya, merenungkan fakta bahwa bakat aslinya mungkin memang bukan di
jalan raya, melainkan di jalur angkutan umum sebagai penumpang setia.
Bagaimana, Pembaca CERCU? Apakah Anda juga punya memori
yang bikin jantungan—atau malah bikin malu tujuh turunan—saat pertama kali
belajar mengemudikan kendaraan? Objek tidak bersalah apa yang pernah jadi
korban tabrakan pertama Anda? Pohon pisang, tiang listrik, atau pagar rumah
tetangga?
Yuk,
ceritakan pengalaman kocak dan mendebarkan kalian saat belajar nyetir di kolom
komentar! Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman kalian yang sampai sekarang
kalau nyetir masih suka gemeteran!