SEMUA ORANG LANGSUNG MENOLEH! Gara-Gara Satu Nama yang Salah, Acara Resmi Ini Nyaris Berubah Jadi Pertunjukan Komedi
Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang gugup saat menghadiri acara
resmi. Salah duduk, salah kostum, atau salah membawa map. Namun bagi Fadli,
mimpi buruk terbesarnya datang dalam bentuk yang jauh lebih sederhana:
Salah memanggil nama orang.
Dan yang lebih parah, kejadian itu terjadi di depan ratusan peserta yang
hadir dalam sebuah seminar resmi.
Fadli adalah seorang pegawai muda yang baru pertama kali dipercaya menjadi
pembawa acara dalam seminar tingkat kabupaten.
Selama seminggu penuh ia berlatih.
Ia berlatih intonasi.
Ia berlatih senyum.
Ia bahkan berlatih cara berdiri agar terlihat profesional.
Malam sebelum acara, ia berdiri di depan cermin sambil memegang sisir
sebagai mikrofon.
Fadli: "Yang terhormat Bapak Dr. Ahmad..."
Ia mengangguk puas.
Fadli: "Sempurna."
Sayangnya, hidup sering kali tidak menghargai latihan yang terlalu percaya
diri.
Hari acara tiba.
Aula sudah penuh.
Pejabat daerah hadir.
Dosen hadir.
Guru hadir.
Mahasiswa hadir.
Pokoknya semua terlihat serius.
Sementara Fadli sudah mulai berkeringat bahkan sebelum acara dimulai.
Sebelum naik ke panggung, panitia memberikan daftar tamu penting.
Panitia: "Ini nama-nama yang harus disebut."
Fadli: "Tenang. Saya siap."
Panitia: "Pastikan jangan salah."
Kalimat itu ternyata menjadi pertanda buruk.
Acara berjalan lancar pada lima belas menit pertama.
Fadli mulai percaya diri.
Suaranya mantap.
Peserta terlihat memperhatikan.
Ia merasa seperti presenter profesional.
Kemudian tibalah sesi menyambut tamu kehormatan.
Fadli melihat daftar nama.
Ada satu nama yang harus disebut.
Nama yang sebenarnya sangat jelas.
Dr. H. Jamaluddin
Namun entah kenapa, karena gugup, otaknya mendadak bekerja seperti komputer
yang kehabisan baterai.
Dengan penuh percaya diri, Fadli berkata:
"Mari kita sambut Bapak Dr. Haji Jambuluddin!"
Aula langsung hening.
Sangat hening.
Begitu hening sampai suara kipas angin terdengar seperti konser.
Fadli tidak langsung sadar.
Ia malah tersenyum bangga.
Namun beberapa detik kemudian terdengar suara tertahan dari barisan belakang.
Lalu suara cekikikan.
Lalu tawa kecil.
Lalu semakin banyak.
Di kursi tamu kehormatan, Pak Jamaluddin hanya mengangkat alis.
Pak Jamaluddin: "Jambuluddin?"
Orang di sebelahnya menunduk berusaha menahan tawa.
Fadli baru sadar setelah melihat panitia melambaikan tangan dengan ekspresi
panik.
Panitia (berbisik): "Jamaluddin! Bukan
Jambuluddin!"
Mata Fadli membelalak.
Rasanya seperti baru sadar mengirim pesan rahasia ke grup keluarga.
Dengan wajah merah, ia mencoba memperbaiki.
Fadli: "Mohon maaf. Maksud saya Bapak Dr. H.
Jamaluddin."
Namun kerusakan sudah terjadi.
Karena sejak saat itu, beberapa peserta diam-diam menyimpan nama baru
tersebut dalam ingatan.
Acara sebenarnya bisa saja berlanjut normal.
Tapi nasib tampaknya sedang ingin bercanda.
Pada sesi berikutnya, Fadli harus mempersilakan seorang kepala dinas
memberikan sambutan.
Namanya:
Bapak Syahrul
Nama yang cukup sederhana.
Tidak ada huruf yang sulit.
Tidak ada jebakan.
Tidak ada tantangan.
Namun entah bagaimana Fadli kembali terpeleset.
Fadli: "Kepada Bapak Sahur... eh... Syahrul..."
Aula langsung berguncang oleh tawa.
Bahkan beberapa peserta sampai menunduk.
Pak Syahrul: "Untung belum bulan Ramadan."
Tawa peserta semakin keras.
Fadli mulai kehilangan semangat hidup.
Saat istirahat kopi, ia duduk murung di sudut ruangan.
Panitia menghampiri.
Panitia: "Tenang."
Fadli: "Saya ingin pindah planet."
Panitia: "Tidak separah itu."
Fadli: "Saya baru saja mengubah Jamaluddin jadi
Jambuluddin dan Syahrul jadi Sahur."
Panitia: "Setidaknya belum mengubah bupati jadi
bakpao."
Fadli tertawa kecil.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Setelah istirahat, ia kembali ke panggung.
Kali ini ia berjanji akan lebih fokus.
Ia membaca nama perlahan.
Memeriksa setiap huruf.
Memastikan semuanya benar.
Namun justru karena terlalu hati-hati, ia menjadi terlalu lambat.
Ketika memperkenalkan narasumber berikutnya, ia berkata:
"Mari kita sambut... Bapak... Profesor... Doktor... Haji...
Muhammad... Abdullah... Siregar... M.Pd... M.Si... M.Hum... dan... masih ada
lagi..."
Peserta mulai tertawa.
Narator seminar itu bahkan belum selesai menyebut seluruh gelar ketika
narasumber sudah berdiri di samping podium.
Narasumber: "Sudah cukup. Saya sendiri hampir lupa
nama lengkap saya."
Aula kembali pecah oleh tawa.
Anehnya, setelah beberapa kesalahan itu, suasana seminar justru menjadi
lebih hangat.
Peserta yang tadinya kaku mulai tersenyum.
Narasumber terlihat santai.
Bahkan tamu kehormatan ikut menikmati suasana.
Menjelang akhir acara, Pak Jamaluddin menghampiri Fadli.
Fadli langsung bersiap menerima teguran.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Pak Jamaluddin: "Nak."
Fadli: "Iya, Pak."
Pak Jamaluddin: "Saya sudah puluhan tahun menghadiri
seminar."
Fadli: "Maaf soal nama tadi, Pak."
Pak Jamaluddin: "Tidak apa-apa."
Fadli: "Benarkah?"
Pak Jamaluddin: "Justru ini pertama kalinya saya punya
nama panggung."
Fadli terdiam.
Pak Jamaluddin: "Jambuluddin juga tidak buruk."
Mereka tertawa bersama.
Sejak hari itu, kisah tersebut menjadi legenda di kantor Fadli.
Setiap kali ada acara resmi, teman-temannya selalu mengingatkan.
"Pastikan tidak ada Jambuluddin hari ini."
Kalau melihat Pak Syahrul:
"Selamat pagi, Pak Sahur."
Bahkan suatu hari seseorang menempelkan secarik kertas di meja Fadli
bertuliskan:
"Periksa nama sebelum bicara. Demi keselamatan bersama."
Meskipun memalukan, Fadli akhirnya menyadari satu hal.
Kesalahan kecil memang bisa membuat wajah merah padam.
Tetapi jika disikapi dengan santai dan humor, kesalahan itu justru bisa
menjadi cerita lucu yang dikenang bertahun-tahun.
Dan sampai sekarang, setiap bertemu Pak Jamaluddin, mereka selalu saling
menyapa.
Fadli: "Selamat pagi, Pak."
Pak Jamaluddin: "Pagi juga. Dari Jambuluddin."
Dan keduanya langsung tertawa.
Ilustrasi / Meme
🎤 PEMBAWA ACARA PEMULA
Panitia: "Jangan salah sebut nama."
MC: "Tenang, saya profesional."
(5 menit kemudian)
MC: "Mari kita sambut Bapak Jambuluddin!"
Peserta: 👀
Tamu Kehormatan: 👀
Panitia: 😱
MC: "Saya ingin mengundurkan diri dari
kehidupan."
😂😂😂
Nah, bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda salah memanggil nama seseorang di
depan banyak orang hingga membuat suasana mendadak canggung atau justru penuh
tawa?