Misteri Kerabat fiktif dan Kucing Amnesia: Investigasi Alasan Absurd Si
sinto
Halo warga CERCU (Cerita Lucu) yang budiman, yang kalau berangkat
kerja paling mentok alasannya cuma "macet di lampu merah"!
Di setiap kantor, pasti ada satu spesies karyawan yang punya bakat terpendam
mengalahkan penulis naskah film Hollywood. Siapa mereka? Betul sekali: Rekan
kerja yang selalu punya alasan untuk kabur, datang telat, atau mangkir dari
tugas. Kalau orang normal izin karena sakit atau urusan keluarga, spesies
satu ini punya stok alasan yang melibatkan plot twist tingkat dewa.
Di kantor kami, spesies langka ini bernama Sinto. Mari kita bedah bagaimana
Sinto menghadapi hari Senin yang penuh tekanan dengan kreativitas alasannya
yang bikin elus dada!
Babak 1: Senin Pagi yang Mistis
Pukul 09.30 WIB. Rapat mingguan divisi pemasaran sudah berjalan setengah
jam. Ruangan rapat mendadak senyap saat pintu diketuk dengan perlahan. Tok...
tok... tok...
Muncullah Sinto dengan wajah yang ditekuk sedemikian rupa, seolah-olah dia
baru saja selamat dari bencana kelaparan global. Bajunya agak kusut, dan dia
berjalan pincang yang dibuat-buat.
Pak Beni, sang manajer divisi yang terkenal tegas, langsung menghentikan
presentasinya dan melipat tangan di dada.
Pak Beni: "Selamat pagi, Sinto. Senang melihat Anda akhirnya
bergabung, meskipun rapat kita tinggal lima belas menit lagi. Boleh tahu
petualangan apa lagi yang menahan Anda hari ini?"
Sinto: (Menghela napas berat, memegang pinggangnya)
"Aduh, mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Beni dan rekan-rekan. Saya
tahu saya telat. Tapi ini benar-benar di luar kendali saya. Tadi subuh, rumah
saya mendadak dikepung, Pak!"
Randi: (Rekan sebangku Sinto, langsung berbisik heboh)
"Dikepung apa, Sin? KPK? Atau penagih pinjol?"
Sinto: "Bukan, Ndi! Dikepung sama kawanan tawon ndas sebesar
jempol kaki! Mereka bikin sarang raksasa tepat di atas pintu depan rumah saya.
Saya gak bisa keluar. Kalau saya nekat, hidup mati saya taruhannya. Saya
terpaksa nunggu pawang tawon lokal datang dari kecamatan sebelah buat negosiasi
sama ketua tawonnya."
Pak Beni memijat pelipisnya. Ini adalah alasan nomor 47 yang dicatat dalam
buku harian kinerja Sinto.
Pak Beni: "Sinto... minggu lalu alasan kamu telat karena kucing
tetangga kamu amnesia dan tersesat di genteng rumahmu. Dua minggu lalu, ban
motor kamu tertusuk paku payung bekas pajangan sirkus. Sekarang, negosiasi
dengan tawon?"
Sinto: "Dunia ini penuh misteri, Pak Beni. Saya hanya
korbannya."
Babak 2: Jam Makan Siang yang Molor
Bukan Sinto namanya kalau keajaiban alasannya berhenti di pagi hari. Jam
istirahat kantor terjadwal dari pukul 12.00 sampai 13.00 WIB. Namun, hingga
pukul 14.15 WIB, kubikel Sinto masih kosong melompong. Hanya ada jaketnya yang
disangkutkan di kursi—trik kuno agar dikira sedang pergi ke toilet.
Randi yang kewalahan karena harus menghandle telepon dari klien Sinto,
langsung menelepon nomor Sinto dengan pengeras suara aktif.
Randi: "Halo, Sin! Lu di mana sih? Ini klien dari PT Maju Mundur
nyariin lu dari tadi! Lu makan siang ke Paris apa gimana?"
Sinto: (Dari seberang telepon, terdengar suara angin kencang dan
klakson) "Halo, Randi! Duh, sori banget. Gue lagi kejebak dalam
situasi kemanusiaan yang sangat kritis!"
Randi: "Situasi apa lagi, Sinto?!"
Sinto: "Gini, tadi pas gue mau balik ke kantor abis beli
ketoprak, ada nenek-nenek mau nyeberang jalan raya. Sebagai pemuda pancasila
yang berjiwa sosial, gue seberangin dong."
Randi: "Ya terus? Menyeberang jalan kan cuma butuh waktu dua
menit, Bambang!"
Sinto: "Masalahnya, pas udah sampai di seberang, si nenek lupa
dia mau ngapain. Dia malah minta ditemenin nyari alamat cucunya yang katanya
tinggal di daerah yang gue sendiri gak tahu itu di mana. Gue gak tega ninggalin
nenek ini terlantar di trotoar, Ndi. Ini urusan pahala!"
Randi: "Sin... lu tahu gak kalau di belakang suara lu itu
kedengaran jelas ada suara mbak-mbak kasir minimarket bilang 'Mau sekalian
tebus murah teflonnya, Kak?'... Lu lagi belanja bulanan ya?!"
Sinto: (Hening dua detik) "Eh? Oh... ini... si nenek
ternyata cucunya kerja jadi kasir di sini, Ndi! Nah, ini gue lagi proses serah
terima neneknya. Bentar lagi gue balik!" Klik. Telepon ditutup
sepihak.
Babak 3: Drama Pulang Cepat (The Grand Finale)
Pukul 16.00 WIB, satu jam sebelum jam pulang resmi. Sinto tiba-tiba
mendekati meja Pak Beni dengan langkah kaki yang diseret dan mata yang
dikondisikan berkaca-kaca.
Sinto: "Pak Beni... mohon izin, Pak. Saya harus pulang
mendahului yang lain."
Pak Beni: (Tanpa melihat Sinto, sibuk mengetik) "Kenapa
lagi, Sinto? Ada sepupu jauh dari garis ibu yang mendadak menggelar hajatan
sunatan?"
Sinto: "Bukan, Pak. Ini soal perasaan. Hati saya mendadak tidak
tenang. Saya baru dapat firasat lewat mimpi yang tertunda tadi siang, kalau
kompor di rumah saya lupa dimatikan sejak tadi pagi."
Pak Beni: (Berhenti mengetik, menatap Sinto tajam)
"Sinto, tadi pagi rumah kamu dikepung tawon dan kamu baru bisa keluar
setelah pawang datang, kan? Masa kamu sempat-sempatnya masak air pas dikepung
tawon?"
Sinto: (Terbata-bata, otaknya berputar 5000 RPM) "Eh...
itu... justru karena panik dikepung tawon, Pak! Saya niatnya mau bikin kopi
buat nenangkan diri, tapi malah lupa matiin kompornya karena buru-buru
negosiasi... eh, maksud saya lari ke kantor!"
Pak Beni: (Tersenyum manis, senyuman yang bikin merinding)
"Sinto, rumah kamu aman kok. Kompor kamu pasti mati."
Sinto: "Kok Bapak bisa yakin banget?"
Pak Beni: "Karena mulai besok, kamu punya waktu 24 jam penuh di
rumah untuk menjaga kompor kamu tetap mati, hidup, atau kamu peluk sekalian.
Surat pembebasan tugas kamu sudah saya tanda tangani di bawah tumpukan kertas
ini. Selamat menikmati liburan panjang tanpa alasan, Sinto."
Sinto pun membeku, menyadari bahwa sekreatif-kreatifnya jalinan cerita yang
dia buat, pada akhirnya realita pekerjaan jugalah yang memberikan plot twist
paling mengenaskan.
Aduh, ada-ada saja ya kelakuan si Sinto. Kreativitasnya dalam mengarang
alasan seandainya dipakai buat menulis novel fiksi ilmiah mungkin sudah menang
penghargaan internasional!
Nah, bagaimana dengan kalian, para pembaca setia CERCU? Apakah di
kantor atau di tempat kelas kalian ada sosok "Sinto" yang punya
koleksi alasan super ajaib saat telat atau bolos? Apa alasan paling absurd dan
paling bikin geleng-geleng kepala yang pernah kalian dengar dari rekan kerja
kalian?
Yuk, tuliskan cerita kocak versi kalian di kolom komentar di bawah ini!
Mari kita saling berbagi tawa di CERCU!