PINTUNYA TERBUKA, SANDALNYA MIRIP! Saya Baru Sadar Itu Bukan Rumah Saya
Setelah Duduk dan Minta Minum
Ada banyak kejadian memalukan yang bisa dialami
seseorang. Salah kirim pesan, salah panggil nama, atau salah naik kendaraan
umum. Namun apa jadinya jika seseorang salah masuk rumah orang lain dan baru
sadar setelah merasa terlalu nyaman?
Itulah yang dialami oleh Ujang, seorang pegawai yang
terkenal santai, bahkan mungkin sedikit terlalu santai.
Kejadian ini berlangsung pada suatu sore yang panas
setelah ia pulang dari kantor.
Seharian bekerja membuat tubuhnya lelah. Yang ada di
pikirannya hanya satu: pulang, mandi, makan, lalu rebahan sambil menonton
televisi.
Sederhana.
Namun ternyata perjalanan menuju rebahan tidak semulus
yang dibayangkan.
Kompleks tempat tinggal Ujang termasuk perumahan yang
rapi.
Masalahnya, hampir semua rumah memiliki bentuk yang sama.
Cat dinding hampir sama.
Pagar hampir sama.
Pot bunga hampir sama.
Bahkan beberapa tetangga memasang jemuran dengan model
yang sama.
Kalau tidak memperhatikan nomor rumah, seseorang bisa
saja bingung.
Dan Ujang adalah tipe orang yang jarang memperhatikan
detail.
Sore itu ia pulang sambil memainkan ponsel.
Sesekali membalas pesan.
Sesekali melihat media sosial.
Sesekali menguap.
Konsentrasinya terbagi ke mana-mana.
Saat tiba di depan sebuah rumah, ia melihat pintu pagar
terbuka.
Di teras juga ada beberapa pasang sandal.
Persis seperti biasanya.
Tanpa berpikir panjang, Ujang langsung masuk.
Ujang: "Assalamu'alaikum..."
Tidak ada jawaban.
Ujang: "Wah, mungkin pada di
belakang."
Ia tetap masuk.
Sangat percaya diri.
Terlalu percaya diri.
Ruang tamunya tampak sedikit berbeda.
Tetapi Ujang tidak terlalu memperhatikan.
Ia menganggap istrinya mungkin sedang merapikan rumah.
Ujang: "Bu, saya pulang!"
Masih tidak ada jawaban.
Ia duduk di sofa.
Sofa itu terasa lebih empuk dari biasanya.
Ujang: "Wah, akhirnya beli sofa
baru."
Ia mengangguk puas.
Padahal bukan.
Beberapa menit kemudian ia berteriak lagi.
Ujang: "Bu! Tolong ambilkan air
minum!"
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah.
Suara Perempuan: "Siapa itu?"
Ujang: "Saya!"
Suara Perempuan: "Saya siapa?"
Ujang: "Ya saya!"
Pemilik suara terdengar semakin bingung.
Tak lama kemudian seorang ibu keluar dari dapur.
Ibu itu berhenti melangkah.
Ujang juga berhenti bernapas selama beberapa detik.
Mereka saling menatap.
Satu masalah besar muncul.
Ibu itu bukan istrinya.
Ibu Tetangga: "Pak?"
Ujang: "Bu?"
Ibu Tetangga: "Bapak siapa?"
Ujang: "Saya juga mulai bertanya
hal yang sama."
Ujang menoleh ke kanan.
Menoleh ke kiri.
Baru saat itulah ia melihat foto keluarga yang sama
sekali tidak dikenalnya.
Jantungnya langsung berdebar.
Ujang: "Astaga..."
Ibu Tetangga: "Bapak salah rumah
ya?"
Ujang: "Sepertinya saya salah
kehidupan."
Ibu itu langsung tertawa.
Sementara Ujang berharap bisa berubah menjadi asap lalu
menghilang dari muka bumi.
Namun penderitaan belum selesai.
Karena tepat saat itu, pemilik rumah muncul dari
belakang.
Seorang bapak bertubuh besar yang baru selesai menyiram
tanaman.
Bapak Tetangga: "Ada apa?"
Ibu Tetangga: "Pak ini salah masuk
rumah."
Bapak Tetangga: "Oh."
Beliau memandang Ujang.
Bapak Tetangga: "Sudah berapa lama
di sini?"
Ujang: "Cukup lama untuk meminta
minum."
Bapak itu tertawa keras.
Terlalu keras.
Sampai tetangga sebelah ikut keluar melihat.
Dalam beberapa menit, jumlah saksi mata bertambah.
Tetangga 1: "Ada apa?"
Bapak Tetangga: "Pak Ujang salah
masuk rumah."
Tetangga 2: "Serius?"
Ibu Tetangga: "Sudah duduk di sofa
juga."
Tetangga 3: "Wah, cepat sekali
beradaptasi."
Ujang mulai merasa reputasinya sedang runtuh secara
perlahan.
Setelah meminta maaf berkali-kali, ia akhirnya keluar
rumah.
Namun baru beberapa langkah berjalan, ia melihat
rumahnya sendiri.
Ternyata rumahnya hanya berjarak dua rumah dari lokasi
kejadian.
Yang membuat semuanya lebih menyakitkan adalah fakta
bahwa nomor rumahnya sangat jelas.
Sementara rumah tetangga itu memiliki nomor yang berbeda
jauh.
Saat tiba di rumah, istrinya membuka pintu.
Istri: "Kok lama?"
Ujang: "Saya tadi salah masuk
rumah."
Istri: "Rumah siapa?"
Ujang: "Tetangga."
Istri: "Ngapain?"
Ujang: "Duduk."
Istri: "Lalu?"
Ujang: "Minta minum."
Istrinya langsung tertawa sampai harus berpegangan pada
kusen pintu.
Malam harinya, berita itu sudah menyebar ke seluruh
kompleks.
Kecepatannya bahkan mengalahkan internet.
Keesokan pagi saat Ujang keluar rumah, tetangganya
langsung menyapa.
Tetangga: "Pak, rumah saya juga
terbuka kalau mau mampir."
Tetangga lain ikut menambahkan.
Tetangga: "Kalau haus, silakan
langsung masuk."
Sejak saat itu, setiap kali Ujang pulang kerja, selalu
ada yang bercanda.
"Pastikan alamat dulu, Pak!"
"Jangan salah sofa lagi!"
"Hari ini rumah siapa yang
dikunjungi?"
Beberapa bulan kemudian, saat acara perumahan
berlangsung, bahkan ketua RT ikut bercanda.
Ketua RT: "Sebelum acara dimulai,
kami mengingatkan seluruh warga untuk mengunci rumah masing-masing. Terutama
saat Pak Ujang pulang kerja."
Satu lapangan tertawa.
Sementara Ujang hanya bisa tersenyum pasrah.
Namun ada satu hikmah yang ia dapatkan dari kejadian
itu.
Kini ia tidak pernah lagi bermain ponsel sambil berjalan
pulang.
Ia juga selalu memastikan nomor rumah sebelum masuk.
Karena ternyata rasa malu akibat salah rumah bisa
bertahan jauh lebih lama daripada rasa lelah setelah bekerja.
Meski demikian, hingga hari ini hubungan Ujang dengan
tetangga tersebut justru semakin akrab.
Setiap kali bertemu, mereka selalu saling menyapa.
Bapak Tetangga: "Mau masuk
dulu?"
Ujang: "Tidak, Pak. Saya sudah
sembuh."
Dan setiap kali mendengar kalimat itu, semua orang yang
tahu kisahnya pasti tertawa lagi.
Karena ada kejadian memalukan yang hanya berlangsung
beberapa menit, tetapi bisa menjadi bahan cerita lucu selama bertahun-tahun.
Nah, bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda salah masuk tempat, salah
mengenali rumah, atau mengalami kejadian memalukan yang membuat orang-orang di
sekitar tertawa berhari-hari?