*“FOMO Membunuhku: 24 Jam Berpura-pura Keren di Medsos, Padahal Dompet
Tipis & Mental Jebol”*
Sinopsis
kilat:
Tiga
sekawan — Dito (24 tahun, korban FOMO kronis yang rela utang
demi konten), Melly (sahabat realistis yang hobi kasih fakta
pahit), dan Joko (si logis tapi ikut-ikutan karena kasihan) —
memutuskan untuk "hidup seperti influencer" selama satu hari penuh.
Mulai dari sunrise photoshoot di pantai, brunch di kafe
aesthetic, sampai gym untuk foto post-workout. Hasilnya? Dompet
menangis, mental teriak, dan FOMO berubah jadi "HOMO" (Hanya Modal
Omong Kosong).
Setting:
Apartemen Dito yang murah meriah (diusahakan aesthetic dengan lampu neon dan
tanaman plastik). Jam menunjukkan pukul 04.30 pagi. Masih gelap.
Babak 1: Sunrise di Pantai, Padahal Masih Ngantuk Bangsat
(Dito
sudah berdiri di depan cermin sejak jam 3 pagi. Memakai 3 lapis baju berbeda
untuk dicoba. Di sampingnya, Melly tiduran di sofa dengan mata merah sepet.)
Dito (bergaya di
depan kamera hape):
"Coba lihat, Mel. Ini lebih aesthetic yang pakai kemeja
flanel atau kaos putih lengan panjang digulung sedikit?"
Melly (mata tertutup,
suara seperti kuntilanak kehabisan baterai):
"Yang lebih aesthetic tuh... lo tidur. Ini jam setengah 5
pagi, Dit. Matahari aja masih malu-malu mau muncul."
Dito:
"Justru! Namanya golden hour, Mel. Gue harus dapat foto sunrise
glow biar feed Instagram gue konsisten. Kemarin gue lihat akun
@rizky_escapers, dia dapat 20 ribu likes dari foto sunrise!"
Melly (membuka satu
mata):
"Lo tau nggak, @rizky_escapers itu anak konglomerat? Dia foto naik
helikopter. Lo mau naik apa? Ojek online jam segini juga pada tidur."
Joko (datang dari
kamar mandi, rambut masih basah):
"Gue sih ikut aja, daripada nanti Dito nangis di grup. Tapi tolong, jangan
lama-lama. Gue puasa FOMO, Dit. Udah komitmen tahun ini pengen realistis."
Dito (nge-repack tas
kecil berisi tripod, power bank, dan 3 baju ganti):
"Oke! Berangkat. Pantai Pasir Putih, kita datang!"
(Mereka
bertiga naik motor. Dito bonceng sama Joko. Melly bonceng sendiri karena bawa
perlengkapan tambahan: bantal tidur.)
Babak 2: Sesampainya di Pantai: Antara Keajaiban dan Kekecewaan
(Pantai.
Jam 05.15. Masih gelap gulita. Angin kencang. Dito menggigil tapi tetap
semangat.)
Dito (nge-setting tripod):
"Oke! Aku akan lari-lari kecil di tepi pantai sambil memegang jaket biar
kesan effortless."
Melly (sudah
membentangkan tikar kecil dan tiduran):
"Effortless? Lo lari kayak kejar setan, Dit. Itu namanya desperate.
Coba deh santai. Inspirasi dari angin aja."
Joko (memegang hape
jadi kameramen dadakan):
"Mulai, ya... Action!"
(Dito
berlari kecil. Tapi karena pasirnya basah dan gelap, dia kesandung batu. Jatuh.
Wajah nyungsep ke pasir. Kameranya tetap merekam.)
Dito (dari balik
pasir):
"Joko... itu masuk blooper. Hapus. Rekam ulang."
Joko:
"Tapi lumayan bagus, Dit. Kesannya authentic. Judul: When
sunset dreams become sunrise nightmares."
Melly (tidak bangun
dari tidur):
"Gue setuju. Authentic banget. Pasirnya ada di gigi lo,
itu asli."
(Dito
bangun, bersih-bersih muka. Matanya merah karena pasir. Tapi dia tetep maksa
foto.)
Dito (pose: menatap
horizon, tangan di saku, angin menerpa rambut):
"Okay, jepret. Pastikan background-nya langit ungu
keemasan."
Joko (jepret):
"Udah. Hasilnya? Lo kayak hantu pantai. Matanya merah, rambut acak-acakan,
dan ada bekas pasir di bibir."
Dito (lihat hape,
lalu terdiam. Lalu menangis dalam hati.):
"... Edit dulu deh. Pake filter Clarendon terus brightness naikin
70 persen."
Babak 3: Brunch di Kafe Aesthetic: Dompet Menjerit
(Jam
09.00. Mereka bertiga duduk di kafe bernama "Kopi Kenangan Masa
Kecil". Satu meja. Satu slice cake matcha. Dua gelas kopi panas. Melly
tambah air putih.)
Dito (masih ngatur
pencahayaan untuk foto makanan):
"Jangan dimakan dulu! Aku mau foto dulu dari atas. Flat lay.
Buku catatan, kacamata hitam, sama... Joko, pinjam laptop lo."
Joko:
"Laptop gue ACER, Dit. Nggak aesthetic. Nanti dikira sponsor
warung warnet."
Melly (ngemil cake
diam-diam):
"Ini cake matchanya udah gue gigit dua kali. Jadi kalau lo mau foto,
mending cepet. Daripada nanti di-post dengan judul: 'Setelah aku,
kamu bisa move on dari gigitan Melly'."
Dito (mulai panik):
"Tunggu, kita pesan lagi satu aja. Biar foto repost."
Joko (ngecek
dompet):
"Dit, kita bertiga cuma punya sisa uang 70 ribu. Uang parkir motor tadi 10
ribu. Bensin 20 ribu. Sisa 40 ribu buat makan siang."
Melly:
"Berarti kita harus pilih antara makan siang atau aesthetic. Spoiler:
perut keroncongan nggak bisa difilter."
Dito (berkeringat
dingin):
"Oke, oke. Satu cake ini cukup. Kita foto bareng-bareng, kelihatannya
kayak quality time with bestie."
(Mereka
bertiga foto selfie. Dito di tengah, senyum manis. Melly di kiri, matanya sayu
karena kurang tidur. Joko di kanan, senyum palsu.)
Dito (setelah foto):
"Ini bagus! Judul: Brunch with my favorites people.
#bestielife #matchalover"
Melly:
"Yang bener: Brunch with broke people. #cakemahaling
#besokmakangabur"
Joko:
"Lo caption itu, besok pasti di-unfollow sama temen lo yang
tajir."
Babak 4: Gym dan Post-Workout Selfie: Puncak Derita
(Jam
14.00. Mereka bertiga datang ke gym murahan di pinggir kota. Hanya ada 2 alat
rusak dan 3 beban tua.)
Dito (mulai merekam
video untuk IG Reel):
"Oke, kita record ya. Gue mau challenge: 5
menit workout intens. Joko, pegang hape. Melly, tepuk tangan
buat sound effect."
Melly (duduk di atas
matras, malas):
"Tepuk tangan? Gue tepuk jidat lo kali, Dit. Ini gym murah, AC aja kipas
angin."
(Dito
mulai push-up. Tiga kali. Lalu jatuh.)
Dito (terengah-engah):
"Cut. Rekam ulang. Aku belum pakai angle yang
bikin tangan keliatan kekar."
Joko:
"Dit, tangan lo getar. Kayak orang mau hipoglikemia. Mending foto post-workout aja
tanpa olahraga. Kan namanya bohong."
Dito (maksa):
"Tapi itu namanya fake, Jo."
Melly (sengit):
"Fake itu lebih baik daripada pathetic. Tapi
sekarang lo dua-duanya, Dit."
(Dito
akhirnya setuju. Dia foto dengan pose memegang botol minum, keringat palsu dari
semprotan air mineral, dan ekspresi "capek puas".)
Dito (setelah edit):
"Lihat! Ini keren, kan? Post-workout glow."
Joko:
"Glow? Itu kilau minyak goreng bekas lo menggoreng tempe tadi
pagi."
Akhir: FOMO atau HOMO?
(Malam
hari. Mereka bertiga duduk di teras apartemen Dito. Makan indomie goreng +
telur dadar bersama. Followers Dito naik 200 hari ini. Tapi dompetnya kosong
untuk 3 hari ke depan.)
Dito (sambil
mengunyah indomie):
"Gue sadar sesuatu, guys. Hari ini gue capek mental, fisik, sama
finansial. FOMO itu membunuhku pelan-pelan."
Melly:
"Welcome to reality, Dit. Orang keren di medsos itu kebanyakan
pinjam mobil, pinjam kostum, pinjam gaya hidup. Lo mau jadi kayak mereka?"
Joko:
"Gue mah ikut-ikutan tadi karena lo ngancem nge-unfollow gue.
Tapi honestly, sekarang gue malah merasa lega. Aneh ya?"
Dito (menatap
langit):
"Gue akhirnya sadar... FOMO itu singkatan dari Fear
of Missing Out. Tapi kalau kita maksa terus, jadinya HOMO: Hanya
Modal Omong Kosong."
(Mereka
bertiga ketawa. Melly nambah satu piring indomie. Joko mulai tidur di teras.
Dan Dito... dia uninstall Instagram untuk seminggu.)
Epilog:
Dito beneran nggak buka IG selama 7 hari. Di hari ke-8, dia buka lagi.
Followernya turun 50. Tapi dia tersenyum. Karena dia sekarang punya lebih
banyak waktu untuk... makan indomie bareng teman yang nggak pernah minta aesthetic.
Pesan moral
(ala CERCU):
Jangan
biarkan FOMO mengendalikan hidupmu. Karena kebanyakan "kesempurnaan"
di medsos hanyalah ilusi dengan modal edit dan utang. Lebih baik jadi diri
sendiri yang biasa-biasa saja, daripada jadi jiwa-jiwa yang aesthetic tapi
dompet tipis dan hati kosong.
❓ Pertanyaan untuk pembaca CERCU:
Kapan
terakhir kalian ngerasa "FOMO" banget sampe rela ngeluarin duit
banyak, waktu, dan tenaga cuma demi konten atau status di medsos? Atau pernah
punya teman yang "over effort" cuma buat keliatan keren? Share
pengalaman FOMO paling absurd versi kalian di kolom komentar!
Bonus
poin kalau
ceritanya bikin kita semua bilang: "Syukurlah aku nggak sendirian
dalam kegilaan ini." 😂
— CERCU:
Cerita Lucu dari (Kegagalan) Gaya Hidup Digital Kita Bersama.