Mobil Belum Jalan, Emosi Sudah Sampai Kampung! Kisah Mudik yang
Selalu Berakhir Kocak
Ada dua jenis orang di dunia.
Yang pertama, orang yang bilang, "Mudik itu menyenangkan."
Yang kedua, orang yang benar-benar pernah mudik bersama keluarga besar.
Saya termasuk golongan kedua.
Karena bagi keluarga kami, mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung.
Mudik adalah ajang menguji kesabaran, kekompakan, dan kemampuan mencari
sandal yang hilang di rest area.
Drama mudik selalu dimulai jauh sebelum berangkat.
Ibu sudah sibuk sejak seminggu sebelumnya.
"Nanti jangan ada yang lupa bawa baju!"
Ayah mengangguk.
"Siap."
"Nanti oleh-oleh jangan ketinggalan!"
"Siap."
"Nanti tiket disimpan baik-baik!"
"Siap."
Saya bertanya,
"Bu, kita berangkat jam berapa?"
"Jam enam pagi."
Ayah langsung menambahkan,
"Artinya kita berangkat jam delapan."
Ibu melotot.
"Pak!"
Ayah tersenyum.
"Itu pengalaman tahun-tahun sebelumnya."
Hari keberangkatan tiba.
Jam lima pagi.
Ibu sudah siap.
Tas siap.
Bekal siap.
Air minum siap.
Jam enam.
Ayah belum mandi.
"Pak! Katanya jam enam berangkat!"
"Iya."
"Lho, kok santai?"
"Kan mobilnya belum jalan sendiri."
Saya dan adik saling pandang.
Hari ini bakal panjang.
Setelah semua masuk mobil, perjalanan dimulai.
Baru lima menit.
Adik berkata,
"Aku lapar."
Ibu kaget.
"Tadi sudah sarapan!"
"Iya, tapi itu lima menit yang lalu."
Ayah tertawa.
"Ini anak makannya pakai sistem cicilan."
Belum jauh berjalan.
Ibu bertanya,
"Pak, kompor sudah dimatikan?"
Ayah langsung diam.
Saya ikut diam.
Adik ikut diam.
Mobil berhenti di pinggir jalan.
Ayah berpikir keras.
"Kayaknya sudah."
Ibu menjawab,
"Kayaknya?"
Ayah menghela napas.
"Kita balik enggak?"
Saya usul,
"Coba telepon tetangga."
Tetangga menjawab,
"Tenang, Bu. Kompornya mati."
Kami semua lega.
Ayah tersenyum.
"Nah, lihat."
Ibu menjawab,
"Lain kali dicek."
Ayah mengangguk pelan.
"Iya."
Perjalanan kembali lanjut.
Satu jam kemudian.
Adik bertanya,
"Sudah sampai?"
Saya melihat jendela.
Rumah kami masih kelihatan.
"Belum."
"Lama?"
"Masih."
Lima menit kemudian.
"Sudah sampai?"
Ayah menjawab,
"Kalau tanya terus, jalannya malah mundur."
Adik langsung diam.
Saya hampir percaya.
Bagian paling seru saat mudik adalah berhenti di rest area.
Ayah berkata,
"Kita istirahat sebentar."
Sebentar menurut Ayah adalah dua puluh menit.
Menurut Ibu, empat puluh menit.
Menurut adik, dua jam.
Karena dia ingin mencoba semua jajanan.
"Nak, jangan jauh-jauh."
"Iya."
Lima menit kemudian.
"Nak, di mana?"
Kami semua mencari.
Ternyata adik sedang melihat mainan.
"Aku cuma lihat."
"Lima belas menit?"
"Iya."
Saya kagum.
Kemampuan melihatnya luar biasa.
Saat makan di rest area juga tidak kalah lucu.
Ayah melihat menu.
"Harganya kok mahal?"
Ibu menjawab,
"Namanya juga di jalan."
Ayah mengangguk.
"Lain kali kita bawa warung sendiri."
Saya tertawa.
"Itu namanya pindahan, Yah."
Masalah terbesar saat mudik adalah toilet.
Begitu mobil jalan.
"Ayah..."
"Iya?"
"Aku mau ke toilet."
"Tadi kenapa enggak?"
"Tadi belum mau."
Ayah menarik napas panjang.
Lima belas menit kemudian.
Ibu berkata,
"Pak..."
"Iya?"
"Saya juga."
Ayah melihat saya.
"Kamu?"
Saya menjawab cepat,
"Enggak, Yah!"
Ayah tersenyum lega.
Tiba-tiba Nenek yang duduk di belakang berkata,
"Saya juga."
Ayah hampir menangis.
Pernah suatu kali kami tersesat.
Ayah melihat peta di ponsel.
"Kita lurus."
Ibu melihat papan jalan.
"Itu belok."
Ayah percaya ponsel.
Ibu percaya papan.
Saya percaya bensin jangan sampai habis.
Akhirnya kami bertanya kepada warga.
"Pak, jalan ke kampung lewat mana?"
Warga menunjuk.
"Itu."
Ayah bertanya lagi,
"Kalau yang ini?"
"Itu jalan pulang."
Kami semua tertawa.
Untung belum terlalu jauh.
Yang paling ditunggu saat mudik tentu saja sampai di rumah nenek.
Begitu mobil berhenti.
Nenek keluar.
"Wah, sudah datang!"
Kami semua turun.
Belum sempat duduk.
Nenek bertanya,
"Sudah makan?"
Ibu menjawab,
"Sudah."
Nenek mengangguk.
"Bagus."
Lalu berkata lagi,
"Ayo makan."
Saya bingung.
"Nek, tadi sudah."
"Itu tadi."
"Sekarang?"
"Sekarang makan lagi."
Saya baru sadar.
Di rumah nenek, kenyang hanyalah teori.
Malam hari kami berkumpul.
Ayah menceritakan perjalanan.
"Tadi hampir nyasar."
Ibu langsung menyela,
"Bukan hampir. Memang nyasar."
Ayah tertawa.
"Tapi ketemu jalannya."
Saya ikut menambahkan,
"Karena tanya orang."
Ayah mengangguk.
"Itu juga strategi."
Saat pulang, drama baru dimulai.
Oleh-oleh bertambah banyak.
Tas bertambah besar.
Mobil terasa lebih sempit.
Ibu berkata,
"Ini siapa yang bawa kerupuk satu kardus?"
Semua diam.
Nenek mengangkat tangan.
"Itu buat di rumah."
Ayah melihat bagasi.
"Bu..."
"Iya?"
"Kalau ditambah lagi, kita naik di atap mobil."
Nenek tertawa.
Di perjalanan pulang, saya bertanya kepada Ayah.
"Yah, kenapa sih orang tetap suka mudik padahal capek?"
Ayah tersenyum.
"Karena mudik itu bukan soal perjalanan."
"Lalu?"
"Soal cerita."
"Cerita?"
"Iya."
"Cerita lupa mematikan kompor."
"Cerita nyasar."
"Cerita rebutan toilet."
"Cerita adik yang lapar lima menit setelah sarapan."
Saya tertawa.
Benar juga.
Kalau perjalanan mudik lancar tanpa kejadian apa-apa, mungkin tidak ada yang
bisa diceritakan setahun kemudian.
Justru yang paling diingat adalah hal-hal kecil yang bikin panik sekaligus
bikin tertawa.
Mobil yang penuh barang.
Pertanyaan "Sudah sampai belum?" yang diulang seratus kali.
Rest area yang terasa seperti tempat wisata.
Ayah yang yakin tidak nyasar.
Ibu yang yakin Ayah salah jalan.
Dan Nenek yang percaya bahwa cucunya masih sanggup makan tiga kali dalam
satu jam.
Mungkin memang begitu arti mudik.
Bukan sekadar pulang ke kampung halaman.
Tetapi perjalanan panjang yang penuh kekacauan kecil, tawa, dan cerita yang
akan diulang-ulang setiap kali keluarga berkumpul.
Walaupun, sampai sekarang, saya masih curiga...
Pertanyaan "Sudah sampai belum?" sebenarnya bisa membuat
perjalanan terasa dua kali lebih lama.
Dan saya yakin, setiap keluarga di Indonesia pasti pernah mengalaminya.
Nah, kalau pengalaman mudik keluarga Anda, kejadian paling lucu apa
yang pernah terjadi di perjalanan atau siapa anggota keluarga yang paling bikin
heboh saat mudik?