Misteri Sabuk Hitam 'Imajiner' dan Tragedi Kucing Oranye di Kompleks Suka
Maju
Dalam hidup ini, ada tiga hal yang tidak bisa dihentikan
oleh apa pun: laju kereta api, emak-emak yang menyalakan lampu sen kiri tapi
belok kanan, dan tingkat kepercayaan diri seorang bocah berumur tujuh tahun
yang sedang merasa dirinya adalah titisan Bruce Lee.
Kenalkan, namanya Rangga. Bocah bertubuh gempal yang baru seminggu ikut
kelas karate gratisan di balai RW. Hanya dalam waktu tujuh hari, Rangga sudah
merasa dirinya setara dengan aktor laga Hollywood. Dia tidak lagi berjalan
seperti manusia normal, melainkan melompat-lompat dengan kuda-kuda rendah dan
sesekali mengeluarkan teriakan, "Ciaat!
Hiat!" yang membuat burung dara tetangga stres dan mogok bertelur.
Sore itu, sang paman yang bernama Om dika sedang asyik mencuci
motor di depan rumah. Tiba-tiba, Rangga keluar dari rumah dengan mengenakan
seragam karate lengkap—lengkap dengan sabuk putih yang dia warnai sendiri
menggunakan spidol hitam hingga belepotan.
"Om Dika! Hadapi aku kalau berani! Hari ini, aku
akan menguji ilmu meringankan tubuh tingkat dewa!" seru Rangga sambil
memasang pose bangau terbang di atas keset kaki.
Om Dika menghentikan aktivitas menyemprot motor, lalu
memandang keponakannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Rangga, itu
sabuk kenapa belang-belang begitu? Kayak corak ular sanca kebanjiran."
"Ini sabuk hitam rahasia, Om! Hanya orang-orang
terpilih yang bisa melihat kekuatan aslinya," jawab Rangga penuh keyakinan
tanpa celah sedikit pun.
Tantangan Pertama: Menaklukkan Ketinggian
Kepercayaan diri Rangga yang berada di level atmosfer
bumi ini tampaknya butuh pembuktian nyata. Matanya yang tajam (tapi agak sipit
karena pipinya yang tembam) mendongak, menatap ke arah tembok pembatas rumah
setinggi satu setengah meter.
Di atas tembok itu, duduk dengan tenang seekor kucing
oranye kompleks bernama Oyen.
Oyen adalah kucing legendaris yang terkenal cuek dan punya tatapan mata
seolah-olah dia adalah pemilik sah sertifikat tanah di perumahan tersebut.
Rangga:
"Om Dika, lihat kucing itu. Dia menantang kehormatan seorang pendekar
sabuk hitam belang-belang!"
Om Dika:
"Rangga, jangan macam-macam. Itu si Oyen. Kemarin preman pasar aja dicakar
sampai kapok gara-gara mau mindahin kandangnya. Mending kamu main gundu aja
sana."
Rangga:
"Tidak bisa, Om! Pendekar tidak pernah mundur. Aku akan melompati tembok
ini dengan satu kali sentakan kaki, lalu menjinakkan harimau oranye itu dengan
teknik pukulan seribu bayangan!"
Om Dika:
"Rangga, tinggi kamu itu bahkan nggak nyampe ke puncak tembok. Kalau kamu
lompat, yang ada dagu kamu duluan yang mencium batako."
Rangga tidak mendengarkan. Dia justru mundur lima
langkah, mengambil ancang-ancang seperti pelari cepat di olimpiade. Mulutnya
komat-kamit merapalkan jampi-jampi yang dia pelajari dari film kartun hari
Minggu.
Rangga:
"Satu... dua... tiga... CIAAAAAATTT!"
Rangga berlari dengan kecepatan penuh. Sepatunya
berdecit di atas semen. Dia melompat dengan kekuatan penuh.
BUGH!
Prediksi Om Dika 100% akurat. Tubuh gempal Rangga tidak
berhasil melewati tembok. Perutnya menabrak dinding beton dengan sukses,
sementara kedua tangannya menggapai-gapai udara sebelum akhirnya dia merosot
turun ke bawah seperti cicak yang kehilangan daya rekat.
Negosiasi dengan Harimau Oranye
Ajaibnya, kegagalan itu tidak menurunkan kadar
kepercayaan diri Rangga sedikit pun. Dia bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di
bajunya, lalu menatap Om Dika dengan senyum misterius.
Rangga:
"Om lihat tadi? Itu tadi namanya teknik 'Menghitung Kekuatan Lawan'.
Sengaja aku nggak lolos, biar musuh di atas tembok lengah!"
Om Dika:
(Sambil menepuk jidat) "Terserah kamu deh, Rangga. Serah!"
Rangga tidak menyerah. Dia mengambil kursi plastik
milik Ibunya dari teras, menaruhnya di pinggir tembok, lalu naik ke atasnya.
Sekarang posisinya sudah sejajar dengan si Oyen. Kucing oranye itu hanya
menoleh sedikit, menatap Rangga dengan pandangan malas seolah berkata, "Mau apa kau, bocah
manusia?"
Rangga:
"Wahai makhluk berbulu! Aku adalah Rangga, pemegang sabuk hitam spidol!
Menyerahlah dan jadilah hewan peliharaanku yang setia, atau rasakan jurus
pamungkas..."
Rangga mencoba mengelus kepala Oyen dengan gerakan
tangan yang sok dramatis. Namun, si Oyen merasa waktu tidurnya diganggu.
HISSST!
Oyen menegakkan bulu-bulunya, mengeluarkan suara
desisan mengerikan, dan mengangkat satu cakarnya yang tajam di udara.
Runtuhnya Mental Sang Pendekar
Melihat respons sang "harimau" yang ternyata
tidak ramah, nyali Rangga yang tadinya setinggi langit langsung terjun bebas ke
dasar sumur. Kepercayaan dirinya menguap bersama angin sore.
Rangga:
(Suaranya bergetar, badannya mulai kaku di atas kursi) "O-Om Dika...
Kucingnya... kucingnya bisa bahasa monster, Om..."
Om Dika:
"Makanya, turun! Sebelum muka kamu digambar peta buta sama si Oyen!"
Oyen maju satu langkah. Kursi plastik yang dinaiki
Rangga mulai goyah karena kaki Rangga gemetaran.
MEEEEOOOWWW!!
Oyen mengeong keras.
Bagi Rangga, itu adalah suara terompet perang paling
menakutkan abad ini. Saking paniknya, Rangga mencoba melompat mundur dari
kursi, tetapi kakinya tersangkut di lubang tengah kursi plastik tersebut.
BRAAAKK!
Rangga jatuh telentang di atas rumput halaman dengan
kursi plastik yang masih tersangkut di bokongnya, mirip seperti kura-kura yang
salah pasang tempurung.
Rangga:
"HUWAAAAA! OM DIKAAA! TOLONG! AKU DIKUTUK JADI KURSI SAMA KUCINGNYA!
IBUUU... SABUK HITAMNYA MAU COPOT!!"
Rangga menangis sejadi-jadinya sambil berusaha
merangkak di tanah dengan kursi yang masih menempel di belakangnya. Om Dika
yang tadinya mau menolong justru langsung terduduk di lantai sambil memegangi
perutnya yang kram karena tertawa terlalu keras. Ibu Rangga yang mendengar
keributan langsung keluar rumah membawa sapu ijuk, mengira ada tawuran
antar-RT, padahal pelakunya hanyalah seekor kucing dan seorang bocah yang
terlalu percaya diri.
Sore itu, latihan karate Rangga resmi berakhir. Sabuk putih
bertato spidol hitam itu akhirnya dipensiunkan dan kembali menjadi tali jemuran
darurat di belakang rumah.
Bagaimana dengan Anda? Apakah di sekitar rumah Anda ada
anak, keponakan, atau adik yang tingkat percaya dirinya melampaui batas
kewajaran seperti Rangga? Atau jangan-jangan, Anda sendiri yang waktu kecil
pernah merasa punya kesaktian setelah menonton film laga?
Yuk,
ceritakan momen kocak dan menggemaskan tentang bocah "over-pede"
versi Anda di kolom komentar di bawah! Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman
Anda yang anaknya juga lagi hobi teriak "Ciaat!" di rumah!