Misteri Bus "Cepat" yang Ternyata Berjalan Menggunakan Sistem
Kekerabatan dan Hukum Karma
Terminal bus antar-kota di sore hari adalah miniatur
dari sebuah medan pertempuran. Bau asap knalpot beradu dengan aroma tahu
sumedang, sementara suara klakson telolet bersahut-sahutan seperti paduan suara
yang sedang frustrasi.
Hari itu, saya terdampar di Terminal Kampung Rambutan.
Misi saya sederhana: pulang kampung ke kampung halaman untuk menghadiri acara
syukuran rumah baru paman saya. Karena kantong sedang kempes pasca-tanggal tua,
saya memutuskan untuk tidak naik kereta dan beralih ke bus ekonomi. Sebuah
keputusan yang kelak saya sadari telah mengubah cara pandang saya mengenai
konsep "waktu" dan "kesabaran".
Perjumpaan dengan Sang "Agen" Misterius
Baru saja kaki saya melangkah melewati gerbang
kedatangan, tiga orang pria dengan jaket kulit imitasi dan tas pinggang besar
langsung mengepung saya. Mereka bergerak lebih cepat daripada taktik pressing pemain sepak bola
Eropa.
"Mau ke mana, Dek? Bandung? Tasik? Cirebon? Ayo
langsung naik, busnya udah jalan, sisa satu kursi lagi!" seru pria
berambut gondrong, tangannya sudah bersiap menarik ransel saya.
"Eh, mau ke Purwokerto, Bang," jawab saya agak
gugup.
Pria kedua, yang giginya agak tonggos tapi senyumnya
sangat percaya diri, langsung menepuk pundak saya dengan akrab.
"Kebetulan! Itu bus saya, 'Po. Sumber
Bahagia', mesinnya pake jet darat, AC-nya sedingin sikap mantan, dan yang
paling penting: LANGSUNG JALAN! Gak pake ngetem! Ayo, ikut saya!"
Karena terbuai oleh mantra magis bernama "Langsung Jalan", saya
pun pasrah digiring menuju sebuah bus bertuliskan ekonomi-AC. Begitu saya naik,
hati saya langsung mencelos. Bus itu kosong melompong. Hanya ada satu ibu-ibu
yang sedang menyusui anaknya di pojok belakang, dan seorang bapak-bapak yang
sedang tidur nyenyak sambil mendengkur keras.
Saya menoleh ke kondektur yang berdiri di pintu.
"Bang, katanya sisa satu kursi? Kok kosong begini?"
Si kondektur dengan santainya menjawab tanpa dosa,
"Loh, bener kan, Mas? Kalau kosong begini kan berarti semua kursi sisa
buat Masnya. Bebas milih mau duduk di mana. Anggap aja bus pribadi."
Saya hanya bisa mengelus dada. Di terminal, logika
bahasa memang sering kali diputarbalikkan demi kelangsungan ekonomi kreatif.
Tragedi Ngetem Tiga Zaman
Janji "langsung jalan" ternyata adalah sebuah
kebohongan publik yang dilindungi oleh adat istiadat terminal. Bus kami tidak
bergerak selama satu jam berikutnya. Mesinnya memang menyala, tapi posisinya
tetap diam, sementara sang kondektur terus berteriak di pintu mencari penumpang
tambahan.
"Purwokerto... Purwokerto... Ayo, tiga orang lagi
jalan!" teriaknya.
Padahal di dalam bus baru terisi lima orang. Entah
rumus matematika mana yang dia pakai sampai lima orang ditambah tiga orang bisa
memenuhi bus berkapasitas 59 kursi.
Di tengah kebosanan yang hakiki, masuklah seorang penjaja
makanan asongan dengan gaya yang sangat teatrikal. Dia membawa keranjang berisi
tahu, kacang, dan telur puyuh.
"Tahu.. tahu.. tahu anget.. kacang asin.. yang
belum makan silakan makan, yang belum punya pacar silakan meratap," seru
si penjual asongan dengan nada berirama.
Saya yang mulai lapar akhirnya memanggilnya.
"Bang, tahunya lima ribu."
Saat saya sibuk membayar, bapak-bapak yang tadi tidur
di bangku seberang mendadak terbangun. Dia melihat ke luar jendela, lalu
melihat ke arah saya.
"Mas, kita ini udah jalan sampai mana ya?"
tanya si bapak dengan muka bantalnya.
"Belum jalan, Pak. Kita masih di tempat yang sama
waktu Bapak tidur satu jam yang lalu," jawab saya jujur.
Si bapak terdiam sejenak, melihat ke sekeliling bus,
lalu menghela napas panjang.
"Astagfirullah... Saya kira saya tadi mimpi
buruk naik mesin waktu kembali ke masa lalu. Ternyata emang busnya yang gak
maju-maju dari tadi."
Si penjual tahu asongan menimpali sambil menyerahkan
kembalian saya, "Halah, Pak. Naik bus ekonomi itu melatih iman. Kalau
Bapak mau cepat, naik roket aja, itu pun kalau astronotnya gak pake ngetem di
bulan."
Ketika "Keluarga Baru" Terbentuk
Setelah dua jam penuh drama, bus akhirnya terisi
sekitar setengahnya. Sopir bus yang sedari tadi ngopi di warung akhirnya masuk
ke dalam kemudi. Wajahnya garang, ada tato gambar jangkar di lengan kanannya.
Kami para penumpang langsung bersorak dalam hati: Akhirnya, jalan juga!
Namun, kegembiraan itu sirna ketika bus baru berjalan
lima meter keluar dari jalur terminal, lalu... BERHENTI LAGI DI PINGGIR JALAN RAYA.
"Bang! Kok berhenti lagi?!" teriak ibu-ibu di
belakang yang anaknya mulai rewel.
Sopir bus menoleh ke belakang, menatap kami dengan
tatapan teduh seolah-olah dia adalah seorang bapak yang sedang menasihati
anak-anaknya.
"Sabar, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, dan Adik-Adik
sekalian. Di depan ada bus temen saya dari PO sebelah yang bannya bocor.
Penumpangnya mau dioper ke bus kita. Kita ini sesama makhluk aspal harus saling
membantu. Anggap saja ini bagian dari menambah tali silaturahmi
antar-pemudik," ucap sang sopir dengan nada sangat bijak.
Kami semua di dalam bus serentak terdiam. Kami tidak
tahu harus marah atau terharu. Dalam waktu dua jam di terminal, kami yang
tadinya tidak saling kenal, kini disatukan oleh nasib yang sama: menjadi korban
solidaritas sopir bus antar-kota.
Begitu penumpang operan masuk, bus menjadi sangat penuh
dan pengap. AC yang tadinya dijanjikan "sedingin sikap mantan"
ternyata lebih mirip hembusan napas orang yang sedang demam—panas dan
tersengat.
Namun, di situlah keajaibannya. Karena sama-sama
menderita akibat ngetem dan operan, suasana di dalam bus justru menjadi sangat
akrab. Bapak yang hobi tidur mulai membagikan buah jeruknya kepada saya,
ibu-ibu di belakang sibuk meminjamkan minyak kayu putih ke penumpang lain, dan
kami semua menertawakan kelakuan kondektur yang masih saja mencoba mencari
penumpang selipan di sepanjang jalan.
Terminal mungkin adalah tempat yang penuh tipu daya,
calo yang menyebalkan, dan waktu tunggu yang tidak masuk akal. Tapi di balik
semua kekacauan itu, ada sisi humanis yang lucu dan tidak akan pernah Anda
temukan di ruang tunggu bandara yang dingin dan kaku.
Bagaimana dengan Anda?
Apakah Anda punya pengalaman unik, menyebalkan, atau
justru mengocok perut saat berada di terminal bus? Pernahkah Anda terkena jurus
tipu daya calo yang menjanjikan "bus langsung jalan" tapi berujung
ngetem sampai jamuran?
Yuk,
bagikan cerita dan penderitaan lucu Anda di kolom komentar di bawah! Mari kita
saling berbagi tawa atas keajaiban transportasi kelas ekonomi kita!