Tragedi Parkiran Alun-Alun: Ketika Helm Bogo Kesayangan Berubah Menjadi
Helm Proyek Misterius
Bagi seorang pengendara sepeda motor, helm bukan sekadar
alat keselamatan jalan raya untuk menghindari tilang polisi. Lebih dari itu,
helm adalah mahkota, identitas diri, dan terkadang, investasi perasaan.
Bayangkan Anda sudah merawat helm Anda dengan sepenuh hati, mencucinya dengan
parfum aroma vanila sebulan sekali, lalu dalam sekejap mata di sebuah parkiran,
mahkota Anda berubah bentuk.
Kisah nestapa namun penuh komedi ini menimpa Dodi, seorang pemuda yang sangat
bangga dengan helm Bogo berwarna pastel miliknya. Helm itu dilengkapi kaca
cembung retro dan stiker estetik bergambar kucing. Sore itu, Dodi baru saja
selesai nongkrong di sebuah kafe di area Alun-Alun kota yang padatnya minta
ampun.
Namun, saat kembali ke motornya, sebuah kejutan visual
yang membagongkan telah menantinya di atas spion.
Babak 1: Kehilangan Mahkota Estetik
Dodi mematung di samping motor matic-nya. Helm Bogo
merah muda pastel kesayangannya telah raib. Sebagai gantinya, di atas spion
kanan motornya bertengger sebuah helm cetok berwarna hijau lumutan, penuh
goresan seolah habis dipakai bertempur di Perang Dunia Kedua, dan baunya… mirip
minyak rambut kakek-kakek dicampur aroma apek sisa hujan tiga minggu lalu.
Di dekatnya, ada Cak Malik, juru parkir Alun-Alun yang sedang sibuk
menata motor sambil memegang peluit besi di mulutnya.
Dodi:
(Berteriak histeris) “Cak Malik! Cak! Ini ada konspirasi apa di parkiran sampe
helm Bogo estetik saya berubah jadi batok kelapa karatan begini?!”
Cak Malik:
(Menghampiri sambil meniup peluit sekilas) PRRREEEET! “Ono opo to, Mas? Jangan teriak-teriak,
dikira ada razia saya.”
Dodi:
“Lihat ini, Cak! Helm saya tertukar! Helm saya itu warnanya pink lucu, ada
gambar kucingnya. Kenapa sekarang jadi helm proyek peninggalan zaman penjajahan
begini? Siapa yang ngambil?!”
Cak Malik:
(Mengamati helm hijau itu sambil memegang dagu) “Wah… kalau melihat dari garis
desain dan aroma apeknya, ini kayaknya punya Pak subur, tukang jahit yang kiosnya di pojokan
pasar. Tadi dia buru-buru pulang karena katanya istrinya mau melahirkan anak
kelima.”
Babak 2: Pengejaran Demi Harga Diri
Dodi tidak terima. Memakai helm hijau lumut bau apek
itu ke jalan raya sama saja dengan melakukan bunuh diri sosial. Dia bisa
menjadi bahan tertawaan di setiap lampu merah. Akhirnya, dengan sangat
terpaksa, Dodi mengangkat helm itu menggunakan dua jari (karena jijik) dan
memakainya demi menghindari tilang.
Dodi:
“Cak, saya samperin Pak Subur ke kiosnya sekarang. Kalau ketemu yang mawa helm
pink saya, bakal saya interogasi!”
Cak Malik:
“Saran saya, Mas, kalau ketemu Pak Subur, jangan langsung dituduh. Siapa tahu
dia beneran mengira helm pink itu miliknya. Mungkin efek panik anak mau lahir,
matanya mendadak silinder.”
Dodi langsung memacu motornya menuju area pasar. Benar
saja, di depan sebuah kios jahit yang sudah setengah tertutup, terlihat seorang
pria paruh baya—Pak Subur—sedang panik mengunci pintu kios. Dan di atas
kepalanya yang botak sebagian, terpasang dengan manis… sebuah helm Bogo pink
estetik berlogo kucing.
Pemandangan itu sungguh luar biasa kontras. Seorang
bapak-bapak berkumis tebal, berbadan kekar, memakai helm retro remaja
perempuan.
Babak 3: Diplomasi Helm Pink
Dodi langsung mengerem motornya dengan dramatis tepat
di depan Pak Subur.
Dodi:
(Turun dari motor, menunjuk kepalanya sendiri) “Pak! Maaf, Pak! Coba Bapak
ngaca dulu sekarang!”
Pak Subur:
(Kaget, memegang helm pink di kepalanya) “Lho, ada apa, Mas? Saya lagi
buru-buru ini, istri saya sudah bukaan empat!”
Dodi:
“Bapak sadar enggak, helm yang Bapak pakai itu ada gambar kucing lucunya? Dan
warnanya pink, Pak! Pink pastel!”
Pak Subur:
(Mulai meraba-raba kaca cembung helm tersebut, lalu terkejut saat melihat
bayangan dirinya di kaca etalase toko) “Astagfirullah! Demi benang wol dan
jarum jahit… pantesan dari tadi di jalan saya ngerasa dunia saya kok jadi
keliatan lebih imut dan berwarna merah muda. Terus pas saya lewat pangkalan
ojek, diciumin jauh sama sopir truk!”
Dodi:
(Menyodorkan helm hijau lumut) “Nah, ini helm Bapak yang tertinggal di motor
saya. Baunya khas banget, Pak. Bikin pusing tujuh keliling.”
Pak Subur:
(Tertawa terbahak-bahak sampai kumisnya bergetar) “Oalah, Mas! Maaf banget,
maaf! Tadi saya beneran panik dikabari orang rumah. Pas di parkiran, saya asal
sambar aja helm yang ada di atas spion motor yang mirip punya saya. Saya pikir
helm saya kok mendadak jadi wangi vanila begini, saya kira abis dicuciin sama
malaikat.”
Dodi:
(Sambil buru-buru merebut kembali helm Bogo-nya dan menyerahkan helm hijau)
“Lain kali fokus, Pak. Untung yang ketukar helm, coba kalau motornya yang
ketukar, bisa dituduh curanmor kita.”
Pak Subur dengan cepat mengganti helmnya, meminta maaf
sekali lagi sambil menyalami Dodi, lalu menancap gas motornya menuju rumah sakit
dengan helm hijau lumut legendarisnya yang kembali ke tempat asalnya.
Dodi kembali memakai helm Bogo pink-nya dengan perasaan
lega yang tak terkira. Aroma vanilanya memang sudah sedikit tercampur dengan
aroma minyak rambut Pak Subur, tapi setidaknya harga dirinya sebagai pemuda
estetik di jalanan ibu kota telah berhasil diselamatkan.
Bagaimana, Pembaca CERCU? Apakah Anda juga pernah
menjadi korban (atau malah pelaku) dari insiden helm tertukar di parkiran umum?
Apa reaksi paling memalukan yang pernah Anda alami saat menyadari sedang
memakai helm milik orang asing yang ukurannya kekecilan atau baunya luar biasa
ajaib?
Yuk,
tuliskan cerita kocak atau pengalaman kalian seputar barang parkiran yang
tertukar di kolom komentar di bawah! Mari kita berbagi tawa di CERCU!