Sunday, July 12, 2026

Ayah Bilang Kulkas Itu Lagi Puasa, dan Kami Hampir Percaya

 

Ayah Bilang Kulkas Itu Lagi Puasa, dan Kami Hampir Percaya

Setiap keluarga pasti punya satu orang yang kalau ditanya apa saja, jawabannya selalu aneh. Di rumah kami, orang itu adalah Ayah.

Anehnya, Ayah tidak pernah bilang, "Saya tidak tahu."

Kalau ditanya sesuatu, pasti ada jawaban. Mau masuk akal atau tidak, itu urusan belakangan.

Masalahnya, sejak kecil kami terlalu percaya kepada Ayah.

Suatu hari, adik saya membuka kulkas.

"Yah, kok kulkasnya kosong?"

Ayah yang sedang santai membaca koran menjawab tanpa mengangkat kepala.

"Itu kulkas lagi puasa."

Adik mengangguk.

"Oh..."

Saya yang waktu itu sudah SMP menatap heran.

"Kulkas bisa puasa?"

"Bisa. Masa kamu saja bisa, kulkas enggak?"

Saya mulai ragu pada ilmu pengetahuan.

 

Pernah juga saya bertanya tentang bulan.

"Yah, kenapa bulan mengikuti kita kalau naik motor?"

Ayah tersenyum bijaksana.

"Itu karena bulan lagi utang sama Ayah."

"Hah?"

"Iya. Dulu Ayah pinjamkan obeng. Sampai sekarang belum dikembalikan."

Saya menoleh ke bulan.

Pantas saja.

 

Yang paling parah adalah saat listrik padam.

"Ayah, kenapa listrik mati?"

Ayah melihat ke luar rumah.

"PLN lagi main petak umpet."

"Petak umpet?"

"Iya. Dia sembunyi, kita yang nyari."

Kami percaya.

Sampai besoknya di sekolah saya dengan percaya diri berkata kepada teman.

"Kemarin PLN di kampungku lagi main petak umpet."

Guru yang lewat berhenti.

"Siapa yang bilang?"

Saya menjawab dengan bangga.

"Ayah."

Guru menghela napas panjang.

"Oh... ya sudah."

Mungkin beliau tahu melawan logika Ayah itu sia-sia.

 

Ayah juga punya jawaban unik untuk semua kejadian di rumah.

Suatu pagi, ibu kehilangan sendok.

"Pak, sendoknya ke mana?"

Ayah melihat sekeliling.

"Migrasi."

"Migrasi?"

"Iya. Biasanya sendok pindah ke kamar anak-anak."

Kami semua saling melihat.

Benar juga.

Ternyata ada tiga sendok di kamar adik.

Adik panik.

"Itu bukan aku!"

Ayah menunjuk.

"Tuh kan. Bahkan sendoknya malu mengaku."

 

Kalau ada barang hilang, Ayah selalu punya teori.

Remote televisi hilang.

Ayah berkata, "Dia lagi cari jati diri."

Kunci motor hilang.

"Lagi healing."

Kaos kaki sebelah hilang.

"Itu ikut program transmigrasi."

Saya pernah mencoba membantah.

"Yah, masa kaos kaki bisa transmigrasi?"

Ayah santai.

"Coba lihat. Yang kanan ada, yang kiri enggak. Berarti pindah pulau."

Saya menyerah.

 

Suatu malam hujan deras.

Adik bertanya, "Yah, kenapa hujan bunyinya berisik?"

Ayah menjawab, "Itu awan lagi marah."

"Kenapa marah?"

"Tagihan internetnya mahal."

Kami semua diam.

Ibu yang sedang memasak menoleh.

"Pak, jangan ngawur."

Ayah membela diri.

"Memangnya Ibu pernah tanya langsung ke awan?"

Ibu ikut diam.

Ayah menang.

 

Suatu hari saya pulang membawa nilai ujian yang jelek.

Ayah melihat rapor.

"Ini nilai matematika kenapa?"

"Susah, Yah."

Ayah mengangguk.

"Wajar."

"Lho?"

"Dulu Ayah juga begitu."

Saya lega.

"Tapi Ayah sekarang sukses."

Ayah tersenyum.

"Itu karena guru matematika sudah pensiun."

Saya tidak tahu hubungan keduanya.

 

Yang paling lucu adalah saat Ayah ditanya teknologi.

Tetangga baru membeli ponsel mahal.

"Apa bedanya dengan HP biasa, Pak?"

Ayah menjawab mantap.

"Kalau HP mahal itu baterainya lebih pintar."

"Maksudnya?"

"Dia tahu kapan harus habis."

Tetangga mengangguk.

"Oh..."

Saya ingin menyela.

Tapi saya lihat tetangga itu tampak percaya.

Biarlah.

Korban teori Ayah bertambah satu.

 

Suatu hari, ibu menyuruh Ayah membeli cabai di pasar.

Ayah pulang membawa tomat.

Ibu bingung.

"Pak, saya suruh beli cabai!"

Ayah tenang.

"Tadi cabainya lagi enggak ada."

"Jadi beli tomat?"

"Kasihan. Dia sendirian."

Ibu memijat pelipis.

"Pak, tomat enggak bisa menggantikan cabai."

"Bisa."

"Gimana caranya?"

"Ditutup mata."

Saya dan adik hampir tersedak minum.

 

Pernah juga Ayah mencoba menjadi ahli kesehatan.

Saya batuk.

"Ayah, obat batuknya mana?"

Ayah berkata, "Enggak usah."

"Lho?"

"Batuk itu latihan."

"Latihan apa?"

"Supaya paru-paru enggak kaget kalau karaoke."

Ibu langsung datang membawa obat.

"Minum ini."

Ayah menggeleng.

"Itu mengganggu proses latihan."

Ibu menatap Ayah.

"Kalau begitu, nanti makan malam juga latihan."

"Latihan apa?"

"Latihan lapar."

Ayah langsung mengambil obat batuk.

"Sebetulnya kesehatan itu penting."

 

Puncak dari semua jawaban aneh Ayah terjadi minggu lalu.

Kami sedang makan malam.

Lampu ruang makan didatangi seekor cicak.

Adik bertanya.

"Yah, kenapa cicak enggak pernah jatuh?"

Ayah tersenyum.

"Itu karena dia bayar cicilan gravitasi."

Saya hampir menjatuhkan sendok.

"Cicilan gravitasi?"

"Iya."

"Gimana bayarnya?"

"Pakai nyamuk."

Adik mengangguk kagum.

"Wah..."

Saya protes.

"Yah, jangan asal!"

Ayah menunjuk saya.

"Kamu tahu jawabannya?"

"Enggak."

"Nah. Berarti jawaban Ayah masih unggul."

Saya tidak bisa membantah.

Logika Ayah memang aneh.

Kalau tidak ada jawaban lain, otomatis jawaban Ayah yang menang.

 

Malam itu, saya duduk berdua dengan Ayah di teras.

Saya bertanya serius.

"Yah, sebenarnya Ayah tahu semua jawaban itu dari mana?"

Ayah tersenyum.

"Dari pengalaman."

"Pengalaman apa?"

"Pengalaman jadi ayah."

"Maksudnya?"

"Dulu waktu kamu kecil, kamu tanya seratus pertanyaan sehari. Kalau Ayah jawab 'enggak tahu', nanti pertanyaan berikutnya lebih banyak."

"Jadi Ayah mengarang?"

"Sedikit."

"Sedikit?"

"Ya... sekitar sembilan puluh delapan persen."

Kami berdua tertawa.

Ternyata selama ini Ayah memang tidak selalu punya jawaban yang benar.

Tapi Ayah selalu punya jawaban yang membuat kami tertawa.

Dan mungkin itu yang membuat rumah terasa hidup.

Sampai sekarang pun, kalau ada masalah di rumah, kami tetap bertanya kepada Ayah.

Bukan karena kami yakin jawabannya benar.

Melainkan karena kami penasaran...

Jawaban aneh apa lagi yang akan keluar.

Dan jujur saja, hidup terasa lebih seru punya ayah yang percaya bahwa kulkas bisa puasa, sendok suka migrasi, kaos kaki ikut transmigrasi, dan cicak membayar cicilan gravitasi dengan nyamuk.

Kalau di keluarga Anda, siapa orang yang selalu punya jawaban paling aneh, dan jawaban kocak apa yang paling sulit Anda lupakan?