Menguak Misteri "Pak Bambang": Driver Ojol yang Punya Enam Nyawa
dan Indra Keenam
Pernahkah Anda merasa bahwa hidup Anda terlalu tenang, membosankan, dan
butuh sedikit percikan adrenalin? Jika iya, saran saya hanya satu: jangan pergi
bungee jumping atau skydiving. Biayanya mahal. Cukup buka
aplikasi transportasi online Anda pada jam sibuk, lalu pasrahkan nasib
Anda pada algoritma.
Hari itu, hari Selasa jam 5 sore, langit Jakarta sedang merajuk. Mendung
hitam menggantung, sekental kuah soto lamongan langganan saya. Saya yang baru
saja menyelesaikan rapat melelahkan dengan bos—yang otaknya tampaknya juga
sedang mendung—hanya ingin satu hal: cepat sampai ke kosan untuk
berguling-guling di kasur.
Saya menekan tombol Order. Lima detik kemudian, layar ponsel saya
berkedip. Driver ditemukan: Bambang. Rating: 4.2.
Jujur, melihat rating 4.2 di era sekarang itu rasanya seperti melihat
nilai rapor merah di sekolah. Ada rasa cemas yang menggelitik lambung. Namun,
karena gerimis mulai turun dan demi menghemat waktu, saya abaikan firasat buruk
itu. Saya tidak tahu bahwa keputusan itu akan membawa saya ke sebuah perjalanan
spritual yang menguji iman dan ketahanan fisik.
Detik-Detik Menuju "Maut"
Sebuah motor bebek yang suaranya mirip mesin parutan kelapa tua berhenti di
depan saya. Sang pengemudi, seorang pria paruh baya dengan jaket hijau yang
warnanya sudah memudar menjadi agak kekuningan, menatap saya dengan pandangan
tajam. Kumisnya tebal, setebal tekad saya untuk pulang.
"Mas Aldo, ya?" tanyanya dengan suara berat, mirip pengisi suara
film horor tahun 80-an.
"Iya, Pak Bambang. Ke Pancoran, ya," jawab saya sambil menerima
helm yang disodorkan.
Saat saya memegang helm tersebut, saya menyadari satu hal: kaca helmnya
sudah tidak ada, dan talinya diikat menggunakan karet gelang.
"Pak, ini helmnya aman?" tanya saya agak ragu.
Pak Bambang terkekeh. Suaranya terdengar seperti aspal kering yang digilas
ban tronton.
"Halah, Mas. Aman itu kan cuma konsep pikiran. Yang penting niatnya.
Ayo naik, sebelum hujan turun membawa kenangan."
Saya termangu. Baru semenit kenal, saya sudah disuguhi kutipan filosofis
kelas tinggi. Saya pun naik. Dan petualangan yang sesungguhnya pun dimulai.
Dialog di Atas Kecepatan Cahaya
Begitu transmisi motor diinjak ke gigi satu, motor itu melesat seperti roket
peluncur satelit. Saya tersentak ke belakang, hampir saja terjungkal jika tidak
refleks memegang behel motor yang untungnya masih kokoh.
Pak Bambang tidak berkendara di atas aspal; dia seperti sedang berdansa di
atas penderitaan saya. Dia meliuk-liuk di antara sela-sela mobil dengan
kecepatan yang membuat malaikat pencatat amal harus bekerja lembur.
"Pak! Pak Bambang! Tolong pelan-pelan sedikit, Pak! Saya belum
nikah!" teriak saya sekuat tenaga, melawan angin yang menghantam wajah
saya karena helm tanpa kaca ini.
Pak Bambang menoleh ke belakang—YA, DIA MENOLEH KE BELAKANG SAAT MOTORNYA
MELAJU 80 KM/JAM DI TENGAH KEMACETAN!
"Tenang, Mas! Saya sudah narik ojek dari zaman motor masih pakai bahan
bakar minyak tanah! Jalanan ini sudah saya hafal di luar kepala!" balas
Pak Bambang berteriak.
"Tapi saya gak mau mati di luar kepala Bapak! Pak, depan ada mobil
ngerem!"
Ciiiiiiitttt!
Rem motor berdecit nyaring. Jarak antara spakbor depan motor Pak Bambang
dengan bemper mobil di depan kami mungkin hanya setebal selembar tisu basah.
Jantung saya rasanya sudah pindah ke dengkul.
"Tuh, kan, Mas? Nggak kena," ucap Pak Bambang santai, seolah baru
saja menyelesaikan trik sulap tingkat RT. "Lagian, Mas Aldo tahu gak
kenapa saya suka ngebut?"
"Kenapa, Pak? Kebelet?" tanya saya sambil berusaha mengatur napas
yang tersengal-sengal.
"Bukan. Kalau kita lambat, kita cuma jadi penonton di jalanan. Kalau
kita cepat, kita yang menentukan alur cerita," jawabnya mantap sambil
kembali menarik gas sedalam-dalamnya.
Saya hanya bisa pasrah. Di dalam hati, saya mulai mengabsen dosa-dosa masa
kecil, mulai dari hobi mencuri mangga tetangga sampai pura-pura lupa bayar
gorengan di kantin kampus.
Menembus Dimensi Lain
Cobaan belum selesai. Ketika kemacetan di jalan utama makin tidak masuk
akal, Pak Bambang mengambil keputusan ekstrem yang hanya berani diambil oleh
orang-orang berjiwa petualang atau mereka yang sudah bosan hidup. Dia berbelok
ke sebuah gang sempit.
Gang itu sangat sempit, mungkin lebarnya hanya pas untuk satu setengah
motor. Di kanan-kiri ada jemuran warga, pot bunga, dan beberapa ekor kucing
yang sedang nongkrong.
"Pak, ini gang buntu bukan?" tanya saya cemas.
"Bukan buntu, Mas. Ini namanya 'Jalur Sutra' alternatif. Cuma ojol-ojol
terpilih yang tahu," klaim Pak Bambang bangga.
Tiba-tiba, dari arah depan, muncul motor lain yang juga melaju kencang.
Posisi kami benar-benar adu banteng. Saya sudah memejamkan mata, bersiap
mendengarkan bunyi benturan keras. Namun, yang terjadi justru di luar nalar
manusia normal.
Pak Bambang sedikit memiringkan motornya, menaiki pembatas selokan yang
lebarnya tak lebih dari 10 sentimeter dengan keseimbangan layaknya atlet sirkus
profesional. Motor kami melesat melewati motor lawan tanpa lecet sedikit pun,
meski wajah saya sempat tersabet celana kolor motif beruang yang sedang dijemur
di pinggir gang.
"Astagfirullah, Pak! Saya hampir ketularan wangi bayklin!" seru
saya, mengusap wajah yang baru saja "diberkati" oleh jemuran warga.
Pak Bambang hanya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Anggap saja itu wewangian gratis dari alam, Mas! Hidup itu
harus dinikmati, jangan tegang terus kayak tali jemuran tadi!"
Akhir dari Sebuah "Perjalanan Spiritual"
Setelah 20 menit yang terasa seperti 20 tahun cahaya, motor bebek Pak
Bambang akhirnya berhenti dengan selamat di depan gerbang kosan saya. Begitu
turun, kaki saya gemetar hebat seperti ponsel yang sedang di-mote vibrate.
Saya melepas helm "karet gelang" itu dan menyerahkannya kembali
kepada sang legenda. Pak Bambang tersenyum ramah, wajahnya tampak sangat
bercahaya, atau mungkin itu hanya efek keringat dingin di mata saya yang
membuat pandangan agak kabur.
"Gimana, Mas? Cepat, kan? Gak sampai setengah jam," katanya sambil
menunjukkan deretan giginya.
"Iya, Pak. Cepat banget. Terima kasih banyak. Saya berasa baru saja
lolos dari lubang jarum," kata saya sambil menyerahkan uang pas plus tip
yang cukup besar—sebagai bentuk rasa syukur karena saya masih diizinkan
menghirup oksigen di bumi.
Pak Bambang menerima uang itu, lalu memberikan hormat dua jari yang sangat
ikonik. "Sama-sama, Mas Aldo. Ingat kata saya tadi ya: jalanan itu keras,
tapi kalau kita punya nyali, jalanan yang bakal mengalah sama kita. Bintang limanya
jangan lupa ya, Mas!"
Sebelum saya sempat membalas, Pak Bambang sudah menancap gasnya kembali.
Motor bebeknya melesat, membelah rintik hujan, dan menghilang di belokan gang,
meninggalkan saya yang masih berdiri termangu sambil memandangi sisa-sisa trauma
di telapak tangan saya yang memutih.
Sampai hari ini, setiap kali saya melihat driver dengan rating
di bawah 4.5, saya tidak lagi merasa takut. Saya justru merasa penasaran:
"Apakah ini muridnya Pak Bambang?" Karena bagi saya, pengalaman naik
ojek sore itu bukan lagi sekadar urusan transportasi, melainkan sebuah ujian
nyali dan komedi kehidupan yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.
Bagaimana dengan Anda?
Pernahkah Anda mendapatkan driver ojek online yang punya cara
berkendara "ajaib" atau punya kepribadian unik seperti Pak Bambang?
Apakah Anda tipe penumpang yang pasrah berdoa atau justru yang sibuk menegur
sepanjang jalan?
Yuk, bagikan cerita pengalaman naik ojek paling tak terlupakan versi Anda
di kolom komentar di bawah ini! Siapa tahu ada yang lebih ekstrem dari kisah
"Jalur Sutra" Pak Bambang!