Thursday, September 10, 2026

Ganti Tren Setiap Minggu, Tapi Isi Dompet Tetap Sama: Kisah Korban Abadi yang Selalu Ketinggalan Zaman atau Selalu Kebanyakan Gaya?

 

 “Ganti Tren Setiap Minggu, Tapi Isi Dompet Tetap Sama: Kisah Korban Abadi yang Selalu Ketinggalan Zaman atau Selalu Kebanyakan Gaya?”

Sinopsis kilat:
Tiga sahabat—Vina (25 tahun, pemburu tren abadi yang rela jual ginjal demi mengikuti apa pun yang viral), Dani (sahabat logis yang hobi mengingatkan bahwa dompet tidak percaya pada tren), dan Rere (si korban yang selalu ikut-ikutan Vina meskipun akhirnya menyesal)—terjebak dalam siklus gila: dance TikTok, beli kopi dalgona, bikin slime, sampai pake sepatu renang untuk jalan-jalan (karena tren "barefoot shoe" yang aneh). Hasilnya? Dompet kurus, kamar penuh barang bekas tren, dan mereka bertiga lebih lelah dari kuli panggul.

Setting:
Ruang tamu Vina. Berantakan. Terlihat: botol kopi dalgona yang sudah mengering, slime lengket di sofa, sepatu renang (barefoot shoe) tergeletak, dan sebuah kamera ring light yang sudah tidak dipakai sejak tren "aesthetic mirror selfie" berlalu.

 

Babak 1: Flashback: Awal Mula Kehancuran

(Vina duduk bersila di lantai sambil scroll TikTok. Matanya seperti kucing ngeliat ikan asin. Dani dan Rere duduk di sofa dengan ekspresi was-was.)

Vina (teriak histeris):
"GILA! TREN BARU, GUYS! Nih, coba lihat! Semua orang lagi bikin 'Ice Cube Challenge'. Kita harus ikut! Kita beli es batu raksasa, terus kita potret sambil duduk di atasnya. Aesthetic banget!"

Dani (tanpa mengalihkan pandangan dari HP):
"Vina, minggu lalu lo maksa beli dalgona coffee. Lo beli mixer, kopi mahal, gula aren, susu oat. Sekarang mixernya berdebu di dapur, kopinya cuma kepake sekali. Lo minumnya nggak tahan, katanya 'kegatelan'."

Vina (mengacuhkan):
"Itu beda, Dan. Dalgona itu so last week. Sekarang zamannya Ice Cube Challenge. Rere, setuju kan?"

Rere (bengong, lagi main slime bekas tren dua bulan lalu):
"Iya... eh, enggak. Gue sih ikut aja, Vin. Tapi tolong, jangan yang mahal. Terakhir beli slime 100 ribu, sekarang lengket di rambut gue."

Vina (sudah membuka aplikasi belanja online):
"Nih, ada es batu raksasa ukuran 50 cm cuma 300 ribu! Free ongkir!"

Dani (hampir jatuh dari sofa):
"300 RIBU?! Buat es batu?! Lo bisa belanja sembako seminggu, Vin!"

Vina (menghela napas dramatis):
"Tapi ini untuk konten, Dan. Untuk engagement. Untuk viral. Nanti kalau gue terkenal, kita bisa hidup dari endorse."

Rere (bergumam):
"Endorse apaan? Es batu?"

 

Babak 2: Ice Cube Challenge: Gagal Total

(Beberapa hari kemudian. Es batu raksasa sudah datang. Bentuknya... lucu. Tidak persegi. Lebih mirip gunung es yang kelewat mencair.)

Vina (berpose di samping es, menggunakan jaket tebal meskipun cuaca panas):
"Oke, Rere, fotoin gue dari sudut rendah. Biar keliatan dramatis. Kayak lagi di Kutub Utara."

Rere (memegang HP, grogi):
"Vin, esnya udah mulai meleleh. Lantai lo basah semua."

Dani (duduk santai sambil minum es teh):
"Itu esnya 300 ribu? Bentuknya kayak bongkahan batu kali. Udah, daripada difoto mending dipake buat dinginin minuman."

Vina (mulai duduk di atas es):
"Awasin, ya. Gue naik. Rere, siap-siap jepret. Tiga... dua... satu..."

(Vina duduk di atas es. Ekspresinya berubah dari glamour jadi horror. Esnya licin. Vina mulai melorot. Pantatnya basah.)

Vina (teriak):
"AAA... GESER! RERE JEPRET! JANGAN DIAM!"

Rere (panik, jepret asal-asalan):
"Udah! Udah! Tiga foto!"

(Vina berdiri. Celana jeansnya basah total. Esnya retak jadi dua. Lantai seperti habis banjir.)

Vina (melihat hasil foto):
"Ini fotonya burem, Rere! Muka gue kayak orang kesurupan!"

Rere:
"Ya elah, Vin. Lo minta foto pas lo jatuh. Mau kaya gimana?"

Dani (tertawa sampai nangis):
"Gue rekam videonya, Vin. Kirim ke grup keluarga ya? Biar rame."

Vina (mencabut HP dari tangan Dani):
"JANGAN! Gue nggak mau jadi meme 'Cewek Es Batu'."

(Akhirnya, es batu 300 ribu rupiah itu berakhir di ember. Meleleh. Tidak ada yang viral kecuali video gagal yang direkam Dani. Vina menghela napas panjang.)

 

Babak 3: Dance Challenge: Sarana Mempermalukan Diri di Depan Umum

(Minggu berikutnya. Vina sudah move on. Tren baru: dance challenge "Sweat It Out" yang katanya bakal bikin terkenal dalam 24 jam.)

Vina (nunjuk ke layar HP):
"Lihat! Tariannya simpel! Cuma gerak-gerak kayak orang lagi nyetrika sambil naik turun tangga. Kita rekam di taman kota biar background-nya keren."

Dani (mengerutkan dahi):
"Lo yakin? Terakhir lo ikut dance challenge, pos-posan lo nendang ember tetangga. Hampir kena laporan polisi."

Rere (masih trauma):
"Gue jadi inget, pas challenge 'Joget Poci', lo memekik-mekik kayak ayam mau dipotong. Video lo malah dipake buat scare prank."

Vina (tidak menyerah):
"Kali ini beda! Kita latihan dulu di sini. Rere, pegang HP. Dani, hitung hitungan."

(Vina mulai berjoget. Gerakannya kaku. Tangan seperti orang meremas adonan, kaki seperti kuda lumping.)

Dani (memberi semangat palsu):
"Keren, Vin. Lo kayak robot kehabisan baterai. Itu signature moves, mungkin?"

Vina (mengatur napas):
"Oke, sekarang kita ke taman. Aksi nyata!"

(Di taman kota. Banyak orang. Vina memutar musik dari speaker. Dia mulai menari. Sayangnya, gerakannya tidak sinkron dengan irama. Anak-anak kecil berhenti main. Ibu-ibu arisan menatap heran. Seorang bapak-bapak merekam dengan senyum sinis.)

Bapak-bapak (dari kejauhan):
"Neng, itu tarian daerah apa? Kayak orang kena kejutan listrik."

Vina (berkeringat, masih berusaha):
"Ini dance challenge, Pak! Lagi viral!"

Bapak itu:
"Viral ampe masuk rumah sakit jiwa?"

(Rere dan Dani sudah tidak kuat menahan tawa. Mereka memeluk perut masing-masing.)

Rere:
"Vin, mending stop. Kita lari. Video lo udah direkam setengah RT."

Vina (mematikan musik):
"Oke, besok kita coba tren baru aja."

 

Babak 4: Barefoot Shoes: Puncak Kegilaan

(Tren terbaru: sepatu yang konon "seperti berjalan tanpa alas kaki, tapi tetap terlindungi". Vina membelinya online. Harga: 500 ribu.)

Dani (melihat sepatu tersebut dengan penuh kebencian):
"Ini sepatu? Kayak sarung tangan buat kaki. Lo bisa lari diatas pecahan kaca katanya? Gue sih ragu."

Vina (memakainya dengan bangga):
"Ini teknologi, Dan! Lo nggak ngerti. Nanti kalau kita jalan-jalan di pantai, kerikil nggak akan sakit."

Rere (mencoba memakai):
"Aneh, Vin. Kayak gue pake stoking tebel. Rasanya... kaki gue keringetan tapi bebas."

(Mereka bertiga memutuskan jalan-jalan di taman berbatu. Vina melompat-lompat kecil.)

Vina:
"Lihat! Nggak sakit kan?"

Dani (masih pakai sandal jepit biasa):
"Lo lompat kayak katak stres, Vin. Tapi terserah."

(Tiba-tiba, Vina menginjak batu tajam. Wajahnya berubah. Dari bahagia jadi... rasa sakit yang luar biasa.)

Vina (menahan teriakan):
"AAAA... TAPI INI SEHARUSNYA TIDAK TERJADI!"

Rere (membantu Vina duduk):
"Kan udah bilang, Vin. Teknologi kadang bohong."

(Vina melepas sepatunya. Kakinya berdarah kecil. Sepatu 500 ribu itu ternyata tidak sekuat yang diklaim.)

Dani (santai):
"Selamat datang di dunia nyata, Vin. Tren itu kaya es krim: manis di awal, lumer di akhir, dan bikin sakit perut kalau kebanyakan."

 

Akhir: Epilog Kesadaran

(Beberapa bulan kemudian. Vina sudah tidak lagi mengejar tren. Ruang tamunya bersih. Slime, es batu raksasa, dan barefoot shoes sudah masuk lemari bawah tempat debu.)

Vina (duduk santai, minum air putih dari gelas biasa):
"Gue sadar sesuatu, guys. Tren itu cuma ilusi. Hari ini viral, besok dilupakan. Gue buang duit, waktu, dan tenaga buat hal yang nggak berarti."

Dani (mengacungkan jempol):
"Akhirnya. Lo sadar setelah 10 tren gagal. Tapi nggak apa. Lebih telat daripada nggak sama sekali."

Rere (sambil main kucing):
"Jadi sekarang kita ikut tren apa, Vin?"

Vina (tersenyum):
"Tren jadi diri sendiri. Nggak usah ikut-ikutan. Hidup lebih tenang. Dompet lebih aman. Mental lebih stabil."

(Mereka bertiga tertawa. Tidak ada kamera. Tidak ada ring light. Tidak ada konten. Hanya tiga orang yang akhirnya sadar bahwa menjadi up to date itu melelahkan, dan menjadi dir sendiri itu gratis.)

 

Pesan moral ala CERCU:
Tren di media sosial itu seperti hubungan toxic: memaksa kita terus berubah, menguras uang dan energi, dan pada akhirnya, meninggalkan kita sendirian dengan penyesalan. Lebih baik kita jadi penonton yang bijak daripada pemain yang bangkrut. Karena tren akan berlalu, tapi utang (dan malu) akan tetap tinggal.

 

❓ Pertanyaan untuk pembaca CERCU:

Tren apa yang paling absurd yang pernah kalian ikuti dan sekarang kalian sesali? Atau sebaliknya, tren apa yang kalian pilih untuk tidak diikuti dan ternyata itu keputusan terbaik dalam hidup? Share cerita "perburuan tren" paling konyol versi kalian di kolom komentar!

Bonus poin kalau kalian punya saran: bagaimana caranya membedakan tren yang worth it dan yang cuma gimmick semata. Karena di era digital ini, menjadi fomo itu mahal, tapi menjadi bijak itu gratis. 😂

— CERCU: Cerita Lucu dari Kejar Tayang, Dompet Tipis, dan Mental Jebol.