Misteri Hilangnya Pisang Goreng Terakhir di Warung Kopi Cak Kumis
Tokoh:
·
Cak Kumis (50 tahun): Pemilik warung kopi
(warkop) yang kumisnya baplang, tegas, tapi aslinya pelawak terpendam.
·
Dono (28 tahun): Pelanggan setia,
pengangguran intelek yang kalau bicara selalu sok ilmiah padahal zonk.
·
Kasno (30 tahun): Sahabat Dono, tipe
orang yang "otaknya telat mikir" (buffering-nya lama) tapi
hobi makan.
Aroma kopi hitam dan aroma gorengan hangat menyatu dengan sempurna di Warkop
Cak Kumis sore itu. Kipas angin dinding berputar dengan suara derit yang khas,
seolah ikut mengeluhkan cuaca luar yang panasnya minta ampun. Di sudut meja panjang,
Dono dan Kasno sedang duduk menghadapi segelas kopi masing-masing.
Di tengah meja, ada sebuah piring plastik hijau yang menjadi pusat perhatian
dunia. Di atas piring itu, teronggok sepotong pisang goreng yang sangat
menggoda: ukurannya tebal, warnanya kuning keemasan, dan krispi luarnya masih
terlihat berkilau karena minyak hangat.
Itu adalah pisang goreng terakhir hari ini.
Dono berdeham, memecah keheningan. "Kas, secara sosiologis dan
psikologis, orang yang mengambil makanan terakhir di tempat umum itu
menunjukkan mentalitas yang egois. Kita harus melatih menahan diri."
Kasno berkedip lambat. Matanya tidak lepas dari pisang goreng. "Don,
tapi secara biologis, perutku sudah demo dari tadi. Cacing di dalam sini sudah
bawa spanduk 'Butuh Karbohidrat Now'."
Cak Kumis yang sedang mengelap gelas di balik meja kasir menyahut,
"Halah, gayamu sosiologis-biologis, Don! Bilang saja kamu mau pisang
goreng itu tapi gengsi karena dari tadi sudah habis lima biji!"
"Wah, Cak Kumis menghina kapasitas lambung saya," protes Dono
sambil membenarkan letak kacamatanya. "Saya ini sedang melakukan observasi
mendalam tentang etika kuliner warkop."
Suasana mendadak tegang ketika sebuah lalat hijau terbang berputar-putar di
atas pisang goreng tersebut. Baik Dono maupun Kasno langsung memasang posisi
siaga satu, siap menghalau sang lalat demi keselamatan aset berharga mereka.
"Kas, jangan bergerak. Ada pergerakan musuh di sektor udara,"
bisik Dono tegang.
"Siap, Komandan. Tapi tanganku sudah gatal mau eksekusi
pisangnya," balas Kasno dengan volume suara yang sama pelannya.
Setelah lalat itu pergi, perang dingin kembali berlanjut. Dono mulai
melancarkan taktik negosiasi licik.
"Begini saja, Kas. Untuk menentukan siapa yang paling berhak atas
pisang goreng terakhir ini, kita harus mengadakan cerdas cermat kilat. Siapa
yang bisa jawab pertanyaan ilmiah saya, dia yang makan," usul Dono,
tersenyum penuh kemenangan karena tahu Kasno paling lemah dalam urusan mikir.
Kasno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh, jangan yang
susah-susah, Don. Otakku ini tipenya Low Spec, belum di-upgrade ke Core
i7."
"Tenang, ini gampang. Pertanyaannya: Kenapa ayam kalau berkokok matanya
merem?" tanya Dono bangga.
Kasno terdiam. Ia menatap langit-langit warkop seolah ada jawaban tertulis
di sana. Satu menit berlalu. Dua menit berlalu. Proses loading di otak
Kasno tampaknya berjalan sangat lambat.
"Karena... karena dia malu dilihat sama ayam betina?" tebak Kasno
asal.
"Salah! Jawabannya: karena ayam sudah hafal teks suaranya! Jadi tidak
perlu baca teks lagi sambil merem juga bisa!" seru Dono sambil tertawa
terpingkal-pingkal atas lelucon garingnya sendiri. "Nah, karena kamu
salah, berarti pisang goreng ini sah menjadi milik—"
Tangan Dono menjulur ke arah piring hijau. Namun, jarinya hanya menyentuh
udara kosong.
Piring hijau itu sudah bersih. Pisang goreng terakhir yang legendaris itu
telah lenyap tanpa bekas.
Dono dan Kasno langsung melotot. Mereka menoleh serentak ke arah Cak Kumis.
Di balik meja, Cak Kumis sedang mengunyah sesuatu dengan santai. Mulutnya penuh,
dan ada sedikit remahan tepung krispi yang menempel di kumis tebalnya. Dengan
santai, Cak Kumis menyeruput sisa kopi di gelasnya sendiri.
"Cak!!! Pisang gorengnya mana?!" teriak Dono terpukul.
"Nyam... nyam... sudah di dalam lambungku, Don. Secara biologis, sudah
bercampur dengan asam lambung," jawab Cak Kumis tanpa dosa, menirukan gaya
bahasa Dono tadi.
"Kok dicemil sendiri, Cak? Kan kami lagi kompetisi buat dapetin
itu!" protes Kasno, yang kali ini proses berpikirnya mendadak sangat cepat
kalau urusan makanan hilang.
Cak Kumis melipat kain lapnya, lalu berkacak pinggang. "Heh, kalian
berdua dari tadi debat, tebak-tebakan, bahas teori konspirasi ayam merem, tapi
tidak ada satu pun yang angkat tangan bilang 'Cak, saya beli pisangnya'. Malah
didiamkan sampai dingin!"
"Ya tapi kan..." Dono mencoba membela diri.
"Tidak ada tapi-tapi! Di warkop ini berlaku hukum rimba kuliner: Siapa
yang bayar, dia yang dapat. Siapa yang telat, gigit jari! Lagipula,
daripada lalat hijau tadi yang makan gratis, mending Owner-nya sendiri yang
mengamankan," kata Cak Kumis sambil tertawa puas.
Dono dan Kasno hanya bisa lemas, saling pandang dengan tatapan meratapi
nasib. Mereka sadar, seilmiah apa pun argumennya, tetap akan kalah telak oleh
penguasa mutlak warkop yang memegang kendali atas inventaris gorengan.
"Ya sudah, Cak... bikin kopi satu lagi sama pisang gorengnya goreng
baru dong," ujar Kasno pasrah.
"Goreng baru? Wah, sudah habis adonannya. Adanya tinggal bakwan kemarin
sore, mau?" tanya Cak Kumis sambil menunjuk bakwan yang sudah sekeras batu
bata.
Dono menghela napas panjang. "Nasib... nasib. Kuliah tinggi-tinggi,
kalah cepat sama kumis baplang."
Pertanyaan untuk Pembaca: Pernah tidak kalian mengalami
"perang dingin" memperebutkan potongan makanan terakhir dengan teman sendiri
di warung kopi atau tempat makan? Siapa yang biasanya jadi pemenang: yang modal
mikir, yang modal nekat, atau malah pemilik warungnya yang langsung eksekusi?
Tulis cerita seru dan kocak kalian di kolom komentar bawah, ya!