Konspirasi Ayunan Berdecit dan Tragedi Celana Robek di Taman Ria
Taman bermain kompleks perumahan biasanya menjadi tempat
yang penuh dengan tawa anak-anak, hembusan angin sore yang sejuk, dan para ibu
yang asyik bergosip sambil menyuapi anak mereka. Namun sore itu, Taman Bermain
"Suka Cita" mendadak berubah menjadi arena pertempuran mental bagi
seorang pria berusia tiga puluh tahun bernama Rian.
Rian adalah seorang paman yang malang. Dia dijebak oleh
kakaknya untuk menjaga keponakannya yang super aktif, Boni (6 tahun).
Bagi Rian, taman bermain bukan tempat rekreasi,
melainkan tempat ujian fisik tingkat internasional. Baru tiga puluh menit di
sana, napas Rian sudah tersengal-sengal seperti orang habis maraton melintasi
gurun Sahara.
"Paman Rian! Ayo kejar Boni! Paman payah, larinya
kayak kura-kura pakai rem tangan!" teriak Boni sambil bergelantungan di monkey bar (tangga monyet)
dengan lincah.
Rian bertumpu pada lututnya, menyeka keringat yang
bercucuran. "Boni... tolong... kasihanilah sendi-sendi Paman yang sudah
berumur ini. Kita duduk saja yuk, main tebak-tebakan atau main HP?"
"Enggak seru! Detektif tidak boleh duduk!"
balas Boni (yang tampaknya masih terpengaruh hobi lamanya minggu lalu).
Jebakan Maut Bernama Perosotan
Boni melompat turun dari tangga besi dengan mulus, lalu
berlari menuju perosotan plastik berwarna merah terang. Masalahnya, perosotan
itu didesain untuk anak-anak balita, bukan untuk pria dewasa dengan berat badan
hampir delapan puluh kilogram.
Boni:
"Paman! Kalau Paman berani, Paman harus meluncur dari sini. Kalau enggak
berani, berarti Paman kalah!"
Rian:
"Boni, logika kamu di mana? Itu perosotan sempit banget. Kalau Paman
masuk, yang ada pamannya nyangkut, terus perosotannya berubah fungsi jadi
celana ketat Paman."
Boni:
"Ah, Paman cemen! Bilang aja takut sama hantu perosotan!"
Mendengar kata "cemen" dari anak kecil
berumur enam tahun, harga diri Rian sebagai seorang pria dewasa langsung koyak
berkeping-keping. Di sekitar mereka, beberapa ibu-ibu yang sedang menyuapi anak
mulai menoleh dan berbisik-bisik. Rian merasa tertantang.
Rian:
"Siapa yang takut? Minggir kamu, biar Paman tunjukkan cara meluncur
profesional tingkat olimpiade!"
Rian dengan susah payah memanjat tangga perosotan yang
bergoyang-goyang menerima bebannya. Ketika sampai di atas, dia baru sadar kalau
permukaannya sangat sempit. Tapi nasi sudah menjadi bubur, harga diri harus
dipertahankan di depan publik taman bermain.
Rian memosisikan dirinya. Dia menarik napas
dalam-dalam, lalu membiarkan tubuhnya meluncur ke bawah.
Sreeeeeet...
JEDUG!
Sesuai prediksi akal sehat (yang tadi sempat hilang),
tubuh Rian berhenti tepat di tengah-tengah perosotan. Pinggulnya terjepit
dengan sukses di antara dinding plastik.
Rian:
"Boni... tolong Paman..."
Boni: (Melihat
dengan mata berbinar) "Wah, Paman hebat! Bisa berubah jadi sumbat
perosotan!"
Rian:
"Ini bukan sulap, Boni! Paman nyangkut! Dorong Paman dari atas!"
Boni dengan polosnya naik ke atas perosotan lalu
mendorong pundak pamannya menggunakan kedua kaki kecilnya. Duk! Duk! Bukannya meluncur,
pinggul Rian justru makin terjepit.
Tragedi di Ayunan Berdecit
Setelah drama sepuluh menit yang melibatkan bantuan
dari dua orang petugas kebersihan taman yang menarik kaki Rian dari bawah, Rian
akhirnya berhasil bebas dengan suara POP! yang cukup keras. Wajahnya merah padam menahan
malu, sementara ibu-ibu di pojok taman pura-pura batuk untuk menyembunyikan
tawa.
"Oke, cukup. Paman mau duduk di ayunan saja.
Jangan suruh Paman manjat lagi," ketus Rian sambil berjalan pincang menuju
ayunan.
Rian duduk di salah satu ayunan besi. Saat pantatnya
mendarat, ayunan itu mengeluarkan suara jeritan besi yang sangat memilukan: KREEEEEEKKK... seolah-olah
mengeluh atas beban hidup yang tiba-tiba datang.
Boni:
"Paman, ayunannya nangis. Paman keberatan dosa ya?"
Rian:
"Ini namanya gravitasi, Boni. Udah, diam, ayunan ini aman kok."
Rian mulai mengayunkan tubuhnya pelan-pelan. Angin sore
berembus, membuatnya sedikit rileks. Dia merasa harga dirinya yang sempat jatuh
di perosotan tadi mulai kembali sedikit demi sedikit. Untuk pamer kepada Boni,
Rian mencoba mengayun lebih tinggi.
Wush...
Wush...
Rian:
"Lihat Boni! Paman bisa terbang tinggi! Kamu belum bisa kan setinggi
ini?"
Boni:
"Paman, stop! Ada yang aneh!"
Rian:
"Halah, kamu cuma iri karena Paman keren!"
KREEEKKK...
CRIIIIEEEET...
Bukan ayunannya yang rusak, melainkan ada suara lain
yang lebih elastis. KRETEK!
Rian merasakan ada embusan angin dingin yang mendadak
menerpa bagian belakang tubuhnya yang biasanya tertutup rapat. Dia langsung
mengerem ayunan itu dengan menyeret kedua sandalnya di tanah sampai debu-debu
beterbangan.
Rian:
(Berbisik dengan wajah pucat) "Boni... tolong lihat ke belakang Paman. Ada
apa?"
Boni berjalan ke belakang ayunan, berjongkok, lalu
menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. Matanya membelalak.
Boni:
"Wah... Paman pakai celana dalam gambar Doraemon ya? Biru-biru ada kantong
ajaibnya!"
Celana jin Rian robek dari jahitan tengah sampai ke
bawah akibat tekanan ekstrem saat mengayun tadi.
Evakuasi Darurat
Rian langsung berdiri mematung. Dia tidak berani
berbalik. Dia tidak berani melangkah lebar-lebar. Jika dia bergerak sedikit
saja, "pemandangan" di belakangnya akan terekspos ke seluruh
pengunjung taman.
Rian:
"Boni, dengerin Paman. Ini tugas rahasia negara. Kamu berjalan di belakang
Paman, tutupi pantat Paman pakai tas kamu. Kita jalan pelan-pelan ke parkiran
mobil."
Boni:
"Tapi tas Boni kan kecil, Paman. Cuma muat botol minum sama kotak pensil.
Kantong ajaib Doraemonnya Paman kelihatan gede banget!"
Rian:
"Boni! Pakai jaket kamu kalau begitu!"
Boni:
"Jaket Boni kan gambar Tayo, kekecilan kalau buat Paman!"
Tanpa diduga, Boni justru berteriak dengan lantang ke
arah kerumunan pengunjung taman. "Ibu-ibu! Tolong! Celana Paman saya
robek! Doraemonnya keluar!"
Seketika itu juga, seluruh pasang mata di taman bermain
menoleh ke arah Rian. Suara tawa yang ditahan langsung meledak di berbagai
penjuru taman. Rian hanya bisa memejamkan mata, merutuki nasibnya, dan berjanji
dalam hati tidak akan pernah mau lagi dititipi keponakan, apalagi diajak ke
taman bermain.
Dengan sisa-sisa harga diri yang sudah minus, Rian
berjalan menyamping seperti kepiting menuju mobilnya, diikuti oleh Boni yang
melompat-lompat gembira seolah-olah baru saja memenangkan lotre.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pernah mengalami
momen super memalukan di tempat umum yang disaksikan oleh banyak orang seperti
yang dialami Paman Rian? Atau jangan-jangan Anda punya anak atau keponakan yang
hobi membongkar 'rahasia' Anda di depan umum?
Yuk,
bagikan cerita paling kocak dan memalukan versi Anda di kolom komentar! Jangan
lupa bagikan artikel ini ke teman Anda yang suka pakai celana ketat!