Konspirasi Chip Intelijen di Balik Meja Kantor: Mengapa Printer Punya Indra
Keenam untuk Mendeteksi Kepanikan Kita?
Selamat datang kembali di CERCU! Mari kita bicarakan salah satu misteri
terbesar dalam sejarah peradaban modern. Kita sudah berhasil mengirim robot
penjelajah ke Mars, menciptakan kecerdasan buatan yang bisa melukis, hingga
memproduksi mi instan yang matang sempurna dalam waktu tiga menit. Namun, ada
satu teknologi peninggalan abad ke-20 yang sampai detik ini belum berhasil
ditaklukkan oleh iman dan kesabaran manusia: Mesin Printer.
Pernahkah kalian menyadarinya? Ketika kalian sedang santai dan iseng ingin
mencetak gambar kucing lucu, memo tidak penting, atau jadwal ronda lingkungan,
printer di kantor akan bekerja dengan sangat mulus, cepat, bahkan mengeluarkan
suara berdengung yang riang.
Namun, coba pasang situasi di mana jarum jam menunjukkan pukul 07.50 WIB,
bos besar sudah mondar-mandir di ruang rapat dengan wajah ketat, dan kalian
harus mencetak dokumen proposal kerja sama bernilai miliaran rupiah yang wajib
diserahkan tepat pukul 08.00 WIB.
Di situlah keajaiban mistis terjadi. Printer tersebut mendadak bertingkah
seolah-olah baru saja mengalami krisis eksistensial dan mogok kerja seketika.
Mari kita intip drama komedi perjuangan umat manusia melawan silikon pemberontak
di sebuah kantor agensi berikut ini.
Tokoh-Tokoh dalam Tragedi Ini:
·
Doni (24): Staf Account Executive
yang penampilannya sudah acak-acakan, memegang map kuning dengan tangan
gemetar.
·
Rara (25): Desainer grafis senior yang
selalu tenang, sinis, dan menganggap printer sebagai musuh bebuyutan ras
manusia.
·
Pak Joko (48): Kepala Divisi yang
perfeksionis, hobi melihat jam tangan setiap tiga puluh detik, dan anti-alasan.
TKP: Pojok Ruangan Divisi Kreatif (Pukul 07.48 WIB)
Suasana ruangan sunyi, kecuali suara langkah kaki Doni yang mondar-mandir
seperti setrikaan panas. Di depannya, sebuah mesin printer berwarna abu-abu tua
duduk dengan tenang, lampunya berkedip-kedip hijau dengan ekspresi yang tampak
sangat mengejek.
Doni: (Menekan tombol 'Print' di laptopnya untuk yang kelima belas
kali) "Ayo dong... Please, kali ini aja. Demi masa depan cicilan motor
gue, Ra. Ini proposal kalau nggak dicetak sekarang, Pak Joko bakal menumbalkan
gue ke klien!"
Rara: (Sambil mengunyah bakwan tanpa menoleh dari layarnya)
"Don, percuma lu mohon-mohon sama benda mati. Dia itu bisa mencium bau
ketakutan lu. Makin lu panik, makin dia senang."
Doni: "Gue nggak panik, Ra! Gue cuma... memacu adrenalin! Lah,
ini kenapa lampunya mendadak berubah jadi warna oranye kelap-kelip? Terus ada
bunyi 'krek-krek-klethak' di dalemnya?"
Rara: "Nah, itu tanda printer lu lagi masuk mode 'Ghaib'. Bentar
lagi di layar laptop lu pasti keluar tulisan legendaris."
Benar saja, sebuah notifikasi pop-up muncul di layar laptop Doni
dengan huruf tebal menakutkan: "Paper Jam. Please Open Cover A, B, C,
and Pray."
Pukul 07.53 WIB: Operasi Bedah Silikon
Doni langsung membuka penutup printer dengan kasar. Dia memasukkan tangannya
ke dalam perut mesin, mencoba mencari selembar kertas yang dituduhkan terjepit.
Doni: "Nggak ada kertas yang nyangkut, Ra! Kosong! Bersih! Ini
printer fitnah! Dia menyebarkan hoaks di pagi hari!"
Rara: "Gini ya anak muda. Printer itu punya sensor denyut nadi
tersembunyi. Lu tadi malam tidur jam berapa? Telat kan karena begadang bikin
materi? Dia tahu kondisi psikologis lu lagi ringkih. Makanya dia sengaja
ngerjain lu."
Doni: "Gue serius, Rara! Pak Joko udah WhatsApp nih, nanya
proposalnya mana! Duh, muka Pak Joko kalau marah mirip karakter antagonis di
sinetron azab!"
Tiba-tiba, Pak Joko benar-benar muncul dari balik pintu dengan langkah
tegap. Jam tangannya sengaja diposisikan tepat di depan dadanya.
Pak Joko: "Doni! Mana proposal Proyek Semesta? Klien sudah duduk
di ruang rapat. Saya butuh hardcopy-nya sekarang juga!"
Doni: (Spontan berdiri tegap sambil tangannya masih tersangkut di
dalam printer) "Siap, Pak! Ini... ini sedang dalam proses terminasi
akhir eksekusi cetak digital, Pak!"
Pak Joko: (Melihat tangan Doni yang masuk ke dalam mesin)
"Kamu lagi nge-print atau lagi bantuin printer melahirkan? Kenapa tangan
kamu di dalam begitu?"
Doni: "Anu, Pak... Printernya sedikit mengalami hambatan teknis
psikologis. Kertasnya agak pemalu buat keluar."
Pak Joko: "Saya tidak mau tahu! Pokoknya dua menit lagi proposal
itu harus ada di meja rapat. Kalau tidak, bonus kuartal ini saya ubah jadi
kupon senam sehat!"
Pak Joko berbalik dan pergi dengan langkah menghentak. Doni menarik
tangannya keluar dari printer, yang kini dipenuhi noda tinta hitam di sekujur
telapak tangannya.
Pukul 07.57 WIB: Ritual Perdamaian dengan Mesin
Dalam kondisi putus asa, Doni akhirnya mengikuti saran kuno yang sering
beredar di kalangan pegawai kantoran tertindas.
Doni: "Ra, gimana cara nge-reset pikiran nih mesin? Di-geplak
dari samping bisa nggak?"
Rara: "Jangan digeplak, nanti dia malah mogok total. Printer itu
kayak kucing anggora, harus dielus. Coba lu ganti kertasnya pakai kertas baru
yang paling halus, terus lu ngomong pelan-pelan sama dia. Turunin ego lu di
depan dia."
Doni: (Pasrah, berlutut di depan printer, mengelus casing plastiknya)
"Wahai printer pelopor peradaban... Tolonglah hamba-Mu yang miskin ini.
Saya tahu kamu lelah. Saya tahu kamu bosan mencetak kata-kata korporat yang
penuh kebohongan ini. Tapi tolong, keluarkan sepuluh lembar saja... Setelah
ini, janji, kamu bakal saya istirahatkan sampai minggu depan..."
Rara: (Menyaksikan dari jauh) "Nah, bagus. Kurang
penjiwaan dikit, Don. Coba agak nangis biar dia luluh."
Ajaib. Entah karena kebetulan, atau karena chip di dalam printer tersebut
memang memiliki rasa belas kasihan yang tipis, lampu indikator mendadak berubah
menjadi hijau stabil. Suara mesin kembali menderu. Zuuuut... Zuuuut...
Kertas pertama keluar! Doni tersenyum lebar seperti memenangkan undian
berhadiah rumah mewah.
Doni: "Yesss! Berhasil, Ra! Ritual lu berhasil! Dia dengerin doa
gue!"
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan selama tiga detik. Saat kertas pertama
keluar seutuhnya, Doni mengambilnya dengan penuh suka cita. Begitu dia melihat
permukaan kertas, senyumnya langsung lenyap.
Kertas proposal setebal sepuluh halaman itu dicetak dengan tinta warna pink
(merah muda) menyala di beberapa bagian, bergaris-garis horizontal mirip zebra
cross, dan diakhiri dengan cetakan logo abstrak hitam pekat di
tengah-tengah visi misi perusahaan akibat cartridge yang mendadak kehabisan
tinta hitam secara acak.
Doni: (Menatap kertas dengan pandangan hancur) "Ra... ini
proposal bisnis atau undangan ulang tahun anak TK? Kenapa warnanya fuchsia
begini?"
Rara: (Berjalan mendekat, melihat hasil cetakan) "Wah...
estetik, Don. Bagus kok. Bilang aja ke Pak Joko kalau ini konsep Creative
Cyberpunk Marketing. Biar perusahaan kita kelihatan visioner."
Doni: "Visioner mbahmu! Yang ada gue didepak ke divisi
kebersihan!"
Tepat pada pukul 08.00 WIB, printer tersebut mengeluarkan suara cetek terakhir,
lalu lampu oranyenya kembali berkedip dengan tulisan baru di layar laptop: "Ink
Low. Go Buy New One or Face Your Doom." Doni akhirnya pasrah,
mengambil tumpukan kertas pink-hitam tersebut, dan berjalan menuju ruang rapat
dengan mental yang sudah siap untuk menghadapi badai kosmik dari Pak Joko.
Pelajaran yang Dapat Dipetik:
"Jangan pernah memperlihatkan kepanikan, ketergesa-gesaan, atau
ketakutan di depan mesin printer. Mereka tidak dikendalikan oleh kabel data,
melainkan oleh rasa haus akan penderitaan manusia."
Bagaimana dengan Sobat CERCU semua? Apakah kalian juga punya printer ajaib
di kantor atau di rumah yang hobi banget mogok kerja persis lima menit sebelum
tugas kuliah atau dokumen penting harus dikumpulkan? Atau kalian punya ritual
khusus yang lebih ampuh, seperti membacakan mantra atau mengancam akan
menjualnya ke tukang loak agar printernya mau jalan kembali?
Yuk, ceritakan pengalaman mistis nan kocak kalian bersama mesin printer
di kolom komentar di bawah ini! Mari kita saling menguatkan sesama korban
konspirasi printer!