Sunday, December 14, 2025

"Aku Kirim Surat ‘Jangan Baca’, Ternyata Si Doi Benar-Benar Nggak Baca"

 

Halo para penghuni bumi yang pernah terjebak dalam strategi marketing cinta ala kadarnya! Mari kita bicara tentang satu hukum tak tertulis dalam dunia pendekatan: "Lawan adalah Bunga". Maksudnya, semakin kamu dilarang, semakin penasaran kamu ingin tahu. Prinsip inilah yang jadi dasar operasi rahasia saya, yang berakhir dengan kegagalan spektakuler karena satu hal sederhana: ternyata doi bukan bunga, doi adalah manusia normal yang bisa menuruti perintah.

Semuanya berpusat pada Rara—cewek yang buat saya rela menghafal jadwal lesnya hanya agar bisa "tak sengaja" berpapasan. Setelah berminggu-minggu mengumpulkan nyali, saya memutuskan untuk menggunakan senjata pamungkas: surat. Tapi bukan sembarang surat. Saya terinspirasi dari video psikologi daring yang menjanjikan "Cara Membuat Dia Penasaran dalam 3 Detik!". Konsepnya adalah reverse psychology.

Perencanaan Operasi: When Overthinking Strikes

Saya duduk di kamar, menatap kertas kosong. Biasanya orang menulis "Baca aku" atau "Untuk Rara". Tapi saya ingin berbeda. Saya ingin menciptakan misteri. Sebuah teka-teki eksistensial yang akan membuatnya tidak bisa tidur.

Akhirnya, dengan keyakinan setinggi langit, saya menulis di sampul amplop:

"Aku Kirim Surat ‘Jangan Baca’, Ternyata Si Doi Benar-Benar Nggak Baca"

 

"JANGAN BACA SURAT INI."

Senyum puas mengembang di wajah saya. Genius! Saya membayangkan ekspresi Rara: alis berkerut, mata penuh tanya, jari gatal untuk membuka lipatan kertas yang dilarang itu. Dia pasti akan berpikir, "Apa rahasia di balik surat ini? Kenapa dilarang? Aku HARUS tahu!"

Isi suratnya sendiri saya buat standar saja: perkenalan, pujian sederhana tentang senyumannya, dan ajakan untuk ngobrol lebih lanjut. Fokusnya ada pada sampul. Itu adalah umpannya.

Saya menyelipkan surat itu ke dalam tasknya saat dia sedang menghadap papan tulis. Jantung berdebar kencang, tapi saya yakin ini akan berhasil. Saya adalah seorang jenius tak dikenal!

Hari-H Penantian: Dari Optimis Jadi Tanya Tanda Tanya

Hari pertama berlalu. Tidak ada reaksi.
Hari kedua, biasa saja.
Hari ketiga, saya mulai cemas.

Saya memantau dari kejauhan. Rara sama sekali tidak menunjukkan gelagat penasaran. Tidak ada tatapan menyelidik ke arah saya, tidak ada bisik-bisik dengan temannya. Dia baik-baik saja. Bahkan, terlalu baik-baik saja.

"Bisa jadi dia sedang menahan rasa penasarannya," hibur saya pada diri sendiri. "Dia pasti membacanya di rumah, sendirian, sambil tersipu-sipu."

Tapi, seorang teman baiknya—sebut saja Sari—akhirnya menghampiri saya dengan wajah yang sama bingungnya dengan saya.

"Eh, lo ngasih surat ke Rara seminggu yang lalu ya?" tanya Sari.

"Iya! Akhirnya dia bacakan?" sahut saya penuh harap.

"Gak. Itu... dia minta aku yang buangin."

DUNIA SAYA BERHENTI BERPUTAR.

"Di... dibuang? Maksudnya gimana?"

"Ya dibuang. Ditaruh di tong sampah. Lo tulis 'Jangan Baca' kan? Ya dia gak baca. Dia nurut. Dia bilang, 'Kalo dilarang ya udah, gak usah dibaca'. Gue aja yang penasaran, tapi dia malah bilang, 'Jangan, jangan-jangan itu surat kutukan atau semacamnya'."

Saya terduduk lemas. Reverse psychology saya bekerja dengan sempurna—dalam arah yang salah! Bukan membuatnya penasaran, tapi justru membuatnya patuh seperti anak sekolah dasar yang mendengarkan gurunya.

Investigasi Pasca-Kegagalan: Mengurai Benang Kusut Logika

Setelah shock mereda, saya mencoba menganalisis kekacauan ini.

  1. Perbedaan Pola Pikir. Saya, si overthinker, mengira semua orang akan bereaksi seperti saya—penasaran pada hal yang dilarang. Rara, si praktis, membaca instruksi dan menaatinya. "Jangan baca" berarti "jangan baca". Titik. Tidak ada lapisan makna tersembunyi.
  2. Salah Memahami Sifatnya. Rara bukan tipe pemberontak. Dia adalah tipe "rule follower". Larangan baginya adalah sesuatu yang harus dihormati, bukan ditantang. Saya mengira dia akan seperti karakter film yang membuka kotak terlarang, ternyata dia adalah orang yang akan meninggalkan kotak itu begitu saja.
  3. Efek "Kepercayaan Takhayul". Ternyata, bagi sebagian orang (termasuk Rara), surat dengan tulisan "Jangan Baca" bisa dianggap agak... mistis. Jangan-jangan ada guna-guna? Jangan-jangan ini surat dari alam lain? Daripada mengambil risiko, lebih baik disingkirkan.

Saya membayangkan apa yang ada di pikiran Rara:
"Wah, ada surat. Ditulis 'Jangan Baca'. Hmm, ya udah deh, gak usah dibaca. Siapa tau itu dari orang yang lagi kesurupan. Atau jangan-jangan isinya mantra. Awas aja deh. Mending gue buang, biar aman."

Sementara di kepala saya, skenarionya:
"Wah, ada surat. Ditulis 'Jangan Baca'. Wah, ini pasti menarik! Apa ya isinya? Misteri banget! Pasti dari seseorang yang mau buat kejutan. Aku harus tahu sekarang!"

Dampak dan Pelajaran yang (Sangat) Pahit

Tidak perlu dikatakan, tidak ada kelanjutan romantis. Yang ada, saya harus menerima kenyataan bahwa strategi psikologi saya gagal total. Saya bukan master manipulasi, saya hanya seorang penulis instruksi yang terlalu baik.

Beberapa pelajaran yang saya petik dari tragedi "Jangan Baca" ini:

  1. Kenali Target Operasi. Jika doi adalah tipe yang lugu dan penurut, jangan gunakan reverse psychology. Itu seperti menyuruh anak patuh untuk tidak makan permen—dia benar-benar tidak akan memakannya.
  2. Klarifikasi Selalu Lebih Baik Daripada Misteri. Daripada menulis "Jangan Baca", lebih baik tulis "Baca dong, please, ada yang mau aku bilang". Kalimat kedua mungkin kurang keren, tapi setidaknya suratnya akan dibaca.
  3. Hindari Kata "Jangan". Otak manusia kadang hanya menangkap kata kuncinya. "Jangan baca" bisa jadi hanya tertangkap "baca", tapi bisa juga hanya "jangan"-nya saja. Resikonya terlalu besar.
  4. Jangan Percaya Begitu Sama Tips di Internet. Video "Buat Dia Penasaran dalam 3 Detik" itu tidak datang dengan disclaimer: "Hanya berlaku jika doi memiliki pola pikir yang sama dengan Anda".

Epilog: Sebuah Pengakuan

Bertahun-tahun kemudian, saya akhirnya mengakui kegagalan ini kepada Rara. Kami sudah jadi teman baik dan bisa menertawakan masa lalu.

"Eh, jadi waktu itu surat 'Jangan Baca' itu dari lo ya?" tanyanya sambil tertawa.
"Iya. Gue pikir lo bakal penasaran."
"Maaf ya, gue orangnya literal. Lo bilang jangan, ya gue gak baca. Gue malah mikirnya itu surat ancaman atau semacamnya."
"Tapi di dalam isinya biasa aja, kok. Malah ada ajakan kenalan."
"Ya elah! Kalo gitu dari awal tulis aja 'Tolong Dibaca'! Gak usah pake drama!"

Dia benar. Cinta tidak butuh drama yang berlebihan. Butuh kejelasan.

Jadi, untuk kalian yang sedang merencanakan aksi "misterius" untuk membuat doi penasaran, pelajari baik-baik kisah saya. Kadang, cara terbaik untuk membuat seseorang membaca suratmu adalah dengan memintanya secara langsung. Karena jika tidak, kamu bukan akan dianggap misterius dan menarik, tapi hanya sebagai orang aneh yang suratnya berakhir di tempat yang seharusnya: tong sampah.

Sekian laporan dari lapangan dari saya, sang mantan ahli strategi yang kalah oleh kepolosan. Sudah ah, mau buang-buang draft surat "Jangan Sentuh" yang rencananya mau aku taruh di mejanya.

 


Saturday, December 13, 2025

Salah Kirim! Surat Buat Mantan Malah Nyampe ke Guru Olahraga


Ketika Curhat Patah Hati Justru Dianggap Laporan Pelanggaran Sekolah

Ada kalanya hidup mengajarkan kita bahwa menjadi manusia itu penuh kejutan. Kadang kejutan yang manis, kadang kejutan yang pahit, dan kadang… kejutan yang bikin kita ingin pindah sekolah, pindah kota, bahkan pindah planet.

Hari itu, aku cuma ingin melakukan satu hal sederhana: mengirim surat curahan hati untuk mantan. Sesuatu yang klasik, mellow, dan jujur. Tapi siapa sangka, dunia punya rencana berbeda. Rencana yang melibatkan rasa malu tak terhingga, guru olahraga yang judes, dan surat galau yang salah alamat.

 

Salah Kirim! Surat Buat Mantan Malah Nyampe ke Guru Olahraga

Awal Mula Kegoblokan: Surat yang Terlalu Serius

Ceritanya begini. Sudah seminggu aku putus dari pacarku—sebut saja namanya “Mantan Tercinta yang Meninggalkan Luka Mendalam dan Hutang Emosional”. Aku tidak mau keliatan lebay, tapi faktanya, aku benar-benar down.

Makan nggak enak. Tidur nggak nyenyak. Nilai matematika turun (walau sebelumnya juga sudah nyungsep). Pokoknya hidup terasa seperti sinetron Jam 7 pagi: dramatis tapi tidak penting.

Akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat. Biar lega, biar tuntas, biar mantan tahu bahwa aku adalah manusia berperasaan, bukan batu bata yang dingin tak bernyawa.

Suratnya kupenuhi metafora cinta yang gak kalah cringe:

  • “Tanpamu hidupku hampa, seperti pisang goreng tanpa pisang.”
  • “Hatiku patah, seperti kapur papan tulis yang ditimpa penggaris besi.”
  • “Aku masih berharap, meski harapan itu tipis seperti seragam olahraga yang sudah dikecilkan ibu.”

Pokoknya surat itu bagus… kalau dikirim ke buku harian. Bukan ke orang asli.

 

Kesalahan Fatal: Nama Penerima Tidak Diganti

Masalah muncul saat aku mau memasukkan surat itu ke amplop. Dengan percaya diri ala Romeo KW, aku menulis nama penerima dengan gaya kaligrafi seadanya:

“Untuk: Pak Bayu”

YES. PAK. BAYU.
Alias Guru Olahraga.
Alias orang yang paling tidak tepat untuk membaca isi surat mellow.

Gimana bisa aku menulis nama itu?
Jadi ceritanya, beberapa hari sebelumnya aku harus ngumpulin surat izin sakit untuk pelajaran olahraga. Biasanya aku tulis “Untuk: Pak Bayu”. Dan bodohnya, aku memakai amplop sisa dari situ.

Karena jam tidurku berantakan, mata panda sudah level profesional, aku menulis nama itu tanpa sadar. Auto pilot mode: ON.

Begitu sadar?
Sudah terlambat. Terlalu terlambat.

Aku udah memasukkan, menyegel, dan—lebih parah—menitipkan amplop itu ke temanku untuk diantar ke “si Mantan”.

 

Perjalanan Surat Terbodoh di Dunia

Temanku, sebut saja “Rangga Pengantar Kejadian”, tentu bingung:

“Loh, kok buat Pak Bayu? Mantanmu udah ganti nama?”

Tapi bukannya bertanya lebih lanjut, dia cuma nyengir dan langsung pergi.

Kenapa?
Karena dia nggak mau telat masuk kelas olahraga. Dan karena dia anak yang taat, begitu lihat nama Pak Bayu, dia refleks menyerahkan amplop itu ke guru olahraga kami.

Aku tidak tahu ini terjadi sampai jam pelajaran keempat, ketika tiba-tiba aku dipanggil.

 

Panggilan Menghancurkan Reputasi: “Yang Nulis Surat Ini Siapa?”

Aku sedang duduk manis di kelas, berusaha move on dengan makan ciki rasa pedas, ketika pengeras suara sekolah berbunyi:

“Kepada siswa bernama… kamu tahu siapa kamu, harap ke ruang guru olahraga.”

Langsung dada ini deg-degan. Pikiran liar mulai muncul:

  • Apa aku ditegur karena gak ikut lari 10 putaran minggu lalu?
  • Apa aku salah masuk WC guru kemarin?
  • Atau… JANGAN-JANGAN…

Dengan langkah gemetar seperti kambing mau disembelih, aku pergi.

Begitu sampai, kulihat Pak Bayu berdiri dengan wajah datar yang lebih dingin dari es batu kulkas sekolah.

Di tangannya?
Amplop sialan itu.

“Ini surat dari kamu?” tanyanya.

Aku ingin bilang “TIDAAAAK”, lalu pura-pura pingsan. Tapi mulutku mengkhianati otak:

“…I-iya, Pak.”

 

Momen Puncak: Pak Guru Membacakan Surat Galau dengan Ekspresi Datar

Pak Bayu membuka surat itu tanpa ekspresi. Seolah dia sedang membaca jadwal piket kelas, bukan surat patah hati berisi metafora memalukan.

Dan yang bikin hidup makin kelam?

Beliau MEMBACAKANNYA keras-keras.

“Tanpamu hidupku hampa, seperti pisang goreng tanpa pisang…”
Nada suaranya datar.
Isi suratku? Drama.
Perpaduannya? Komedi.

Aku ingin menghilang. Menyatu dengan tanah. Atau berubah jadi tiang gawang di lapangan.

Beberapa guru yang kebetulan lewat menghentikan langkah. Bahkan Bu Rina dari BK sempat melongok dan bilang:

“Wah, bagus nih. Ada bakat puisi.”

PAK BAYU LANJUT.

“Hatiku patah seperti kapur yang dipukul penggaris…”
“Harapan itu tipis seperti seragam olahraga…”

Aku yakin kalau dia melanjutkan sampai akhir, aku bakal langsung dropout sukarela.

 

Reaksi Sang Guru: Antara Bingung dan Emosi

Setelah selesai membaca, Pak Bayu memandangku.

“Ini… apa maksudnya?” katanya.

Aku langsung ngejelasin cepat:

“Itu… salah kirim, Pak! Harusnya buat mantan saya… bukan buat Bapak!”

Pak Bayu menatapku lama. Sangat lama.
Seperti sedang menilai apakah aku masih layak mengikuti ujian semester.

Akhirnya dia berkata:

“Lain kali, kalau mau mengungkapkan perasaan, jangan lewat saya. Saya bukan pos Indonesia.”

Aku cuma bisa mengangguk.

“Dan tolong,” lanjutnya, “jangan bandingkan hatimu dengan kapur. Kapur sudah cukup menderita di sekolah ini.”

 

Akibatnya: Trending Topik Se-Sekolah

Kalau kamu pikir masalah selesai di situ, kamu salah.

Entah siapa yang mulai, entah dari mana bocornya, tapi keesokan harinya seluruh sekolah tahu.

Kawan-kawan lewat depan kelas sambil bilang:

“Eh, itu anak pisang goreng tanpa pisang!”

Ada yang lebih jahat:

“Nanti kalau olahraga, jangan lupa izin sakit hati ke PAK BAYU!”

Bahkan adik kelasku yang kelas 10 ikut-ikutan:

“Kak, kapurnya aman, kan?”

Aku resmi menjadi legenda.
Legenda yang tak diinginkan.

 

Mantan? Jangan Ditanya

Ketika akhirnya aku bertemu mantan, dia cuma tersenyum simpul dan bilang:

“Aku tau kamu sayang, tapi… kok malah Pak Bayu yang nerima duluan?”

Aku tidak menjawab.
Aku hanya ingin hidup baru. Identitas baru.
Mungkin pindah sekolah ke Kutub Utara.

 

Pelajaran Berharga dari Kejadian Memalukan Ini

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Termasuk tragedi komedi ini.

Berikut pelajaran penting yang bisa kalian petik:

1. Jangan menulis surat saat ngantuk

Serius. Hasilnya bisa jadi bencana.

2. Periksa nama penerima amplop!

Ini bukan email yang bisa di-undo.

3. Jangan menaruh metafora aneh di surat cinta

Percayalah. Tidak ada orang yang ingin disamakan dengan pisang goreng.

4. Guru olahraga bukan tempat curhat

Meskipun mereka tegas, mereka bukan target surat patah hati.

5. Teman yang terlalu patuh bisa menjadi sumber masalah

Rangga… aku ingat jasamu.

 

Penutup: Surat Galau, Guru Judes, dan Aku yang Malu Selamanya

Kalau kamu pikir hidupmu memalukan, tenang. Ada seseorang di luar sana—yaitu aku—yang pernah mengirim surat cinta untuk mantan tapi nyangkut ke tangan guru olahraga judes.

Aku masih trauma setiap melihat amplop cokelat. Bahkan mendengar kata “surat” saja membuat jantungku berdebar.

Tapi hey… setidaknya sekarang aku bisa menuliskannya untuk blog CERCU. Kalau hidup memberimu rasa malu, jadikanlah konten.

 


Friday, December 12, 2025

Surat Cinta Pertamaku Berakhir Jadi Bahan Latihan Membaca Adiknya Si Doi

Sedihnya, suratku malah dipakai buat latihan membaca anak SD.

Ada banyak tragedi dalam sejarah umat manusia:
Atlantis tenggelam, dinosaurus punah, dan saya…

Saya melihat surat cinta pertama saya dibacakan dengan lantang oleh adik kelas 3 SD.

Iya.
Surat cinta pertama saya.
Yang saya tulis sambil gemeter, sambil deg-degan, sambil ngelus dada setiap lima menit.
Yang harusnya berakhir romantis, penuh haru, penuh bunga, penuh cinta.

Tapi takdir berkata lain.
Tuhan punya selera humor yang unik.
Dan keluarga si doi… jauh lebih unik lagi.

Berikut kisah lengkapnya.
Silakan ambil snack karena ini panjang, penuh rasa malu, dan Anda berhak menertawakan penderitaan saya.

 

Surat Cinta Pertamaku Berakhir Jadi Bahan Latihan Membaca Adiknya Si Doi

Bab 1: Keputusan Fatal untuk Menulis Surat Cinta Pertama

Sejak awal, perasaan saya pada si doi sudah tak main-main.
Setiap dia lewat, hati saya seperti HP baterai 5% yang tiba-tiba dicas jadi 100%.
Setiap dia senyum, jiwa saya seperti kena sinar matahari ultra romantis.
Dan setiap dia ngobrol, saya ngerasa seperti nonton sinetron jam prime time.

Setelah sekian lama memendam rasa, akhirnya saya memutuskan:
Saya harus menyatakan cinta.

Namun saya tidak memilih cara modern.
Tidak pakai chat.
Tidak pakai DM Instagram.
Tidak pakai voice note yang isinya “heh…” lalu hapus, lalu kirim lagi, lalu hapus lagi.

Saya memilih cara klasik: SURAT CINTA.

Surat cinta itu saya tulis sepenuh perasaan.
Kalimatnya penuh metafora dan perbandingan yang saya sendiri sekarang merasa malu Bacanya.

Contohnya:

“Saat kamu tersenyum, dunia seperti berhenti sejenak untuk mendengarkan degup jantungku.”

“Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu, tapi rasanya seperti sudah sejak bumi ini belum punya Wi-Fi.”

“Bolehkah aku jadi alasan kamu bahagia, walau cuma sedikit?”

Saya menulisnya sepanjang dua halaman.
Saya kasih parfum.
Saya lipat rapi.
Saya masukkan amplop warna pink.

Saya bangga banget.
Seakan-akan saya baru menulis naskah drama Korea yang bakal jadi hit global.

Dan saya pun menyelinapkan surat cinta itu ke dalam buku tugas si doi saat dia tidak memperhatikan.

Ah… betapa indahnya rencana itu.
Betapa mulusnya eksekusi.
Betapa malunya yang akan terjadi kemudian.

 

Bab 2: Keesokan Harinya, Alarm Malapetaka Berbunyi

Esoknya, saya sengaja lewat depan rumah doi.
Niatnya mau lihat apakah dia sudah baca surat itu.
Mungkin dia akan keluar rumah sambil senyum malu-malu.
Atau minimal, kirim WA “Makasih ya.”

Tapi saya tidak mendapat pesan apa pun.

Justru… saya mendapat sesuatu yang lain.

Dari dalam rumahnya terdengar suara:

“KAK, AKU LATIHAN MEMBACA YA!”

Saya berhenti di tengah jalan.

Lalu terdengar suara kertas dibuka.

Lalu terdengar…
… sesuatu yang membuat saya ingin memanjat pagar terus kabur ke negara lain.

“Ha… looo… Kak… A… ku… su… kaaa… ka…mu…”

Lalu ada tawa renyah seorang anak kecil.

Saya langsung beku.
Seperti patung.
Patung malu.

Itu… itu kan kalimat pembuka surat saya!?

Saya mendekat sedikit.

Dan benar saja:

Di ruang tamu, ADIK DOI — anak SD kelas 3 — sedang membaca surat cinta saya seolah itu bahan pelajaran sekolah!

Dengan penuh semangat, intonasi jelas, dan gaya seperti presentasi lomba membaca cepat.

 

Bab 3: Ditingkahi Komentar Menusuk dari Anak SD

Saya sembunyi di balik pagar rumah tetangga.
Menguping seperti intel gagal.

Adiknya melanjutkan membaca:

“Ka… lau… ka… mu… bi… lan… g bu… mi… i… niii… ta… npa… ka… muu… se… pi…”

Lalu dia tiba-tiba berhenti dan komentar:

“Ih kak, kok orang ini gombalnya banyak banget ya?”

SAYA HENING.

Lalu terdengar suara si doi:

“Ya ampuuun! Dari siapa sih itu?!”

Adiknya jawab polos:

“Tadi aku nemu di dalam buku Kakak. Isinya lucu banget! Kakak mau aku baca lagi?”

Saya sudah ingin rebahan di jalan raya.
Biarlah sepeda motor lewat dan meratakan harga diri saya.

Tapi semuanya belum selesai.

Adiknya lanjut membaca:

“Ka… lau… cin… taaa… a… dalah… ku… eh… kebu… tu… han… mo… ka… saya… a… da… lah… r e… ch… arg… ee…”

Iya.
Dia sedang membaca perumpamaan saya:

“Kalau cinta adalah kebutuhan, maka aku adalah recharge-mu.”

Tiba-tiba adiknya nyeletuk:

“Kak, love apa sih? Kenapa orang ini sok sok puitis?”

Saya ingin menangis.

 

Bab 4: Keluarga Ikut Bergabung

Saya pikir acara horor itu hanya berlangsung antara si doi dan adiknya.

SAYA SALAH.

Tiba-tiba ibunya datang:

“Loh, itu baca apa? PR Bahasa Indonesia?”

Adiknya jawab santai:

“Nggak Bu. Ini surat cinta Kakak!”

Lalu ibunya teriak:

“HAH? SURAT CINTAAA?! SANA SINI TUNJUKIN, IBU MAU BACA!”

Saya menatap langit.
Antara ingin minta meteorit jatuh atau minta dimasukkan ke dalam tanah.

Ibunya merebut surat itu.
Lalu membaca dengan ekspresi bingung terhibur.

“Wah, full majas anak ini. Cocok masuk lomba menulis surat cinta nasional!”

Ayahnya yang kebetulan lewat pun bertanya:

“Ada apa?”

Ibunya:

“Ini loh, anak SD latihan membaca pakai surat cinta seseorang!”

Ayahnya hanya mengangguk dalam-dalam, sambil bilang:

“Teknik pembelajaran yang kreatif.”

TERIMA KASIH PAK.
TERIMA KASIH BANYAK ATAS TRAUMANYA.

 

Bab 5: Si Doi Akhirnya Tahu Siapa Penulisnya

Setelah semua keluarga membaca, tertawa, dan memberikan komentar yang tidak saya minta, akhirnya si doi berkata lirih:

“Aku kayaknya tahu siapa yang nulis ini…”

JANTUNG SAYA LANGSUNG BERHENTI SEDETIK.

“Tulisannya mirip tulisan… dia…”

Saya: mati pelan-pelan.

Adiknya:
“Kak, kalo dia naksir, Kakak mau nggak?”

Doi:
“Diam deh kamu. Ih…”

Tapi dia senyum.
Senyum malu-malu.

Saya melihat itu dari jauh, dari balik pagar, sambil menyesali seluruh keputusan hidup saya sejak SD.

 

Bab 6: Pertemuan Tak Sengaja yang Makin Memalukan

Seminggu kemudian, saya tidak sengaja berpapasan dengan adiknya di warung.

Dia langsung teriak:

“KAKK! Makasih yaaa! Suratnya aku pakai buat latihan membaca!”

Pemilik warung menatap saya.
Orang lain menatap.
Kucing di depan warung pun menatap.

Saya hanya bisa senyum kaku sambil berkata:

“Sama-sama…”

Adiknya nambahin:

“Besok-besok bikin lagi ya Kak. Seru! Banyak kata-kata susahnya!”

Terima kasih, nak.
Engkau telah menghancurkan masa remajaku secara elegan.

 

Bab 7: Ternyata Tidak Semua Tragis

Sebagai manusia yang berusaha tegar, saya memberanikan diri chat doi.

Percakapan:

Saya:
“Maaf ya tentang surat itu…”

Dia:
“Hahaha nggak apa-apa kok. Lucu malah.”

Saya:
“Lucu?”

Dia:
“Iya. Kamu berani… itu manis.”

Saya tiba-tiba hidup lagi.

Dia lanjut:

“Maaf kalau adikku kebangetan. Dia baca semuanya keras-keras, padahal itu terlalu private.”

Saya balas:

“Nggak apa… aku sudah pasrah sejak paragraf pertama.”

Dia tertawa.

Percakapan kami jadi makin hangat.
Dan sejak kejadian itu… kami jadi sedikit lebih dekat.

Lucunya, dia bilang:

“Aku masih simpan suratnya kok. Tapi adikku juga minta fotokopinya buat latihan membaca…”

SAYA MENINGGAL. LAGI.

 

Bab 8: Surat Cinta Jadi Modul Belajar

Entah bagaimana ceritanya, adiknya doi membuat surat saya seperti bahan pelajaran wajib.
Katanya gurunya pernah melihat dia latihan membaca dan berkata:

“Bagus! Itu teks apa?”

Lalu adiknya jawab:

“Surat cinta, Bu!”

Gurunya bengong.
Satu kelas ngakak.

Dan gara-gara itu, surat saya dijadikan bahan reading comprehension pribadi.
Busyett…
Dari romantis jadi materi pembelajaran anak SD.

Saya bahkan kepikiran:
Jangan-jangan nanti surat saya masuk buku paket Bahasa Indonesia edisi revisi.

 

Bab 9: Pelajaran Berharga (Yang Menyayat Tapi Lucu)

Dari kejadian penuh malu ini, saya mendapat beberapa pelajaran:

1. Jangan pernah titip surat cinta di buku tanpa izin

Risiko:
Dibaca keluarga → dibaca adik SD → jadi bahan belajar → jadi bahan tertawaan satu RT.

2. Anak SD tidak tahu rahasia. Apa yang mereka temukan, akan mereka publikasikan ke dunia.

3. Surat cinta tidak cocok dijadikan bahan pembelajaran membaca. Tapi ternyata efektif.

4. Cinta itu buta… dan ternyata buta huruf juga bisa terlibat.

5. Kalau kamu mau romantis, siap-siap malu. Kalau kamu tidak mau malu, jangan coba-coba romantis.

 

Bab 10: Ending yang Agak Manis

Meski surat saya jadi “buku bacaan” versi anak SD, ada kabar baik:

Si doi bilang:

“Surat itu… sebenarnya manis. Walau cara nyampenya salah banget.”

Dan sejak saat itu, hubungan kami jadi lebih dekat.
Tidak langsung jadian sih.
Tapi minimal, tidak ada lagi insiden membaca keras-keras di ruang tamu.

Dan ya…
Saya masih trauma menulis surat cinta.
Kalau mau mengungkapkan perasaan, sekarang pakai chat.
Lebih aman.
Lebih cepat.
Dan kecil kemungkinan dibaca anak SD di depan umum.

 

Kesimpulan:

Ketika niat romantis dipertemukan dengan keluarga yang terlalu terbuka dan adik SD yang rajin belajar…
…jadilah komedi cinta paling mengenaskan tapi lucu se-universe.