Skip to main content

Salah Kirim! Surat Buat Mantan Malah Nyampe ke Guru Olahraga


Ketika Curhat Patah Hati Justru Dianggap Laporan Pelanggaran Sekolah

Ada kalanya hidup mengajarkan kita bahwa menjadi manusia itu penuh kejutan. Kadang kejutan yang manis, kadang kejutan yang pahit, dan kadang… kejutan yang bikin kita ingin pindah sekolah, pindah kota, bahkan pindah planet.

Hari itu, aku cuma ingin melakukan satu hal sederhana: mengirim surat curahan hati untuk mantan. Sesuatu yang klasik, mellow, dan jujur. Tapi siapa sangka, dunia punya rencana berbeda. Rencana yang melibatkan rasa malu tak terhingga, guru olahraga yang judes, dan surat galau yang salah alamat.

 

Salah Kirim! Surat Buat Mantan Malah Nyampe ke Guru Olahraga

Awal Mula Kegoblokan: Surat yang Terlalu Serius

Ceritanya begini. Sudah seminggu aku putus dari pacarku—sebut saja namanya “Mantan Tercinta yang Meninggalkan Luka Mendalam dan Hutang Emosional”. Aku tidak mau keliatan lebay, tapi faktanya, aku benar-benar down.

Makan nggak enak. Tidur nggak nyenyak. Nilai matematika turun (walau sebelumnya juga sudah nyungsep). Pokoknya hidup terasa seperti sinetron Jam 7 pagi: dramatis tapi tidak penting.

Akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat. Biar lega, biar tuntas, biar mantan tahu bahwa aku adalah manusia berperasaan, bukan batu bata yang dingin tak bernyawa.

Suratnya kupenuhi metafora cinta yang gak kalah cringe:

  • “Tanpamu hidupku hampa, seperti pisang goreng tanpa pisang.”
  • “Hatiku patah, seperti kapur papan tulis yang ditimpa penggaris besi.”
  • “Aku masih berharap, meski harapan itu tipis seperti seragam olahraga yang sudah dikecilkan ibu.”

Pokoknya surat itu bagus… kalau dikirim ke buku harian. Bukan ke orang asli.

 

Kesalahan Fatal: Nama Penerima Tidak Diganti

Masalah muncul saat aku mau memasukkan surat itu ke amplop. Dengan percaya diri ala Romeo KW, aku menulis nama penerima dengan gaya kaligrafi seadanya:

“Untuk: Pak Bayu”

YES. PAK. BAYU.
Alias Guru Olahraga.
Alias orang yang paling tidak tepat untuk membaca isi surat mellow.

Gimana bisa aku menulis nama itu?
Jadi ceritanya, beberapa hari sebelumnya aku harus ngumpulin surat izin sakit untuk pelajaran olahraga. Biasanya aku tulis “Untuk: Pak Bayu”. Dan bodohnya, aku memakai amplop sisa dari situ.

Karena jam tidurku berantakan, mata panda sudah level profesional, aku menulis nama itu tanpa sadar. Auto pilot mode: ON.

Begitu sadar?
Sudah terlambat. Terlalu terlambat.

Aku udah memasukkan, menyegel, dan—lebih parah—menitipkan amplop itu ke temanku untuk diantar ke “si Mantan”.

 

Perjalanan Surat Terbodoh di Dunia

Temanku, sebut saja “Rangga Pengantar Kejadian”, tentu bingung:

“Loh, kok buat Pak Bayu? Mantanmu udah ganti nama?”

Tapi bukannya bertanya lebih lanjut, dia cuma nyengir dan langsung pergi.

Kenapa?
Karena dia nggak mau telat masuk kelas olahraga. Dan karena dia anak yang taat, begitu lihat nama Pak Bayu, dia refleks menyerahkan amplop itu ke guru olahraga kami.

Aku tidak tahu ini terjadi sampai jam pelajaran keempat, ketika tiba-tiba aku dipanggil.

 

Panggilan Menghancurkan Reputasi: “Yang Nulis Surat Ini Siapa?”

Aku sedang duduk manis di kelas, berusaha move on dengan makan ciki rasa pedas, ketika pengeras suara sekolah berbunyi:

“Kepada siswa bernama… kamu tahu siapa kamu, harap ke ruang guru olahraga.”

Langsung dada ini deg-degan. Pikiran liar mulai muncul:

  • Apa aku ditegur karena gak ikut lari 10 putaran minggu lalu?
  • Apa aku salah masuk WC guru kemarin?
  • Atau… JANGAN-JANGAN…

Dengan langkah gemetar seperti kambing mau disembelih, aku pergi.

Begitu sampai, kulihat Pak Bayu berdiri dengan wajah datar yang lebih dingin dari es batu kulkas sekolah.

Di tangannya?
Amplop sialan itu.

“Ini surat dari kamu?” tanyanya.

Aku ingin bilang “TIDAAAAK”, lalu pura-pura pingsan. Tapi mulutku mengkhianati otak:

“…I-iya, Pak.”

 

Momen Puncak: Pak Guru Membacakan Surat Galau dengan Ekspresi Datar

Pak Bayu membuka surat itu tanpa ekspresi. Seolah dia sedang membaca jadwal piket kelas, bukan surat patah hati berisi metafora memalukan.

Dan yang bikin hidup makin kelam?

Beliau MEMBACAKANNYA keras-keras.

“Tanpamu hidupku hampa, seperti pisang goreng tanpa pisang…”
Nada suaranya datar.
Isi suratku? Drama.
Perpaduannya? Komedi.

Aku ingin menghilang. Menyatu dengan tanah. Atau berubah jadi tiang gawang di lapangan.

Beberapa guru yang kebetulan lewat menghentikan langkah. Bahkan Bu Rina dari BK sempat melongok dan bilang:

“Wah, bagus nih. Ada bakat puisi.”

PAK BAYU LANJUT.

“Hatiku patah seperti kapur yang dipukul penggaris…”
“Harapan itu tipis seperti seragam olahraga…”

Aku yakin kalau dia melanjutkan sampai akhir, aku bakal langsung dropout sukarela.

 

Reaksi Sang Guru: Antara Bingung dan Emosi

Setelah selesai membaca, Pak Bayu memandangku.

“Ini… apa maksudnya?” katanya.

Aku langsung ngejelasin cepat:

“Itu… salah kirim, Pak! Harusnya buat mantan saya… bukan buat Bapak!”

Pak Bayu menatapku lama. Sangat lama.
Seperti sedang menilai apakah aku masih layak mengikuti ujian semester.

Akhirnya dia berkata:

“Lain kali, kalau mau mengungkapkan perasaan, jangan lewat saya. Saya bukan pos Indonesia.”

Aku cuma bisa mengangguk.

“Dan tolong,” lanjutnya, “jangan bandingkan hatimu dengan kapur. Kapur sudah cukup menderita di sekolah ini.”

 

Akibatnya: Trending Topik Se-Sekolah

Kalau kamu pikir masalah selesai di situ, kamu salah.

Entah siapa yang mulai, entah dari mana bocornya, tapi keesokan harinya seluruh sekolah tahu.

Kawan-kawan lewat depan kelas sambil bilang:

“Eh, itu anak pisang goreng tanpa pisang!”

Ada yang lebih jahat:

“Nanti kalau olahraga, jangan lupa izin sakit hati ke PAK BAYU!”

Bahkan adik kelasku yang kelas 10 ikut-ikutan:

“Kak, kapurnya aman, kan?”

Aku resmi menjadi legenda.
Legenda yang tak diinginkan.

 

Mantan? Jangan Ditanya

Ketika akhirnya aku bertemu mantan, dia cuma tersenyum simpul dan bilang:

“Aku tau kamu sayang, tapi… kok malah Pak Bayu yang nerima duluan?”

Aku tidak menjawab.
Aku hanya ingin hidup baru. Identitas baru.
Mungkin pindah sekolah ke Kutub Utara.

 

Pelajaran Berharga dari Kejadian Memalukan Ini

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Termasuk tragedi komedi ini.

Berikut pelajaran penting yang bisa kalian petik:

1. Jangan menulis surat saat ngantuk

Serius. Hasilnya bisa jadi bencana.

2. Periksa nama penerima amplop!

Ini bukan email yang bisa di-undo.

3. Jangan menaruh metafora aneh di surat cinta

Percayalah. Tidak ada orang yang ingin disamakan dengan pisang goreng.

4. Guru olahraga bukan tempat curhat

Meskipun mereka tegas, mereka bukan target surat patah hati.

5. Teman yang terlalu patuh bisa menjadi sumber masalah

Rangga… aku ingat jasamu.

 

Penutup: Surat Galau, Guru Judes, dan Aku yang Malu Selamanya

Kalau kamu pikir hidupmu memalukan, tenang. Ada seseorang di luar sana—yaitu aku—yang pernah mengirim surat cinta untuk mantan tapi nyangkut ke tangan guru olahraga judes.

Aku masih trauma setiap melihat amplop cokelat. Bahkan mendengar kata “surat” saja membuat jantungku berdebar.

Tapi hey… setidaknya sekarang aku bisa menuliskannya untuk blog CERCU. Kalau hidup memberimu rasa malu, jadikanlah konten.

 

Comments

Popular posts from this blog

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...