Friday, December 12, 2025

Surat Cinta Pertamaku Berakhir Jadi Bahan Latihan Membaca Adiknya Si Doi

Sedihnya, suratku malah dipakai buat latihan membaca anak SD.

Ada banyak tragedi dalam sejarah umat manusia:
Atlantis tenggelam, dinosaurus punah, dan saya…

Saya melihat surat cinta pertama saya dibacakan dengan lantang oleh adik kelas 3 SD.

Iya.
Surat cinta pertama saya.
Yang saya tulis sambil gemeter, sambil deg-degan, sambil ngelus dada setiap lima menit.
Yang harusnya berakhir romantis, penuh haru, penuh bunga, penuh cinta.

Tapi takdir berkata lain.
Tuhan punya selera humor yang unik.
Dan keluarga si doi… jauh lebih unik lagi.

Berikut kisah lengkapnya.
Silakan ambil snack karena ini panjang, penuh rasa malu, dan Anda berhak menertawakan penderitaan saya.

 

Surat Cinta Pertamaku Berakhir Jadi Bahan Latihan Membaca Adiknya Si Doi

Bab 1: Keputusan Fatal untuk Menulis Surat Cinta Pertama

Sejak awal, perasaan saya pada si doi sudah tak main-main.
Setiap dia lewat, hati saya seperti HP baterai 5% yang tiba-tiba dicas jadi 100%.
Setiap dia senyum, jiwa saya seperti kena sinar matahari ultra romantis.
Dan setiap dia ngobrol, saya ngerasa seperti nonton sinetron jam prime time.

Setelah sekian lama memendam rasa, akhirnya saya memutuskan:
Saya harus menyatakan cinta.

Namun saya tidak memilih cara modern.
Tidak pakai chat.
Tidak pakai DM Instagram.
Tidak pakai voice note yang isinya “heh…” lalu hapus, lalu kirim lagi, lalu hapus lagi.

Saya memilih cara klasik: SURAT CINTA.

Surat cinta itu saya tulis sepenuh perasaan.
Kalimatnya penuh metafora dan perbandingan yang saya sendiri sekarang merasa malu Bacanya.

Contohnya:

“Saat kamu tersenyum, dunia seperti berhenti sejenak untuk mendengarkan degup jantungku.”

“Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu, tapi rasanya seperti sudah sejak bumi ini belum punya Wi-Fi.”

“Bolehkah aku jadi alasan kamu bahagia, walau cuma sedikit?”

Saya menulisnya sepanjang dua halaman.
Saya kasih parfum.
Saya lipat rapi.
Saya masukkan amplop warna pink.

Saya bangga banget.
Seakan-akan saya baru menulis naskah drama Korea yang bakal jadi hit global.

Dan saya pun menyelinapkan surat cinta itu ke dalam buku tugas si doi saat dia tidak memperhatikan.

Ah… betapa indahnya rencana itu.
Betapa mulusnya eksekusi.
Betapa malunya yang akan terjadi kemudian.

 

Bab 2: Keesokan Harinya, Alarm Malapetaka Berbunyi

Esoknya, saya sengaja lewat depan rumah doi.
Niatnya mau lihat apakah dia sudah baca surat itu.
Mungkin dia akan keluar rumah sambil senyum malu-malu.
Atau minimal, kirim WA “Makasih ya.”

Tapi saya tidak mendapat pesan apa pun.

Justru… saya mendapat sesuatu yang lain.

Dari dalam rumahnya terdengar suara:

“KAK, AKU LATIHAN MEMBACA YA!”

Saya berhenti di tengah jalan.

Lalu terdengar suara kertas dibuka.

Lalu terdengar…
… sesuatu yang membuat saya ingin memanjat pagar terus kabur ke negara lain.

“Ha… looo… Kak… A… ku… su… kaaa… ka…mu…”

Lalu ada tawa renyah seorang anak kecil.

Saya langsung beku.
Seperti patung.
Patung malu.

Itu… itu kan kalimat pembuka surat saya!?

Saya mendekat sedikit.

Dan benar saja:

Di ruang tamu, ADIK DOI — anak SD kelas 3 — sedang membaca surat cinta saya seolah itu bahan pelajaran sekolah!

Dengan penuh semangat, intonasi jelas, dan gaya seperti presentasi lomba membaca cepat.

 

Bab 3: Ditingkahi Komentar Menusuk dari Anak SD

Saya sembunyi di balik pagar rumah tetangga.
Menguping seperti intel gagal.

Adiknya melanjutkan membaca:

“Ka… lau… ka… mu… bi… lan… g bu… mi… i… niii… ta… npa… ka… muu… se… pi…”

Lalu dia tiba-tiba berhenti dan komentar:

“Ih kak, kok orang ini gombalnya banyak banget ya?”

SAYA HENING.

Lalu terdengar suara si doi:

“Ya ampuuun! Dari siapa sih itu?!”

Adiknya jawab polos:

“Tadi aku nemu di dalam buku Kakak. Isinya lucu banget! Kakak mau aku baca lagi?”

Saya sudah ingin rebahan di jalan raya.
Biarlah sepeda motor lewat dan meratakan harga diri saya.

Tapi semuanya belum selesai.

Adiknya lanjut membaca:

“Ka… lau… cin… taaa… a… dalah… ku… eh… kebu… tu… han… mo… ka… saya… a… da… lah… r e… ch… arg… ee…”

Iya.
Dia sedang membaca perumpamaan saya:

“Kalau cinta adalah kebutuhan, maka aku adalah recharge-mu.”

Tiba-tiba adiknya nyeletuk:

“Kak, love apa sih? Kenapa orang ini sok sok puitis?”

Saya ingin menangis.

 

Bab 4: Keluarga Ikut Bergabung

Saya pikir acara horor itu hanya berlangsung antara si doi dan adiknya.

SAYA SALAH.

Tiba-tiba ibunya datang:

“Loh, itu baca apa? PR Bahasa Indonesia?”

Adiknya jawab santai:

“Nggak Bu. Ini surat cinta Kakak!”

Lalu ibunya teriak:

“HAH? SURAT CINTAAA?! SANA SINI TUNJUKIN, IBU MAU BACA!”

Saya menatap langit.
Antara ingin minta meteorit jatuh atau minta dimasukkan ke dalam tanah.

Ibunya merebut surat itu.
Lalu membaca dengan ekspresi bingung terhibur.

“Wah, full majas anak ini. Cocok masuk lomba menulis surat cinta nasional!”

Ayahnya yang kebetulan lewat pun bertanya:

“Ada apa?”

Ibunya:

“Ini loh, anak SD latihan membaca pakai surat cinta seseorang!”

Ayahnya hanya mengangguk dalam-dalam, sambil bilang:

“Teknik pembelajaran yang kreatif.”

TERIMA KASIH PAK.
TERIMA KASIH BANYAK ATAS TRAUMANYA.

 

Bab 5: Si Doi Akhirnya Tahu Siapa Penulisnya

Setelah semua keluarga membaca, tertawa, dan memberikan komentar yang tidak saya minta, akhirnya si doi berkata lirih:

“Aku kayaknya tahu siapa yang nulis ini…”

JANTUNG SAYA LANGSUNG BERHENTI SEDETIK.

“Tulisannya mirip tulisan… dia…”

Saya: mati pelan-pelan.

Adiknya:
“Kak, kalo dia naksir, Kakak mau nggak?”

Doi:
“Diam deh kamu. Ih…”

Tapi dia senyum.
Senyum malu-malu.

Saya melihat itu dari jauh, dari balik pagar, sambil menyesali seluruh keputusan hidup saya sejak SD.

 

Bab 6: Pertemuan Tak Sengaja yang Makin Memalukan

Seminggu kemudian, saya tidak sengaja berpapasan dengan adiknya di warung.

Dia langsung teriak:

“KAKK! Makasih yaaa! Suratnya aku pakai buat latihan membaca!”

Pemilik warung menatap saya.
Orang lain menatap.
Kucing di depan warung pun menatap.

Saya hanya bisa senyum kaku sambil berkata:

“Sama-sama…”

Adiknya nambahin:

“Besok-besok bikin lagi ya Kak. Seru! Banyak kata-kata susahnya!”

Terima kasih, nak.
Engkau telah menghancurkan masa remajaku secara elegan.

 

Bab 7: Ternyata Tidak Semua Tragis

Sebagai manusia yang berusaha tegar, saya memberanikan diri chat doi.

Percakapan:

Saya:
“Maaf ya tentang surat itu…”

Dia:
“Hahaha nggak apa-apa kok. Lucu malah.”

Saya:
“Lucu?”

Dia:
“Iya. Kamu berani… itu manis.”

Saya tiba-tiba hidup lagi.

Dia lanjut:

“Maaf kalau adikku kebangetan. Dia baca semuanya keras-keras, padahal itu terlalu private.”

Saya balas:

“Nggak apa… aku sudah pasrah sejak paragraf pertama.”

Dia tertawa.

Percakapan kami jadi makin hangat.
Dan sejak kejadian itu… kami jadi sedikit lebih dekat.

Lucunya, dia bilang:

“Aku masih simpan suratnya kok. Tapi adikku juga minta fotokopinya buat latihan membaca…”

SAYA MENINGGAL. LAGI.

 

Bab 8: Surat Cinta Jadi Modul Belajar

Entah bagaimana ceritanya, adiknya doi membuat surat saya seperti bahan pelajaran wajib.
Katanya gurunya pernah melihat dia latihan membaca dan berkata:

“Bagus! Itu teks apa?”

Lalu adiknya jawab:

“Surat cinta, Bu!”

Gurunya bengong.
Satu kelas ngakak.

Dan gara-gara itu, surat saya dijadikan bahan reading comprehension pribadi.
Busyett…
Dari romantis jadi materi pembelajaran anak SD.

Saya bahkan kepikiran:
Jangan-jangan nanti surat saya masuk buku paket Bahasa Indonesia edisi revisi.

 

Bab 9: Pelajaran Berharga (Yang Menyayat Tapi Lucu)

Dari kejadian penuh malu ini, saya mendapat beberapa pelajaran:

1. Jangan pernah titip surat cinta di buku tanpa izin

Risiko:
Dibaca keluarga → dibaca adik SD → jadi bahan belajar → jadi bahan tertawaan satu RT.

2. Anak SD tidak tahu rahasia. Apa yang mereka temukan, akan mereka publikasikan ke dunia.

3. Surat cinta tidak cocok dijadikan bahan pembelajaran membaca. Tapi ternyata efektif.

4. Cinta itu buta… dan ternyata buta huruf juga bisa terlibat.

5. Kalau kamu mau romantis, siap-siap malu. Kalau kamu tidak mau malu, jangan coba-coba romantis.

 

Bab 10: Ending yang Agak Manis

Meski surat saya jadi “buku bacaan” versi anak SD, ada kabar baik:

Si doi bilang:

“Surat itu… sebenarnya manis. Walau cara nyampenya salah banget.”

Dan sejak saat itu, hubungan kami jadi lebih dekat.
Tidak langsung jadian sih.
Tapi minimal, tidak ada lagi insiden membaca keras-keras di ruang tamu.

Dan ya…
Saya masih trauma menulis surat cinta.
Kalau mau mengungkapkan perasaan, sekarang pakai chat.
Lebih aman.
Lebih cepat.
Dan kecil kemungkinan dibaca anak SD di depan umum.

 

Kesimpulan:

Ketika niat romantis dipertemukan dengan keluarga yang terlalu terbuka dan adik SD yang rajin belajar…
…jadilah komedi cinta paling mengenaskan tapi lucu se-universe.


Thursday, December 11, 2025

Nulis Surat Pakai Bahasa Shakespeare, Eh Dibalas dengan ‘Lo Ngegas Ya?’



Halo, para pejuang cinta yang percaya bahwa kata-kata yang berlebihan adalah kunci ke hati sang doi! Mari kita berjalan-jalan sebentar ke masa di mana saya, dengan percaya diri yang sangat salah, memutuskan bahwa menjadi Romeo dari komplek perumahan adalah ide yang brilian.

Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah kunjungan ke perpustakaan dan menonton film Romeo + Juliet versi Leonardo DiCaprio yang sudah tua, memicu sebuah bencana komunikasi yang sampai hari ini masih membuat saya meringis kalau teringat.

Karakter utama dalam drama ini adalah Dinda. Dinda adalah cewek praktis. Dia suka hal-hal yang jelas, to the point, dan tidak berbelit. Sayangnya, saya tidak menyadari hal ini. Yang saya lihat hanyalah bahwa dia cantik, dan kecantikan itu—menurut logika film—harus disikapi dengan puisi dan kata-kata sok tinggi.

Ketika Saya Dikuasai oleh Roh Shakespeare

Fase Inspirasi: Ketika Saya Dikuasai oleh Roh Shakespeare

Waktu itu, kami dapat tugas bahasa Indonesia untuk membaca sebuah drama. Saya, yang malas, memilih yang paling tipis: Romeo dan Juliet versi singkat. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup saya. Setelah membacanya, saya merasa "tercerahkan". Saya yakin, inilah cara merayu wanita yang sesungguhnya! Bukan dengan chat "udah makan?" yang biasa, tapi dengan metafora yang dalam tentang matahari, bulan, dan kuda terbang!

Saya duduk di meja belajar, dengan buku kumpulan drama Shakespeare di satu tangan dan kamus Bahasa Indonesia-Inggris di tangan lain. Misi saya: menulis surat cinta yang akan membuat Dinda terpesona oleh kedalaman jiwa sastrawan saya.

Prosesnya sungguh memilukan. Saya menyiksa bahasa Indonesia dengan memaksanya menjadi pseudo-Elizabethan yang aneh. Kata "aku" diganti menjadi "beta". Kata "kamu" menjadi "engkau". Setiap kalimat harus berirama, penuh dengan kata seru yang tidak perlu.

Akhirnya, setelah berjam-jam bergelut dengan kata-kata, terciptalah sebuah mahakarya yang isinya kira-kira seperti ini:

“Wahai, Dinda, sang mentari yang bersinar di angkasa raya!
Sudikah engkau mengetahui isi kalbu beta yang terdalam?
Bagai sang perindu yang merindukan sang bulan, demikianlah hati beta merindukan cahayamu.
Wajahmu bagaikan kembang yang merekah di taman syurga, membuat sekalian bintang menjadi malu akan sinarnya.
Oh, Dinda, adakah ruang di dalam kalbumu yang suci untuk beta, si papa yang hina dina ini?”

Saya membacanya ulang. Air mata saya hampir menetes karena terharu pada karya saya sendiri. This is it, pikir saya. Besok, dia akan datang ke sekolah dengan mahkota bunga dan memanggil saya 'pujaan hatinya'.

Misi Pengiriman: Sang "Karya Sastra" Meluncur

Saya melipat surat itu dengan hati-hati dan menyelipkannya ke dalam tas Dinda saat pelajaran olahraga. Jantung saya berdebar kencang, bukan karena lari keliling lapangan, tapi karena membayangkan ekspresinya saat membuka surat itu. Saya yakin dia akan terdiam, terpana, dan mungkin menitikkan air mata.

Hari itu berjalan lambat. Saya mengamatinya dari kejauhan, menunggu tanda-tanda bahwa dia telah membaca "karya sastra" saya. Tapi wajahnya tetap biasa saja. Saya menyimpulkan bahwa dia pasti menyimpannya untuk dibaca di rumah, dalam kesunyian, agar bisa menikmati setiap katanya dengan khidmat.

Benturan Realita: Ketika Dunia Sastra Bertemu Bahasa Gaul

Keesokan harinya, Dinda menghampiri saya di lorong sekolah. Wajahnya tidak terpesona. Tidak ada mahkota bunga. Ekspresinya adalah campuran antara bingung dan khawatir.

"Eh, we," katanya, membuyarkan khayalan saya bahwa dia akan memanggil saya "Wahai, pujaan hatiku".

"We... suratnya lo yang kasih ya?" tanyanya, mengeluarkan lipatan kertas itu.

"Beta... maksudnya, iya. Aku," jawabku, mencoba tetap konsisten dengan karakter Shakespeare saya.

Dinda mengedipkan beberapa kali, seolah memastikan bahwa saya ini nyata.

"Gue baca semalem. Berulang-ulang. Sebenernya... lo lagi ngegas gue ya?"

DUNIA SAYA HANCUR. Ngegas? Istilah yang berarti mengolok-olok atau menyindir dengan kasar? Surat cinta saya yang penuh pujian setinggi langit itu dianggap sebagai sebuah bentuk bullying?

"Na... ngegas? Bukan! Itu... itu surat cinta!" bela saya, rasa malu mulai membakar seluruh wajah.

Dinda mengernyitkan dahi, lalu tertawa kecil. "Surat cinta? Serius? Kirain lo lagi nyindir gue karena kemaren gue presentasi jelek. Soalnya tuh tulisan lo aneh banget. 'Si papa yang hina dina'? 'Bagai sang perindu'? Itu binatang apa? Lo kurang tidur ya? Atau lagi demam? Kok jadi kayak orang jaman dulu banget."

Saya berdiri terpaku, merasa seperti patung yang baru saja dihujani fakta. Semua metafora tentang mentari dan kembang, semua kata-kata sok puitis itu, tidak diterjemahkan sebagai keromantisan, melainkan sebagai sindiran tajam yang tidak bisa dipahami.

Dia bahkan tidak mengerti bahwa itu adalah pujian!

Analisis Kegagalan: Dekonstruksi Sebuah Bencana Sastra

Setelah kejadian itu (dan setelah saya sembuh dari malu akut selama seminggu), saya mencoba menganalisis di mana titik kesalahannya.

  1. Kesenjangan Budaya dan Zaman. Dinda adalah anak gaul 2010-an yang bahasanya dicampur dengan bahasa prokem dan singkatan. Saya tiba-tiba menyodorkan bahasa yang lebih tua dari kakeknya. Itu seperti memberikan Blackberry ke anak Gen Z dan berharap mereka akan terkesima.
  2. Tingkat Kepraktisan. Dinda adalah tipe "yang penting jelas". Kalimat seperti "Gue suka lo" jauh lebih efektif baginya daripada "Hati beta bagai sang perindu yang merindukan sang bulan". Yang satu langsung ke sasaran, yang satunya lagi membuatnya bertanya-tanya apakah saya sedang bergurau atau mengalami gangguan jiwa.
  3. Salah Tafsir Total. Frasa "si papa yang hina dina" yang dalam kepala saya berarti "saya yang tidak berdaya", di telinga Dinda terdengar seperti penghinaan terhadap diri sendiri yang berlebihan, sehingga terkesinronis. Dia mengira saya sedang menyindirnya dengan berpura-pura merendahkan diri.

Saya membayangkan apa yang ada di pikiran Dinda saat membaca surat saya:
"Wahai, Dinda, sang mentari..." -> "Ini sarkas? Gue diemin dia seminggu, langsung dijadiin matahari?"
"Bagai sang perindu..." -> "Serangga? Dia bilang gue serangga?!"
"Si papa yang hina dina..." -> "Nih orang ngatain diri sendiri, jangan-jangan mau nyindir gue juga. Lo ngegas ya?"

Epilog: Akhir yang (Tidak) Romantis

Tidak ada kisah cinta ala Romeo dan Juliet yang tercipta. Yang ada, Dinda jadi agak menjaga jarak selama beberapa waktu, mungkin masih ragu apakah saya ini normal atau tidak. Reputasi saya sebagai "anak yang biasa saja" berubah menjadi "anak yang aneh dan sok puitis".

Pelajaran berharga yang saya petik dari tragedi ini:

  1. Kenali Bahasanya Doi. Jika doi bicara dengan bahasa gaul, jangan jawab dengan bahasa sastra 400 tahun yang lalu. Itu bukan romantis, itu awkward.
  2. Kredibilitas Itu Penting. Jika kamu bukan seorang penyair atau pecinta sastra tulen, tiba-tiba menulis dengan gaya Shakespeare hanya akan membuatmu terlihat seperti sedang berakting dengan buruk.
  3. "Aku suka kamu" itu Universal. Frasa ini, dalam segala kesederhanaannya, memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dan risiko kesalahpahaman yang jauh lebih rendah.
  4. Simpan Shakespeare untuk Ujian Saja. Kecuali doi adalah profesor sastra, lebih baik tinggalkan Romeo dan Juliet di buku pelajaran.

Jadi, untuk kalian yang berniat menggunakan pendekatan sastra klasik, pikirkan kembali. Apakah doi akan terpesona, atau justru akan menanyakan kesehatan mentalmu sambil menawarkan obat?

Kadang, cara terbaik untuk mengatakan "aku cinta kamu" adalah dengan langsung mengatakannya, bukan dengan menyamarkannya dalam metafora tentang kuda terbang dan rembulan. Karena kalau tidak, kamu bukan akan dianggap sebagai Romeo, tapi sebagai orang aneh yang perlu diperiksa ke dokter.

Sekian dari saya, sang mantan pujangga gagal yang karyanya dikira sebagai bentuk olok-olok. Sudah ah, mau bakar-bakar puisi lama saya yang menyedihkan itu.

 

Wednesday, December 10, 2025

Suratku Ditemuin Ortu Si Doi… & Dibaca Keras-Keras Saat Acara Keluarga

 


Mimpi buruk jadi kenyataan: surat cintaku dibaca di depan keluarga doi sambil ditertawakan.

Ada banyak hal memalukan dalam hidup.
Sandal putus di tengah jalan.
Kepleset di depan mantan.
Atau salah masuk grup WA dan kirim sticker “Aku nge-fans sama kamu” ke grup RT.

Tapi tidak ada, saya ulangi, TIDAK ADA yang lebih memalukan dibandingkan kejadian yang saya alami:
SURAT CINTA SAYA DIBACA KERAS-KERAS OLEH ORANG TUA DOI DI DEPAN KELUARGA BESARNYA.

Kalau ada kontes “Aib Paling Menyakitkan Tahun Ini”, saya menang tanpa babak final.

Berikut kisah lengkapnya, agar Anda bisa ikut tertawa—karena saya sudah tidak bisa lagi.

 

Suratku Ditemuin Ortu Si Doi… & Dibaca Keras-Keras Saat Acara Keluarga

Prolog: Ketika Cinta dan Keberanian Saling Salah Paham

Semua berawal ketika saya sedang berada pada fase over–confidence tingkat tinggi.
Saya merasa hubungan saya dengan si doi sudah cukup dekat. Kami sering chat, sering bercanda, sering saling kirim meme, bahkan dia pernah ngomong:

“Kamu lucu juga ya.”

Itu pujian atau penghinaan? Entahlah. Yang jelas, hati saya berbunga-bunga seperti taman kota saat lomba hias.

Dalam momen euforia itu, saya memutuskan melakukan tindakan yang sekarang saya sesali sepanjang hayat:
Mengirim SURAT CINTA.

Bukan chat.
Bukan DM Instagram.
Bukan voice note.

Tapi SURAT.
Kertas. Tulisan tangan. Mirip zaman ketika surat masih diantar pak pos naik sepeda.

Saya menulis sepanjang dua halaman.
Pakai pena tinta gel warna biru—biar dramatis.
Tulisannya sampai penuh dengan perumpamaan lebay seperti:

“Tatapanmu menenangkan seperti AC 1 PK di siang bolong.”

“Hatiku bergetar setiap kamu menyebut namaku, meski cuma buat nanya PR.”

“Kalau cinta adalah sepak bola, maka kamu adalah final pialanya.”

Intinya, saya sedang mabuk cinta.
Tapi bukan cinta yang salah—saya yang salah nalar.

Setelah selesai, saya lipat rapi, masukkan ke amplop, tempel stiker hati, dan menyelipkannya di tas si doi saat dia lagi ke toilet waktu belajar kelompok.

Saya pikir ide itu brilian.
ROMANTIS dan RAHASIA.

Ternyata, romansa itu cuma di kepala saya.
Realitanya?
Horor komedi.

 

Awal Mula Musibah: Tas Doi Diperiksa Ibunya

Besok paginya, saya mendapat pesan dari si doi:

“Kamu sempat masukin sesuatu ke tasku ya? Ibu nemu soalnya.”

Jantung saya langsung terasa seperti jatuh ke lobang sumur.
Saya balas:

“OH. MY. GOD. Jadi ibumu baca??”

Dia balas:

“Belum. Tapi kayaknya bakal dibaca. Soalnya dia penasaran.”

Saya langsung lemas.
Saya kepikiran buat ngumpet di bawah ranjang, pindah sekolah, atau daftar jadi relawan cuci piring di Antartika.

Tapi itu baru permulaan.

 

Puncak Malapetaka: Acara Keluarga Besar

Siang itu, keluarga doi mengadakan arisan keluarga.
Ada tante, pakde, bude, sepupu, dan entah siapa-siapa lagi.
Ternyata ibunya bawa tas si doi… lengkap dengan surat cinta saya di dalamnya.

Dan… entah kenapa…
Keisengan ibu-ibu selalu muncul di waktu yang tidak tepat.

Tiba-tiba ibunya berkata:

“Eh, ini ada surat di tas anakku. Kayaknya dari seseorang nih. Lucu deh… tulisan tangan!”

Tante-tantenya langsung heboh:

“Ya ampuuun, baca-baca! Baca dong!”

“Ayo bacakan! Siapa tahu calon menantu!”

“Wih, siapa yang naksir nih?!”

Doi sudah berusaha merebut suratnya sambil berkata, “Bu!! Jangan!!”, tapi tentu saja…

TRADISI IBU-IBU LEBIH KUAT DARI SEGALA HUKUM ALAM.

Ibunya membuka amplop itu dengan pelan, seperti mau buka hasil tes lotre berhadiah mobil.

Doa saya saat itu hanya satu: semoga listrik padam.

Tapi PLN juga tidak berpihak pada saya.

 

Momentum Maut: SURAT CINTAKU DIBACA KERAS-KERAS

Ibunya clearing throat, lalu mulai membaca dengan lantang.

“Hai… (nama doi). Semoga kamu membaca surat ini sambil tersenyum…”

Semua keluarga menoleh ke si doi.
Doi sudah menutup wajahnya dengan bantal.

Lanjuut…

“Aku cuma mau jujur bahwa setiap aku lihat kamu… hatiku meleleh seperti es serut kena matahari.”

Tawa pecah di seluruh ruangan.

Tante:
“HAHAHAHAH!! Es serut katanya! Aduh, aduh… lucu banget ini anak!”

Pakde:
“Wah, jago majas nih..! Lanjut, Bu!”

Saya di rumah hanya bisa merasakan jiwa saya keluar dari tubuh, melayang ke angkasa.

Ibunya terus membaca sambil senyum geli:

“Kalau kamu ibarat kopi susu, maka aku adalah sendok kecil yang selalu menemanimu…”

Tante lain:
“ASTAGA! ROMANTISNYAAA~”

Sepupu kecil:
“Kok kopi susu sama sendok sih? Masa nggak sama gelas?”

Sebagian keluarga lain sudah ketawa sampai batuk.

Tapi itu bukan bagian paling mematikan.
Bagian puncak horor adalah paragraf terakhir:

“Aku nggak tahu apakah kamu punya perasaan yang sama. Tapi satu hal yang pasti… aku siap menunggu kamu, meski seribu purnama…”

Seluruh keluarga bersamaan berteriak:

“WAAAAH SERIBU PURNAMA!”

Ada yang tepuk tangan.
Ada yang bersiul.
Ada yang pura-pura melambaikan sapu tangan seolah ini adegan drama Korea.

Ibunya menutup surat sambil berkata:

“Aduh… gemess bangeeet ini yang nulis. Siapa sih namanya?”

Doi hanya menggeleng dengan pasrah.

 

Setelah Itu… Keheningan (dan Trauma)

Beberapa jam kemudian, doi mengirim saya chat:

“MAAF… keluargaku kebablasan…”

Saya balas:

“Nggak apa-apa. Aku cuma sedang mempertimbangkan jadi biksu.”

Dia balas:

“Tapi serius… mereka bilang kamu manis kok.”

MANIS??
Itu bukan manis.
Itu mirip gula yang jatuh ke lantai, diinjak-injak, lalu jadi karamel gosong.

Dia melanjutkan:

“Aku juga bacanya… cute sih.”

Saya antara mau bahagia atau makin malu.

Tapi tragedi belum selesai.
Keesokan harinya, salah satu tantenya mengirim DM ke Instagram saya:

“Nak, suratmu kemarin lucu banget. Kapan main ke rumah?”

SAYA. MENINGGAL. SECARA SOSIAL.

 

Efek Jangka Panjang: Saya Jadi Urban Legend

Sejak hari itu…

1. Setiap kali ada acara keluarga mereka, surat saya jadi bahan nostalgia

Katanya pernah dibacakan ulang saat mereka kumpul lagi.
Astaga.

2. Doi jadi suka manggil saya "Es Serut"

Saya belum memutuskan apakah itu panggilan sayang atau penghinaan.

3. Ada sepupu doi yang nanyain kapan saya nulis novel cinta

Tolong. Saya cuma penulis surat gagal.

 

Plot Twist: Dari Malu Jadi Manis (Sedikit…)

Meski awalnya saya ingin menggali tanah dan masuk ke dalemnya, ternyata setelah kejadian itu hubungan saya dan doi malah… makin dekat.

Katanya, dia tersentuh.
Bahkan dia bilang:

“Sejujurnya… aku senang punya seseorang yang berani kayak kamu.”

Deg.
Jantung saya seperti drum band.

Lalu dia nambahin:

“Walaupun… yaa… suratnya ketauan seluruh keluarga.”

Kami tertawa bareng.
Tawa getir, tapi tawa juga.

Dan sejak itu… hubungan kami perlahan berkembang.
Meski saya masih trauma dengan surat tulisan tangan, setidaknya kejadian itu membawa hasil.

Walau hasilnya lewat jalur yang paling memalukan.

 

Pelajaran Moral (Versi Ngakak):

  1. Jangan masukin surat cinta ke tas tanpa izin.
    Risiko: dibaca keluarga besar.
  2. Ibu-ibu + rasa penasaran = bencana nasional.
  3. Jangan pakai perumpamaan “es serut” lagi.
    Trauma.
  4. Kalau mau romantis, secukupnya. Jangan lebay sampai satu kampung tahu.
  5. Kalau suratmu diumbar ke publik… anggap saja itu soft launching karier kepenulisanmu.
  6. Yang penting: keberanianmu lebih besar dari rasa malumu. Dan itu menggerakkan hati seseorang.