Tuesday, June 10, 2014

JANDA PERAWAN

 

Janda Perawan

Di sebuah klinik kandungan, seorang dokter dikejutkan dengan pasien yang... ya, bisa dibilang unik bin ajaib.

Datanglah seorang perempuan elegan, wajahnya tenang tapi menyimpan sejuta cerita. Usianya sudah matang, penampilannya rapi, dan dari nada bicaranya tampak percaya diri. Tapi yang membuat dokter agak mengerutkan dahi adalah ketika sang pasien memperkenalkan diri:

"Dok, hati-hati ya periksanya… saya masih perawan lho!"

Dokternya langsung berhenti menulis.

“Lho? Ibu kan katanya sudah menikah tiga kali dan cerai tiga kali, kok masih perawan?”

Senyum si ibu tak luntur. Ia menjawab dengan enteng:

“Gini lho dok… Suami saya yang pertama ternyata impoten, gak bisa ngapa-ngapain. Jadi ya... aman, dok.”

Dokter mengangguk pelan. “Oh... begitu. Tapi suami kedua, pasti normal, kan?”

“Normal sih iya, dok. Cuma... ternyata dia gay. Jadi saya gak pernah disentuh juga.”

Kening sang dokter mulai berkerut lebih dalam. “Oke… tapi suami ketiga? Masa iya dia juga gak nyentuh ibu?”

Si ibu mengangguk sambil menarik napas panjang.

“Suami saya yang ketiga itu politisi, dok...”

Dokter menghela napas, separuh frustasi, separuh penasaran.

“Lah? Apa hubungannya sama keperawanan ibu?”

Dan jawaban si janda sukses membuat dokter hampir tersedak:

“Dia cuma janji-janji terus, dok… gak pernah direalisasiin!”

😂😂😂

Kesimpulan moral dari cerita ini?
Kadang, yang paling menyakitkan itu bukan impoten, bukan orientasi, tapi janji-janji manis tanpa realisasi.

Jadi hati-hati ya, jangan sampai kamu jadi "korban politisi" juga. Hehehe.

CERCU - Cerita Lucu
Buat hari kamu lebih ringan, karena tawa adalah obat paling mujarab tanpa efek samping.

Kalau kamu suka cerita ini, jangan lupa share ke teman kamu yang lagi galau... Biar tahu, ada juga "janda perawan" karena janji-janji palsu! 😄

===================================================

PENJAGA WARNET YANG BIJAK

Di sebuah kota kecil, ada warnet legendaris yang sudah beroperasi sejak zaman Facebook masih pakai status "Is feeling happy". Penjaganya, sebut saja Bang Udin, dikenal bukan hanya galak kalau ada yang colokin flashdisk sembarangan, tapi juga bijak dan filosofis.

Suatu hari, seorang anak muda datang ke warnet dan langsung nanya:

“Bang, ada komputer yang deket colokan gak?”

Bang Udin jawab tanpa menoleh:

“Semua komputer deket colokan, Dik… tinggal kamu yang mau berjuang atau enggak.”

Anak itu bingung. Tapi dia milih senyum aja dan duduk.

Beberapa menit kemudian:

“Bang, internetnya lemot nih!”

Bang Udin mendekat pelan, lalu dengan wajah serius berkata:

“Lemot bukan karena jaringan, Dik... tapi karena hatimu belum bisa move on dari mantan.”

Anak itu langsung tutup semua tab yang isinya mantan lagi nikah.

Gak lama kemudian, ada bocah kecil main game teriak-teriak sambil marah-marah karena kalah terus.

“GILA NIH GAME, KAYAK SETAN!”

Bang Udin datang, tepuk bahunya, dan bilang:

“Jangan maki-maki, Nak… Karena kadang kita kalah bukan karena game-nya jahat, tapi karena skill kita yang pas-pasan.”

😂😂😂

Pelajaran dari Warnet Bang Udin:
Hidup ini bukan soal sinyal, tapi soal sikap. Lemot bisa jadi karena kamu terlalu banyak buka tab masa lalu. 😎

Kalau kamu suka cerita ini, tunggu cerita Bang Udin berikutnya:
"Ketika Emak Nebeng Wi-Fi Warnet Buat Nonton Drama Korea" 😆


Friday, May 9, 2014

Kesalahan yang Menjadi Kebiasaan


Drama Kantor Sehari-hari: Kejutan Kecil dari Tono

Tokoh-tokoh:

  1. Pak Budi - Bos yang sering bingung, tetapi baik hati.
  2. Rina - Sekretaris yang cerdas, tetapi terkadang suka lupa.
  3. Tono - Pegawai baru yang selalu ingin mencoba hal baru, tetapi sering salah.
  4. Dina - Rekan kerja yang selalu sibuk dan agak sarkastis.

Setting: Ruang kantor dengan meja, kursi, komputer, dan telepon.

Adegan 1: Di ruang kantor, Rina sedang sibuk mengetik sesuatu di komputer. Pak Budi masuk dengan tampang bingung, mencari sesuatu di kantong celananya.

Pak Budi: (berbisik pada diri sendiri) "Mana kunci kantor, ya? Tadi kayaknya di sini deh."

Rina: (melihat Pak Budi) "Pak Budi, ada yang bisa saya bantu?"

Pak Budi: "Rina, kamu lihat kunci kantor nggak? Tadi kayaknya di saku saya."

Rina: (berpikir) "Hmm, coba Bapak cek di meja kerja Bapak."

Pak Budi: "Oh, iya, benar juga. Mungkin ketinggalan di sana." (keluar dari ruangan dengan panik)

Tono: (masuk dengan tawa) "Pak Budi selalu begitu ya, suka lupa sendiri."

Rina: "Ya, namanya juga Pak Budi. By the way, Ton, kamu udah beres kerjaan hari ini?"

Tono: "Ehm, hampir. Tapi... aku tadi nggak sengaja menghapus file penting."

Rina: (terkejut) "Apa? File yang mana?"

Tono: "Yang... laporan bulanan itu."

Rina: (mengerang) "Aduh, Tono! File itu penting banget! Kamu udah lapor ke Pak Budi belum?"

Tono: "Belum. Aku takut dimarahi."

Rina: "Ya ampun, yaudah coba kamu cari cara buat ngembalikan file-nya. Cepat sebelum Pak Budi tahu!"

Adegan 2: Dina masuk sambil membawa banyak berkas. Dia terlihat sibuk dan terburu-buru.

Dina: "Rina, kamu lihat berkas yang aku minta tadi pagi?"

Rina: "Ehm... tunggu sebentar." (mencari berkas di tumpukan kertas)

Dina: (sambil melirik ke arah Tono) "Tono, kok kamu kayaknya pucat? Ada apa?"

Tono: "Aduh, Mbak Dina, aku tadi nggak sengaja hapus file laporan bulanan."

Dina: (tertawa sarkastis) "Hapus? Ya ampun, Tono. Kamu memang selalu bikin kejutan, ya. Udah tahu belum kalau Pak Budi itu bisa berubah jadi Hulk kalau tahu hal begini?"

Tono: "Hah? Hulk? Ya ampun, gimana nih?"

Dina: "Tenang, tenang. Bercanda kok. Tapi serius, coba minta tolong bagian IT. Siapa tahu bisa diselamatkan."

Adegan 3: Pak Budi kembali ke ruangan dengan wajah lega, memegang kunci kantor.

Pak Budi: "Aha! Ketemu juga kuncinya! Eh, kalian kenapa? Kok pada tegang?"

Rina: (terkekeh) "Nggak kok, Pak. Cuma Tono tadi habis ngasih kejutan kecil."

Tono: "Iya, Pak, kejutan. Hehehe..."

Pak Budi: "Hah? Kejutan apa?"

Dina: (sambil tersenyum) "Nggak ada yang serius kok, Pak. Cuma dia lagi belajar supaya nggak bikin kesalahan lagi."

Pak Budi: "Bagus, bagus. Asal belajarnya benar, jangan sampai jadi kebiasaan aja, ya!"

Tono: "Siap, Pak! Saya janji!"

Pak Budi: "Nah, sekarang ayo kerja lagi! Besok kan ada rapat besar. Jangan sampai ada kejutan lagi, ya!"

Semua: (bersamaan) "Siap, Pak!"

Penutup: Semua kembali ke meja kerja masing-masing. Tono terlihat sedikit tegang tapi tersenyum lega.

===============================

 

 Drama Kantor Sehari-hari: Kejutan Kecil dari Tono

Pagi itu, suasana di kantor masih cukup tenang. Suara keyboard mengetik dan deru kipas angin dari AC tua menjadi latar belakang rutin. Rina, sang sekretaris yang cerdas tapi agak pelupa, sedang fokus mengetik laporan di komputernya. Seperti biasa, kacamata duduk manis di ujung hidungnya, dan secangkir kopi sudah separuh habis di samping monitor.

Tiba-tiba pintu terbuka pelan. Pak Budi, bos besar yang dikenal baik hati tapi sering kali kebingungan, masuk dengan langkah ragu. Wajahnya seperti sedang mencari sesuatu—dan memang benar.

“Mana kunci kantor, ya?” bisiknya pada diri sendiri sambil merogoh kantong celana depan, lalu belakang, lalu depan lagi. “Tadi kayaknya di sini deh.”

Rina mengangkat kepala, menoleh. “Pak Budi, ada yang bisa saya bantu?”

Pak Budi menatap Rina dengan wajah penuh harap. “Rina, kamu lihat kunci kantor nggak? Tadi kayaknya di saku saya, tapi sekarang hilang.”

Rina berpikir sejenak, lalu berkata, “Coba Bapak cek di meja kerja Bapak. Siapa tahu ketinggalan di sana.”

Mata Pak Budi langsung membesar seolah baru dapat pencerahan. “Oh iya, benar juga! Mungkin ketinggalan di sana.” Dan tanpa basa-basi, ia keluar dari ruangan dengan langkah panik.

Tak lama kemudian, muncullah Tono, pegawai baru yang penuh semangat dan rasa penasaran. Sayangnya, semangatnya itu sering kali justru berujung pada kekacauan kecil.

“Pak Budi selalu begitu ya, suka lupa sendiri,” katanya sambil tertawa, menurunkan tas dari bahu.

Rina mengangkat alis dan tersenyum kecil. “Ya, namanya juga Pak Budi. Tapi hatinya baik, kok. By the way, Ton, kamu udah beres kerjaan hari ini?”

Tono menggaruk-garuk kepala, terlihat ragu. “Ehm... hampir. Tapi... aku tadi nggak sengaja menghapus file penting.”

Rina langsung berhenti mengetik. “Apa? File yang mana?”

“Yang... laporan bulanan itu,” jawab Tono dengan suara nyaris seperti bisikan.

Rina memutar mata. “Aduh, Tono! File itu penting banget! Kamu udah lapor ke Pak Budi belum?”

Tono menggeleng cepat. “Belum. Aku takut dimarahi.”

Rina menarik napas dalam. “Ya ampun. Yaudah, coba kamu cari cara buat ngembaliin file-nya. Mungkin bisa recovery. Cepetan sebelum Pak Budi tahu!”

Belum selesai suasana cemas itu reda, Dina masuk ke ruangan. Dina ini rekan kerja mereka yang selalu tampak sibuk—lengkap dengan berkas bertumpuk di pelukannya dan gaya bicara yang kadang sarkastis.

“Rina, kamu lihat berkas yang aku minta tadi pagi?” tanyanya tanpa basa-basi.

Rina langsung membuka tumpukan kertas di mejanya. “Ehm... tunggu sebentar ya.”

Dina melirik ke arah Tono yang terlihat seperti anak ayam kehilangan induk.

“Tono, kok kamu kayaknya pucat? Ada apa?”

Tono terlihat makin panik. “Aduh, Mbak Dina, aku tadi nggak sengaja hapus file laporan bulanan.”

Dina tertawa kecil, gaya khasnya. “Hapus? Ya ampun, Tono. Kamu memang selalu bikin kejutan, ya. Udah tahu belum kalau Pak Budi itu bisa berubah jadi Hulk kalau tahu hal begini?”

“Hah? Hulk?” Tono makin panik. “Ya ampun, gimana nih?”

Dina menepuk pundaknya. “Tenang, tenang. Bercanda kok. Tapi serius, coba minta tolong bagian IT. Siapa tahu bisa diselamatkan. Biasanya sih ada backup-nya.”

Saran Dina itu langsung membuat Tono seperti mendapatkan secercah cahaya di tengah badai. “Iya, iya, aku ke IT sekarang!” Dan ia langsung melesat keluar.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka kembali. Pak Budi muncul lagi dengan wajah sumringah sambil mengacung-acungkan kunci kantor.

“Aha! Ketemu juga kuncinya!” serunya penuh kemenangan. “Eh, kalian kenapa? Kok pada tegang?”

Rina terkekeh. “Nggak kok, Pak. Cuma Tono tadi habis ngasih kejutan kecil.”

Tono baru saja kembali dari bagian IT, dengan wajah agak lega meski masih cemas. “Iya, Pak. Kejutan. Hehehe...”

Pak Budi mengerutkan dahi. “Hah? Kejutan apa?”

Dina langsung sigap menengahi. “Nggak ada yang serius kok, Pak. Cuma dia lagi belajar supaya nggak bikin kesalahan lagi.”

Pak Budi menepuk bahu Tono. “Bagus, bagus. Asal belajarnya benar, jangan sampai jadi kebiasaan aja, ya!”

“Siap, Pak! Saya janji!”

Pak Budi tersenyum puas. “Nah, sekarang ayo kerja lagi! Besok kan ada rapat besar. Jangan sampai ada kejutan lagi, ya!”

“Siap, Pak!” jawab mereka serempak, seperti anak-anak sekolah menjawab gurunya.

Semua pun kembali ke tempat masing-masing. Rina kembali ke keyboardnya, Dina ke tumpukan berkasnya, dan Tono duduk di depan komputernya sambil bernapas lega.

Pelajaran dari Sebuah Kejutan

Kisah sehari-hari di kantor ini mungkin terdengar sederhana, tapi sesungguhnya menyimpan banyak pelajaran. Pertama, tidak ada yang sempurna di kantor ini. Bahkan Pak Budi, sang bos, bisa lupa tempat naruh kunci. Rina, meski cerdas, kadang suka lupa taruh berkas. Dina, yang kelihatan paling sibuk dan galak, ternyata punya sisi peduli yang cukup besar. Dan Tono? Ya, dia mewakili kita semua di hari pertama kerja: semangat tinggi, tapi kadang malah bikin masalah.

Yang penting adalah bagaimana mereka semua menanggapi kesalahan itu. Nggak ada yang marah berlebihan. Nggak ada yang saling menyalahkan. Yang ada justru saling mengingatkan, membantu, bahkan bercanda agar suasana tetap cair.

Bekerja di kantor bukan cuma soal menyelesaikan tugas. Tapi juga soal membangun hubungan, memahami karakter masing-masing, dan tentu saja... menghadapi kejutan yang bisa datang kapan saja.

Di balik meja-meja, kursi-kursi, komputer yang selalu menyala, dan telepon yang kadang berbunyi tiba-tiba, selalu ada cerita unik yang tak tertulis dalam SOP kantor mana pun. Seperti hari itu, ketika satu file hilang nyaris membuat kantor panik, tapi juga menjadi momen keakraban antar-rekan kerja.

Tono kini tahu bahwa menghapus file penting itu bukan akhir dunia. Selama masih ada niat memperbaiki, masih ada harapan. Dan dia juga belajar, kalau Dina yang kelihatan galak itu, ternyata bisa juga jadi penolong. Rina? Ia belajar untuk lebih rapi lagi menaruh berkas. Sementara Pak Budi? Yah, semoga habis ini beliau mulai memakai gantungan kunci supaya nggak panik tiap pagi.

Akhirnya, semua kembali seperti biasa. Tapi hari itu tetap akan diingat sebagai “Hari Kejutan Tono”. Sebuah kisah yang nantinya mungkin akan diceritakan ke pegawai baru lainnya: “Dulu ada satu anak baru, namanya Tono...”

Dan cerita pun terus berlanjut, seperti hidup yang tak pernah kehabisan drama kecil.

TAMAT

 


Friday, April 11, 2014

Surat Cinta Tangan Pertama untuk Sri – Aco, 2006

 


1. "Surat Cinta Tangan Pertama untuk Sri – Aco, 2006"


Kepada Sri yang selalu bersinar di hatiku,


Halo, Sri… Aku harap kamu baik-baik saja. Aku nulis surat ini sambil dengerin lagu "Kangen" nya Dewa 19. Tiba-tiba aja aku jadi pengen ngungkapin perasaan ini, walau aku nggak tau harus mulai dari mana.

Aku masih inget pertama kali liat kamu di warung Bu Ani waktu kamu beli Tango Wafer cokelat. Rambutmu yang panjang dikepang dua, baju seragam SMP biru putihmu yang agak kebesaran, dan senyummu yang bikin aku nggak bisa tidur semalaman. Sejak saat itu, aku selalu "kebetulan" lewat depan sekolahmu jam 2 siang, biar bisa liat kamu pulang. Kadang aku numpang beli es teh di warung deket gerbang sekolahmu, padahal nggak haus, cuma pengen liat kamu lewat.

Aku nggak berani ngomong langsung, makanya aku nulis surat ini. Aku habisin 3 lembar kertas binder Sinar Dunia buat nulis draftnya. Yang pertama kepanjangan, yang kedua ada coretan tipe-x, yang ketiga… ini, yang akhirnya jadi. Aku pake tinta biru, soalnya kata temenku, tinta hitam terlalu formal kayak surat dinas.

Aku juga semprotin surat ini pake parfum sample dari majalah Gadis (maaf kalau baunya agak aneh, soalnya ini sisa percobaan nomor 4). Aku tempelin stiker bintang-bintang sisa ulangan matematika yang nilainya 60, biar ada kesan "kamu bintang di hidupku" (garing ya? Tapi aku beneran ngerasa gitu).

Aku suka cara kamu ketawa waktu di kelas, suaramu waktu nyanyi "Bintang di Surga" di acara 17-an kemarin, dan… bahkan cara kamu marahin temenmu yang minjem pensil nggak dikembaliin. Aku pengen kenal kamu lebih dekat. Nggak harus jadi pacar sih… tapi kalau kamu mau, aku janji bakal anter kamu pulang pake Honda Astrea Grand punya kakakku (meskipun kadang mogok).

Kalau kamu nggak suka, gapapa kok. Kamu bisa balas surat ini atau kasih tanda "" di pojok kertas kalau mau, atau "" kalau nggak. Tapi tolong jangan kasih ke siapapun, apalagi Bu Tuti guru BK…

Dari Aco yang selalu nunggu di belakang pohon mangga dekat sekolahmu

P.S: Aku selipin foto aku waktu jalan-jalan ke PW, biar kamu tau aku nggak cuma jago nulis surat doang.



Detail "Vintage" Surat Cinta Era 90-an/2000-an:

Media: Kertas binder bergaris, mungkin ada bekas hapusan tip-ex.

Dekorasi: Stiker hello kitty/bintang, parfum sample (bau khas alkohol + floral).

Gaya Bahasa: Jujur tapi malu-malu, pakai referensi pop culture masa itu (Dewa, Peterpan).

Strategi Pengiriman:

Diselipin di buku PR doi lewat temen sekelas.

Atau dikirim via "pos alay" (surat dilipat bentuk love/pesawat kertas).

Bonus Nostalgia:

"Kalau mau jawab, kasih ke Adi aja. Dia tukang jualan permen di kantin."

"Jangan dibalas pake SMS ya, soalnya aku pakai Nokia 3310, pulsa tinggal 200."

Kira-kira Sri bakal jawab apa ya? 😄 #ZamanBaheula

 

===============================================


2. "Surat Cinta Pertama untuk Dian – Andre, 2004 (Versi Gagal Total)"

Kepada Dian yang selalu bikin aku salah tingkah,

Hai, Dian… Aku nulis surat ini sambil dengerin "Cobalah Mengerti" nya Peterpan, soalnya liriknya mirip banget sama isi hatiku. Nggak tau kenapa tiba-tiba aku berani nulis ini, mungkin karena kemarin habis liat kamu jualan kue di bazar sekolah. Eh, tapi jangan salah paham, aku nggak mau pesen kue—aku mau pesen hati kamu. (Garing? Iya, aku tahu.)

Aku pertama kali naksir waktu liat kamu ngambek gara-gara kalah main game PS1 di warnet deket rumahmu. Muka kamu kayak orang mau nyembur api, tapi tetep lucu. Sejak itu, aku sengaja lewat depan rumahmu tiap hari—pura-pura jogging, padahal ngos-ngosan karena nggak biasa olahraga. Nggak tanggung-tanggung, aku sampe beli kartu Telkomsel 10rb buat sms-an sama kamu, tapi cuma berani kirim "met istirahat siang".

Surat ini aku tulis pake kertas buku tulis merk Sidu bekas ulangan IPA (masih ada bekas coretan rumus fotosintesis). Aku tempelin stiker Doraemon sisa jajan Chiki, biar keliatan aesthetic. Aku juga semprot parfum sample dari majalah Aneka Yess! (maaf kalau baunya kayak obat nyamuk, soalnya emang sampelnya udah kadaluarsa).

Aku suka cara kamu ngomong sambil geleng-geleng kepala, suara kamu waktu nyanyi lagu "Bukan Cinta Biasa" di acara pensi, sampe cara kamu marahin adikmu yang numpang hape buat sms-an. Aku pengen kenal kamu lebih dekat. Nggak harus jadi pacar sih… tapi kalau mau, aku janji bakal anter kamu jalan-jalan naik sepeda United (meskipun remnya suka blong).

Kalau kamu nggak suka, nggak apa-apa. Kamu bisa balas surat ini atau kasih tanda:
✅ = Aku juga suka
❎ = Maaf, aku cuma suka sama makananmu

Tolong jangan kasih tahu siapapun—apalagi Pak Joko guru olahraga, soalnya dia suka ngeledekin aku tiap upacara.

Dari Andre yang sering ngintip kamu dari balik pagar

P.S: Aku selipin foto aku waktu jalan-jalan ke TMII, biar kamu tahu aku bisa foto yang bagus (walau pose-nya kaku kayak patung).

 

Detail Nostalgia Zaman Old:

  • Media: Kertas buku tulis kotak-kotak, ada bekas hapusan pakai Tip-Ex yang nggak rapi.
  • Dekorasi: Stiker Power Rangers sisa jajan Chiki + parfum sample bau alkohol tajam.
  • Gaya Bahasa: Alay tapi polos, nyelipin lirik lagu Peterpan/Dewa biar keliatan romantis.
  • Strategi Pengiriman:
    • Diselipin di tas doi lewat adik kelas (yang dibayar 1 bungkus Chiki).
    • Dikirim lewat pos alay (dilipat bentuk hati, tapi akhirnya sobek karena salah lipat).
  • Bonus Kocak:
    *"Kalau mau jawab, kasih ke Mas Heri aja, tukang fotokopian depan sekolah. Jangan lewat BBM ya, soalnya aku pakai HP Nokia 2600memory-nya penuh sama lagu MP3."*

Kira-kira Dian bakal kasih tanda ✅ atau ❎? 😂 #CercuZamanDulu #GagalMoveOn