Misteri "Serangan Fajar" Berupa Kerupuk Kaleng di Pemilihan Ketua
RT 07
Tokoh:
·
Pak Broto (52 tahun): Petahana Ketua RT.
Visi misinya selalu megah tapi abstrak, penampilannya selalu rapi pakai batik
rapi meski cuma mau ke pos ronda.
·
Mas joni (30 tahun): Calon Ketua RT nomor
urut 02. Anak muda ambisius, mengandalkan jargon "digitalisasi" dan
"milenial", padahal bikin grup WhatsApp RT saja dia sering salah kick
orang.
·
Mbah Sukimin (70 tahun): Sesepuh kampung
yang pendengarannya agak selektif (hanya mendengar apa yang mau dia dengar) dan
selalu mencari keuntungan logistik dari pemilu.
Suasana balai warga RT 07 Kompleks Permai mendadak berubah menjadi mirip
ruang sidang pleno Mahkamah Konstitusi. Spanduk-spanduk berukuran mini
terpasang di tiang listrik. Di sebelah kiri, ada foto Pak Broto dengan pose
bersedekap dada dan jargon: "Melanjutkan Tradisi, Merawat Harmoni".
Di sebelah kanan, ada foto Mas Joni dengan pose menunjuk masa depan dan jargon:
"RT 02.0: Bersama Kita Log-In Menuju Masa Depan".
Hari ini adalah hari pencoblosan. Ketegangan memuncak saat sesi debat
terbuka terakhir sebelum warga masuk ke bilik suara yang dibuat dari kardus mi
instan.
Pak Broto memegang mikrofon dengan penuh wibawa. "Bapak-Bapak, Ibu-Ibu,
serta Mbah Sukimin yang saya hormati. Selama tiga periode saya memimpin, RT 07
ini aman, tenteram, dan tidak pernah kekurangan stok pasir untuk kerja bakti.
Pengalaman adalah segalanya! Jangan serahkan masa depan RT kita kepada anak
muda yang bahkan cara pasang tabung gas saja masih gemetaran!"
Warga pendukung Pak Broto bertepuk tangan riuh. Mas Joni tidak tinggal diam.
Ia langsung merebut mikrofon dari panitia.
"Tunggu dulu, Pak Broto!" potong Mas Joni dengan semangat
berapi-api. "Kita sekarang hidup di era AI, era metaverse! Masa bayar
iuran sampah masih pakai kupon kertas yang sering hilang kalau terselip di
dompet? Di bawah kepemimpinan saya, RT 07 akan memiliki aplikasi sendiri! Nama
aplikasinya: i-RT-Net. Warga bisa komplain jalan rusak lewat aplikasi,
nanti ada push notification langsung ke HP saya!"
Mbah Sukimin yang duduk di barisan paling depan mendadak mengangkat tangan.
"Mas Joni, itu aplikasi i-RT-Net bisa dipakai buat mesen martabak
manis tidak kalau malam-malam?"
Mas Joni melongo. "Eh... tidak bisa, Mbah. Itu khusus untuk birokrasi
dan administrasi warga."
Mbah Sukimin langsung cemberut dan menggelengkan kepala. "Ah, tidak
berguna. Mending sistem Pak Broto, tinggal teriak dari depan jendela, sorenya
martabak langsung diantar istrinya Pak Broto."
Debat semakin memanas ketika memasuki sesi tanya jawab antar calon. Mas Joni
mulai mengeluarkan kartu as yang sudah ia simpan sejak subuh tadi.
"Pak Broto, saya dapat laporan dari tim sukses saya," ujar Mas
Joni dengan nada menginterogasi. "Subuh tadi, ada pergerakan mencurigakan
di sekitar rumah warga. Beberapa saksi melihat ada pembagian barang secara
masif dari pihak Bapak. Apakah Pak Broto sedang melakukan praktik 'serangan
fajar' demi mempertahankan kursi kekuasaan?"
Suasana balai warga mendadak hening. Pak Broto tampak tenang, sementara
beberapa warga mulai berbisik-bisik instan.
"Serangan fajar apa yang kamu maksud, Joni?" tanya Pak Broto
tenang.
"Jangan mengelak, Pak! Saksi saya melihat sendiri, ada kurir yang
mengantarkan kerupuk kaleng putih ukuran raksasa ke setiap teras rumah warga
jam 5 subuh tadi! Di kalengnya ada stiker wajah Pak Broto! Ini jelas penyuapan
terstruktur, sistematis, dan masif berbasis kuliner!" seru Joni
bersemangat, merasa di atas angin.
Pak Broto tersenyum lebar, lalu terkekeh. Beliau mengambil mikrofonnya
kembali.
"Joni, Joni. Itulah bedanya orang yang cuma paham teori digital dengan
orang yang paham lapangan. Kamu tahu hari ini hari apa?"
"Hari pencoblosan, Pak!"
"Bukan cuma itu. Hari ini adalah hari ulang tahun pabrik kerupuk milik
menantu saya!" jelas Pak Broto yang langsung disambut tawa oleh sebagian
warga. "Itu bukan serangan fajar untuk menyuap. Itu adalah syukuran!
Lagipula, mana ada sejarahnya di Indonesia orang mengubah pilihan politiknya
hanya demi sebatang kerupuk putih seharga seribu rupiah?"
Mbah Sukimin mendadak berdiri sambil mengunyah kerupuk yang ternyata sudah
ia bawa dari rumah. "Betul kata Pak Broto, Mas Joni! Jangan menuduh
sembarangan. Kerupuk ini renyah sekali, tidak melempem. Saya yang tadinya mau
golput, begitu makan kerupuk ini langsung dapat hidayah untuk mencoblos... ya
rahasia dong!"
Mas Joni menepuk jidatnya. Strategi politiknya yang disusun berbulan-bulan
patah seketika oleh diplomasi kerupuk kaleng.
Waktu pencoblosan pun selesai, dan tibalah saat yang paling mendebarkan:
penghitungan suara. Panitia mulai membuka satu per satu surat suara dari dalam
kardus.
"Nomor satu, Pak Broto... Sah!" "Nomor dua, Mas Joni...
Sah!" "Nomor satu... Sah!"
Kejar-mengejar angka terjadi begitu ketat. Hingga akhirnya, surat suara
terakhir dibuka. Posisi saat itu adalah seri: 45 suara untuk Pak Broto, dan 45
suara untuk Mas Joni. Surat suara ke-91 ini akan menjadi penentu masa depan RT
07.
Panitia mengangkat kertas terakhir yang ternyata milik Mbah Sukimin, karena
ada coretan tanda tangan besar di pojoknya. Panitia terdiam cukup lama melihat
kertas tersebut.
"Bagaimana, Panitia? Punya siapa suara terakhir?" tanya Mas Joni
dengan dada naik turun menahan debar.
Panitia berdeham. "Anu... surat suara terakhir dinyatakan... TIDAK
SAH!"
"Lho, kok bisa tidak sah?!" Pak Broto ikut panik.
Panitia menunjukkan kertasnya ke arah warga. Di kertas itu, Mbah Sukimin
tidak mencoblos gambar Pak Broto maupun Mas Joni. Beliau justru menggambar
sebuah lingkaran besar di tengah-tengah kertas dengan tulisan: "Saya
memilih kaleng kerupuknya saja untuk tempat menyimpan rengginang."
Balai warga langsung pecah oleh tawa riuh. Mas Joni lemas di kursinya,
sementara Pak Broto hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil memegangi
dadanya. Karena hasil pemungutan suara berakhir seri 45-45 akibat ulah Mbah
Sukimin, pemilihan ketua RT terpaksa ditunda dan harus diulang bulan depan.
Mas Joni mendekati Pak Broto sambil mengulurkan tangan. "Ya sudah, Pak.
Bulan depan kita tanding lagi. Tapi tolong... jangan pakai taktik kerupuk lagi,
Pak. Berat lawannya."
Pak Broto tertawa sambil menjabat tangan rival mudanya itu. "Tenang,
Jon. Bulan depan menantu saya mau launching pabrik kripik singkong. Siap-siap
saja kamu!"
Pertanyaan untuk Pembaca: Bagaimana drama pemilihan ketua RT di
tempat tinggal kalian sendiri, nih? Apakah penuh dengan visi misi canggih
seperti Mas Joni, taktik logistik unik seperti Pak Broto, atau justru ada warga
ikonik seperti Mbah Sukimin yang bikin suasana makin kacau tapi lucu? Yuk,
tuliskan cerita unik seputar RT kalian di kolom komentar!
No comments:
Post a Comment