Tragedi Robot Seharga Angsuran Motor: Ketika Kardus Kosong Lebih Menarik
daripada Teknologi Jepang
Bagi seorang anak kecil, mendapatkan mainan baru adalah
momen sakral yang tingkat kebahagiaannya setara dengan orang dewasa yang
mendadak mendapat bonus gaji tiga belas kali lipat. Namun, bagi para orang tua,
membelikan mainan baru adalah sebuah perjudian finansial dan mental yang sangat
berisiko tinggi.
Kenapa berisiko? Karena ada satu hukum alam tak tertulis
di dunia balita: Semakin mahal
harga sebuah mainan, semakin besar kemungkinan anak Anda hanya akan
memainkannya selama lima menit, lalu beralih memainkan bungkus plastiknya.
Kisah drama kosmik ini melanda kediaman keluarga Pak
gunawan dan Bu Gunawan pada suatu hari Sabtu yang panas. Pelaku utamanya adalah
putra tunggal mereka yang berumur empat tahun bernama Evan, seorang bocah dengan
tingkat kefokusan setara ikan mas koki—mudah teralih oleh benda berkilau apa
pun.
Semua bermula ketika Pak Gunawan pulang dari pusat
perbelanjaan dengan senyum sumringah yang merekah sampai ke telinga. Di kedua
tangannya, ia memeluk sebuah kotak besar bergambar robot futuristik dengan
banyak tombol.
"Ma! Lihat Papa bawa apa! Ini adalah Mecha-Robo X-2000!" seru Pak
Gunawan bangga, meletakkan kotak itu di atas meja ruang tamu seolah-olah itu
adalah piala dunia.
Bu Gunawan yang sedang melipat baju langsung mendekat
dengan dahi berkerut. Matanya langsung tertuju pada label harga yang masih
menempel di pojok kanan atas.
"Astaga, Papa! Ini harganya satu setengah juta?!
Papa gila ya? Itu kan bisa buat bayar angsuran motor bulan ini!" pekik Bu
Gunawan, suaranya naik dua oktav.
"Eits, tenang dulu Mama Sayang. Ini bukan sekadar
mainan," bela Pak Gunawan sambil membusungkan dada. "Robot buatan
Jepang ini punya kecerdasan buatan. Bisa jalan, bisa salto, bisa ngomong tiga
bahasa, dan sensor infra-merahnya bisa mendeteksi emosi. Ini investasi untuk
melatih motorik dan intelektual anak kita!"
Tepat saat itu, Evan keluar dari kamar sambil menyeret
sebuah mobil-mobilan plastik murahan yang rodanya tinggal tiga. Begitu melihat
kotak besar di atas meja, mata Evan langsung berbinar-binar. "Wah! Robot
raksasa!"
"Nah, lihat kan, Ma? Matanya memancarkan aura
kecerdasan," bisik Pak Gunawan penuh kemenangan. Ia lalu berlutut di depan
Evan. "Evan, ini robot baru buat Evan. Ayo kita buka fungsinya
sama-sama!"
Dengan penuh kehati-hatian—seolah sedang menjinakkan
bom—Pak Gunawan membuka selotip kotak tersebut. Ia mengeluarkan sang robot yang
tampak gagah dengan lapisan besi mini berwarna silver dan emas. Pak Gunawan
memasukkan enam buah baterai ukuran AA, lalu menekan tombol Power.
“Konnichiwa!
I am Mecha-Robo. Let’s play together, Master!” robot itu berbicara dengan
suara robotik yang jernih, matanya menyala biru, lalu melakukan gerakan dansa
patah-patah yang sangat keren.
Pak Gunawan tersenyum puas, merasa satu setengah
jutanya tidak sia-sia. "Gimana, Evan? Keren banget, kan?"
Evan mengangguk pelan, matanya tak berkedip.
"Keren, Pa..."
"Ayo, coba mainkan! Tekan tombol merah di dadanya,
dia bisa salto!" perintah Pak Gunawan bersemangat.
Evan maju satu langkah. Tapi, alih-alih menyentuh robot
mahal tersebut, tangan mungil Evan justru meraih kotak kardus kosong pembungkus
robot yang tergeletak di lantai. Dengan cekatan, Evan membalikkan kardus besar
itu, merangkak masuk ke dalamnya, lalu mengeluarkan kepalanya dari bagian atas
yang terbuka.
"Aummm! Evan jadi kura-kura ninja raksasa! Rumah
Evan ada di dalam kardus!" teriak Evan kegirangan dari dalam kotak.
Pak Gunawan melongo. Senyum karismatiknya langsung
rontok. "Eh? Evan... robotnya di sini, Nak. Ini yang harganya mahal, bisa
salto. Kardus itu cuma sampah, besok mau dibuang sama Tukang Loak."
"Enggak mau! Robotnya berisik, matanya seram kayak
hantu!" sahut Evan dari dalam kardus. "Kardus ini lebih seru, baunya
enak!"
Bu Gunawan yang melihat kejadian itu langsung melipat
tangan di dada, menatap suaminya dengan tatapan "Aku bilang juga
apa".
"Nah, Papa. Silakan nikmati investasi intelektual
Papa. Biarkan robot satu setengah jutanya salto sendirian sampai baterainya
habis, sementara anak kita lebih memilih simulator kura-kura seharga nol
rupiah," sindir Bu Gunawan tajam, lalu kembali ke ruang tengah sambil
tertawa kecil.
Pak Gunawan tidak menyerah. Harga dirinya sebagai
seorang ayah dan pria dewasa sedang dipertaruhkan. Ia mengambil remote control robot tersebut,
lalu mencoba memancing perhatian anaknya lagi.
"Evan, lihat nih! Robotnya bisa jalan nyamperin
kardus Evan!" Pak Gunawan mengarahkan robot itu berjalan mendekati kotak.
“Moving
forward! Obstacle detected!” bunyi si robot sambil berjalan maju dengan
gagah.
Namun, alih-alih takjub, Evan malah merasa wilayah
kekuasaan kura-kuranya terancam. "Hih! Jangan dekat-dekat monster
besi!"
Brak!
Dengan satu tendangan maut dari dalam kardus, Evan menendang robot mahal
tersebut hingga terjungkal ke lantai. Robot itu mendarat dengan posisi
telungkup, kakinya masih bergerak-gerak di udara seperti kecoak yang keracunan
obat semprot.
“System
error... Master is aggressive... Help...” rintih si robot dengan suara yang
melemah sebelum akhirnya lampunya mati total. Satu sayap plastiknya patah.
Pak Gunawan spontan memegangi dadanya, merasa
jantungnya ikut patah menjadi dua bagian. "Robotku... angsuran
motorku..." gumamnya dengan tatapan kosong.
Hingga malam hari, drama mainan baru itu pun mencapai
puncaknya. Sang robot jepang yang canggih berakhir tragis di dalam lemari kaca,
dipajang seperti barang museum yang tidak boleh disentuh. Sementara itu, Evan
tertidur pulas di lantai ruang tamu... masih berada di dalam kotak kardus
kosong tersebut, menggunakannya sebagai selimut penahan dingin.
Pak Gunawan hanya bisa duduk di sofa sambil meratapi
nasib, bersumpah dalam hati bahwa ulang tahun Evan bulan depan, dia hanya akan
pergi ke toko bangunan untuk membelikan anaknya dua lembar kardus bekas kulkas
dan satu gulung lakban.
Catatan
Redaksi CERCU: Mengerti jalan pikiran anak kecil itu lebih rumit daripada
memahami rumus fisika kuantum. Bagi mereka, esensi dari sebuah mainan bukan
terletak pada kecanggihan teknologi atau nominal harganya, melainkan pada
seberapa seru benda itu bisa dijadikan tempat persembunyian.
Bagaimana
dengan Anda, Pembaca CERCU? Pernahkah Anda membelikan mainan mahal setengah
mati untuk anak, keponakan, atau adik, tapi ujung-ujungnya mereka malah lebih
asyik mainin bubble wrap, tali rafia, atau botol parfum kosong milik Anda? Yuk,
ceritakan drama mainan baru versi kocak Anda di kolom komentar!
No comments:
Post a Comment