Korban Konspirasi Tidur Siang: Kisah Jono yang Menembus Dimensi Lain Akibat
Salah Turun Bus
Tidur di dalam bus kota yang sedang melaju membelah kemacetan
adalah salah satu nikmat dunia yang tiada taranya. Angin sepoi-sepoi dari AC
yang filternya jarang dibersihkan, ditambah guncangan halus jalanan berlubang,
menciptakan kombinasi efek hipnotis yang lebih ampuh daripada sirup lelap mana
pun.
Namun, ada harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah
tidur yang terlalu nyenyak. Kisah tragis sekaligus membagongkan ini menimpa Jono, seorang pemuda yang
tingkat pelornya (nempel molor) sudah mencapai level kronis. Hari itu, Jono
berniat pulang ke rumahnya di daerah Sukamaju. Sial baginya, alam bawah sadar memiliki
rencana lain untuk sore harinya.
Babak 1: Setengah Sadar, Sepenuhnya Salah
Jono terbangun dengan kaget saat kondektur bus, Bang ucok, berteriak lantang di
dekat pintu belakang. Suara teriakan itu beradu dengan suara musik dangdut
koplo yang disetel kencang oleh sopir.
Bang Ucok:
“SUKAAAMIIIS! SUKAMIIS! Yang turun Sukamis kiri, Kiri, Bang! Buruan, bus jalan
lagi!”
Otak Jono yang baru mengumpulkan nyawa sekitar dua
persen langsung menangkap kata "Suka" dan akhiran "S".
Tanpa berpikir panjang, dia mengira itu adalah "Sukamaju", daerah
rumahnya. Dengan gerakan refleks seperti ninja yang panik, Jono menyambar tas
ranselnya, melompat dari kursi, dan langsung terjun turun dari pintu bus.
WUZ~
Bus kota itu langsung melesat pergi, meninggalkan Jono di tepi jalan yang
tampak... sangat asing.
Jono mengucek matanya. Dia melihat ke sekeliling. Tidak
ada pangkas rambut "Sederhana" yang biasa jadi patokan rumahnya.
Tidak ada tukang gorengan langganannya. Yang ada hanyalah hamparan sawah yang
luas, sebuah pos ronda yang sepi, dan sebuah papan penunjuk jalan kayu yang
bertuliskan: Selamat Datang di
Desa Sukamis.
Jono memeriksa ponselnya. Maps menunjukkan dia berada
25 kilometer jauhnya dari rumah.
Babak 2: Interogasi di Pos Ronda
Jono berjalan dengan gontai menuju pos ronda terdekat
demi mencari kepastian hidup. Di sana, duduk Pak RT Tarjo yang sedang asyik melinting tembakau,
dan Girin, seorang pemuda
lokal yang tampangnya seperti orang yang baru bangun tidur sejak dua tahun
lalu.
Jono:
(Sambil memegang kepalanya yang masih pusing) “Permisi, Pak… Ini benar-benar
bukan Sukamaju ya?”
Pak RT
Tarjo: (Memicit kacamata, melihat Jono dari atas sampai bawah) “Bukan, Mas.
Ini Sukamis. Sukamaju mah masih maju lagi di depan sana, melipir lewat dua
kabupaten lagi. Masnya ini mau mudik apa gimana kok tersesat jauh amat?”
Jono:
“Saya ketiduran di bus, Pak. Pas kondektur teriak 'Sukamis', kuping saya
dengarnya 'Sukamaju'. Langsung lompat saya.”
Girin:
(Sambil mengunyah kerupuk dengan lambat) “Wah, Mas… Lu mending. Bulan lalu ada
yang salah turun di sini juga. Dikira terminal, taunya tempat pemakaman umum.
Begitu turun langsung disambut ambulans.”
Jono:
“Waduh, jangan nakut-nakutin dong, Mas! Sekarang masalahnya, bus arah balik
lewatnya jam berapa ya, Pak?”
Pak RT
Tarjo: “Waduh, Mas. Bus yang lewat sini itu cuma ada dua kali sehari. Yang
tadi Mas tumpangi itu bus terakhir buat hari ini. Sisanya paling besok pagi
subuh, barengan sama ayam berkokok.”
Babak 3: Solusi yang Malah Membawa Petaka Baru
Jono langsung lemas. Dia membayangkan harus menginap di
pos ronda bersama Girin yang tatapannya kosong. Jono mencoba memesan ojek online, namun layar ponselnya
hanya menampilkan tulisan: “Driver
tidak ditemukan di area ini. Silakan hubungi dukun terdekat.” (Oke, bagian
dukun itu bohong, tapi intinya memang tidak ada sinyal).
Melihat penderitaan Jono, Pak RT Tarjo mencoba
memberikan solusi alternatif.
Pak RT
Tarjo: “Gini aja, Juk—eh, siapa nama kamu tadi? Jono? Nah, si Girin ini
punya motor tua di rumahnya. Dia bisa anterin kamu ke jalan raya besar biar
bisa dapet tumpangan lain. Gimana, Rin?”
Girin:
“Bisa aja sih, Pak RT. Tapi motor saya mogokan. Harus distarter sambil
dielus-elus tangkinya.”
Jono:
“Udah, Mas, enggak apa-apa! Yang penting saya bisa keluar dari dimensi Sukamis
ini. Berapa ongkosnya?”
Girin:
“Gak usah bayar uang, Mas. Cukup beliin saya rokok sebatang sama jagung bakar
di perempatan depan nanti.”
Setengah jam kemudian, Girin datang membawa motornya.
Jono sempat syok melihat penampakan motor tersebut: tanpa spion, bodi motor
diikat pakai tali rapia, dan suaranya lebih mirip traktor sawah yang sedang
sekarat.
Girin:
“Ayo naik, Mas Jono. Pegangan yang erat ya.”
Jono:
“Pegangan ke mana, Mas? Gak ada pegangannya begini di belakang!”
Girin:
“Ya pegangan ke iman dan takwa aja, Mas. Biar selamat.”
Baru berjalan sekitar lima ratus meter, melintasi jalanan
setapak di pinggir sawah, Girin mendadak mengerem mendadak karena ada seekor
bebek yang menyeberang dengan santai. Karena motor tidak punya rem pakem, Girin
membanting setir ke kiri.
BYUURRR!
Motornya sih selamat di atas pematang, tapi Jono yang
duduk di jok belakang sukses terlempar ke dalam hamparan sawah yang penuh
lumpur subur.
Jono bangkit berdiri dengan seluruh tubuh berwarna
cokelat pekat, beberapa helai daun padi terselip di telinganya. Girin hanya
menengok ke belakang dengan wajah tanpa dosa.
Girin:
“Lho, Mas Jono kok turun di situ? Belum sampai perempatan jagung bakar, Mas.”
Jono:
(Sambil memuntahkan sedikit air sawah) “Saya... saya gak salah turun lagi kok,
Mas. Saya cuma mau menyatu dengan alam...”
Bagaimana, Pembaca CERCU? Apakah Anda pernah mengalami
momen memalukan akibat ketiduran di angkutan umum dan berakhir di tempat yang
sama sekali tidak ada di rencana hidup Anda? Atau jangan-jangan, Anda tipe
orang yang kalau salah turun malah pura-pura emang punya urusan di tempat asing
itu demi menjaga gengsi?
Yuk,
tuliskan cerita salah turun atau salah naik kendaraan umum versi kalian yang
paling bikin geleng-geleng kepala di kolom komentar! Mari kita saling menghibur
sesama korban pelor!
No comments:
Post a Comment