Friday, August 28, 2026

Korban Konspirasi Tidur Siang: Kisah Jono yang Menembus Dimensi Lain Akibat Salah Turun Bus

 

Korban Konspirasi Tidur Siang: Kisah Jono yang Menembus Dimensi Lain Akibat Salah Turun Bus

Tidur di dalam bus kota yang sedang melaju membelah kemacetan adalah salah satu nikmat dunia yang tiada taranya. Angin sepoi-sepoi dari AC yang filternya jarang dibersihkan, ditambah guncangan halus jalanan berlubang, menciptakan kombinasi efek hipnotis yang lebih ampuh daripada sirup lelap mana pun.

Namun, ada harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah tidur yang terlalu nyenyak. Kisah tragis sekaligus membagongkan ini menimpa Jono, seorang pemuda yang tingkat pelornya (nempel molor) sudah mencapai level kronis. Hari itu, Jono berniat pulang ke rumahnya di daerah Sukamaju. Sial baginya, alam bawah sadar memiliki rencana lain untuk sore harinya.

Babak 1: Setengah Sadar, Sepenuhnya Salah

Jono terbangun dengan kaget saat kondektur bus, Bang ucok, berteriak lantang di dekat pintu belakang. Suara teriakan itu beradu dengan suara musik dangdut koplo yang disetel kencang oleh sopir.

Bang Ucok: “SUKAAAMIIIS! SUKAMIIS! Yang turun Sukamis kiri, Kiri, Bang! Buruan, bus jalan lagi!”

Otak Jono yang baru mengumpulkan nyawa sekitar dua persen langsung menangkap kata "Suka" dan akhiran "S". Tanpa berpikir panjang, dia mengira itu adalah "Sukamaju", daerah rumahnya. Dengan gerakan refleks seperti ninja yang panik, Jono menyambar tas ranselnya, melompat dari kursi, dan langsung terjun turun dari pintu bus.

WUZ~ Bus kota itu langsung melesat pergi, meninggalkan Jono di tepi jalan yang tampak... sangat asing.

Jono mengucek matanya. Dia melihat ke sekeliling. Tidak ada pangkas rambut "Sederhana" yang biasa jadi patokan rumahnya. Tidak ada tukang gorengan langganannya. Yang ada hanyalah hamparan sawah yang luas, sebuah pos ronda yang sepi, dan sebuah papan penunjuk jalan kayu yang bertuliskan: Selamat Datang di Desa Sukamis.

Jono memeriksa ponselnya. Maps menunjukkan dia berada 25 kilometer jauhnya dari rumah.

Babak 2: Interogasi di Pos Ronda

Jono berjalan dengan gontai menuju pos ronda terdekat demi mencari kepastian hidup. Di sana, duduk Pak RT Tarjo yang sedang asyik melinting tembakau, dan Girin, seorang pemuda lokal yang tampangnya seperti orang yang baru bangun tidur sejak dua tahun lalu.

Jono: (Sambil memegang kepalanya yang masih pusing) “Permisi, Pak… Ini benar-benar bukan Sukamaju ya?”

Pak RT Tarjo: (Memicit kacamata, melihat Jono dari atas sampai bawah) “Bukan, Mas. Ini Sukamis. Sukamaju mah masih maju lagi di depan sana, melipir lewat dua kabupaten lagi. Masnya ini mau mudik apa gimana kok tersesat jauh amat?”

Jono: “Saya ketiduran di bus, Pak. Pas kondektur teriak 'Sukamis', kuping saya dengarnya 'Sukamaju'. Langsung lompat saya.”

Girin: (Sambil mengunyah kerupuk dengan lambat) “Wah, Mas… Lu mending. Bulan lalu ada yang salah turun di sini juga. Dikira terminal, taunya tempat pemakaman umum. Begitu turun langsung disambut ambulans.”

Jono: “Waduh, jangan nakut-nakutin dong, Mas! Sekarang masalahnya, bus arah balik lewatnya jam berapa ya, Pak?”

Pak RT Tarjo: “Waduh, Mas. Bus yang lewat sini itu cuma ada dua kali sehari. Yang tadi Mas tumpangi itu bus terakhir buat hari ini. Sisanya paling besok pagi subuh, barengan sama ayam berkokok.”

Babak 3: Solusi yang Malah Membawa Petaka Baru

Jono langsung lemas. Dia membayangkan harus menginap di pos ronda bersama Girin yang tatapannya kosong. Jono mencoba memesan ojek online, namun layar ponselnya hanya menampilkan tulisan: “Driver tidak ditemukan di area ini. Silakan hubungi dukun terdekat.” (Oke, bagian dukun itu bohong, tapi intinya memang tidak ada sinyal).

Melihat penderitaan Jono, Pak RT Tarjo mencoba memberikan solusi alternatif.

Pak RT Tarjo: “Gini aja, Juk—eh, siapa nama kamu tadi? Jono? Nah, si Girin ini punya motor tua di rumahnya. Dia bisa anterin kamu ke jalan raya besar biar bisa dapet tumpangan lain. Gimana, Rin?”

Girin: “Bisa aja sih, Pak RT. Tapi motor saya mogokan. Harus distarter sambil dielus-elus tangkinya.”

Jono: “Udah, Mas, enggak apa-apa! Yang penting saya bisa keluar dari dimensi Sukamis ini. Berapa ongkosnya?”

Girin: “Gak usah bayar uang, Mas. Cukup beliin saya rokok sebatang sama jagung bakar di perempatan depan nanti.”

Setengah jam kemudian, Girin datang membawa motornya. Jono sempat syok melihat penampakan motor tersebut: tanpa spion, bodi motor diikat pakai tali rapia, dan suaranya lebih mirip traktor sawah yang sedang sekarat.

Girin: “Ayo naik, Mas Jono. Pegangan yang erat ya.”

Jono: “Pegangan ke mana, Mas? Gak ada pegangannya begini di belakang!”

Girin: “Ya pegangan ke iman dan takwa aja, Mas. Biar selamat.”

Baru berjalan sekitar lima ratus meter, melintasi jalanan setapak di pinggir sawah, Girin mendadak mengerem mendadak karena ada seekor bebek yang menyeberang dengan santai. Karena motor tidak punya rem pakem, Girin membanting setir ke kiri.

BYUURRR!

Motornya sih selamat di atas pematang, tapi Jono yang duduk di jok belakang sukses terlempar ke dalam hamparan sawah yang penuh lumpur subur.

Jono bangkit berdiri dengan seluruh tubuh berwarna cokelat pekat, beberapa helai daun padi terselip di telinganya. Girin hanya menengok ke belakang dengan wajah tanpa dosa.

Girin: “Lho, Mas Jono kok turun di situ? Belum sampai perempatan jagung bakar, Mas.”

Jono: (Sambil memuntahkan sedikit air sawah) “Saya... saya gak salah turun lagi kok, Mas. Saya cuma mau menyatu dengan alam...”

Bagaimana, Pembaca CERCU? Apakah Anda pernah mengalami momen memalukan akibat ketiduran di angkutan umum dan berakhir di tempat yang sama sekali tidak ada di rencana hidup Anda? Atau jangan-jangan, Anda tipe orang yang kalau salah turun malah pura-pura emang punya urusan di tempat asing itu demi menjaga gengsi?

Yuk, tuliskan cerita salah turun atau salah naik kendaraan umum versi kalian yang paling bikin geleng-geleng kepala di kolom komentar! Mari kita saling menghibur sesama korban pelor!

 

No comments:

Post a Comment