Investigasi Kasus "Manusia Hibernasi": Misteri Penumpang yang
Punya Tombol Otomatis di Kepalanya
Dunia transportasi publik adalah tempat berkumpulnya
berbagai spesies manusia unik. Ada tipe penumpang yang hobi teleponan dengan
suara keras seolah-olah sedang mengomandoi pasukan perang, ada tipe yang sibuk
ngunyah camilan beraroma tajam, dan yang paling legendaris: tipe manusia yang
memiliki kekuatan super untuk tidur di mana saja, kapan saja, dan dalam posisi
apa saja.
Perkenalkan, sahabat karib saya sejak zaman kuliah,
namanya dimensi—eh salah, namanya Dimas. Dimas ini bukan manusia biasa. Saya
curiga di dalam otaknya tertanam sebuah microchip canggih yang terhubung langsung dengan
sensor getaran kendaraan. Begitu bokongnya menyentuh jok kendaraan umum, sensor
itu akan aktif dan langsung mematikan seluruh sistem kesadarannya dalam waktu
kurang dari tiga detik.
Suatu hari, kami harus pergi ke area pinggiran kota
untuk menghadiri pameran buku. Karena malas terjebak macet membawa kendaraan
sendiri, kami memutuskan naik kereta komuter (KRL). Sebuah perjalanan yang
harusnya ditempuh dalam waktu 45 menit, namun berubah menjadi petualangan
antar-dimensi gara-gara bakat magis Dimas.
Detik-Detik Menuju Alam Bawah Sadar
Kereta baru saja bergerak meninggalkan stasiun pertama.
Angin AC bertiup sepoi-sepoi, dan suara gesekan rel kereta mulai terdengar
berirama. Saya menoleh ke arah Dimas yang duduk di sebelah saya, berniat
mengajaknya mengobrol tentang komik yang baru saya beli.
"Dim, menurut lu entar di pameran ada komik langka
yang—"
Kalimat saya menggantung di udara. Dimas sudah tiada.
Maksudnya, jiwanya sudah melesat ke alam mimpi. Kepalanya sudah miring 45
derajat ke kanan, matanya terpejam rapat, dan napasnya terdengar sangat
teratur.
"Busret, cepet banget! Ini anak pas pembagian
nyawa kayaknya ketuker sama nyawa koala," gumam saya geleng-geleng kepala.
Awalnya, tidurnya Dimas masih dalam batas normal yang
diizinkan oleh undang-undang transportasi. Namun, begitu kereta mulai
berguncang melewati tikungan tajam, kepala Dimas mulai kehilangan gravitasi.
Dia mulai melakukan manuver "Mencari Sandaran".
Ketika Kepala Bertemu Bahu Asing
Di sebelah kanan Dimas, duduk seorang pria berbadan
kekar, berambut cepak, dan memakai jaket kulit hitam. Mukanya sangar, tipe-tipe
orang yang kalau tersenyum pun tetap terlihat seperti mau mengajak berantem.
Pluk.
Kepala Dimas dengan suksesnya mendarat di bahu bidang
pria sangar tersebut. Saya yang melihat kejadian itu langsung tersedak air liur
sendiri. Jantung saya berdegup kencang. Waduh, tamatlah riwayat sahabatku!
Saya buru-buru menyenggol lengan Dimas. "Dim! Dim!
Bangun, Dim! Salah sasaran!" bisik saya panik.
Dimas hanya melenguh pelan, "Eungh... bentar,
Ma... lima menit lagi, buburnya jangan dikasih kecap..." Dia malah
membetulkan posisi kepalanya, makin ndusel ke jaket kulit pria tersebut.
Pria sangar itu menoleh ke arah Dimas, lalu menatap
saya dengan pandangan tajam yang bisa mengintimidasi singa kelaparan. Saya
langsung memasang wajah paling memelas sedunia sambil merapatkan kedua telapak
tangan.
"Maaf banget, Bang... Temen saya ini emang punya
kelainan bawaan sejak lahir. Dia kalau liat bahu kosong bawaannya pengen
nyandar," kata saya dengan suara gemetar.
Pria sangar itu menghela napas panjang. Di luar dugaan,
wajah sangarnya mendadak melembut. Dia mengusap bahunya sendiri yang ketempelan
kepala Dimas.
"Ya sudahlah, Mas. Kasihan juga, mungkin dia
capek habis kerja lembur bagai kuda. Kebetulan bahu saya emang lagi nganggur.
Mantan saya baru aja mutusin saya kemarin, jadi gak ada lagi yang nyandar di
sini."
Saya ternganga. Ternyata di balik jaket kulit dan muka
preman itu, tersimpan hati yang rapuh dan penuh empati. Akhirnya, terjadilah
pemandangan paling absurd sepanjang sejarah KRL: seorang pria kekar berwajah
kriminal dengan sukarela menjadi bantal bagi pemuda kurus yang ketiduran.
Drama "Kelewatan" yang Hakiki
Ujian sesungguhnya baru datang ketika kereta hampir
sampai di stasiun tujuan kami. Saya harus membangunkan sang putri tidur ini.
"Dimas! Bangun! Udah mau sampai!" Saya
mengguncang-guncang tubuhnya.
Dimas mengerjapkan matanya. Dia melihat ke sekeliling
dengan tatapan kosong, khas orang yang jiwanya belum kumpul seutuhnya dari
perjalanan lintas dimensi. Dia melihat pria di sebelahnya, lalu berdiri sambil
membungkuk sopan.
"Eh, terima kasih kasurnya, Pak," kata Dimas
linglung. Pria sangar itu hanya mengangguk anggun.
Kami berdua buru-buru mengantre di depan pintu kereta
yang mulai melambat. Begitu pintu terbuka, kami langsung melangkah keluar
menuju peron. Dimas menghirup udara stasiun dengan segar, seolah-olah dia
adalah manusia paling bugar di bumi.
"Wah, seger banget rasanya habis tidur siang
singkat tadi. Bikin otak jadi fresh!"
seru Dimas bangga sambil meregangkan otot-ototnya.
Saya melirik papan nama stasiun yang terpasang di
dinding peron. Detik itu juga, dunia saya rasanya mendadak melambat. Tulisan di
papan itu bukan nama stasiun tujuan kami. Tulisan itu berbunyi: STASIUN TERMINAL AKHIR (Ujung Kota).
"Dim..." kata saya dengan nada suara yang
sudah datar karena kehabisan emosi.
"Kenapa, Do? Kok muka lu kayak habis liat
hantu?"
"Kita kelewatan enam stasiun, Dim. Enam
stasiun. Pamerannya ada di Jakarta Pusat, dan kita sekarang udah hampir sampai
ke Bogor!"
Dimas melotot, melihat papan stasiun, lalu melihat ke
arah saya dengan watados (wajah tanpa dosa) andalannya. Dia malah menepuk
pundak saya dengan santai.
"Waduh, kelewatan ya? Ya udah, gak apa-apa.
Berarti tandanya kita disuruh jalan-jalan ke Bogor beli talas. Yuk, kita cari
kereta balik lagi... tapi bentar ya, Do, gue kok ngerasa agak ngantuk lagi ya
dengar suara pengumuman stasiunnya..."
Saya hanya bisa memijat pelipis saya yang mendadak
berdenyut nyeri. Memiliki teman yang hobi tidur di kendaraan umum ternyata
tidak hanya menguji kesabaran, tapi juga menguji anggaran transportasi karena
harus bayar tiket bolak-balik akibat kelewatan stasiun.
Bagaimana dengan Anda?
Apakah Anda memiliki teman, pasangan, atau justru diri
Anda sendiri yang punya bakat magis seperti Dimas—bisa langsung deep sleep begitu kendaraan
berjalan? Apa rekor kelewatan stasiun atau halte paling jauh yang pernah Anda
atau teman Anda alami gara-gara ketiduran?
Yuk,
tuliskan cerita seru dan memalukan seputar 'tragedi ketiduran di kendaraan
umum' versi Anda di kolom komentar di bawah! Mari kita lihat siapa yang
tidurnya paling nyenyak!
No comments:
Post a Comment