Showing posts with label 🤣 Cerita Lucu Kehidupan Sehari-hari. Show all posts
Showing posts with label 🤣 Cerita Lucu Kehidupan Sehari-hari. Show all posts

Friday, June 12, 2026

WAJAH PUCAT AYAH DI PAGI HARI: Ternyata Semua Berawal dari Satu Chat yang Salah Kirim!

Cerita Lucu

WAJAH PUCAT AYAH DI PAGI HARI: Ternyata Semua Berawal dari Satu Chat yang Salah Kirim!


WAJAH PUCAT AYAH DI PAGI HARI: Ternyata Semua Berawal dari Satu Chat yang Salah Kirim!

Pernahkah Anda mengirim pesan WhatsApp dengan penuh percaya diri, lalu beberapa detik kemudian berharap bumi membuka diri dan menelan Anda hidup-hidup? Nah, itulah yang dialami oleh Doni, seorang pegawai kantoran yang terkenal rajin, tetapi memiliki satu kelemahan besar: terlalu cepat menekan tombol "Kirim".

Hari itu, Doni sedang berada di kantor. Pekerjaan menumpuk, bos mondar-mandir seperti satpam kehilangan peluit, dan grup WhatsApp kantor tidak berhenti berbunyi.

Di tengah kesibukan itu, Doni menerima pesan pribadi dari istrinya.

Istri: "Jangan lupa pulang beli telur ya."

Doni yang sedang kesal karena bos baru saja mengoreksi laporannya berniat membalas cepat.

Doni: "Iya, Bos juga cerewet sekali hari ini. Rasanya pengen kutukar sama ayam petelur. Lebih berguna."

Setelah mengetik, Doni langsung menekan tombol kirim tanpa melihat tujuan pesan.

Lima detik kemudian wajahnya berubah pucat.

Pesan itu bukan terkirim ke istrinya.

Pesan itu terkirim ke GRUP KELUARGA BESAR.

Dan yang lebih mengerikan...

Nama bosnya adalah Pak Ayam.

 

Grup keluarga itu beranggotakan 67 orang. Mulai dari kakek, nenek, paman, tante, sepupu, hingga kerabat yang bahkan Doni sendiri tidak tahu hubungan keluarganya.

Belum sempat Doni menghapus pesan, notifikasi mulai berdatangan.

Tante Rina: "Ayam petelur siapa maksudnya?"

Sepupu Joni: "Wah, ada konflik kantor nih."

Om Budi: "Kalau ayam petelur memang menghasilkan telur setiap hari."

Nenek: "Kasihan ayamnya."

Doni mulai berkeringat.

Ia buru-buru menekan fitur "Hapus untuk semua orang."

Namun jaringan internet kantor saat itu sedang lambat seperti kura-kura habis makan kenyang.

Pesan gagal dihapus.

Malah muncul centang biru di mana-mana.

 

Keadaan semakin kacau ketika ayah Doni ikut membaca pesan tersebut.

Ayah: "Doni, siapa Pak Ayam?"

Doni: "Bukan siapa-siapa, Yah."

Ayah: "Kalau bukan siapa-siapa kenapa mau ditukar?"

Doni: "Itu cuma bercanda."

Ayah: "Bercanda kok pakai tukar-menukar manusia?"

Grup mulai ramai.

Tante Yuli: "Saya setuju jangan menukar manusia dengan ayam."

Sepupu Fajar: "Tapi kalau ayamnya bisa tanda tangan laporan, mungkin boleh dipertimbangkan."

Emoji tertawa langsung memenuhi layar.

Doni makin stres.

 

Ia mencoba mengalihkan topik.

Doni: "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar semua?"

Tidak berhasil.

Justru paman paling usil dalam keluarga ikut masuk.

Om Herman: "Saya penasaran. Kalau bos ditukar ayam, gajinya dibayar pakai jagung?"

Seketika grup meledak.

Puluhan emoji tertawa muncul.

Ada yang mengirim stiker ayam menari.

Ada yang mengirim GIF ayam memakai jas.

Bahkan ada sepupu yang mengedit foto Doni sedang rapat dengan seekor ayam duduk di kursi direktur.

 

Doni berharap drama berakhir di situ.

Ternyata belum.

Sore harinya ibunya menelepon.

Ibu: "Nak, ayahmu dari tadi kepikiran."

Doni: "Kenapa lagi, Bu?"

Ibu: "Ayahmu takut nanti kamu benar-benar bekerja dengan ayam."

Doni: "Bu, itu cuma bercanda."

Ibu: "Ya, sudah. Tapi kalau ayamnya baik, ajak makan ke rumah."

Doni terdiam.

Kadang-kadang ia merasa keluarganya memang memiliki bakat alami membuat situasi canggung menjadi lebih canggung lagi.

 

Malam harinya Doni pulang ke rumah.

Ia pikir masalah selesai.

Ternyata grup keluarga kembali aktif.

Kali ini karena sepupunya membuat polling.

Jika Bos Doni Ditukar Ayam, Pilihannya:

  • Ayam kampung
  • Ayam petelur
  • Ayam jago
  • Ayam goreng

Lebih dari 40 anggota keluarga ikut memilih.

Yang paling banyak dipilih?

Ayam goreng.

Alasannya beragam.

Om Budi: "Sudah jelas manfaatnya."

Tante Rina: "Praktis dan ekonomis."

Sepupu Joni: "Bisa jadi makan malam."

Doni hanya bisa memegang kepala.

 

Keesokan paginya ia bangun dengan harapan dunia sudah normal kembali.

Harapan itu langsung hancur.

Foto profil grup keluarga berubah.

Menjadi foto Doni memakai tubuh ayam hasil editan sepupunya.

Di bawah foto itu tertulis:

"Doni Poultry Corporation."

Doni hampir menjatuhkan ponselnya.

 

Saat sedang sarapan, ayahnya tersenyum.

Ayah: "Kamu sekarang terkenal."

Doni: "Terkenal karena apa?"

Ayah: "Di grup keluarga kamu dijuluki Direktur Perunggasan."

Doni: "Yah..."

Ayah: "Lumayan. Lebih baik daripada dijuluki tukang pinjam uang."

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Doni tertawa.

Mungkin benar juga.

 

Sejak hari itu, setiap ada reuni keluarga, topik ayam selalu muncul.

Kalau Doni datang terlambat, pasti ada yang bertanya:

"Macet atau lagi rapat dengan ayam?"

Kalau Doni membeli telur:

"Hasil kerja sama bisnis ya?"

Kalau Doni memakai kemeja baru:

"Seragam perusahaan peternakan?"

Dan yang paling menyakitkan, setiap ulang tahun Doni selalu mendapat stiker bergambar ayam dari grup keluarga.

Puluhan stiker.

Setiap tahun.

Tanpa pernah absen.

 

Namun ada satu hikmah yang dipetik Doni dari kejadian itu.

Sebelum mengirim pesan WhatsApp, ia sekarang selalu memeriksa tujuan pesan minimal tiga kali.

Karena satu detik salah kirim bisa menjadi bahan lelucon keluarga selama bertahun-tahun.

Dan percaya atau tidak, hingga hari ini grup keluarga mereka masih menyimpan screenshot pesan legendaris tersebut.

Sebagai bukti sejarah.

Dan sebagai senjata yang siap dikeluarkan kapan saja saat suasana mulai sepi.

 

🐔 Bos = Ayam Petelur?

Doni: "Pesan ini pasti terkirim ke istriku."

WhatsApp: "Apakah kamu yakin?"

Doni: "Yakin."

WhatsApp: mengirim ke Grup Keluarga Besar

67 Anggota Keluarga: "Menarik sekali. Mari kita bahas selama lima tahun ke depan."

😂😂😂

 

Nah, sekarang giliran Anda bercerita. Pernahkah Anda salah kirim chat yang membuat malu, panik, atau justru jadi bahan tertawaan keluarga dan teman-teman?

Saturday, March 28, 2026

Tim Ahli IT: Password yang Salah akan Menghasilkan Login yang Gagal

 

Tim Ahli IT: Password yang Salah akan Menghasilkan Login yang Gagal


(Sebuah Terobosan Teknologi yang Menggetarkan Dunia Digital... dan Kantor Sebelah)

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang semakin canggih—mulai dari kecerdasan buatan, mobil tanpa sopir, sampai kulkas yang bisa ngingetin kita kalau stok sambal habis—dunia kembali dikejutkan oleh sebuah penemuan fenomenal dari tim ahli IT.

Setelah melalui riset panjang, diskusi mendalam, dan mungkin beberapa kali lupa password WiFi kantor, mereka akhirnya sampai pada kesimpulan yang luar biasa:

“Password yang salah akan menghasilkan login yang gagal.”

Silakan diam sejenak. Resapi.
Kalau perlu, berdiri lalu tepuk tangan.

 

Awal Mula Penelitian yang Tidak Disangka-Sangka

Semua bermula dari kejadian sederhana yang sering kita alami sehari-hari.

Seorang karyawan, sebut saja namanya Budi (karena kalau bukan Budi rasanya kurang sah), mencoba login ke akun kantornya.

Ia mengetik password dengan penuh percaya diri.

Login gagal.

Ia mencoba lagi.

Login gagal.

Ia mulai panik.
“Ini sistemnya error,” katanya.

Ia coba lagi dengan kombinasi yang lebih “kreatif.”

Login gagal.

Akhirnya, ia memanggil tim IT.

 

Dialog Bersejarah yang Mengubah Dunia

Tim IT datang dengan aura profesional, membawa laptop, kabel, dan ekspresi wajah yang sudah kebal terhadap kepanikan manusia.

“Masalahnya apa, Pak?” tanya mereka.

“Saya nggak bisa login. Ini sistemnya bermasalah.”

Tim IT pun melakukan investigasi mendalam.

“Boleh kami lihat password yang Bapak masukkan?”

Budi menjawab dengan penuh keyakinan:
“Rahasia.”

Tim IT mengangguk. Ini bukan kasus pertama.

Setelah beberapa menit analisis (dan mungkin sedikit menahan tawa), akhirnya ditemukan fakta mengejutkan:

Password yang dimasukkan… salah.

 

Metodologi Penelitian yang Sangat Canggih

Untuk memastikan bahwa ini bukan kebetulan semata, tim ahli IT melakukan penelitian lebih lanjut dengan pendekatan ilmiah:

  1. Mengumpulkan berbagai jenis pengguna:
    • Yang sering lupa password
    • Yang yakin passwordnya benar padahal salah
    • Yang ngetik sambil lihat keyboard
    • Yang ngetik sambil lihat masa depan
  2. Memberikan mereka akses ke sistem login
  3. Meminta mereka memasukkan:
    • Password yang benar
    • Password yang hampir benar
    • Password yang benar-benar ngawur
  4. Mengamati hasilnya dengan serius

 

Hasil Penelitian yang Mengguncang Server

Hasilnya sangat konsisten:

  • Password benar → Login berhasil
  • Password hampir benar → Login gagal
  • Password salah total → Login gagal dengan penuh percaya diri
  • Tidak isi password → Sistem menatap kosong

Dari sini, para peneliti menarik kesimpulan yang sangat dalam:

“Keberhasilan login sangat bergantung pada kesesuaian password yang dimasukkan dengan password yang terdaftar.”

Sebuah kalimat yang mungkin akan dikenang sepanjang sejarah teknologi.

 

Dampak Besar dalam Kehidupan Sehari-hari

Penelitian ini membawa dampak luas di berbagai bidang.

 

1. Dunia Perkantoran

Kini, karyawan tidak lagi bisa menyalahkan sistem setiap kali gagal login.

Sistem sudah jelas:
Kalau gagal… mungkin bukan sistemnya.

Tim IT pun mulai lebih santai. Mereka cukup bertanya:

“Sudah yakin passwordnya benar?”

Dan 90% kasus selesai dengan satu kalimat itu.

 

2. Dunia Pendidikan

Mahasiswa yang gagal login ke e-learning akhirnya sadar:

Bukan karena server down.
Bukan karena dosen tidak sayang.
Tapi karena… passwordnya salah.

Beberapa mahasiswa bahkan mulai introspeksi:
“Mungkin selama ini bukan cuma password yang salah, tapi juga pilihan hidup.”

 

3. Dunia Rumah Tangga

Konflik rumah tangga juga bisa dipicu oleh masalah login.

“Kenapa Netflix nggak bisa dibuka?”

“Coba passwordnya apa?”

“Ya yang biasa!”

“Yang biasa itu yang mana?”

Akhirnya, setelah debat panjang, ditemukan bahwa password yang dimasukkan adalah password WiFi tetangga.

Penelitian ini menyelamatkan banyak hubungan dengan satu solusi sederhana:
cek ulang password.

 

Tipe-Tipe Manusia Berdasarkan Perilaku Password

Dalam penelitian ini, para ahli juga mengklasifikasikan manusia berdasarkan kebiasaan mereka terhadap password:

 

1. Si “Yakin Banget”

Orang ini selalu yakin passwordnya benar.

Meskipun sudah 7 kali gagal, dia tetap bilang:
“Ini pasti sistemnya yang error.”

Padahal… Caps Lock nyala.

 

2. Si “Lupa Total”

Setiap login adalah petualangan baru.

“Password saya apa ya?”

Akhirnya klik “Forgot Password” lebih sering daripada login itu sendiri.

 

3. Si “Password Seragam”

Semua akun pakai password yang sama:

123456
atau
password123

Hidupnya sederhana.
Risikonya… juga sederhana (untuk diretas).

 

4. Si “Super Aman”

Passwordnya panjang, rumit, dan mustahil diingat:

XyZ!78_kLp#2023

Akhirnya disimpan di:

  • Catatan
  • Screenshot
  • Atau… dikirim ke diri sendiri di chat

 

Inovasi Teknologi yang Terinspirasi

Berkat penelitian ini, dunia teknologi semakin berkembang:

  • Sistem login kini dilengkapi fitur:
    • “Password salah, coba lagi”
    • “Caps Lock aktif”
    • “Apakah Anda manusia?”
  • Muncul fitur auto-fill yang menyelamatkan hidup banyak orang
  • Bahkan, ada sistem yang bisa mendeteksi:
    “Sepertinya Anda lupa password. Kami juga tidak tahu itu apa.”

 

Eksperimen Mandiri (Hati-Hati Emosi)

Anda bisa mencoba sendiri:

  1. Login ke akun apa saja
  2. Masukkan password yang salah
  3. Amati hasilnya
  4. Ulangi dengan password yang benar

Jika hasilnya sesuai penelitian, selamat!
Anda telah berkontribusi pada dunia sains.

Jika tidak sesuai…
Mungkin Anda hacker. Atau sistemnya benar-benar error (akhirnya ada kasus langka).

 

Filosofi di Balik Password

Kalau dipikir-pikir, password ini mirip dengan kehidupan.

Kadang kita merasa sudah melakukan hal yang benar, tapi hasilnya tetap gagal.

Mungkin bukan karena dunia tidak adil.
Mungkin… kita memasukkan “password” yang salah.

  • Cara pendekatan salah
  • Strategi salah
  • Atau… memang lupa tujuan awal

Jadi pelajaran pentingnya:

Kalau gagal, jangan langsung menyalahkan sistem. Coba cek ulang “password”-nya.

 

Penutup: Sebuah Renungan Digital

Penelitian ini mungkin terdengar sederhana.
Bahkan mungkin terlalu sederhana.

Tapi di balik kesederhanaannya, ada pelajaran besar:

  • Ketelitian itu penting
  • Jangan terlalu percaya diri tanpa verifikasi
  • Dan… jangan salahkan sistem kalau kita sendiri belum benar

Karena pada akhirnya, dunia ini seperti sistem login raksasa:

Kalau input kita benar → hasilnya sesuai
Kalau salah → ya gagal

Dan sistem akan tetap tenang berkata:

“Incorrect password. Please try again.”

Tanpa emosi. Tanpa drama.

Mungkin… kita juga perlu belajar dari sistem itu.

 

Jadi, mulai hari ini, kalau Anda gagal login—baik di dunia digital maupun kehidupan—ingat satu hal:

Coba lagi. Tapi pastikan “password”-nya benar.

Kalau masih gagal juga…
Ya mungkin memang harus klik:

“Forgot Password.”

Dan mulai dari awal lagi.

 

Selamat berjuang di dunia yang penuh login dan password. 🔐

 

Sunday, June 29, 2025

Ironi Random dalam Hidup: Kok Bisa Begitu Ya?

 




Ironi Random dalam Hidup: Kok Bisa Begitu Ya?

Hidup ini kadang lucu banget. Kita bilang satu hal, eh kelakuannya lain. Kita ngeluh begini, tapi kalau kebalikannya juga ngeluh. Kayak nggak konsisten. Tapi ya itulah manusia. Penuh paradoks, penuh ironi—dan kadang kocak kalau dibahas.

Coba deh lihat sekeliling. Banyak orang yang bilang:

"Aku nggak lapar, tapi kalau ada makanan gratis aku makan duluan."
"Aku nggak suka hujan, tapi kalau panas aku ngeluh juga."
"Aku suka berkendara, terutama kalau jalanan macet."
"Aku nggak butuh perhatian, makanya aku sering update status galau."
"Aku suka alam, tapi kalau kena nyamuk aku nyalahin alam."

Ironis banget, kan? Nah, mari kita kulik satu-satu. Siap-siap ketawa (atau minimal senyum miris) karena mungkin kita juga sering kayak gini.

 

1. "Aku Nggak Lapar, Tapi Kalau Ada Makanan Gratis Aku Makan Duluan"

Ini klasik banget.

Kita semua punya teman kayak gini. Atau jangan-jangan kita sendiri?

Bayangin: Lagi nongkrong rame-rame di rumah teman. Tuan rumah bilang, “Eh aku pesen pizza ya.”

“Aduh, aku nggak lapar,” jawab si A sambil pasang tampang suci.

Pizza datang. Wanginya nendang. Keju meleleh. Saus pedas manis. Semua orang udah ambil satu. Tiba-tiba si A melirik, nyengir malu.

“Eh boleh ya aku coba satu... biar nggak mubazir...”

Satu potong. Dua potong. Tiba-tiba tinggal kotaknya doang.

“Lah kok habis semua?”
“Sorry ya, aku nggak sengaja.”

Hmmm. Katanya nggak lapar?

Puncaknya adalah kalau makan gratis di kondangan.

“Aku sih nggak terlalu suka makan nasi padang.”

·         Satu jam kemudian, terlihat mangkuk rendang dan gulai berserakan.

Saking ironisnya, seharusnya slogan orang Indonesia itu:

“Kami tak lapar. Kecuali gratis.”

 

2. "Aku Nggak Suka Hujan, Tapi Kalau Panas Aku Ngeluh Juga"

Musim hujan:

“Hujan mulu. Jemuran nggak kering. Sepatu bau. Becek. Nyebelin.”

Musim panas:

“Astaga panas banget. Global warming nih. AC nyalain dong. Aduh pusing.”

Kadang orang sama gebetannya juga gitu.

“Aku nggak suka yang dingin-dingin.”

·         Tapi minta dipeluk.
“Aku nggak suka yang panas-panas.”

·         Tapi minta dipegang tangannya biar hangat.

Intinya apa? Serba salah.

Hujan disalahin. Panas disalahin. Kadang mendung pun kena getah.

“Mendung kok nggak hujan-hujan. PHP banget.”

Mendung: “Aku cuma lewat guys...”

Ini ironi random manusia: nggak pernah puas.

 

3. "Aku Suka Berkendara, Terutama Kalau Jalanan Macet"

Ini tuh sering dijadikan caption Instagram:

“Aku suka jalan-jalan, suka naik motor. Aku anak jalanan banget.”

Pas macet:

“Anjir sumpah ya Jakarta macetnya kayak neraka.”
“Mana panas banget. Knalpot semua. Mau mati rasanya.”

Tapi abis itu bikin story:

[Foto spion motor]
“Berjuang di jalanan ibu kota. #RoadLife #AnakMotor #Petualang”

Buset. Mau marah tapi gaya.

Kadang malah pura-pura bijak:

“Macet itu ujian kesabaran.”

·         Satu menit kemudian klakson terus kayak konser musik EDM.

Yang lebih lucu lagi:

“Aku suka touring.”

·         Tapi kalau nembus hujan nangis: “Kenapa ya Tuhan kenapa...”

Intinya: Ironi berkendara adalah kita cinta perjalanan, benci prosesnya.

 

4. "Aku Nggak Butuh Perhatian, Makanya Aku Sering Update Status Galau"

Wah ini yang paling sering ketemu di medsos.

Temen kamu bilang:

“Aku tuh nggak butuh perhatian orang.”

Besok pagi:

Status: “Kenapa ya hidupku selalu disakiti? 😢
Caption IG: “Hidup itu keras. Terima kasih sudah pergi.”
Tweet: “Aku kuat kok, sendiri.”

Kalau ada yang komen:

“Kenapa bro?”
Jawabnya: “Nggak papa kok. Cuma butuh didengar.”

LAH TADI NGGAK BUTUH PERHATIAN?

Sumpah ya, kalau mau jujur lebih enak:

“Aku galau. Perhatiin aku dong.”

Kan lebih fair.

Tapi nggak bisa. Kita harus pura-pura tegar.

“Aku nggak butuh orang.”

·         Scroll notifikasi tiap 5 menit.

Ironi random yang sangat manusiawi. Kita semua pasti pernah.

 

5. "Aku Suka Alam, Tapi Kalau Kena Nyamuk Aku Nyalahin Alam"

Ini juga sering banget.

“Aku cinta alam.”
Foto camping di IG.
Caption: “Nature heals.”

5 menit kemudian:

“Aduh kok banyak nyamuk.”
“Sumpah leech jijik.”
“Tanahnya kotor.”
“Kenapa panas banget ya di hutan.”

Alam: “Bro lu yang mau ke sini.”

Kadang camping cuma demi foto aesthetic.

Begitu malam:

“Kok nggak ada sinyal?”
“Mana lampu colokan?”
“Nyamuknya sadis banget.”

Esoknya di rumah:

“Alam itu menenangkan banget ya. Aku pengen lagi.”
Tapi kalau diajak:
“Hmm, hujan nggak? Ada nyamuk nggak? Bisa bawa kipas nggak?”

Alam capek dengar keluhan kita. Kalau bisa nulis status, hutan bakal update:

“Manusia itu toxic.”

 

6. Ironi Random Lainnya yang Sama Kocak

Selain lima itu, banyak banget contoh ironi random:

“Aku pengen kurus.”

  • Tapi makan malam nasi padang + es teh manis + martabak.

“Aku males drama.”

  • Tapi hobinya nonton sinetron 3000 episode.

“Aku nggak peduli omongan orang.”

  • Scroll komentar sampai jam 3 pagi.

“Aku pengen hidup tenang.”

  • Tapi gosipnya paling update.

“Aku nggak mau ribet.”

  • Tapi pilih baju sejam.

“Aku nggak mau pacaran sama orang kaya.”

  • Tapi kalau diajak naik Mercy: “Yaudah boleh deh.”

“Aku nggak suka bohong.”

  • Tapi bilang: “OTW” padahal masih mandi.

“Aku nggak suka cowok posesif.”

  • Tapi marah kalau chat cuma centang biru.

“Aku nggak pengen nikah buru-buru.”

  • Tapi kalau teman tunangan: “Kapan ya aku?”

“Aku nggak materialistis.”

  • Tapi kalau dikado dompet kosong: “Hehe...kok gini.”

Ironi-ironi ini bikin hidup lucu. Kadang kita pura-pura waras padahal penuh kontradiksi.

 

7. Kenapa Kita Suka Ironi?

Serius dikit ya.

Kita sering nggak mau keliatan lemah, nggak mau keliatan mau, nggak mau keliatan lapar, nggak mau keliatan butuh.

Makanya bilang:

“Aku nggak lapar.”
Padahal ingin.

“Aku nggak butuh perhatian.”
Padahal kangen banget dipeluk.

“Aku nggak suka drama.”
Padahal hidupnya kayak FTV.

Lucunya kita tahu kita munafik dikit. Tapi kita nikmati. Kadang untuk menjaga harga diri, kadang biar lucu, kadang biar nggak dibilang norak.

Intinya manusia itu absurd.

Dan di situlah hiburannya.

 

8. Penutup: Hiduplah dengan Ironi (Tapi Sadar)

Jangan marah kalau baca ini terus ngerasa: “Wah aku banget.”

Tenang, kita semua juga begitu.

Kalau nggak mau hujan, jangan marah kalau kering kerontang.
Kalau mau makan gratis, akui aja: “Aku mau.”
Kalau mau perhatian, bilang: “Perhatiin aku dong.”
Kalau mau ke alam, siapin lotion nyamuk.

Hidup itu lucu kalau kita lihat betapa kontradiktif kita. Dan nggak apa-apa. Itu yang bikin cerita kita seru.

Jadi besok kalau teman bilang:

“Aku nggak lapar.”
Kamu jawab aja:
“Tenang. Gratis kok.”

Pasti langsung semangat.

 

9. Salam dari Blog CERCU

Terima kasih sudah baca sampai habis.

Semoga tulisan ini bikin senyum, ngakak, atau minimal mikir:

“Yah, gue juga kayak gitu sih.”

Silakan share ke teman yang suka bilang:

“Aku nggak lapar,” tapi kalau ada gratisan langsung buka mulut duluan.

Atau yang bilang:

“Aku anak alam,” tapi kalau kena nyamuk bilang: “Ih jorok.”

Karena di sinilah kita sama-sama tertawa atas kebodohan kita sendiri.