Konspirasi Kompas Rusak: Kisah Sopir yang Lebih Percaya Diri Daripada
Google Maps
Ada sebuah hukum tidak tertulis di dunia ini yang sangat berbahaya jika
dilanggar: Jangan pernah mendebat seorang pria paruh baya yang sedang
memegang kemudi mobil dan merasa dirinya adalah titisan silsilah petualang
Columbus.
Hari itu, saya, sepupu saya siska, dan paman saya—Paman joko—sedang dalam
perjalanan menuju acara nikahan kerabat di daerah pinggiran Bogor. Paman Joko
adalah tipe pria yang menganggap teknologi adalah bentuk konspirasi yang
melemahkan otak manusia. Baginya, kompas terbaik di dunia adalah "firasat
lelaki sejati".
"Om, ini kalau di aplikasi, kita harusnya ambil jalur kiri setelah
lampu merah depan," kata Siska sambil menatap layar ponselnya yang sibuk
menyuarakan mbak-mbak Google Maps.
Paman Joko melirik sinis ke arah ponsel Siska, lalu membenarkan posisi
kacamata jalannya dengan gaya elegan.
"Halah, Siska. Kamu itu terlalu percaya sama suara HP. Itu mbak-mbak
yang ngomong di dalam situ kan gak pernah lewat sini. Dia itu orang Amerika
yang disuruh ngisi suara bahasa Indonesia. Om ini udah khatam jalur Jawa-Bali
sejak tahun 90-an!"
Saya yang duduk di bangku depan hanya bisa menghela napas. Jika Paman Joko
sudah mengeluarkan kartu as "Zaman Tahun 90-an", maka argumen apa pun
akan mental seperti bola bekel.
Detik-Detik Memasuki "Dimensi Lain"
Mobil Avanza kami pun melaju melewati lampu merah, dan dengan penuh
keyakinan setingkat dewa, Paman Joko mengambil jalur KANAN. Jalur yang
sama sekali berbeda dengan instruksi aplikasi navigasi.
Mbak-mbak di HP Siska langsung protes: "Uji coba rute baru. Putar
balik 500 meter lagi."
"Tuh kan, Om. Dia suruh putar balik," Siska mengingatkan, suaranya
mulai naik satu oktav.
"Gak usah diputar balik. Ini namanya jalur potong. Jalur rahasia para
sopir lintas provinsi. Jalur ini sengaja gak dimasukin ke peta biar gak
macet," jawab Paman Joko santai, sembari mengetuk-ngetuk setir mengikuti
irama lagu dangdut koplo yang berputar di radio.
Awalnya, jalanan memang tampak meyakinkan. Aspal mulus, kanan-kiri ada
ruko-ruko. Namun, setelah sepuluh menit berlalu, ruko-ruko itu berganti menjadi
pohon pisang. Aspal mulus berganti menjadi tanah merah berlubang. Dan yang
paling parah, lebar jalanan menyusut drastis, dari yang tadinya muat dua bus,
sekarang hanya muat satu mobil dan satu ekor ayam yang sedang menyeberang.
"Om... ini kok makin masuk ke dalam hutan? Ini kita mau ke kondangan
apa mau ikut komunitas pecinta alam?" tanya saya mulai waswas, melihat
ranting pohon mulai menggores kaca spion.
Paman Joko tetap tersenyum misterius. "Tenang, Do. Ini namanya
asimilasi pemandangan. Habis hutan ini, langsung tembus ke belakang gedung
acaranya. Percaya sama Om."
Ketika "Firasat" Bertemu dengan Kenyataan
Keyakinan Paman Joko akhirnya menemui ujian terberatnya ketika jalan tanah
merah itu mendadak buntu. Bukan buntu karena tembok, melainkan buntu karena
jalan di depan kami telah berubah fungsi menjadi area jemuran rengginang warga
dan sebuah jembatan bambu yang lebarnya hanya pas untuk pejalan kaki.
Di ujung jalan, ada tiga orang bapak-bapak yang sedang ronda sambil main
catur. Mereka menatap mobil kami dengan pandangan heran, seolah-olah baru saja
melihat penampakan UFO jatuh di pemukiman mereka.
"Nah, buntu kan! Apa Siska bilang!" seru Siska puas, meskipun
sebenarnya dia juga ketakutan.
Paman Joko terdiam sejenak. Dia tidak terlihat panik sama sekali. Alih-alih
mengaku salah, dia malah mematikan musik dangdut, lalu menoleh ke saya.
"Do, coba kamu turun. Tanya sama bapak-bapak itu. Bilang ke mereka,
jalan pintas menuju gedung serbaguna yang lewat sini ditutup sejak kapan,"
perintah Paman Joko dengan wajah serius.
Saya ternganga. "Loh? Kok ditutup sejak kapan, Om? Emang dulunya ini
jalan umum?"
"Sudah, tanya aja begitu. Biar kita gak kelihatan kalau salah jalan.
Ini taktik diplomasi sopir," bisik Paman Joko.
Dengan berat hati, saya turun dari mobil. Angin siang yang terik menyergap
wajah saya. Saya berjalan mendekati bapak-bapak yang sedang main catur
tersebut.
"Permisi, Pak... mau tanya. Jalan pintas yang lewat sini ke Gedung
Serbaguna Sejahtera itu emang lagi ditutup, ya?" tanya saya, mencoba
mempraktikkan "taktik diplomasi" konyol Paman Joko.
Salah satu bapak yang memakai sarung menatap saya dari ujung kaki sampai
ujung kepala, lalu tertawa terbahak-bahak sampai bidak caturnya bergeser.
"Aduh, Dek... Jalan pintas dari mana? Dari zaman kerajaan Pajajaran
sampai sekarang, ini tuh halaman rumahnya Pak RT! Itu di depan mobil kamu itu
jemuran kasur punya istrinya! Masnya mau kondangan apa mau numpang nyuci?"
Mundur Cantik Penuh Gengsi
Saya kembali ke mobil dengan wajah merah padam menahan malu. Begitu saya
masuk dan menutup pintu, Paman Joko langsung menatap saya penuh selidik.
"Gimana, Do? Benar kan tebakan Om? Jalannya ditutup?" tanya Paman
Joko, masih mencoba menyelamatkan harga dirinya.
"Bukan ditutup, Om. Ini halaman rumah Pak RT. Dan kita sekarang lagi
parkir di atas jemuran rengginang warga," jawab saya lemas.
Siska langsung meledak tertawa di bangku belakang sampai air matanya keluar.
Paman Joko berdeham keras, membenarkan posisi duduknya, lalu dengan sangat
tenang memasukkan gigi mundur.
"Oh... berarti Pak RT-nya baru merubah tata ruang wilayah. Gak apa-apa,
rencana B. Kita kembali ke jalan utama. Tapi ingat, kita bukan salah jalan, ya.
Kita cuma sedang melakukan survei wilayah pedesaan untuk melihat perkembangan
ekonomi daerah," kilah Paman Joko, tetap dengan nada suara penuh wibawa
layaknya seorang menteri pembangunan.
Selama proses mundur sejauh 200 meter di jalan sempit itu—dengan spion yang
sesekali menyenggol pohon singkong—Paman Joko tidak berhenti menceramahi kami
tentang pentingnya memiliki "mental tangguh" di jalanan. Bagi beliau,
tersesat adalah bagian dari petualangan, dan mengaku salah adalah pantangan
terbesar seorang nakhoda jalan raya.
Pada akhirnya, kami memang sampai ke tempat kondangan tersebut. Telat dua
jam, melewatkan sesi akad nikah, dan hanya menyisakan kuah soto yang sudah
dingin. Tapi setidaknya, Paman Joko berhasil membuktikan satu hal: rasa percaya
diri yang tinggi bisa mengalahkan logika, teknologi, dan bahkan... papan
petunjuk jalan.
Bagaimana dengan Anda?
Pernahkah Anda semobil dengan sopir—entah itu ayah, paman, teman, atau
bahkan driver ojol—yang salah jalan tapi gengsinya setinggi langit dan
menolak pakai GPS? Apa alasan paling tidak masuk akal yang pernah mereka
lontarkan demi menutupi rasa malunya?
Yuk, ceritakan pengalaman kocak Anda di kolom komentar di bawah! Mari
kita diskusikan bersama, apakah "firasat lelaki" itu benar-benar ada
atau cuma mitos belaka!
No comments:
Post a Comment