Wednesday, August 12, 2026

Misteri Kolor Ijo di Pos Ronda dan Hilangnya Martabak Telur Spesial

 

Misteri Kolor Ijo di Pos Ronda dan Hilangnya Martabak Telur Spesial

Pernahkah Anda mendapat giliran ronda malam di kampung? Bagi sebagian pria, ronda malam adalah momen sakral. Bukan untuk menjaga keamanan desa dari serangan penjahat lintas dimensi, melainkan sebagai ajang resmi untuk keluar rumah, begadang legal tanpa diomeli istri, main gaple sampai subuh, dan tentu saja: berburu makanan gratis.

Namun, apa jadinya jika malam ronda yang seharusnya tenang dan penuh asap kopi berubah menjadi arena uji nyali akibat kesalahpahaman tingkat dewa?

Mari merapat. Ini adalah kisah nyata dari RT 04 yang melibatkan tiga hansip amatir, sebungkus martabak telur, dan sesosok "makhluk halus" yang ternyata... ah, silakan baca sendiri ceritanya di bawah ini!

PULUKUL 23.30: KETIKA KOPI MULAI BERBICARA

Karakter:

·         Pak Joko (45 tahun): Komandan ronda malam itu. Senior, sok tahu, dan penakut tapi gengsi gede.

·         Dono (25 tahun): Pemuda jomblo, penakut, tapi kalau soal makanan nomor satu.

·         target="blank" Yanto (35 tahun): Bapak anak satu yang ikut ronda demi menghindari tugas mengganti popok bayi di rumah.

(Latar: Pos ronda RT 04. Sebuah bangunan kayu dengan tikar pandan yang sudah robek di sudutnya. Sebuah senter besar diletakkan di tengah, dikelilingi oleh gelas kopi hitam, papan gaple, dan sebuah kotak martabak telur yang masih hangat).

Pak Joko: (Sambil membanting kartu gaple) "Balak Enam! Hah! Bertekuk lutut kalian semua! Jangan harap bisa menang dari mantan juara gaple tingkat kecamatan tahun 2012!"

Dono: (Menguap lebar) "Ah, Pak Joko menang karena hoki aja. Lagian fokus saya lagi terbagi nih, Pak. Mata saya ke kartu, tapi hidung saya dari tadi dikontrol sama ini..." (Dono menunjuk kotak martabak telur dengan dagunya).

Yanto: "Eits! Jangan disentuh dulu, Don! Itu martabak nunggu Pak RT lewat patroli jam 12 nanti. Prosedur tetap ronda: pejabat lewat, makanan dibuka. Biar dibilang kita sigap."

Dono: "Yaelah, Kang Yanto. Perut saya sudah demo ini. Kalau nunggu Pak RT, bisa-bisa usus saya yang ronda di dalam perut. Lagian sepi amat ya malam ini? Biasanya jam segini ada kucing berantem atau tukang bakso kesasar."

Pak Joko: (Memperbaiki posisi sarungnya) "Jangan sembarangan ngomong, Don. Malam Jumat begini biasanya 'mereka' lagi pada keluar. Tahu gak, tiga hari lalu, Bu Tejo lihat ada bayangan putih lompat-lompat di dekat pohon pisang belakang pos ini."

Yanto: "Ah, paling itu guling jemuran yang lupa diangkat, Pak."

Pak Joko: "Guling gimana? Orang bayangannya pakai ikat kepala hitam, terus bunyinya 'Sreeek... sreeek...' kayak kain diseret. Saya sih bukannya takut ya, tapi kalau ketemu, ya saya... jalan cepat arah sebaliknya."

(Tiba-tiba, angin malam berembus kencang. Lampu bohlam di pos ronda berkedip-kedip tiga kali lalu MATI TOTAL. Suasana menjadi gelap gulita).

Dono: "Aduh! Pak Joko! Kang Yanto! Siapa yang matiin saklar?!"

Yanto: "Saklar apanya, ini mati lampu satu kampung kayaknya! Senter mana, senter?!"

Pak Joko: (Suaranya bergetar) "D-don... jangan bergerak. Kamu ngerasa gak... ada bau aneh?"

Dono: "Bau apa, Pak? Bau martabak?"

Pak Joko: "Bukan! Bau kemenyan campur minyak wangi melati... Dan coba kamu dengar itu..."

(Dari arah semak-semak di belakang pos ronda, terdengar suara pelan: "Sreeek... sreeek... sreeek... " diikuti suara desahan berat: "Huuuuh... haaaah... hhh...")

PULUKUL 00.15: OPERASI PENYELAMATAN MARTABAK

(Ketiganya langsung meringkuk di pojok pos ronda, saling berpelukan erat. Senter akhirnya menyala, tapi dipegang oleh Dono yang tangannya gemetar, membuat cahayanya bergoyang-goyang seperti lampu disko).

Yanto: "Pak Joko... bapak kan komandan... coba cek ke belakang semak-semak, Pak..."

Pak Joko: "Lho, dalam struktur organisasi ronda, komandan itu tugasnya memberi komando dari belakang! Kamu sebagai anggota, maju duluan, Yan!"

Yanto: "Ogah, Pak! Anak saya masih kecil, belum bisa baca tulis. Kalau saya diculik wewe gombel, siapa yang mau ngajarin dia main layangan?!"

Dono: "M-masalahnya... senter saya gak sengaja nyorot ke bawah pos, Pak... Lihat itu..."

(Cahaya senter diarahkan ke celah-celah lantai bambu pos ronda. Di kegelapan bawah pos, terlihat sesuatu yang berbulu hitam besar, bergerak-gerak lambat).

Pak Joko: "Astagfirullah! Itu... itu... GENDERUWO!"

Yanto: "Bukan, Pak! Itu kakinya ijo! KOLOR IJO, PAK! Dia mau nyuri keperjakaan kita!"

Dono: "Kang Yanto bodoh, kolor ijo mana ada yang nyari laki-laki! Tapi tunggu... dia mendekat ke arah... TIDAAAK! MARTABAK KITA!"

(Dalam kegelapan, sebuah "tangan" berbulu hitam besar tiba-tiba menjulur dari bawah lantai bambu, tepat di sela-sela kotak martabak. Dengan kecepatan kilat, kotak martabak telur itu terseret jatuh ke bawah pos ronda).

Dono: "Demi neptunus! Setan zaman sekarang kok doyan martabak telur spesial pake dua telur bebek?!"

Pak Joko: "Sudah, ikhlaskan martabaknya! Yang penting nyawa kita! Ayo lari ke rumah warga!"

(Baru saja mereka mau lompat dari pos ronda, sesosok makhluk tinggi besar muncul dari balik semak-semak sambil memegang kotak martabak. Makhluk itu memakai kain hitam di kepalanya, wajahnya tidak terlihat jelas).

Makhluk Misterius: "Woi! Malah pada mau kabur! Ini saya!"

(Dono refleks menyorotkan senter tepat ke wajah makhluk itu. Ternyata... itu adalah Pak RT yang memakai jaket parasut hitam, kepalanya dililit handuk hitam karena sedang flu, dan tangannya memakai sarung tangan bulu warna hitam karena kedinginan).

Semua: "PAK RT?!"

PLOT TWIST YANG MEMBAGONGKAN

(Suasana kembali tenang setelah Pak RT menyalakan lilin yang dibawanya dari rumah).

Pak RT: "Kalian ini diteriaki dari tadi malah merem sambil pelukan. Ini saya mau nganterin martabak, tadi pas mau ke sini lampu padam, terus kaki saya kesangkut tanaman menjalar di bawah pos. Makanya saya gerak-gerak di bawah sambil nyari pegangan, eh malah megang kotak martabak."

Yanto: "Ya ampun, Pak RT! Kita kira bapak Kolor Ijo atau Genderuwo! Lagian ngapain kepalanya dibungkus handuk hitam gitu?"

Pak RT: "Saya lagi masuk angin parah, dingin banget malam ini. Suara saya sampai habis, makanya tadi cuma bisa 'huuuuh haaaah' nahan bersin."

Pak Joko: (Langsung berdiri tegak, pura-pura berani) "Tuh, kan! Apa saya bilang tadi, Don, Yan! Saya sudah tahu dari awal kalau itu Pak RT. Makanya saya tadi gak lari, cuma mau menguji mental kalian aja sebagai anggota hansip!"

Dono: "Halah, Pak Joko bohong! Tadi yang meluk saya paling kencang sampai sarung saya melorot siapa?!"

Pak RT: (Menggeleng-gelengkan kepala) "Sudah, sudah. Untung martabaknya gak tumpah. Ayo dimakan, setelah itu kita lanjut keliling kampung. Kali ini saya yang pimpin, biar gak ada yang ngira saya setan lagi."

KESIMPULAN: JANGAN KEBANYAKAN NONTON FILM HOROR

Ronda malam memang selalu punya ceritanya sendiri. Antara rasa kantuk, suasana gelap, dan imajinasi yang terlalu kreatif akibat kebanyakan nonton film horor malam Jumat, daun pisang kering pun bisa terlihat seperti kain kafan. Tapi hikmah malam itu bagi warga RT 04 adalah: seberas apa pun setannya, yang paling penting adalah pastikan logistik ronda tetap aman di dalam perut.

Nah, kalau pengalaman ronda di kampung kalian bagaimana? Pernah gak ada kejadian salah paham yang gak kalah kocak sampai bikin merinding sekaligus ngakak? Tulis cerita seru kalian di kolom komentar ya!

 

No comments:

Post a Comment