Misteri Kolor Ijo di Pos Ronda dan Hilangnya Martabak Telur Spesial
Pernahkah Anda mendapat giliran ronda malam di kampung? Bagi sebagian pria,
ronda malam adalah momen sakral. Bukan untuk menjaga keamanan desa dari
serangan penjahat lintas dimensi, melainkan sebagai ajang resmi untuk keluar
rumah, begadang legal tanpa diomeli istri, main gaple sampai subuh, dan tentu
saja: berburu makanan gratis.
Namun, apa jadinya jika malam ronda yang seharusnya tenang dan penuh asap
kopi berubah menjadi arena uji nyali akibat kesalahpahaman tingkat dewa?
Mari merapat. Ini adalah kisah nyata dari RT 04 yang melibatkan tiga hansip
amatir, sebungkus martabak telur, dan sesosok "makhluk halus" yang
ternyata... ah, silakan baca sendiri ceritanya di bawah ini!
PULUKUL 23.30: KETIKA KOPI MULAI BERBICARA
Karakter:
·
Pak Joko (45 tahun): Komandan ronda malam
itu. Senior, sok tahu, dan penakut tapi gengsi gede.
·
Dono (25 tahun): Pemuda jomblo, penakut,
tapi kalau soal makanan nomor satu.
·
target="blank" Yanto (35 tahun): Bapak
anak satu yang ikut ronda demi menghindari tugas mengganti popok bayi di rumah.
(Latar: Pos ronda RT 04. Sebuah bangunan kayu dengan tikar pandan yang
sudah robek di sudutnya. Sebuah senter besar diletakkan di tengah, dikelilingi
oleh gelas kopi hitam, papan gaple, dan sebuah kotak martabak telur yang masih
hangat).
Pak Joko: (Sambil membanting kartu gaple) "Balak Enam!
Hah! Bertekuk lutut kalian semua! Jangan harap bisa menang dari mantan juara
gaple tingkat kecamatan tahun 2012!"
Dono: (Menguap lebar) "Ah, Pak Joko menang karena hoki
aja. Lagian fokus saya lagi terbagi nih, Pak. Mata saya ke kartu, tapi hidung
saya dari tadi dikontrol sama ini..." (Dono menunjuk kotak martabak
telur dengan dagunya).
Yanto: "Eits! Jangan disentuh dulu, Don! Itu martabak nunggu Pak
RT lewat patroli jam 12 nanti. Prosedur tetap ronda: pejabat lewat, makanan
dibuka. Biar dibilang kita sigap."
Dono: "Yaelah, Kang Yanto. Perut saya sudah demo ini. Kalau
nunggu Pak RT, bisa-bisa usus saya yang ronda di dalam perut. Lagian sepi amat
ya malam ini? Biasanya jam segini ada kucing berantem atau tukang bakso
kesasar."
Pak Joko: (Memperbaiki posisi sarungnya) "Jangan
sembarangan ngomong, Don. Malam Jumat begini biasanya 'mereka' lagi pada
keluar. Tahu gak, tiga hari lalu, Bu Tejo lihat ada bayangan putih
lompat-lompat di dekat pohon pisang belakang pos ini."
Yanto: "Ah, paling itu guling jemuran yang lupa diangkat,
Pak."
Pak Joko: "Guling gimana? Orang bayangannya pakai ikat kepala
hitam, terus bunyinya 'Sreeek... sreeek...' kayak kain diseret. Saya sih
bukannya takut ya, tapi kalau ketemu, ya saya... jalan cepat arah
sebaliknya."
(Tiba-tiba, angin malam berembus kencang. Lampu bohlam di pos ronda berkedip-kedip
tiga kali lalu MATI TOTAL. Suasana menjadi gelap gulita).
Dono: "Aduh! Pak Joko! Kang Yanto! Siapa yang matiin
saklar?!"
Yanto: "Saklar apanya, ini mati lampu satu kampung kayaknya!
Senter mana, senter?!"
Pak Joko: (Suaranya bergetar) "D-don... jangan bergerak.
Kamu ngerasa gak... ada bau aneh?"
Dono: "Bau apa, Pak? Bau martabak?"
Pak Joko: "Bukan! Bau kemenyan campur minyak wangi melati... Dan
coba kamu dengar itu..."
(Dari arah semak-semak di belakang pos ronda, terdengar suara pelan:
"Sreeek... sreeek... sreeek... " diikuti suara desahan berat:
"Huuuuh... haaaah... hhh...")
PULUKUL 00.15: OPERASI PENYELAMATAN MARTABAK
(Ketiganya langsung meringkuk di pojok pos ronda, saling berpelukan erat.
Senter akhirnya menyala, tapi dipegang oleh Dono yang tangannya gemetar,
membuat cahayanya bergoyang-goyang seperti lampu disko).
Yanto: "Pak Joko... bapak kan komandan... coba cek ke belakang
semak-semak, Pak..."
Pak Joko: "Lho, dalam struktur organisasi ronda, komandan itu
tugasnya memberi komando dari belakang! Kamu sebagai anggota, maju duluan,
Yan!"
Yanto: "Ogah, Pak! Anak saya masih kecil, belum bisa baca tulis.
Kalau saya diculik wewe gombel, siapa yang mau ngajarin dia main
layangan?!"
Dono: "M-masalahnya... senter saya gak sengaja nyorot ke bawah
pos, Pak... Lihat itu..."
(Cahaya senter diarahkan ke celah-celah lantai bambu pos ronda. Di
kegelapan bawah pos, terlihat sesuatu yang berbulu hitam besar, bergerak-gerak
lambat).
Pak Joko: "Astagfirullah! Itu... itu... GENDERUWO!"
Yanto: "Bukan, Pak! Itu kakinya ijo! KOLOR IJO, PAK! Dia mau
nyuri keperjakaan kita!"
Dono: "Kang Yanto bodoh, kolor ijo mana ada yang nyari
laki-laki! Tapi tunggu... dia mendekat ke arah... TIDAAAK! MARTABAK KITA!"
(Dalam kegelapan, sebuah "tangan" berbulu hitam besar tiba-tiba
menjulur dari bawah lantai bambu, tepat di sela-sela kotak martabak. Dengan
kecepatan kilat, kotak martabak telur itu terseret jatuh ke bawah pos ronda).
Dono: "Demi neptunus! Setan zaman sekarang kok doyan martabak
telur spesial pake dua telur bebek?!"
Pak Joko: "Sudah, ikhlaskan martabaknya! Yang penting nyawa
kita! Ayo lari ke rumah warga!"
(Baru saja mereka mau lompat dari pos ronda, sesosok makhluk tinggi besar
muncul dari balik semak-semak sambil memegang kotak martabak. Makhluk itu
memakai kain hitam di kepalanya, wajahnya tidak terlihat jelas).
Makhluk Misterius: "Woi! Malah pada mau kabur! Ini saya!"
(Dono refleks menyorotkan senter tepat ke wajah makhluk itu. Ternyata...
itu adalah Pak RT yang memakai jaket parasut hitam, kepalanya dililit
handuk hitam karena sedang flu, dan tangannya memakai sarung tangan bulu warna
hitam karena kedinginan).
Semua: "PAK RT?!"
PLOT TWIST YANG MEMBAGONGKAN
(Suasana kembali tenang setelah Pak RT menyalakan lilin yang dibawanya
dari rumah).
Pak RT: "Kalian ini diteriaki dari tadi malah merem sambil
pelukan. Ini saya mau nganterin martabak, tadi pas mau ke sini lampu padam,
terus kaki saya kesangkut tanaman menjalar di bawah pos. Makanya saya
gerak-gerak di bawah sambil nyari pegangan, eh malah megang kotak
martabak."
Yanto: "Ya ampun, Pak RT! Kita kira bapak Kolor Ijo atau
Genderuwo! Lagian ngapain kepalanya dibungkus handuk hitam gitu?"
Pak RT: "Saya lagi masuk angin parah, dingin banget malam ini.
Suara saya sampai habis, makanya tadi cuma bisa 'huuuuh haaaah' nahan
bersin."
Pak Joko: (Langsung berdiri tegak, pura-pura berani)
"Tuh, kan! Apa saya bilang tadi, Don, Yan! Saya sudah tahu dari awal kalau
itu Pak RT. Makanya saya tadi gak lari, cuma mau menguji mental kalian aja
sebagai anggota hansip!"
Dono: "Halah, Pak Joko bohong! Tadi yang meluk saya paling
kencang sampai sarung saya melorot siapa?!"
Pak RT: (Menggeleng-gelengkan kepala) "Sudah, sudah.
Untung martabaknya gak tumpah. Ayo dimakan, setelah itu kita lanjut keliling
kampung. Kali ini saya yang pimpin, biar gak ada yang ngira saya setan
lagi."
KESIMPULAN: JANGAN KEBANYAKAN NONTON FILM HOROR
Ronda malam memang selalu punya ceritanya sendiri. Antara rasa kantuk,
suasana gelap, dan imajinasi yang terlalu kreatif akibat kebanyakan nonton film
horor malam Jumat, daun pisang kering pun bisa terlihat seperti kain kafan.
Tapi hikmah malam itu bagi warga RT 04 adalah: seberas apa pun setannya, yang
paling penting adalah pastikan logistik ronda tetap aman di dalam perut.
Nah, kalau pengalaman ronda di kampung kalian bagaimana? Pernah gak ada
kejadian salah paham yang gak kalah kocak sampai bikin merinding sekaligus
ngakak? Tulis cerita seru kalian di kolom komentar ya!
No comments:
Post a Comment