Ritual Overdosis Kafein Jam 3 Pagi: Ketika Nyawa Tertinggal di Dasar
Cangkir Kopi Kelima
Selamat datang kembali di CERCU! Ada sebuah mitos urban
yang dipercaya sangat kuat oleh kalangan pekerja kreatif, mahasiswa tingkat
akhir, dan para budak korporat di seluruh penjuru dunia. Mitos itu berbunyi: "Otak manusia baru akan bekerja
dengan kecepatan cahaya jika jarak antara waktu sekarang dan batas waktu
pengumpulan proyek (deadline) tinggal hitungan jam."
Dan dalam pertempuran berdarah melawan waktu tersebut,
ada satu ramuan sihir wajib yang selalu setia menemani umat manusia. Cairan
hitam, pahit, dan pekat, yang dipercaya bisa memaksa jiwa yang lelah untuk
tetap menempel erat pada raga: Kopi.
Namun, apa yang terjadi jika konsumsi ramuan sihir ini
sudah melewati batas nalar manusia? Ketika kafein bukan lagi membuat fokus,
melainkan membuat mata melek melotot tapi otak malah berdansa dangdut? Mari
kita intip kisah kocak nan mengenaskan yang terjadi di ruang tengah sebuah
kontrakan tiga sekawan berikut ini.
Karakter dalam Tragedi Kafein Ini:
·
Aris (25): Desainer grafis freelance yang sedang
dikejar deadline revisi kelima belas dari klien cerewet. Sudah terjaga selama
36 jam.
·
Bimo (25): Teman sekamar Aris, seorang penulis konten
yang sok tahu dan bertindak sebagai 'barista amatir' penyelamat nyawa.
·
Novi (23): Pacar Aris yang datang membawa makanan,
bertindak sebagai satu-satunya manusia dengan akal sehat yang tersisa di
ruangan itu.
TKP: Ruang Tengah Kontrakan (Pukul 02.45 WIB)
Suasana sangat mencekam. Udara dipenuhi aroma bubuk
kopi robusta, remah-remah mi instan mentah, dan bau kepasrahan. Layar monitor
laptop Aris menyala terang, menampilkan aplikasi desain yang penuh dengan
garis-garis rumit. Aris duduk membungkuk, matanya merah, tangannya memegang mouse dengan gerakan
patah-patah mirip robot kekurangan oli.
Aris: (Bicaranya cepat, sedikit gemetar)
"Bim... Jam berapa sekarang? Klien minta file-nya dikirim jam 6 pagi
bersih. Kalau jam 6 pagi belum masuk email, proyek ini batal dan gue terpaksa
makan nasi pakai garam dapur bulan depan."
Bimo: (Muncul dari dapur memegang cangkir
besar berwarna hitam asap) "Tenang, Ris. Sekarang baru jam tiga kurang
lima belas menit. Masih ada waktu. Ini, gue racikin 'Kopi Jahanam V5'. Isinya
tiga saset kopi hitam instan, dua sendok espresso bubuk, tanpa gula, tanpa
susu, dan diseduh pakai doa dari ibu kandung."
Aris: (Menyambar cangkir itu, langsung
meneguknya setengah) "Gila... Pahit banget, Bim. Lidah gue langsung
mati rasa. Tapi mantap, jantung gue mendadak disko. Gue bisa ngerasain pembuluh
darah di pelipis gue lagi main bedug."
Bimo:
"Nah, itu tandanya kafeinnya lagi bekerja merestorasi sel otak lu yang
udah mati sejak kemarin siang. Ayo, sikat revisinya!"
Pukul 04.15 WIB: Fase Overdosis dan Halusinasi Ringan
Dua jam menjelang deadline. Efek cangkir kopi kelima
mulai menunjukkan gejala-gejala psikologis yang aneh. Aris tidak lagi mengetik
secara normal. Dia mulai bergumam sendiri sambil menatap layar monitor yang
berkedip.
Aris:
"Bim... lu denger nggak? Itu suara apa ya?"
Bimo: (Sedang tiduran di lantai, matanya
juga merem melek) "Suara apa? Jangkrik paling di luar jendela."
Aris:
"Bukan, Bim. Itu suara kursor mouse gue. Dia lagi bisikin gue... Dia
bilang, 'Ris, tolong klik kanan,
aku mau istirahat'."
Bimo: (Langsung duduk tegak)
"Waduh. Bahaya nih. Lu udah masuk fase interdimensional, Ris. Jiwa lu udah
di ambang batas fana dan gaib."
Tiba-tiba pintu depan kontrakan terbuka. Novi masuk
membawa sekantong plastik berisi bubur ayam pasar subuh. Dia terkejut melihat
penampakan kedua pria di depannya yang sudah seperti zombi.
Novi:
"Astagfirullah, Aris! Kamu kenapa?! Muka kamu pucat banget, terus kenapa
kaki kamu gemeteran kayak lagi jinjit di atas blender?"
Aris: (Menoleh pelan dengan mata melotot
lebar) "Novi... Aku... Aku bisa melihat masa depan. Aku bahkan bisa
melihat warna suara kamu..."
Novi: (Menoleh galak ke Bimo)
"Bimo! Kamu kasih minum apa cowok aku?! Ini anak orang kalau mati kena
serangan jantung di sini, kita yang repot ya!"
Bimo:
"Santai, Nov. Itu cuma efek samping minor. Namanya Kafein Terbimbing. Otaknya lagi nge-blank tapi raganya dipaksa
melek sama kopi racikan gue. Yang penting tugasnya selesai!"
Pukul 05.30 WIB: Puncak Klimaks Tragedi
Tinggal tiga puluh menit lagi menuju batas waktu.
Desain revisi akhirnya selesai di-render. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada,
Aris menekan tombol Save dan
bersiap mengirimkan file tersebut melalui email.
Aris:
"Selesai... Akhirnya selesai... Nov, tolong ketikin alamat email kliennya.
Jari-jari gue udah kram, kaku kayak ceker ayam goreng."
Novi: (Mengambil alih laptop, mengetik
email) "Oke, subjeknya: Revisi
Final Proyek Brosur. File-nya yang mana, Ris? Yang judulnya
'Brosur_Fix_Banget_1' atau 'Brosur_Fix_Mudah_Mudahan_Klien_Puas'?"
Aris:
"Bukan dua-duanya, Nov. Yang paling baru, judulnya: 'Brosur_Fix_Kiamat_Gue_Mau_Tidur_Ya_Allah_Lillahitaala.pdf'."
Novi menggeleng-gelengkan kepala melihat nama file yang
begitu putus asa. Dia melampirkan file tersebut dan menekan tombol Send. Tepat pukul 05.45 WIB,
email resmi terkirim.
Aris langsung menyandarkan punggungnya ke kursi,
menghela napas panjang seolah seluruh beban dunia baru saja diangkat dari
pundaknya. Bimo bertepuk tangan pelan di sudut ruangan dengan sisa tenaga yang
dia miliki.
Aris:
"Alhamdulillah... Beres, Bim. Beres, Nov. Gue mau tidur tiga hari tiga
malam. Tolong jangan bangunin gue, bahkan kalau rumah ini kebakaran."
Namun, kedamaian itu hanya bertahan semenit. Ponsel
Aris di atas meja mendadak berdering nyaring dengan getaran yang merusak
suasana subuh. Layarnya menampilkan nama: Klien Cerewet.
Aris: (Dengan tangan gemetar mengangkat
telepon, memasang suara ramah yang dipaksakan) "Halo... Selamat pagi,
Pak. Email-nya sudah saya kirim ya, Pak..."
Suara di
Telepon: "Halo, Mas Aris. Waduh, maaf banget ya mengganggu
subuh-subuh. Ini bos besar baru aja meeting mendadak lewat Zoom, katanya konsep
promonya diganti total. Jadi brosur yang kemarin batal dipakai. Kita pakai
konsep baru ya, nanti jam 9 pagi saya kirim brief-nya. Tolong disiapkan buat
nanti sore ya, Mas! Makasih!"
Tut...
tut... tut... Telepon ditutup sepihak.
Ruangan mendadak hening. Keheningan yang begitu pekat
hingga suara bubur ayam yang mendingin pun seolah terdengar nyaring.
Aris mematung. Matanya yang tadinya melotot karena efek
kafein, kini perlahan-lahan meneteskan air mata jernih tanpa ekspresi wajah
sama sekali. Dia menoleh pelan ke arah Bimo.
Aris:
"Bim..."
Bimo:
"Ya, Ris?"
Aris:
"Dapur masih ada stok bubuk espresso?"
Bimo:
"Masih ada dua pak lagi."
Aris:
"Bagus. Kali ini jangan diseduh pakai air panas."
Novi:
"Terus pakai apa?"
Aris:
"Gue mau gado langsung bubuknya pakai sendok semen."
Pelajaran yang Dapat Dipetik:
"Musuh terbesar dari sebuah deadline bukanlah
rasa kantuk, melainkan revisi mendadak dari klien yang tidak tahu bahwa
secangkir kopi pun punya batas maksimal untuk menahan kewarasan seorang
pekerja."
Bagaimana dengan Sobat CERCU?
Apakah kalian juga bagian dari sekte 'Sistem Kebut
Semalam' yang hobi menantang maut demi menyelesaikan tugas di detik-detik
terakhir ditemani bergelas-gelas kopi? Apa rekor cangkir kopi terbanyak yang
pernah kalian minum demi sebuah deadline, dan halusinasi aneh apa yang pernah
kalian alami saat mata melek tapi otak sudah mogok?
Yuk,
bagikan cerita penderitaan penuh tawa kalian di kolom komentar di bawah ini!
Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman kalian yang lagi begadang bareng
cangkir kopinya malam ini!