Darurat Baterai Merah Darah:
Episode Keluarga yang ‘Collaps’
Halo, Sobat
CERCU! Pernah gak sih, kalian ngerasa hidup itu tergantung sama dua hal aja:
oksigen dan baterai HP. Zaman now, kayaknya kita semua udah resmi jadi
manusia setengah dewa yang kalau baterainya di bawah 20%, langsung panik
seperti mau kiamat.
Nah, cerita kali
ini terjadi di sebuah ruang keluarga sederhana. Tapi jangan salah, di ruangan
ini konfliknya lebih panas daripada debat capres. Ini tentang Keluarga
Super ‘Collaps’ yang terdiri dari:
Bapak (45
tahun): Karyawan yang hobi nge-charge HP di colokan manapun, sampai bawa
kabel panjang 5 meter.
Ibu (43
tahun): Ibu rumah tangga yang HP-nya gak pernah mati karena belanja online
gak boleh berhenti.
Anak Remaja (18
tahun, si Gans): Gamer mobile yang kalau HP-nya lepas dari charger,
rasanya kayak lepas dari alat pernapasan.
Anak Maba (19
tahun, si Cumlaud cari muka): Gen Z tulen yang power bank-nya lebih berat
dari buku kuliah.
Pagi Hari. Ruang
keluarga. Hanya ada satu colokan listrik yang berfungsi. Satu! Tiba-tiba,
terjadi pemadaman bergilir? Bukan. Ini lebih parah. Ini perang saudara.
Bapak (masuk
sambil setrika baju, HP ngecas di belakangnya): "Ya Allah, anak zaman now.
Bapak ini masih setrika pake listrik, kalian rebutan colokan buat HP. Padahal
bapak cuma mau cas 5 menit, biar baterai bapak naik dari 2% ke 5%."
Si
Gans (terlentang di sofa sambil main ML, HP colok ke power bank, power
bank colok ke charger, charger colok ke stop kontak): "Pa... 2% itu bahaya
maut. Bisa-bisa bapak kena stroke dadakan kalau lihat layar mati pas mau save
kontak satpam kompleks."
Ibu (teriak
dari dapur, sambil megang HP dengan baterai 12%): "SEMUA DIEM! Ibu lagi
checkout barang di Shopee. Ini diskon 50% cuma 3 menit lagi. Siapa yang cabut
colokan Ibu, Ibu cabut jatah makannya!"
Suasana
mencekam. Lalu datang si Maba – anak kuliahan yang baru beli HP second. Dia
masuk dengan tenang. Terlalu tenang. Seperti bos mafia yang datang ke arena
perang.
Maba: "Wah,
rame ya? Pada rebutan colokan kayak rebutan sembako."
Bapak:
"Nak... colokan cuma satu. Bapak butuh setrika. Baju bapak kusut kayak
muka lu pas lihat nilai ujian."
Si Gans:
"Biarin bapak setrika pake badan aja, pa. Anget. Yang penting HP gue gak
mati pas lagi push rank."
Ibu (melotot):
"Eh! Gans! Jangan kasar sama bapak lo! TAPI JANGAN CABUT COLOKAN IBU
JUATA!"
Maba (tersenyum
sinis, lalu mengeluarkan power bank raksasa seukuran batu bata dari tasnya):
"Kalian semua masih ribut soal colokan? Dasar generasi cupu. Gua
punya power bank 80.000 mAh. Ini bisa ngecas HP 12 kali. Gua udah cas ini
semaleman pas mati lampu, pake genset tetangga."
Bapak, Ibu, dan
Gans (melihat dengan tatapan iri, kagum, dan sedikit dendam).
Bapak:
"Nak... itu power bank... pinjem sebentar dong. Bapak mau cas 5
menit."
Maba:
"Enggak bisa, pak. Ini buat kuliah. Gua punya 3 HP. Satu buat dengar
musik, satu buat rekam dosen, satu buat main game. Semuanya harus hidup. Kalau
mati, gua gak bisa multitasking dan nilai gua bisa ancur."
Si
Gans (bangkit dari sofa): "Gila lo, maba. Lo itu anak kuliahan atau
lo itu base station operator?"
Klimaks: Si Maba jatuh hati,
dan semua jadi kacau.
Tiba-tiba HP
Maba bergetar. Dilihatnya... WA dari si "Dosen Cantik" yang selama
ini dia gebet. Isinya cuma: "Maba, tolong kirim tugas. Baterai laptopku
habis. 5 menit lagi ya."
Maba (panik):
"ANJING! TUGAS! BATERE LAPTOP HABIS!" (Dia berlari ke colokan, tapi
colokan itu ditempeli oleh tiga kabel: setrika bapak, charger Ibu, charger
Gans).
Maba: "PAK!
IBU! GANS! MINGGIR! INI MASALAH KEHIDUPAN DAN KEMATIAN! DOSEN GUA MINTA
TUGAS!"
Bapak (santai):
"Dosen lo minta tugas? Bapak minta gaji tetep masuk. Setrika dulu."
Ibu (tetap
scroll Shopee): "Checkout dulu, sayang... Diskonnya lari..."
Si Gans:
"Gua lagi push mythic, bang. Lo pake laptop lo aja. Baterai laptop bisa 2
jam."
Maba: "LAH
BATERE LAPTOP GUA JUGA 10%! INI DARURAT!"
Lalu Maba
melakukan hal yang gila. Dia mencabut semua kabel. KABEL SETRIKA, KABEL
CHARGER IBU, KABEL CHARGER GANS... DICABUT SEMUA! Lalu dia colokkan charger
laptopnya dengan muka beringas.
BRUAKK! Setrika
bapak mati. Kain setrika gosong.
DUAR! Toko di Shopee gagal checkout. Ibu memekik seperti kehilangan anak.
BROOOOT! HP Gans mati. Layar hitam. Rank turun.
Momen hening yang mengerikan.
Ibu: (Diam. Lalu
menangis histeris) "KACANG HIJAUKU! KACANG HIJAU DISKON 50%!! AKU UDAH
NUNGGU SEMINGGU!!"
Bapak: (Baju
kusut, setrika ngebul) "Nak... tadi bapak masih mau warisin rumah ini sama
lo. Tapi lo cabut setrika bapak. Berarti lo cabut warisan juga."
Si Gans: (Mata
merah, nahan nangis) "Gua... gua udah 1 kill lagi menang. 1 kill, bang.
Gua turun bintang. Turun rank. Mending gua turun jurang."
Maba: (Sambil
ngecas laptop, gugup) "Tapi... tapi dosen gua..."
Ibu (mengacungkan
sendok kayu): "BIARIN DOSEN LO! SEKARANG LO SEDIA MAKAN BUAT KAMI! KAMI
KELAPARAN EMOSI!"
Mereka pun
bertengkar hebat. Sampai akhirnya...
Listrik rumah
menyala kembali.
Semua langsung
diam. Serempak. Seperti ada tombol jeda.
Bapak (datar):
"Ooh.. listrik nyala." (Colok setrika lagi).
Ibu (datar): "Akhirnya." (Colok HP, checkout barang dengan
tenang).
Gans (datar): "Mantap." (Colok HP, lanjut main).
Maba (duduk lesu di pojok, laptop masih ngecas): "..."
Tapi sayang.
Tugasnya telat 1 detik karena ribut tadi.
Maba (teriak):
"GUA DAPAT E!"
Epilog:
Sejak hari itu, Bapak beli 6 stop kontak, Ibu punya power bank 100.000 mAh,
Gans punya 3 HP, dan Maba... Maba pindah kuliah jurusan Teknik Elektro biar
bisa buat colokan sendiri. Tapi satu hal yang pasti: Generasi ini memang
generasi yang tidak bisa hidup tanpa charger. Bukan karena HP-nya boros.
Tapi karena hidup mereka – dari belanja, kerja, nilai, sampai harga diri –
tergantung pada baterai yang gak pernah cukup.
Pertanyaan dari CERCU buat
kalian:
Kalau kamu cuma
punya 5% baterai dan kamu harus pilih cuma satu: Nge-charge HP, laptop, atau
power bank? Dan alasannya kenapa? Atau... kamu punya cerita paling absurd soal
rebutan colokan di rumah atau kos? Share dong di kolom komentar! Jangan lupa
cas HP-mu sebelum baca komen, nanti mati tengah jalan. ππ
Selamat tertawa,
Sobat CERCU. Ingat, lowbat itu sementara, tapi cerita lucu itu abadi. Asal
jangan lowbat pas lagi baca ini. Salam colokan!
No comments:
Post a Comment