Misteri Asap Mengepul di Depan Odong-Odong: Kisah Tragis Si Juki dan Motor
Kesayangannya
Pernahkah Anda merasa menjadi pusat perhatian dunia,
tapi dalam artian yang paling membuat Anda ingin mendadak punya kekuatan
menghilang? Kalau belum, mari saya perkenalkan dengan hari paling sial,
sekaligus paling komis dalam hidup seorang pemuda bernama Juki.
Sore itu, kawasan Alun-Alun kota sedang ramai-ramainya.
Tukang cilok sedang sibuk menusuk pentol, ibu-ibu sedang berburu daster
diskonan, dan anak-anak kecil sedang asyik naik odong-odong dengan latar
belakang musik disko koplo yang membahana. Di tengah keriuhan itu, Juki
melintas dengan motor matic kesayangannya—sebuah motor tua yang suara
knalpotnya lebih mirip batuk kakek-kakek perokok berat.
Nahas, tepat di depan kerumunan emak-emak yang sedang
menawar harga jepit rambut, motor Juki mendadak batuk lebih keras.
“KRETEK...
KRETEK... POP!”
Mesin mati. Asap putih mengepul dari jok belakang. Dan
seketika, musik odong-odong seolah berhenti. Semua mata tertuju pada Juki.
Babak 1: Gengsi Setinggi Langit, Tenaga Setipis Tisu
Juki, yang saat itu mengenakan jaket kulit (meski cuaca
panas) demi memikat perhatian lawan jenis, langsung salah tingkah. Dia mencoba
tetap tenang, bergaya layaknya pembalap MotoGP yang sedang melakukan pit stop.
Di dekatnya, berdiri Markum, tukang parkir senior yang peluitnya tidak
pernah lepas dari bibir, dan Mpok
Neneng, penjual seblak yang terkenal dengan mulutnya yang lebih pedas
daripada level seblaknya.
Juki: (Sambil
pura-pura mengecek spion) “Waduh, ini pasti setelan karburatornya terlalu racing buat jalanan kota.
Terlalu bertenaga!”
Markum:
(Menghampiri sambil meniup peluit) PRREEEET! “Bertenaga matamu peyang, Juk! Itu motor
apa fogging demam berdarah? Asapnya bikin seblak Mpok Neneng rasa belerang!”
Mpok
Neneng: (Sambil mengacungkan sutil) “He-eh, Juki! Lu kalau mau ngerusak
dagangan orang jangan tanggung-tanggung. Noh, liat, langganan gue pada kabur
dikira ada simulasi kebakaran!”
Juki:
(Keringat dingin mulai bercucuran) “Tenang, Mpok, tenang. Ini cuma masalah
teknis kecil. Biasa, motor spek sirkuit kalau dibawa pelan memang suka
ngambek.”
Babak 2: Gotong Royong yang Malah Bikin Repot
Prinsip Juki adalah: Mogok boleh, kelihatan kere jangan. Dia mulai mencoba
menyalakan motornya menggunakan kick
starter (selahan). Masalahnya, Juki jarang olahraga. Otot betisnya tidak
siap menerima tekanan batin sebesar ini.
DUK! DUK!
DUK!
Markum:
“Kurang bertenaga, Juk! Bayangin aja lu lagi nginjek mantan yang ketahuan
selingkuh! Pake perasaan!”
Juki:
(Napasnya sudah putus-putus) “Udah… udah maksimal ini, Kang Markum. Kayaknya
kompresinya hilang.”
Mpok
Neneng: “Bukan kompresinya yang hilang, Juk. Isi dompet lu buat beli bensin
yang hilang! Coba lu buka tangkinya, jangan-jangan isinya cuma doa ibu!”
Tiba-tiba, datanglah Bambang, seorang pengendara motor lain yang kebetulan
lewat. Bambang adalah tipe orang yang merasa tahu segala hal tentang otomotif,
padahal keahliannya cuma sampai tahap mengganti oli.
Bambang:
“Wah, Bro. Ini masalahnya ada di busi. Sini gue bantu. Biasanya kalau busi
motor matic mogok begini, harus ditiup sambil dibacain selawat.”
Juki:
“Serius, Mas? Emang ngaruh?”
Bambang:
“Enggak tahu sih, tapi biasanya kalau di grup Facebook Komunitas Motor Mogok Idaman, tipsnya begitu.”
Bambang pun turun tangan. Bukannya membantu menyalakan
motor, Bambang malah sibuk membongkar bodi motor Juki sampai beberapa sekrupnya
lepas dan menggelinding ke selokan.
Babak 3: Puncak Komedi di Depan Odong-Odong
Setelah 15 menit dibongkar oleh Bambang, motor Juki
bukannya benar, malah makin mengenaskan. Kabel-kabelnya keluar seperti mi
instan yang tumpah. Kerumunan orang yang menonton pun semakin ramai. Bahkan,
anak-anak yang tadi naik odong-odong sekarang malah pindah menonton Juki,
mengira ini adalah atraksi sulap gratisan.
Anak
Kecil: “Ma, itu om-omnya lagi ngapain? Kok motornya dipretelin? Mau dijual
kiloan ya?”
Ibu Anak
Kecil: “Ssshhh, jangan berisik, Nak. Itu contoh orang yang waktu beli motor
lupa beli keberuntungannya.”
Juki rasanya ingin menenggelamkan diri ke dalam wajan
seblak Mpok Neneng. Dalam kepasrahan total, Juki akhirnya memutuskan untuk
menyerah dan mendorong motornya menjauh dari pusat keramaian. Namun, drama
belum berakhir.
Markum:
“Eh, eh, Juk! Mau ke mana lu? Main kabur aja!”
Juki:
“Ya mau nyari bengkel lah, Kang! Masa mau saya buat pajangan di sini?”
Markum:
“Kira-kira dong! Lu mogoknya di area parkir gue selama 20 menit. Sini bayar
dulu dua ribu!”
Juki:
(Tercengang) “Kang, motor saya mogok! Saya enggak parkir, saya musibah!”
Markum:
“Musibah atau enggak, ban motor lu menyentuh aspal daerah kekuasaan gue. Dua
ribu atau gue peluitin kuping lu sampe budek!”
Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur, Juki
merogoh kantongnya, menyerahkan uang dua ribu rupiah terakhirnya—yang
sebenarnya mau dipake buat beli es teh manis—kepada Markum.
Juki pun mendorong motornya menjauh diiringi tatapan
iba dari emak-emak, tawa renyah dari anak-anak kecil, dan aroma seblak yang
menyengat. Jaket kulitnya kini basah kuyup oleh keringat, membuktikan bahwa
gengsi memang membutuhkan stamina yang luar biasa.
Bagaimana, Pembaca CERCU? Apakah Anda pernah mengalami
momen "panggung sandiwara" di tempat umum seperti yang dialami Juki?
Atau mungkin Anda punya cerita yang lebih membagongkan saat kendaraan Anda
mendadak mogok dan disaksikan oleh puluhan pasang mata?
Yuk,
tuliskan pengalaman kocak atau tips paling absurd kalian saat menghadapi
kendaraan mogok di kolom komentar di bawah! Jangan sampai gengsi kalian
mengalahkan isi dompet ya!
No comments:
Post a Comment