Dalam dunia parenting yang penuh teori canggih, istilah asing, dan seminar berbayar mahal, akhirnya muncul sebuah penelitian fenomenal yang konon bisa mengubah peradaban: “Anak yang rewel biasanya karena sedang tidak mau diam.”
Pernyataan ini pertama kali diumumkan dalam sebuah seminar parenting yang
tiketnya seharga setara cicilan motor, dengan janji: “Akan
membuka rahasia terdalam perilaku anak.”
Orang tua datang dengan harapan tinggi. Mereka membayangkan mungkin akan
menemukan solusi mematikan untuk tangisan anak, atau sebuah teknik napas kuno
ala Shaolin agar balita langsung tenang. Tapi apa yang mereka dapatkan?
Ya, teori megah di atas: anak rewel karena tidak mau diam.
Hebat, kan? Mari kita kupas lebih dalam hasil temuan “luar biasa” ini.
1. Asal-Usul Teori yang
Mengguncang Dunia Parenting
Menurut narasumber seminar (yang mengaku lulusan universitas luar negeri,
meski tidak menyebut nama negaranya), teori ini ditemukan setelah observasi
5 menit terhadap seorang balita di ruang tunggu klinik.
Balita itu:
·
meloncat-loncat,
·
memukul-mukul dinding,
·
membuka tutup botol air
mineral minimal 27 kali,
·
dan tentu saja menolak
untuk duduk tenang.
Setiap kali ibunya berkata, “Adek duduk dulu ya…,” balita itu menjawab
dengan bahasa universal anak: teriakan melengking
yang bisa memanggil roh leluhur.
Sang peneliti pun menarik kesimpulan:
“Rewel terjadi karena anak tidak mau diam.”
Catat baik-baik. Ini mungkin teori paling jujur dalam peradaban modern.
2. Teori Ilmiah yang Tidak
Terlalu Ilmiah
Agar terlihat meyakinkan, narasumber seminar mempresentasikan grafik
power-point lengkap, yang isinya kira-kira begini:
·
Jika anak diam,
maka tenang.
·
Jika anak tidak
diam, maka rewel.
·
Jika anak tidak dapat diam
meskipun sudah diperintah diam, maka rewelnya berubah menjadi level
boss.
Bahkan ada bagan lingkaran (pie chart) berwarna-warni:
·
70% rewel karena ingin
bergerak
·
20% karena bosan
·
10% karena alasan random
yang tak bisa dijelaskan (misal: tidak suka keriput di bantal, kesal karena
penutup gelas tidak sejajar, atau tiba-tiba ingin menjadi kupu-kupu)
Dengan bangga ia berkata,
“Ini data ilmiah. Karena saya membuat grafiknya dengan Excel.”
Orang tua langsung mengangguk-angguk, karena grafik memang
memberi kesan sangat ilmiah meski isinya bisa saja dibuat sambil makan
gorengan.
3. Studi
Kasus: Anak Rewel di Segala Situasi
a. Rewel di Mall
Penyebab:
·
Ingin lari sepanjang lorong
·
Ingin memencet semua tombol
lift
·
Menolak pulang karena baru
menemukan kesenangan hidup: naik eskalator bolak-balik
Jika disuruh diam, langsung muncul tangisan operet: “Tidaaaak
mauuuuu!”
b. Rewel saat Mau Tidur
Penyebab:
·
Tiba-tiba ingin minum
·
Tiba-tiba ingin makan
·
Tiba-tiba ingin main
·
Tiba-tiba ingin naik ke
punggung orang tua dan berpura-pura jadi penunggang kuda
Pokoknya semua tiba-tiba muncul ketika orang tua baru saja rebahan.
c. Rewel Saat Makan
Balita bisa berubah menjadi ahli strategi hebat.
Jika disuruh diam di kursi makan, ia akan menolak, lalu menumpahkan nasi
seperti sedang menabur bunga di pemakaman.
Ketika ditanya, “Kenapa sih rewel?”
Jawabannya kadang cuma satu kalimat filosofis:
“Tidak mauuuu!”
4. Rewel Itu Bukan Salah Anak,
Tapi Energi Alam Semesta
Narasumber seminar memberi teori tambahan yang tak kalah “ilmiah”: anak
kecil menyimpan energi besar yang belum bisa dikontrol.
Kira-kira begini ilustrasinya:
·
Orang dewasa: baterai 20%
·
Remaja: baterai 50%
·
Anak kecil: baterai 500000%
·
Anak umur 2 tahun: energi
setara 3 biji powerbank, panel surya, dan pembangkit listrik mini
Maka dari itu, ketika mereka dipaksa diam, energi tersebut butuh keluar.
Bentuk keluarnya adalah:
·
berguling,
·
berlari,
·
berteriak,
·
melempar sandal,
·
memukul remote TV,
·
atau kombinasi semuanya
dalam satu sesi.
Peneliti menegaskan,
“Anak itu ibarat blender. Jika tombolnya hidup, dia akan bergerak terus.
Kalau tidak diberi ruang, jadilah rewel.”
Apakah ini analogi tepat? Tidak. Apakah orang tua mengangguk saat
mendengarnya? Iya.
5. Rewel Menjadi Seni Komunikasi
Anak belum bisa menyampaikan pesan dengan kata-kata lengkap, jadi mereka
menggunakan seni komunikasi universal: rewel.
Bentuk-bentuk komunikasi rewel yang ditemukan peneliti:
a. Rewel Nada Tinggi (High Frequency Whining)
Biasanya terjadi ketika anak ingin sesuatu tapi tidak tahu apa.
Misalnya ingin es krim, tapi juga ingin main sepeda, tapi juga ingin tidur,
tapi sebenarnya tidak ingin apa-apa.
b. Rewel Nada Melengking (Supersonic Mode)
Ini level di mana anak bisa memanggil makhluk astral radius 5 km.
Penyebab: disuruh diam.
c. Rewel Tipe Drama Korea
Anak merebahkan diri perlahan, menatap langit-langit, dan menangis penuh
perasaan.
Kadang menatap orang tua dengan tatapan, “Mengapa hidup ini kejam?”
6.
Rekomendasi Para Pakar untuk Mengatasi Rewel
Padahal, yang orang tua inginkan sebenarnya hanya satu: solusi.
Namun, solusi yang diberikan seminar kadang lebih filosofis daripada praktis.
Solusi 1: Ajak Bergerak
Karena rewel muncul saat anak tidak mau diam, solusinya: biarkan
anak tidak diam.
Sederhana.
Tapi repot.
Solusi 2: Alihkan Perhatian
Ini teori klasik: tunjukkan hal baru.
Masalahnya, anak cepat bosan. Anda butuh minimal 23 benda untuk menjaga mereka
fokus selama 10 menit.
Solusi 3: Teknik Napas
Orang tua disuruh menarik napas panjang.
Sangat membantu, terutama untuk menenangkan diri saat anak justru memukul
hidung orang tua.
Solusi 4: Terima Nasib
Solusi paling jujur.
Kadang anak rewel bukan karena salah siapa-siapa. Hanya karena… mereka
anak-anak.
7.
Simpulan Seminar
Akhir seminar ditutup dengan kesimpulan luar biasa:
“Anak rewel karena mereka tidak mau diam.
Dan jika mereka diam, itu biasanya karena mereka sedang tidur… atau sedang
melakukan sesuatu yang mencurigakan.”
Bagian terakhir membuat semua orang tua langsung panik, karena kebenarannya
universal:
Anak yang tiba-tiba diam adalah tanda bahaya.
·
Bisa jadi ia sedang
menggambar di dinding,
·
Mengacak-acak bedak,
·
Menyiram tanaman dengan teh
manis,
·
Atau sedang membongkar
remote TV.
Kesimpulan besar seminar:
Rewel adalah tanda anak sedang aktif. Diam adalah tanda orang
tua harus waspada.
Penutup
Walaupun teori seminar ini terdengar sangat sederhana—bahkan terkesan
terlalu sederhana—namun memang begitulah kenyataannya: anak-anak
rewel karena mereka belum punya tombol “pause.”
Mereka tidak bisa diam karena dunia ini terlalu menarik, terlalu penuh hal
untuk dipegang, dipukul, dilempar, digigit, atau dipelajari.
Dan bagi orang tua yang mencari solusi cepat, mungkin yang paling relevan
adalah:
·
sabar,
·
istirahat saat bisa,
·
dan pastikan persediaan kopi
selalu ada.
Karena satu-satunya hal yang pasti di dunia parenting adalah:
anak akan rewel, dan itu normal.
Yang tidak normal: seminar mahal tapi isinya ya… begitu deh.
.jpg)
Comments
Post a Comment