Berawal dari "Halo Bos", Anak Ini Bikin Satu Kompleks Perumahan
Geger!
Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan: Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Sebagai orang tua, pepatah ini awalnya terdengar sangat puitis dan
membanggakan. Sampai pada suatu hari, Anda menyadari bahwa anak Anda tidak
hanya meniru bakat Anda, tapi juga meniru seluruh tabiat buruk, gaya gosip,
hingga cara Anda mengomeli tukang paket.
Selamat datang di kediaman keluarga Pak Baskoro, seorang
manajer keuangan di sebuah perusahaan swasta yang hidupnya penuh dengan target,
tekanan, dan kopi hitam. Di rumah itu, ada Bu Baskoro yang aktif di grup
WhatsApp arisan, serta anak tunggal mereka yang baru berusia enam tahun bernama
Riko.
Riko adalah anak yang tenang. Saking tenangnya, Pak
Baskoro dan Bu Baskoro sering lupa kalau anak ini memiliki kemampuan setingkat
agen rahasia dalam hal merekam dan meniru kelakuan orang tuanya.
Kisah komedi ini dimulai pada suatu hari Minggu yang
cerah. Pak Baskoro sedang bersantai di sofa sambil menikmati kopi, sementara Bu
Baskoro sibuk memilah pakaian di ruang tengah. Suasana damai itu mendadak pecah
ketika pintu depan diketuk dengan sangat keras.
Tok! Tok!
Tok!
"Pak Baskoro! Tolong keluar Pak! Ini gawat!"
terdengar teriakan dari luar. Itu suara Pak RT.
Pak Baskoro tersedak kopinya. Dengan langkah seribu, ia
membuka pintu. Di teras rumah, berdiri Pak RT dengan wajah memerah, ditemani
oleh Bu RT yang melipat tangan di dada, serta dua orang tetangga lainnya.
"Ada apa, Pak RT? Kok mukanya kayak belum bayar
pajak?" tanya Pak Baskoro mencoba bercanda.
"Jangan bercanda, Pak Baskoro! Ini soal anak
sampeyan, si Riko!" semprot Pak RT. "Masa tadi pagi-pagi subuh, dia
jalan kaki ke pos ronda, nyamperin saya yang lagi jaga, terus menepuk pundak
saya sambil bilang: 'Halo Bos,
proyek penggelapan dana bansos kita aman kan? Jangan lupa setorannya, atau saya
bocorin ke atasan!'"
Pak Baskoro melongo. "Hah? Riko bilang
begitu?"
"Bukan cuma itu, Pak!" potong Bu RT dengan
nada tinggi. "Siang serinya, si Riko main ke rumah Bu kontrakan sebelah.
Pas Bu kontrakan lagi nyapu halaman, Riko berdiri di pagar sambil pasang muka
sinis, terus ngomong begini: 'Halah,
gayanya sok kaya pakai emas segede gaban, padahal rumahnya aja masih nyicil
tiga puluh tahun. Pasti itu emas sepuhan dari pasar kaget!'"
Pak Baskoro langsung berkeringat dingin. Kalimat
pertama tentang "proyek penggelapan" itu adalah kalimat yang sering
diucapkan Pak Baskoro saat bermain game simulasi bisnis di komputernya sambil menelepon
temannya. Sedangkan kalimat kedua... Pak Baskoro melirik tajam ke arah istrinya
yang baru saja mengintip dari balik gorden.
Bu Baskoro yang mendengar hal itu langsung keluar
dengan wajah pucat. "A-aduh, Pak RT, Bu RT... itu pasti Riko cuma asal
ngomong..."
"Asal ngomong bagaimana, Bu? Kalimatnya
terstruktur, sistematis, dan masif!" seru Pak RT jengkel. "Sekarang
anaknya mana? Kita harus luruskan ini!"
"Riko! Riko! Sini nak!" panggil Pak Baskoro
dengan suara bergetar.
Riko keluar dari kamar sambil memegang sebuah ponsel
mainan. Jalannya dibuat tegap, dagunya diangkat tinggi-tinggi, dan tangannya
dimasukkan ke dalam saku celana pendeknya—persis seperti gaya Pak Baskoro kalau
lagi menginspeksi kantor.
"Ada apa, Pa? Papa mengganggu waktu meeting saya," ucap Riko
dengan suara yang diberat-beratkan.
Seisi teras rumah mendadak hening. Pak RT melotot, Bu
RT menutup mulut karena syok.
Pak Baskoro berlutut di depan anaknya. "Riko...
kamu tadi bilang apa ke Pak RT dan Bu RT? Kenapa kamu ngomong yang
aneh-aneh?"
Riko menatap ayahnya dengan tatapan bingung yang sangat
polos. "Riko enggak aneh, Pa. Riko cuma latihan jadi orang gede. Kata
Papa, kalau jadi orang gede itu harus pinter ngomong."
"Tapi kenapa harus ngomongin emas sepuhan,
Riko?" tanya Bu Baskoro sambil menahan malu setengah mati.
Riko menunjuk ibunya. "Kan Mama yang ngomong gitu
waktu teleponan sama Tante Mira kemarin siang. Mama bilang: 'Jeng, si Bu RT itu loh, gayanya
sok kaya pakai emas segede gaban, padahal rumahnya nyicil...'—"
"Cukup Riko! Cukup!" potong Bu Baskoro dengan
histeris, wajahnya merah padam seperti tomat matang. Bu RT di sebelah Pak RT
langsung memberikan tatapan "menguliti" kepada Bu Baskoro.
Belum sempat situasi mereda, ponsel di saku celana Pak
Baskoro berdering. Ternyata ada telepon masuk dari bos besar di kantornya. Pak
Baskoro yang panik langsung mengangkatnya dengan terburu-buru.
"Halo, selamat siang Pak Direktur! Iya Pak,
laporan keuangan sudah siap. Oh, tentu saja saya sangat senang menerima tugas
tambahan ini, Pak. Demi kemajuan perusahaan, saya siap lembur bagai kuda! Siap,
Pak!" ucap Pak Baskoro dengan nada suara yang sangat manis, penuh
kepatuhan, dan senyum yang dipaksakan.
Setelah telepon ditutup, Pak Baskoro menghela napas
panjang. Namun, ia tidak sadar bahwa Riko memperhatikan setiap gerak-gerik dan
perubahan nada suaranya dari awal sampai akhir.
Dua menit kemudian, gantian ponsel mainan Riko yang
berbunyi telolet-telolet.
Riko dengan sigap menempelkan ponsel mainan itu ke telinganya. Wajahnya
langsung berubah drastis—dari yang tadinya polos menjadi penuh kepalsuan yang
dibuat-buat, persis seperti ayahnya tadi.
"Halo, selamat siang Pak Direktur Obeng!"
ucap Riko keras-keras, sengaja biar semua orang dengar. "Iya Pak, laporan
mainan lego sudah siap. Oh, tentu saja saya senang banget disuruh beresin
mainan sendirian. Demi kemajuan kamar tidur, saya siap lembur bagai kuda poni!
Siap, Pak!"
Setelah pura-pura menutup telepon, Riko meludah ke
lantai (tanpa air liur, hanya suara 'cih'), lalu mengomel dengan nada ketus.
"Dasar bos botak gila kerja! Libur begini masih
aja nyuruh orang lembur. Pengen tak hantam pakai kursi rasanya!" umpat
Riko sambil berkacak pinggang.
Pak Baskoro seketika lemas dan hampir terduduk di lantai
teras. Itu adalah kalimat persis yang ia ucapkan setiap kali menutup telepon
dari bosnya di kamar.
Pak RT yang melihat kejadian itu akhirnya tidak bisa
menahan tawa. Ketegangannya mencair berganti menjadi tawa geli yang
menggelegar. "Hahaha! Waduh, Pak Baskoro... ternyata anakmu ini adalah
cermin berjalan!"
Bu RT juga ikut tertawa, meski masih menyisakan
pandangan sinis ke Bu Baskoro. "Makanya Jeng Baskoro, Pak Baskoro... kalau
di rumah itu mulutnya dijaga. Anak kecil itu CCTV paling canggih di dunia. Enggak pakai memori
card, tapi rekamannya langsung otomatis tersimpan di otak!"
Hari itu berakhir dengan Pak Baskoro dan Bu Baskoro
yang terpaksa membagikan kue bolu permintaan maaf kepada para tetangga. Sejak
kejadian geger itu, rumah keluarga Baskoro mendadak berubah menjadi tempat
paling sunyi di kompleks. Mereka sekarang kalau berbicara di depan Riko harus
menggunakan bahasa isyarat atau berbisik-bisik seperti agen rahasia yang sedang
merencanakan kudeta.
Sebab mereka tahu, salah satu kalimat saja, besoknya
Riko bisa saja berpidato di depan masjid kompleks menggunakan mikrofon.
Catatan
Redaksi CERCU: Anak-anak tidak pernah baik dalam mendengarkan orang tua
mereka, tetapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru mereka. Jadi, sebelum
mengajari anak sopan santun, pastikan kita sendiri sudah lulus sensor di rumah!
Bagaimana
dengan Anda, Pembaca CERCU? Kelakuan atau ucapan "ajaib" apa yang
pernah ditiru oleh anak, keponakan, atau adik Anda di rumah yang sukses bikin
Anda menanggung malu tujuh turunan? Yuk, tulis cerita kocak versi Anda di kolom
komentar di bawah!
No comments:
Post a Comment