Misteri Lenyalnya Rendang Legendaris di Hajatan Nikahan Mantan
Tokoh:
Budi (26 tahun): Tamu undangan yang datang dengan misi khusus: makan enak untuk membalas dendam sosial karena ditinggal nikah mantan.
Target/Targeto (26 tahun): Sahabat Budi, tipe orang yang kalau ke kondangan fokusnya adalah efisiensi tempat dan kecepatan mengantre makanan.
Tante Ambar (50 tahun): Penguasa sejati lini belakang prasmanan, tipe ibu-ibu yang tas kondangannya merangkap sebagai ruang penyimpanan logistik darurat.
Bagi Budi, menghadiri acara hajatan pernikahan mantan kekasihnya adalah sebuah ujian mental tingkat dewa. Dengan setelan batik terbaik yang ia pinjam dari kakaknya, Budi berdiri di depan gedung pertemuan dengan dada membusung.
"Don, ingat misi kita hari ini," bisik Budi kepada Targeto (yang biasa dipanggil Targo) dengan nada serius, mirip agen rahasia yang mau menyusup ke markas musuh. "Kita harus terlihat tegar, elegan, dan yang paling penting... kita harus mengosongkan slot perut untuk menu rendang legendaris dari katering ini."
Targo membenarkan kerah batiknya yang kekecilan. "Siap, Bud. Berdasarkan riset saya, katering Hajatan Berkah Mulia ini rendangnya dimasak pakai resep rahasia tujuh turunan. Dagingnya selembut sutra, bumbunya meresap sampai ke serat terdalam."
"Bagus. Ayo masuk, kita bersalaman dengan pengantin, pasang muka senyum paling ikhlas, lalu kita langsung meluncur ke sektor prasmanan!" perintah Budi.
Setelah melewati sesi bersalaman di pelaminan yang penuh dengan senyuman palsu dan ucapan "Semoga sakinah mawaddah warahmah" yang agak terbata-bata, Budi dan Targo langsung memutar arah 180 derajat. Target mereka jelas: meja pondokan utama yang menyajikan nasi dan rendang daging.
Namun, begitu mereka sampai di depan barisan antrean, atmosfer mendadak terasa mencekam. Antrean tidak bergerak. Di barisan paling depan dekat pondokan rendang, terjadi sebuah ketegangan yang melibatkan seorang ibu-ibu bersanggul tinggi dengan tas tangan ukuran jumbo. Siapa lagi kalau bukan Tante Ambar.
Budi dan Targo merangsek maju, mencoba melihat apa yang terjadi.
"Maaf, Ibu," ujar mbak-mbak penjaga katering dengan senyum yang mulai retak. "Ini kan sistemnya prasmanan untuk porsi piring, kok Ibu langsung memasukkan satu wadah tempat saji rendangnya ke dalam kantong plastik hitam?"
Tante Ambar tidak berkedip sedikit pun. Wajahnya tetap tenang dan penuh kepastian. "Lho, Mbak, ini kan hajatan sepupu dari iparnya tetangga saya. Berarti saya ini keluarga dekat! Lagipula, anak saya di rumah belum makan siang. Ini namanya membahagiakan anak yatim... eh, anak saya maksudnya."
Targo menyenggol lengan Budi. "Bud, gawat. Target utama kita sedang mengalami ancaman kepunahan massal oleh Tante Ambar."
Budi, yang didorong oleh rasa lapar dan dendam masa lalu yang belum tuntas, memberanikan diri untuk ikut campur. "Aduh, Tante... maaf nih. Kami dari tadi antre belum kebagian rendangnya sama sekali. Kalau Tante borong satu tempat saji begitu, kami yang tamu undangan cuma dapat kuah lengkuasnya dong?"
Tante Ambar menoleh lambat, menatap Budi dari ujung rambut sampai ujung sepatu batiknya. "Kamu ini temannya pengantin pria apa pengantin wanita?"
"Saya... mantan pengantin wanitanya, Tante," jawab Budi spontan.
Suasana mendadak hening. Mbak-mbak katering menahan napas. Targo pura-pura tidak kenal dan bergeser dua langkah ke kanan.
Tante Ambar langsung tersenyum penuh kemenangan. "Oalah! Jadi kamu ini korban ditinggal nikah toh? Pantas mukanya kelihatan kurang gizi. Ya sudah, karena Tante kasihan sama kamu, ini Tante kasih dispensasi."
Tante Ambar merogoh kantong plastik hitamnya, lalu dengan menggunakan sendok sayur besar, ia mengambil sepotong rendang ukuran raksasa dan meletakkannya langsung ke atas piring Budi yang saat itu baru berisi nasi putih polos.
"Nah, ini buat kamu, Bud. Makan yang banyak ya, biar kuat melihat mantanmu bersanding di pelaminan. Jangan menangis di atas piring rendang, nanti bumbunya jadi hambar," ujar Tante Ambar sambil menepuk-nepuk bahu Budi dengan keras sebelum akhirnya melenggang pergi membawa sisa harta karun rendang di dalam plastik hitamnya.
Budi terpaku menatap sepotong daging rendang di piringnya. Di satu sisi, ia merasa terhina karena status mantannya dibongkar di depan umum. Di sisi lain, ia tidak bisa membohongi hidungnya bahwa aroma rendang itu memang luar biasa nikmat.
Targo kembali mendekat sambil membawa sepiring siomay yang tinggal sisa kubisnya saja. "Wah, Bud... luar biasa. Strategi diplomasi yang sangat berisiko, tapi hasilnya instan. Kamu mengorbankan harga diri demi sepotong protein hewani."
"Diam kamu, Tar. Ayo kita duduk dan nikmati kemenangan yang tragis ini," kata Boni lesu.
Mereka berdua duduk di kursi sudut dekat kipas angin angin besar (misty fan) yang sesekali menyemburkan air ke wajah mereka—menyamarkan apakah yang mengalir di pipi Budi itu air dari kipas atau air mata kesedihan.
Saat Budi hendak memotong rendang itu dengan sendoknya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah pintu masuk. Rupanya rombongan keluarga besan baru saja datang dan langsung menyerbu area prasmanan yang... sayangnya sudah luntur total karena aksi Tante Ambar dan kawan-kawan seprofesinya.
Dari kejauhan, terdengar teriakan panik dari panitia hajatan, "Rendangnya mana?! Kok tinggal daun salamnya saja?!"
Budi memasukkan potongan rendang pertama ke dalam mulutnya. Dagingnya lumer, bumbunya meledak di lidah, rasanya begitu sempurna mengalahkan rasa sakit hatinya.
"Bagaimana, Bud? Enak?" tanya Targo penasaran.
Budi mengunyah perlahan, menatap mantan kekasihnya di pelaminan yang sedang sibuk tersenyum ke arah kamera fotografer, lalu beralih menatap piringnya. "Tar... rendang ini membuktikan satu hal."
"Apa itu?"
"Mantan boleh pergi dan bikin sakit hati, tapi resep katering Hajatan Berkah Mulia tidak pernah mengkhianati lidah."
Pertanyaan untuk Pembaca: Hayo mengaku, siapa di antara kalian yang kalau datang ke acara hajatan atau kondangan, misi utamanya langsung berburu rendang atau pondokan kambing guling? Atau... apakah kalian pernah bertemu dengan "ras terkuat di bumi" sekelas Tante Ambar yang hobi bungkus makanan pakai plastik tersembunyi? Yuk, bagikan cerita hajatan paling kocak versi kalian di kolom komentar di bawah!
No comments:
Post a Comment