Misteri Harta Karun di Selokan RT 02 dan Cangkul Patah Milik Pak Sugeng
Kerja bakti hari Minggu adalah sebuah tradisi luhur yang memiliki dua fungsi
utama bagi kaum bapak-bapak di Indonesia. Fungsi pertama (dan yang paling
formal) adalah untuk membersihkan lingkungan kampung agar bebas dari sarang
nyamuk. Fungsi kedua (dan yang paling krusial) adalah sebagai alibi resmi untuk
menghindari tugas menjaga anak, menjemur kasur, atau menemani istri belanja ke
pasar induk.
Namun, apa jadinya jika sebuah agenda kerja bakti yang seharusnya diisi
dengan kegiatan tebas rumput dan keruk selokan berubah menjadi ajang pembongkaran
"aib keluarga" akibat penemuan sebuah benda misterius?
Mari kita meluncur ke tempat kejadian perkara di gang buntu RT 02, di mana
sebuah got beraroma eksotis menjadi saksi bisu runtuhnya wibawa seorang kepala
keluarga.
PUKUL 08.00 WIB: PEMBAGIAN TUGAS DAN STRATEGI PERANG
Karakter:
·
Pak Sugeng (45 tahun): Bapak-bapak
perfeksionis, modal cangkul baru, tapi tenaganya modal pas-pasan.
·
Mamat (22 tahun): Pemuda pengangguran
sukses yang ikut kerja bakti hanya demi mengincar gorengan dan kopi gratis.
·
Pak RT (50 tahun): Sang mandor pelaksana
yang tugasnya hanya menunjuk-nunjuk tanah sambil memegang gelas plastik berisi
kopi.
(Latar: Pinggir selokan utama RT 02 yang airnya sudah berwarna hitam
pekat bervariasi abu-abu. Bau lumpurnya sanggup membuat pingsan seekor kecoak
dalam radius tiga meter).
Pak RT: "Ayo, bapak-bapak dan saudara Mamat! Hari ini target
kita adalah menuntaskan sedimentasi lumpur di selokan ini. Ingat, musim hujan
sudah dekat. Kalau got ini menyumbat, rumah Pak Sugeng yang pertama kali
kebanjiran!"
Pak Sugeng: (Sambil menepuk-nepuk cangkul barunya yang masih
kinclong) "Tenang, Pak RT! Hari ini saya bawa senjata baru. Cangkul
baja buatan Cibatu! Jangankan cuma lumpur got, masa lalu yang kelam pun bisa
saya keruk sampai bersih pakai cangkul ini!"
Mamat: (Sambil bersandar di tiang listrik, memegang sapu lidi yang
patah) "Waduh, mantap Pak Sugeng. Tapi jangan semangat-semangat amat,
Pak. Inget umur, ntar pinggangnya bunyi kretek kayak kerupuk kulit,
repot kita."
Pak Sugeng: "Halah, kamu anak muda zaman sekarang mentalnya
tempe! Baru megang sapu aja udah lemes. Lihat ini, aksi pria perkasa!"
(Pak Sugeng mengangkat cangkulnya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya
dengan kekuatan penuh ke dalam dasar selokan yang penuh batu).
BRAAAKK!!!
(Suara benturan keras terdengar. Bukannya lumpur yang terangkat, gagang
kayu cangkul baru Pak Sugeng justru patah menjadi dua bagian. Kepala cangkulnya
terlempar masuk dan tenggelam ke dalam lumpur hitam).
Mamat: (Menahan tawa sambil menutup mulut) "Uhuk! Kan...
apa saya bilang, Pak. Bajanya sih buatan Cibatu, tapi gagang kayunya kayaknya
buatan dari ranting pohon jambu tetangga."
Pak Sugeng: (Melihat gagang cangkulnya yang patah dengan tatapan
kosong) "Astagfirullah... modal lima puluh ribu cuma bertahan satu
kali tebasan."
MISTERI PENEMUAN "HARTA KARUN"
Pak RT: "Sudah, sudah, jangan meratapi cangkul yang patah.
Sugeng, kamu pakai sekop saya aja. Tapi hati-hati, di sebelah situ lumpurnya
agak dalam. Kemarin anak-anak sering main bola di sini, siapa tahu ada sumbatan
besar."
(Pak Sugeng dengan pasrah menerima sekop, lalu mulai mengeruk lumpur
dengan hati-hati. Tiba-tiba, mata sekopnya membentur sesuatu yang keras tapi
agak elastis di dalam got).
Pak Sugeng: "Eh, bentar, Pak RT. Ini ada yang ganjel. Gede
banget. Kayaknya ini dia penyebab banjir selama ini. Mat, bantuin dong, tarik
pakai tangan!"
Mamat: "Ogah, Pak! Lumpur got itu mengandung zat-zat pemunah
masa depan. Pakai gancu aja itu!"
(Setelah berjuang selama lima menit sambil bermandikan keringat dan bau
got, mereka berhasil mengangkat sebuah benda berbentuk kotak plastik hitam yang
dilapisi plastik mika kedap air).
Pak RT: "Wah, apa ini? Kotak perhiasan kah? Jangan-jangan ini
harta karun peninggalan zaman kompeni yang tertimbun!"
Mamat: "Bukan, Pak RT. Ini kotaknya modern. Ada tulisannya...
bentar saya lap dulu lumpurnya... Eh? Tulisannya: 'Property of Sugeng -
JANGAN DIBUKA'"
(Seketika suasana kerja bakti menjadi hening. Pak RT menatap kotak itu,
lalu menatap Pak Sugeng. Mamat tersenyum penuh arti).
Pak RT: "Geng... ini kotak punya kamu? Kok bisa ada di dasar
selokan kampung?"
Pak Sugeng: (Wajahnya mendadak pucat pasi, melebihi warna mukanya
saat cangkulnya patah tadi) "Eh... itu... anu, Pak RT. Itu kotak...
tempat pembuangan limbah sisa... sisa umpan pancing saya!"
Mamat: "Halah, bohong Pak Sugeng! Umpan pancing kok digembok
pakai gembok koper? Pak RT, demi transparansi publik dan keselamatan warga RT
02 dari sumbatan got, saya usul kotak ini dibuka!"
KOTAK PANDORA RT 02 TERBONGKAR
(Mamat dengan cekatan mengambil obeng dari kantongnya dan berhasil
merusak gembok kecil tersebut. Kotak terbuka. Di dalamnya tidak ada emas, tidak
ada umpan pancing, melainkan seonggok uang kertas pecahan seratus ribu dan lima
puluh ribu yang diikat rapi dengan karet gelang, lengkap dengan beberapa lembar
majalah otomotif).
Pak RT: "Lho! Ini kan uang?! Banyak banget lagi! Sugeng, kamu
melihara pesugihan di dalam got?!"
Pak Sugeng: (Langsung berlutut di pinggir got sambil memegangi
kaki Pak RT) "Pak RT, tolong demi keselamatan jiwa dan raga saya,
tutup lagi kotaknya! Tolong, Pak! Jangan sampai berita ini sampai ke telinga
istri saya!"
Mamat: "Oalah... jadi ini Uang Jajan Gelap alias uang
simpanan rahasia dari sisa kembalian belanja pasar ya, Pak? Wah, taktiknya
jenius amat, disimpan di dalam got. Gak bakal kepikiran sama Bu Sugeng!"
(Belum sempat Pak Sugeng merebut kotak itu, tiba-tiba terdengar suara
langkah kaki beritme cepat dari arah belakang. Sosok tinggi besar dengan
celemek bermotif bunga-bunga muncul membawa nampan berisi pisang goreng. Itu
adalah Bu Sugeng).
Bu Sugeng: "Ini bapak-bapak, pisang goreng hangatnya sudah
si—eh, itu kotak apa yang dipegang Mamat? Kok mirip kotak Tupperware saya yang
hilang dua bulan lalu?!"
Mamat: "Wah, pas banget Bu Sugeng datang! Ini lho, kita lagi
nemu pahlawan kebersihan desa. Pak Sugeng sengaja menabung di dalam got buat
ngasih kejutan ulang tahun pernikahan Ibu besok, ya kan Pak?"
Pak Sugeng: (Pasrah, tersenyum kecut sambil menatap langit)
"I-iya, Bu... tadinya mau buat kejutan. Tapi malah ketahuan pas kerja
bakti..."
Bu Sugeng: (Matanya langsung berbinar melihat tumpukan uang, lalu
menjewer kuping Pak Sugeng) "Ooooh, jadi selama ini kalau ditanya uang
token listrik selalu bilang gak ada duit, ternyata investasinya di dalam got
ya, Pak?! Ayo pulang! Mandi yang bersih, habis itu kita ke toko emas!"
KESIMPULAN: GOT BERSIH, DOMPET PUN BERSIH
Kerja bakti hari itu akhirnya sukses besar. Got RT 02 bersih total dari
sumbatan, banjir berhasil dihindari, dan yang paling penting: Mamat mendapatkan
jatah makan bakso gratis tiga mangkok dari Bu Sugeng sebagai upah
"menemukan" harta karun tersebut. Sementara Pak Sugeng harus
merelakan uang simpanan rahasianya selama dua tahun amblas dalam waktu lima
menit akibat hobi menyembunyikan sesuatu di tempat yang salah.
Pesan moralnya: Jika Anda ingin menyembunyikan uang dari istri, jangan
pernah menaruhnya di fasilitas umum. Karena cepat atau lambat, agenda kerja
bakti RT akan membongkar semuanya!
Nah, kalau di lingkungan tempat tinggal kalian bagaimana? Pernah tidak
ada kejadian menemukan benda "ajaib" atau rahasia tetangga yang
terbongkar pas lagi kerja bakti bareng warga? Yuk, ceritakan momen paling kocak
dan absurd di kolom komentar di bawah!
No comments:
Post a Comment