Ayah Kirim Emoji Menangis di Grup Keluarga… Ternyata Lagi Pamer
Motor Baru!
Teknologi memang luar biasa. Dalam hitungan detik, kita bisa mengirim pesan
ke seluruh dunia. Sayangnya, kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu
datang bersamaan dengan kemampuan memahami simbol-simbol aneh yang muncul di
layar.
Itulah yang terjadi pada keluarga besar Pak Harun.
Pak Harun adalah seorang ayah berusia enam puluh tahun yang baru saja
mengenal smartphone. Setelah bertahun-tahun setia menggunakan ponsel jadul yang
fungsi utamanya hanya untuk menelepon dan menerima SMS, akhirnya beliau
memutuskan mengikuti perkembangan zaman.
"Kalau semua orang pakai smartphone, masa saya masih pakai ponsel yang
bunyinya seperti alarm kebakaran?" katanya suatu hari.
Anaknya, Rian, dengan semangat mengajari ayahnya menggunakan berbagai
aplikasi.
"Pak, ini WhatsApp."
"Iya."
"Kalau mau kirim foto, tekan ini."
"Iya."
"Kalau mau kirim emoji, tekan gambar wajah kuning ini."
Pak Harun mengangguk.
"Mudah ternyata."
Rian tersenyum.
Saat itu ia belum tahu bahwa kalimat "mudah ternyata" akan menjadi
awal dari berbagai bencana digital.
Dua hari kemudian, grup keluarga besar mendadak heboh.
Pak Harun mengirim foto motor baru yang baru saja dibelinya.
Di bawah foto itu tertulis:
Alhamdulillah motor baru 😭😭😭
Dalam waktu kurang dari satu menit, komentar berdatangan.
Bibi Siti menulis:
Innalillahi... motor siapa yang kecelakaan?
Paman Ridwan bertanya:
Motor baru tapi kenapa menangis?
Sepupu yang tinggal di Jakarta langsung menelepon.
"Om, ada apa?"
"Kenapa?"
"Itu motor baru kenapa? Rusak?"
"Lho, tidak."
"Terus kenapa pakai emoji menangis?"
Pak Harun bingung.
"Lah, bukannya itu emoji bahagia?"
"Tidak, Om. Itu menangis."
Pak Harun terdiam.
"Oh."
Lalu beliau menambahkan:
Maaf. Saya kira itu simbol terharu karena bahagia.
Masalah selesai?
Tentu tidak.
Karena justru sejak itulah petualangan emoji Pak Harun dimulai.
Suatu malam, tetangga sebelah melahirkan anak pertama.
Pak Harun ingin mengucapkan selamat.
Dengan penuh percaya diri ia mengirim pesan:
Selamat atas kelahiran anaknya 😡😡😡
Seketika grup RT menjadi sunyi.
Tidak ada yang berani membalas.
Bahkan ketua RT membaca pesan itu tiga kali untuk memastikan matanya tidak
salah.
Akhirnya seorang tetangga memberanikan diri bertanya.
"Pak Harun marah ya?"
"Marah kenapa?"
"Itu emoji marah."
Pak Harun kembali bingung.
"Lho? Saya kira itu wajah bayi yang lucu."
Rian yang mengetahui kejadian itu mulai khawatir.
"Pak, jangan asal pilih emoji."
"Memangnya sulit?"
"Emoji itu ada artinya."
Pak Harun mengangguk.
"Oke. Mulai sekarang saya hati-hati."
Sayangnya, hati-hati versi Pak Harun ternyata berbeda dengan hati-hati versi
orang lain.
Suatu hari seorang teman lama mengabarkan bahwa dirinya baru naik jabatan.
Pak Harun membalas:
Selamat ya 👍💀
Temannya langsung menelepon.
"Harun!"
"Iya?"
"Kenapa ada tengkoraknya?"
"Tengkorak yang mana?"
"Itu emoji tengkorak!"
Pak Harun melihat layar.
"Oh itu."
"Itu artinya apa menurutmu?"
"Saya kira artinya keren."
"Keren dari mana?"
"Itu tulangnya kuat."
Telepon langsung ditutup oleh temannya.
Masalah terbesar terjadi saat ulang tahun istrinya.
Pak Harun ingin tampil romantis.
Pagi-pagi beliau mengunggah foto bersama istrinya ke media sosial.
Caption-nya:
Selamat ulang tahun istriku tercinta. Semoga panjang umur dan sehat selalu 💩❤️💩
Rian yang melihat unggahan itu hampir tersedak kopi.
"Ayah!"
"Kenapa?"
"Itu emoji apa?"
"Hati."
"Bukan yang hati."
"Oh yang satunya."
"Iya."
"Itu cokelat kan?"
"Itu bukan cokelat, Pak!"
Pak Harun langsung panik.
Beliau buru-buru menghapus unggahan tersebut.
Sayangnya, terlambat.
Karena sudah ada belasan komentar.
Salah satunya dari teman sekolah istrinya.
Pak Harun memang romantis dengan gaya yang unik.
Yang lain menulis:
Saya tidak berani menafsirkan emoji itu.
Sejak saat itu, seluruh keluarga sepakat membuat program khusus bernama:
Pelatihan Darurat Emoji untuk Orang Tua.
Pesertanya hanya satu orang.
Pak Harun.
Pelatihnya lima orang.
Anak, menantu, keponakan, cucu, dan bahkan tetangga sebelah.
Sesi pertama membahas emoji senyum.
Sesi kedua membahas emoji sedih.
Sesi ketiga membahas emoji marah.
Pak Harun tampak serius.
Ia mencatat semuanya di buku tulis.
Benar-benar dicatat.
Seperti mahasiswa menjelang ujian.
Seminggu kemudian, semua orang merasa optimis.
Pak Harun tampaknya sudah memahami emoji.
Sampai akhirnya sebuah pesan muncul di grup keluarga.
Nenek masuk rumah sakit 😎
Seluruh anggota keluarga kembali panik.
Rian langsung menelepon.
"Pak! Kenapa ada emoji kacamata hitam?"
"Salah lagi?"
"Iya!"
"Itu artinya apa?"
"Itu orang santai dan keren!"
Pak Harun menghela napas.
"Susah juga ternyata."
Namun puncak kekacauan terjadi beberapa bulan kemudian.
Saat menghadiri acara pernikahan sepupunya, Pak Harun diminta memberikan
ucapan di grup keluarga.
Beliau mengetik:
Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah,
warahmah 🤣🤣🤣
Dalam hitungan detik, puluhan pesan masuk.
"Kenapa ketawa?"
"Memangnya pernikahannya lucu?"
"Ada yang jatuh?"
Pak Harun langsung meletakkan ponsel.
"Sudah cukup."
"Kenapa, Pak?"
"Saya menyerah."
"Lho?"
"Saya kembali pakai tulisan saja."
Sejak hari itu, Pak Harun memang masih menggunakan WhatsApp, tetapi hampir
tidak pernah memakai emoji lagi.
Jika ingin senang, beliau menulis:
Saya senang.
Jika sedih, beliau menulis:
Saya sedih.
Jika terharu, beliau menulis:
Saya terharu.
Menurutnya, cara itu jauh lebih aman daripada tanpa sengaja mengucapkan
selamat ulang tahun dengan simbol yang membuat seluruh keluarga gagal fokus
selama seminggu.
Meski begitu, hingga sekarang keluarga besar masih sering mengenang
masa-masa awal Pak Harun mengenal emoji.
Kadang saat berkumpul, mereka membuka kembali tangkapan layar pesan-pesan
legendaris tersebut.
Dan setiap kali melihat ucapan:
Selamat atas kelahiran anaknya 😡😡😡
atau
Selamat ulang tahun istriku tercinta 💩❤️💩
semua orang langsung tertawa sampai sakit perut.
Sementara Pak Harun hanya menggeleng sambil berkata:
"Jangan salahkan saya. Yang menciptakan emoji itu terlalu
kreatif."
Dan mungkin ada benarnya juga.
Karena bagi sebagian orang tua yang baru mengenal dunia digital, membedakan
emoji terharu, marah, tertawa, dan tengkorak memang kadang lebih sulit daripada
memperbaiki mesin motor atau menghitung pengeluaran rumah tangga satu bulan
penuh.
Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah orang tua atau anggota keluarga
Anda pernah salah menggunakan emoji hingga menimbulkan kejadian lucu dan
memalukan? 😄📱