"Ngapa sih Manusia Itu Tidur Malam-malam?" - Sebuah Investigasi Terhadap Konspirasi Bola Api Raksasa
Halo, para pejuang insomnia dan korban morning person yang sok semangat! Balik lagi di Cercu, blog yang dengan santainya membedah hal-hal mendasar dengan logika yang seringkali keluar dari jalur tol. S
| Sebuah Investigasi Terhadap Konspirasi Bola Api Raksasa |
Dan
hari ini, kita kedatangan laporan dari para antropolog yang baru saja kembali
dari... mungkin dari sebuah bintang. Judul penelitiannya bikin ngantuk: "Studi
Antropologi: Manusia Tidur di Malam Hari karena Mataharinya Tenggelam."
Nah,
ini dia.
Reaksi spontan: "Wah, ternyata! Kirain manusia tidur malam karena
suka-suka atau karena Netflix lagi buffering!" Tapi, jangan
salah. Pernyataan yang terdengar seperti penjelasan Captain Obvious ini, kalau
ditelusuri, sebenarnya adalah inti dari seluruh peradaban manusia. Ini bukan
sekadar sebab-akibat, ini adalah cerita epik tentang bagaimana kita
dikalahkan oleh rutinitas sebuah bola plasma.
Mari
kita selami gua pemikiran ini. Tapi jangan terlalu dalam, nanti ketiduran.
Bab 1: Pra-Matahari Tenggelam: Zaman Manusia Purba Super Ngeyel
Bayangkan kehidupan awal manusia. Sebut saja si Ugh, seorang lelaki
gua dengan gaya rambut acak-acakan dan otot yang terbentuk karena lari dari
singa.
Sepanjang hari, Ugh beraktivitas. Berburu, mengumpulkan buah, melukis di
dinding gua, atau sekadar duduk-duduk memandang pemandangan.
Lalu, perlahan, bola api raksasa di langit itu mulai turun. Ugh
memperhatikan.
Ugh (dalam bahasa gua): "Huh. Oranye itu pergi. Dingin. Gelap.
Serem."
Tapi Ugh adalah makhluk inovatif! Dia punya obor dari kayu dan
resin! Dia pikir, "Ah, saya bisa lanjutkan lukisan dinding saya yang
berjudul 'Bison yang Terlalu Gemuk'. Penerangannya dramatis!"
Tapi, alam punya rencana lain. Begitu gelap menyelimuti, makhluk-makhluk
dengan mata bersinar dan cakar tajam keluar dari persembunyiannya.
Suara-suara aneh terdengar. Angin berbisik menakutkan.
Ugh, dengan obornya yang sebesar korek api, menyadari sesuatu: "Saya
adalah snack berjalan di dalam kotak gelap ini."
Pilihan
Ugh: tetap terjaga dengan kecemasan level maksimum sambil memeluk erat
tongkatnya, atau... pura-pura mati (tidur) sampai bola api itu kembali.
Tidur adalah strategi survival. Bukan karena malas, tapi karena "kalau
saya tidak bergerak dan terlihat seperti batu, mungkin predator akan mengira
saya adalah batu yang kurang enak."
Bab 2: Matahari: Bos yang Paling Otoriter dalam Sejarah
Jika kita pikir-pikir, Matahari adalah CEO tertua dan paling tidak
fleksibel di alam semesta. Jadwalnya mutlak:
Jam 6
pagi - 6 sore: Shift kerja. Dia memberi
cahaya, kehangatan, dan vitamin D. "Kerjakan semua aktivitasmu di bawah
sinarku!"
Jam 6
sore: "WAKTU PULANG!". Dia
masuk ke balik gunung/lautan tanpa negosiasi. Semua lampu dimatikan. Tidak ada
lembur. Tidak ada overtime pay. Gelap. Selesai.
Manusia, sebagai karyawan planet Bumi, tidak punya pilihan. Kita harus
menyesuaikan jadwal dengan Bos Matahari. Kita mengembangkan ritme sirkadian—sebuah
kata keren untuk mengatakan "kami terpaksa ikut jadwalnya".
Tidur di malam hari adalah bentuk kapitalisasi terhadap kondisi yang
tidak menguntungkan. Karena tidak bisa berburu atau bercocok tanam
dengan efektif, kita recharge. Kita menjadi seperti ponsel yang
dicas saat listrik lagi mati (alias malam hari).
Bab 3: Pemberontakan Manusia Modern dan "Lampu Bohlam"
Kemudian, manusia menemukan api yang lebih terkontrol, lalu lampu,
dan puncaknya: LISTRIK. Inilah revolusi!
Untuk pertama kalinya, kita bisa menunjuk hidung ke arah langit yang gelap dan
berkata, "Haha! Saya tidak takut lagi, Bos! Saya punya penerangan
sendiri! Saya bisa begadang!"
Tapi apa yang kita lakukan dengan pemberontakan ini?
Kita menciptakan hiburan 24 jam. Netflix, video game, scrolling
medsos. Kita seperti anak kecil yang baru diizinkan memegang senter, lalu
menyorotkannya ke mana-mana sambil tertawa girang, lupa bahwa besok harus
sekolah.
Alam semesta membalasnya dengan menciptakan "kantung hitam di
bawah mata" dan "rasa seperti zombie di pagi
hari" sebagai tanda bahwa pemberontakan kita punya konsekuensi.
Meski matahari tenggelam, tubuh kita masih berbisik, "Hei, menurut
DNA kita, ini waktunya tidur. Itu singa mungkin sudah punah, tapi deadline
besok adalah predator baru."
Bab 4: Studi Lapangan: Perilaku "Tapi" Sebelum Tidur
Antropolog Cercu mengamati ritual manusia modern sebelum menyerah pada fakta
bahwa matahari telah tenggelam:
Fase
Penyangkalan (Jam 22.00-00.00): "Malam
masih muda! Cuma 5 episode lagi. Atau, mari kita cari tahu siapa sebenarnya
yang membunuh di serial itu." Mata berat, tapi jiwa membangkang.
Fase
Tawar-menawar (Jam 00.00-01.00): "Ok,
saya tidur. Tapi setelah baca 3 artikel dulu. Atau lihat story teman
yang liburan ke Bali. Ah, sekalian cek e-mail kerjaan besok deh, biar cepat
selesai." Ini adalah ilusi produktivitas.
Fase
Marah (Jam 01.00+): "ASTAGA!
KENAPA SUDAH JAM SATU?! Besok harus bangun jam 6! Ini salah siapa?!"
(Spoiler: salah Anda sendiri).
Fase
Depresi (Saat kepala menyentuh bantal): "Hidup
ini sia-sia. Saya menghabiskan malam saya untuk menonton orang lain makan
makanan pedas di TikTok. Sekarang saya lelah dan lapar."
Fase
Penerimaan (2 menit kemudian): Zzzzzz...
Bab 5: Pengecualian Budaya & Spesies yang Menertawakan Kita
Tidak semua makhluk patuh. Studi antropologi juga mencatat subkultur
nokturnal:
Pekerja
Shift Malam: Mereka adalah pemberontak sejati
yang bilang, "Matahari tenggelam? Itu tanda saya berangkat kerja."
Mereka hidup dalam dunia terbalik, di mana kopi adalah ritual pagi mereka di
tengah kegelapan.
Burung
Hantu & Kucing: Mereka
melihat manusia tidur dan berpikir, "Cupu. Waktu paling asik buat
berpetualang justru ketika bos bola api itu pergi." Mereka adalah
ahli waris spiritual Ugh yang seharusnya.
Bayi
& Balita: Mereka tidak peduli matahari
tenggelam atau terbit. Mereka tidur dan bangun sesuai dengan kerajaan chaos
mereka sendiri. Mereka adalah anarki berjalan.
Bab 6: Kesimpulan yang Mengantuk
Jadi, para antropolog bilang: manusia tidur malam karena matahari tenggelam.
Kesimpulan Cercu yang lebih panjang (dan ngantuk) adalah:
Tidur
malam adalah sisa-sisa trauma kolektif. Ini
adalah memori otot (dan otak) dari zaman kita rentan menjadi makanan. Ketika
gelap, kita shutdown. Itu lebih aman.
Matahari
adalah penentu waktu utama, sekaligus musuh sekaligus sekutu. Dia memaksa kita beristirahat, meski kita
melawan dengan teknologi. Pada akhirnya, kita tetap jatuh juga. Dia menang.
"Karena
mataharinya tenggelam" adalah alasan paling jujur dan mendasar. Bukan karena kita capek (itu konsekuensi), bukan
karena ada acara bagus (itu gangguan), tapi karena sumber cahaya utama
kita pergi, dan nenek moyang kita dulu takut pada kegelapan. Sederhana,
bukan?
Jadi,
lain kali Anda menguap lebar di jam 11 malam, jangan marah pada diri sendiri.
Itu bukan kemalasan. Itu adalah warisan evolusi yang tertanam dalam DNA
Anda. Anda sedang menjalankan program kuno: "Jika gelap,
matikan sistem. Hidupkan kembali saat ada cahaya."
Kita
semua hanyalah robot biologis canggih yang di-reboot setiap malam,
karena Bos Matahari mematikan generatornya. Titik.
Sekarang,
jika Anda mengizinkan, saya akan mematikan sistem saya sesuai jadwal. Lampu
sudah padam, dan predator modern bernama "deadline besok pagi" sedang
menunggu.
Selamat
tidur, atau selamat memberontak melawan genetika dengan menonton video kucing
lucu sampai larut. Pilihan ada di tangan (dan mata) Anda. Salam ngantuk,
Cercu.
Artikel
ini ditulis di bawah cahaya lampu LED, sebuah bentuk pemberontakan kecil
terhadap takdir gelap. Penulis kemudian tertidur di atas keyboard dan mengetik
"zzzzzzzzzzzz" sepanjang 3 paragraf, yang dengan sedih diedit oleh
dirinya yang sudah tidur cukup.

No comments:
Post a Comment