Misteri Bersin: Pemberontakan Hidung yang Tak Terkendali dan Tamu Tak Diundang dari Dalam
| Pemberontakan Hidung yang Tak Terkendali |
Halo, para penyintas debu, lada, dan serangan asap dapur yang menusuk! Selamat datang lagi di Cercu, blog yang dengan berani mengusik kenyamanan hal-hal yang kita anggap biasa, lalu mengobrak-abriknya sampai ketawa. Setelah kita sibuk urusi gawang sepak bola, buku tebal, dan baterai yang drama, saatnya kita mengarahkan mikroskop (dan teropong) ke salah satu fenomena tubuh manusia yang paling demokratis: BERSIN.
Dan
hari ini, kita kedatangan laporan dari para dokter yang baru saja menemukan hal
baru. Judulnya bikin mata berair: "Fakta Medis: Orang yang Bersin
Biasanya karena Ada yang Menggelitik Hidungnya dari Dalam."
Ah,
iya?
Reaksi
pertama kita mungkin: "Terima kasih, Kapten Jelas Sekali! Kirain
bersin itu karena dapat firasat dari alam gaib!" Tapi tunggu
dulu. Jangan buru-buru menganggap ini sebagai penemuan paling jelas sejak oksigen.
Di balik pernyataan yang terdengar seperti keterangan anak TK ini, ada dunia
mikroskopis yang penuh konspirasi, drama pribadi, dan upaya heroik tubuh kita
untuk mempertahankan kedaulatannya.
Mari
kita selami lubang hidung ini lebih dalam. Haaa... haaa... HATCHOOOM! Maaf.
Bab 1: Panggung Utama: Rongga Hidung dan Sang Provokator
Bayangkan hidung Anda sebagai sebuah istana kecil yang lembap dan berbulu.
Suasana biasanya tenang. Penjaga-penjaga (silia, bulu hidung halus) santai
berjaga.
Tiba-tiba, terjadi pelanggaran kedaulatan! Sebuah partikel asing memasuki
wilayah!
Bisa jadi:
Pasukan
Debu: Dari tumpukan buku, karpet,
atau jiwa mantan yang belum benar-benar disapu.
Divisi
Serbuk Sari: Musiman, romantis, tapi
mematikan bagi para penyandang alergi.
Spesialis
Lada dan Merica: Pasukan khusus yang bekerja
sama dengan udara untuk melakukan serangan psikologis terlebih dahulu
("Awas, saya akan masuk!").
Agen
Iritan Kimia: Parfum yang terlalu kuat,
aroma pembersih lantai, atau asap rokok tetangga.
Mereka
semua punya satu misi: menggelitik. Tapi bukan gelitikan lucu yang
bikin ketawa. Ini gelitikan jahat, keji, yang langsung menekan tombol panik di
sistem saraf istana hidung.
Bab 2: Prosedur Darurat: Kode Merah "ACHOO!"
Setelah "rasa geli" itu terdeteksi, istana hidung langsung jadi pusat
komando perang. Alarm berbunyi! "KODE MERAH! KODE MERAH! ADA
PENYUSUP DI SECTOR 7!"
Sinyal darurat ini dikirimkan dengan cepat ke "Kantor Pusat
Otak", tepatnya ke Medulla Oblongata (yang namanya
keren banget buat sekedar jadi operator telepon darurat bersin).
Otak tidak main-main. Dia tidak akan berunding. Tidak ada diplomasi. Langsung
keluarkan perintah terpadu:
Kepada
Paru-Paru: "AMBIL NAPAS DALAM-DALAM,
SEKARANG! SERAP SEMUA UDARA YANG BISA!"
Kepada
Otot Dada, Perut, dan Tenggorokan: "BERSIAP
UNTUK KONTRAKSI EKSPLOSIF! PASANG TENAGA!"
Kepada
Kerongkongan dan Langit-Langit Lunak: "BLOKIR
JALAN KE MULUT! ARAHKAN SEMUA KE JALUR HIDUNG! INI MISI PENYEMPROTAN!"
Kepada
Kelopak Mata: "TUTUP! TUTUP! JANGAN
SAMPAI ADA PELURU BALIK KE MATA!"
Dan
dalam hitungan milidetik... BRAAAKKSSHHH! Sebuah ledakan
terkontrol terjadi. Udara, lendir, dan si penjajah yang menggelitik itu
ditembakkan keluar dengan kecepatan hingga 100 mil per jam. Misi selesai.
Istana hidung kembali tenang... untuk sementara.
Bab 3: Jenis-Jenis "Penggelitik" dan Reaksi yang Ditimbulkan
Tidak semua gelitikan sama. Seorang ahli hidung-imajiner Cercu
mengklasifikasikannya:
Gelitik
"Sneaky Sneak": Dari
debu halus. Rasanya seperti ada yang mengusap-usap bagian dalam hidung dengan
bulu burung unta. Bersinnya biasanya satu, tajam, dan melegakan.
"Hatchim!"
Gelitik
"Bom Waktu" (Serbuk Sari/Alergen): Ini
adalah serangan gerilya. Rasanya geli, tapi juga gatal, panas, dan bikin hidung
langsung jadi keran. Responnya adalah Bersin Beruntun.
"Hatchii!.. Hatchoo!.. Ha-aaa-tchooo!.." Seperti senapan mesin. Tubuh
berusaha mengusir musuh yang terasa tak kasat mata namun sangat mengganggu.
Gelitik
"Serangan Gas" (Lada/Asap): Yang
ini langsung ke titik. Tidak main geli-geli. Langsung PANIK DAN TERBAKAR!.
Bersinnya sering kali jadi satu, keras, dan disertai mata berair yang deras.
Tubuh seperti berteriak, "BAHAYA KIMIAWI! KELUARKAN
SEGALANYA!"
Gelitik
"Phantom Itch": Ini
yang paling misterius. Tidak ada debu, tidak ada lada, tidak ada apa-apa. Tapi
tiba-tiba hidung terasa geli tak tertahankan. Anda memandang ke langit-langit,
mulut terbuka, dan... tidak terjadi apa-apa. Lalu, gelinya hilang. Ini
dipercaya sebagai "glitch" dalam sistem, atau latihan
pemanasan darurat tanpa sebab.
Bab 4: Etika dan Drama Sosial Seputar Ledakan Hidung
Bersin bukan hanya soal biologi. Ini adalah ujian karakter dan
kesopanan.
Bersin
"Silenced Mode": Saat
di perpustakaan, rapat penting, atau di lift. Anda berusaha menahan dengan
memencet hidung dan menutup mulut rapat-rapat. Hasilnya adalah suara
seperti "Mmfph!" yang teredam, tapi tekanan yang
ditahan bisa membuat kepala pusing dan mata melotot. Risiko: bisa merobek
pembuluh darah kecil. Pilihan yang berani (dan agak bodoh).
Bersin
"Dramatic Opera": Beberapa
orang bersin dengan gaya yang memerlukan panggung. Diawali dengan tarikan napas
yang panjang dan bergetar, diikuti dengan ledakan yang bergema, dan diakhiri
dengan erangan panjang. "Haaaaa-AAAAAA-SYAAAAAAAAAAAAAAAACHUUUUUUU.... Ah,
lega." Seluruh ruangan tahu dia baru saja membersihkan rongga hidungnya.
Kata-Kata
Ajaib "SYUKUR": Di
Indonesia, setelah bersin biasanya ada yang bilang "Syukur" atau
"Alhamdulillah". Ini adalah sistem peringatan dini tradisional. Jika
tidak ada yang mengucapkannya, dipercaya ada malaikat yang jatuh dari langit.
Atau, lebih masuk akal, orang-orang di sekitar Anda sedang sibuk dengan ponsel
mereka.
Mitos
"Mata Terbuka": "Awas,
kalau bersin mata jangan dibuka, nanti melotot!" Ini adalah mitos urban
yang membuat setiap kali bersin, kita berusaha memejamkan mata lebih kuat
daripada berdoa.
Bab 5: Kesimpulan Medis vs. Kesimpulan Cercu
Jadi, para dokter bilang: bersin karena ada yang menggelitik hidung dari dalam.
Kesimpulan Cercu sedikit memperluas:
Bersin
adalah bukti bahwa tubuh kita lebih cerdas dari kita. Dia punya sistem pertahanan otomatis yang
powerful, tanpa perlu kita perintah. Kita cuma jadi penumpang yang ikut
terlempar saat rudal ditembakkan.
"Menggelitik
dari dalam" itu adalah metafora kehidupan yang bagus. Seringkali, hal-hal kecil yang mengusik
(deadline, komentar orang, tagihan) menumpuk jadi "gelitikan" stres.
Dan kita butuh sebuah "bersin" katarsis—teriakan, tangisan, atau
maraton Netflix—untuk mengeluarkannya semua sekaligus. Lega, kan?
Kita
semua sama di depan bersin. Presiden,
artis, tukang bakso, kucing anggora—semua akan mengangkat kepala dan membuat
wajah aneh saat sensasi geli itu menyerang. Ini adalah pemersatu umat manusia
yang paling jujur.
Jadi,
lain kali Anda merasa geli di hidung dan wajah mulai memicing, sadarilah bahwa
Anda adalah tuan rumah bagi sebuah pertunjukan khusus. Tubuh Anda
adalah panggung. Saraf sensorik adalah sutradara. Otak adalah produser
eksekutif. Dan partikel debu itu adalah bintang tamu yang tidak diundang, yang
akan segera diterbangkan keluar dengan sangat tidak sopan.
Nikmatilah
prosesnya. Tarik napas. Tumpahkan kekuatanmu. Dan... HaaatchOOOM!
Lalu, ucapkan "Syukur" untuk diri sendiri, karena Anda baru saja
menyaksikan keajaiban biologis yang lucu, aneh, dan sangat efektif.
Salam
sehat (dan semoga bebas gelitik),
Cercu.
Artikel
ini ditulis sambil menahan bersin karena debu dari buku tua. Penulis
bertanggung jawab atas semua cipratan imajinasi, tetapi tidak bertanggung jawab
jika Anda membaca artikel ini di dekan lada dan mengalami serangan bersin
beruntun.

No comments:
Post a Comment