Thursday, February 5, 2026

SALAH KIRIM! SURAT BUAT MANTAN MALAH NYAMPE KE GURU OLAHRAGA

 SALAH KIRIM! SURAT BUAT  MANTAN MALAH NYAMPE KE  GURU OLAHRAGA


Ketika Curhat Patah Hati Justru Dianggap Laporan  Pelanggaran Sekolah

Ada kalanya hidup mengajarkan kita bahwa menjadi  manusia itu penuh kejutan. Kadang kejutan yang manis,  kadang kejutan yang pahit, dan kadang… kejutan yang  bikin kita ingin pindah sekolah, pindah kota, bahkan  pindah planet.

Hari itu, aku cuma ingin melakukan satu hal sederhana:  mengirim surat curahan hati untuk mantan. Sesuatu  yang klasik, mellow, dan jujur. Tapi siapa sangka, dunia  punya rencana berbeda. Rencana yang melibatkan rasa  malu tak terhingga, guru olahraga yang judes, dan surat  galau yang salah alamat.


Awal Mula Kegoblokan: Surat yang Terlalu  Serius


Ceritanya begini. Sudah seminggu aku putus dari  pacarku—sebut saja namanya “Mantan Tercinta yang  Meninggalkan Luka Mendalam dan Hutang Emosional”.  Aku tidak mau keliatan lebay, tapi faktanya, aku benar benar down.

Makan nggak enak. Tidur nggak nyenyak. Nilai  matematika turun (walau sebelumnya juga sudah  nyungsep). Pokoknya hidup terasa seperti sinetron Jam 7  pagi: dramatis tapi tidak penting.

Akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat. Biar  lega, biar tuntas, biar mantan tahu bahwa aku adalah  manusia berperasaan, bukan batu bata yang dingin tak  bernyawa.

Suratnya kupenuhi metafora cinta yang gak kalah cringe:

“Tanpamu hidupku hampa, seperti pisang goreng  tanpa pisang.”

“Hatiku patah, seperti kapur papan tulis yang  ditimpa penggaris besi.”

“Aku masih berharap, meski harapan itu tipis  seperti seragam olahraga yang sudah dikecilkan  ibu.”

Pokoknya surat itu bagus… kalau dikirim ke buku harian.  Bukan ke orang asli.


Kesalahan Fatal: Nama Penerima Tidak  Diganti

Masalah muncul saat aku mau memasukkan surat itu ke  amplop. Dengan percaya diri ala Romeo KW, aku menulis  nama penerima dengan gaya kaligrafi seadanya:

“Untuk: Pak Bayu”

YES. PAK. BAYU.

Alias Guru Olahraga.

Alias orang yang paling tidak tepat untuk membaca isi  surat mellow.

Gimana bisa aku menulis nama itu?

Jadi ceritanya, beberapa hari sebelumnya aku harus  ngumpulin surat izin sakit untuk pelajaran olahraga.  Biasanya aku tulis “Untuk: Pak Bayu”. Dan bodohnya,  aku memakai amplop sisa dari situ.

Karena jam tidurku berantakan, mata panda sudah level  profesional, aku menulis nama itu tanpa sadar. Auto pilot  mode: ON.

Begitu sadar?

Sudah terlambat. Terlalu terlambat.

Aku udah memasukkan, menyegel, dan—lebih parah— menitipkan amplop itu ke temanku untuk diantar ke “si  Mantan”.

Perjalanan Surat Terbodoh di Dunia 

Temanku, sebut saja “Rangga Pengantar Kejadian”, tentu  bingung:

“Loh, kok buat Pak Bayu? Mantanmu udah ganti  nama?”

Tapi bukannya bertanya lebih lanjut, dia cuma nyengir  dan langsung pergi.

Kenapa?

Karena dia nggak mau telat masuk kelas olahraga. Dan  karena dia anak yang taat, begitu lihat nama Pak Bayu,  dia refleks menyerahkan amplop itu ke guru olahraga  kami.

Aku tidak tahu ini terjadi sampai jam pelajaran keempat,  ketika tiba-tiba aku dipanggil.

Panggilan Menghancurkan Reputasi: “Yang  Nulis Surat Ini Siapa?”

Aku sedang duduk manis di kelas, berusaha move on  dengan makan ciki rasa pedas, ketika pengeras suara  sekolah berbunyi:

“Kepada siswa bernama… kamu tahu siapa kamu, harap  ke ruang guru olahraga.”

Langsung dada ini deg-degan. Pikiran liar mulai muncul:

Apa aku ditegur karena gak ikut lari 10 putaran  minggu lalu?

Apa aku salah masuk WC guru kemarin? Atau… JANGAN-JANGAN…

Dengan langkah gemetar seperti kambing mau  disembelih, aku pergi.

Begitu sampai, kulihat Pak Bayu berdiri dengan wajah  datar yang lebih dingin dari es batu kulkas sekolah.

Di tangannya?

Amplop sialan itu.

“Ini surat dari kamu?” tanyanya.

Aku ingin bilang “TIDAAAAK”, lalu pura-pura pingsan.  Tapi mulutku mengkhianati otak:

“…I-iya, Pak.”

Momen Puncak: Pak Guru Membacakan  Surat Galau dengan Ekspresi Datar

Pak Bayu membuka surat itu tanpa ekspresi. Seolah dia  sedang membaca jadwal piket kelas, bukan surat patah  hati berisi metafora memalukan.

Dan yang bikin hidup makin kelam?

Beliau MEMBACAKANNYA keras-keras.

“Tanpamu hidupku hampa, seperti pisang goreng tanpa  pisang…”

Nada suaranya datar.

Isi suratku? Drama.

Perpaduannya? Komedi.

Aku ingin menghilang. Menyatu dengan tanah. Atau  berubah jadi tiang gawang di lapangan.

Beberapa guru yang kebetulan lewat menghentikan  langkah. Bahkan Bu Rina dari BK sempat melongok dan  bilang:

“Wah, bagus nih. Ada bakat puisi.”

PAK BAYU LANJUT.

“Hatiku patah seperti kapur yang dipukul penggaris…” “Harapan itu tipis seperti seragam olahraga…”

Aku yakin kalau dia melanjutkan sampai akhir, aku bakal  langsung dropout sukarela.

Reaksi Sang Guru: Antara Bingung dan  Emosi

Setelah selesai membaca, Pak Bayu memandangku. “Ini… apa maksudnya?” katanya.

Aku langsung ngejelasin cepat:

“Itu… salah kirim, Pak! Harusnya buat mantan saya…  bukan buat Bapak!”

Pak Bayu menatapku lama. Sangat lama.

Seperti sedang menilai apakah aku masih layak mengikuti  ujian semester.

Akhirnya dia berkata:

“Lain kali, kalau mau mengungkapkan perasaan, jangan  lewat saya. Saya bukan pos Indonesia.”

Aku cuma bisa mengangguk.

“Dan tolong,” lanjutnya, “jangan bandingkan hatimu  dengan kapur. Kapur sudah cukup menderita di sekolah  ini.”


Akibatnya: Trending Topik Se-Sekolah 

Kalau kamu pikir masalah selesai di situ, kamu salah.

Entah siapa yang mulai, entah dari mana bocornya, tapi  keesokan harinya seluruh sekolah tahu.

Kawan-kawan lewat depan kelas sambil bilang: “Eh, itu anak pisang goreng tanpa pisang!”

Ada yang lebih jahat:

“Nanti kalau olahraga, jangan lupa izin sakit hati ke PAK  BAYU!”

Bahkan adik kelasku yang kelas 10 ikut-ikutan: “Kak, kapurnya aman, kan?”

Aku resmi menjadi legenda.

Legenda yang tak diinginkan.

Mantan? Jangan Ditanya

Ketika akhirnya aku bertemu mantan, dia cuma  tersenyum simpul dan bilang:

“Aku tau kamu sayang, tapi… kok malah Pak Bayu yang  nerima duluan?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya ingin hidup baru. Identitas baru. Mungkin pindah sekolah ke Kutub Utara.

Pelajaran Berharga dari Kejadian Memalukan Ini

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Termasuk tragedi  komedi ini.

Berikut pelajaran penting yang bisa kalian petik: 1. Jangan menulis surat saat ngantuk

Serius. Hasilnya bisa jadi bencana.

2. Periksa nama penerima amplop!

Ini bukan email yang bisa di-undo.

3. Jangan menaruh metafora aneh di surat cinta

Percayalah. Tidak ada orang yang ingin disamakan  dengan pisang goreng.

4. Guru olahraga bukan tempat curhat

Meskipun mereka tegas, mereka bukan target surat patah  hati.

5. Teman yang terlalu patuh bisa menjadi sumber  masalah

Rangga… aku ingat jasamu.

Penutup: Surat Galau, Guru Judes, dan  Aku yang Malu Selamanya

Kalau kamu pikir hidupmu memalukan, tenang. Ada  seseorang di luar sana—yaitu aku—yang pernah  mengirim surat cinta untuk mantan tapi nyangkut ke  tangan guru olahraga judes.

Aku masih trauma setiap melihat amplop cokelat. Bahkan  mendengar kata “surat” saja membuat jantungku  berdebar.

Tapi hey… setidaknya sekarang aku bisa menuliskannya  untuk blog CERCU. Kalau hidup memberimu rasa malu,  jadikanlah konten.



SURAT CINTA PERTAMAKU BERAKHIR JADI BAHAN LATIHAN MEMBACA ADIKNYA SI DOI

 

SURAT CINTA PERTAMAKU  BERAKHIR JADI BAHAN LATIHAN  MEMBACA ADIKNYA SI DOI 



Sedihnya, suratku malah dipakai buat latihan membaca anak  SD.

Ada banyak tragedi dalam sejarah umat manusia: Atlantis tenggelam, dinosaurus punah, dan saya…

Saya melihat surat cinta pertama saya dibacakan dengan  lantang oleh adik kelas 3 SD.

Iya.

Surat cinta pertama saya.

Yang saya tulis sambil gemeter, sambil deg-degan, sambil  ngelus dada setiap lima menit.

Yang harusnya berakhir romantis, penuh haru, penuh  bunga, penuh cinta.

Tapi takdir berkata lain.

Tuhan punya selera humor yang unik.

Dan keluarga si doi… jauh lebih unik lagi.

Berikut kisah lengkapnya.

Silakan ambil snack karena ini panjang, penuh rasa malu,  dan Anda berhak menertawakan penderitaan saya.


Bab 1: Keputusan Fatal untuk Menulis  Surat Cinta Pertama

Sejak awal, perasaan saya pada si doi sudah tak main main.

Setiap dia lewat, hati saya seperti HP baterai 5% yang  tiba-tiba dicas jadi 100%.

Setiap dia senyum, jiwa saya seperti kena sinar matahari  ultra romantis.

Dan setiap dia ngobrol, saya ngerasa seperti nonton  sinetron jam prime time.

Setelah sekian lama memendam rasa, akhirnya saya  memutuskan:

Saya harus menyatakan cinta.

Namun saya tidak memilih cara modern.

Tidak pakai chat.

Tidak pakai DM Instagram.

Tidak pakai voice note yang isinya “heh…” lalu hapus,  lalu kirim lagi, lalu hapus lagi.

Saya memilih cara klasik: SURAT CINTA.

Surat cinta itu saya tulis sepenuh perasaan.

Kalimatnya penuh metafora dan perbandingan yang saya  sendiri sekarang merasa malu Bacanya.

Contohnya:

“Saat kamu tersenyum, dunia seperti berhenti sejenak  untuk mendengarkan degup jantungku.”

“Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu, tapi  rasanya seperti sudah sejak bumi ini belum punya Wi-Fi.”

“Bolehkah aku jadi alasan kamu bahagia, walau cuma  sedikit?”

Saya menulisnya sepanjang dua halaman.

Saya kasih parfum.

Saya lipat rapi.

Saya masukkan amplop warna pink.

Saya bangga banget.

Seakan-akan saya baru menulis naskah drama Korea yang  bakal jadi hit global.

Dan saya pun menyelinapkan surat cinta itu ke dalam  buku tugas si doi saat dia tidak memperhatikan.

Ah… betapa indahnya rencana itu.

Betapa mulusnya eksekusi.

Betapa malunya yang akan terjadi kemudian.


Bab 2: Keesokan Harinya, Alarm 
Malapetaka Berbunyi


Esoknya, saya sengaja lewat depan rumah doi. Niatnya mau lihat apakah dia sudah baca surat itu. Mungkin dia akan keluar rumah sambil senyum malu malu.

Atau minimal, kirim WA “Makasih ya.”

Tapi saya tidak mendapat pesan apa pun.

Justru… saya mendapat sesuatu yang lain.

Dari dalam rumahnya terdengar suara:

“KAK, AKU LATIHAN MEMBACA YA!”

Saya berhenti di tengah jalan.

Lalu terdengar suara kertas dibuka.

Lalu terdengar…

… sesuatu yang membuat saya ingin memanjat pagar  terus kabur ke negara lain.

“Ha… looo… Kak… A… ku… su… kaaa… ka…mu…” Lalu ada tawa renyah seorang anak kecil.

Saya langsung beku.

Seperti patung.

Patung malu.

Itu… itu kan kalimat pembuka surat saya!?

Saya mendekat sedikit.

Dan benar saja:

Di ruang tamu, ADIK DOI — anak SD kelas 3 — sedang  membaca surat cinta saya seolah itu bahan pelajaran  sekolah!

Dengan penuh semangat, intonasi jelas, dan gaya seperti  presentasi lomba membaca cepat.

Bab 3: Ditingkahi Komentar Menusuk dari  Anak SD


Saya sembunyi di balik pagar rumah tetangga. Menguping seperti intel gagal.

Adiknya melanjutkan membaca:

“Ka… lau… ka… mu… bi… lan… g bu… mi… i… niii…  ta… npa… ka… muu… se… pi…”

Lalu dia tiba-tiba berhenti dan komentar:

“Ih kak, kok orang ini gombalnya banyak banget ya?” SAYA HENING.

Lalu terdengar suara si doi:

“Ya ampuuun! Dari siapa sih itu?!”

Adiknya jawab polos:

“Tadi aku nemu di dalam buku Kakak. Isinya lucu banget!  Kakak mau aku baca lagi?”

Saya sudah ingin rebahan di jalan raya.

Biarlah sepeda motor lewat dan meratakan harga diri  saya.

Tapi semuanya belum selesai.

Adiknya lanjut membaca:

“Ka… lau… cin… taaa… a… dalah… ku… eh… kebu…  tu… han… mo… ka… saya… a… da… lah… r e… ch… arg… ee…”

Iya.

Dia sedang membaca perumpamaan saya:

“Kalau cinta adalah kebutuhan, maka aku adalah  recharge-mu.”

Tiba-tiba adiknya nyeletuk:

“Kak, love apa sih? Kenapa orang ini sok sok puitis?”

Saya ingin menangis.

Bab 4: Keluarga Ikut Bergabung


Saya pikir acara horor itu hanya berlangsung antara si doi  dan adiknya.

SAYA SALAH.

Tiba-tiba ibunya datang:

“Loh, itu baca apa? PR Bahasa Indonesia?”

Adiknya jawab santai:

“Nggak Bu. Ini surat cinta Kakak!”

Lalu ibunya teriak:

“HAH? SURAT CINTAAA?! SANA SINI TUNJUKIN,  IBU MAU BACA!”

Saya menatap langit.

Antara ingin minta meteorit jatuh atau minta dimasukkan  ke dalam tanah.

Ibunya merebut surat itu.

Lalu membaca dengan ekspresi bingung terhibur.

“Wah, full majas anak ini. Cocok masuk lomba menulis  surat cinta nasional!”

Ayahnya yang kebetulan lewat pun bertanya: “Ada apa?”

Ibunya:

“Ini loh, anak SD latihan membaca pakai surat cinta  seseorang!”

Ayahnya hanya mengangguk dalam-dalam, sambil  bilang:

“Teknik pembelajaran yang kreatif.”

TERIMA KASIH PAK.

TERIMA KASIH BANYAK ATAS TRAUMANYA.

Bab 5: Si Doi Akhirnya Tahu Siapa  Penulisnya


Setelah semua keluarga membaca, tertawa, dan  memberikan komentar yang tidak saya minta, akhirnya si  doi berkata lirih:

“Aku kayaknya tahu siapa yang nulis ini…” JANTUNG SAYA LANGSUNG BERHENTI SEDETIK. “Tulisannya mirip tulisan… dia…”

Saya: mati pelan-pelan.

Adiknya:

“Kak, kalo dia naksir, Kakak mau nggak?”

Doi:

“Diam deh kamu. Ih…”

Tapi dia senyum.

Senyum malu-malu.

Saya melihat itu dari jauh, dari balik pagar, sambil  menyesali seluruh keputusan hidup saya sejak SD.


Bab 6: Pertemuan Tak Sengaja yang Makin  Memalukan


Seminggu kemudian, saya tidak sengaja berpapasan  dengan adiknya di warung.

Dia langsung teriak:

“KAKK! Makasih yaaa! Suratnya aku pakai buat latihan  membaca!”

Pemilik warung menatap saya.

Orang lain menatap.

Kucing di depan warung pun menatap.

Saya hanya bisa senyum kaku sambil berkata: “Sama-sama…”

Adiknya nambahin:

“Besok-besok bikin lagi ya Kak. Seru! Banyak kata-kata  susahnya!”

Terima kasih, nak.

Engkau telah menghancurkan masa remajaku secara  elegan.

Bab 7: Ternyata Tidak Semua Tragis 

Sebagai manusia yang berusaha tegar, saya 

memberanikan diri chat doi.

Percakapan:

Saya:

“Maaf ya tentang surat itu…”

Dia:

“Hahaha nggak apa-apa kok. Lucu malah.”

Saya:

“Lucu?”

Dia:

“Iya. Kamu berani… itu manis.”

Saya tiba-tiba hidup lagi.

Dia lanjut:

“Maaf kalau adikku kebangetan. Dia baca semuanya  keras-keras, padahal itu terlalu private.”

Saya balas:

“Nggak apa… aku sudah pasrah sejak paragraf pertama.” Dia tertawa.

Percakapan kami jadi makin hangat.

Dan sejak kejadian itu… kami jadi sedikit lebih dekat. Lucunya, dia bilang:

“Aku masih simpan suratnya kok. Tapi adikku juga minta  fotokopinya buat latihan membaca…”

SAYA MENINGGAL. LAGI.


Bab 8: Surat Cinta Jadi Modul Belajar 


Entah bagaimana ceritanya, adiknya doi membuat surat  saya seperti bahan pelajaran wajib.

Katanya gurunya pernah melihat dia latihan membaca  dan berkata:

“Bagus! Itu teks apa?”

Lalu adiknya jawab:

“Surat cinta, Bu!”

Gurunya bengong.

Satu kelas ngakak.

Dan gara-gara itu, surat saya dijadikan bahan reading  comprehension pribadi.

Busyett…

Dari romantis jadi materi pembelajaran anak SD.

Saya bahkan kepikiran:

Jangan-jangan nanti surat saya masuk buku paket Bahasa  Indonesia edisi revisi.

Bab 9: Pelajaran Berharga (Yang Menyayat  Tapi Lucu)


Dari kejadian penuh malu ini, saya mendapat beberapa  pelajaran:

1. Jangan pernah titip surat cinta di buku tanpa izin

Risiko:

Dibaca keluarga → dibaca adik SD → jadi bahan belajar →  jadi bahan tertawaan satu RT.

2. Anak SD tidak tahu rahasia. Apa yang mereka  temukan, akan mereka publikasikan ke dunia.

3. Surat cinta tidak cocok dijadikan bahan pembelajaran  membaca. Tapi ternyata efektif.

4. Cinta itu buta… dan ternyata buta huruf juga bisa  terlibat.

5. Kalau kamu mau romantis, siap-siap malu. Kalau  kamu tidak mau malu, jangan coba-coba romantis.

Bab 10: Ending yang Agak Manis 

Meski surat saya jadi “buku bacaan” versi anak SD, ada  kabar baik:

Si doi bilang:

“Surat itu… sebenarnya manis. Walau cara nyampenya  salah banget.”

Dan sejak saat itu, hubungan kami jadi lebih dekat. Tidak langsung jadian sih.

Tapi minimal, tidak ada lagi insiden membaca keras-keras  di ruang tamu.

Dan ya…

Saya masih trauma menulis surat cinta.

Kalau mau mengungkapkan perasaan, sekarang pakai  chat.

Lebih aman.

Lebih cepat.

Dan kecil kemungkinan dibaca anak SD di depan umum.

Kesimpulan:

Ketika niat romantis dipertemukan dengan keluarga  yang terlalu terbuka dan adik SD yang rajin belajar… …jadilah komedi cinta paling mengenaskan tapi lucu  se-universe.