SURAT CINTA PERTAMAKU BERAKHIR JADI BAHAN LATIHAN MEMBACA ADIKNYA SI DOI
Sedihnya, suratku malah dipakai buat latihan membaca anak SD.
Ada banyak tragedi dalam
sejarah umat manusia: Atlantis tenggelam, dinosaurus punah, dan saya…
Saya melihat surat cinta pertama saya dibacakan dengan lantang oleh adik kelas 3 SD.
Iya.
Surat cinta pertama saya.
Yang saya tulis sambil
gemeter, sambil deg-degan, sambil ngelus
dada setiap lima menit.
Yang harusnya berakhir
romantis, penuh haru, penuh bunga, penuh
cinta.
Tapi takdir berkata lain.
Tuhan punya selera humor yang unik.
Dan keluarga si doi… jauh lebih unik lagi.
Berikut kisah lengkapnya.
Silakan ambil snack karena ini
panjang, penuh rasa malu, dan Anda
berhak menertawakan penderitaan saya.
Bab 1: Keputusan Fatal untuk Menulis Surat Cinta Pertama
Sejak awal, perasaan saya pada
si doi sudah tak main main.
Setiap dia lewat, hati saya
seperti HP baterai 5% yang tiba-tiba
dicas jadi 100%.
Setiap dia senyum, jiwa saya
seperti kena sinar matahari ultra
romantis.
Dan setiap dia ngobrol, saya
ngerasa seperti nonton sinetron jam
prime time.
Setelah sekian lama memendam
rasa, akhirnya saya memutuskan:
Saya harus menyatakan cinta.
Namun saya tidak memilih cara modern.
Tidak pakai chat.
Tidak pakai DM Instagram.
Tidak pakai voice note yang
isinya “heh…” lalu hapus, lalu kirim
lagi, lalu hapus lagi.
Saya memilih cara klasik: SURAT CINTA.
Surat cinta itu saya tulis sepenuh perasaan.
Kalimatnya penuh metafora dan
perbandingan yang saya sendiri sekarang
merasa malu Bacanya.
Contohnya:
“Saat kamu tersenyum, dunia
seperti berhenti sejenak untuk
mendengarkan degup jantungku.”
“Aku tidak tahu sejak kapan
aku menyukaimu, tapi rasanya seperti
sudah sejak bumi ini belum punya Wi-Fi.”
“Bolehkah aku jadi alasan kamu
bahagia, walau cuma sedikit?”
Saya menulisnya sepanjang dua halaman.
Saya kasih parfum.
Saya lipat rapi.
Saya masukkan amplop warna pink.
Saya bangga banget.
Seakan-akan saya baru menulis
naskah drama Korea yang bakal jadi hit
global.
Dan saya pun menyelinapkan
surat cinta itu ke dalam buku tugas si
doi saat dia tidak memperhatikan.
Ah… betapa indahnya rencana itu.
Betapa mulusnya eksekusi.
Betapa malunya yang akan terjadi kemudian.
Bab 2: Keesokan Harinya, Alarm
Malapetaka Berbunyi
Esoknya, saya sengaja lewat
depan rumah doi. Niatnya mau lihat apakah dia sudah baca surat itu. Mungkin dia
akan keluar rumah sambil senyum malu malu.
Atau minimal, kirim WA “Makasih ya.”
Tapi saya tidak mendapat pesan apa pun.
Justru… saya mendapat sesuatu yang lain.
Dari dalam rumahnya terdengar suara:
“KAK, AKU LATIHAN MEMBACA YA!”
Saya berhenti di tengah jalan.
Lalu terdengar suara kertas dibuka.
Lalu terdengar…
… sesuatu yang membuat saya
ingin memanjat pagar terus kabur ke
negara lain.
“Ha… looo… Kak… A… ku… su…
kaaa… ka…mu…” Lalu ada tawa renyah seorang anak kecil.
Saya langsung beku.
Seperti patung.
Patung malu.
Itu… itu kan kalimat pembuka surat saya!?
Saya mendekat sedikit.
Dan benar saja:
Di ruang tamu, ADIK DOI —
anak SD kelas 3 — sedang membaca surat
cinta saya seolah itu bahan pelajaran
sekolah!
Dengan penuh semangat,
intonasi jelas, dan gaya seperti
presentasi lomba membaca cepat.
Bab 3: Ditingkahi Komentar Menusuk dari Anak SD
Saya sembunyi di balik pagar
rumah tetangga. Menguping seperti intel gagal.
Adiknya melanjutkan membaca:
“Ka… lau… ka… mu… bi… lan… g
bu… mi… i… niii… ta… npa… ka… muu… se…
pi…”
Lalu dia tiba-tiba berhenti dan komentar:
“Ih kak, kok orang ini
gombalnya banyak banget ya?” SAYA HENING.
Lalu terdengar suara si doi:
“Ya ampuuun! Dari siapa sih itu?!”
Adiknya jawab polos:
“Tadi aku nemu di dalam buku
Kakak. Isinya lucu banget! Kakak mau aku
baca lagi?”
Saya sudah ingin rebahan di jalan raya.
Biarlah sepeda motor lewat dan
meratakan harga diri saya.
Tapi semuanya belum selesai.
Adiknya lanjut membaca:
“Ka… lau… cin… taaa… a… dalah…
ku… eh… kebu… tu… han… mo… ka… saya… a…
da… lah… r e… ch… arg… ee…”
Iya.
Dia sedang membaca perumpamaan saya:
“Kalau cinta adalah kebutuhan,
maka aku adalah recharge-mu.”
Tiba-tiba adiknya nyeletuk:
“Kak, love apa sih? Kenapa orang ini sok sok puitis?”
Saya ingin menangis.
Bab 4: Keluarga Ikut Bergabung
Saya pikir acara horor itu
hanya berlangsung antara si doi dan
adiknya.
SAYA SALAH.
Tiba-tiba ibunya datang:
“Loh, itu baca apa? PR Bahasa Indonesia?”
Adiknya jawab santai:
“Nggak Bu. Ini surat cinta Kakak!”
Lalu ibunya teriak:
“HAH? SURAT CINTAAA?! SANA
SINI TUNJUKIN, IBU MAU BACA!”
Saya menatap langit.
Antara ingin minta meteorit
jatuh atau minta dimasukkan ke dalam
tanah.
Ibunya merebut surat itu.
Lalu membaca dengan ekspresi bingung terhibur.
“Wah, full majas anak ini.
Cocok masuk lomba menulis surat cinta
nasional!”
Ayahnya yang kebetulan lewat
pun bertanya: “Ada apa?”
Ibunya:
“Ini loh, anak SD latihan
membaca pakai surat cinta seseorang!”
Ayahnya hanya mengangguk
dalam-dalam, sambil bilang:
“Teknik pembelajaran yang kreatif.”
TERIMA KASIH PAK.
TERIMA KASIH BANYAK ATAS TRAUMANYA.
Bab 5: Si Doi Akhirnya Tahu Siapa Penulisnya
Setelah semua keluarga
membaca, tertawa, dan memberikan
komentar yang tidak saya minta, akhirnya si
doi berkata lirih:
“Aku kayaknya tahu siapa yang
nulis ini…” JANTUNG SAYA LANGSUNG BERHENTI SEDETIK. “Tulisannya mirip tulisan… dia…”
Saya: mati pelan-pelan.
Adiknya:
“Kak, kalo dia naksir, Kakak mau nggak?”
Doi:
“Diam deh kamu. Ih…”
Tapi dia senyum.
Senyum malu-malu.
Saya melihat itu dari jauh,
dari balik pagar, sambil menyesali
seluruh keputusan hidup saya sejak SD.
Bab 6: Pertemuan Tak Sengaja yang Makin Memalukan
Seminggu kemudian, saya tidak
sengaja berpapasan dengan adiknya di
warung.
Dia langsung teriak:
“KAKK! Makasih yaaa! Suratnya
aku pakai buat latihan membaca!”
Pemilik warung menatap saya.
Orang lain menatap.
Kucing di depan warung pun menatap.
Saya hanya bisa senyum kaku
sambil berkata: “Sama-sama…”
Adiknya nambahin:
“Besok-besok bikin lagi ya
Kak. Seru! Banyak kata-kata susahnya!”
Terima kasih, nak.
Engkau telah menghancurkan
masa remajaku secara elegan.
Bab 7: Ternyata Tidak Semua Tragis
Sebagai manusia yang berusaha tegar, saya
memberanikan diri chat doi.
Percakapan:
Saya:
“Maaf ya tentang surat itu…”
Dia:
“Hahaha nggak apa-apa kok. Lucu malah.”
Saya:
“Lucu?”
Dia:
“Iya. Kamu berani… itu manis.”
Saya tiba-tiba hidup lagi.
Dia lanjut:
“Maaf kalau adikku kebangetan.
Dia baca semuanya keras-keras, padahal
itu terlalu private.”
Saya balas:
“Nggak apa… aku sudah pasrah
sejak paragraf pertama.” Dia tertawa.
Percakapan kami jadi makin hangat.
Dan sejak kejadian itu… kami
jadi sedikit lebih dekat. Lucunya, dia bilang:
“Aku masih simpan suratnya
kok. Tapi adikku juga minta fotokopinya
buat latihan membaca…”
SAYA MENINGGAL. LAGI.
Bab 8: Surat Cinta Jadi Modul Belajar
Entah bagaimana ceritanya, adiknya doi membuat
surat saya seperti bahan pelajaran
wajib.
Katanya gurunya pernah melihat
dia latihan membaca dan berkata:
“Bagus! Itu teks apa?”
Lalu adiknya jawab:
“Surat cinta, Bu!”
Gurunya bengong.
Satu kelas ngakak.
Dan gara-gara itu, surat saya
dijadikan bahan reading comprehension
pribadi.
Busyett…
Dari romantis jadi materi pembelajaran anak SD.
Saya bahkan kepikiran:
Jangan-jangan nanti surat saya
masuk buku paket Bahasa Indonesia edisi
revisi.
Bab 9: Pelajaran Berharga (Yang Menyayat Tapi Lucu)
Dari kejadian penuh malu ini,
saya mendapat beberapa pelajaran:
1. Jangan pernah titip surat cinta di buku tanpa izin
Risiko:
Dibaca keluarga → dibaca adik
SD → jadi bahan belajar → jadi bahan
tertawaan satu RT.
2. Anak SD tidak tahu rahasia.
Apa yang mereka temukan, akan mereka
publikasikan ke dunia.
3. Surat cinta tidak cocok
dijadikan bahan pembelajaran membaca.
Tapi ternyata efektif.
4. Cinta itu buta… dan ternyata buta huruf juga bisa terlibat.
5. Kalau kamu mau romantis,
siap-siap malu. Kalau kamu tidak mau
malu, jangan coba-coba romantis.
Bab 10: Ending yang Agak Manis
Meski surat saya jadi “buku bacaan” versi anak SD, ada kabar baik:
Si doi bilang:
“Surat itu… sebenarnya manis.
Walau cara nyampenya salah banget.”
Dan sejak saat itu, hubungan
kami jadi lebih dekat. Tidak langsung jadian sih.
Tapi minimal, tidak ada lagi
insiden membaca keras-keras di ruang tamu.
Dan ya…
Saya masih trauma menulis surat cinta.
Kalau mau mengungkapkan
perasaan, sekarang pakai chat.
Lebih aman.
Lebih cepat.
Dan kecil kemungkinan dibaca anak SD di depan umum.
Kesimpulan:
Ketika niat romantis dipertemukan dengan keluarga yang terlalu terbuka dan adik SD yang rajin
belajar… …jadilah komedi cinta paling mengenaskan tapi lucu se-universe.
Comments
Post a Comment