Skip to main content

Aku dan Gebetan Saling Kirim Surat… Tapi Lewat Adik Kelas yang Jadi Kurir

Halo, para penghuni semesta yang percaya pada kekuatan cinta zaman baheula! Mari kita buka lembaran nostalgia di mana gengsi lebih tinggi daripada kuota data, dan perasaan disampaikan lewat coretan tinta di atas kertas binder bergambar kupu-kupu. Ya, saya sedang berbicara tentang surat-menyurat.

Bukan surat elektronik yang dingin, tapi surat fisik yang bisa diendus-endus (siapa tau ada sisa wangi si pengirim) dan disimpan di dalam kotak sepatu bekas. Nah, cerita lucu ini adalah tentang usaha saya yang gagal total dalam merajut asmara dengan metode kuno tersebut, yang berujung pada sebuah plot twist yang tidak pernah saya duga.

AKU DAN GEBETAN SALING KIRIM SURAT… TAPI LEWAT ADIK KELAS YANG JADI KURIR

Semuanya bermula di kelas 11. Ada seorang dia, sebut saja Rara, yang membuat mata saya berkedip-kedip setiap kali dia lewat. Rara dari kelas paralel. Komunikasi kami sebatas senyum-senyum malu dan kadang like story Instagram. Tapi bagi saya, itu belum cukup. Saya ingin sesuatu yang lebih… dramatis.

“Bro, gue mau kirim surat ke Rara,” ucap saya suatu sore pada sahabat karib saya, Boni.

“Mending DM aja. Lebih cepet. Lo typo juga bisa langsung delete,” sahutnya sambil asyik main game.

“Ah, dasar kaum instan! DM itu biasa. Surat itu punya jiwa! Ada rasanya! Bayangin, dia baca tulisan tangan gue, dia bisa simpen di bawah bantal—”

“—Trus jadi sarang kecoa. Gue saranin jangan, deh.”

Tapi nasihat Boni lenyap ditelan angin. Saya sudah terlalu larut dalam fantasi romantis ala film. Masalahnya adalah: bagaimana cara menyuruh kurirnya? Saya tidak punya nyali untuk menyerahkan langsung. Malu, takut ditolak, dan khawatir surat saya yang penuh puisi jelek itu dibaca di depan teman-teman ceweknya sambil ketawa-ketiwi.

Di sinilah karakter antagonis—eh, maksudnya tokoh kunci—dalam cerita ini muncul: Dito.

Dito adalah adik kelas, masih kelas 10. Dia terkenal sebagai anak yang baik, polos, dan—yang paling penting—punya akses ke kelas Rara karena satu eskul basket. Wajahnya yang lugu seperti tidak akan mencurigakan sama sekali. Dia adalah kurir yang sempurna.

Pertemuan pertama saya dengannya terjadi di kantin. Saya belikan dia es teh dan sepotong risol mayo. Matanya berbinar.

“Dit, gini… Kakak butuh bantuan lo,” kata saya dengan suara berbisik bak agen rahasia.

“Iya, Kak. Apa? Mau contekkan?” tanyanya polos.

“Bukan! Lebih mulia dari itu. Kakak mau lo jadi jembatan penghubung dua hati yang terpisah oleh tembok kelas 11A dan 11C.”

Dito mengerutkan kening, es tehnya berhenti di tengah teguk. “Maksud Kakak?”

“Gini-gini…” Saya keluarkan surat yang sudah dilipat rapi, bahkan diberi aroma fabric conditioner biar wangi. “Tolong serahkan ini ke cewek yang sering lo liat di basket, namanya Rara. Diam-diam, ya. Jangan bilang siapa-siapa.”

Ekspresi Dito berubah dari bingung menjadi takut. “Ah, Kak, gimana ini… Aku malu.”

“Nih, untuk jasanya.” Saya selipkan selembar uang dua puluh ribuan ke saku celananya. “Ini baru pertama. Akan ada lagi kalau misi sukses.”

Mata Dito kembali berbinar. Uang dua puluh ribu bagi anak kelas 10 adalah harta karun. Dia menghela napas, lalu mengambil surat itu. “Baik, Kak. Tapi ini cuma sekali, ya.”

“Deal!”

Misi Pertama: Kegagalan yang Diraih Sukses

Hari itu, jantung saya berdebar-debar menunggu laporan dari Dito. Dia akhirnya menghampiri saya di lapangan sepak bola, wajahnya pucat.

“Gimana?” tanya saya penuh harap.

“Aku hampir mati, Kak,” keluhnya. “Aku masuk ke kelasnya, semua orang pada liatin. Aku langsung keringetan. Akhirnya aku cepet-cepet taruh suratnya di meja dia, lalu kabur. Aku bahkan gak bilang apa-apa.”

“Lho, terus dia tau dari siapa surat itu?”
“Aku… aku lupa kasih tau namanya.”

Saya hampir menjambak rambut sendiri. “Bego banget sih, Dit! Gimana dia mau balas?”

“Tadi… dia kejar aku di tangga, Kak,” ucap Dito, napasnya masih tersengal. “Dia tanya, ‘Dari siapa ini?’.”

“Terus?!”

“Aku bilang, ‘Dari cowok ganteng di kelas 11’. Lalu lari lagi.”

Saya terdiam. “Dari cowok ganteng di kelas 11”? Itu… actually not bad. Bahkan agak genit. Rara pasti penasaran. Dito, dengan kepolosan dan kebodohannya, ternyata secara tidak sengaja menciptakan misteri yang menarik.

Dua hari kemudian, Dito menyerahkan secarik kertas lipat dari Rara. Isinya singkat: “Untuk si ‘cowok ganteng’, makasih suratnya. Boleh dong kenalan yang bener :)”

Saya melonjak kegirangan. Ini bekerja! Strategi gila saya bekerja! Boni salah besar!

Sang Kurir Mulai Banyak Minta

Dengan keberhasilan pertama itu, Dito resmi menjadi kurir bayaran tetap. Tapi, layaknya agen yang naik daun, tarifnya mulai meroket.

“Kak, misi kali ini lebih berisiko. Aku lihat temen-temen Rara mulai perhatian ke aku. Harusnya lima puluh ribu, Kak,” katanya suatu hari dengan wajah yang tiba-tiba sangat diplomatik.

“Lima puluh?! Lo mau makan apa sampe segitu?!”
“Ini resiko, Kak. Bisa-bisa reputasiku sebagai anak baik rusak.”

Akhirnya saya setuju. Surat-menyurat kami pun berlanjut. Saya menuliskan puisi tentang hujan dan pelangi. Rara membalas tentang kucingnya yang lucu. Saya bercerita tentang cita-cita saya jadi penulis. Dia membagi kekhawatirannya tentang ujian matematika. Semua berjalan mulus, berkat jasa Dito yang semakin lihai dalam menyelundupkan surat.

Tapi, sesuatu mulai terasa aneh.

Dito, yang dulu hanya melapor dan langsung pergi, kini mulai betah duduk dan mendeskripsikan proses pengiriman surat dengan sangat detail.

“Jadi gini, Kak, tadi aku masuk, eh Rara lagi senyum-senyum sendiri. Trus dia nawarin aku permen. Aku bilang nggak, tapi dia maksa. Permennya enak, Kak, rasa stroberi.”

Atau, “Kak, Rara tanya kenapa aku selalu yang ngantar. Aku bilang, karena aku kurir terpercaya. Dia ketawa, Kak. Suaranya emang segitu meledaknya setiap hari?”

Saya mulai kesal. “Ya elah, Dit, intinya suratnya sampe kan? Gak usah cerita detail gitu.”

Dito hanya mengangguk, tapi matanya berbinar aneh setiap kali menyebut nama Rara.

Plot Twist: Si Kurir Dapat Fokus Sendiri

Puncaknya adalah saat kami—saya, Boni, Dito, dan secara tidak sengaja Rara beserta teman-temannya—nongkrong di mall setelah lomba basket.

Ini adalah pertama kalinya saya bertemu Rara secara langsung setelah berbulan-bulan surat-menyurat. Wajahnya memang cantik, dan senyumannya manis. Tapi ada yang aneh. Dia menyapa saya dengan hangat, tapi matanya lebih sering melirik ke arah… Dito.

Dan Dito, yang biasanya canggung di depan saya, tiba-tiba jadi sangat keren. Dia yang biasanya cuma bilang “iya” dan “nggak”, sekarang jadi pusat perhatian, bercerita lucu tentang guru olahraga kami yang pelit. Rara dan teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal.

Saya hanya bisa berdiri seperti patung, dengan segudang puisi di kepala yang tiba-tiba terasa sangat tidak relevan.

Dalam percakapan itu, Rara akhirnya membuka suara. “Dito, jadi selama ini kamu yang setia jadi kurir ya? Hebat juga, nggak pernah ketauan.”

Dito menyeringai. “Iya, dong. Misi rahasia harus tetep dijaga.”

Rara lalu menatap saya, dan dengan sopan bertanya, “Eh, tapi, aku penasaran. Isi surat-surat itu… emang ide Dito semua, kan? Soalnya tulisannya kadang kayak lagi ngegombal, kadang kayak lagi ngeledek. Lucu banget.”

DUNIA SAYA BERHENTI BERPUTAR.

Saya membeku. Boni di samping saya sudah memegangi perutnya yang mau meledak karena menahan tawa.

“Maksud… maksud lo?” tanya saya, suara saya serak.

“Iya, kan Dito yang cerita. Katanya dia yang sering ngasih ide buat bikin suratnya jadi lebih lucu dan nggak kaku. Itu lho, bagian di mana kamu nulis ‘matamu seperti sendok yang mengaduk kopiku’? Itu ide Dito waktu lagi ngeliat aku minum kopi di kantin! Gila, lucu banget!” Rara tertawa.

Saya memandang Dito dengan pandangan membunuh. Si anak polos, si kurir bayaran, ternyata bukan hanya penyampai pesan. Dia adalah CO-WRITER dalam hubungan saya! Dan yang lebih parah, dia menggunakan fakta-fakta tentang Rara yang dia observasi sendiri untuk membuat surat saya terlihat lebih personal dan lucu.

Dito hanya bisa cengengesan malu. “Maaf, Kak… Kan Kakak kadang tulisannya terlalu… lebay. Aku bantu sedikit biar lebih natural.”

Rara lalu melanjutkan pukulan KO-nya. “Aku kira selama ini kamu yang nulis, tapi karakternya kayak Dito banget. Cerewet, lucu, dan iseng. Aku malah jadi bingung, sebenernya ini surat dari siapa sih?”

Pada titik itu, saya sadar. Saya bukan lagi pemeran utama dalam cerita cinta saya sendiri. Saya hanya menjadi PRODUSER yang membiayai sebuah sinetron dimana sang penulis naskah (Dito) malah memenangkan hati sang pemeran utama wanita (Rara).

Epilog: Akhir yang (Mungkin) Bahagia, Tapi Bukan Untuk Saya

Percakapan mematikan di mall itu adalah akhir dari surat-menyurat epik saya. Rara dan saya tetap berteman, tapi jelas sekali bahwa ketertarikannya beralih kepada sang kurir yang lucu dan “natural” itu.

Beberapa minggu kemudian, saya melihat Dito dan Rara jalan bareng dari lapangan basket. Dito melambai pada saya dengan muka sedikit malu, tapi sangat bahagia. Rara juga menyapa dengan manis.

Apakah saya marah? Ya, tentu saja! Saya sudah mengeluarkan uang ratusan ribu hanya untuk membiayai kisah cinta orang lain!

Tapi, di sisi lain, saya belajar sebuah pelajaran berharga dengan harga yang mahal:

  1. Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang kurir. Mereka memegang kunci komunikasi, dan bisa saja membelot.
  2. Kepolosan palsu adalah senjata mematikan. Dito yang saya kira polos, ternyata adalah seorang mastermind dalam merebut hati gebetan orang.
  3. Jika kamu memaksa seorang adik kelas jadi kurir, bersiaplah untuk kehilangan gebetan, uang, dan harga diri sekaligus.

Jadi, untuk kalian yang masih berniat menggunakan jasa kurir untuk surat-menyurat, pikirkan lagi. Lebih baik kalian DM saja, atau lebih berani lagi, sampaikan langsung. Karena resiko terbesarnya bukan hanya ditolak, tapi juga dikhianati oleh kurir bayaranmu sendiri yang akhirnya malah nangkring di hati si doi.

Akhir kata, selamat tinggal Rara. Dan untuk Dito, tagihan untuk jasa konsultasi penulisan surat dan kencan pertama akan segera saya kirim. Tunggu saja!


Comments

Popular posts from this blog

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...