Misteri Senin Pagi: Mengapa Makhluk Ini Bahagia Saat Dunia Sedang Menangis?
Selamat datang kembali di CERCU! Bagi mayoritas umat manusia yang bekerja
kantoran, hari Senin adalah sebuah musibah mingguan yang legal. Senin adalah
hari di mana kasur terasa memeluk kita lebih erat, alarm terasa seperti sirine
perang, dan kopi hitam pekat pun gagal mengembalikan jiwa kita yang tertinggal
di hari Minggu.
Namun, di tengah-tengah lautan manusia yang layu, mengantuk, dan berwajah
mendung, selalu ada satu anomali. Ya, satu spesies manusia yang entah mengapa
justru memiliki energi setara pembangkit listrik tenaga nuklir di jam delapan
pagi.
Mari kita intip drama komedi yang terjadi di PT Mencari Cinta Sejati berikut
ini.
Tokoh-Tokoh dalam Tragedi Ini:
·
Kevin (23): Pegawai magang baru. Muda,
naif, dan mengonsumsi motivasi hidup secara berlebihan. Pecinta hari Senin
sejati.
·
Mbak Sri (35): Senior divisi admin. Ibu
anak dua yang menganggap hari Senin adalah kelanjutan dari kerja rodi domestik
di rumah.
·
Budi (28): Staf IT yang nyawanya baru
terkumpul 15% setiap Senin pagi. Hidupnya digerakkan oleh kafein dan
kepasrahan.
TKP: Ruangan Divisi Kreatif & Admin (Pukul 07.45 WIB)
Suasana kantor masih remang-remang. Mbak Sri baru saja meletakkan tasnya
dengan bantingan halus yang sarat akan beban hidup. Di sudut lain, Budi sedang
duduk di depan komputernya yang belum menyala, menatap layar kosong dengan
pandangan sekosong masa depannya.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan sentakan keras. BRAK!
Kevin: "SELAMAT PAGI DUNIAAAAA! SEMANGAT SENIN! SEMANGAT
MENJEMPUT REZEKI DAN MENGGAPAI MIMPI!"
Budi tersentak sampai kepalanya hampir membentur monitor. Mbak Sri yang
sedang memegang cangkir teh langsung mengusap dadanya.
Mbak Sri: "Astagfirullah, Kevin! Kamu itu baru datang atau mau
tawuran? Suara kamu kayak toa masjid komplek tahu nggak!"
Kevin: (Berjalan dengan langkah tegap, senyum 100 watt terpampang di
wajahnya) "Lho, Mbak Sri! Hari Senin itu harus disambut dengan sukacita!
Ini adalah lembaran baru, momentum emas untuk kita memberikan kontribusi
terbaik bagi perusahaan tercinta!"
Budi: (Berbicara dengan suara serak khas orang belum basuh muka)
"Vin... tolong. Volume suaramu diturunkan dua bar. Telinga gue belum siap
menerima gelombang optimisme di jam segini."
Kevin: "Yah, Mas Budi kok lemas banget? Sini Mas, saya bawakan
infused water isi lemon, chia seeds, dan potongan jahe organik. Biar sel-sel
tubuh Mas Budi yang mati karena weekend kemarin langsung
beregenerasi!"
Budi: (Menolak botol minum Kevin dengan ngeri) "Nggak usah.
Sel-sel tubuh gue emang pengen mati dengan tenang hari ini. Jangan dipaksa
bangun pakai ramuan dukun."
Pukul 09.00 WIB: Rapat Mingguan yang "Tercemar" Semangat
Saat rapat divisi dimulai, aura suram menyelimuti ruangan. Semua orang
berbicara dengan nada monoton, menanti rapat cepat selesai. Sampai akhirnya,
giliran Kevin angkat bicara.
Mbak Sri: "Oke, untuk laporan keuangan minggu lalu sudah beres.
Ada kendala lain?"
Kevin: (Mengacungkan tangan tinggi-tinggi seolah mau menjawab kuis
berhadiah miliaran) "Saya, Mbak! Saya punya usulan revolusioner!"
Budi: (Bergumam pelan) "Duh, firasat gue nggak enak..."
Kevin: "Bagaimana kalau setiap Senin pagi, sebelum mulai kerja,
kita mengadakan sesi power hugging antar karyawan selama lima menit?
Ditambah dengan meneriakkan yel-yel: 'Aku berharga, kantor ini jaya, mari
kita kaya bersama!' Bagaimana?"
Semua orang di ruangan itu mendadak terdiam. Mbak Sri menatap Kevin dengan
tatapan seperti seorang ibu yang melihat anaknya minta dibelikan dinosaurus
hidup.
Mbak Sri: "Kevin... kalau saya pelukan sama Budi lima menit
setiap Senin, yang ada bukannya jaya, tapi saya digugat cerai sama suami saya
di rumah. Dan lagipula, yel-yel kamu itu terlalu panjang. Mending yel-yelnya
diganti: 'Saya lemas, pengen pulang, butuh uang.' Lebih realistis."
Kevin: "Tapi Mbak, aura positif itu menular! Kita harus
memaksimalkan potensi diri! Hari ini saya sudah membuat target untuk
menyelesaikan tiga project sekaligus sebelum jam makan siang!"
Budi: "Vin, lu tahu kan ada pepatah 'Jangan mendahului takdir'?
Lu kalau terlalu rajin, nanti beban kerja kita semua ikut naik karena standar
lu ketinggian. Kasihanilah kami yang remah-remah rengginang ini."
Pukul 12.00 WIB: Karma Hari Senin
Tiga jam berlalu. Tekanan pekerjaan hari Senin mulai menunjukkan jati
dirinya yang asli. Printer macet, klien merevisi pekerjaan secara acak, dan
sistem internet kantor mendadak lemot.
Budi dan Mbak Sri berjalan menuju kantin untuk makan siang. Di koridor,
mereka melihat pemandangan yang sangat kontras dari tadi pagi.
Kevin terduduk di kursi tunggu dengan dasi yang sudah miring ke kiri, rambut
acak-acakan seperti habis diterjang angin puting beliung, dan pandangan mata
yang kosong melongpong menatap langit-langit.
Budi: (Menyenggol Mbak Sri) "Mbak, lihat tuh. Pembangkit listrik
tenaga nuklir kita tampaknya baru saja mengalami kebocoran radiasi."
Mbak Sri: (Menghampiri Kevin sambil menahan tawa) "Heh, Kevin.
Gimana? Tiga project besar sudah selesai sebelum makan siang?"
Kevin menoleh pelan. Gerakan lehernya kaku seperti robot kekurangan oli.
Kevin: "Mbak... Mas Budi... Tadi klien Project A minta
revisi total dari konsep awal. Terus file Project B saya kehapus karena
komputer saya mendadak blue screen. Dan Project C... ternyata
salah kirim ke email kompetitor..."
Budi: (Menepuk pundak Kevin dengan penuh simpati yang dibuat-buat)
"Nah, selamat datang di hari Senin yang sesungguhnya, anak muda. Sekarang,
di mana infused water jahe organik lu tadi? Masih bisa menyembuhkan
sel-sel otak lu yang korslet?"
Kevin: (Hampir menangis) "Saya mau pulang, Mas... Saya mau peluk
guling... Ternyata Senin itu jahat ya..."
Mbak Sri: "Makanya, kalau hari Senin itu jangan sok menantang
alam semesta dengan semangat berlebihan. Cukup jalani dengan pasrah, diam, dan
jangan banyak tingkah. Ayo ikut ke kantin, saya belikan es teh manis biar jiwa
kamu yang terbang tadi balik lagi."
Kevin akhirnya bangkit dengan lunglai, berjalan menyeret kakinya di belakang
Mbak Sri dan Budi, resmi bergabung menjadi anggota sekte "Manusia Loyo di
Hari Senin".
Pelajaran yang Dapat Dipetik:
"Semangat di hari Senin itu boleh-boleh saja, tapi jangan sampai
berlebihan. Karena alam semesta punya cara yang sangat unik (dan kejam) untuk
meruntuhkan optimisme dalam sekejap mata."
Bagaimana dengan kalian sendiri, para pembaca CERCU? Apakah kalian tipe
"Budi dan Mbak Sri" yang butuh tiga cangkir kopi dulu baru bisa
berfungsi, atau kalian justru tipe "Kevin" yang punya energi tak
terbatas sampai-sampai bikin rekan kerja kalian pengen resign?
Yuk, ceritakan tipe hari Senin kalian di kolom komentar di bawah ini!
Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman kantor kalian yang terlalu berisik di
Senin pagi!
No comments:
Post a Comment