Tuesday, July 14, 2026

Rahasia Terbongkar! Kenapa Bangun Sahur di Rumah Selalu Berakhir Seperti Adegan Film Aksi?

 

Rahasia Terbongkar! Kenapa Bangun Sahur di Rumah Selalu Berakhir Seperti Adegan Film Aksi?

Kalau ada lomba drama keluarga tingkat nasional, saya yakin satu cabang olahraga yang wajib dipertandingkan adalah "Membangunkan Sahur."

Soalnya, proses bangun sahur di rumah itu tidak pernah sederhana.

Tidak pernah ada cerita seperti ini:

"Nak, bangun ya."

"Iya, Bu."

Lalu semua bangun dengan damai.

Itu hanya terjadi di iklan sirup.

Di dunia nyata, bangun sahur lebih mirip operasi militer.

 

Di rumah kami, yang bertugas membangunkan adalah Ibu.

Jam tiga lewat tiga puluh.

Terdengar suara dari dapur.

"Sahuuuur... sahuuuur..."

Saya membuka mata sedikit.

Masih aman.

Lalu terdengar lagi.

"Nak... bangun!"

Saya menjawab pelan.

"Iya, Bu..."

Padahal saya belum bangun.

Ini adalah teknik bertahan hidup.

Kalau sudah jawab "iya", biasanya ada tambahan waktu lima menit.

Ternyata saya salah.

Lima detik kemudian.

"Nak! Jangan cuma jawab iya!"

Saya kaget.

"Iya, Bu!"

"Itu lagi!"

 

Adik saya punya strategi lain.

Kalau dipanggil, dia langsung duduk di tempat tidur.

Mata tertutup.

Kepala mengangguk-angguk.

Ibu masuk kamar.

"Sudah bangun?"

Adik menjawab sambil tidur.

"Sudah..."

"Kalau sudah bangun, ayo ke meja makan."

"Sudah makan..."

Kami semua terdiam.

Bahkan dalam keadaan setengah tidur, adik bisa berhalusinasi.

 

Ayah berbeda.

Ayah selalu bangun lebih cepat.

Tapi tugas Ayah bukan membangunkan.

Tugas Ayah adalah memberi komentar.

Melihat saya masih di kamar.

Ayah berkata,

"Kalau ayam saja sudah bangun, masa kamu kalah sama ayam?"

Saya mengucek mata.

"Yah..."

"Iya?"

"Ayam tidur jam berapa?"

Ayah diam.

Saya tersenyum.

Akhirnya saya menang.

Lima detik kemudian Ibu datang membawa sendok.

"Kamu masih di situ?"

Saya kalah lagi.

 

Drama terbesar justru terjadi di kamar mandi.

Karena semua anggota keluarga tiba-tiba merasa ingin ke kamar mandi pada waktu yang sama.

Saya mengetuk pintu.

"Siapa di dalam?"

"Aku!"

"Adik?"

"Iya!"

"Lama?"

"Sedang berpikir."

"Berpikir apa?"

"Mau mandi atau enggak."

Saya hampir menangis.

 

Begitu semua berkumpul di meja makan, masalah baru dimulai.

Ibu bertanya,

"Nasinya cukup?"

"Cukup."

"Tambah?"

"Enggak."

"Yakin?"

"Iya."

"Nanti lapar lho."

Saya menambah nasi.

Baru dua suap.

"Kok sedikit makannya?"

Saya bingung.

Tadi dibilang kebanyakan.

Sekarang dibilang sedikit.

Saya merasa sedang ujian psikologi.

 

Adik punya kebiasaan unik saat sahur.

Dia selalu mencari lauk terbaik.

"Tadi ayamnya banyak."

"Sekarang tinggal dua."

"Itu punya siapa?"

Ayah menjawab santai.

"Itu ayam pensiun."

"Maksudnya?"

"Sudah enggak bertugas."

Adik percaya.

Langsung mengambil ayam itu.

Saya ikut mengambil.

Ayah tertawa.

"Itu memang sengaja Ayah simpan."

 

Yang paling lucu adalah saat ada orang yang terlalu semangat membangunkan.

Tetangga kami punya pengeras suara.

Jam tiga.

"Sahuuuuur!"

Jam tiga lewat lima.

"Sahuuuuur!"

Jam tiga lewat sepuluh.

"Sahuuuuur!"

Ayah berkata,

"Kalau diteruskan begini, nanti kita sahur dua kali."

Ibu tertawa.

 

Suatu hari saya mencoba memasang alarm sendiri.

Saya bangga.

"Nanti enggak usah dibangunin."

Ibu mengangguk.

"Yakin?"

"Yakin."

Saya memasang lima alarm.

Jam tiga.

Jam tiga lewat lima.

Jam tiga lewat sepuluh.

Jam tiga lewat lima belas.

Jam tiga lewat dua puluh.

Paginya saya bangun.

Matahari sudah tinggi.

Saya panik.

"Alarmnya mana?"

Adik menjawab santai.

"Tadi bunyi."

"Kenapa enggak bangun?"

"Kami pikir itu musik pengantar tidur."

 

Ibu menggeleng.

"Makanya, kalau dibangunin jangan susah."

Saya membela diri.

"Saya enggak dengar."

Ayah ikut bicara.

"Kamu dengar."

"Enggak."

"Tadi alarm kelima kamu matikan sendiri."

Saya terdiam.

"Oh..."

Ternyata saya punya bakat tidur sambil bekerja.

 

Pernah juga listrik mati saat sahur.

Rumah gelap.

Ibu membawa senter.

Ayah membawa lilin.

Adik membawa bantal.

Saya heran.

"Itu bantal buat apa?"

"Biar kalau ngantuk tinggal tidur lagi."

Kami semua tertawa.

Ibu langsung berkata,

"Kalau tidur lagi, nanti cucinya piring."

Adik langsung meletakkan bantal.

 

Ada satu kebiasaan yang selalu terjadi.

Saat sahur, semua orang mengantuk.

Tidak ada yang banyak bicara.

Suasananya tenang.

Lalu tiba-tiba Ayah bertanya,

"Hari ini lauknya apa?"

Ibu menjawab,

"Telur."

"Oh..."

Lima menit kemudian.

"Hari ini lauknya apa?"

"Telur, Pak."

"Oh iya."

Lima menit lagi.

"Hari ini lauknya apa?"

Saya menjawab,

"Pak, kalau tanya lagi, lauknya berubah jadi sayur."

Ayah tertawa.

"Ini cuma memastikan."

 

Puncak drama terjadi menjelang imsak.

Ibu mulai panik.

"Ayo cepat!"

Saya mempercepat makan.

Adik masih mencari kerupuk.

Ayah masih minum teh.

Ibu melihat jam.

"Lima menit lagi!"

Adik berkata,

"Kerupuknya mana?"

Ibu menunjuk.

"Itu!"

"Itu yang mana?"

"Itu!"

Ayah ikut membantu.

"Yang bulat."

Saya melihat meja.

Semuanya bulat.

Piring bulat.

Gelas bulat.

Mangkok bulat.

Telur juga bulat.

Adik akhirnya menemukan kerupuk.

Baru satu gigitan.

Terdengar suara dari masjid.

Ayah tersenyum.

"Nah, sekarang kerupuknya bisa istirahat."

 

Setelah selesai sahur, biasanya semua kembali ke kamar.

Saya bertanya kepada Ayah,

"Yah, kenapa sih bangun sahur selalu ribut?"

Ayah berpikir sebentar.

"Karena itu tradisi."

"Tradisi?"

"Iya."

"Dari mana?"

"Dari zaman dulu."

"Siapa yang mulai?"

"Mungkin keluarga yang telat bangun."

Kami tertawa.

Ibu yang mendengar hanya menggeleng.

"Kalian ini ada-ada saja."

 

Sekarang saya sadar, drama bangun sahur itu memang melelahkan.

Ada yang susah dibangunkan.

Ada yang pura-pura bangun.

Ada yang makan sambil mengantuk.

Ada yang mencari lauk terbaik.

Ada yang sibuk mengingatkan waktu.

Dan ada yang bertanya menu makanan tiga kali dalam lima belas menit.

Tapi justru keributan kecil itulah yang membuat suasana sahur di rumah terasa hangat.

Karena beberapa tahun kemudian, mungkin yang paling dirindukan bukan sekadar makan sahurnya.

Melainkan suara Ibu yang berteriak dari dapur,

"Nak! Bangun! Sudah sahur!"

Komentar Ayah yang aneh.

Adik yang pura-pura tidur.

Dan kepanikan bersama mencari kerupuk lima menit sebelum imsak.

Sebab, di setiap rumah, ternyata sahur bukan hanya soal makan sebelum berpuasa.

Sahur adalah pertunjukan komedi keluarga yang tayangnya cuma sekali setiap dini hari, dengan pemeran yang sama dan naskah yang selalu berubah.

Kalau di rumah Anda, siapa yang paling susah dibangunkan saat sahur, dan kejadian paling kocak apa yang pernah terjadi menjelang waktu imsak?

 

No comments:

Post a Comment