Detik-Detik Jantung Copot: Ketika Tombol "Reply All" Menjadi
Senjata Pemusnah Massal di Kantor
Selamat
datang kembali di CERCU (Cerita Lucu)! Pernahkah kalian merasakan sebuah momen
di mana waktu mendadak berhenti, keringat dingin mengucur sederas air terjun,
dan kalian merasa ingin amblas saja ke dalam inti bumi?
Kalau
belum pernah, perkenalkan sebuah tombol kecil di pojok aplikasi email kalian
yang memiliki kekuatan magis untuk menghancurkan karier dalam satu kali klik: Reply All (Balas ke Semua).
Mari
kita intip kisah horor berbalut komedi yang menimpa sebuah kubikal kantor
akibat kecerobohan jempol seorang pegawai berikut ini.
Tokoh-Tokoh
dalam Tragedi Ini:
·
Dika (25): Staf pemasaran yang jarinya lebih cepat bergerak
daripada otaknya. Korban utama tragedi email.
·
Santi (26): Rekan kubikal Dika. Pengamat drama kantor yang objektif
sekaligus kompor profesional.
·
Pak Hartono (50): Direktur Utama yang terkenal tegas, jarang tersenyum,
dan selalu membaca email dengan kacamata yang ditaruh di ujung hidung.
TKP:
Kubikal Divisi Pemasaran (Pukul 10.00 WIB)
Suasana
kantor berjalan seperti biasa. Suara ketikan keyboard beradu dengan dengung AC.
Dika sedang asyik mengunyah gorengan sambil membaca email pengumuman dari HRD
mengenai peraturan baru: "Setiap karyawan wajib
mengisi logbook aktivitas harian setiap jam."
Dika
mendengus kesal. Dia membuka kolom balasan, berniat mengirim pesan keluhan
kepada Santi lewat email internal kantor.
Dika: (Sambil mengetik dengan penuh emosi) "San, lihat
nih email HRD. Kurang kerjaan banget sih? Ini bos kita si Hartono kayaknya
kurang piknik deh. Masa tiap jam harus isi logbook? Dikira kita robot apa? Mana
pelit banget lagi, bonus bulan lalu aja belum turun. Heran gue, kok bisa ya si
jenglot tua itu jadi direktur di sini?"
Santi: (Mendengar Dika menggerutu) "Dik, lu ngomong sama
gue atau lagi baca mantra? Kalau mau ngeluh mending lewat WhatsApp aja
kali."
Dika: "Tanggung, San. Udah gue ketik di email. Nih, gue
kirim ke lu ya. Biar lu baca betapa tersiksanya jiwa gue."
KLIK!
Dika
menekan tombol kirim dengan penuh kepuasan. Dia mengambil bakwan jagung
terakhirnya, mengunyahnya dengan kemenangan. Namun, tiga detik kemudian,
matanya tidak sengaja melihat kolom "To:" di email yang baru saja
dikirimnya.
Wajah
Dika mendadak pucat pasi. Bakwan jagung di mulutnya berhenti dikunyah.
Dika: (Suaranya bergetar, nadanya naik tiga oktaf)
"San... Sa... Santi..."
Santi: "Apaan sih? Muka lu kayak habis lihat penampakan di
toilet lantai tiga."
Dika: "San... gue tadi mencet tombol apa ya?"
Santi: "Ya mana gue tahu. Lu kan ngirim ke email
gue?"
Dika: "Enggak, San... Tadi kan HRD ngirim emailnya pakai
fitur Mailing List se-perusahaan. Dan gue... gue kayaknya
tadi malah klik... Reply All..."
Santi
langsung menghentikan aktivitas mengetiknya. Dia menatap Dika dengan mata
melotot.
Santi: "Maksud lu... email lu yang nyebut Pak Hartono
'jenglot tua kurang piknik' itu..."
Dika: (Menangis tanpa air mata) "KIRIM KE SEMUA ORANG,
SAN! TERMASUK KE PAK HARTONO DAN DIVISI HRD!"
Pukul
10.05 WIB: Badai Pemberitahuan
Dalam
hitungan menit, keheningan kantor pecah. Terdengar suara selentingan notifikasi
email masuk secara serentak dari laptop-laptop di seluruh ruangan. Beberapa
orang di kubikal seberang mulai berbisik-bisik sambil mencuri pandang ke arah
Dika.
Santi: (Membuka laptopnya) "Wah, Dik. Selamat. Email lu
sudah masuk ke kotak masuk gue. Judulnya bagus banget: Re: Peraturan Baru Logbook. Isinya... sungguh sebuah
karya sastra yang berani. Lu luar biasa, Dik. Umur lu di kantor ini sisa lima
menit lagi tampaknya."
Dika: "San, tolongin gue! Ada fitur Unsend nggak?! Gimana cara narik email yang udah
terlanjur dikirim?!"
Santi: "Di Outlook ada fitur Recall, tapi
syaratnya orangnya belum buka email lu. Masalahnya, sekarang semua orang di
kantor ini lagi megang HP, Dik. Bahkan grup WhatsApp divisi kita udah ramai. Lu
mau lihat?"
Dika: "Nggak mau! Gue mau pingsan aja!"
Tiba-tiba,
telepon di meja Dika berdering. Suaranya terdengar sangat nyaring dan
intimidatif. Di layar telepon tertera: EXT 001 - RUANG DIREKSI.
Dika
menatap telepon itu seolah-olah itu adalah bom waktu yang siap meledak.
Santi: "Angkat, Dik. Siapa tahu Pak Hartono mau nanya
resep bakwan yang lagi lu makan."
Dika: (Mengangkat telepon dengan tangan gemetar) "Ha...
halo... Selamat pagi dengan Dika di sini..."
Suara
di Telepon (Sekretaris Direksi):
"Mas Dika, ditunggu Pak Hartono di ruangannya sekarang ya. Bawa
barang-barang berharga Mas sekalian."
Tut...
Tut... Tut... Telepon ditutup.
Pukul
10.15 WIB: Menghadap Sang Jenglot Tua
Dika
berjalan ke ruang direksi seperti seorang terpidana mati yang menuju tiang
gantungan. Santi mengantarnya dengan lambaian tangan dramatis dari kejauhan.
Di
dalam ruangan, Pak Hartono duduk di balik meja besarnya. Kacamata minusnya
bertengger di ujung hidung, persis seperti yang digambarkan Dika. Di layar
laptopnya, terlihat email Dika terpampang nyata dengan huruf tebal.
Pak
Hartono: "Duduk, Dika."
Dika: (Duduk di ujung kursi, siap melarikan diri jika dilempar
asbak) "Maaf, Pak... Saya benar-benar minta maaf. Itu... itu salah ketik,
Pak. Maksud saya bukan Bapak..."
Pak
Hartono: "Oh ya? Di sini tertulis
jelas: 'Hartono kayaknya kurang piknik... jenglot tua.' Di
kantor ini, yang namanya Hartono cuma saya. Dan kalau kaca spion saya tidak
salah, saya memang sudah tua. Tapi bagian 'jenglot' ini... apa saya sekecil itu
di mata kamu?"
Dika: "Bukan begitu, Pak! Itu... itu istilah gaul anak
muda untuk menggambarkan orang yang... yang sangat berwibawa dan mandiri! Iya,
mandiri seperti jenglot yang bisa hidup sendiri, Pak!"
Pak
Hartono terdiam selama sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh abad bagi
Dika. Tiba-tiba, Pak Hartono menghela napas panjang.
Pak
Hartono: "Kamu tahu, Dika?
Sebenarnya saya tidak marah kamu sebut kurang piknik. Karena sejujurnya... saya
memang stres kurang piknik akibat mikirin omzet divisi kamu yang nggak
naik-naik."
Dika: (Mulai melihat secercah harapan) "Benar, Pak? Bapak
tidak memecat saya?"
Pak
Hartono: "Saya tidak memecat kamu karena
salah kirim email. Tapi, karena kamu sudah mengumumkan ke seluruh perusahaan
bahwa saya kurang piknik, maka saya putuskan untuk mengambil tindakan. Mulai
besok, kamu saya pindahkan untuk menghandle proyek lapangan di daerah pelosok
Kalimantan selama tiga bulan. Anggap saja... kamu membantu saya 'piknik' lewat
laporan lapangan kamu. Bagaimana?"
Dika
hanya bisa melongo. Kamar kosnya di Jakarta yang sudah dibayar setahun mendadak
terbayang di pelupuk mata.
Pak
Hartono: "Dan satu lagi, Dika.
Mulai hari ini, setiap kali kamu mau membalas email saya, kamu wajib datang ke
ruangan saya dan membacanya langsung di depan saya. Biar tidak ada salah kirim
lagi. Paham?"
Dika: "Pa... paham, Pak..."
Dika
keluar dari ruangan dengan lemas. Saat kembali ke kubikal, Santi langsung
menyambutnya.
Santi: "Gimana, Dik? Lu dipecat?"
Dika: "Nggak, San. Tapi gue dipromosikan jadi duta piknik
perusahaan di tengah hutan Kalimantan."
Pelajaran
yang Dapat Dipetik:
"Sebelum
menekan tombol 'Send' atau 'Reply All', tarik napas dalam-dalam, baca ulang
tulisanmu sebanyak tiga kali, dan pastikan kamu tidak sedang mengata-ngatai
orang yang memegang slip gajimu."
Apakah
kalian para pembaca setia CERCU pernah mengalami momen horor "salah
kirim" seperti Dika? Entah itu salah kirim email ke bos, salah kirim chat
gibah ke grup keluarga, atau salah kirim foto rahasia ke grup alumni sekolah?
Yuk,
bagikan cerita memalukan sekaligus kocak kalian di kolom komentar di bawah!
Tenang, di sini tidak ada Pak Hartono kok!
No comments:
Post a Comment