“Kok Orang Dewasa Diam Semua?” Gara-Gara Pertanyaan Anak Kecil yang
Bikin Satu Rumah Panik
Ada satu makhluk di dunia yang kemampuannya sering diremehkan.
Bukan detektif.
Bukan profesor.
Bukan petugas pajak.
Tapi... anak kecil.
Jangan salah. Anak kecil punya kemampuan khusus untuk mengajukan pertanyaan
yang tidak pernah terpikirkan oleh orang dewasa.
Dan yang lebih mengerikan, mereka bertanya pada saat yang paling tidak
tepat.
Di keluarga kami, spesialis pertanyaan sulit itu adalah keponakan saya,
namanya Bimo.
Usianya lima tahun.
Tapi rasa ingin tahunya seperti wartawan investigasi.
Suatu sore, kami sedang santai di ruang tamu.
Ayah menonton televisi.
Ibu mengupas buah.
Saya bermain ponsel.
Bimo datang sambil membawa mobil-mobilan.
"Paman..."
"Iya?"
"Kenapa kucing enggak sekolah?"
Saya berpikir.
"Mungkin karena kucing enggak perlu sekolah."
"Kenapa?"
"Karena..."
Saya melihat Ayah.
Ayah pura-pura batuk.
Saya melihat Ibu.
Ibu tiba-tiba sibuk mengupas jeruk.
Saya sadar.
Saya ditinggalkan sendirian.
Akhirnya saya menjawab,
"Karena kucing sudah pintar."
Bimo mengangguk.
Lima detik kemudian.
"Kalau begitu, kenapa manusia sekolah?"
Saya diam.
Ayah tertawa pelan.
"Kena juga."
Besoknya, Bimo datang lagi.
"Paman..."
"Iya?"
"Kalau ikan minum air enggak?"
Saya percaya diri.
"Enggak."
"Kenapa?"
"Karena..."
Saya berpikir keras.
Bimo melanjutkan.
"Kalau enggak minum, kenapa enggak haus?"
Saya melihat Ayah.
Ayah berdiri.
"Ayah mau ke dapur dulu."
Saya melihat Ibu.
Ibu juga berdiri.
"Ibu mau jemur baju."
Saya sendirian lagi.
Yang paling berbahaya adalah pertanyaan saat makan.
Kami semua sedang makan malam.
Bimo melihat ayam goreng di piring.
"Tante..."
"Iya?"
"Ini ayam?"
"Iya."
"Yang kemarin di kandang?"
"Iya."
"Kenapa sekarang di piring?"
Satu meja diam.
Ayah minum air.
Ibu melihat langit-langit rumah.
Saya sibuk menghitung nasi.
Bimo mengulang.
"Kenapa ayamnya pindah rumah?"
Ayah akhirnya menjawab,
"Karena dia dapat promosi."
Bimo mengangguk puas.
Saya hampir tersedak.
Pernah suatu hari Bimo melihat foto Ayah waktu muda.
"Wah, itu siapa?"
"Itu Kakek waktu muda."
Bimo melihat foto itu lama sekali.
"Lho?"
"Ada apa?"
"Kenapa Kakek dulu muda?"
Kami semua diam.
Bimo melanjutkan.
"Siapa yang bikin Kakek tua?"
Saya menatap Ayah.
Ayah menatap saya.
Ibu tertawa.
Ayah menjawab pelan,
"Cicilan."
Kami semua tertawa.
Bimo ikut tertawa.
Padahal sepertinya dia tidak mengerti.
Suatu sore hujan turun deras.
Bimo duduk di teras.
"Paman..."
"Iya?"
"Kenapa hujan turun?"
"Karena ada awan."
"Kenapa ada awan?"
"Karena..."
"Kenapa langit biru?"
"Karena..."
"Kenapa matahari panas?"
"Karena..."
Saya mulai berkeringat.
Bimo belum selesai.
"Kenapa orang berkeringat?"
Saya menyerah.
"Bimo..."
"Iya?"
"Kamu enggak capek bertanya?"
Bimo tersenyum.
"Kenapa harus capek?"
Saya kalah.
Ayah pernah mencoba terlihat pintar.
Bimo bertanya,
"Kakek..."
"Iya?"
"Kenapa rambut Kakek putih?"
Ayah menjawab mantap.
"Itu tanda kebijaksanaan."
Bimo mengangguk.
Lalu melihat kepala saya.
"Kalau rambut Paman hitam?"
Saya tersenyum.
"Nah..."
"Itu tanda belum bijaksana?"
Saya tertawa.
Ayah tertawa paling keras.
Balas dendam memang indah.
Puncak masalah terjadi saat kami pergi ke pasar.
Bimo melihat seorang penjual ikan.
"Paman..."
"Iya?"
"Ikan ini tidur enggak?"
"Tidur."
"Matanya kok buka?"
Saya berpikir.
Bimo melanjutkan.
"Kalau tidur matanya buka, dia mimpi enggak?"
Saya melihat penjual ikan.
Penjual ikan melihat saya.
Kami sama-sama bingung.
Penjual ikan berkata,
"Mas, saya jual ikan, bukan filsafat."
Saya hampir tertawa terbahak-bahak.
Suatu malam listrik padam.
Kami duduk di ruang tamu.
Bimo melihat lilin.
"Paman..."
"Iya?"
"Api itu makan apa?"
Saya menjawab asal.
"Kayu."
"Kalau enggak ada kayu?"
"Sumbu."
"Kalau enggak ada sumbu?"
Saya diam.
Bimo tersenyum.
"Nah, Paman enggak tahu."
Saya mengangguk.
"Iya."
Bimo tampak bangga.
Sepertinya dia baru saja memenangkan pertandingan.
Yang paling tidak terduga terjadi minggu lalu.
Kami sedang berkumpul.
Bimo tiba-tiba bertanya kepada Ayah.
"Kakek..."
"Iya?"
"Kata Mama, orang baik masuk surga?"
"Iya."
"Orang jahat?"
"Masuk neraka."
Bimo mengangguk.
Lalu bertanya lagi.
"Kalau orang yang suka ngambil remote terus enggak ngaku masuk
mana?"
Semua mata langsung tertuju kepada Ayah.
Ayah panik.
"Itu fitnah."
Ibu tersenyum.
"Pak, remote kemarin ketemu di bawah bantal Bapak."
Ayah berdehem.
"Itu... titipan."
Bimo tertawa.
"Oh... berarti Kakek suka nitip remote."
Malam itu saya duduk bersama Ayah.
Saya bertanya,
"Yah, kenapa anak kecil pertanyaannya susah-susah?"
Ayah tersenyum.
"Karena mereka penasaran."
"Tapi kenapa pertanyaannya enggak ada habisnya?"
Ayah berpikir sebentar.
"Lihat waktu kamu kecil."
"Memangnya saya begitu?"
Ayah tertawa.
"Lebih parah."
"Masa?"
"Dulu kamu pernah tanya kenapa ayam enggak punya KTP."
Saya terdiam.
"Serius?"
"Iya."
"Saya dijawab apa?"
Ayah tersenyum lebar.
"Ayah bilang karena ayam belum cukup umur."
Saya tertawa keras.
"Terus saya percaya?"
Ayah mengangguk.
"Kamu bahkan tanya lagi kapan ayam bikin SIM."
Saya menutup wajah.
Pantas saja.
Ternyata dulu saya juga sumber kekacauan keluarga.
Sekarang giliran Bimo yang mengambil alih tugas itu.
Dan mungkin memang begitu siklus kehidupan.
Anak kecil bertanya.
Orang dewasa pura-pura tahu.
Kalau sudah mentok, Ayah mengarang jawaban.
Anak kecil percaya.
Lalu beberapa tahun kemudian, anak kecil itu tumbuh dewasa dan mengalami
nasib yang sama ketika menghadapi pertanyaan generasi berikutnya.
Sampai akhirnya kita sadar, bukan pertanyaannya yang sulit.
Yang sulit adalah menjaga wajah tetap serius ketika ditanya,
"Kalau ayam belum punya KTP, terus dia naik motor ke mana?"
Nah, kalau di keluarga Anda, apa pertanyaan anak kecil yang paling
polos sekaligus paling bikin orang dewasa kehabisan jawaban?
No comments:
Post a Comment