Lemari Masih Terkunci, Tapi Barang Sudah Dipakai! Misteri Saudara
yang Selalu Meminjam Tanpa Izin
Ada satu hukum tidak tertulis di dalam keluarga besar.
Kalau ada barang yang tidak ketemu, jangan panik.
Jangan langsung mencari.
Coba lihat dulu saudara sendiri.
Karena besar kemungkinan barang itu sedang dipinjam... tanpa
pemberitahuan.
Di rumah kami, ada seorang saudara yang punya prinsip hidup sederhana.
"Kalau bisa dipinjam, kenapa harus minta izin?"
Namanya Rian.
Sepupu saya.
Orangnya baik.
Ramah.
Rajin.
Cuma ada satu masalah kecil.
Dia menganggap semua barang di rumah adalah fasilitas umum.
Suatu pagi saya bangun dan mencari sandal.
Sandal kiri ada.
Sandal kanan hilang.
Saya mencari ke teras.
Tidak ada.
Ke dapur.
Tidak ada.
Ke halaman.
Tidak ada.
Tiba-tiba Rian datang.
"Wah, kamu bangun?"
"Iya."
"Kamu lihat sandal kananku?"
Rian melihat ke bawah.
"Itu yang saya pakai?"
Saya menatap kakinya.
Benar.
"Itu sandal saya!"
"Oh..."
"Oh apa?"
"Saya kira sandal keluarga."
"Sandal keluarga itu apa?"
"Yang dipakai bersama."
Saya menarik napas panjang.
Hari masih pagi.
Kesabaran harus dijaga.
Pernah juga saya kehilangan jaket.
Saya mencari ke mana-mana.
Lemari kosong.
Gantungan kosong.
Saya bertanya kepada Ibu.
"Bu, lihat jaket saya?"
"Enggak."
Saya bertanya kepada Ayah.
"Yah?"
"Enggak tahu."
Tiba-tiba Rian masuk rumah.
Memakai jaket saya.
Saya menunjuk.
"Itu!"
Rian melihat bajunya.
"Oh..."
"Itu jaket saya!"
"Saya tahu."
"Lho?"
"Saya pinjam."
"Kapan?"
"Tadi."
"Kok enggak bilang?"
"Kamu masih tidur."
Saya hampir kehilangan kemampuan berbicara.
Yang paling lucu adalah soal charger HP.
Di rumah kami, charger itu makhluk langka.
Ada pagi hari.
Sore hilang.
Malam muncul lagi.
Suatu hari saya mencari charger.
Tidak ada.
Saya bertanya kepada semua orang.
Tidak ada yang mengaku.
Akhirnya saya melihat Rian duduk santai sambil bermain ponsel.
Saya melihat kabel putih menjulur.
"Itu charger siapa?"
Rian melihat.
"Oh."
"Oh apa?"
"Ini ya?"
"Iya!"
"Saya kira punya negara."
Saya tertawa.
"Negara mana?"
"Negara rumah kita."
Ayah pernah menjadi korban.
Kacamata Ayah hilang.
Satu rumah mencari.
Ayah panik.
"Mana kacamata Ayah?"
Kami mencari di meja.
Di kamar.
Di dapur.
Tidak ada.
Rian datang dari luar.
"Om, cari apa?"
"Kacamata."
"Oh."
Rian mengeluarkan sesuatu dari tas.
"Ini?"
Ayah terdiam.
"Itu kacamata Om!"
"Iya."
"Kok ada di kamu?"
"Saya pinjam."
"Buat apa?"
"Biar kelihatan pintar."
Saya dan Ibu tertawa sampai tidak kuat berdiri.
Ayah hanya menggeleng.
"Kalau begitu, nanti Om pinjam raportmu."
Ibu juga punya pengalaman sendiri.
Suatu hari Ibu membuat kue.
Disimpan di meja.
Sore harinya tinggal sedikit.
Ibu bertanya,
"Siapa yang makan?"
Semua diam.
Ibu melihat Rian.
"Kamu?"
Rian tersenyum.
"Saya cuma coba."
"Berapa?"
"Lima."
"Lima potong?"
"Iya."
"Itu bukan coba. Itu sarapan kedua."
Pernah suatu hari saya sengaja menguji Rian.
Saya meletakkan topi baru di meja.
Saya tidak bilang apa-apa.
Dua jam kemudian topinya hilang.
Saya mencari.
Tidak ada.
Lalu terdengar suara motor.
Rian datang.
Memakai topi saya.
Saya tersenyum.
"Itu topi siapa?"
Rian melihat ke atas.
"Oh."
"Oh lagi?"
"Saya kira hadiah."
"Dari siapa?"
"Dari semesta."
Saya menyerah.
Melawan logika Rian hanya membuang tenaga.
Yang paling aneh adalah Rian selalu mengembalikan barang.
Tapi tidak pernah ke tempat semula.
Saya pernah kehilangan gunting.
Tiga hari kemudian ketemu.
Di rak sepatu.
Sendok hilang.
Ketemu di meja belajar.
Remote TV hilang.
Ketemu di dekat tempat beras.
Saya bertanya,
"Kenapa begitu?"
Rian menjawab santai,
"Biar gampang dicari."
Saya menatap langit.
Mungkin kesabaran memang ada batasnya.
Suatu malam Ayah mengadakan rapat keluarga.
Semua duduk di ruang tamu.
Ayah berkata,
"Mulai hari ini, kalau pinjam barang harus izin."
Semua mengangguk.
Rian juga mengangguk.
"Setuju."
Besok paginya.
Saya melihat Rian memakai sepatu saya.
Saya bertanya,
"Kok pakai sepatu saya?"
Rian tersenyum.
"Saya izin."
"Kepada siapa?"
"Kepada hati nurani."
Saya hampir jatuh dari kursi.
Puncak kejadian terjadi minggu lalu.
Saya kehilangan dompet.
Panik.
Semua mencari.
Tidak ketemu.
Saya bertanya kepada Rian.
"Kamu lihat dompet saya?"
"Enggak."
Saya lega.
Lima menit kemudian Rian datang.
"Mungkin ini?"
Saya melihat.
"Itu dompet saya!"
"Iya."
"Kok ada di kamu?"
"Saya mau mengembalikan."
"Lho, katanya enggak lihat?"
"Tadi belum."
"Kapan lihatnya?"
"Pas ada di saku saya."
Saya tidak tahu harus marah atau tertawa.
Ayah yang mendengar langsung berkata,
"Rian."
"Iya, Om?"
"Lain kali kalau pinjam bilang."
"Iya."
"Bener?"
"Iya."
"Lalu dompet itu dipinjam buat apa?"
Rian tersenyum.
"Saya mau tahu rasanya punya dompet tebal."
Saya langsung mengambil dompet itu.
"Itu juga isinya foto, bukan uang."
Rian tertawa.
"Oh... pantes ringan."
Malam itu saya duduk bersama Ayah.
Saya bertanya,
"Yah, kenapa sih saudara suka pinjam barang tanpa izin?"
Ayah tersenyum.
"Itu tanda akrab."
"Masa?"
"Iya."
"Tapi bikin kesal."
"Itu juga tanda akrab."
Saya tertawa.
Ayah melanjutkan,
"Nanti kalau sudah lama enggak ketemu, yang diingat justru
cerita-cerita itu."
Saya berpikir.
Benar juga.
Mungkin suatu hari nanti kami akan tertawa mengenang sandal yang hilang
sebelah, jaket yang jalan-jalan sendiri, charger yang berpindah negara, dan
kacamata Ayah yang dipinjam supaya terlihat pintar.
Karena dalam keluarga, selalu ada satu orang yang tidak pernah merasa
memiliki barang sendiri.
Semua dianggap milik bersama.
Dan anehnya, orang itu juga yang paling sering bertanya,
"Eh, ada yang lihat barang saya enggak?"
Padahal setengah isi rumah pernah mampir ke tangannya.
Sampai hari ini, saya masih menyimpan satu teori.
Saudara yang suka meminjam tanpa izin sebenarnya punya kemampuan khusus.
Mereka bisa menemukan barang kita lebih cepat daripada kita sendiri.
Sayangnya, barang itu baru ditemukan... setelah mereka selesai memakainya.
Nah, kalau di keluarga Anda, barang apa yang paling sering
"dipinjam diam-diam" oleh saudara, dan alasan paling lucu apa yang
pernah mereka berikan saat ketahuan?
No comments:
Post a Comment