Kenapa Ibu Baru Ingat Semua Pekerjaan Saat Kita Sudah Duduk?
Ternyata Ada Polanya!
Ada satu misteri keluarga Indonesia yang sampai sekarang belum berhasil
dipecahkan oleh ilmuwan mana pun.
Kenapa ibu selalu menyuruh anak tepat ketika anak itu baru duduk santai?
Aneh, tapi nyata.
Seharian tidak ada suara.
Begitu kita duduk, menyandarkan badan, menarik napas panjang, dan baru saja
menemukan posisi paling nyaman di sofa...
Terdengar suara dari dapur.
"Nak..."
Saya langsung tegang.
"Iya, Bu?"
"Tolong ambilkan sapu."
Saya berdiri.
Sapu ada di belakang pintu dapur.
Saya ambil.
Saya kembali duduk.
Baru lima detik.
"Nak..."
"Iya, Bu?"
"Sekalian ambilkan pel."
Saya mulai curiga.
Jangan-jangan ibu punya kamera tersembunyi yang mendeteksi posisi duduk
anak.
Saya pernah menguji teori itu.
Hari Minggu pagi.
Ibu sedang memasak.
Saya berdiri di ruang tamu selama lima belas menit.
Tidak ada panggilan.
Saya berjalan mondar-mandir.
Tidak ada.
Saya berdiri di dekat pintu.
Sepi.
Lalu saya duduk.
Belum sempat punggung menyentuh sandaran kursi.
"Nak!"
Saya kaget.
"Iya, Bu?"
"Tolong ambilkan bawang di kulkas!"
Saya berdiri sambil bergumam.
"Wah... sensor duduknya aktif."
Adik saya yang melihat hanya mengangguk.
"Kena juga?"
"Iya."
"Aku juga kemarin begitu."
Adik pernah mencoba bersembunyi.
Dia duduk di kamar sambil memakai headset.
Ibu membuka pintu.
"Nak..."
Adik pura-pura tidak dengar.
Ibu mendekat.
"Nak..."
Masih diam.
Ibu tersenyum.
"Nak, kalau enggak jawab, uang jajannya besok libur."
Adik langsung melepas headset.
"Iya, Bu!"
"Nah, tolong ambilkan gunting."
Saya berbisik pada adik.
"Kamu kalah."
Adik menghela napas.
"Ibu punya jurus pamungkas."
Yang paling membingungkan adalah barang yang disuruh ambil sering kali
letaknya lebih dekat dengan ibu.
Suatu hari.
Ibu duduk di meja makan.
Saya duduk di ruang tamu.
Jarak ibu ke gelas sekitar satu meter.
Jarak saya ke gelas hampir lima meter.
"Nak, tolong ambilkan gelas."
Saya melihat situasi.
"Bu..."
"Iya?"
"Itu gelas dekat Ibu."
Ibu mengangguk.
"Iya."
"Kenapa saya yang ambil?"
"Soalnya kamu masih muda."
Saya tidak bisa membantah.
Logika ibu kadang lebih kuat daripada hukum fisika.
Pernah saya mencoba negosiasi.
"Bu, saya capek."
Ibu tersenyum.
"Ibu juga."
"Tapi saya baru duduk."
"Ibu sudah berdiri dari pagi."
Saya kalah telak.
Suatu sore, Ayah sedang santai menonton televisi.
Saya duduk di sebelahnya.
Ibu keluar dari dapur.
"Pak..."
Ayah pura-pura batuk.
"Ehem... sepertinya saya lagi kurang enak badan."
Ibu menoleh ke saya.
"Nak..."
Saya panik.
"Lho, kenapa saya?"
"Ambilkan Ayah air putih."
Saya mengambil air.
Ayah menerima sambil tersenyum.
"Makasih."
Saya berbisik.
"Yah, kok saya?"
Ayah menjawab pelan.
"Itu namanya mengalihkan serangan."
Saya baru sadar.
Selama ini Ayah ternyata sudah ahli bertahan hidup.
Pernah juga ibu menyuruh dengan cara yang membingungkan.
"Nak, tolong ambilkan barang yang itu."
"Yang mana, Bu?"
"Itu."
"Itu yang mana?"
"Itu lho."
Saya melihat seisi rumah.
Ada kursi.
Ada meja.
Ada tas.
Ada ember.
Ada kipas angin.
Saya menyerah.
"Bu, itu yang mana?"
Ibu keluar dari dapur.
"Ya ampun! Itu!"
"Oh... sendok."
"Iya."
"Kenapa enggak bilang sendok dari tadi?"
"Kalau ibu bilang sendok, nanti kamu enggak belajar."
Belajar apa?
Ilmu telepati?
Suatu hari saya sengaja menghitung.
Dalam satu jam, ibu menyuruh saya sebanyak sebelas kali.
Ambil remote.
Ambil piring.
Ambil cabai.
Ambil gula.
Ambil sendok.
Ambil kantong plastik.
Ambil gunting.
Ambil jemuran.
Ambil sapu.
Ambil dompet.
Dan yang terakhir...
"Nak, tolong ambilkan HP ibu."
Saya melihat sekeliling.
"Bu, HP Ibu di mana?"
Ibu menunjuk.
"Itu."
Saya melihat.
HP itu ada di tangan ibu.
Saya bingung.
"Bu..."
"Iya?"
"Itu HP Ibu ada di tangan."
Ibu melihat tangannya.
"Oh iya."
Kami saling diam.
Lalu ibu berkata santai.
"Ya sudah, sekalian ambilkan kacamata ibu."
"Kacamatanya di mana?"
Ibu melihat ke arah saya.
Saya ikut melihat.
Ternyata kacamata itu sedang dipakai ibu.
Saya hampir tertawa.
Ibu juga tertawa.
"Kayaknya ibu kecapekan."
Yang paling berbahaya adalah kalimat ini.
"Nak, sekalian..."
Kalau ibu sudah bilang "sekalian", itu artinya pekerjaan akan
bertambah.
"Nak, tolong beli garam."
"Oke, Bu."
"Sekalian beli gula."
"Oke."
"Sekalian beli telur."
"Siap."
"Sekalian isi galon."
"Baik."
"Sekalian beli sabun."
"Oke."
"Sekalian mampir ke warung Bu Ani."
"Oke."
"Sekalian tanya kabarnya."
Saya berhenti.
"Bu..."
"Iya?"
"Saya belanja atau jadi duta silaturahmi?"
Ibu tertawa.
"Kan sekalian."
Adik saya pernah protes.
"Bu, kenapa sih kalau kami duduk selalu disuruh?"
Ibu berpikir sebentar.
"Lho, kalau kalian lagi jalan, nanti ibu susah nyuruhnya."
Kami semua terdiam.
Jawaban itu terlalu sederhana.
Dan anehnya masuk akal.
Suatu malam kami berkumpul di ruang keluarga.
Saya, adik, dan Ayah duduk santai.
Ibu keluar sambil membawa keranjang cucian.
"Nak..."
Saya pura-pura melihat televisi.
"Nak..."
Adik pura-pura tidur.
"Nak..."
Ayah tiba-tiba berdiri.
"Saya bantu, Bu."
Saya dan adik kaget.
Ayah mengambil keranjang cucian.
Membawanya ke belakang.
Lalu kembali duduk.
Saya bertanya.
"Yah, kok langsung bantu?"
Ayah tersenyum bijaksana.
"Itu pengalaman."
"Pengalaman apa?"
"Kalau ibu memanggil tiga kali dan tidak ada yang bergerak..."
"Kenapa?"
"Nanti yang dikerjakan bukan satu pekerjaan."
"Lalu?"
"Bisa berkembang jadi ceramah dua jam."
Saya dan adik langsung berdiri.
"Bu, ada lagi yang bisa dibantu?"
Ibu tersenyum lebar.
"Nah, gitu dong."
Ayah menepuk bahu kami.
"Kalian cepat belajar."
Tapi setelah dipikir-pikir, kebiasaan ibu itu memang aneh sekaligus lucu.
Saat kecil kita sering mengeluh.
"Kenapa sih selalu disuruh?"
Namun ketika mulai dewasa dan tinggal jauh dari rumah, justru suara itu yang
dirindukan.
"Nak, tolong belikan bawang."
"Nak, ambilkan ibu teh."
"Nak, sekalian beli gula."
Bahkan mungkin suatu hari nanti, saat pulang ke rumah dan ibu tidak lagi
menyuruh apa-apa, rumah justru terasa terlalu sepi.
Jadi sekarang, setiap kali ibu memanggil saat saya baru duduk santai, saya
sudah pasrah.
Karena saya sadar, mungkin ibu memang punya kemampuan khusus untuk
mendeteksi momen paling nyaman seseorang sebelum menyuruhnya berdiri.
Dan sepertinya kemampuan itu adalah warisan turun-temurun yang hanya
dimiliki para ibu di seluruh Indonesia.
Nah, kalau di rumah Anda, apa suruhan ibu yang paling lucu atau
paling sering muncul tepat saat Anda baru duduk santai?
No comments:
Post a Comment