Baru Menonton Satu Video YouTube 12 Menit, Besoknya Sudah Siap
Mengajar Para Ahli!
Di era internet, ilmu pengetahuan berkembang sangat
cepat. Apa pun bisa dipelajari secara online. Memasak, memperbaiki motor,
membuat website, berkebun, hingga cara memelihara ikan yang katanya bisa
mengenali wajah pemiliknya.
Masalahnya bukan pada ilmunya.
Masalahnya adalah munculnya spesies manusia baru yang
sangat unik.
Mereka menonton satu video YouTube berdurasi 12 menit.
Lalu tiba-tiba merasa menjadi pakar internasional.
Korban sekaligus pelaku dalam cerita kali ini adalah
seorang pria bernama Jamal.
Jamal sebenarnya orang baik.
Ramah.
Sopan.
Rajin membantu tetangga.
Tetapi ia memiliki satu kebiasaan yang membuat
teman-temannya sering sakit perut karena tertawa.
Jamal selalu merasa menjadi ahli setelah menonton satu
video YouTube.
Satu video.
Bukan satu kursus.
Bukan satu semester kuliah.
Bukan satu tahun pengalaman.
Satu video.
Kisah ini dimulai ketika Jamal menonton video berjudul:
"Rahasia Menjadi Investor Sukses dalam 10
Menit."
Video itu berdurasi 11 menit 43 detik.
Setelah selesai menonton, Jamal langsung berubah.
Besok paginya ia datang ke warung kopi dengan ekspresi
seperti penasihat ekonomi dunia.
Temannya, Ucok, baru saja duduk.
Jamal langsung membuka pembicaraan.
"Cok."
"Iya?"
"Sudah saatnya kamu berpikir tentang diversifikasi
aset."
Ucok hampir menjatuhkan gelas.
"Diversifikasi apa?"
"Aset."
"Aset saya cuma motor dan sandal."
"Itulah masalahnya."
Ucok menatapnya.
"Kamu belajar dari mana?"
"YouTube."
"Berapa lama?"
"Sebelas menit."
Ucok mengangguk.
"Oh, jadi sekarang kamu Warren Buffett versi paket
hemat."
Seminggu kemudian, Jamal menemukan video baru.
Kali ini tentang kesehatan.
Judulnya:
"Tujuh Rahasia Tubuh Sehat yang Tidak Diketahui
Dokter."
Selesai menonton, Jamal langsung menjadi konsultan
kesehatan keliling.
Di acara keluarga, ia melihat pamannya minum kopi.
"Paman."
"Kenapa?"
"Itu tidak baik."
"Lho?"
"Kafein berlebihan dapat memengaruhi ritme biologis
tubuh."
Pamannya terdiam.
"Kamu dokter?"
"Bukan."
"Perawat?"
"Bukan."
"Mahasiswa kedokteran?"
"Bukan."
"Terus?"
"Saya baru menonton video."
Pamannya mengangguk.
Lalu melanjutkan minum kopi dengan lebih tenang.
Puncaknya terjadi saat Jamal menonton video tentang
perbaikan mesin motor.
Durasi video itu hanya 15 menit.
Esoknya, ia merasa siap membuka bengkel.
Tetangganya, Pak Hasan, sedang mengalami masalah motor
mogok.
Jamal langsung datang.
"Biarkan saya lihat."
Pak Hasan bertanya.
"Kamu paham mesin?"
"Sedikit."
Padahal yang dimaksud sedikit adalah seperempat jam
menonton YouTube semalam.
Jamal membuka tutup mesin.
Memegang beberapa kabel.
Mengangguk serius.
Lalu berkata:
"Hmm..."
Pak Hasan mulai kagum.
"Wah, kelihatannya kamu mengerti."
Jamal menjawab,
"Tidak juga."
"Lalu kenapa bilang hmm?"
"Supaya terlihat profesional."
Setelah lima belas menit mengutak-atik motor, hasilnya
luar biasa.
Motor yang tadinya hanya mogok...
sekarang tidak bisa dinyalakan sama sekali.
Pak Hasan bertanya pelan.
"Jadi bagaimana?"
Jamal menjawab lebih pelan.
"Mungkin kita perlu memanggil orang yang
benar-benar mengerti."
Namun penyakit "ahli instan" itu terus
berkembang.
Suatu malam Jamal menonton video tentang psikologi.
Besoknya ia mulai menganalisis semua orang.
Temannya terlambat datang.
Jamal langsung berkata:
"Kamu mengalami konflik batin."
"Bukan."
"Lalu?"
"Saya bangun kesiangan."
Temannya yang lain terlihat murung.
Jamal berkata:
"Kamu sedang mengalami krisis identitas."
"Bukan."
"Lalu?"
"Dompet saya hilang."
Teman-temannya mulai kesal.
Tetapi juga terhibur.
Karena setiap minggu Jamal memiliki keahlian baru.
Pernah suatu hari ia menonton video tentang astronomi.
Besoknya ia menunjuk langit malam.
"Itu konstelasi."
Temannya bertanya.
"Yang mana?"
"Itu."
"Itu lampu menara."
"Oh."
Minggu berikutnya ia menonton video memasak.
Lalu merasa dirinya koki profesional.
Ia mengundang teman-temannya makan malam.
"Aku akan membuat resep internasional."
Semua datang dengan antusias.
Dua jam kemudian makanan tersaji.
Penampilannya menarik.
Aromanya meyakinkan.
Rasanya...
membingungkan.
Ucok mencoba satu suap.
"Lumayan."
Jamal tersenyum bangga.
Ucok melanjutkan,
"Tapi saya belum tahu ini ayam, ikan, atau
eksperimen laboratorium."
Suatu hari, teman-temannya memutuskan membuat jebakan
kecil.
Mereka sengaja bertanya.
"Jamal, apakah kamu mengerti tentang penerbangan
pesawat?"
"Tentu."
"Kapan belajar?"
"Tadi pagi."
"Video berapa lama?"
"Sekitar sembilan menit."
Semua tertawa.
Lalu Ucok bertanya serius.
"Kalau begitu, jelaskan bagaimana pesawat bisa
terbang."
Jamal berpikir.
Lama.
Sangat lama.
Akhirnya ia menjawab:
"Karena... mesin dan semangat."
Warung kopi langsung meledak oleh tawa.
Namun kejadian paling lucu terjadi saat Jamal menghadiri
seminar sungguhan.
Pembicaranya adalah seorang profesor yang telah meneliti
bidangnya selama lebih dari tiga puluh tahun.
Di tengah sesi tanya jawab, Jamal mengangkat tangan.
"Prof, menurut video yang saya tonton
semalam..."
Kalimat itu bahkan belum selesai.
Peserta lain sudah mulai tertawa.
Profesor tersenyum bijak.
"Berapa lama videonya?"
"Dua belas menit."
Profesor mengangguk.
"Saya meneliti topik ini selama tiga puluh dua tahun."
Ruangan langsung bergemuruh oleh tawa.
Bahkan Jamal ikut tertawa.
Sejak saat itu, Jamal mulai menyadari sesuatu.
Menonton video memang bisa menambah wawasan.
Tetapi wawasan dan keahlian adalah dua hal yang berbeda.
Menonton video tentang memasak tidak otomatis menjadikan
seseorang koki.
Menonton video tentang mesin tidak langsung membuat
seseorang menjadi montir.
Dan menonton video tentang investasi selama sepuluh
menit tidak membuat rekening otomatis bertambah.
Sayangnya, kesadaran itu hanya bertahan sekitar dua
minggu.
Karena setelah itu Jamal menemukan video baru berjudul:
"Cara Menjadi Ahli Public Speaking dalam 8
Menit."
Dan seperti biasa, keesokan harinya ia sudah siap
memberikan pelatihan.
Sampai hari ini, teman-temannya memiliki aturan sederhana.
Kalau Jamal berkata:
"Saya baru menonton video menarik semalam."
Mereka langsung bertanya:
"Baik. Jadi minggu ini kamu ahli bidang apa?"
Dan anehnya, pertanyaan itu hampir selalu memiliki
jawaban baru.
Karena bagi Jamal, internet bukan sekadar sumber informasi.
Internet adalah universitas ajaib yang mampu mengubah
seseorang menjadi pakar baru setiap hari.
Setidaknya menurut dirinya sendiri.
Nah, bagaimana dengan Anda? Pernahkah bertemu orang yang merasa
menjadi ahli setelah menonton satu video YouTube, atau mungkin Anda sendiri
pernah mengalaminya? Bidang apa yang waktu itu membuat Anda merasa paling
percaya diri?
No comments:
Post a Comment