Aku Cuma Salah Ketik Tiga Huruf… Tapi Besoknya Satu Kampung Datang
Melayat!
Di zaman sekarang, salah ketik di media sosial bisa lebih berbahaya daripada
salah belok di jalan raya. Kalau salah belok, paling-paling nyasar ke kampung
sebelah. Tapi kalau salah ketik status, bisa nyasar ke grup keluarga, grup
alumni, grup RT, bahkan ke hati mantan yang sudah susah payah melupakan kita.
Cerita ini dialami oleh seorang pemuda bernama Jufri, warga kampung yang
terkenal aktif di media sosial. Saking aktifnya, kalau ayam berkokok jam lima
pagi, status Jufri sudah muncul tiga kali.
Suatu malam, Jufri sedang rebahan sambil bermain ponsel. Matanya sudah
setengah tertutup, tetapi semangat membuat status masih menyala seperti lampu
jalan yang lupa dimatikan.
Hari itu ia baru saja membeli motor bekas.
Dengan penuh kebanggaan, ia ingin membuat status:
"Alhamdulillah, akhirnya punya motor impian."
Namun karena mengantuk dan jempolnya sudah bekerja tanpa pengawasan otak,
yang tertulis justru:
"Alhamdulillah, akhirnya punya MOTOR, INNALILLAHI."
Lalu ia menekan tombol kirim.
Dan tidur.
Tanpa dosa.
Tanpa rasa bersalah.
Tanpa mengetahui bahwa dunia sedang berubah.
Sekitar lima menit kemudian, notifikasi mulai berdatangan.
Ting!
Ting!
Ting!
Ting!
Namun Jufri sudah terlelap.
Sementara itu, warga kampung membaca status tersebut dengan wajah tegang.
Pak RT yang pertama melihat langsung menghubungi Ketua Takmir Masjid.
"Pak, ada kabar duka."
"Siapa meninggal?"
"Saya belum tahu. Tapi Jufri menulis innalillahi."
"Astagfirullah. Cepat cari informasi!"
Dalam waktu tiga puluh menit, rumor berkembang lebih cepat daripada diskon
akhir tahun.
Ada yang bilang ayah Jufri meninggal.
Ada yang bilang ibunya sakit keras.
Ada yang bilang motornya tertabrak kereta.
Bahkan ada yang lebih kreatif.
"Jangan-jangan Jufri sendiri yang meninggal, tapi sempat update status
dulu."
Pukul enam pagi, Jufri terbangun.
Ia heran karena ponselnya menunjukkan 386 notifikasi.
"Buset... viral kah saya?"
Ia membuka komentar.
Komentar pertama:
"Turut berduka cita, semoga keluarga diberi ketabahan."
Komentar kedua:
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."
Komentar ketiga:
"Kalau butuh bantuan pemakaman, kabari kami."
Jufri mengucek mata.
"Meninggal siapa?"
Ia membaca statusnya sendiri.
Lalu wajahnya berubah seperti mahasiswa yang baru sadar ujian hari ini
ternyata bukan minggu depan.
"YA AMPUNNNN!"
Ia langsung duduk tegak.
"Kenapa saya tulis innalillahi?!"
Belum sempat memperbaiki status, terdengar suara dari luar rumah.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamu'alaikum!"
Jufri keluar.
Di depan rumah sudah berdiri lima orang tetangga.
Membawa wajah prihatin.
Salah satu ibu langsung memegang tangannya.
"Nak, sabar ya."
"Sabar kenapa, Bu?"
"Kami tahu ini berat."
"Yang berat apa?"
"Musibah ini."
"Musibah yang mana?"
Semua saling pandang.
Seorang bapak bertanya pelan.
"Yang meninggal siapa?"
Jufri bengong.
"Lho... tidak ada yang meninggal."
Suasana langsung hening.
Bahkan ayam yang lewat seolah ikut berhenti mendengar.
"Kalau tidak ada yang meninggal, kenapa kamu tulis innalillahi?"
Jufri menelan ludah.
"Itu... salah ketik."
"SALAH KETIK?!"
Masalah belum selesai.
Ternyata kabar duka itu sudah menyebar ke grup keluarga besar.
Ponsel Jufri kembali berdering.
Panggilan video dari pamannya di Kalimantan.
"Jufri! Siapa yang meninggal?"
"Tidak ada, Paman."
"Kenapa statusmu begitu?"
"Salah ketik."
"Jadi saya menangis satu jam karena salah ketik?"
"Iya, Paman."
Paman langsung menutup telepon.
Bukan karena sinyal.
Karena emosi.
Sementara itu, grup keluarga semakin panas.
Bibi Rahma menulis:
"Saya sudah baca Yasin tiga kali."
Sepupu menulis:
"Saya sudah pesan tiket pulang."
Sepupu lain membalas:
"Tiketnya bisa direfund tidak?"
Yang paling marah adalah neneknya.
Nenek menelepon dengan suara bergetar.
"Nak."
"Iya, Nek."
"Nenek semalaman tidak tidur."
"Maaf, Nek."
"Nenek pikir kamu kenapa-kenapa."
"Maaf, Nek."
"Nenek juga sudah cerita ke seluruh tetangga."
Jufri menutup mata.
Kerusakan sosial sudah tidak bisa dihitung lagi.
Untuk memperbaiki keadaan, Jufri membuat klarifikasi.
Status baru muncul:
"Mohon maaf semuanya. Tidak ada yang meninggal. Saya hanya salah ketik
saat membuat status tentang motor baru."
Ia berharap masalah selesai.
Ternyata tidak.
Komentar baru berdatangan.
"Kalau cuma salah ketik, kenapa tidak dicek dulu?"
"Motor baru lebih penting daripada kesehatan mental warga
kampung?"
"Pak RT sampai batal sarapan."
"Bibi saya sampai nangis."
Bahkan ada yang menulis:
"Ini pertama kalinya saya melihat orang membeli motor dengan suasana
berkabung."
Seminggu kemudian, Jufri menghadiri acara hajatan.
Ia pikir semua orang sudah lupa.
Ternyata tidak.
Begitu masuk lokasi, seorang bapak menyapanya.
"Oh, ini yang motornya meninggal."
Bapak lain tertawa.
"Hahaha, iya. Saya hampir kirim karangan bunga waktu itu."
Anak-anak kecil pun ikut mengejek.
"Om Innalillahi datang!"
Sejak saat itu, nama panggilannya berubah.
Bukan lagi Jufri.
Bukan lagi Jup.
Melainkan:
Jufri Innalillahi.
Nama yang terus melekat selama bertahun-tahun.
Puncaknya terjadi beberapa bulan kemudian ketika ia hendak menjual motor
tersebut.
Calon pembeli bertanya:
"Motor ini sehat?"
Jufri menjawab:
"Sehat sekali."
Temannya langsung menyela.
"Jangan percaya. Dulu motor itu pernah diumumkan meninggal di
Facebook."
Semua orang tertawa.
Calon pembeli ikut tertawa.
Motor tidak jadi terjual.
Dan lagi-lagi penyebabnya adalah tiga huruf yang tidak pada tempatnya.
Dari kejadian itu, Jufri mengambil pelajaran berharga.
Sebelum mengirim status, periksa dulu tulisannya.
Karena satu salah ketik bisa membuat satu kampung panik.
Dua salah ketik bisa membuat grup keluarga ribut.
Dan tiga salah ketik bisa membuat seseorang memperoleh julukan yang tidak
akan pernah hilang sampai cucunya lahir.
Sampai hari ini, kalau ada warga kampung yang hendak membuat status, mereka
selalu saling mengingatkan:
"Cek dulu sebelum kirim. Jangan sampai nasibmu seperti Jufri
Innalillahi."
Dan anehnya, nasihat itu jauh lebih efektif daripada seminar literasi
digital selama tiga jam.
Kalau Anda pernah salah ketik di media sosial, apa kejadian paling
memalukan yang pernah terjadi setelahnya? 😄
No comments:
Post a Comment