Sunday, July 5, 2026

Saya Mau Menelepon Bos, Tapi yang Muncul Malah Ibu-Ibu Sedang Mengulek Sambal!

 

Saya Mau Menelepon Bos, Tapi yang Muncul Malah Ibu-Ibu Sedang Mengulek Sambal!

Di era digital seperti sekarang, video call telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Rapat dilakukan lewat video call. Wawancara kerja lewat video call. Bahkan ada yang pacaran lebih sering lewat video call daripada bertemu langsung.

Sayangnya, teknologi secanggih apa pun tetap memiliki satu kelemahan besar:

manusia yang menggunakannya.

Dan manusia yang menjadi korban kali ini adalah seorang pegawai bernama Rahmat, pria yang terkenal rajin, sopan, dan... sedikit ceroboh.

Tidak sedikit.

Oke, sangat ceroboh.

 

Pagi itu Rahmat mendapat pesan dari atasannya.

"Jam 09.00 kita video call untuk membahas laporan."

Rahmat langsung panik.

Laporan memang sudah selesai, tetapi ia belum mandi.

Jam menunjukkan pukul 08.55.

Ia berlari ke kamar mandi seperti atlet lari estafet yang baru menerima tongkat.

Lima menit kemudian ia keluar dengan rambut masih basah dan kemeja yang belum dikancingkan sempurna.

Tepat pukul 09.00, notifikasi masuk.

Bos mengirim pesan:

"Silakan hubungi saya sekarang."

Rahmat langsung membuka aplikasi dan mencari nama bosnya.

Karena terburu-buru, ia tidak memperhatikan foto profil.

Ia hanya melihat huruf depan yang sama.

Lalu menekan tombol video call.

 

Nada sambung berbunyi.

Tuut...

Tuut...

Tuut...

Rahmat tersenyum.

"Bagus, bos cepat angkat."

Beberapa detik kemudian panggilan terhubung.

Namun yang muncul di layar bukan wajah bosnya.

Melainkan seorang ibu-ibu berusia sekitar lima puluh tahun.

Sedang duduk di dapur.

Mengulek sambal.

Keduanya saling menatap.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Lima belas detik.

Tidak ada yang bicara.

Akhirnya ibu itu membuka percakapan.

"Siapa ini?"

Rahmat langsung membeku.

"Eh..."

"Kenapa video call saya?"

"Maaf Bu."

"Anda siapa?"

"Saya juga kurang yakin sekarang, Bu."

 

Ternyata Rahmat salah menelepon kontak bernama Bu Ramlah, penjual kerupuk yang nomornya pernah tersimpan karena urusan acara kampung.

Sementara bosnya bernama Pak Ramli.

Dalam kondisi panik, otaknya hanya membaca tiga huruf pertama.

Ram.

Sisanya diabaikan.

 

Rahmat buru-buru mengakhiri panggilan.

Lalu menarik napas panjang.

"Untung cuma ibu-ibu."

Ia lalu mencari kontak yang benar.

Namun karena gugup, jari tangannya kembali salah menekan.

Video call kedua pun meluncur.

Kali ini yang mengangkat adalah seorang bapak tua.

Sedang tiduran di teras.

"Assalamu'alaikum."

Rahmat menutup mata.

"Wa'alaikumussalam."

"Siapa ya?"

"Maaf Pak, salah orang lagi."

Bapak itu tertawa.

"Kalau cari jodoh bukan lewat daftar kontak, Nak."

Klik.

Panggilan berakhir.

 

Sementara itu waktu terus berjalan.

Bos mulai bertanya melalui chat.

"Sudah siap video call?"

Rahmat menjawab:

"Siap Pak."

Padahal kenyataannya ia sedang tersesat di daftar kontak.

 

Pada percobaan ketiga, ia akhirnya berhasil menghubungi orang yang tepat.

Setidaknya begitu pikirnya.

Begitu panggilan tersambung, muncul seorang pria berkacamata.

Rahmat langsung bicara.

"Selamat pagi Pak. Laporan sudah saya siapkan."

Pria itu mengernyit.

"Laporan apa?"

Rahmat berhenti.

"Lho?"

"Lho?"

Mereka saling menatap.

Rahmat melihat nama di layar.

Ternyata itu Pak Ramdan.

Tetangganya.

Bukan Pak Ramli.

Rahmat hampir menangis.

"Maaf Pak."

"Ini lomba salah sambung ya?"

 

Setelah tiga kali gagal, Rahmat mulai merasa daftar kontaknya adalah jebakan hidup.

Akhirnya ia menelepon bos yang sebenarnya.

Kali ini berhasil.

Bos muncul di layar.

Rahmat merasa seperti seorang pelaut yang akhirnya menemukan daratan setelah terombang-ambing di tengah lautan.

"Selamat pagi Pak."

"Selamat pagi."

Bos memperhatikan wajah Rahmat.

"Kamu kenapa terlihat lelah?"

Rahmat tertawa kaku.

"Tidak apa-apa Pak."

Padahal lima menit sebelumnya ia baru saja mengganggu tiga orang tak bersalah.

 

Rahmat mengira cerita itu selesai.

Ternyata belum.

Karena beberapa jam kemudian ia menerima pesan WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal.

Pesan pertama berbunyi:

"Nak, sudah ketemu bosnya?"

Rahmat bingung.

Ternyata itu ibu-ibu pengulek sambal tadi.

Ia membalas:

"Sudah Bu."

"Alhamdulillah. Saya kira kamu lagi cari alamat."

Rahmat hanya bisa tertawa.

 

Sore harinya pesan lain masuk.

Kali ini dari bapak yang tiduran di teras.

"Kalau mau video call lagi, kabari dulu. Saya cukur rambut dulu."

Rahmat hampir tersedak minuman.

 

Yang lebih parah lagi terjadi keesokan harinya.

Saat menghadiri acara warga, beberapa orang mulai tersenyum melihatnya.

Salah satu bapak bertanya.

"Ini yang kemarin video call sembarang orang?"

Rahmat langsung curiga.

"Bagaimana bisa tahu?"

"Oh, Bu Ramlah sudah cerita."

"Apa?"

"Ke grup warga."

Rahmat memejamkan mata.

Karier digitalnya tamat.

 

Ternyata cerita itu sudah menyebar.

Versi yang beredar bahkan semakin liar.

Ada yang bilang Rahmat sedang mencari saudara hilang.

Ada yang bilang ia sedang melakukan survei dapur warga.

Ada yang bilang ia sedang casting peserta lomba sambal.

Yang paling parah, ada yang bertanya:

"Jadi ibu yang ngulek sambal itu keterima kerja atau tidak?"

 

Sejak hari itu, Rahmat mengambil pelajaran penting.

Sebelum melakukan video call, pastikan dulu siapa yang akan ditelepon.

Periksa nama.

Periksa foto profil.

Periksa lagi.

Kalau perlu, baca doa terlebih dahulu.

Karena satu sentuhan jari yang salah bisa membuat Anda masuk ke dapur orang lain, mengganggu bapak yang sedang santai, dan menjadi bahan gosip satu kampung.

 

Namun puncak komedi terjadi seminggu kemudian.

Rahmat sedang berjalan di pasar ketika mendengar seseorang memanggil.

"Nak!"

Ia menoleh.

Ternyata Bu Ramlah.

Ibu pengulek sambal legendaris.

"Sudah kenal saya kan?"

"Tentu, Bu."

"Kalau lain kali mau video call, jangan pas saya lagi bikin sambal."

Rahmat tertawa.

"Baik, Bu."

Lalu Bu Ramlah menambahkan:

"Soalnya kemarin saya belum sempat tunjukkan hasil ulekan saya."

Rahmat langsung tertawa terbahak-bahak.

Dan sejak saat itu, setiap kali membuka daftar kontak, ia selalu memeriksa nama dua kali.

Karena pengalaman telah mengajarkannya bahwa salah video call bukan sekadar kesalahan teknis.

Kadang-kadang itu bisa menjadi awal persahabatan baru.

Atau awal menjadi legenda komedi di grup warga.

 

😄 Pernahkah Anda salah menelepon atau salah video call seseorang hingga menimbulkan situasi yang sangat memalukan atau justru lucu? Cerita Anda seperti apa?

 

No comments:

Post a Comment