Saturday, September 12, 2026

Gaji Presiden RT Ternyata Cuma Senyum

 

"Gaji Presiden RT Ternyata Cuma Senyum"

Tokoh:

  • Pak RT (Bambang) – RT yang baik hati tapi sedang kepentok urusan pribadi.
  • Pak RW (Haji Sodikin) – RW galak yang hobinya manggil razia dadakan.
  • Bu RT (Yati) – istri Pak RT, emak-emak dengan logika besi.
  • Mang Ujang – warga paling kocak, tukang gosip RT.
  • Bu RT Sementara (Pak Bambang sendiri) – iya, dia jadi RT dan wakil RT plus sekretaris sekaligus.

Latar: Rumah Pak RT yang berantakan karena ditinggal Bu RT, ruang tamu dengan papan pengumuman penuh tempelan STNK mati dan undangan arisan.

 

Babak 1: Pagi yang Kacau

(Pagi hari. Pak Bambang duduk di teras sambil nyeruput kopi pahit. Wajahnya lesu seperti orang yang baru sadar utangnya banyak.)

Bu Yati: (sambil berkemas-kemas dengan koper besar)
Bang, saya titip RT-nya seminggu, ya. Saya mau ke rumah mama. Mama lagi kesepian, katanya kangkung di belakang rumah pada mati gara-gara nggak ada yang nyinyirin.

Pak Bambang:
Yat, seminggu? Lo tahu sendiri jadi RT itu kayak jadi ART-nya 50 kepala keluarga. Ada yang minta bikin KTP, ada yang komplain selokan mampet, ada yang ribut karena ayam tetangga nyeberang pagar!

Bu Yati: (sambil merapikan jilbab)
Tenang, Bang. Lo kan cuma sehari jadi presiden RT. Besok saya balik lagi. Lagian, apa sih susahnya? Kerjaan lo cuma: dengerin curhatan, manggil rapat, terus senyum-senyum. Gajinya aja cuma senyum.

Pak Bambang:
Nah itu dia, Yat! Gaji presiden RT tuh senyum! Nggak ada uang, nggak ada BPJS, cuma minta senyum. Sekarang, istri presiden RT juga ninggalin. Ini mah presiden galau.

(Bu Yati pergi. Pak Bambang sendirian. Tiba-tiba telepon berdering.)

 

Babak 2: Saat Pak RW Menelepon

Pak RW (lewat speaker, dengan suara berat kayak komandan Paspampres):
Bambang! Nanti jam 10 ada razia dadakan dari kecamatan. Siapkan laporan warga, data KK, dan jangan lupa sediakan kopi untuk saya. Saya bawa timer untuk cek kecepatan pelayanan RT!

Pak Bambang: (keringat dingin)
Ba-pak RW, maaf, bu... Istri saya lagi keluar kota. Saya sendiri nih.

Pak RW:
Sendiri? Bagus. Berarti lo bisa fokus. Nggak ada alasan disuruh nyuapin kucing atau beli tahu bulat. Saya datang jam 10 tepat. Salam sukses, salam satu data!

(Tutup telepon. Pak Bambang pingsan selama tiga detik, lalu bangun karena ada Mang Ujang sudah berdiri di depannya.)

Mang Ujang:
Pak RT, saya mau lapor. Ayam saya ketularan marah. Dikira ayam tetangga ngintipin ayam saya mandi. Ini mau bikin laporan resmi. Tolong tandatangani.

Pak Bambang: (memejamkan mata)
Ujang, lo tahu kan ayam nggak pakai KTP? Dan ayam nggak mandi di kamar mandi.

Mang Ujang:
Tapi perasaan saya tersinggung, Pak RT. Saya warga. Saya bayar iuran keamanan. Saya minta keadilan untuk ayam saya yang mentalnya terganggu.

(Pak Bambang menandatangani kertas kosong hanya untuk menyuruh Mang Ujang pergi.)

 

Babak 3: Presiden RT Mulai Bertindak

(Jam 09.00. Pak Bambang sendirian di ruang RT. Di depannya: tumpukan formulir, pengumuman arisan, dan sepiring pisang goreng dingin.)

Pak Bambang: (bergumam sambil membuka laptop butut)
Oke, Bambang. Lo bisa. Lo presiden RT sehari. Lo cuma perlu:

  1. Bikin laporan warga.
  2. Siapin data KK.
  3. Terima tamu RW.
  4. Mending lo nangis aja, Bang.

(Tiba-tiba, Bu RT baru yang menggantikan Bu Yati… ternyata ya Pak Bambang sendiri. Dia memakai daster dan kerudung punya istri.)

Pak Bambang (sebagai Bu RT Sementara): (dengan suara dibuat-buat tinggi)
Halo, warga sekalian. Saya Bu RT pengganti. Yang butuh bantuan, antre dengan sopan. Yang mau ngadu ayamnya stres, silakan ke belakang. Saya siapkan pos ronda jadi pos pengaduan.

(Mang Ujang datang lagi. Kali sambil bawa ayamnya.)

Mang Ujang:
Bu RT, saya lihat ayam saya sekarang malas bertelur. Padahal tiap pagi saya kasih lihat video ayam petelur sukses dari YouTube. Ini trauma atau generasi micin, Bu?

Pak Bambang (daster): (menahan napas panjang)
Ujang, ayam lo nggak butuh life coaching. Ayam lo butuh jagoan. Kasih makan yang banyak. Berhenti bikin ayam lo jadi konten TikTok.

Mang Ujang:
Bu RT ini tegas. Saya suka. Tapi kok kumisnya tumbuh, Bu?

Pak Bambang (daster):
Itu… karena saya lagi perawatan laser. Kumis itu sisa kemarin. Sekarang pergi, Ujang!

 

Babak 4: Rapat Dadakan dengan Pak RW

(Jam 10.00. Pak RW datang dengan kacamata hitam, jas safari, dan tas selempang berisi stopwatch.)

Pak RW:
Bambang, mana laporan? Saya stopwatch dari sekarang. Dalam 3 menit saya mau lihat data KK lengkap, peta rumah warga, dan daftar warga yang suka nyanyi karaoke tengah malam.

Pak Bambang (kini sudah melepas daster, kembali jadi dirinya):
Pak RW, jujur… istri saya yang biasa pegang semuanya. Saya cuma pegang remote TV dan sendok nasi goreng.

Pak RW: (melepas kacamata hitam, matanya melotot)
Apa? Jadi RT 03 ini selama ini dijalankan oleh seorang ibu rumah tangga yang hebat, dan lo cuma jadi maskot? Lo itu presiden RT atau presiden bantuan?

Pak Bambang:
Presiden… yang butuh presiden lain, Pak. Saya mohon waktu 1 jam. Saya akan kumpulkan data dengan cara… dengan cara jemput bola ke rumah warga satu-satu.

Pak RW: (terdiam, lalu tertawa)
Oke, Bambang. Lo punya 1 jam. Kalau gagal, RT 03 akan saya bubarkan. Warga akan saya pindahkan ke RT 05 yang ketuanya mantan satpam bank. Tegas dan disiplin!

(Pak RW duduk di sofa sambil memencet stopwatch. Pak Bambang lari pontang-panting keluar rumah.)

 

Babak 5: Keajaiban Satu Jam

(Selama 1 jam, Pak Bambang berkeliling. Dia minta data KK ke warga. Hasilnya? Warga pada kasihan.)

Bu RT 03 (warga, bukan istri Bambang):
Masa sih Pak Bambang sendirian? Kasihan. Nih, saya pinjamkan laptop. Ini data saya.

Mang Ujang (tiba-tiba jadi bertanggung jawab):
Saya bantu, Pak RT. Ayam saya saya ikat dulu. Ini data ayam-ayam tetangga juga saya rekam. Saya punya database karena saya memang tukang gosip.

Warga lain:
Pak, ini daftar KK keluarga saya. Saya juga bantu koordinasi. RT kita jangan dibubarkan. Nanti siapa yang mau repot ngurusin selokan?

(Jam 10.59. Pak Bambang kembali ke rumah dengan tangan penuh kertas, USB, dan satu ekor ayam pinjaman dari Mang Ujang untuk dijadiin bukti bahwa dia peduli pada unggas.)

Pak Bambang:
Pak RW, ini data lengkap. Termasuk daftar warga yang suka karaoke jam 2 malam (Mang Ujang, dengan lagu Kehilangan). Dan ini ayam sebagai simbol kerukunan RT 03.

Pak RW: (memeriksa data, tersenyum tipis)
Bambang, lo berhasil. Stopwatch berhenti di 59 menit 50 detik. Tapi satu syarat: lo harus jadi RT sendiri mulai minggu depan. Istri lo jadi wakil. Saya nggak mau RT dijalankan dari belakang layar. Lo harus belajar memimpin.

Pak Bambang: (gemetar)
Ba-Pak RW, saya… setuju. Tapi dengan satu syarat: gaji presiden RT dinaikkan jadi dua senyum. Sama satu laporan hasil curhat ke psikolog sekalian.

(Semua warga yang berkumpul tertawa. Pak RW tertawa paling keras. Mang Ujang memeluk ayamnya dengan haru.)

 

Penutup: Sore Hari, Istri Pulang

(Sore. Bu Yati pulang lebih cepat. Dia melihat rumah dipenuhi warga, laptop menyala, dan Pak Bambang tidur di sofa dengan tumpukan kertas di dadanya.)

Bu Yati:
Bang, lo kenapa? Kayak baru habis perang?

Pak Bambang (setengah sadar):
Yat… saya jadi presiden RT. Beneran. Mulai minggu depan.

Bu Yati: (tersenyum)
Bagus, Bang. Berarti lo butuh wakil presiden. Gajinya satu senyum. Saya terima.

Pak Bambang:
Saya cinta lo, Yat. Tapi tolong jangan titipin RT lagi. Saya trauma sama ayamnya Mang Ujang.

(Semua warga pulang sambil tertawa. Pak Bambang akhirnya tertidur dengan damai, meskipun dalam mimpinya dia dikejar stopwatch dan ayam karaoke.)

 

Pertanyaan untuk pembaca setia CERCU:

Nah, kalau Anda tiba-tiba diminta jadi Presiden RT selama sehari (tanpa istri/suami yang membantu), kira-kira hal paling kacau apa yang akan terjadi? Apakah Anda akan pusing ngurusin warung kopi yang jadi posko gosip, atau malah Anda bakal bikin kebijakan kontroversial seperti "Setiap rumah wajib punya ayam pelapor"? Tulis cerita versi Anda di kolom komentar, ya! Siapa tahu Anda lebih cocok jadi presiden daripada jadi RT. 😄🏡

 

Selamat tertawa dan jangan lupa: jadi RT itu mulia, tapi jadi warga yang baik hati itu gratis. Sampai jumpa di cerita lucu berikutnya!

 

 

No comments:

Post a Comment

Gaji Presiden RT Ternyata Cuma Senyum