"Gaji Presiden RT Ternyata Cuma Senyum"
Tokoh:
- Pak RT (Bambang) – RT yang
baik hati tapi sedang kepentok urusan pribadi.
- Pak RW (Haji
Sodikin) –
RW galak yang hobinya manggil razia dadakan.
- Bu RT (Yati) – istri Pak
RT, emak-emak dengan logika besi.
- Mang Ujang – warga
paling kocak, tukang gosip RT.
- Bu RT Sementara
(Pak Bambang sendiri) – iya, dia jadi RT dan wakil RT plus sekretaris
sekaligus.
Latar: Rumah Pak RT
yang berantakan karena ditinggal Bu RT, ruang tamu dengan papan pengumuman
penuh tempelan STNK mati dan undangan arisan.
Babak 1: Pagi yang Kacau
(Pagi
hari. Pak Bambang duduk di teras sambil nyeruput kopi pahit. Wajahnya lesu
seperti orang yang baru sadar utangnya banyak.)
Bu
Yati: (sambil
berkemas-kemas dengan koper besar)
Bang, saya titip RT-nya seminggu, ya. Saya mau ke rumah mama. Mama lagi
kesepian, katanya kangkung di belakang rumah pada mati gara-gara nggak ada yang
nyinyirin.
Pak
Bambang:
Yat, seminggu? Lo tahu sendiri jadi RT itu kayak jadi ART-nya 50 kepala
keluarga. Ada yang minta bikin KTP, ada yang komplain selokan mampet, ada yang
ribut karena ayam tetangga nyeberang pagar!
Bu
Yati: (sambil
merapikan jilbab)
Tenang, Bang. Lo kan cuma sehari jadi presiden RT. Besok saya balik lagi.
Lagian, apa sih susahnya? Kerjaan lo cuma: dengerin curhatan, manggil rapat,
terus senyum-senyum. Gajinya aja cuma senyum.
Pak
Bambang:
Nah itu dia, Yat! Gaji presiden RT tuh senyum! Nggak ada uang, nggak ada BPJS,
cuma minta senyum. Sekarang, istri presiden RT juga ninggalin. Ini mah presiden
galau.
(Bu
Yati pergi. Pak Bambang sendirian. Tiba-tiba telepon berdering.)
Babak 2: Saat Pak RW Menelepon
Pak
RW (lewat speaker, dengan suara berat kayak komandan Paspampres):
Bambang! Nanti jam 10 ada razia dadakan dari kecamatan. Siapkan laporan warga,
data KK, dan jangan lupa sediakan kopi untuk saya. Saya bawa timer untuk
cek kecepatan pelayanan RT!
Pak
Bambang: (keringat
dingin)
Ba-pak RW, maaf, bu... Istri saya lagi keluar kota. Saya sendiri nih.
Pak
RW:
Sendiri? Bagus. Berarti lo bisa fokus. Nggak ada alasan disuruh nyuapin kucing
atau beli tahu bulat. Saya datang jam 10 tepat. Salam sukses, salam
satu data!
(Tutup
telepon. Pak Bambang pingsan selama tiga detik, lalu bangun karena ada Mang
Ujang sudah berdiri di depannya.)
Mang
Ujang:
Pak RT, saya mau lapor. Ayam saya ketularan marah. Dikira ayam tetangga
ngintipin ayam saya mandi. Ini mau bikin laporan resmi. Tolong tandatangani.
Pak
Bambang: (memejamkan
mata)
Ujang, lo tahu kan ayam nggak pakai KTP? Dan ayam nggak mandi di kamar mandi.
Mang
Ujang:
Tapi perasaan saya tersinggung, Pak RT. Saya warga. Saya bayar iuran keamanan.
Saya minta keadilan untuk ayam saya yang mentalnya terganggu.
(Pak
Bambang menandatangani kertas kosong hanya untuk menyuruh Mang Ujang pergi.)
Babak 3: Presiden RT Mulai Bertindak
(Jam
09.00. Pak Bambang sendirian di ruang RT. Di depannya: tumpukan formulir,
pengumuman arisan, dan sepiring pisang goreng dingin.)
Pak
Bambang: (bergumam
sambil membuka laptop butut)
Oke, Bambang. Lo bisa. Lo presiden RT sehari. Lo cuma perlu:
- Bikin laporan
warga.
- Siapin data KK.
- Terima tamu RW.
- Mending lo
nangis aja, Bang.
(Tiba-tiba,
Bu RT baru yang menggantikan Bu Yati… ternyata ya Pak Bambang sendiri. Dia
memakai daster dan kerudung punya istri.)
Pak
Bambang (sebagai Bu RT Sementara): (dengan suara dibuat-buat
tinggi)
Halo, warga sekalian. Saya Bu RT pengganti. Yang butuh bantuan, antre dengan
sopan. Yang mau ngadu ayamnya stres, silakan ke belakang. Saya siapkan pos
ronda jadi pos pengaduan.
(Mang
Ujang datang lagi. Kali sambil bawa ayamnya.)
Mang
Ujang:
Bu RT, saya lihat ayam saya sekarang malas bertelur. Padahal tiap pagi saya
kasih lihat video ayam petelur sukses dari YouTube. Ini trauma atau generasi
micin, Bu?
Pak
Bambang (daster): (menahan
napas panjang)
Ujang, ayam lo nggak butuh life coaching. Ayam lo butuh jagoan.
Kasih makan yang banyak. Berhenti bikin ayam lo jadi konten TikTok.
Mang
Ujang:
Bu RT ini tegas. Saya suka. Tapi kok kumisnya tumbuh, Bu?
Pak
Bambang (daster):
Itu… karena saya lagi perawatan laser. Kumis itu sisa kemarin. Sekarang pergi,
Ujang!
Babak 4: Rapat Dadakan dengan Pak RW
(Jam
10.00. Pak RW datang dengan kacamata hitam, jas safari, dan tas selempang
berisi stopwatch.)
Pak
RW:
Bambang, mana laporan? Saya stopwatch dari sekarang. Dalam 3 menit saya mau
lihat data KK lengkap, peta rumah warga, dan daftar warga yang suka nyanyi
karaoke tengah malam.
Pak
Bambang (kini sudah melepas daster, kembali jadi dirinya):
Pak RW, jujur… istri saya yang biasa pegang semuanya. Saya cuma pegang remote
TV dan sendok nasi goreng.
Pak
RW: (melepas
kacamata hitam, matanya melotot)
Apa? Jadi RT 03 ini selama ini dijalankan oleh seorang ibu rumah tangga yang
hebat, dan lo cuma jadi maskot? Lo itu presiden RT atau presiden bantuan?
Pak
Bambang:
Presiden… yang butuh presiden lain, Pak. Saya mohon waktu 1 jam. Saya akan
kumpulkan data dengan cara… dengan cara jemput bola ke rumah
warga satu-satu.
Pak
RW: (terdiam,
lalu tertawa)
Oke, Bambang. Lo punya 1 jam. Kalau gagal, RT 03 akan saya bubarkan. Warga akan
saya pindahkan ke RT 05 yang ketuanya mantan satpam bank. Tegas dan disiplin!
(Pak
RW duduk di sofa sambil memencet stopwatch. Pak Bambang lari pontang-panting
keluar rumah.)
Babak 5: Keajaiban Satu Jam
(Selama
1 jam, Pak Bambang berkeliling. Dia minta data KK ke warga. Hasilnya? Warga
pada kasihan.)
Bu
RT 03 (warga, bukan istri Bambang):
Masa sih Pak Bambang sendirian? Kasihan. Nih, saya pinjamkan laptop. Ini data
saya.
Mang
Ujang (tiba-tiba jadi bertanggung jawab):
Saya bantu, Pak RT. Ayam saya saya ikat dulu. Ini data ayam-ayam tetangga juga
saya rekam. Saya punya database karena saya memang tukang
gosip.
Warga
lain:
Pak, ini daftar KK keluarga saya. Saya juga bantu koordinasi. RT kita jangan
dibubarkan. Nanti siapa yang mau repot ngurusin selokan?
(Jam
10.59. Pak Bambang kembali ke rumah dengan tangan penuh kertas, USB, dan satu
ekor ayam pinjaman dari Mang Ujang untuk dijadiin bukti bahwa dia peduli pada
unggas.)
Pak
Bambang:
Pak RW, ini data lengkap. Termasuk daftar warga yang suka karaoke jam 2 malam
(Mang Ujang, dengan lagu Kehilangan). Dan ini ayam sebagai simbol
kerukunan RT 03.
Pak
RW: (memeriksa
data, tersenyum tipis)
Bambang, lo berhasil. Stopwatch berhenti di 59 menit 50 detik. Tapi satu
syarat: lo harus jadi RT sendiri mulai minggu depan. Istri lo jadi wakil. Saya
nggak mau RT dijalankan dari belakang layar. Lo harus belajar memimpin.
Pak
Bambang: (gemetar)
Ba-Pak RW, saya… setuju. Tapi dengan satu syarat: gaji presiden RT dinaikkan
jadi dua senyum. Sama satu laporan hasil curhat ke psikolog sekalian.
(Semua
warga yang berkumpul tertawa. Pak RW tertawa paling keras. Mang Ujang memeluk
ayamnya dengan haru.)
Penutup: Sore Hari, Istri Pulang
(Sore.
Bu Yati pulang lebih cepat. Dia melihat rumah dipenuhi warga, laptop menyala,
dan Pak Bambang tidur di sofa dengan tumpukan kertas di dadanya.)
Bu
Yati:
Bang, lo kenapa? Kayak baru habis perang?
Pak
Bambang (setengah sadar):
Yat… saya jadi presiden RT. Beneran. Mulai minggu depan.
Bu
Yati: (tersenyum)
Bagus, Bang. Berarti lo butuh wakil presiden. Gajinya satu senyum. Saya terima.
Pak
Bambang:
Saya cinta lo, Yat. Tapi tolong jangan titipin RT lagi. Saya trauma sama
ayamnya Mang Ujang.
(Semua
warga pulang sambil tertawa. Pak Bambang akhirnya tertidur dengan damai,
meskipun dalam mimpinya dia dikejar stopwatch dan ayam karaoke.)
Pertanyaan untuk pembaca setia CERCU:
Nah,
kalau Anda tiba-tiba diminta jadi Presiden RT selama sehari (tanpa istri/suami
yang membantu), kira-kira hal paling kacau apa yang akan terjadi? Apakah Anda
akan pusing ngurusin warung kopi yang jadi posko gosip, atau malah Anda bakal
bikin kebijakan kontroversial seperti "Setiap rumah wajib punya ayam
pelapor"? Tulis cerita versi Anda di kolom komentar, ya! Siapa tahu Anda
lebih cocok jadi presiden daripada jadi RT. 😄🏡
Selamat
tertawa dan jangan lupa: jadi RT itu mulia, tapi jadi warga yang baik hati itu
gratis. Sampai jumpa di cerita lucu berikutnya!
No comments:
Post a Comment