Friday, February 6, 2026

Demografi Unyu: Menyelami Kota yang Penduduknya Seperti Sardin Kaleng (Tapi Tanpa Kuahnya)

 

Demografi Unyu: Menyelami Kota yang Penduduknya Seperti Sardin Kaleng (Tapi Tanpa Kuahnya)

Menyelami Kota yang Penduduknya Seperti Sardin Kaleng

Halo, para pencari tawa dan pelarian dari deadline! Selamat datang lagi di Cercu, sudut kecil di internet yang lebih sering diwarnai tawa ngakak daripada analisis serius. Kali ini, kita akan mengupas sesuatu yang katanya ilmiah: Studi Demografi. Tapi tenang, kita bahas dengan gaya santai ala tetangga yang ngerumpi di warung kopi, lengkap dengan bumbu-bumbu absurditas khas kehidupan kota padat.

Jadi, apa itu demografi? Secara gampang, itu ilmu yang mempelajari tentang penduduk. Nah, coba sekarang kita bayangkan sebuah kota yang padat dihuni oleh banyak penduduk. Waduh, definisinya saja sudah kayak air di laut: basah. Tapi serius, kota seperti apa sih itu? Bayangkan sebuah tempat di mana kepadatan penduduknya begitu tinggi, sampai-sampai personal space adalah mitos yang setara dengan unicorn atau parkir mobil gratis di hari Minggu.

Mari kita telusuri dengan kacamata antropologis (baca: mata ngantuk pengamat warung).

Bab 1: Transportasi Umum, atau “Survival of the Fittest” Versi Modern

Di kota padat, transportasi umum bukan sekadar alat mobilitas. Ia adalah ajang pembuktian diri, arena gladiator abad 21. Naik kereta komuter di jam sibuk adalah pengalaman spiritual yang mendalam. Anda akan belajar arti kesabaranketahanan fisik, dan seni mengompres tubuh menjadi bentuk 2D.

Ada sebuah fenomena unik: Hukum Kekekalan Massa dalam Gerbong Kereta. Meski terlihat sudah penuh sesak, selalu saja ada ruang untuk “satu orang lagi”. Penumpang berpengalaman menguasai seni melipatgandakan diri dan memasuki gerbong dengan gerakan fluida, seolah-olah tulang mereka terbuat dari slime. Kadang Anda tak perlu berjalan; Anda hanya perlu menyerahkan diri pada arus manusia dan tiba-tiba sudah berada di dalam, terjepit antara tas punggung seseorang dan siku yang tak tahu malu.

Konduktor? Mereka adalah para pesulap. Teriakan “diperhatikan antara gerbong dan peron!” adalah mantra yang mereka ucapkan, meski semua orang tahu itu hanyalah formalitas. Yang lebih efektif adalah teriakan, “Ayo geser ke dalam! Masih luas di dalam!” padahal yang terlihat hanyalah daging berbalut kain yang padat merata.

Bab 2: Real Estate: Mimpi Sepotong Bumi dan Ilusi Vertikal

Di kota padat, konsep “rumah” mengalami distorsi yang lucu (kalau tidak ingin menangis). Rumah idaman berubah dari “punya taman dan kolam renang” menjadi “punya jendela yang bisa lihat langit, bukan tembok tetangga”.

Para agen properti adalah narator cerita fiksi terbaik. Mereka akan menjual sebuah studio apartment berukuran 3x3 meter dengan deskripsi, “Cocok untuk kaum urban dinamis! View eksklusif ventilasi bangunan sebelah! Lokasi strategis, 5 menit ke stasiun!” (Catatan: “5 menit” itu jika Anda berlari seperti sedang dikejar zombie, dan itu pun setelah turun dari angkot yang macet).

Kosan-kosan menawarkan kamar dengan ukuran yang membuat Anda bertanya-tanya: apakah ini kamar atau lemari pakaian yang dimuliakan? Anda bisa menyentuh ketiga tembok sekaligus hanya dengan membentangkan tangan. Tidur, kerja, dan makan terjadi dalam radius 1,5 meter. Anda menjadi ahli ruang sempit. Menyetrika baju di atas kasur sambil menonton TV dan memasak mi instan di rice cooker menjadi sebuah skill hidup yang dibanggakan.

Bab 3: Interaksi Sosial: Senyum, Lirikan, dan Batas yang Samar

Hidup berdesakan melahirkan etika tidak tertulis yang sangat unik. Kode Mata adalah bahasa pertama. Ada tatapan “jangan kau pikirkan untuk antri di depan gue”, tatapan “maaf aku tak sengaja menginjak kakimu yang keseratus kalinya”, dan tatapan “tolong jangan ajak ngobrol di lift, kita sama-sama lelah”.

Pertanyaan seperti “Sudah makan?” atau “Mau ke mana?” bisa menjadi ancaman bagi privacy yang sudah sekarat. Orang lebih memilih komunikasi non-verbal: anggukan singkat, senyum tipis yang bahkan tak sampai menggerakkan otot pipi, atau mendengus sebagai tanda pengakuan keberadaan.

Tetangga di apartemen bisa saja hanya berjarak tembok triplek, tapi kalian bisa jadi tak saling kenal wajah. Namun, kalian tahu persis jadwal mereka mandi, lagu favorit mereka yang diputar berulang, dan kapan mereka bertengkar dengan pacar. Ini adalah kedekatan yang terpaksa, sebuah hubungan intim tanpa ikatan emosional. Kalian adalah keluarga yang tak pernah memilih untuk menjadi keluarga.

Bab 4: Kuliner dan Ritual Antrian

Kota padat adalah surganya makanan dan nerakanya antrian. Tempat makan yang bagus selalu memiliki antrian yang panjangnya sebanding dengan harga saham perusahaan teknologi. Orang rela mengantri selama satu jam untuk sepiring nasi campur atau segelas kopi kekinian. Antrian menjadi bagian dari pengalaman kuliner itu sendiri. Rasa lapar bercampur dengan rasa penasaran (“se-enak apa sih?”) dan kebanggaan sosial (“aku sudah coba itu lho!”).

Penjual kaki lima adalah ahli strategi. Mereka menempati setiap jengkal trotoar yang tersisa, menciptakan ekosistem mini. Aroma sate bercampur dengan bau gorengan dan asap knalpot, menciptakan perfume khas kota yang kita sebut “Eau de Metropolitan”.

Bab 5: Demografi Manusia-Manusia Unik

Kepadatan melahirkan spesies manusia urban yang khas:

The Sidewalk Racer: Pejalan kaki yang kecepatannya mendekati kecepatan cahaya, zig-zag melewati kerumunan dengan presisi laser. Mereka membenci orang yang berjalan lambat atau berhenti tiba-tiba.

The Public Sleeper: Ahli tidur dalam kondisi apa pun. Di kereta yang bergetar, di halte yang bising, di kursi taman—mereka bisa tertidur lelap seolah di hotel bintang lima.

The Queue Philosopher: Ahli antri yang sudah mencapai pencerahan. Waktu antri digunakan untuk membaca buku tebal, merenungi hidup, atau sekadar memandang jauh ke depan dengan mata penuh kedamaian.

The Space Creator: Meski di tengah kepadatan, mereka selalu bisa menemukan/menciptakan sedikit ruang untuk diri mereka, entah dengan memainkan ponsel sambil menempel di tiang, atau duduk di tangga darurat.

Bab 6: Kontradiksi dan Keajaiban

Inilah paradoks terbesar kota padat: di tengah lautan manusia, kesepian justru bisa terasa sangat akut. Anda dikelilingi oleh ribuan orang, tapi merasa sendirian. Keramaian menjadi white noise yang justru menenggelamkan suara hati.

Tapi di sisi lain, dari chaos ini, lahir ketahanan dan kreativitas. Restoran dalam kontainer, bioskop di atap gedung, komunitas hobi di sudut taman yang sempit. Orang belajar beradaptasi, berimprovisasi, dan menemukan celah-celah kebahagiaan.

Solidaritas juga muncul dalam bentuk tak terduga: bantuan mendorong mobil yang mogok, petunjuk jalan yang diberikan dengan singkat namun tepat, atau sekadar geser sedikit badan di bangku taman untuk memberi tempat pada orang lain.

Penutup: Kota Padat adalah Sebuah Karakter

Jadi, studi demografi tentang kota padat ini, kalau menurut kita di Cercu, bukan cuma angka-angka: berapa juta jiwa, kepadatan sekian per km². Itu tentang pengalaman hidup yang absurd, keras, tapi seringkali lucu.

Itu tentang seni bertahan hidup di antara keringat orang lain, tentang menemukan kedamaian di tengah kebisingan, tentang tertawa kecil melihat kekonyolan situasi saat Anda terjebak macet atau harus antri untuk sekadar ke toilet umum.

Kota padat itu seperti sarden kaleng. Kita semua berdesakan, berbagi aroma (yang kadang kurang sedap), dan saling menopang agar tidak jatuh. Tapi, di dalam kaleng itulah terjadi interaksi, cerita, dan kehidupan yang berdenyut. Dan meski kita kadang ingin keluar dari kaleng itu, mencari tempat yang lebih lapang, ada semacam ikatan aneh yang membuat kita rindu akan kesemrawutan yang hidup itu.

Demikian laporan demografi ala Cercu. Intinya? Hidup di kota padat itu melelahkan, menjengkelkan, tapi juga pen warna-warni cerita lucu (yang biasanya baru lucu diceritakan ulang, saat sedang mengalaminya sih pengin marah-marah). Tetap santai, tetap tertawa, dan selamat menikmati desakan di kereta serta petualangan antri makan siang Anda!

Ditulis dengan semangat oleh seorang pengamat yang sedang terjepit di angkutan umum.

 

👉👉👉 PENERBIT BUKU


Thursday, February 5, 2026

AKU KIRIM SURAT ‘JANGAN BACA’, TERNYATA SI DOI BENAR BENAR NGGAK BACA"

 "AKU KIRIM SURAT ‘JANGAN  BACA’, TERNYATA SI DOI BENAR BENAR NGGAK BACA"

Halo para penghuni bumi yang pernah terjebak dalam  strategi marketing cinta ala kadarnya! Mari kita bicara  tentang satu hukum tak tertulis dalam dunia  pendekatan: "Lawan adalah Bunga". Maksudnya,  semakin kamu dilarang, semakin penasaran kamu ingin  tahu. Prinsip inilah yang jadi dasar operasi rahasia saya,  yang berakhir dengan kegagalan spektakuler karena satu  hal sederhana: ternyata doi bukan bunga, doi adalah  manusia normal yang bisa menuruti perintah.

Semuanya berpusat pada Rara—cewek yang buat saya  rela menghafal jadwal lesnya hanya agar bisa "tak  sengaja" berpapasan. Setelah berminggu-minggu  mengumpulkan nyali, saya memutuskan untuk  menggunakan senjata pamungkas: surat. Tapi bukan  sembarang surat. Saya terinspirasi dari video psikologi

daring yang menjanjikan "Cara Membuat Dia Penasaran  dalam 3 Detik!". Konsepnya adalah reverse psychology.

Perencanaan Operasi: When Overthinking Strikes

Saya duduk di kamar, menatap kertas kosong. Biasanya  orang menulis "Baca aku" atau "Untuk Rara". Tapi saya  ingin berbeda. Saya ingin menciptakan misteri. Sebuah  teka-teki eksistensial yang akan membuatnya tidak bisa  tidur.

Akhirnya, dengan keyakinan setinggi langit, saya menulis  di sampul amplop:

"JANGAN BACA SURAT INI."

Senyum puas mengembang di wajah saya. Genius! Saya  membayangkan ekspresi Rara: alis berkerut, mata penuh  tanya, jari gatal untuk membuka lipatan kertas yang  dilarang itu. Dia pasti akan berpikir, "Apa rahasia di balik  surat ini? Kenapa dilarang? Aku HARUS tahu!"

Isi suratnya sendiri saya buat standar saja: perkenalan,  pujian sederhana tentang senyumannya, dan ajakan untuk  ngobrol lebih lanjut. Fokusnya ada pada sampul. Itu  adalah umpannya.

Saya menyelipkan surat itu ke dalam tasknya saat dia  sedang menghadap papan tulis. Jantung berdebar  kencang, tapi saya yakin ini akan berhasil. Saya adalah  seorang jenius tak dikenal!

Hari-H Penantian: Dari Optimis Jadi Tanya  Tanda Tanya

Hari pertama berlalu. Tidak ada reaksi.

Hari kedua, biasa saja.

Hari ketiga, saya mulai cemas.

Saya memantau dari kejauhan. Rara sama sekali tidak  menunjukkan gelagat penasaran. Tidak ada tatapan  menyelidik ke arah saya, tidak ada bisik-bisik dengan  temannya. Dia baik-baik saja. Bahkan, terlalu baik-baik  saja.

"Bisa jadi dia sedang menahan rasa penasarannya," hibur  saya pada diri sendiri. "Dia pasti membacanya di rumah,  sendirian, sambil tersipu-sipu."

Tapi, seorang teman baiknya—sebut saja Sari—akhirnya  menghampiri saya dengan wajah yang sama bingungnya  dengan saya.

"Eh, lo ngasih surat ke Rara seminggu yang lalu ya?"  tanya Sari.

"Iya! Akhirnya dia bacakan?" sahut saya penuh harap. "Gak. Itu... dia minta aku yang buangin."

DUNIA SAYA BERHENTI BERPUTAR.

"Di... dibuang? Maksudnya gimana?"

"Ya dibuang. Ditaruh di tong sampah. Lo tulis 'Jangan  Baca' kan? Ya dia gak baca. Dia nurut. Dia bilang, 'Kalo  dilarang ya udah, gak usah dibaca'. Gue aja yang  penasaran, tapi dia malah bilang, 'Jangan, jangan-jangan  itu surat kutukan atau semacamnya'."

Saya terduduk lemas. Reverse psychology saya bekerja  dengan sempurna—dalam arah yang salah! Bukan

membuatnya penasaran, tapi justru membuatnya patuh  seperti anak sekolah dasar yang mendengarkan gurunya.

Investigasi Pasca-Kegagalan: Mengurai  Benang Kusut Logika

Setelah shock mereda, saya mencoba menganalisis  kekacauan ini.

1. Perbedaan Pola Pikir. Saya, si overthinker, mengira  semua orang akan bereaksi seperti saya—

penasaran pada hal yang dilarang. Rara, si praktis,  membaca instruksi dan menaatinya. "Jangan baca"  berarti "jangan baca". Titik. Tidak ada lapisan  makna tersembunyi.

2. Salah Memahami Sifatnya. Rara bukan tipe  pemberontak. Dia adalah tipe "rule follower".  Larangan baginya adalah sesuatu yang harus  dihormati, bukan ditantang. Saya mengira dia akan  seperti karakter film yang membuka kotak 

terlarang, ternyata dia adalah orang yang akan  meninggalkan kotak itu begitu saja.

3. Efek "Kepercayaan Takhayul". Ternyata, bagi  sebagian orang (termasuk Rara), surat dengan  tulisan "Jangan Baca" bisa dianggap agak... mistis.  Jangan-jangan ada guna-guna? Jangan-jangan ini  surat dari alam lain? Daripada mengambil risiko,  lebih baik disingkirkan.

Saya membayangkan apa yang ada di pikiran Rara: "Wah, ada surat. Ditulis 'Jangan Baca'. Hmm, ya udah deh, gak  usah dibaca. Siapa tau itu dari orang yang lagi kesurupan. Atau  jangan-jangan isinya mantra. Awas aja deh. Mending gue  buang, biar aman."

Sementara di kepala saya, skenarionya:

"Wah, ada surat. Ditulis 'Jangan Baca'. Wah, ini pasti menarik!  Apa ya isinya? Misteri banget! Pasti dari seseorang yang mau  buat kejutan. Aku harus tahu sekarang!"

Dampak dan Pelajaran yang (Sangat) Pahit

Tidak perlu dikatakan, tidak ada kelanjutan romantis.  Yang ada, saya harus menerima kenyataan bahwa strategi  psikologi saya gagal total. Saya bukan master manipulasi,  saya hanya seorang penulis instruksi yang terlalu baik.

Beberapa pelajaran yang saya petik dari tragedi "Jangan  Baca" ini:

1. Kenali Target Operasi. Jika doi adalah tipe yang  lugu dan penurut, jangan gunakan reverse 

psychology. Itu seperti menyuruh anak patuh  untuk tidak makan permen—dia benar-benar tidak  akan memakannya.

2. Klarifikasi Selalu Lebih Baik Daripada 

Misteri. Daripada menulis "Jangan Baca", lebih  baik tulis "Baca dong, please, ada yang mau aku  bilang". Kalimat kedua mungkin kurang keren, tapi  setidaknya suratnya akan dibaca.

3. Hindari Kata "Jangan". Otak manusia kadang  hanya menangkap kata kuncinya. "Jangan baca"  bisa jadi hanya tertangkap "baca", tapi bisa juga  hanya "jangan"-nya saja. Resikonya terlalu besar.

4. Jangan Percaya Begitu Sama Tips di Internet. AKU KIRIM SURAT ‘JANGAN BACA’, TERNYATA SI DOI BENAR BENAR NGGAK BACA"Video "Buat Dia Penasaran dalam 3 Detik"  itu tidak datang dengan disclaimer: "Hanya berlaku  jika doi memiliki pola pikir yang sama dengan  Anda"



SALAH KIRIM! SURAT BUAT MANTAN MALAH NYAMPE KE GURU OLAHRAGA

 SALAH KIRIM! SURAT BUAT  MANTAN MALAH NYAMPE KE  GURU OLAHRAGA


Ketika Curhat Patah Hati Justru Dianggap Laporan  Pelanggaran Sekolah

Ada kalanya hidup mengajarkan kita bahwa menjadi  manusia itu penuh kejutan. Kadang kejutan yang manis,  kadang kejutan yang pahit, dan kadang… kejutan yang  bikin kita ingin pindah sekolah, pindah kota, bahkan  pindah planet.

Hari itu, aku cuma ingin melakukan satu hal sederhana:  mengirim surat curahan hati untuk mantan. Sesuatu  yang klasik, mellow, dan jujur. Tapi siapa sangka, dunia  punya rencana berbeda. Rencana yang melibatkan rasa  malu tak terhingga, guru olahraga yang judes, dan surat  galau yang salah alamat.


Awal Mula Kegoblokan: Surat yang Terlalu  Serius


Ceritanya begini. Sudah seminggu aku putus dari  pacarku—sebut saja namanya “Mantan Tercinta yang  Meninggalkan Luka Mendalam dan Hutang Emosional”.  Aku tidak mau keliatan lebay, tapi faktanya, aku benar benar down.

Makan nggak enak. Tidur nggak nyenyak. Nilai  matematika turun (walau sebelumnya juga sudah  nyungsep). Pokoknya hidup terasa seperti sinetron Jam 7  pagi: dramatis tapi tidak penting.

Akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat. Biar  lega, biar tuntas, biar mantan tahu bahwa aku adalah  manusia berperasaan, bukan batu bata yang dingin tak  bernyawa.

Suratnya kupenuhi metafora cinta yang gak kalah cringe:

“Tanpamu hidupku hampa, seperti pisang goreng  tanpa pisang.”

“Hatiku patah, seperti kapur papan tulis yang  ditimpa penggaris besi.”

“Aku masih berharap, meski harapan itu tipis  seperti seragam olahraga yang sudah dikecilkan  ibu.”

Pokoknya surat itu bagus… kalau dikirim ke buku harian.  Bukan ke orang asli.


Kesalahan Fatal: Nama Penerima Tidak  Diganti

Masalah muncul saat aku mau memasukkan surat itu ke  amplop. Dengan percaya diri ala Romeo KW, aku menulis  nama penerima dengan gaya kaligrafi seadanya:

“Untuk: Pak Bayu”

YES. PAK. BAYU.

Alias Guru Olahraga.

Alias orang yang paling tidak tepat untuk membaca isi  surat mellow.

Gimana bisa aku menulis nama itu?

Jadi ceritanya, beberapa hari sebelumnya aku harus  ngumpulin surat izin sakit untuk pelajaran olahraga.  Biasanya aku tulis “Untuk: Pak Bayu”. Dan bodohnya,  aku memakai amplop sisa dari situ.

Karena jam tidurku berantakan, mata panda sudah level  profesional, aku menulis nama itu tanpa sadar. Auto pilot  mode: ON.

Begitu sadar?

Sudah terlambat. Terlalu terlambat.

Aku udah memasukkan, menyegel, dan—lebih parah— menitipkan amplop itu ke temanku untuk diantar ke “si  Mantan”.

Perjalanan Surat Terbodoh di Dunia 

Temanku, sebut saja “Rangga Pengantar Kejadian”, tentu  bingung:

“Loh, kok buat Pak Bayu? Mantanmu udah ganti  nama?”

Tapi bukannya bertanya lebih lanjut, dia cuma nyengir  dan langsung pergi.

Kenapa?

Karena dia nggak mau telat masuk kelas olahraga. Dan  karena dia anak yang taat, begitu lihat nama Pak Bayu,  dia refleks menyerahkan amplop itu ke guru olahraga  kami.

Aku tidak tahu ini terjadi sampai jam pelajaran keempat,  ketika tiba-tiba aku dipanggil.

Panggilan Menghancurkan Reputasi: “Yang  Nulis Surat Ini Siapa?”

Aku sedang duduk manis di kelas, berusaha move on  dengan makan ciki rasa pedas, ketika pengeras suara  sekolah berbunyi:

“Kepada siswa bernama… kamu tahu siapa kamu, harap  ke ruang guru olahraga.”

Langsung dada ini deg-degan. Pikiran liar mulai muncul:

Apa aku ditegur karena gak ikut lari 10 putaran  minggu lalu?

Apa aku salah masuk WC guru kemarin? Atau… JANGAN-JANGAN…

Dengan langkah gemetar seperti kambing mau  disembelih, aku pergi.

Begitu sampai, kulihat Pak Bayu berdiri dengan wajah  datar yang lebih dingin dari es batu kulkas sekolah.

Di tangannya?

Amplop sialan itu.

“Ini surat dari kamu?” tanyanya.

Aku ingin bilang “TIDAAAAK”, lalu pura-pura pingsan.  Tapi mulutku mengkhianati otak:

“…I-iya, Pak.”

Momen Puncak: Pak Guru Membacakan  Surat Galau dengan Ekspresi Datar

Pak Bayu membuka surat itu tanpa ekspresi. Seolah dia  sedang membaca jadwal piket kelas, bukan surat patah  hati berisi metafora memalukan.

Dan yang bikin hidup makin kelam?

Beliau MEMBACAKANNYA keras-keras.

“Tanpamu hidupku hampa, seperti pisang goreng tanpa  pisang…”

Nada suaranya datar.

Isi suratku? Drama.

Perpaduannya? Komedi.

Aku ingin menghilang. Menyatu dengan tanah. Atau  berubah jadi tiang gawang di lapangan.

Beberapa guru yang kebetulan lewat menghentikan  langkah. Bahkan Bu Rina dari BK sempat melongok dan  bilang:

“Wah, bagus nih. Ada bakat puisi.”

PAK BAYU LANJUT.

“Hatiku patah seperti kapur yang dipukul penggaris…” “Harapan itu tipis seperti seragam olahraga…”

Aku yakin kalau dia melanjutkan sampai akhir, aku bakal  langsung dropout sukarela.

Reaksi Sang Guru: Antara Bingung dan  Emosi

Setelah selesai membaca, Pak Bayu memandangku. “Ini… apa maksudnya?” katanya.

Aku langsung ngejelasin cepat:

“Itu… salah kirim, Pak! Harusnya buat mantan saya…  bukan buat Bapak!”

Pak Bayu menatapku lama. Sangat lama.

Seperti sedang menilai apakah aku masih layak mengikuti  ujian semester.

Akhirnya dia berkata:

“Lain kali, kalau mau mengungkapkan perasaan, jangan  lewat saya. Saya bukan pos Indonesia.”

Aku cuma bisa mengangguk.

“Dan tolong,” lanjutnya, “jangan bandingkan hatimu  dengan kapur. Kapur sudah cukup menderita di sekolah  ini.”


Akibatnya: Trending Topik Se-Sekolah 

Kalau kamu pikir masalah selesai di situ, kamu salah.

Entah siapa yang mulai, entah dari mana bocornya, tapi  keesokan harinya seluruh sekolah tahu.

Kawan-kawan lewat depan kelas sambil bilang: “Eh, itu anak pisang goreng tanpa pisang!”

Ada yang lebih jahat:

“Nanti kalau olahraga, jangan lupa izin sakit hati ke PAK  BAYU!”

Bahkan adik kelasku yang kelas 10 ikut-ikutan: “Kak, kapurnya aman, kan?”

Aku resmi menjadi legenda.

Legenda yang tak diinginkan.

Mantan? Jangan Ditanya

Ketika akhirnya aku bertemu mantan, dia cuma  tersenyum simpul dan bilang:

“Aku tau kamu sayang, tapi… kok malah Pak Bayu yang  nerima duluan?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya ingin hidup baru. Identitas baru. Mungkin pindah sekolah ke Kutub Utara.

Pelajaran Berharga dari Kejadian Memalukan Ini

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Termasuk tragedi  komedi ini.

Berikut pelajaran penting yang bisa kalian petik: 1. Jangan menulis surat saat ngantuk

Serius. Hasilnya bisa jadi bencana.

2. Periksa nama penerima amplop!

Ini bukan email yang bisa di-undo.

3. Jangan menaruh metafora aneh di surat cinta

Percayalah. Tidak ada orang yang ingin disamakan  dengan pisang goreng.

4. Guru olahraga bukan tempat curhat

Meskipun mereka tegas, mereka bukan target surat patah  hati.

5. Teman yang terlalu patuh bisa menjadi sumber  masalah

Rangga… aku ingat jasamu.

Penutup: Surat Galau, Guru Judes, dan  Aku yang Malu Selamanya

Kalau kamu pikir hidupmu memalukan, tenang. Ada  seseorang di luar sana—yaitu aku—yang pernah  mengirim surat cinta untuk mantan tapi nyangkut ke  tangan guru olahraga judes.

Aku masih trauma setiap melihat amplop cokelat. Bahkan  mendengar kata “surat” saja membuat jantungku  berdebar.

Tapi hey… setidaknya sekarang aku bisa menuliskannya  untuk blog CERCU. Kalau hidup memberimu rasa malu,  jadikanlah konten.