Bos Memuji Presentasi Saya Selama Lima Menit… Sayangnya Mikrofon
Saya Sedang Menyala!
Kalau ada satu teknologi yang paling berjasa sekaligus paling berbahaya bagi
pekerja modern, mahasiswa, guru, dosen, dan pegawai kantoran, jawabannya
mungkin bukan kecerdasan buatan.
Bukan juga media sosial.
Melainkan:
Zoom Meeting.
Aplikasi yang memungkinkan rapat dilakukan dari mana saja. Dari rumah,
kantor, warung kopi, bahkan dari kamar sambil memakai kemeja rapi di bagian
atas dan celana santai di bagian bawah.
Namun Zoom juga memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki aplikasi lain.
Ia bisa mengubah manusia biasa menjadi legenda komedi hanya dalam waktu tiga
detik.
Dan itulah yang dialami oleh seorang pegawai bernama Fikri.
Hari Senin pagi, Fikri mengikuti rapat penting perusahaan.
Agenda rapat kali ini sangat serius.
Evaluasi kinerja triwulan.
Direktur hadir.
Manajer hadir.
Seluruh kepala divisi hadir.
Singkatnya, ini bukan rapat yang cocok untuk melakukan eksperimen sosial.
Pukul 08.55, Fikri sudah duduk di depan laptop.
Kemeja rapi.
Rambut tersisir.
Latar belakang virtual kantor modern.
Semua tampak profesional.
Sampai istrinya lewat sambil membawa sapu.
"Kamu rapat?"
"Iya."
"Serius?"
"Sangat serius."
"Baiklah."
Rapat dimulai.
Direktur membuka acara.
Semua peserta mengangguk seperti biasa.
Kadang karena setuju.
Kadang karena mengantuk.
Kadang karena tidak tahu apa yang sedang dibahas.
Setelah beberapa saat, giliran salah satu manajer mempresentasikan laporan.
Presentasinya panjang.
Sangat panjang.
Begitu panjang hingga sebagian peserta mulai kehilangan orientasi waktu.
Fikri yang mulai bosan memutuskan mengambil camilan.
Ia yakin mikrofonnya sudah mati.
Ia juga yakin kameranya aman.
Dua keyakinan yang ternyata keliru.
Sambil mengunyah keripik, Fikri berbisik kepada dirinya sendiri.
"Ya Allah, slide ke-47 masih pendahuluan."
Lalu ia tertawa kecil.
"Habis ini mungkin ada slide ucapan terima kasih kepada pembuat
PowerPoint."
Ia merasa aman.
Karena menurutnya mikrofon sudah dimatikan.
Sayangnya...
mikrofon sedang aktif.
Aktif.
Sangat aktif.
Dan terdengar jelas oleh seluruh peserta rapat.
Mendadak presentasi berhenti.
Manajer yang sedang berbicara terdiam.
Direktur juga diam.
Seluruh peserta diam.
Keheningan memenuhi ruang virtual.
Fikri belum sadar.
Ia masih lanjut.
"Kalau begini terus, cucu saya yang presentasi penutup nanti."
Tiba-tiba layar Zoom dipenuhi wajah-wajah yang berusaha menahan tawa.
Ada yang mematikan kamera.
Ada yang menunduk.
Ada yang pura-pura melihat dokumen.
Padahal sebenarnya sedang tertawa.
Temannya mengirim chat pribadi.
FIKRI!!!
Fikri membalas santai.
Kenapa?
MIC-MU HIDUP!!!
Dunia langsung berhenti berputar.
Keripik yang sedang berada di mulutnya mendadak terasa seperti batu bata.
Matanya membelalak.
Tangannya gemetar.
Ia melihat ikon mikrofon.
Benar saja.
Tidak ada garis merah.
Artinya selama ini seluruh isi pikirannya disiarkan secara langsung kepada
manajemen perusahaan.
Dengan panik ia langsung mematikan mikrofon.
Lalu pura-pura serius.
Terlambat.
Sangat terlambat.
Karena semua orang sudah mendengar.
Direktur akhirnya tersenyum.
"Pak Fikri."
"Iya Pak."
"Kami senang mengetahui pendapat jujur peserta rapat."
Ruangan virtual meledak oleh tawa.
Fikri berharap listrik rumahnya padam saat itu juga.
Namun kisah memalukan belum selesai.
Karena seminggu kemudian ada Zoom Meeting lagi.
Fikri berjanji kepada dirinya sendiri.
Kali ini harus profesional.
Tidak boleh ada kesalahan.
Tidak boleh ada insiden.
Tidak boleh ada mikrofon aktif tanpa sengaja.
Rapat berjalan lancar.
Sampai tiba-tiba anak bungsunya masuk ke kamar.
Usianya empat tahun.
Energinya setara tiga pembangkit listrik tenaga air.
Anaknya melihat layar Zoom.
"Wah banyak orang!"
Fikri langsung panik.
"Sssttt!"
Terlambat.
Anaknya berdiri di depan kamera.
"Halo semuanyaaa!"
Puluhan peserta rapat melambaikan tangan.
Anaknya semakin bersemangat.
"Lihat ayahku!"
Fikri menutup wajah.
"Adek, pergi dulu ya."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku juga ikut rapat."
Direktur tertawa.
"Silakan diperkenalkan."
Anaknya menjawab dengan bangga.
"Saya kepala divisi main-main."
Rapat kembali berubah menjadi acara komedi.
Fikri berpikir itu adalah puncak rasa malu.
Ternyata Zoom masih menyimpan kejutan.
Pada rapat berikutnya, ia memilih menggunakan virtual background berupa
kantor mewah.
Ada rak buku.
Ada jendela besar.
Ada pemandangan kota.
Terlihat profesional.
Sangat profesional.
Sampai ia bergerak terlalu cepat.
Tiba-tiba teknologi latar belakang virtual gagal bekerja.
Peserta rapat melihat kondisi sebenarnya.
Tumpukan pakaian.
Kasur belum rapi.
Handuk tergantung di kursi.
Dan sebuah ember biru yang tampil dengan penuh percaya diri di belakangnya.
Temannya langsung mengirim pesan.
Embernya ikut meeting juga?
Fikri hampir menangis.
Yang paling legendaris terjadi pada rapat akhir tahun.
Saat itu seluruh pimpinan hadir.
Fikri sudah memeriksa kamera.
Sudah memeriksa mikrofon.
Sudah memeriksa koneksi internet.
Semuanya aman.
Ia merasa kali ini tidak akan ada masalah.
Ternyata masalah datang dari tempat yang tidak terduga.
Kucing peliharaannya.
Ketika bos sedang menjelaskan target perusahaan, kucing itu melompat ke
meja.
Lalu berjalan di atas keyboard.
Entah tombol apa yang tertekan.
Tiba-tiba muncul efek filter.
Wajah Fikri berubah menjadi kentang.
Ya.
Kentang.
Lengkap dengan mata dan mulut.
Bos berhenti berbicara.
"Pak Fikri."
"Iya Pak."
"Kenapa Anda menjadi umbi-umbian?"
Seluruh peserta rapat tertawa tanpa ampun.
Bahkan ada yang sampai keluar dari Zoom karena terlalu banyak tertawa.
Sejak hari itu, nama Fikri berubah.
Bukan lagi Pak Fikri.
Bukan lagi Mas Fikri.
Melainkan:
Pak Kentang.
Julukan yang bertahan lebih lama daripada hasil rapat yang mereka bahas.
Dari berbagai pengalaman memalukan itu, Fikri akhirnya menyimpulkan bahwa
Zoom Meeting memiliki aturan tidak tertulis.
Pertama, selalu cek mikrofon.
Kedua, selalu cek kamera.
Ketiga, pastikan anak, kucing, ember, dan isi rumah lainnya tidak berniat
tampil di depan publik.
Dan yang paling penting:
Jangan pernah merasa semuanya aman.
Karena pada saat itulah semesta biasanya sedang menyiapkan kejutan.
Hingga sekarang, setiap kali ada undangan Zoom Meeting masuk, Fikri selalu
menarik napas panjang.
Bukan karena rapatnya sulit.
Bukan karena materinya berat.
Tetapi karena ia tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi bintang utama
hari itu.
Dirinya?
Anaknya?
Kucingnya?
Atau mungkin ember biru yang masih setia berada di sudut kamar.
Dan anehnya, justru bagian itulah yang membuat rapat daring terasa lebih
hidup daripada rapat biasa.
😄 Kalau Anda pernah mengikuti Zoom Meeting atau rapat
online, pengalaman paling memalukan atau paling lucu apa yang pernah terjadi?
Apakah karena mikrofon, kamera, anak, hewan peliharaan, atau mungkin sesuatu
yang lebih kocak lagi?