"Sandal Sebelah: Memoar Korban Kesalahan Manusia"
Tokoh:
- Sandal Kiri (Si
Kiri) –
sandal jepit hijau, sudah berusia 3 tahun, bijaksana tapi frustrasi.
- Sandal Kanan (Si
Kanan) –
saudara kembar Si Kiri, lebih optimis, suka berharap.
- Bambang – pemilik
sandal, anak kos yang pelupa dan ceroboh.
- Si Oren – sandal
jepit oranye tetangga, tukang gosip.
- Kucing Oren
(Tompel) –
kucing liar yang doyan ngemil sandal.
Latar: Teras depan
kos-kosan. Jam menunjukkan pukul 16.00. Sebelah sandal hijau tergeletak
sendirian di samping pot bunga. Pasangannya hilang entah ke mana.
Babak
1: Kesedihan Sandal Sebelah
(Si
Kiri terbaring lemas. Badannya sedikit berdebu, talinya mulai putus. Dia
menatap ke arah pintu kos, berharap pasangannya muncul.)
Si
Kiri: (bergerak
sedikit karena tertiup angin)
Hari ke-3. Aku masih di sini. Sendirian. Sepi. Ditinggal pasangan tanpa kabar.
Dan pemilikku? Bambang? Dia malas-malasan nonton YouTube di dalam. Nggak ada
niat nyariin.
(Si
Oren, sandal jepit oranye dari seberang teras, melompat-lompat kecil mendekat.)
Si
Oren:
Heh, Kiri. Masih setia nunggu, ya? Sudahlah, tinggalin aja. Pasanganmu mungkin
sudah jadi mangkok atau gantungan kunci di tempat pemulung.
Si
Kiri:
Jangan bicara begitu, Oren! Kanan itu sandal setia. Dia pasti cuma tersesat.
Mungkin di bawah tempat tidur, atau di belakang pintu kamar mandi. Bambang cuma
malas ngeliat.
Si
Oren: (tertawa
kecil, talinya bergoyang)
Kamu ini terlalu romantis. Namanya juga sandal jepit. Kita diproduksi massal
5000 pasang sehari. Cari pengganti? Gampang. Bambang tinggal ke warung, beli
sandal baru 15 ribu. Selesai.
Si
Kiri: (nada
sedih)
Kamu nggak ngerti, Oren. Aku dan Kanan sudah 3 tahun bersama. Kita pernah injak
tanah liat, pernah nyemplung selokan, pernah jadi alas kaki pasangan Bambang
waktu putus cinta. Kenangan itu nggak bisa diganti sama sandal baru.
(Si
Oren hanya menggeleng. Dia balik ke posisinya sambil bergumam "drama
queen".)
Babak
2: Flashback – Saat Si Kanan Menghilang
(Adegan
kilas balik. Tiga hari yang lalu. Si Kiri dan Si Kanan sedang bertengkar
kecil.)
Si
Kanan:
Kiri, kenapa sih tiap pagi kamu selalu nempel di kaki kiri Bambang? Aku di
kanan, kamu di kiri. Sederhana. Tapi kamu suka geser ke tengah. Bikin aku nggak
nyaman.
Si
Kiri:
Aku cuma berusaha melindungi jempol Bambang. Jempol itu sensitif, Kan. Kalau
kamu nggak tahu.
Si
Kanan:
Jempol sensitif? Astaga, Kiri. Kita ini sandal. Tugas kita diinjak. Bukan
jadi bodyguard.
(Tiba-tiba,
Bambang keluar rumah dengan terburu-buru. Dia memakai sandal tanpa merapikan
posisi. Kaki kirinya masuk ke Si Kiri, kaki kanannya... masuk ke sandal yang
salah. Si Kanan tertinggal di teras.)
Si
Kanan:
Hei! Hei! Bambang! Kamu lupa! Akumasi di sini!
(Bambang
sudah melesat ke warung. Si Kanan tergeletak sendirian. Lima menit kemudian,
kucing oren lewat.)
Si
Kanan: (dengan
suara panik)
Oh tidak. Jangan. JANGAN—
(Tompel,
si kucing, mengendus-endus Si Kanan. Lalu menggigit talinya dan berlari. Suara
Si Kanan menjerit pelan tapi tidak ada yang dengar.)
(Kilas
balik selesai. Kembali ke adegan Si Kiri di teras.)
Babak
3: Wawancara Eksklusif dengan Si Oren
(Si
Oren kembali mendekat. Kali ini dengan gaya kayak wartawan infotainment.)
Si
Oren:
Kiri, aku wawancara dikit buat podcast sandal. Boleh?
Si
Kiri:
Aku nggak mood, Oren.
Si
Oren:
Cuma tiga pertanyaan. Pertama: apa perasaanmu setelah ditinggal pasangan?
Si
Kiri:
Kesal. Campur sedih. Kesalnya ke Bambang, sedihnya ke Kanan.
Si
Oren:
Kedua: apa rencanamu ke depan? Akan mencari pasangan baru atau tetap sendiri?
Si
Kiri:
Aku akan menunggu seminggu lagi. Kalau Kanan nggak balik, aku akan minta
Bambang untuk mencarinya. Atau... aku akan lari dari rumah.
Si
Oren:
Lari? Kamu sandal, Kiri. Kamu nggak punya kaki.
Si
Kiri:
Aku bisa terbawa angin. Atau menempel di sepatu orang. Asal ada kemauan, sandal
bisa pergi.
Si
Oren: (menghela
napas panjang)
Oke, pertanyaan ketiga: apakah kamu punya pesan untuk Bambang?
Si
Kiri: (menatap
ke arah pintu kos dengan tajam)
Ya. "Bang, kamu itu ceroboh. Coba deh, sebelum keluar rumah, lihat
kaki kamu. Pastikan dua sandal terpasang. Jangan cuma satu terus berangkat
kayak bebek pincang."
(Si
Oren tertawa sampai talinya hampir lepas.)
Babak
4: Kejutan dari Dalam Kos
(Pintu
kos terbuka. Bambang keluar sambil mengucek mata. Dia melihat Si Kiri di
teras.)
Bambang:
Oh, sandal hijau ketinggalan satu. Yang satunya mana, ya? Ah, mungkin di dalam.
(Bambang
masuk lagi. Si Kiri berteriak dalam hati.)
Si
Kiri:
TIDAK! DI DALAM JUGA NGGAK ADA! KANAN SUDAH DIBAWA KUCING, BANG! BANG! DENGARIN
AKU, BANG!
(Bambang
keluar lagi dengan wajah bingung. Dia hanya mengangkat bahu.)
Bambang:
Yaudah, pake sandal oren punya tetangga aja, ah.
(Bambang
meraih Si Oren. Si Oren berteriak histeris.)
Si
Oren:
CURAAAANG! TOLONG! AKU BUKAN SANDALMU! AKU PUNYA PEMILIK! INI PENculikan—
(Bambang
memaksa kaki kanannya masuk ke Si Oren. Si Oren hampir putus talinya karena
ukuran kaki Bambang yang terlalu lebar.)
Si
Oren (dengan suara putus asa):
KIRI! INI PELANGGARAN HAK SANDAL! LAPORKAN DIA KE DUNIA!
Si
Kiri: (dengan
nada datar)
Karma, Oren. Tadi kamu bilang aku drama queen. Sekarang kamu ngerasain.
Babak
5: Pertemuan Tak Terduga
(Bambang
pergi ke warung dengan sandal kiri hijau dan sandal kanan oranye. Penampilannya
aneh. Tetangga pada tertawa.)
Mang
Ujang (dari warung):
Bang, sandal kamu beda sendiri. Kiri ijo, kanan oren. Lagi gaya, ya?
Bambang:
Yang penting nyaman, Mang. Santai.
(Si
Kiri diam-diam memperhatikan jalan. Tiba-tiba, dari balik tumpukan karung
beras, dia melihat sesuatu yang familiar.)
Si
Kiri:
Oren... lihat ke sana. Di samping karung. Itu... itu KANAN!
(Si
Oren menoleh. Sebuah sandal hijau lusuh tergeletak di dekat genangan air.
Talinya sudah putus, tubuhnya penuh bekas gigitan kucing.)
Si
Kiri (berteriak sekencang mungkin meski suara sandal hanya terdengar di
frekuensi khusus):
KANAN! KANAN! AKU DI SINI!
(Si
Kanan yang nyaris pingsan karena kepanasan membuka mata perlahan.)
Si
Kanan:
Kiri... akhirnya... kamu jemput aku...
(Bambang
tidak mendengar apa pun. Tapi secara ajaib, dia menunduk dan melihat sandal
hijau di samping karung.)
Bambang:
Wah, sandalku yang hilang! Ternyata di sini. Sudah rusak sih... talinya putus.
Yaudah, beli baru aja.
(Bambang
mengambil Si Kanan dan Si Kiri. Dia melepas Si Oren dengan kasar lalu membawa
kedua sandal hijau itu pulang.)
Si
Oren (tergeletak di tanah, putus sebelah talinya):
Kiri... jangan tinggalin aku... aku minta maaf sudah mengejekmu...
Si
Kiri (dari kejauhan):
Maaf, Oren. Aku harus kembali ke pasanganku. Semoga kamu ditemukan pemilikmu.
Salam dari sandal setia.
Babak 6: Akhir yang Mengharukan (dan Konyol)
(Di
rumah, Bambang merekatkan tali Si Kanan dengan lem bakaran lilin. Dia memakai
kedua sandal itu lagi dengan posisi terbalik: Si Kiri di kaki kanan, Si Kanan
di kaki kiri.)
Si
Kiri:
Kanan, kamu nggak papa?
Si
Kanan:
Masih pusing, Kiri. Tapi yang penting kita bersama lagi. Meskipun sekarang
posisi kita terbalik.
Si
Kiri:
Nggak papa. Cinta tidak mengenal posisi. Yang penting kita masih bisa diinjak
bersama.
(Bambang
berjalan ke warung lagi. Kali ini sandalnya rapi meski agak miring. Tetangga
tetap tertawa, tapi Bambang cuek.)
(Di
pojok teras, Si Oren masih tergeletak. Seekor kucing oren mendekatinya.)
Tompel:
Wah, sandal oranye. Rasanya belum pernah kugigit. Cromch cromch.
Si
Oren (dengan suara sekarat):
Ini... ini bukan akhir yang aku harapkan...
(Tirai
ditutup dengan cepat.)
Penutup: Refleksi Sandal Sebelah
(Cerita
ini adalah pengakuan jujur dari sandal yang pernah hilang, pernah sendirian,
dan pernah hampir menyerah. Tapi pada akhirnya, cinta sejati sandal bukan soal
merek atau harga. Cinta sejati sandal adalah ketika pemiliknya mau repot-repot
mencari, meskipun caranya setengah hati dan hasilnya talinya disambung pakai
lilin bekas.)
Pesan
moral:
- Jangan remehkan
sandal jepit. Mereka punya perasaan.
- Sebelum keluar
rumah, cek kaki Anda. Pastikan pasangan sandal tidak tertinggal.
- Dan yang paling
penting: jaga sandal Anda dari kucing. Kucing adalah biang kerok hilangnya
sandal sebelah.
Pertanyaan untuk pembaca setia CERCU:
Nah,
dari semua pengakuan sandal jepit di atas, cerita mana yang paling bikin Anda
tertawa atau tersentuh? Atau mungkin Anda punya pengalaman sendiri soal sandal
hilang sebelah? Di mana lokasi paling absurd yang pernah menjadi
"persembunyian" sandal Anda? Di bawah lemari, di dalam kulkas, atau
malah di atap rumah karena dibawa burung? Tulis jawaban dan cerita Anda di
kolom komentar, ya! Siapa tahu sandal Anda juga ingin bersuara. 👡🗣️
Selamat
tertawa, jangan lupa pasangkan sandal Anda, dan waspadai kucing di sekitar
Anda! 😄
No comments:
Post a Comment