Monday, September 14, 2026

Sandal Sebelah: Memoar Korban Kesalahan Manusia

 

"Sandal Sebelah: Memoar Korban Kesalahan Manusia"

Tokoh:

  • Sandal Kiri (Si Kiri) – sandal jepit hijau, sudah berusia 3 tahun, bijaksana tapi frustrasi.
  • Sandal Kanan (Si Kanan) – saudara kembar Si Kiri, lebih optimis, suka berharap.
  • Bambang – pemilik sandal, anak kos yang pelupa dan ceroboh.
  • Si Oren – sandal jepit oranye tetangga, tukang gosip.
  • Kucing Oren (Tompel) – kucing liar yang doyan ngemil sandal.

Latar: Teras depan kos-kosan. Jam menunjukkan pukul 16.00. Sebelah sandal hijau tergeletak sendirian di samping pot bunga. Pasangannya hilang entah ke mana.

 

Babak 1: Kesedihan Sandal Sebelah

(Si Kiri terbaring lemas. Badannya sedikit berdebu, talinya mulai putus. Dia menatap ke arah pintu kos, berharap pasangannya muncul.)

Si Kiri: (bergerak sedikit karena tertiup angin)
Hari ke-3. Aku masih di sini. Sendirian. Sepi. Ditinggal pasangan tanpa kabar. Dan pemilikku? Bambang? Dia malas-malasan nonton YouTube di dalam. Nggak ada niat nyariin.

(Si Oren, sandal jepit oranye dari seberang teras, melompat-lompat kecil mendekat.)

Si Oren:
Heh, Kiri. Masih setia nunggu, ya? Sudahlah, tinggalin aja. Pasanganmu mungkin sudah jadi mangkok atau gantungan kunci di tempat pemulung.

Si Kiri:
Jangan bicara begitu, Oren! Kanan itu sandal setia. Dia pasti cuma tersesat. Mungkin di bawah tempat tidur, atau di belakang pintu kamar mandi. Bambang cuma malas ngeliat.

Si Oren: (tertawa kecil, talinya bergoyang)
Kamu ini terlalu romantis. Namanya juga sandal jepit. Kita diproduksi massal 5000 pasang sehari. Cari pengganti? Gampang. Bambang tinggal ke warung, beli sandal baru 15 ribu. Selesai.

Si Kiri: (nada sedih)
Kamu nggak ngerti, Oren. Aku dan Kanan sudah 3 tahun bersama. Kita pernah injak tanah liat, pernah nyemplung selokan, pernah jadi alas kaki pasangan Bambang waktu putus cinta. Kenangan itu nggak bisa diganti sama sandal baru.

(Si Oren hanya menggeleng. Dia balik ke posisinya sambil bergumam "drama queen".)

 

Babak 2: Flashback – Saat Si Kanan Menghilang

(Adegan kilas balik. Tiga hari yang lalu. Si Kiri dan Si Kanan sedang bertengkar kecil.)

Si Kanan:
Kiri, kenapa sih tiap pagi kamu selalu nempel di kaki kiri Bambang? Aku di kanan, kamu di kiri. Sederhana. Tapi kamu suka geser ke tengah. Bikin aku nggak nyaman.

Si Kiri:
Aku cuma berusaha melindungi jempol Bambang. Jempol itu sensitif, Kan. Kalau kamu nggak tahu.

Si Kanan:
Jempol sensitif? Astaga, Kiri. Kita ini sandal. Tugas kita diinjak. Bukan jadi bodyguard.

(Tiba-tiba, Bambang keluar rumah dengan terburu-buru. Dia memakai sandal tanpa merapikan posisi. Kaki kirinya masuk ke Si Kiri, kaki kanannya... masuk ke sandal yang salah. Si Kanan tertinggal di teras.)

Si Kanan:
Hei! Hei! Bambang! Kamu lupa! Akumasi di sini!

(Bambang sudah melesat ke warung. Si Kanan tergeletak sendirian. Lima menit kemudian, kucing oren lewat.)

Si Kanan: (dengan suara panik)
Oh tidak. Jangan. JANGAN—

(Tompel, si kucing, mengendus-endus Si Kanan. Lalu menggigit talinya dan berlari. Suara Si Kanan menjerit pelan tapi tidak ada yang dengar.)

(Kilas balik selesai. Kembali ke adegan Si Kiri di teras.)

 

Babak 3: Wawancara Eksklusif dengan Si Oren

(Si Oren kembali mendekat. Kali ini dengan gaya kayak wartawan infotainment.)

Si Oren:
Kiri, aku wawancara dikit buat podcast sandal. Boleh?

Si Kiri:
Aku nggak mood, Oren.

Si Oren:
Cuma tiga pertanyaan. Pertama: apa perasaanmu setelah ditinggal pasangan?

Si Kiri:
Kesal. Campur sedih. Kesalnya ke Bambang, sedihnya ke Kanan.

Si Oren:
Kedua: apa rencanamu ke depan? Akan mencari pasangan baru atau tetap sendiri?

Si Kiri:
Aku akan menunggu seminggu lagi. Kalau Kanan nggak balik, aku akan minta Bambang untuk mencarinya. Atau... aku akan lari dari rumah.

Si Oren:
Lari? Kamu sandal, Kiri. Kamu nggak punya kaki.

Si Kiri:
Aku bisa terbawa angin. Atau menempel di sepatu orang. Asal ada kemauan, sandal bisa pergi.

Si Oren: (menghela napas panjang)
Oke, pertanyaan ketiga: apakah kamu punya pesan untuk Bambang?

Si Kiri: (menatap ke arah pintu kos dengan tajam)
Ya. "Bang, kamu itu ceroboh. Coba deh, sebelum keluar rumah, lihat kaki kamu. Pastikan dua sandal terpasang. Jangan cuma satu terus berangkat kayak bebek pincang."

(Si Oren tertawa sampai talinya hampir lepas.)

 

Babak 4: Kejutan dari Dalam Kos

(Pintu kos terbuka. Bambang keluar sambil mengucek mata. Dia melihat Si Kiri di teras.)

Bambang:
Oh, sandal hijau ketinggalan satu. Yang satunya mana, ya? Ah, mungkin di dalam.

(Bambang masuk lagi. Si Kiri berteriak dalam hati.)

Si Kiri:
TIDAK! DI DALAM JUGA NGGAK ADA! KANAN SUDAH DIBAWA KUCING, BANG! BANG! DENGARIN AKU, BANG!

(Bambang keluar lagi dengan wajah bingung. Dia hanya mengangkat bahu.)

Bambang:
Yaudah, pake sandal oren punya tetangga aja, ah.

(Bambang meraih Si Oren. Si Oren berteriak histeris.)

Si Oren:
CURAAAANG! TOLONG! AKU BUKAN SANDALMU! AKU PUNYA PEMILIK! INI PENculikan—

(Bambang memaksa kaki kanannya masuk ke Si Oren. Si Oren hampir putus talinya karena ukuran kaki Bambang yang terlalu lebar.)

Si Oren (dengan suara putus asa):
KIRI! INI PELANGGARAN HAK SANDAL! LAPORKAN DIA KE DUNIA!

Si Kiri: (dengan nada datar)
Karma, Oren. Tadi kamu bilang aku drama queen. Sekarang kamu ngerasain.

 

Babak 5: Pertemuan Tak Terduga

(Bambang pergi ke warung dengan sandal kiri hijau dan sandal kanan oranye. Penampilannya aneh. Tetangga pada tertawa.)

Mang Ujang (dari warung):
Bang, sandal kamu beda sendiri. Kiri ijo, kanan oren. Lagi gaya, ya?

Bambang:
Yang penting nyaman, Mang. Santai.

(Si Kiri diam-diam memperhatikan jalan. Tiba-tiba, dari balik tumpukan karung beras, dia melihat sesuatu yang familiar.)

Si Kiri:
Oren... lihat ke sana. Di samping karung. Itu... itu KANAN!

(Si Oren menoleh. Sebuah sandal hijau lusuh tergeletak di dekat genangan air. Talinya sudah putus, tubuhnya penuh bekas gigitan kucing.)

Si Kiri (berteriak sekencang mungkin meski suara sandal hanya terdengar di frekuensi khusus):
KANAN! KANAN! AKU DI SINI!

(Si Kanan yang nyaris pingsan karena kepanasan membuka mata perlahan.)

Si Kanan:
Kiri... akhirnya... kamu jemput aku...

(Bambang tidak mendengar apa pun. Tapi secara ajaib, dia menunduk dan melihat sandal hijau di samping karung.)

Bambang:
Wah, sandalku yang hilang! Ternyata di sini. Sudah rusak sih... talinya putus. Yaudah, beli baru aja.

(Bambang mengambil Si Kanan dan Si Kiri. Dia melepas Si Oren dengan kasar lalu membawa kedua sandal hijau itu pulang.)

Si Oren (tergeletak di tanah, putus sebelah talinya):
Kiri... jangan tinggalin aku... aku minta maaf sudah mengejekmu...

Si Kiri (dari kejauhan):
Maaf, Oren. Aku harus kembali ke pasanganku. Semoga kamu ditemukan pemilikmu. Salam dari sandal setia.

 

Babak 6: Akhir yang Mengharukan (dan Konyol)

(Di rumah, Bambang merekatkan tali Si Kanan dengan lem bakaran lilin. Dia memakai kedua sandal itu lagi dengan posisi terbalik: Si Kiri di kaki kanan, Si Kanan di kaki kiri.)

Si Kiri:
Kanan, kamu nggak papa?

Si Kanan:
Masih pusing, Kiri. Tapi yang penting kita bersama lagi. Meskipun sekarang posisi kita terbalik.

Si Kiri:
Nggak papa. Cinta tidak mengenal posisi. Yang penting kita masih bisa diinjak bersama.

(Bambang berjalan ke warung lagi. Kali ini sandalnya rapi meski agak miring. Tetangga tetap tertawa, tapi Bambang cuek.)

(Di pojok teras, Si Oren masih tergeletak. Seekor kucing oren mendekatinya.)

Tompel:
Wah, sandal oranye. Rasanya belum pernah kugigit. Cromch cromch.

Si Oren (dengan suara sekarat):
Ini... ini bukan akhir yang aku harapkan...

(Tirai ditutup dengan cepat.)

 

Penutup: Refleksi Sandal Sebelah

(Cerita ini adalah pengakuan jujur dari sandal yang pernah hilang, pernah sendirian, dan pernah hampir menyerah. Tapi pada akhirnya, cinta sejati sandal bukan soal merek atau harga. Cinta sejati sandal adalah ketika pemiliknya mau repot-repot mencari, meskipun caranya setengah hati dan hasilnya talinya disambung pakai lilin bekas.)

Pesan moral:

  • Jangan remehkan sandal jepit. Mereka punya perasaan.
  • Sebelum keluar rumah, cek kaki Anda. Pastikan pasangan sandal tidak tertinggal.
  • Dan yang paling penting: jaga sandal Anda dari kucing. Kucing adalah biang kerok hilangnya sandal sebelah.

 

Pertanyaan untuk pembaca setia CERCU:

Nah, dari semua pengakuan sandal jepit di atas, cerita mana yang paling bikin Anda tertawa atau tersentuh? Atau mungkin Anda punya pengalaman sendiri soal sandal hilang sebelah? Di mana lokasi paling absurd yang pernah menjadi "persembunyian" sandal Anda? Di bawah lemari, di dalam kulkas, atau malah di atap rumah karena dibawa burung? Tulis jawaban dan cerita Anda di kolom komentar, ya! Siapa tahu sandal Anda juga ingin bersuara. 👡🗣️

 

Selamat tertawa, jangan lupa pasangkan sandal Anda, dan waspadai kucing di sekitar Anda! 😄

 

 

 

No comments:

Post a Comment