“Jagoan Keyboard, Kunci Jawaban di Kolom Komentar: Ketika Mulut Sehebat
Professor, Tapi Tangan Tak Pernah Menyentuh Resiko”
Sinopsis
kilat:
Tiga
karakter utama—Rudi (si komentator ulung yang bisa menilai
segalanya dari balik layar HP), Mona (sahabat yang sudah muak
dengan omongan Rudi, sekaligus orang yang benar-benar melakukan aksi),
dan Togar (si polos yang selalu percaya pada komentar Rudi dan
jadi korban)—terlibat dalam drama komedi ketika Rudi dengan pede-nya mengkritik
habis-habisan sebuah makanan viral di TikTok, padahal belum pernah sekalipun
mencicipinya. Puncaknya? Mereka akhirnya pergi ke tempat itu, dan Rudi harus
"membuktikan" komentarnya di depan umum.
Setting:
Kafe "Rasa Nusantara" di pinggiran kota. Suasana ramai. Aroma masakan
menggoda. Dan seorang pria (Rudi) yang duduk di pojok dengan ekspresi sok tahu.
Babak 1: Jagoan Keyboard Beraksi
(Rudi
duduk santai di kursi ruang tamunya. HP di tangan, jari-jari lincah bergerak.
Wajahnya serius seperti sedang menulis skripsi. Mona dan Togar duduk di
sampingnya, penasaran.)
Rudi (baca komen di
video TikTok tentang sate taichan viral):
"Wah, lihat ini, Mona. Videonya udah 2 juta views. Judul: 'Sate Taichan
Terenak di Jagat Raya, Sambal Bikin Nagih'."
Mona (mengupas
jeruk):
"Terus? Lo mau beli?"
Rudi (tertawa sinis,
jari mulai mengetik):
"Enggak. Gue mau kasih komentar dulu. Nih, gue tulis: 'Sate Taichan ini
terlalu mainstream. Saya sudah coba di berbagai tempat, dan ini biasa aja.
Sambalnya juga pedesnya cuma buat anak SD. Bumbu kacangnya kurang greget.
Rating: 3 dari 10.'"
Togar (mendekat,
membaca komentar Rudi):
"Wah, lo udah pernah ke sana, Rud?"
Rudi (tersenyum
bangga):
"Belum. Tapi dari video aja gue udah bisa nebak rasanya. Itu namanya analisa
tajam, Togar."
(Mona
nyaris tersedak jeruk. Dia menatap Rudi dengan mata juling.)
Mona:
"Lo... belum pernah ke sana? Belum pernah coba? Terus lo komen pedes kayak
lo abis diundang jadi juri MasterChef?"
Rudi (membela diri,
tangan di dada):
"Itu namanya hak berpendapat, Mon. Di era digital, semua orang
punya suara. Gue nggak perlu jadi koki buat ngasih penilaian."
Togar (mengangguk-angguk,
polos):
"Masuk akal sih. Kayak gue bisa komen soal pesawat meskipun gue cuma naik
angkot."
Mona (tepuk jidat):
"Togar, jangan dibiasakan! Itu namanya omong kosong! Beda
antara opini sama fakta!"
Rudi (tidak peduli,
lanjut scrolling):
"Eh, nih ada video tutorial masak rendang. Lihat, ini salah banget. Pakai
santan instan? Rendang apaan? Harusnya santan asli dari perasan kelapa.
Ini culinary crime."
(Rudi
mulai mengetik komentar panjang lagi. Mona geleng-geleng kepala.)
Mona:
"Rudi, lo masak rendang pernah?"
Rudi:
"Belum. Tapi nenek gue dulu jago. Jadi gue punya standard tinggi."
Mona (nada sinis):
"Standard tinggi tapi pantat lo nempel di kursi dari tadi.
Sudah, daripada komen mulu, mending kita buktikan langsung."
Togar (semangat):
"Setuju! Ke tempat sate taichan itu sekarang!"
(Rudi
terdiam. Matanya sedikit gugup.)
Rudi (mencari
alasan):
"Sekarang? Tapi... macet, tahu. Parkir juga susah. Mending pesan
online."
Mona (sudah berdiri,
mengambil dompet):
"Pesen online repot. Ayo, ayam gue tanggung jawab."
Babak 2: Sesampainya di Tempat: Ujian Pertama Rudi
(Restoran
Sate Taichan "Goyang Lidah". Meja kayu sederhana. Pembeli antre.
Rudi, Mona, dan Togar duduk di pojok.)
Rudi (melihat
sekeliling dengan hidung mendongak):
"Ini tempatnya sempit. Ventilasinya kurang. Nanti kita pulang bau sate.
Cuma 3 dari 10."
Mona (pesen ke
pelayan):
"Kak, tiga porsi sate taichan level 2, sama es jeruk nipis tiga."
(Pelayan
pergi. Makanan datang 10 menit kemudian. Aromanya... menggoda. Rudi mencoba
tetap kaku.)
Mona (makan satu
tusuk, matanya langsung berbinar):
"Wah, enak banget ini, Rud! Sambalnya juara! Manis pedas, nagih!"
Togar (makan dua
tusuk sekaligus, mulut belepotan):
"Ini juara, Rud! Enak banget! Lo cobain, deh. Gue yakin lo bakal
suka."
(Rudi
mengambil satu tusuk. Ragu. Lalu menggigit perlahan. Wajahnya... berubah. Dari
sinis jadi... sedikit panik. Karena ternyata enak.)
Rudi (berusaha tetap
objektif, padahal lidahnya bilang "satu tusuk lagi"):
"Ehem. Lumayan lah. Tapi... dagingnya kurang empuk. Bumbunya kurang
meresap. 5 dari 10."
Mona (tertawa):
"Halah, Rud. Mata lo berbinar. Bibir lo bergetar pengin nambah. Itu namanya denial."
Togar (nambah tiga
tusuk):
"Gue pesen lagi ya. Yang level 3."
(Rudi
akhirnya nambah juga. Diam-diam. Empat tusuk. Lima tusuk. Mona menyeringai.)
Mona:
"Rudi, lo baru makan 6 tusuk. Padahal tadi bilang 5 dari 10. Kok lahap
amat?"
Rudi (tersedak,
minum es jeruk):
"Ini... untuk research. Biar komentar gue berbobot."
Mona:
"Research bikin lo babak belur. Muka lo berkeringat. Sambalnya
meleleh di dagu."
Babak 3: Puncak Drama: Rudi Dipanggil Pemilik Restoran
(Tanpa
sengaja, pemilik restoran—seorang ibu-ibu tegap bernama Bu RT—mendekati meja
mereka. Beliau melihat Rudi, lalu matanya menyipit.)
Bu
RT (sambil
memegang piring):
"Mas, ini yang komen di TikTok tadi? Yang bilang sate saya mainstream?
Sambalnya buat anak SD?"
(Rudi
pucat pasi. Mona menutup mulut menahan tawa. Togar berhenti mengunyah.)
Rudi (gugup,
keringat dingin):
"Eh, Bu... itu... maksud saya... dalam konteks tertentu..."
Bu
RT (diam
sejenak, lalu tersenyum):
"Mas, saya terbuka dengan kritik. Tapi kritik yang membangun ya, bukan
asal bunyi. Mas udah coba?"
Rudi (menggumam
pelan):
"Baru... baru coba. Tadi 6 tusuk."
Bu
RT (tertawa
keras):
"Enam tusuk? Berarti mas suka, dong? Coba kasih rating sekarang, dari 1
sampai 10."
(Semua
pengunjung mulai menoleh. Rudi dikerubuti rasa malu.)
Rudi (suara kecil
seperti nyamuk):
"8... delapan."
Bu
RT (bersorak):
"Nah! Baru namanya jujur! Nih, saya kasih bonus 5 tusuk gratis. Tapi
janji, komen lo di TikTok diganti, ya!"
(Rudi
mengangguk lemas. Mona dan Togar tertawa sampai nangis. Rudi makan sate
bonusnya dalam diam, dengan muka merah padam.)
Babak 4: Epilog: Pelajaran untuk Jagoan Keyboard
(Setelah
selesai makan. Mereka bertiga jalan-jalan di sekitar restoran. Perut kenyang.
Rudi masih belum bisa menatap mata Mona.)
Mona (nunjuk ke HP
Rudi):
"Jadi, gimana? Komentar lamanya mau lo hapus?"
Rudi (membuka
aplikasi, jari gemetar):
"Gue hapus. Dan gue tulis yang baru: 'Maaf, saya salah. Ternyata ini enak
banget. Saya baru coba sekarang, dan langsung jatuh cinta. Rating: 9 dari 10.
Yang belum coba, wajib datang.'"
Togar (nepuk bahu
Rudi):
"Nah, gitu dong, Rud. Kalau mau komen, coba dulu. Jangan asal bunyi. Nanti
kayak artis yang komen soal pilkada padahal nggak punya KTP."
Mona:
"Pelajaran hari ini: Jagoan keyboard itu gampang. Tinggal
jari gerak. Tapi jadi orang yang mencoba dan berani
mengakui kesalahan? Itu baru keren."
Rudi (menghela
napas, lalu tersenyum):
"Iya, gue sadar. Mulai sekarang, kalau gue belum coba, gue nggak akan
komen."
Mona (mencibir):
"Termasuk komen tentang politik, tentang masakan, tentang gaya rambut
selebriti?"
Rudi:
"Termasuk semuanya."
(Mereka
bertiga tertawa. Rudi mencomot satu tusuk sate tersisa dari kantong plastik.
Dia tersenyum. Lidahnya bahagia. Hatinya lega.)
Pesan moral
ala CERCU:
Di
era media sosial, jadi "jagoan keyboard" itu gampang dan gratis. Tapi
ingat: setiap komentar yang tidak berdasar data, pengalaman, atau empati,
hanyalah polusi digital. Lebih baik diam dan belajar, daripada bersuara dan
memalukan diri sendiri. Atau setidaknya, cobalah dulu sebelum berkomentar.
Karena lidah yang pernah merasakan, akan lebih bijak daripada jari yang hanya
mengetik.
❓ Pertanyaan untuk pembaca CERCU:
Kalian
pasti pernah melihat—atau bahkan menjadi—"jagoan keyboard" seperti
Rudi. Tapi pertanyaannya: kapan terakhir kalian berkomentar pedas tentang
sesuatu yang belum pernah kalian coba sendiri? Atau sebaliknya, kalian pernah
"dikomenin" oleh orang yang jelas-jelas belum pernah merasakan
pengalaman yang sama?
Share
cerita paling absurd tentang "komentator tanpa coba" di kolom
komentar! Bonus poin kalau ceritanya bikin kita semua sadar: lebih baik jadi
orang yang mencoba dan gagal, daripada jadi orang
yang pandai berkomentar tapi tidak pernah berbuat
apa-apa. π
— CERCU:
Cerita Lucu dari Komentar, Kritik, dan Kekecewaan (Yang Seharusnya Tidak Perlu
Terjadi).
No comments:
Post a Comment