“Influencer Pemula: 1 Juta Followers dalam 24 Jam (Versi Gagal Total)”
Sinopsis
kilat:
Tiga sahabat—Rina (22 tahun, influencer pemula yang percaya diri over 9000),
Budi (kameramen dan saudara Rina yang mudah stres), dan Caca (manajer dadakan
yang hobi nyinyir)—berusaha membuat konten viral. Dengan modal hape, tripod
patah, dan ide gila. Hasilnya? Bencana yang (untungnya) lucu.
Setting:
Ruang tamu rumah Rina. Berantakan. Ada lampu ring light, tripod yang diikat
lakban, dan segelas kopi yang sudah dingin sejak kemarin.
Babak 1: Ide Besar di Atas Kasur Lipat
Rina (berdiri di
depan ring light, ekspresi super serius):
“Caca, Budi. Mulai hari ini, kita akan menggebrak Instagram! TikTok! YouTube!
LinkedIn juga kalau perlu!”
Budi (sambil
memegang hape, malas-malasan):
“LinkedIn buat apa, Rin? Lamar kerja jadi tukang joget?”
Rina:
“Bukan. Buat personal branding! Aku akan jadi influencer lifestyle yang relatable.
Bukan yang pamer tas Hermès, tapi yang… low budget.”
Caca (duduk di sofa,
makan keripik):
“Low budget mah saya kenal. Tapi lo mau jadi influencer apa? Tukang
review indomie?”
Rina (narsis
banget):
“Aku mau bikin konten ‘24 Jam Challenge’. Kita rekam 24 jam hidup
gue, dan gue harus dapet 1 juta followers dalam satu hari!”
Budi (mematikan
hape):
“Lo gila, Rin? Yang nonton cuma ibu-ibu kompleks sama mantan lo yang penasaran
lo makin gendut apa nggak.”
Rina:
“Itu namanya engagement, Budi!”
Caca:
“Engagement ampe lo kena mental? Okelah. Mulai dari mana?”
Rina (angkat tangan kayak
penyiar):
“Konten pertama. Morning Routine ala Girl Boss yang Sibuk Tapi Tetap
Cantik.”
Babak 2: Morning Routine Ala Bencana
(Rina
bangun tidur—padahal jam 11 siang. Rambut awut-awutan.)
Rina (ke kamera):
“Halo, guys! Jadi jam 5 pagi tadi aku udah bangun, meditasi, terus minum air
putih 4 liter biar glowing.”
Budi (dari balik
kamera, suara datar):
“Lo baru bangun jam 11, Rin. Meditasi yang lo lakukan tadi itu tidur
lagi. Air putih 4 liter? Hape lo tumpah di kasur jam 7.”
Rina (tetap
profesional—katanya):
“Itu… plot twist. Biar kontennya authentic.”
Caca (lewat sambil
bawa kopi):
“Authentic ampe bau mulut keluar juga. Lanjut, Bu RT.”
(Rina
mulai ‘masak’ sarapan.)
Rina (pura-pura
pakai celemek mahal):
“Oke, sekarang kita bikin smoothie bowl. Bahannya: pisang, stroberi, madu,
granola, dan…”
(Rina
buka kulkas. Kosong melompong kecuali 2 butir telur dan sambal ABC.)
Budi (close-up ke
kulkas):
“Dan… sambal. Smoothie bowl rasa sambal. Dijamin auto di-unfollow.”
Rina (ngeloyor):
“Ya udah skip. Konten grocery haul aja! Kita ke minimarket.”
Babak 3: Grocery Haul Seharga Harga Diri
(Minimarket
dekat rumah. Rina pakai kacamata hitam di dalam toko—karena “influencer nggak
boleh kelihatan norml”.)
Rina (berbisik ke
hape Budi):
“Guys, sekarang kita di supermarket eksklusif—eh Alfamart. Lihat
ini sayuran organik!”
(Caca
nge-zoom ke sayuran. Label harga: Rp 25.000)
Caca (nge-zoom lebih
dekat):
“Ini selada yang harganya setara sama parkir motor sebulan?”
Rina (tone curang):
“It’s not expensive, honey. It’s an investment.”
(Rina ambil selada. Budi ambil keranjang. Tiba-tiba… ada yang salah.)
Budi (nunjuk ke
lantai):
“Rin… seladanya jatoh. Diinjak orang.”
Rina (lihat ke
bawah. Selada hancur. Sepatu bapak-bapak di atasnya):
“…oke, cut. Kita potong. Adegan blooper.”
Bapak-bapak (noleh):
“Neng, ini lagi rekam apaan? Kalau buat prank, saya nggak mau ikut. Saya lagi
buru-buru beli rokok.”
Rina (nahan malu):
“Bukan prank, Pak. Saya… content creator.”
Bapak
itu:
“Oalah, yang bikin meme. Ya udah, nanti tag saya ya. Akun TikTok
saya @pak_rt_rajin.” (pergi)
Caca (nahan ketawa
sampai nangis):
“Lo kena klaim sama bapak RT. Besok pasti videonya dipajang di
papan pengumuman.”
Babak 4: Puncak Bencana: Live TikTok
(Pukul
9 malam. Ide terakhir Rina: live TikTok dengan judul: “RAHASIA GLOWING
SAMPAI UMUR 50!”)
Rina (di depan
kamera, filter kulit merah jambu):
“Halo, guys! Kita live! Hari ini aku bakal kasih tahu skincare routine ala
aku—dengan budget cuma 50 ribu!”
(Viewer:
12 orang. Empat di antaranya bot, sisanya keluarganya Budi.)
Budi (dari hape
kedua, jadi admin):
“Ada komen nih: ‘Mbak, kok jerawatnya muncul lagi?’ Hapus? Blokir?”
Rina (gaya cool):
“Jangan. Itu engagement. Aku jawab: ‘Itu bukan jerawat, itu beauty
mark versi 3D.’”
Caca (masuk ke
frame, bawa mangkok indomie):
“Nih mukbang sekalian. Lo kan belum makan dari siang.”
Rina (nyoba
profesional):
“Caca, ini live! Jangan bawa indomie goreng! Itu nggak aesthetic!”
Caca (nyuapin Rina):
“Aesthetic lo kali yang edit sampe lampu kuning. Buka mulut—aaaa…”
(Rina makan
indomie. Minyaknya netes ke baju putih. Live viewer naik jadi 30 orang karena drama.)
Komen
viewer:
“Ini konten horror atau komedi?”
“Kenapa saya jadi laper?”
“Tolong kasih mic buat cewek yang bawa indomie.”
Rina (nyengir
dipaksa):
“Oke! Sekarang kita buka sesi Q&A! Siapa yang mau tanya?”
Komen:
“Lo sebenarnya kerja apa?”
“Kenapa lo ngaku-ngaku influencer tapi followers lo cuma 234?”
“Itu kecoak di belakang lo, sadar.”
(Rina nengok ke belakang. Kecoak jalan di dinding.)
Rina (teriak, rusak
filter):
“AAAAAAAAAA BUDI MATIKAN LIVE!!!”
Budi (bukan matiin
live, malah nge-zoom kecoak):
“Ini buat konten viral, Rin. Nanti kita upload ulang. Judul:
‘Influencer Vs Kecoak: Siapa Bertahan?’”
Akhir: Followership yang Nggak Terduga
(Epilog.
24 jam kemudian.)
Rina
duduk lesu di sofa yang sama. HP di tangan. Followers naik… jadi 2.345.
Caca:
“Selamat, Rin. Naik 2.111 followers. Tapi…”
Budi (sembari
scroll):
“Tapi 2.000 di antaranya akun spam dan 100 itu keluarga lo.
Sisa 200? Bapak RT dan follower-nya.”
Rina (setengah
nangis, setengah ketawa):
“Tadi pagi videoku di-share Pak RT ke grup kompleks. Judul:
‘Kasihan Anak Muda Jaman Sekarang, Jadi Pengangguran Pake Ring Light’.”
Caca:
“Lo viral, Rin. Cuma bukan sebagai influencer lifestyle, tapi
sebagai maskot kegagalan.”
Rina (tiba-tiba
nyengir lebar):
“Tau nggak? Itu justru niche baru. Mulai besok, aku bikin
konten: ‘How to Fail Gloriously’. Yang mau nyumbang ide gagal,
komen di bawah!”
(Mereka
bertiga akhirnya ketawa sampai perut sakit. Dan Rina beneran bikin akun baru:
@rinagagalimpian. Followers sekarang? 47 ribu. Karena ternyata orang lebih suka
lihat kegagalan daripada kesempurnaan palsu.)
Pesan
moral (kalau ada):
Kadang, rencana jadi influencer cuma bikin kita jadi bahan
ketawa. Tapi hei, setidaknya kita nggak sendirian dalam kegagalan. Dan kecoak
itu… tetap beken.
❓ Pertanyaan untuk pembaca CERCU:
Pernah
nggak kalian—atau teman kalian—bercita-cita jadi influencer, tapi malah jadi
bahan komedi internasional ala gagal fokus? Atau punya ide konten “ngawur” yang
menurut kalian bisa viral? Share di kolom komentar, siapa tahu kita bikin grup
support gagal influencer 😂
— CERCU:
Cerita Lucu dari Kegagalan yang (Untungnya) Bisa Kita Tertawakan Bersama.
No comments:
Post a Comment