"Titik Kumpul: Dinding Kamar Kos"
Tokoh:
- Nyamuk Demak
(Ketua) –
nyamuk tua bijaksana yang sudah kenyang darah 4 golongan.
- Nyamuk Jawa
(Sekretaris) –
nyamuk cerewet, suka protokol.
- Nyamuk Muda
(Kader) –
nyamuk milenial, hobi vlog dan story WhatsApp.
- Manusia
(Bambang) –
anak kos yang jadi sasaran rapat. Dia nggak sadar.
- Laba-laba
(Onyot) –
pengamat bebas yang tinggal di pojok langit-langit.
Latar: Kamar kos
sempit, gelap, bau kaki dan mi instan. Di dinding dekat stopkontak, para nyamuk
berkumpul membentuk lingkaran. Di pojok, laba-laba Onyot sedang bersantai
sambil menunggu siapa yang ceroboh.
Babak 1: Undangan Rapat Dadakan
(Malam.
Jam menunjukkan pukul 01.30. Bambang baru saja mematikan lampu setelah nonton
YouTube tutorial "Cara Kaya Cepat". Dia tidak tahu, di dinding
sebelah kirinya, puluhan nyamuk sedang duduk rapi.)
Nyamuk
Demak (dengan suara berdengung khas):
Rapat besar akan saya mulai. Harap hadirin semua mengisi daftar hadir. Jangan
cari tanda tangan pakai darah, nanti ketahuan sama si Bambang.
Nyamuk
Jawa (sambil nyekelin notes dari daun kering):
Yang hadir: Nyamuk Demak, Nyamuk Jawa, Nyamuk Muda, Nyamuk Kampung 12 ekor,
dan… siapa lagi yang di belakang sana? Jangan sembunyi di balik bayangan
gantungan baju!
Nyamuk
Kampung (malu-malu):
Saya, Pak. Tadi saya kira ini rapat arisan. Saya bawa nasi kotak dari kulit ari
bawang.
Nyamuk
Demak:
Buang jauh-jauh! Kita rapat strategi, bukan arisan. Tujuan kita: menghabisi
darah Bambang sebelum dia beli obat nyamuk elektrik. Siapa yang punya usul?
Babak 2: Usulan Gila Nyamuk Muda
(Nyamuk
Muda berdiri dengan gaya ala YouTuber. Dia membawa ponsel mungil hasil curian
dari sampah elektronik.)
Nyamuk
Muda:
Pak Demak, izin bicara. Saya punya ide: viral bombing. Kita serang
Bambang dari semua sisi. Pipi, tangan, kaki, bahkan—maaf—pantat. Saya sudah
siapkan story Instagram. Judulnya: "Malam Ini
Kita Hisap".
Nyamuk
Demak:
Apaan itu? Lo kira Bambang punya Instagram buat liat story? Mana pernah dia
buka sosmed selain buat stalk mantannya. Ide lo gagal. Duduk!
(Nyamuk
Muda duduk dengan muka cemberut. Dia tetap merekam rapat untuk konten behind
the scene.)
Nyamuk
Jawa:
Bagaimana kalau kita bentuk tim kecil? Tim A serang tangan kanan. Tim B serang
tangan kiri. Tim C khusus landing di hidung. Kalau hidung
digigit, pasti dia bangun dan tepok-tepok sendiri. Lumayan, sensasi horror gratisan.
Nyamuk
Kampung:
Saya ikut Tim C, Pak. Tapi saya nggak kuat bau keringat Bambang. Tadi saya lihat
dia belum mandi dua hari. Ini bahaya kesehatan bagi kami.
(Suasana
rapat mulai ricuh. Para nyamuk berdebat soal taktik dan risiko bau keringat.)
Babak 3: Interupsi dari Pojok Langit-langit
(Tiba-tiba,
suara berat terdengar dari atas. Semua nyamuk diam.)
Laba-laba
Onyot (sambil menggulung benang):
Maaf, saya ikut menyimak. Tapi bukankah kalian lupa satu fakta penting? Bambang
itu pemilik kaki paling aktor sejati. Tiap digigit, dia nggak cuma tepok. Dia
bangun, nyalain lampu, dan menyemprot baygon ke segala arah
kayak lagi perang.
Nyamuk
Demak:
Onyot, lo nggak diundang. Lo cuma third party yang doyan jebak
kami pakai lem.
Laba-laba
Onyot:
Saya bukan third party. Saya silent observer. Saya
hanya mengingatkan: jangan remehkan manusia gado-gado. Dia bau, dia males
mandi, tapi refleknya level dewa. Bulan lalu, 3 nyamuk terbaik kalian gugur di
telapak kakinya.
(Semua
nyamuk merinding. Ada yang mulai mikir-mikir untuk mundur.)
Nyamuk
Muda:
Pak Demak, bagaimana kalau kita delay dulu? Tunggu Bambang
tidur pakai AC. Suhu dingin bikin dia slow motion.
Nyamuk
Demak:
Lo pikir Bambang punya AC? Dia anak kos! Kipas angin yang bunyi kreek-kreek itu
aja pinjam dari tetangga. Ide lagi!
Babak 4: Rapat Ricuh dan Mosi Tidak Percaya
(Nyamuk
Kampung angkat suara lagi. Kali ini dia membawa proposal di atas kulit
kerupuk.)
Nyamuk
Kampung:
Saya punya strategi alternatif: silent attack. Kita gigit
pelan-pelan. Satu nyamuk, satu gigitan, tidak berisik. Jangan ada yang
berdengung kayak pesawat mau take off.
Nyamuk
Jawa:
Itu mah sudah standar operasional, Bang. Masalahnya, setelah kenyang, kami
suka bypass kenaikan napsu. Dengung itu di luar kendali.
Namanya juga mabuk darah.
Nyamuk
Muda:
Saya usul kita strike jam 4 pagi. Itu jam paling nyenyak.
Tubuh Bambang lemas, mimpi indah, dan... eh, dia mimpi apa, ya?
Nyamuk
Demak:
Percuma mimpi indah kalau besok pagi dia bangun bentol tujuh. Kita bukan tim
amal. Kita tim extraction.
(Tiba-tiba,
ada nyamuk yang panik terbang masuk.)
Nyamuk
Pengintai:
PAK DEMAK! BAHAYA! BAMBANG BARU BANGUN! DIA MAU KE KAMAR MANDI!
(Semua
nyamuk heboh. Suara dengung membahana. Lampu kamar menyala. Bambang duduk di
kasur dengan mata sembab.)
Babak 5: Manusia Tak Bersalah yang Bangun
(Bambang
mengucek mata. Dia merasa ada yang aneh. Telinganya berdenging. Padahal dia
tidak pakai headset.)
Bambang:
Kok rasanya ada orkestra dengung di kuping, ya? Ah, mungkin efek lihat tutorial
"Cara Kaya Cepat" terlalu lama.
(Bambang
menggeser kakinya ke lantai. Tanpa sengaja, telapak kakinya nyaris menginjak
Nyamuk Kampung.)
Nyamuk
Kampung: (teriak
dalam dengung)
Minggir! Minggir! Kaki jumbo!
(Para
nyamuk berhamburan. Rapat bubar. Ada yang terbang ke belakang lemari, ada yang
nyempil di balik poster anime.)
Laba-laba
Onyot (dari pojok, tertawa kecil):
Sudah saya bilang. Jangan remehkan manusia males mandi. Bahkan tanpa baygon,
dia bisa bikin kalian bubar hanya dengan gerakan kaki.
Nyamuk
Demak (dengan putus asa):
Rapat ditunda sampai Bambang pergi kerja besok pagi! Itu jam 08.00 sampai
17.00. Kita serang kosongannya. Darah di gelas kopi sisa, darah di sela-sela
keyboard, dan—kalau beruntung—luka bekas gigitan kemarin kita hisap ulang.
Nyamuk
Muda:
Saya catat, Pak. Nanti saya edit jadi vlog. Judulnya: "Gagal
Total, Tapi Tetap Berdengung".
(Semua
nyamuk bubar. Bambang kembali tidur tanpa tahu bahwa dia baru saja selamat dari
serangan terencana.)
Babak 6: Pagi Hari, Kemenangan Tak Terduga
(Pagi.
Jam 07.30. Bambang bangun dengan mulut kering dan 5 bentol baru di tangan. Dia
bingung.)
Bambang:
Kok bisa bentol? Padahal semalam nggak kerasa ada nyamuk. Ah, ini pasti
serangan ghost mosquito.
(Dia
mengucek mata dan melihat ke dinding. Ada coretan kecil pakai debu: "RAPAT
GAGAL, SAMPAI JUMPA MALAM NANTI" – ttd Nyamuk Demak)
Bambang:
Apaan ini? Nyamuk bisa nulis? Udah gila, ah. Daripada mikir, lebih baik saya
beli baygon kaleng besar. Sama raket listrik. Saya bakal
perang total.
(Bambang
keluar rumah menuju warung. Dia tidak tahu bahwa di balik lemari, Nyamuk Demak
dan pasukannya sedang menyusun strategi baru dengan peta jalur masuk dari
ventilasi atas.)
Laba-laba
Onyot (sambil memangsa nyamuk yang ceroboh melewati jalurnya):
Perang ini belum selesai. Tapi saya sudah kenyang. Selamat bertempur, para
pengisap darah.
Penutup: Refleksi dari Sang Penulis
(Dari
jauh, suara dengung masih terdengar. Bambang mungkin tidak akan pernah membaca
status nyamuk karena dia sibuk membasmi mereka. Tapi siapa yang tahu? Mungkin
suatu hari, di dinding kamar kos Anda, ada rapat besar yang sedang berlangsung.
Anda hanya belum mendengarnya karena terlalu sibuk scroll TikTok.)
Pesan
moral: Jangan
malas mandi. Bau keringat bukan senjata, tapi bumerang. Dan jangan pernah
remehkan nyamuk yang punya sekretaris.
Pertanyaan untuk pembaca setia CERCU:
Nah,
dari semua usulan gila dalam rapat nyamuk di atas, menurut Anda, strategi paling
absurd apa yang pernah dilakukan nyamuk di kamar tidur Anda? Apakah mereka
beraksi seperti tim komando, atau malah sengaja berdengung di telinga persis
saat Anda mau terlelap? Atau mungkin Anda punya pengalaman unik seperti Bambang
yang kamarnya jadi tempat rapat umum nyamuk? Tulis cerita Anda di kolom
komentar, ya! Siapa tahu Anda bisa jadi duta anti-nyamuk berikutnya. 🦟✋
Selamat
tertawa, jaga kebersihan, dan jangan biarkan nyamuk mengadakan rapat tanpa
izin!
No comments:
Post a Comment