“Ganti Tren Setiap Minggu, Tapi Isi
Dompet Tetap Sama: Kisah Korban Abadi yang Selalu Ketinggalan Zaman atau Selalu
Kebanyakan Gaya?”
Sinopsis
kilat:
Tiga
sahabat—Vina (25 tahun, pemburu tren abadi yang rela jual ginjal
demi mengikuti apa pun yang viral), Dani (sahabat logis yang
hobi mengingatkan bahwa dompet tidak percaya pada tren), dan Rere (si
korban yang selalu ikut-ikutan Vina meskipun akhirnya menyesal)—terjebak dalam
siklus gila: dance TikTok, beli kopi dalgona, bikin slime, sampai pake sepatu
renang untuk jalan-jalan (karena tren "barefoot shoe" yang aneh).
Hasilnya? Dompet kurus, kamar penuh barang bekas tren, dan mereka bertiga lebih
lelah dari kuli panggul.
Setting:
Ruang tamu Vina. Berantakan. Terlihat: botol kopi dalgona yang sudah mengering,
slime lengket di sofa, sepatu renang (barefoot shoe) tergeletak, dan sebuah
kamera ring light yang sudah tidak dipakai sejak tren "aesthetic mirror selfie"
berlalu.
Babak 1: Flashback: Awal Mula Kehancuran
(Vina
duduk bersila di lantai sambil scroll TikTok. Matanya seperti kucing ngeliat
ikan asin. Dani dan Rere duduk di sofa dengan ekspresi was-was.)
Vina (teriak
histeris):
"GILA! TREN BARU, GUYS! Nih, coba lihat! Semua orang lagi bikin 'Ice
Cube Challenge'. Kita harus ikut! Kita beli es batu raksasa, terus kita
potret sambil duduk di atasnya. Aesthetic banget!"
Dani (tanpa
mengalihkan pandangan dari HP):
"Vina, minggu lalu lo maksa beli dalgona coffee. Lo beli mixer, kopi
mahal, gula aren, susu oat. Sekarang mixernya berdebu di dapur, kopinya cuma
kepake sekali. Lo minumnya nggak tahan, katanya 'kegatelan'."
Vina (mengacuhkan):
"Itu beda, Dan. Dalgona itu so last week. Sekarang
zamannya Ice Cube Challenge. Rere, setuju kan?"
Rere (bengong, lagi
main slime bekas tren dua bulan lalu):
"Iya... eh, enggak. Gue sih ikut aja, Vin. Tapi tolong, jangan yang mahal.
Terakhir beli slime 100 ribu, sekarang lengket di rambut
gue."
Vina (sudah membuka
aplikasi belanja online):
"Nih, ada es batu raksasa ukuran 50 cm cuma 300 ribu! Free ongkir!"
Dani (hampir jatuh
dari sofa):
"300 RIBU?! Buat es batu?! Lo bisa belanja sembako seminggu, Vin!"
Vina (menghela napas
dramatis):
"Tapi ini untuk konten, Dan. Untuk engagement. Untuk viral.
Nanti kalau gue terkenal, kita bisa hidup dari endorse."
Rere (bergumam):
"Endorse apaan? Es batu?"
Babak 2: Ice Cube Challenge: Gagal Total
(Beberapa
hari kemudian. Es batu raksasa sudah datang. Bentuknya... lucu. Tidak persegi.
Lebih mirip gunung es yang kelewat mencair.)
Vina (berpose di
samping es, menggunakan jaket tebal meskipun cuaca panas):
"Oke, Rere, fotoin gue dari sudut rendah. Biar keliatan dramatis. Kayak
lagi di Kutub Utara."
Rere (memegang HP,
grogi):
"Vin, esnya udah mulai meleleh. Lantai lo basah semua."
Dani (duduk santai
sambil minum es teh):
"Itu esnya 300 ribu? Bentuknya kayak bongkahan batu kali. Udah, daripada
difoto mending dipake buat dinginin minuman."
Vina (mulai duduk di
atas es):
"Awasin, ya. Gue naik. Rere, siap-siap jepret. Tiga... dua...
satu..."
(Vina
duduk di atas es. Ekspresinya berubah dari glamour jadi horror.
Esnya licin. Vina mulai melorot. Pantatnya basah.)
Vina (teriak):
"AAA... GESER! RERE JEPRET! JANGAN DIAM!"
Rere (panik, jepret
asal-asalan):
"Udah! Udah! Tiga foto!"
(Vina
berdiri. Celana jeansnya basah total. Esnya retak jadi dua. Lantai seperti
habis banjir.)
Vina (melihat hasil
foto):
"Ini fotonya burem, Rere! Muka gue kayak orang kesurupan!"
Rere:
"Ya elah, Vin. Lo minta foto pas lo jatuh. Mau kaya gimana?"
Dani (tertawa sampai
nangis):
"Gue rekam videonya, Vin. Kirim ke grup keluarga ya? Biar rame."
Vina (mencabut HP
dari tangan Dani):
"JANGAN! Gue nggak mau jadi meme 'Cewek Es Batu'."
(Akhirnya,
es batu 300 ribu rupiah itu berakhir di ember. Meleleh. Tidak ada yang viral
kecuali video gagal yang direkam Dani. Vina menghela napas panjang.)
Babak 3: Dance Challenge: Sarana Mempermalukan Diri di Depan Umum
(Minggu
berikutnya. Vina sudah move on. Tren baru: dance challenge "Sweat It
Out" yang katanya bakal bikin terkenal dalam 24 jam.)
Vina (nunjuk ke
layar HP):
"Lihat! Tariannya simpel! Cuma gerak-gerak kayak orang lagi nyetrika
sambil naik turun tangga. Kita rekam di taman kota biar background-nya
keren."
Dani (mengerutkan
dahi):
"Lo yakin? Terakhir lo ikut dance challenge, pos-posan lo nendang ember
tetangga. Hampir kena laporan polisi."
Rere (masih trauma):
"Gue jadi inget, pas challenge 'Joget Poci', lo memekik-mekik kayak ayam
mau dipotong. Video lo malah dipake buat scare prank."
Vina (tidak menyerah):
"Kali ini beda! Kita latihan dulu di sini. Rere, pegang HP. Dani, hitung
hitungan."
(Vina
mulai berjoget. Gerakannya kaku. Tangan seperti orang meremas adonan, kaki
seperti kuda lumping.)
Dani (memberi
semangat palsu):
"Keren, Vin. Lo kayak robot kehabisan baterai. Itu signature moves,
mungkin?"
Vina (mengatur
napas):
"Oke, sekarang kita ke taman. Aksi nyata!"
(Di
taman kota. Banyak orang. Vina memutar musik dari speaker. Dia mulai menari.
Sayangnya, gerakannya tidak sinkron dengan irama. Anak-anak kecil berhenti
main. Ibu-ibu arisan menatap heran. Seorang bapak-bapak merekam dengan senyum
sinis.)
Bapak-bapak
(dari kejauhan):
"Neng, itu tarian daerah apa? Kayak orang kena kejutan listrik."
Vina
(berkeringat, masih berusaha):
"Ini dance challenge, Pak! Lagi viral!"
Bapak
itu:
"Viral ampe masuk rumah sakit jiwa?"
(Rere
dan Dani sudah tidak kuat menahan tawa. Mereka memeluk perut masing-masing.)
Rere:
"Vin, mending stop. Kita lari. Video lo udah direkam setengah RT."
Vina (mematikan
musik):
"Oke, besok kita coba tren baru aja."
Babak 4: Barefoot Shoes: Puncak Kegilaan
(Tren
terbaru: sepatu yang konon "seperti berjalan tanpa alas kaki, tapi tetap
terlindungi". Vina membelinya online. Harga: 500 ribu.)
Dani (melihat sepatu
tersebut dengan penuh kebencian):
"Ini sepatu? Kayak sarung tangan buat kaki. Lo bisa lari diatas pecahan
kaca katanya? Gue sih ragu."
Vina (memakainya
dengan bangga):
"Ini teknologi, Dan! Lo nggak ngerti. Nanti kalau kita jalan-jalan di
pantai, kerikil nggak akan sakit."
Rere (mencoba memakai):
"Aneh, Vin. Kayak gue pake stoking tebel. Rasanya... kaki gue keringetan
tapi bebas."
(Mereka
bertiga memutuskan jalan-jalan di taman berbatu. Vina melompat-lompat kecil.)
Vina:
"Lihat! Nggak sakit kan?"
Dani (masih pakai
sandal jepit biasa):
"Lo lompat kayak katak stres, Vin. Tapi terserah."
(Tiba-tiba,
Vina menginjak batu tajam. Wajahnya berubah. Dari bahagia jadi... rasa sakit
yang luar biasa.)
Vina (menahan
teriakan):
"AAAA... TAPI INI SEHARUSNYA TIDAK TERJADI!"
Rere (membantu Vina
duduk):
"Kan udah bilang, Vin. Teknologi kadang bohong."
(Vina
melepas sepatunya. Kakinya berdarah kecil. Sepatu 500 ribu itu ternyata tidak
sekuat yang diklaim.)
Dani (santai):
"Selamat datang di dunia nyata, Vin. Tren itu kaya es krim: manis di awal,
lumer di akhir, dan bikin sakit perut kalau kebanyakan."
Akhir: Epilog Kesadaran
(Beberapa
bulan kemudian. Vina sudah tidak lagi mengejar tren. Ruang tamunya bersih.
Slime, es batu raksasa, dan barefoot shoes sudah masuk lemari bawah tempat
debu.)
Vina (duduk santai,
minum air putih dari gelas biasa):
"Gue sadar sesuatu, guys. Tren itu cuma ilusi. Hari ini viral, besok
dilupakan. Gue buang duit, waktu, dan tenaga buat hal yang nggak berarti."
Dani (mengacungkan
jempol):
"Akhirnya. Lo sadar setelah 10 tren gagal. Tapi nggak apa. Lebih telat
daripada nggak sama sekali."
Rere (sambil main
kucing):
"Jadi sekarang kita ikut tren apa, Vin?"
Vina (tersenyum):
"Tren jadi diri sendiri. Nggak usah ikut-ikutan. Hidup lebih tenang.
Dompet lebih aman. Mental lebih stabil."
(Mereka
bertiga tertawa. Tidak ada kamera. Tidak ada ring light. Tidak ada konten.
Hanya tiga orang yang akhirnya sadar bahwa menjadi up to date itu
melelahkan, dan menjadi dir sendiri itu gratis.)
Pesan moral
ala CERCU:
Tren
di media sosial itu seperti hubungan toxic: memaksa kita terus berubah,
menguras uang dan energi, dan pada akhirnya, meninggalkan kita sendirian dengan
penyesalan. Lebih baik kita jadi penonton yang bijak daripada pemain yang
bangkrut. Karena tren akan berlalu, tapi utang (dan malu) akan tetap tinggal.
❓ Pertanyaan untuk pembaca CERCU:
Tren
apa yang paling absurd yang pernah kalian ikuti dan sekarang kalian sesali?
Atau sebaliknya, tren apa yang kalian pilih untuk tidak diikuti dan ternyata
itu keputusan terbaik dalam hidup? Share cerita "perburuan tren"
paling konyol versi kalian di kolom komentar!
Bonus
poin kalau
kalian punya saran: bagaimana caranya membedakan tren yang worth it dan
yang cuma gimmick semata. Karena di era digital ini,
menjadi fomo itu mahal, tapi menjadi bijak itu
gratis. π
— CERCU:
Cerita Lucu dari Kejar Tayang, Dompet Tipis, dan Mental Jebol.
No comments:
Post a Comment