Halo para penggemar drama berlebihan dan korban dari menonton terlalu banyak sinetron! Mari kita bicara tentang fase di mana kita mengira kehidupan nyata harus sama dramatisnya dengan adegan di TV, di mana tokoh utamanya menulis surat dengan darah demi membuktikan cinta sejati. Fase di mana akal sehat sedang berlibur panjang, dan gengsi mengambil alih kendali.
Cerita ini adalah pengakuan dosa saya. Sebuah kisah tentang bagaimana keinginan untuk terlihat epic berubah menjadi insiden yang hampir membuat saya dijauhi karena dianggap mengidap penyakit aneh.
Karakter utamanya adalah Lala, cewek yang membuat logika saya minggat. Daripada mendekatinya dengan cara waras—seperti bilang "hai" atau tanya kabar—saya memutuskan untuk membuat sebuah pernyataan yang takkan pernah dilupakannya. Inspirasi saya? Sebuah sinetron yang judulnya panjang sekali, di mana sang protagonis, setelah disakiti, menulis surat dengan darahnya sendiri sambil menangis di tepi pantai. That's true love, pikir saya.
![]() |
| "Terinspirasi Sinetron, Aku Kirim Surat Pakai Darah… Ternyata Cuma Tinta Pulas" |
Fase Kecanduan Sinetron: Ketika Realita dan Fiksi Berbaur
Waktu itu saya baru saja menonton adegan puncak itu. Pria tampan itu mengorbankan jarinya untuk sepucuk surat, dan wanita cantik itu menerimanya sambil terisak. Mereka akhirnya hidup bahagia. Kesimpulan saya yang salah: darah = bukti cinta = happy ending.
Saya mengabaikan fakta bahwa dalam kehidupan nyata, menulis dengan darah itu: (a) sakit, (b) tidak higienis, dan (c) bisa membuat Anda dilaporkan ke pihak berwajib. Otak saya hanya menangkap: dramatis = baik.
Jadi, dengan semangat membara, saya merencanakan mahakarya saya. Tapi, ada sedikit masalah. Saya adalah orang yang fobia jarum dan takut melihat darah sendiri. Melukai jari? Tidak mungkin. Itu terlalu menyakitkan dan… nyata.
Solusi "Kreatif": Darah Palsu ala Seniman Gagal
Di sinilah akal-akalan murah muncul. Saya ingat punya tinta printer merah tua yang sudah hampir habis. Saya pikir, "Ini sempurna! Warnanya mirip darah, dan aku tidak perlu menyakiti diri sendiri. Aku jenius!"
Saya menyebutnya "darah simbolik". Bukan darah beneran, tapi mewakili pengorbanan yang akan saya lakukan jika diperlukan (tapi semoga tidak).
Dengan penuh keyakinan, saya mencelupkan ujung pulpen ke tinta printer merah itu dan mulai menulis di atas kertas putih. Hasilnya? Sebuah surat cinta yang terlihat seperti bukti kejahatan.
Tinta printer itu terlalu encer, jadi tulisan saya meleber dan menciptakan efek "noda darah" di sekeliling huruf. Beberapa bagian ada yang menggumpal. Saat kering, warnanya berubah menjadi merah kecokelatan yang persis seperti noda darah sungguhan. Saya membacanya ulang. Isinya standar, tapi penampilannya seperti pesan ancaman dari pembunuh berantai.
"Untuk Lala,
Perasaan ini begitu dalam, tak bisa diungkap dengan kata biasa. Ku
persembahkan surat ini sebagai tanda kesungguhanku. Aku suka kamu."
Saya melipatnya dengan hati-hati, merasa seperti protagonis dalam film. Saya membayangkan Lala membukanya dengan tangan gemetar, terharu oleh "pengorbanan" saya, dan mungkin menitikkan air mata.
Misi Pengiriman: Saat Noda Merah Itu Meluncur
Saya menyelipkan surat itu ke dalam bukunya saat dia sedang tidak di tempat. Saya pergi dengan perasaan campur aduk: bangga, deg-degan, dan sedikit was-was karena tinta itu belum benar-benar kering dan membekas di jari saya.
Beberapa jam kemudian, saya melihat Lala mengambil buku itu dan menemukan surat saya. Ekspresinya bukan terharu. Bukan juga penasaran. Itu adalah ekspresi ngeri.
Dia menjatuhkan surat itu seperti terkena sengatan listrik. Matanya melotot. Teman di sebelahnya, sebut saja Siska, langsung mendekat.
"Ada apa, La?" tanya Siska.
Lala menunjuk surat itu dengan wajah pucat. "Itu... ada darah!"
Siska mengambilnya dengan hati-hati. "Ih, jangan-jangan ini... surat dari
orang gila?"
Mereka berdua memandangi surat itu seperti sedang memeriksa barang bukti. Saya, dari kejauhan, ingin sekali menghilang.
Krisis: Dilaporkan ke UKS
Alih-alih membacanya, Lala dan Siska malah membawa surat itu ke guru dan melaporkan bahwa mereka menemukan "surat aneh yang diduga mengandung darah". Mereka khawatir ada siswa yang terluka atau—yang lebih parah—melukai diri sendiri.
Saya melihat mereka menuju ruang guru, dan jantung saya hampir copot. Ini bukan rencananya! Mereka seharusnya terkesima, bukan melaporkan saya!
Beberapa menit kemudian, saya dipanggil ke ruang UKS. Guru BK dan petugas UKS sudah menunggu dengan surat saya terbuka di meja.
"Apakah kamu tahu tentang ini?" tanya Bu Guru
dengan wajah serius.
Saya berkeringat dingin. "Sedikit, Bu."
"Mengapa ada noda seperti darah di sini? Apakah kamu terluka?"
"Bukan darah, Bu. Itu... tinta."
"Tinta?" Petugas UKS mengambilnya dan mengamati dengan cermat.
"Warnanya mirip sekali. Kamu yakin?"
Di bawah tekanan, saya akhirnya mengaku. "Iya, Bu. Itu tinta printer. Saya cuma... ingin menulis dengan warna merah."
Bu Guru memandangi saya dengan campuran kasihan dan tidak percaya. "Nak, lain kali jika ingin menulis surat, gunakan tinta biasa. Ini bisa disalahartikan. Kami khawatir ada siswa yang mengalami kekerasan atau melukai diri sendiri."
Saya hanya bisa mengangguk, malu sampai ke tulang sumsum.
Konsekuensi: Malu yang Berlipat
Kabar ini tentu saja menyebar. Alih-alih dikenal sebagai si romantis, saya kini dikenal sebagai "si tukang surat darah-darahan". Lala, setelah tahu kebenarannya, bukan terkesima, tapi justru menghindari saya.
"Gila, lo bisa-bisanya pake tinta kayak gitu," katanya suatu hari. "Gue kira beneran darah, tau! Gue sempet mimpi buruk! Jangan lagi ya, serem ah."
Teman-teman sekelas juga tak ketinggalan mengolok.
"Eh, lo kirim surat pakai darah lagi nggak?"
"Bisa nulis pakai tinta hijau nggak? Buat yang horor-horor."
Saya menjadi bahan lelucon selama berminggu-minggu. Semua karena ingin terlihat dramatis seperti di sinetron.
Pelajaran yang Dipetik dengan Susah Payah
- Jangan Tiru Sinetron. Hidup bukan sinetron. Apa yang dramatis di TV, dalam kenyataannya justru menyeramkan dan tidak masuk akal.
- Tinta Printer Bukan Darah. Meski warnanya mirip, konteksnya sangat berbeda. Yang satu untuk mencetak, yang lain untuk… jangan sampai tercampur.
- Kejelasan Lebih Baik daripada Drama. Surat dengan tinta biru atau hitam yang mudah dibaca, jauh lebih efektif daripada "karya seni" yang membuat orang lain trauma.
- Pertimbangkan Kesan yang Ditimbulkan. Sebelum melakukan hal dramatis, pikirkan: bagaimana ini akan dilihat oleh orang lain? Apakah akan dianggap romantis atau mengkhawatirkan?
Penutup: Sekedar Peringatan
Jadi, untuk kalian yang sedang kasmaran dan ingin membuktikan cinta dengan cara ekstrem, ingatlah kisah saya. Darah—atau apapun yang mirip darah—bukanlah alat yang tepat untuk menyampaikan perasaan. Ia lebih cocok untuk film horor daripada romantis.
Kadang, kata-kata tulus yang ditulis dengan pulpen biasa di atas kertas biasa, jauh lebih kuat daripada semua drama berlebihan yang malah berujung pada laporan ke UKS.
Cukup sekian pengakuan dari saya, mantan "sinetron lover" yang akhirnya sadar bahwa hidup ini bukanlah episode Ikatan Cinta. Sudah ah, mau buang-buang tinta printer merah saya yang sisa, sebelum ada ide gila lainnya.
.jpg)
Comments
Post a Comment