Ketika Catatan Rahasia di Pojokan Buku Jadi Konsumsi Publik
Ada satu hal yang sepertinya harus kita sepakati bersama: kehidupan sekolah itu adalah tempat di mana kesalahan kecil bisa berubah menjadi tragedi nasional versi lokal.
Salah satunya ya ini—kisah konyol tentang surat-suratanku yang kutulis di pojokan buku tugas, yang awalnya kubuat hanya untuk hiburan pribadi, tapi akhirnya malah ikut terkumpul ke guru dan dibacakan dalam suasana penuh drama dan tanda tanya.
Sungguh, kalau hidup adalah komedi, maka aku adalah pemeran utamanya.
![]() |
| Surat-Suratan di Buku Tugas, Eh Malah Ikut Terkumpul ke Guru |
Awal Mula Bencana: Pojokan Buku dan Tulisan Tak Bermoral Akademik
Hari itu pelajaran IPS. Guru sedang menjelaskan tentang peta politik dunia, tapi otakku entah berada di mana. Bukannya fokus ke atlas, aku malah sibuk curhat ke diri sendiri di pojok buku tugas.
Isinya?
Ya jangan dibayangin ilmiah. Itu tuh curhat receh yang bahkan buku
harian pun mungkin menolak.
Misalnya:
- “Hari ini aku capek banget, karena naksiranku gantengnya kebangetan.”
- “Kenapa PR banyak banget? Aku kan manusia, bukan titan.”
- “Seandainya guru IPS itu nggak galak, mungkin hidupku lebih bahagia.”
Dan ada satu bagian yang sangat fatal:
“Btw, si Doni itu nyebelin banget. Sok pinter. Padahal nilai ulangan kemarin cuma 55.”
Di situ aku merasa jenius.
Nyinyir, gosip, curhat, semuanya kumasukkan ke buku tugas yang seharusnya suci
dan bersih.
Tentu, prinsipku saat itu simpel:
“Ah, nggak bakalan ada yang baca kok!”
Dan di situlah letak kebodohannya.
Momen Lupa Paling Fatal: Buku Tugas Terkumpul
Setelah pelajaran selesai, guru berkata:
“Anak-anak, buku tugasnya dikumpulkan ke depan ya. Nanti saya periksa.”
JLEB.
Saat itu otakku panik, tubuhku freeze, dan hati berteriak,
“BUKU ITU JANGAN DIKUMPULKAN!”
Tapi tangan?
TANGAN MALAH NGUMPULIN.
Entah kenapa refleksku justru mengikuti arus. Buku itu meluncur mulus ke tumpukan seperti ikan salmon yang pasrah ditangkap beruang.
Aku sempat ingin menarik kembali buku itu, tapi gak mungkin
dong aku tiba-tiba nyelonong ke meja guru sambil bilang:
“Bu, saya mau revisi sedikit… bagian pojokan curhat saya.”
Itu bukan revisi. Itu upaya menyelamatkan reputasi.
Tapi ya sudah. Nasi sudah menjadi bubur. Bubur sudah campur kerupuk. Tidak bisa dikembalikan.
Semalaman Gelisah, Seperti Menunggu Nilai Ujian Nasional
Sepulang sekolah aku tidak bisa tenang.
Bahkan makan mie instan kesukaanku pun terasa hambar.
Di kamar, aku berkali-kali membayangkan kemungkinan buruk:
- Bu Guru membaca curhat nyinyirku.
- Besok aku dipanggil ke BK.
- Atau yang paling parah: curhatku dibacakan di depan kelas.
Yang terakhir itu yang paling aku takutkan.
Karena ada kalimat tentang si Doni.
Si Doni yang hobinya sok bijaksana dan suka baca buku tebal, tapi nilainya…
yah… tidak setebal bukunya.
Aku terus berguling di kasur seperti sushi yang gagal digulung.
Besoknya di Kelas: Aura-Aura Kehancuran
Hari berikutnya aku masuk kelas dengan doa panjang: semoga guru lupa membawa buku tugas.
Tapi ternyata beliau membawa.
Lengkap satu tumpukan.
Beliau membuka kelas dengan senyuman yang… aneh.
Senyuman yang lebih mirip “saya menemukan sesuatu”.
Jantungku berdetak tidak karuan.
Lalu, beliau berkata:
“Anak-anak, Ibu menemukan sesuatu yang cukup menarik di salah satu buku tugas.”
MATIKU.
MATIKU DI TEMPAT.
Teman-teman langsung heboh. Semua melirik kiri dan kanan. Ada yang berbisik, ada yang nyengir. Si Doni? Duduk tegap, seolah dirinya tidak mungkin jadi bahan gosip.
Guru lalu membuka salah satu halaman dan berkata:
“Ini contoh tulisan yang TIDAK BOLEH ada di buku tugas.”
Aku bisa lihat pojoknya.
ITU POJOKAN BUKUKU.
Guru Membaca Curhatanku KERAS-KERAS
Guru membacakan tulisan itu dengan penuh ekspresi:
“Hari ini aku capek banget, karena naksiranku gantengnya kebangetan.”
SE-KELAS langsung:
“UUUUUUUUUUUUUUUuuuuuuu…”
Aku mau pingsan. Atau jadi semut. Atau meledak.
Guru lanjut:
“Seandainya guru IPS itu nggak galak, mungkin hidupku lebih bahagia.”
Teman-teman langsung:
“WAAAAH IBU DIPROTES!”
Guru tersenyum sinis.
Aku mulai menyusun rencana pindah sekolah ke antariksa.
Lalu bagian paling mengerikan:
Guru membaca pelan dengan nada dramatis:
“Btw, si Doni itu nyebelin banget. Sok pinter. Padahal nilai ulangan kemarin cuma 55.”
Kelas langsung meledak tertawa.
Doni?
Doni hanya menoleh ke arahku dengan tatapan
“aku-tidak-menyangka-tapi-aku-bisa-menuntut-ini.”
Aku ingin teleport.
Interogasi Kelas: “Ini Tulisan Siapa?”
Guru lalu berkata:
“Baik, sekarang Ibu ingin tahu… siapa pemilik buku ini?”
Keadaan menjadi hening.
Burung gagak lewat.
Angin sepoi-sepoi membawa aroma kehinaan.
Semua mata tertuju padaku.
Aku tak bisa sembunyi. Aku duduk di bangku paling depan.
Aku mencoba tersenyum.
“A-aku bu…”
Guru mengangguk, seolah bilang:
“Sudah kuduga dari tadi.”
Nasihat Guru yang Lebih Menyakitkan dari Dimarahi
Guru tidak marah-marah.
Tidak membentak.
Tidak menghukum.
Justru beliau berkata:
“Kalau mau curhat, jangan di buku tugas. Beli buku diary. Atau bikin blog.”
Aku yang sudah setengah mati malu cuma bisa mengangguk.
Lalu beliau menambahkan:
“Dan Doni, meskipun nilaimu 55, kamu tidak perlu sok pinter juga ya.”
SE-KELAS TERTAWA.
Doni resmi jadi korban kedua.
Aku sedikit lega. Sedikit saja.
Dampak Jangka Panjang: Reputasi Rusak Tapi Jadi Legenda
Setelah kejadian itu, aku jadi seleb mendadak.
Teman-teman lewat sambil bilang:
- “Eh, itu yang curhat di buku tugas!”
- “Pojokan girl! Pojokan girl!”
- “Hati-hati, nanti tulisannya ikut terkumpul lagi!”
Si Doni pun tiap lewat bilang:
“Nilai 55 juga manusia.”
Bahkan guru lain ikut-ikutan:
“Jangan tulis gosip di buku tugas ya, nanti viral lagi!”
Aku hanya bisa menerima takdir.
Pelajaran Berharga yang Bisa Diambil
Setelah tragedi itu, aku menyimpulkan beberapa pelajaran penting:
1. Jangan menulis curhat di buku tugas. Titik.
Karena guru itu punya mata. Dan waktu luang.
2. Pojokan buku bukan tempat aman.
Dia bisa mengkhianati pemiliknya kapan saja.
3. Jangan gosip soal teman satu kelas, apalagi nilainya.
Kalau ketahuan, bisa jadi trending topic.
4. Curhatlah di tempat yang aman.
Diari, blog, atau notes HP yang dikunci. Jangan di buku akademik.
5. Kalau sudah terlanjur ketahuan, ya sudah. Ketawain aja.
Karena menangis tidak akan mengubah nilai Doni menjadi lebih tinggi.
Penutup: Ketika Curhat Jadi Konten
Kini, setiap kali melihat pojokan buku, aku selalu ingat kejadian itu.
Sebuah tragedi yang terlalu konyol untuk disesali, tapi terlalu memalukan untuk dilupakan.
Tapi untungnya, sekarang aku bisa menjadikannya konten di blog CERCU.
Karena memang benar:
Kalau hidup memberimu rasa malu, jadikanlah bahan tertawaan.

Comments
Post a Comment