Ketika Ilmu Perbucinan Bertemu Mistis-mistisan ala Anak Sekolah
Zaman sekarang orang nembak pakai chat.
Paling banter pakai stiker lucu atau emoji hati.
Praktis. Cepat. Tanpa jejak fisik.
Tapi dulu?
Zaman surat cinta adalah zaman keemasan rasa malu massal.
Tulisan tangan miring-miring, wangi parfum murahan, amplop warna pink, dan isinya… duh, kalau dibaca sekarang bikin aku ingin menenggelamkan diri di bak mandi.
Tapi tidak ada yang lebih memalukan daripada kisah ini—
kisah tentang surat cinta terakhir yang kutulis dengan penuh jiwa, tapi
akhirnya malah dibakar oleh temanku karena dia percaya hal-hal mistis
ala dukun cinta.
Dan aku, karena bodoh, lelah, dan bucin tingkat tinggi…
ikut percaya.
Iya. Aku, manusia rasional, ikut percaya.
![]() |
| Surat Cinta Terakhirku… Dibakar Karena Katanya Bisa Bikin Mantra Cinta |
Awal Cerita: Surat yang Ditulis dengan Air Mata, Bukan Tinta
Waktu itu aku sedang berada pada fase patah hati terakbar dalam sejarah hidupku (padahal baru kelas 2 SMP). Mantanku pergi begitu saja, tanpa kata perpisahan, tanpa akhir yang jelas.
Oke, sebenarnya dia tidak pergi. Dia cuma ganti sekolah.
Dan tidak ada apa-apa juga antara kami kecuali saling tatap lima detik di
kantin.
Tapi di umur segitu, itu sudah masuk kategori “kisah cinta tak terlupakan”.
Aku memutuskan menulis surat cinta terakhir.
Bukan surat biasa.
Ini semacam surat perpisahan, surat penutup, sekaligus surat pengakuan dosa
kenapa aku pernah suka sama dia padahal dia dulu potong rambutnya salah.
Aku menulis dengan sepenuh hati:
- “Aku rela kamu pergi, bahkan kalau kamu nggak pernah tahu aku suka…”
- “Terima kasih sudah pernah senyum balik waktu aku jatuh dari sepeda.”
- “Aku ikhlas, walaupun hatiku terpotong seperti penghapus yang dipinjam tapi tak kembali…”
Pokoknya dramatis.
Sampai aku sendiri bingung kenapa dulu bisa sedramatis itu.
Surat itu kuberi parfum mawar, dihias spidol glitter, bahkan kukasih gambar hati yang bentuknya ngaco.
Pokoknya niat.
Temanku, Sang ‘Dukun Cinta’ Dadakan
Setelah selesai menulis, aku menunjukkan surat itu ke temanku—sebut saja namanya Santi, ahli mistis abal-abal sekaligus komentator hubungan orang lain padahal dia sendiri jomblo seumur hidup.
Santi membaca suratku dengan mata berbinar.
“Astaga,” katanya.
“Ini surat cinta sakti, tau nggak?”
Aku mengernyit. “Sakti gimana maksudnya?”
“Iya,” jawabnya.
“Kalau surat cinta terakhir dibakar, katanya bisa jadi mantra. Nanti dia
bakal inget kamu terus. Bahkan kalau dia pindah sekolah, pindah kota, pindah
negara, atau pindah ke alam lain!”
Aku sampai terdiam.
Dalam hati bertanya:
Ini temanku apa sales dukun?
Tapi saat itu aku sedang rapuh.
Rapuh + bucin = otak menolak berpikir logis.
Aku pun bertanya:
“Terus kalau dibakar, dia balik lagi ke aku?”
Santi menjawab penuh keyakinan:
“Kalau nggak balik, minimal dia kangen. Minimal banget.”
Minimal banget itu apa?
Tak penting.
Yang penting: aku ketipu.
Upacara Pembakaran: Ritual Paling Gagal Dalam Sejarah Percintaan
Santi mengajakku ke lapangan belakang sekolah. Tempat angker yang katanya sering dipakai kakak kelas buat hal-hal misterius (padahal cuma buat bakar sampah).
“Taruh suratnya di sini,” kata Santi, seolah dia sedang memimpin ritual.
Aku pun menaruh surat cinta terakhirku di atas batu besar.
Santi mengeluarkan korek api.
Aku tidak tahu dari mana dia dapat korek itu.
Mungkin dia punya side job sebagai teknisi kembang api.
Dia menyalakan api…
dan pendadaran dukun cinta segera dimulai.
WUSHHH.
Surat itu terbakar.
Dan jujur…
BAUNYA PARFUM CAMPUR KERTAS TERBAKAR ITU MENUSUK HIDUNG.
Saat api mulai besar, Santi komat-kamit:
“Cinta yang hilang, kembali padanya…
Cinta yang pudar, ingat namanya…
Cinta yang pergi, minimal kangen lah…”
Yang terakhir dia improvisasi.
Aku hanya menatap api itu dengan perasaan campur aduk:
sedih, rasionalitas hilang, dan sedikit lapar.
Ketika surat itu berubah jadi abu, Santi berkata:
“Sudah. Mantranya aktif.”
Ya Allah… aku percaya.
Aku benar-benar percaya.
Efek Samping Luar Biasa dari ‘Mantra Cinta’
Tentu, setelah ritual itu aku menunggu tanda-tanda mantan (atau calon mantan yang tidak resmi itu) akan menghubungiku.
Aku menunggu seminggu.
Dan apakah dia muncul?
TIDAK.
Apakah dia tiba-tiba kangen?
TIDAK.
Apakah ada angin kencang, pertanda cinta kembali?
JUGA TIDAK.
Yang terjadi malah hal-hal absurd yang tidak ada hubungannya sama sekali:
1. Kucing tetangga tidur di depan rumahku
Santi bilang itu pertanda baik.
Tetapi menurutku itu cuma kucing mencari tempat sejuk.
2. Aku mimpi mantan jatuh ke got
Santi bilang itu “visi cinta”.
Menurutku itu cuma karena aku tidur kebanyakan.
3. Guruku memanggil kami karena mencium bau kertas terbakar
“Hari itu ada yang bakar apa di sekolah?” katanya.
Santi langsung nuduk.
Aku nyaris mati ketakutan.
Tidak ada tanda cinta.
Yang ada tanda nyaris dipanggil BK.
Nasib Sial Tambahan: Ketahuan Guru
Dua hari kemudian guru piket menemukan bekas abu surat terbakar di belakang sekolah.
Dan seperti yang bisa ditebak…
langsung diselidiki.
Guru bertanya:
“Siapa yang bakar kertas di sini?”
Saat itu aku ingin berubah menjadi batu.
Tapi Santi, dalam wujud sahabat kadang menjebak, malah maju dan bilang:
“Bu, kami cuma… eksperimen sains.”
EKSPERIMEN SAINS APA?
API CINTA BUKAN IPA.
Guru hanya mengangkat alis.
“Apa yang kalian bakar?”
Aku jawab dengan jujur tapi lirih:
“…surat pribadi, Bu.”
Guru makin curiga.
“Surat apa?”
Santi menjawab cepat:
“Surat cinta bu! Katanya bisa jadi mantra!”
GURU LANGSUNG NGAKAK.
Nggak marah. NGAKAK.
Aku malu luar biasa.
Beliau sampai bilang:
“Kalian ini… belum selesai sekolah udah coba-coba santet cinta.”
Bahkan beliau cerita ke guru lain.
Keamanan reputasiku pun lenyap.
Kabar Tentang ‘Mantra Cinta’ Menyebar Secepat Gossip Kantin
Besoknya seluruh sekolah tahu.
Aku bahkan diberi julukan:
- “Dukun Cinta Junior”
- “Pembakar Surat Sakti”
- “Anak Mistis yang Bucin”
Teman-teman ngeledek:
“Eh, kalau mau bikin mantan balik, bakar kertas lagi yuk!”
Sementara kakak kelas nyeletuk:
“Hati-hati sama dia, cinta kalian bisa disantet!”
Aku cuma bisa pasrah.
Dan si Mantan?
Dua minggu kemudian aku bertemu dia di minimarket.
Apakah dia tiba-tiba tersenyum penuh kerinduan?
Apakah dia tiba-tiba mengaku merindukanku setelah ‘mantra’ itu?
Tentu tidak.
Yang dia bilang cuma:
“Kamu kelas 2 SMP yang waktu itu jatuh dari sepeda, kan? Kamu baik-baik aja?”
CUMA ITU.
Ya Tuhan…
Mantra apanya ini???
Pelajaran Hidup yang Sangat Penting
Setelah kejadian memalukan itu, aku menyimpulkan beberapa pelajaran berharga:
1. Jangan percaya teman yang terlalu kreatif soal mistis cinta
Cinta itu butuh logika, bukan korek gas.
2. Surat cinta sebaiknya dikirim, bukan dibakar
Kecuali kamu memang ingin jadi dukun percintaan.
3. Jangan melakukan ritual aneh di sekolah
Resikonya besar: dari dipanggil BK sampai jadi legenda.
4. Parfum murahan kalau dibakar baunya luar biasa menyeramkan
Ini fakta ilmiah.
5. Masa lalu memang memalukan, tapi lucu kalau diceritakan ulang
Cocok untuk konten blog CERCU.
Sakitnya hilang, lucunya abadi.
Penutup: Cinta, Surat, dan Kebodohan yang Layak Ditertawakan
Sekarang setiap kali aku melihat kertas, korek api, atau
parfum mawar, aku langsung terkenang masa-masa absurd itu.
Masa ketika aku percaya bahwa membakar surat cinta bisa menghasilkan mantra
pengasihan.
Pada akhirnya aku sadar:
Cinta bukan soal sihir.
Cinta bukan soal mantra.
Cinta adalah soal keberanian… dan sedikit kewarasan.
Tapi yang jelas…
kisah itu tetap jadi salah satu cerita paling lucu, paling memalukan, dan
paling CERCU-friendly dalam hidupku.
Kalau ada bagian hidup yang pantas ditertawakan, ya ini.

Comments
Post a Comment