Dalam
kehidupan sosial, ada banyak fenomena menarik yang sering kita temui, tapi
jarang kita teliti secara serius. Salah satunya adalah fenomena orang bicara
kencang.
Bukan
sekadar sedikit lebih keras. Bukan pula karena mic-nya rusak. Tapi bicara
dengan volume yang membuat:
- Kucing tetangga menoleh
- Orang satu ruangan terdiam
- Dan kita refleks mengecilkan bahu
Setelah
dilakukan observasi sosial tingkat warung kopi, diskusi di angkutan umum, dan
pengamatan di acara keluarga, para pengamat akhirnya sampai pada sebuah
kesimpulan yang terasa sederhana tapi dalam:
Orang yang
bicara kencang biasanya sedang ingin didengar.
Penemuan ini
terdengar sepele, tapi efeknya luas, dari ruang kelas sampai grup WhatsApp
keluarga.
1. Bicara
Kencang Itu Bukan Selalu Marah
Mari kita
luruskan dulu satu kesalahpahaman besar.
Bicara
kencang tidak selalu berarti marah. Kadang:
- Mereka tidak sadar suaranya keras
- Mereka terbiasa bicara di lingkungan berisik
- Atau sejak kecil memang volume default-nya “high”
Namun sering
kali, bicara kencang adalah sinyal batin:
“Tolong
dengarkan saya.”
Bukan:
“Saya ingin
ribut.”
Ini
perbedaan penting yang sering luput dari perhatian.
2.
Lingkungan yang Tidak Mendengarkan Melahirkan Suara Keras
Bayangkan
seseorang yang:
- Bicara pelan → tidak ditanggapi
- Bicara normal → disela
- Bicara agak keras → baru dilirik
Maka alam
bawah sadar akan berkata:
“Oh, kalau
mau diperhatikan, harus lebih keras.”
Lama-lama,
volume naik tanpa sadar. Bukan karena ingin dominan, tapi karena lelah
diabaikan.
Ini seperti
bel pintu:
kalau ditekan sekali tidak dibuka, biasanya akan ditekan lebih keras.
3. Orang
Bicara Kencang dan Rapat Tanpa Moderator
Fenomena
paling jelas terlihat di rapat.
Ada satu
orang yang:
- Baru bicara, semua diam
- Nadanya tinggi
- Kalimatnya panjang
- Dan sulit disela
Bukan karena
dia paling benar, tapi karena:
Dia paling
terdengar.
Sementara
orang lain yang bicara pelan sering:
- Dipotong
- Dianggap belum selesai
- Atau idenya “nanti saja”
Di sinilah
volume suara berubah menjadi alat bertahan hidup sosial.
4. Bicara
Kencang di Tempat Umum: Studi Lapangan
Di angkutan
umum, kita sering bertemu orang yang:
- Telepon dengan volume maksimal
- Tertawa keras
- Bercerita seolah satu kendaraan adalah audiensnya
Padahal
lawan bicaranya ada di ujung sana, bukan di bangku sebelah.
Apakah ini
gangguan?
Kadang iya.
Apakah ini kebutuhan?
Sering kali, iya juga.
Bicara
kencang di ruang publik sering jadi cara:
“Saya ada.”
“Saya ingin direspons.”
5. Ketika
Bicara Kencang Jadi Label Negatif
Sayangnya,
orang yang bicara kencang sering mendapat cap:
- Cerewet
- Kasar
- Tidak sopan
- Emosional
Padahal
belum tentu.
Banyak di
antara mereka sebenarnya:
- Antusias
- Bersemangat
- Atau terlalu lama tidak didengarkan
Ironisnya,
orang yang bicara paling keras sering justru paling ingin dipahami.
6. Perbedaan
Orang Percaya Diri dan Orang Ingin Didengar
Ini penting.
Orang
percaya diri:
- Bisa bicara pelan
- Tidak panik jika disela
- Tidak perlu meninggikan suara
Orang yang
ingin didengar:
- Takut suaranya hilang
- Takut idenya tenggelam
- Takut dianggap tidak penting
Maka volume
naik, bukan karena sombong, tapi karena takut tak dianggap.
7. Kita
Semua Pernah Bicara Kencang
Mari jujur.
Pernah:
- Bicara lebih keras saat emosi?
- Menaikkan nada karena tidak didengarkan?
- Mengulang kalimat dengan volume lebih tinggi?
Itu
manusiawi.
Biasanya
terjadi saat:
- Kita lelah
- Kita tertekan
- Kita merasa tidak dipedulikan
Dan saat
itu, suara keras jadi jalan pintas.
8. Cara
Menghadapi Orang yang Bicara Kencang
Alih-alih
langsung kesal, coba:
- Dengarkan dulu
- Tanggapi isinya, bukan volumenya
- Beri ruang bicara
Sering kali,
setelah merasa didengar, volume akan turun dengan sendirinya.
Ajaib, tapi
nyata.
9. Bicara
Kencang di Era Media Sosial
Di dunia
maya, bicara kencang berubah bentuk:
- Huruf kapital
- Tanda seru berlebihan
- Status panjang penuh emosi
SEMUA TERASA
SEPERTI DITERIAKI.
Namun
maknanya sama:
“Tolong
perhatikan saya.”
Bedanya, ini
teriak digital.
10.
Kesimpulan Observasi Sosial (Versi Santai)
Setelah
observasi panjang dan pengalaman hidup yang tidak sedikit, kita bisa menarik
kesimpulan:
- Orang bicara kencang sering ingin didengar
- Mereka tidak selalu marah
- Kadang hanya lelah diabaikan
- Mendengarkan bisa menurunkan volume
Ini bukan
pembenaran untuk berteriak, tapi ajakan untuk lebih peka.
Penutup:
Dengarkan Dulu, Baru Menilai
Jika suatu
hari kamu bertemu orang yang bicara kencang, jangan langsung berkata:
“Orang ini
ribut.”
Coba
pikirkan:
“Mungkin dia
sedang ingin didengar.”
Dan jika
suatu hari kamu sendiri bicara lebih keras dari biasanya, berhentilah sejenak
dan bertanya:
“Aku
kenapa?”
Mungkin
bukan karena kamu marah.
Mungkin karena kamu butuh didengarkan.
Karena pada
akhirnya, manusia tidak selalu ingin menang.
Sering kali, manusia hanya ingin:
Diakui
keberadaannya.
Dan kadang,
suara keras hanyalah cara paling sederhana untuk berkata:
“Aku di
sini.”
Comments
Post a Comment