Skip to main content

"Nulis Surat Pakai Tangan Kiri Biar Nggak Ketauan, Eh Malah Dikira Tulisan Dokter"


Halo para kolektor momen canggung dan taktik gagal! Mari kita berkenalan dengan sebuah fase dalam hidup di mana kita mengira diri sendiri adalah agen rahasia, padahal skill kita lebih cocok jadi badut yang tidak sengaja menghibur.

Cerita ini tentang sebuah misi penyamaran yang berantakan. Sebuah operasi rahasia di mana saya, dengan percaya diri yang sangat salah, memutuskan bahwa menjadi kidal sementara adalah kunci menuju hati sang doi.

Karakter utama dalam drama ini adalah Maya, si cewek yang membuat saya rela melakukan hal-hal irasional. Daripada mendekatinya dengan cara normal—seperti ngobrol atau nanya tugas—saya memilih jalur yang lebih... berbelit. Saya memutuskan untuk mengirim surat cinta anonim.

Alasannya sederhana: takut ditolak. Tapi lebih takut lagi kalau surat cinta saya yang isinya canggung itu bisa dilacak sampai ke saya. Maka, saya butuh penyamaran. Bukan topi dan kacamata hitam, tapi sesuatu yang lebih mendasar: menyamarkan tulisan tangan.

Alasannya sederhana: takut ditolak. Tapi lebih takut lagi kalau surat cinta saya yang isinya canggung itu bisa dilacak sampai ke saya. Maka, saya butuh penyamaran. Bukan topi dan kacamata hitam, tapi sesuatu yang lebih mendasar: menyamarkan tulisan tangan.

Fase Perencanaan: Lahirlah Sebuah Ide yang "Brilian"

Berdasarkan "riset" mendalam (baca: baca-baca forum online), saya menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk menyamarkan tulisan adalah dengan menulis menggunakan tangan yang tidak biasa. Saya bukan kidal. Tangan kanan saya adalah senjata andalan untuk menulis, makan, dan menggaruk kepala saat bingung. Tangan kiri? Hiasan saja. Ia hanya berguna untuk memegang sendok saat makan bakso.

Tapi, menurut forum itu, menulis dengan tangan kiri akan menghasilkan tulisan yang "sangat berbeda" sehingga "tidak mungkin bisa dikenali". Perfect! pikir saya.

Saya duduk di kamar, mengeluarkan selembar kertas dan pulpen. Saya pindahkan pulpen dari tangan kanan yang cekatan ke tangan kiri yang canggung. Seperti bayi yang baru belajar memegang sendok, genggaman saya aneh dan tidak natural.

Proses Penulisan: Sebuah Ujian Kesabaran

Menulis dengan tangan kiri bukanlah tugas mudah. Ini adalah sebuah tantangan fisik dan mental.

  • Tangan yang Kaku: Tangan kiri saya bergerak seperti robot yang kekurangan oli. Setiap goresan terasa dipaksakan.
  • Tulisan yang "Unik": Huruf-huruf yang biasanya bulat dan rapi, berubah menjadi patah-patah dan miring ke segala arah. Huruf "a" saya mirip angka "8" yang kesakitan. Huruf "m" saya seperti grafik saham yang sedang crash.
  • Tinta di Tangan: Lebih banyak tinta yang berakhir di telapak tangan dan sisi kertas daripada di tempat yang seharusnya.
  • Kecepatan Menulis: Jika biasanya saya bisa menulis satu halaman dalam 10 menit, dengan tangan kiri, saya butuh 30 menit hanya untuk satu paragraf. Otak saya berkata "cepat", tapi tangan kiri berkata "santai, bro".

Setelah berjuang hampir satu jam, terciptalah sebuah surat cinta yang isinya biasa-baja—berisi pujian bahwa senyumannya indah dan ajakan untuk kenalan—namun dibungkus dalam sebuah kemasan tulisan yang mirip coretan dokter menulis resep untuk pasien stroke.

Saya membacanya ulang. Saya sendiri hampir tidak bisa membaca apa yang saya tulis. Tapi, bukannya khawatir, saya malah senang. "Semakin tidak terbaca, semakin tidak bisa dilacak!" pikir saya, salah mengartikan kegagalan sebagai kesuksesan.

Saya membayangkan Maya akan duduk dengan serius, mencoba memecahkan kode dari surat ini, dan akhirnya terkesan dengan usaha "misterius" saya.

Misi Pengiriman: Sang "Karya Seni" Meluncur

Dengan perasaan seperti agen 007, saya menyelipkan surat itu ke dalam bukunya. Saya merasa sangat pintar, sangat licin. Tidak ada yang akan tahu! Saya adalah master of disguise!

Hari-hari berikutnya, saya mengamati Maya dengan seksama. Saya mencari tanda-tanda bahwa dia sedang berusaha memecahkan misteri surat aneh itu.

Tapi yang saya lihat justru ekspresi frustrasi. Dia sering terlihat memicingkan mata sambil memegang selembar kertas (surat saya!), lalu menggeleng-gelengkan kepala. Suatu kali, saya bahkan melihatnya menunjukkan surat itu kepada teman dekatnya, dan mereka berdua tampak serius membicarakannya, seperti dua detektif yang menghadapi kasus yang sulit.

"Yes!" pikir saya. "Dia penasaran! Taktik saya berhasil!"

Konfrontasi: Kebenaran yang Memalukan

Kebenaran yang pahit itu terungkap beberapa hari kemudian. Saya dan Maya kebetulan satu kelompok untuk mengerjakan tugas. Saat sedang menunggu anggota lain, dia mengeluarkan surat saya dari tasnya.

"Eh, lo kan jago nulis. Coba tebak, ini tulisannya apa," katanya sambil menyodorkan surat itu kepada saya, tanpa curiga sedikitpun bahwa sang penulis sedang duduk di depannya.

Saya membeku. Ini adalah ujian yang tidak terduga. Saya harus pura-pura tidak tahu.

"Uh... ini... tulisannya agak susah dibaca ya," bata saya, berusaha tampak natural.

"Iya! Gila, dari minggu lalu gue coba artiin, tapi susah banget. Kayaknya ini tulisan dokter. Kayak resep gitu. Coba liat deh," dia menyorongkan kertas itu lebih dekat.

Saya memaksakan diri untuk membaca tulisan tangan saya sendiri yang berantakan itu. Saya sendiri hampir tidak bisa membaca kata-kata yang saya tulis seminggu lalu.

"Yang ini... kayaknya 'senyum'... eh bukan. 'Senyawa'? Nggak juga. 'Senyummu'? Iya kayaknya 'senyummu'," ucap saya, berkeringat dingin.

"Ooh! 'Senyummu'!" Maya mencatat di kertas lain. "Terus yang di bawahnya?"

Saya menghabiskan waktu sepuluh menit berikutnya untuk "menerjemahkan" surat cinta saya sendiri kepada Maya. Sebuah pengalaman yang sangat meta dan menyiksa. Saya menjadi penerjemah untuk perasaan saya sendiri!

"Jadi... ini kira-kira isinya," kata Maya setelah selesai, melihat catatannya. "Senyummu... indah... aku... ingin... kenalan... lebih... dekat. Wah, jadi ini surat cinta ya! Kirain resep obat atau catatan guru kimia!"

Dia tertawa. Saya tersenyum kecut, berusaha menutupi malu yang membakar seluruh wajah.

"Tapi yang nulis kayaknya orangnya lagi tremor atau apa ya? Atau mungkin lagi naik motor di jalan berlubang pas nulis. Kasian juga ya, niatnya baik, tapi tulisannya kayak patah-patah gini. Mana ada yang mau baca."

Pukulan itu langsung menohok jantung. Surat cinta saya tidak dianggap misterius atau menarik. Ia dianggap sebagai bencana penulisan yang menyedihkan!

Analisis Kerusakan: Di Mana Titik Kesalahannya?

  1. Salah Tafsir "Menyamarkan". Menyamarkan tulisan berarti membuatnya sedikit berbeda, bukan tidak terbaca. Tujuan utama surat adalah untuk dibaca. Jika tidak bisa dibaca, maka fungsinya gagal total.
  2. Overestimasi Kekuatan Misteri. Saya pikir "tidak terbaca" = "misterius". Pada kenyataannya, "tidak terbaca" = "menyebalkan". Maya tidak merasa penasaran, dia merasa frustrasi karena buang-buang waktu.
  3. Underestimasi Keterbacaan. Saya begitu fokus pada "tidak ketahuan" sampai lupa bahwa surat itu harus bisa dipahami oleh penerimanya. Sebuah surat cinta yang tidak bisa dibaca sama saja dengan sampah.

Epilog: Akhir yang (Sedikit) Membaik

Maya akhirnya tahu juga bahwa sayalah yang menulis surat "tulisan dokter" itu, karena saya akhirnya mengaku saat tidak tahan lagi dengan rasa bersalah dan malu.

Reaksinya? Tertawa terbahak-bahak selama lima menit non-stop.

"Gila, lo pinter banget ya samarin tulisan! Sampe-sampe gak bisa dibaca sendiri!" godanya.

Tapi, justru karena kejadian ini, kami jadi lebih dekat. Kegagalan total saya menjadi bahan lelucon yang menghangatkan hubungan kami. Akhirnya, kami berteman baik, dan dia sering mengingatkan saya jika tulisan tangan saya mulai "mirip dokter" lagi.

Pelajaran Hidup yang Berharga:

  1. Jika Mau Menyamarkan Tulisan, Gunakan Komputer. Teknologi ada untuk membantu. Font Times New Roman tidak pernah dikira tulisan dokter.
  2. Keterbacaan adalah Nomor Satu. Surat cinta yang ditulis rapi dengan tangan kanan dan bisa dibaca, lebih baik daripada surat rahasia yang tidak bisa dipahami.
  3. Jangan Jadikan Tangan Kirimu sebagai Tangan Utama. Kecuali kamu memang kidal, hormati batasan kemampuanmu.
  4. Terkadang, Kejujuran itu Paling Mudah. Daripada bersusah payah menyamarkan tulisan, lebih baik menulis dengan jujur dan terbuka. Lebih sedikit energi yang terkuras.

Jadi, untuk kalian yang berniat menggunakan taktik "tangan kiri" untuk menyamarkan identitas, pikirkan lagi. Apakah doi akan terkesan dengan misterinya, atau justru kesal karena harus menjadi ahli paleografi untuk membaca surat cintamu?

Kadang, cara terbaik untuk tidak ketahuan adalah dengan tidak menulis surat sama sekali, dan menyampaikan perasaanmu langsung. Karena jika tidak, kamu bukan akan dianggap sebagai kekasih rahasia, tapi hanya sebagai calon dokter yang tulisan tangannya perlu direhabilitasi.

Sekian dari saya, sang mantan agen rahasia yang karyanya dikira resep obat. Sudah ah, mau latihan nulis pake tangan kiri lagi—soalnya kayaknya gue cocok jadi dokter.

 

Comments

Popular posts from this blog

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...