Skip to main content

Kajian Linguistik: Bahasa yang Sulit Dipahami karena Banyak Kosakata Asing

 


Dalam dunia linguistik—dan juga dunia pergaulan sehari-hari—ada satu fenomena menarik yang sering kita alami, tapi jarang kita sadari secara sadar sambil mengelus dagu:

Bahasa menjadi sulit dipahami karena terlalu banyak kosakata asing.

Temuan ini terdengar sederhana, bahkan nyaris menyebalkan karena terlalu masuk akal. Namun dampaknya luar biasa. Dari ruang kelas, ruang rapat, seminar, hingga caption media sosial, kosakata asing sering muncul seperti tamu undangan yang datang ramai-ramai tanpa konfirmasi.

Awalnya satu kata asing.
Lalu dua.
Lalu satu kalimat penuh.
Tiba-tiba kita cuma bisa mengangguk sambil berkata dalam hati:

“Saya tidak mengerti, tapi saya menghargai.”

 

1. Ketika Bahasa Ibu Mulai Terasa Seperti Bahasa Tetangga

Pernah dengar seseorang berbicara dan kita merasa:

“Ini bahasa Indonesia… tapi kok rasanya kayak bukan?”

Contoh kalimat:

“Kita perlu melakukan assessment terkait output dan outcome supaya stakeholder bisa engage secara sustainable.”

Secara tata bahasa: Indonesia.
Secara kosakata: dunia lain.

Otak kita bekerja keras:

  • Ini bahasa apa?
  • Harus diterjemahkan dulu atau langsung pingsan?
  • Boleh minta subtitle?

Bahasa yang seharusnya menjadi alat komunikasi justru berubah menjadi alat seleksi mental: yang paham lanjut, yang tidak paham pura-pura paham.

 

2. Kosakata Asing: Datang untuk Membantu, Tinggal untuk Membingungkan

Pada awalnya, kosakata asing datang dengan niat baik:

  • Mengisi kekosongan makna
  • Membantu konsep baru
  • Menyederhanakan istilah teknis

Tapi entah kenapa, lama-lama mereka:

  • Berkembang biak
  • Menguasai kalimat
  • Mengusir kosakata lokal ke pinggir

Akhirnya kita tidak lagi berkata:

“Rapat ditunda.”

Tapi:

“Meeting-nya kita reschedule ya.”

Maknanya sama. Beban kognitifnya beda.

 

3. Bahasa Sulit Dipahami, Pendengar Sulit Bertanya

Masalah utama bahasa penuh kosakata asing bukan cuma tidak dipahami, tapi tidak enak ditanya.

Karena jika kita bertanya:

“Maksudnya apa?”

Risikonya:

  • Dianggap kurang update
  • Dicap tidak mengikuti perkembangan
  • Atau ditatap dengan pandangan:
    “Kok itu aja nggak tahu?”

Akhirnya banyak orang memilih strategi bertahan hidup linguistik:

  • Mengangguk
  • Mengucap “iya, betul”
  • Mencatat tanpa tahu apa yang dicatat

Ini bukan komunikasi. Ini pertunjukan linguistik.

 

4. Seminar dan Presentasi: Surga Kosakata Asing

Tempat paling subur bagi kosakata asing adalah:

  • Seminar
  • Workshop
  • Presentasi PowerPoint

Semakin banyak istilah asing, semakin:

  • Terdengar pintar
  • Terasa akademis
  • Sulit dimengerti

Padahal isinya bisa jadi:

“Kita perlu kerja sama dan evaluasi.”

Tapi dibungkus menjadi:

“Kita perlu collaboration lintas sektor dengan pendekatan evaluation framework yang komprehensif.”

Isi sama. Kepala pusing beda.

 

5. Media Sosial dan Bahasa Campur Aduk

Di media sosial, kosakata asing sering muncul bukan karena perlu, tapi karena:

  • Kelihatan keren
  • Terasa modern
  • Tampak berkelas

Contoh caption:

“Lagi healing biar mental health tetap stable dan vibes positif.”

Secara makna bisa diterjemahkan:

“Lagi istirahat biar pikiran tenang dan perasaan baik.”

Tapi yang kedua dianggap:

  • Kurang gaul
  • Kurang global
  • Kurang branding

Padahal yang dibutuhkan pembaca bukan global, tapi mengerti.

 

6. Linguistik Mencatat: Ini Fenomena Wajar, Tapi Perlu Kendali

Dalam kajian linguistik, masuknya kosakata asing itu wajar.
Namanya:

  • Serapan
  • Kontak bahasa
  • Perkembangan leksikon

Masalah muncul ketika:

  • Kosakata asing dipakai berlebihan
  • Padanan lokal diabaikan
  • Bahasa berubah dari alat komunikasi menjadi alat pamer

Bahasa yang terlalu penuh istilah asing ibarat:

Masakan enak tapi kebanyakan bumbu—niatnya lezat, jadinya bingung.

 

7. Orang yang Menggunakan Banyak Kosakata Asing Tidak Selalu Sombong

Ini penting.

Tidak semua orang yang bicara campur asing itu:

  • Sok pintar
  • Ingin pamer
  • Merendahkan bahasa sendiri

Kadang karena:

  • Lingkungan kerja
  • Kebiasaan akademik
  • Atau tidak sadar sudah kebablasan

Namun tetap saja, dampaknya sama:

Pendengar harus kerja ekstra.

Dan tidak semua orang punya energi untuk menerjemahkan sambil mendengarkan.

 

8. Bahasa Sulit Dipahami = Komunikasi Gagal

Tujuan bahasa adalah:

Dipahami.

Bukan:

  • Dikagumi
  • Dipuja
  • Ditakuti

Jika pendengar:

  • Tidak paham
  • Tidak berani bertanya
  • Tidak bisa mengulang isi pesan

Maka seindah apa pun bahasanya, komunikasinya gagal total.

Bahasa yang baik bukan yang paling asing, tapi yang:

Sampai ke kepala dan hati.

 

9. Kita Semua Pernah Jadi Korban dan Pelaku

Mari jujur.

Pernah:

  • Bingung dengar istilah asing?
  • Pura-pura paham?
  • Atau justru ikut-ikutan pakai istilah asing biar tidak kelihatan ketinggalan?

Itu manusiawi.

Bahasa bukan cuma alat komunikasi, tapi juga:

  • Identitas
  • Gengsi
  • Simbol keanggotaan sosial

Tinggal bagaimana kita menggunakannya dengan bijak.

 

10. Kesimpulan Kajian Linguistik (Versi Cercu)

Setelah pengamatan linguistik ala warung kopi, diskusi santai, dan pengalaman hidup yang penuh istilah asing, kita bisa menyimpulkan:

  1. Bahasa sulit dipahami karena terlalu banyak kosakata asing
  2. Kosakata asing bukan masalah, kalau proporsional
  3. Bahasa kehilangan fungsi jika pendengar tertinggal
  4. Mengerti lebih penting daripada terlihat pintar

 

Penutup: Berbahasalah untuk Dipahami, Bukan Dikagumi

Jika suatu hari kamu mendengar seseorang bicara dan kamu tidak mengerti apa-apa, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.

Mungkin masalahnya bukan di kamu,
tapi di bahasanya.

Dan jika suatu hari kamu sendiri berbicara, lalu melihat pendengarmu:

  • Diam
  • Mengangguk pelan
  • Tatapannya kosong

Cobalah berhenti sejenak dan bertanya:

“Saya bicara untuk siapa?”

Karena bahasa yang baik bukan yang paling asing,
melainkan yang paling nyambung.

Dan ingatlah satu prinsip linguistik paling membumi:

Kalau harus dijelaskan ulang berkali-kali,
mungkin bahasanya terlalu jauh dari pendengarnya.

Comments

Popular posts from this blog

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...