(Sebuah
Kajian Ilmiah yang Tidak Ilmiah Tapi Sangat Nyata)
Dalam dunia
penelitian modern, banyak hal yang diteliti oleh para ilmuwan: mulai dari
pergerakan partikel subatom, cara tumbuhan bercakap-cakap lewat akar, sampai
bagaimana kucing selalu tahu kapan pemiliknya ingin duduk di kursi tertentu.
Namun, dari semua penelitian canggih itu, ada satu temuan yang sangat
revolusioner, mengguncang dunia akademik, dan membuat para profesor
geleng-geleng kepala sambil berkata, “Ya ampun, masa baru sadar sekarang?”
Temuan
tersebut berbunyi:
“Orang yang
tidak punya uang, berdasarkan berbagai kajian lintas disiplin, disebut… fakir
miskin.”
Sungguh
penemuan yang luar biasa. Membutuhkan ratusan kuesioner, sekian survei
lapangan, beberapa gelas kopi saset, dan tiga kali listrik padam, baru kemudian
para peneliti kita menyimpulkan hal yang sebenarnya sudah diketahui sejak
manusia pertama kali tidak punya uang.
Awal
Penelitian: Dari Dompet Kosong ke Penemuan Besar
Semuanya
bermula ketika seorang peneliti muda membuka dompetnya dan mendapati hanya ada kartu
ATM yang sudah lama tidak pernah terisi, serta struk belanja Indomaret
yang entah kenapa masih dia simpan. Dalam bahasa ilmiah, kondisi ini
disebut sebagai dompet dalam keadaan vacuum monetarius.
Terkejut
melihat fenomena ini, sang peneliti kemudian memutuskan untuk mewawancarai
dirinya sendiri.
“Mas, Anda
kenapa tidak punya uang?”
“Karena gajinya sudah terbang sebelum tanggalnya,” jawab dirinya sendiri.
“Terbang kemana?”
“Ke cicilan, ke kuota, ke makan siang teman yang ‘nanti kubayar’, dan ke promo-promo
yang ternyata tidak promo.”
Wawancara
ini membuat sang peneliti sadar bahwa ada banyak sekali orang yang mengalami
gejala sama: dompet kosong, ATM sepi, saldo e-wallet kritis, dan Shopee
PayLater yang menjerit minta dibayar.
Fenomena ini
akhirnya membuat tim peneliti menyimpulkan bahwa kelompok manusia seperti ini
memiliki satu istilah resmi: fakir miskin.
Definisi
Akademis yang Sangat Mendalam (Katanya)
Menurut
penelitian itu, definisi fakir miskin adalah:
"Individu
yang berada dalam kondisi kekosongan finansial, baik sementara maupun permanen,
disertai kecenderungan untuk berpura-pura bahagia di media sosial."
Definisi ini
kemudian dikembangkan lagi menjadi beberapa subkategori di lapangan:
- Fakir Miskin Musiman
Biasanya terjadi menjelang akhir bulan, atau setelah menerima undangan nikahan beruntun. - Fakir Miskin Struktural
Mereka yang tiap bulan gajinya habis sebelum tanggal 10 karena utang masa lalu yang masa depannya masih panjang. - Fakir Miskin Filosofis
Mereka yang berkata:
“Uang memang
bukan segalanya.”
Namun berkata begitu sambil meminjam uang.
- Fakir Miskin Optimistis
Setiap kali melihat pengumuman beasiswa, undian berhadiah, atau postingan “giveaway 5 juta”, langsung merasa:
“Kayaknya
ini buat saya.”
Metode
Penelitian yang Sangat Ilmiah (Katanya Juga)
Penelitian
ini dilakukan dengan metode sangat ketat, termasuk:
1. Observasi
Lapangan
Peneliti
mendatangi pusat keramaian seperti:
- ATM kosong
- Warung Indomie
- Tempat fotokopi
- Kos-kosan mahasiswa
- Tempat orang nongkrong tanpa memesan apa-apa
Dari
observasi ini ditemukan fakta mencengangkan: banyak manusia yang hidup
dengan prinsip “hemat adalah ketika teman yang bayar.”
2. Kuesioner
dan Survei
Responden
diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan mendalam seperti:
- “Berapa sering Anda mengecek saldo ATM?”
- “Apakah Anda merasa cemas ketika bunyi notifikasi
masuk, tapi ternyata cuma WhatsApp grup?”
- “Pernahkah Anda belanja online lalu menyesal
karena makan mie instan selama lima hari?”
Hasil survei
menunjukkan bahwa 87% responden merasa miskin tapi tetap checkout keranjang
belanja karena “takut kehabisan.”
3. Analisis
Dompet Terkendali
Peneliti
memeriksa dompet para responden dan menemukan isi yang sama:
- KTP
- Kartu NPWP yang entah kapan terakhir dipakai
- Struk belanja
- Kartu nama seseorang yang mereka lupa siapa
- Dan satu lembar uang 2.000 berlipat-lipat yang
tidak cukup untuk apa pun kecuali buat ngeganjel pintu
Temuan
Paling Mengejutkan: Penyebab Orang Menjadi Fakir Miskin
Selama
bertahun-tahun, banyak orang mengira penyebab miskin adalah kemalasan,
kurangnya kesempatan, atau salah urus finansial. Namun penelitian ini
membuktikan penyebab yang jauh lebih akurat:
1. Godaan
Promo “Beli 1 Gratis 1”
Promo jenis
ini sangat berbahaya. Orang yang sebenarnya tidak berniat belanja tiba-tiba
merasa dipanggil takdir untuk memborong.
2. Teman
yang Hobi Ngajak Nongkrong
Penelitian
menemukan bahwa kalimat paling berbahaya bagi stabilitas finansial adalah:
“Gas? Aku
jemput.”
3.
Keberadaan Shopee, Lazada, dan Marketplace Sejenis
Orang fakir
miskin tidak lemah. Mereka hanya manusia. Dan manusia tidak bisa tahan flash
sale jam 12.
4. Kebiasaan
Menunda
Menunda
pekerjaan, menunda menabung, lalu menyadari semuanya terlambat.
Reaksi Para
Ahli: Antara Bangga dan Tidak Percaya
Ketika hasil
penelitian ini dirilis, para profesor langsung terbelalak. Beberapa berkata:
“Seharusnya
ini sudah diteliti dari dulu.”
“Saya sendiri korban fenomena ini.”
“Tolooong, gajiku belum masuk.”
Ada juga
ahli ekonomi yang menanggapi:
“Wah, ini
sangat ilmiah… tapi kok saya merasa disindir?”
Kesimpulan
Akhir: Fakir Miskin Bukan Sekadar Istilah
Penelitian
ini menegaskan bahwa:
- Fakir miskin adalah kondisi real
- Tidak punya uang itu bukan mitos
- Dan penyebabnya bukan satu, tapi kombinasi antara
gaya hidup, promo, dan takdir
Penelitian
ini juga menyarankan solusi preventif seperti:
- Tidak membuka marketplace setelah jam 10 malam
- Menghapus teman yang suka ngajak nongkrong
- Menyetop kebiasaan “nanti juga ada rezeki”
- Dan yang paling penting: berdamai dengan
dompet kosong
Penutupan:
Jadilah Fakir Miskin yang Berbahagia
Meskipun
penelitian ini menemukan fakta keras, tetapi para peneliti memberi pesan
terakhir:
“Tidak punya
uang bukan berarti tidak punya harapan.
Kadang kita hanya perlu menunggu tanggal gajian.”
Dan kalaupun
gaji belum masuk-masuk…
Ya sudah, berarti Anda termasuk kategori fakir miskin legendaris yang
sering muncul di cerita rakyat modern.
Tapi tenang,
masih ada satu hal yang gratis di dunia ini:
Tertawa
membaca artikel ini.
Dan kalau
itu pun tidak bisa bikin bahagia…
Coba cek saldo e-wallet Anda. Siapa tahu ada cashback nyasar.

Comments
Post a Comment